
WARNING!!
Episode ini mengandung unsur, mohon dengan bijak dalam membacanya... Terimakasih... 🙏🙏🙏
<<<<<
Anne pun tersenyum bahagia dan pada akhirnya ....
Bruuugh....
Zuy terjatuh dari posisinya, namun ia terjatuh tidak mengenai tanah melainkan jatuh tepat di pelukan seseorang.
"Huuft untung saja tepat waktu. Kalau tidak, mungkin seumur hidup aku akan menyesal karena tidak bisa melindungi istri dan anakku ini," ucapnya.
Mendengar suara khas dari seseorang itu, Zuy pun membuka matanya dan mendongakkan kepalanya ke arah orang tersebut.
"R-Ray...!!"
"Iya sayangku, ini aku...." balasnya yang ternyata adalah Ray,
Ray lalu membangunkan tubuh Zuy dari posisinya, setelah posisi Zuy berdiri, Ray kembali memeluk Zuy, karena ia melihat raut wajah Zuy yang memucat dan nafasnya pun terengah-engah.
"Sayangku, sudah tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja," ujar Ray sembari mengelus kepala Zuy.
Seketika Zuy langsung menangis di pelukan Ray. Erlin yang melihat itu pun merasa kesal sampai-sampai ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Lin, ternyata kamu bisa di kalahkan sama si j*lang," sindir Anne memanas-manasi Erlin sehingga membuat Erlin naik darah. Lalu ....
"Tuan Ray! Kenapa anda memeluk wanita j*lang dan rendahan seperti dia? Apa anda tidak merasa jijik?" lontar Erlin menghina Zuy.
Mendengar lontaran dari Erlin, sontak membuat Ray mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Erlin dan Anne.
"Tatapan orang ini benar-benar mengerikan, seakan-akan ingin membunuh orang," batin Anne.
Ray lalu melepaskan pelukannya. "Kak Davin!"
"Iya Tuan Ray...." sahut Davin menghampiri Ray.
"Tolong jaga sayangku sebentar!"
Davin langsung mengangguk patuh, kemudian Ray berjalan mendekat ke arah Erlin dan Anne. Erlin pun tersenyum bahagia melihat Ray mendekat ke arahnya, sedangkan Anne justru mulai ketakutan.
"Ann, lihat! Tuan Ray mendekat, apa aku sudah terlihat mempesona?" kata Erlin sembari merapihkan rambutnya.
"Lin, mending kita pergi dari sini! Aku punya firasat gak enak," tutur Anne memegang lengan Erlin.
"Apa-apaan sih kamu Ann? Tuan Ray sudah hampir dekat, malah menyuruh ku pergi," pekik Erlin.
"Ciih..." decak Anne
Sesaat Ray sudah berada di hadapan kedua ular betina itu.
"Tu-Tuan Ray, akhirnya anda sadar dan datang padaku," ucap Erlin.
Namun Ray tidak berkata, ia malah semakin menajam tatapannya. Lalu pandangan Erlin mengarah ke Zuy yang sedang bersama Davin.
"Hei OB j*lang!"
Zuy pun menoleh, kemudian Erlin menyunggingkan senyuman smirknya pada Zuy.
"J*laaang, lihatlah! Tuan Ray datang sendiri padaku, itu artinya Tuan Ray lebih memilih ku dari pada wanita j*lang dan miskin seperti mu. Oh iya aku lupa, tadi kamu bilang padaku kalau kamu dan Tuan Ray sudah menikah, apa jangan-jangan itu bualanmu saja? Dasar j*lang, gak tau malu, berani-beraninya mengaku istri dari Tuan Ray," ujar Erlin dengan nada kencang, ia sengaja membuat perhatian orang-orang sekitar.
Zuy yang mendengarnya pun hanya terdiam, namun tidak untuk perasaannya yang tengah marah, karena Erlin hampir saja membuat calon anaknya Zuy celaka.
"Zuy, kamu jangan tanggepin omongan nya si Erlin, biar jadi urusan Tuan Ray saja!" tutur Davin.
Zuy hanya mengangguk pelan saja. Karena perkataannya tidak di tanggepin oleh Zuy, Erlin pun merasa geram, lalu pandangannya beralih ke arah Ray.
"Tuan Ray, lihatlah! Wanita rendahan itu tidak menanggapi perkataanku, itu sangat menyakiti ku. Tuan Ray, anda harus membalasnya dan membuatnya minta maaf padaku!" pinta Erlin manja.
Lalu kemudian....
"Apa sudah selesai bicaranya, Nona Erlin?" pekik Ray sambil berkacak pinggang dan menatap tajam Erlin.
"Su-sudah Tuan Ray," jawab Erlin.
Tiba-tiba Ray mencengkram kuat rahang Erlin membuat Erlin terkejut dan kesakitan.
"Tuan Ray, apa yang a-anda la-lakukan?" tanya Erlin sembari menahan sakit.
"Apa yang saya lakukan? Tentu saja ingin membungkam mulut mu supaya kamu tidak bisa bersuara lagi," gertak Ray.
Sontak membuat mata Erlin membulat sempurna karena takut akan gertakan Ray. Sedangkan Anne yang berada di samping Erlin sudah mulai ketakutan, ia pun perlahan berjalan mundur dan pada saat ia hendak kabur, tiba-tiba Henri sudah berdiri di hadapan Anne dan dengan sigap ia langsung memegangi lengan Anne dengan kuat.
"Lepaskan lenganku! B*stard." berontak Anne.
"Diam! Jangan memberontak!" bentak Henri.
Mendengar bentakan Henri, Anne pun langsung terdiam. Lalu ....
"Tu-Tuan Ray, lepaskan! Anda me-menyakitiku." pinta Erlin, wajahnya pun mulai memucat.
"Sesuai permintaanmu, Nona Erlin."
Ray lalu menghempaskan tubuh Erlin dengan sekuat tenaga, sehingga membuat Erlin tersungkur di tanah.
"Aaaah..." teriak Erlin kesakitan.
Kemudian Ray mengambil handsanitizer dan sapu tangan dari dalam saku jasnya. Lalu ia mencuci tangan yang bekas memegang Erlin dengan handsanitizer dan mengelapnya dengan sapu tangan.
"Tu-Tuan Ray, kenapa anda memperlakukan saya seperti ini, salah saya apa Tuan Ray?" tanya Erlin sembari menangis.
Ray mencondongkan badannya ke arah Erlin.
"Anda benar-benar ingin tahu, apa kesalahan anda itu, Nona Erlin?"
Erlin pun mengangguk. "I-iya Tuan Ray."
"Kesalahan anda ialah, anda sudah menyakiti istri saya dan hampir membuat anak yang di kandungnya celaka," ujar Ray dengan nada keras.
"A-apa! Istri, anak? Ma-maksud anda?"
"Iya.... orang yang kamu bilang OB j*lang, wanita rendahan dan miskin itu adalah istri saya dan anak yang di kandungnya itu adalah anak saya," bentak Ray. "Dan kalau sampai tadi istri dan anak saya kenapa-napa, jangan harap saya akan melepaskan anda, Nona Erlin." sambungnya.
"A-apa! Jadi dia istri Tuan Ray, ta-tapi kenapa?" Erlin kembali di buat terkejut oleh Ray.
Ray lalu mengangkat tubuhnya dan menghela nafas panjangnya seraya menahan amarahnya yang saat ini mulai menyerang pada dirinya, lalu kemudian Davin mendekat ke arah Ray.
"Tuan Ray, lebih baik kita pergi dari sini! Soalnya Zuy ...."
"Zuy! Kenapa dengan sayangku?" tanya Ray,
Pandangannya pun mengarah ke Zuy yang sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
"Sepertinya ia masih shock Tuan. Tidak baik jika dia lama-lama di sini! Dan lagi untuk wanita-wanita gila ini, biar Henri dan anak buahnya yang urus," ujar Davin.
Ray mengangguk. "Baiklah kita pulang sekarang! Dan untuk mu Henri," Ray melihat ke arah Henri.
"Iya Tuan Ray...." sahut Henri.
"Kamu dan anak buahmu pasti tahu kan, apa yang harus kamu lakukan pada ke dua ular betina itu!"
Henri pun mengangguk patuh. "Iya Tuan Ray...."
"Bagus! Kalau kamu sudah tahu, sekarang kerjakan!" titah Ray.
"Baik Tuan Ray. Kalian tangkap wanita itu!" perintah Henri pada anak buahnya.
Mereka pun langsung memegangi Erlin, lalu kemudian Ray membalikkan badannya dan melangkah menghampiri Zuy, akan tetapi ....
"Kenapa? Kenapa anda lebih memilih OB j*lang itu di bandingkan dengan saya Tuan Ray? Apa kekurangan saya di bandingkan wanita rendahan dan kotor seperti dia?" lontar Erlin.
Davin pun memegang pundak Ray. "Tuan Ray, jangan terpancing ucapannya!" tuturnya.
__ADS_1
"Sadarlah Tuan Ray! Anda sudah terkena pengaruh guna-gunanya dan lagi dia hanya memanfaatkan anda untuk mendapatkan harta anda, Tuan Ray. Tidak seperti saya yang benar-benar serius mencintai anda, bahkan saya rela melakukan apapun untuk anda Tuan Ray, meskipun saya harus melayani anda di atas ranjang," ungkap Erlin.
Sesaat Ray sudah berada di hadapan Zuy, kemudian pandangan Ray mengarah ke Erlin.
"Nona Erlin, lagi-lagi anda berfikiran buruk terhadap sayangku ini. Asal anda tahu, saya mencintainya tulus dari hati dan perasaan saya, bukan karena paksaan atau pengaruh guna-gunanya. Jika anda tidak percaya, maka saya akan membuktikannya pada anda sekarang juga!" papar Ray.
Lalu Ray memegang dagu Zuy dan perlahan mengangkatnya sehingga pandangan mereka berdua saling bertemu.
"Sayangku, maaf...." lirih Ray
Setelah itu, Ray langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dan mengecupnya dengan lembut. Sontak membuat semua orang yang di sana tercengang melihatnya. Ray memang sengaja melakukannya walaupun ia tahu kalau Zuy masih shock. Namun Ray hanya ingin membuktikan bahwa Zuy itu benar-benar wanita-nya.
"Aku gak liat apa-apa, aku gak liat apa-apa..." lontar Davin sembari menutup matanya.
Sesaat setelah puas, Ray langsung menghentikan aksinya dan melihat kembali ke arah Erlin.
"Bagaimana, apa kamu puas, Nona Erlin?"
Erlin tidak menjawab pertanyaan Ray, hanya emosinya yang semakin memuncak. Lalu tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan sesuatu itu adalah pisau lipat. Dengan sekuat tenaga Erlin melepaskan diri dari para pengawal Ray, setelah lepas, ia pun langsung berlari ke arah Ray dan Zuy berada sembari menodongkan pisaunya.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Tuan Ray, maka kamu juga jangan harap bisa memilikinya. Bersiaplah untuk pergi ke neraka!" teriak Erlin yang sudah mendekati mereka.
Dan pada akhirnya....
Craaat....
Ray menahan serangan Erlin, meskipun tangannya tergores pisau sehingga membuat darahnya mengalir bercucuran.
"Beraninya kau ingin menyentuh istriku dengan pisau ini, cari mati, hah!"
"Ray....!" teriak Zuy
"Tuan Ray...." sambung Davin.
Davin pun langsung menendang kaki Erlin, sehingga membuat Erlin kembali tersungkur.
"Pengawal tunggu apa lagi, tangkap wanita gila ini!" titah Davin dengan nada marah.
Pengawal pun patuh dengan perintah dari Davin dan langsung memegangi Erlin.
"Bawa wanita gila ini pergi dari hadapan ku, sekarang!" bentak Ray.
"Baik Tuan Ray...."
Mereka pun langsung menyeret Erlin.
"Tuan Ray.... Suatu saat kau pasti akan datang padaku dan memohon padaku! Hahaha...." teriak Erlin.
Zuy lalu memegang tangan Ray yang terkena goresan pisau.
"Ray, tanganmu...." lirih Zuy
"Tidak apa-apa sayangku, ini hanya goresan kecil, jadi sayangku tidak perlu khawatir! Justru aku khawatir dengan keadaan kamu dan anak kita, soalnya Ray tadi liat, dia mendorong keras tubuhmu sampai terhempas," ucap Ray.
"Aku baik-baik saja, hanya kaki ku yang terkilir," balas Zuy.
"Yaudah kita pulang sekarang! Nanti setelah sampai rumah kita panggil Dokter Eqi, biar dia memeriksamu ya!"
Zuy pun mengangguk patuh.
"Kak Davin, kita pulang sekarang!"
"Baik Tuan Ray...."
Davin langsung membuka pintu mobilnya, Ray dan Zuy pun masuk ke dalam mobil, di susul dengan Davin. Setelah itu, Davin segera menyalakan mobilnya, sesaat kemudian ia melajukan mobilnya menuju ke rumah Ray.
Beberapa saat setelah mereka pergi, Henri dan lainnya segera membawa dua ular betina itu, akan tetapi....
"Aaargh...." teriak Henri, karena Anne menyemprotkan parfum ke mata Henri, membuat pandangan Henri kabur.
Alhasil Anne pun terlepas dari pegangan Henri dan lari sekencang mungkin.
"Bagus Ann...." lirih Erlin.
"Tsk, kurang ajar! Kalian tangkap wanita itu!" perintah Henri sembari mengusap matanya.
*************************
Rumah Ray
Tak butuh waktu lama, mereka berdua sudah sampai di rumah dan di sana nampak Aries dan Yiou yang tengah berdiri di depan pintu.
"Sepertinya mereka baru pulang," ujar Yiou yang melihat mobil Ray memasuki halaman.
"Oh iya, kamu benar juga Yi," balas Aries.
"Yaudah kamu pulangnya sebentar lagi ya!" pinta Yiou.
"Baiklah...."
Setelah mobil terparkir, Ray dan Zuy turun dari mobilnya.
"Pelan-pelan sayangku!" tutur Ray.
"Iya Ray...."
Yiou terkejut melihat darah lengan Ray, sontak ia pun langsung menghampiri Ray.
"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Yiou.
"Ceritanya nanti saja, lebih baik Kak Yiou bantu Zuy ke dalam!"
"Tapi Ray, kamu kan...." lirih Zuy
"Baby, biar aku yang bantu memapahmu!" kata Yiou
Zuy mengangguk, Yiou pun segera memapah Zuy menuju ke dalam rumah.
"Tuan Ray, sini biar aku bantu!" tawar Aries memegangi Ray.
Seketika Ray memicingkan matanya ke arah Aries.
"Kenapa kau ada di sini Tuan Aries?" tanya Ray menyidik.
"Aku disini karena mengantar Tantemu, Tuan Ray. Dan lagi sebentar lagi aku akan jadi pamanmu, jadi wajar kalau aku bakalan sering datang kesini, keponakanku." Aries mulai menggoda Ray.
"Ciih, siapa yang keponakanmu," decak Ray.
Aries pun terkekeh, lalu mereka berdua berjalan menuju ke dalam rumah, setelah berada di dalam rumah, Aries langsung mendudukkan Ray di atas sofa tepat di samping Zuy.
"Terimakasih Tuan Aries," ucap Ray.
"Sama-sama Tuan Ray," balas Aries.
Yiou lalu datang sambil membawa air yang di tempatkan ke dalam wadah beserta kotak P3k-nya. Ia pun perlahan menggulung lengan kemeja Ray, kemudian Yiou membersihkan darah dan luka Ray dengan air yang ia bawa tadi.
"Coba cerita padaku! Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian sampai bisa seperti ini?" Yiou meminta mereka untuk menjelaskannya.
"Tadi ...."
Ray menceritakan kejadiannya pada Yiou dan Aries, sontak membuat Yiou terkejut mendengarnya.
"Apa kamu bilang! Jadi kalian seperti ini gara-gara anak dari Pak Wildan? Dasar wanita gila itu berani-beraninya ingin mencelakai calon keponakanku," umpat Yiou.
Saking kesalnya Yiou, tanpa sadar ia menggosok luka Ray dengan kencang, membuat Ray meringis kesakitan.
"Kak Yiou niat ngobatin gak sih!" pekik Ray.
"Aduuh Maaf Ray, aku gak sengaja. Habis Kakak kesel sama wanita itu," ujar Yiou.
"Dasar Tante tua...."
Lalu pandangan Aries mengarah ke Zuy. "Zuy, tapi kamu dan calon anakmu itu gak kenapa-napa kan?"
__ADS_1
"Iya Kak, untungnya Ray datang tepat waktu dan menangkap Zuy yang hampir terjatuh. Andai kata kalau dia gak datang, mungkin Zuy udah di bawa ke rumah sakit," ujar Zuy.
"Walaupun kamu merasa gak apa-apa, tapi lebih baik kamu di periksa dulu Baby, untuk memastikan saja," tutur Yiou.
"Iya benar apa kata Nona AYiou," sambung Aries.
"Sayangku, mana hp mu? Sini! Biar aku yang menghubungi Dokter Eqi," pinta Ray.
Zuy lalu membuka ranselnya dan mengambil hpnya, setelah itu ia memberikan hpnya pada Ray.
"Nama kontaknya siapa?" tanya Ray sembari membuka kunci hpnya.
"Namanya Dokter Eqitna," jawab Zuy.
Ray lalu mencari kontak yang bernama Dokter Eqitna, setelah dapat ia langsung menghubunginya.
*********************
Rumah Dimas
Sementara itu, Eqitna sedang berada di kamar Nayla sembari menemani Nayla tidur. Lalu ....
Drrrrt... Drrrrt... Drrrrt...
Mendengar suara dering hpnya, Eqitna pun segera mengambil hpnya yang berada di atas nakas.
"Zuy! Tumben dia menelpon," lirihnya.
Lalu Eqitna pun menjawab telponnya.
"Iya Zuy, ada apa?" tanya Eqitna.
"Maaf Dokter ini saya suaminya," ujar Ray dari sebrang telponnya.
"Oh Tuan Muda, maaf ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf sebelumnya saya mengganggu anda, sebenarnya ...."
Ray lalu menjelaskannya pada Eqitna.
"Apa! Baiklah saya akan segera datang ke rumah anda," ujar Eqitna
"Terimakasih Dokter."
"Sama-sama...."
Lalu Ray memutuskan telponnya.
Eqitna pun segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke kamarnya, karena pintu kamar Nayla dan kamarnya terhubung. Saat berada di kamarnya, ia langsung mengambil barang-barang yang akan ia bawa untuk memeriksa. Setelah selesai, Eqitna langsung bergegas keluar dari kamarnya menuju ke ruang keluarga, karena di sana Dimas dan Bunda Artiana berada.
Sesampainya....
"Dimas, bisakah kau mengantarku!"
"Memangnya mau kemana? Dan lagi kenapa kamu bawa tas, apa ada panggilan?" lontar tanya Dimas.
"Iya, tadi Zuy menghubungiku dan dia ...."
Mendengar nama Zuy di sebut, Bunda Artiana pun tersentak.
"Zuy! Apa yang terjadi pada cucuku?" tanya Bunda Artiana.
"Bunda tenang saja, dia gak bilang apa-apa, tadi suaminya yang menyuruh Eqi untuk datang ke rumahnya," jawab Eqitna, namun ada kebohongan di dalamnya.
"Dimas, kamu antar Eqitna, dan pastikan cucuku baik-baik saja!" titah Bunda Artiana.
Dimas pun mengangguk pelan. "Baik Bunda, ayo Eqi kita berangkat sekarang!"
Lalu mereka pun melangkah pergi meninggalkan Bunda Artiana.
"Semoga cucuku baik-baik saja. Tuhan tolong lindungi cucu dan calon cicitku ini," ucap Bunda Artiana sambil merekatkan kedua tangannya seraya berdoa.
*******************
Sementara itu, Anne masih dalam pengejaran oleh pengawal Ray. Ia berlari menuju ke sebuah tempat sepi dan bersembunyi di sana.
"Semoga tempat ini nyaman untukku," lirih Anne.
Lalu tiba-tiba seseorang membekap mulutnya sehingga membuatnya menoleh ke arah orang tersebut.
"Sssht Diamlah!" ucap orang yang membekapnya itu.
Anne pun mengangguk pelan, lalu orang tersebut menurunkan tangannya dari mulutnya Anne.
"Pino! Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Tadi aku gak sengaja melihat mu di kejar oleh dua orang itu, makanya aku mengikutimu," jawabnya yang ternyata Pino sepupuh Anne.
(Bagi yang lupa, Pino pernah muncul di cerita ini... Di bab. 38-39)
"Oh jadi begitu, huuft...."
Lalu kedua pengawal Ray terus mencari keberadaan Anne.
"Tsk, sepertinya kita kehilangan jejak wanita itu," umpat salah satu pengawal tersebut.
"Lalu kita harus bagaimana? Apa kita kembali atau terus mencarinya?" tanya temannya.
"Kita lebih hubungi Pak Davin dulu, biar dia yang memutuskannya," ujar salah satunya
"Benar juga apa katamu itu," balas temannya.
Ia pun langsung mengambil hpnya dan menghubungi Davin.
********************
Kembali ke Rumah Ray
Sesaat setelah memarkirkan mobilnya, Davin langsung ikut nimbrung bersama dengan lainnya.
"Apa Dokter Eqi akan datang?" tanya Yiou.
"Iya dia sedang di perjalanan bersama dengan Dokter Dimas," jawab Ray sembari menyandarkan kepalanya di bahu Zuy.
Lalu .....
Trrrrrrt... Trrrrrrt... Trrrrrrt....
"Davin, itu ada yang menelpon," kata Yiou.
Davin yang tengah menyandarkan kepalanya di dinding sofa langsung terbangun, kemudian ia mengambil hpnya dari saku celananya.
"Siapa yang menelpon?" tanya Ray
"Pengawal, sebentar Tuan Ray!"
Davin pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?!" tanya Davin
"..............."
"Apa! Salah satu wanita ular itu kabur?!"
***Bersambung....
Yang penasaran kenapa Ray bisa berada di sana sehingga Zuy selamat, nantikan episode selanjutnya... 😁😁✌✌
See you next time.. 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌