
<<<<<
Piiip.....
Suara nyaring terdengar dari monitor detak jantungnya dan garis yang awalnya bergelombang pun kini berubah menjadi garis lurus.
"Papih!!"
Bi Nana membulatkan matanya karena melihat suami dan Ayah dari anak-anaknya sudah terlelap tak berdaya, bahkan tangan Pak Randy yang tadinya menggenggam erat tangan Bi Nana kini perlahan mengendur dan terlepas.
Sama halnya seperti Bi Nana, Aries yang posisinya masih berada di dekat mereka pun ikut tersentak saat melihat Om-nya yang sudah terpejam.
"Om Randy!" lirih Aries di barengi air matanya.
"Papih! Kenapa Papih malah tidur lagi sih? Padahal kan Nana masih kangen sama Papih, masih ingin mengobrol lama dengan Papih. Ayo bangun Pih, jangan bikin Nana ketakutan seperti ini! Papiiiiih...." cerca Bi Nana.
Melihat itu pun Aries langsung mendekat dan memeluknya, seketika tangis kedua pecah.
Sesaat kemudian Dokter datang bersama perawat untuk memeriksa keadaan Pak Randy.
"Dokter...." pekik Bi Nana melepaskan pelukan Aries. "Dokter, tolong bangunkan suami saya lagi! Jangan biarkan dia pergi, Dok." pintanya yang terisak-isak sambil memegangi lengan Dokter.
"Iya Nyonya, tapi anda harus tenang dulu ya!" tutur Dokter.
Lalu....
"Dok, jantung pasien berhenti berdetak!" seru perawat tersebut.
"Apa!" Dokter tersentak dan langsung memeriksa Pak Randy. "Cepat siapkan defibrilator!" sambung perintahnya yang nampak mulai panik.
(Defibrilator adalah alat kejut jantung.)
Perawat itu pun langsung menuruti perintah Dokter dan menyiapkan alat yang di perlukan.
"Tuan. Nyonya. Maaf lebih baik kalian menunggu di luar saja! Supaya kami bisa leluasa memeriksa pasien." pinta salah satu perawat pada Aries dan Bi Nana.
Awalnya Bi Nana menolak, namun setelah Aries membujuknya, Bi Nana pun akhirnya menurut. Lalu mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.
Saat sudah berada di luar ruangan, Bi Nana tak henti-hentinya menangis, Aries pun terus menenangkan Bi Nana.
"Tante yang tenang ya!" ucap Aries.
"Tapi Ries, Tante takut Om kamu pergi meninggalkan Tante dan anak-anak." ujar Bi Nana yang dilanjutkan dengan tangisannya.
"Tante, Tante jangan bicara seperti itu! Aries yakin Om Randy tidak akan pergi kemana-mana, Om Randy akan selalu tetap bersama kita. Lebih baik kita berdoa untuk Om Randy ya!" tutur Aries yang menenangkan kembali Bi Nana.
Bi Nana pun mengangguk, lalu Bi Nana merekatkan tangannya sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, begitu juga dengan Aries.
"Tuhan, kami mohon pada-Mu! Berilah kesembuhan untuk suamiku, jangan ambil nyawanya Tuhan. Aku benar-benar tidak sanggup bila harus kehilangannya. Karena dia adalah suami yang sangat aku cintai, yang mau menerima kekurangan ku. Aku mohon pada-Mu dengarkan doa kami, Tuhan!" doa Bi Nana dari dalam hatinya.
Sementara itu di dalam ruangan, Dokter terus berusaha menyelamatkan Pak Randy dengan memompa jantung Pak Randy menggunakan alat defibrilator atau alat pemicu jantung agar jantung Pak Randy kembali berdetak.
"Bagaimana, apa ada perubahan?" tanya Dokter pada perawat.
"Belum Dok," jawab perawat.
Dokter menghela nafasnya. "Baiklah kita lakukan lagi! Mudah-mudahan kali ini kita berhasil menyelamatkannya."
Seakan tidak menyerah, Dokter pun kembali memompa jantung Pak Randy sampai jatungnya benar-benar berdetak lagi.
Sesaat kemudian....
Dokter terlihat mulai lelah dan putus asa, ia dan perawat lainnya sudah berusaha, namun pada akhirnya Tuhan berkehendak lain. Nyawa Pak Randy tidak bisa di selamatkan.
"Catat jam dan tanggal kematiannya!" perintah Dokter pada salah satu perawat.
"Baik Dokter," balasnya.
Kemudian Dokter melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Sebelum membuka pintunya, Dokter terlebih dahulu mengambil nafasnya dan membuangnya. Lalu perlahan Dokter membuka pintunya dan melangkah keluar.
Melihat Dokter keluar dari ruangan, seketika Aries dan Bi Nana langsung menghampiri.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah bangun lagi?" cecar Bi Nana.
Dengan tatapannya yang sendu, Dokter melihat ke arah Aries dan Bi Nana secara bergantian, lalu ia menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya Nyonya!" ucap Dokter.
"Apa! Maaf? Kenapa Dokter minta maaf? Apa yang terjadi pada suami saya?" sentak Bi Nana mengguncang lengan Dokter dengan satu tangannya.
"Sabar Tante!" Aries kembali menenangkan Bi Nana. "Dok, tolong jelaskan pada kami! Bagaimana kondisi Om Randy?" sambung tanyanya pada Dokter.
Dokter perlahan mengangkat kepalanya kembali dan mengarahkan pandangannya ke Aries.
"Maafkan saya! Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa beliau. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuan Randy, beliau tidak bisa di selamatkan," jelas Dokter.
Sontak membuat Aries dan Bi Nana tersentak mendengarnya, air mata keduanya pun lolos.
"Apa! Dokter pasti bohong kan? Suami saya mana mungkin pergi! Dia hanya tertidur kan?" sergah Bi Nana.
"Saya tidak bohong Nyonya, beliau memang sudah tidak ada dan maafkan kami yang tidak bisa menyelamatkannya!"
"Tidak-tidak! Papiiiiih...." jerit Bi Nana yang di selingi dengan tangisnya.
Aries pun langsung memeluk erat Bi Nana.
"Tante yang sabar ya! Mungkin ini sudah takdir Om Randy berpisah dengan kita," ucap Aries sambil menangis.
Lalu tiba-tiba Bi Nana melepaskan pelukan Aries dan mendorong tubuhnya, kemudian ia bangkit dari kursi rodanya dan berjalan masuk ke dalam ruang ICU dengan langkahnya yang terhuyung-huyung dan bahkan terjatuh.
Melihat Bi Nana terjatuh Dokter dan Aries langsung mendekat dan saat hendak membantunya Bi Nana malah menepis keduanya. Bi Nana perlahan bangkit dari posisinya dan kembali berjalan menuju ke bed Pak Randy.
Ketika sudah di dekatnya, ia terpaku melihat Pak Randy yang sudah terlelap sambil tersenyum.
"Papih!"
Bi Nana langsung memeluk erat tubuh Pak Randy dan tangisnya pun kembali pecah.
"Pih, Papih hanya sedang tidur aja kan? Papih hanya lelap aja kan? Bangun Pih, jangan tinggalin Nana dan anak-anak! Kami masih sangat membutuhkan Papih, kami semua sayang sama Papih. Nana mohon bangun Pih!" tangis Bi Nana mengguncang tubuh Pak Randy.
Perlahan Aries mendekat ke arah Bi Nana, lalu ia pun memegang kedua bahu Bi Nana.
"Tante, sudah Tan! Kasihan Om Randy-nya." tutur Aries.
Sesaat Bi Nana mengangkat kepalanya dan menoleh ke Aries.
"Ries, katakan pada Tante! Kalau semua ini hanya mimpi Tante kan? Om kamu sedang tidur saja kan? Dia tidak pergi ninggalin Tante kan Ries?" cecar Bi Nana yang masih memeluk Pak Randy.
Namun Aries menggeleng. "Ini bukan mimpi Tan, tapi kenyataan yang harus kita terima bahwa Om Randy sudah meninggalkan kita," ujarnya.
Mendengar itu Bi Nana pun langsung melepaskan pelukannya dan beralih ke Aries.
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu, hah! Apa kamu sedang berbohong pada Tante sama seperti Dokter? Ries, coba kamu lihat Om kamu itu! Dia hanya sedang tidur nyenyak saja bahkan tidurnya sambil tersenyum sama seperti biasanya." lontar Bi Nana yang masih belum percaya dengan kenyataannya.
Sehingga membuat Aries terenyuh dan memeluk Bi Nana.
"Tante, Aries mohon Tante jangan seperti ini! Om Randy memang sedang tidur, tapi beliau tidur untuk selama-lamanya Tan. Om Randy sudah pergi meninggalkan kita," kata Aries dengan tangisnya.
Lagi-lagi tangis Bi Nana kembali pecah mendengar apa yang di katakan oleh Aries, Bi Nana pun meraung dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Aries bahkan sampai memukuli tubuh Aries. Sedangkan Aries hanya bisa pasrah menerima pukulan Bi Nana. Lalu pada akhirnya Bi Nana pingsan di pelukan Aries.
************************
Villa
Di Villa milik Yiou, terlihat Irma dan Beyza tengah menenangkan Rana. Karena sesaat yang lalu Rana tiba-tiba menangis keras bahkan sampai saat ini. Irma pun sudah memberikan susu untuk Rana, akan tetapi Rana enggan menerimanya, sehingga membuat Irma dan Beyza nampak bingung dan kewalahan.
"Cep-cep anak manis, kamu pasti sangat merindukan Mamih dan Papih ya? Yaudah besok kita ke rumah sakit lagi ya, ketemu Mamih sama Papih ya Rana sayang!" ucap Beyza mengelus Rana yang tengah di gendong Irma.
Namun bukannya diam, Rana justru malah menangis semakin kencang.
"Ya ampun kenapa malah makin kencang nangisnya? Padahal tidak demam, apakah terjadi sesuatu?" lirih Beyza.
__ADS_1
Sesaat Yiou pun datang menghampiri Beyza.
"Bey Abla...."
Beyza menoleh, lalu tiba-tiba saja Yiou memeluk erat Beyza sambil menangis membuat Beyza bertambah bingung.
"Yi, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini? Apa perut kamu sakit?" cecar Beyza.
"Bey Abla, Om Randy...."
Beyza mengerenyit. "Hmmm, Randy amca? Memangnya ada apa dengan Randy amca, Yi?"
"Tadi Aries menghubungi ku, bahwa Om Randy meninggal," ujar Yiou di barengi tangisnya.
"Apa kamu bilang!" Beyza tersentak sampai-sampai botol dot yang berada di tangannya jatuh ke lantai.
Bukan hanya Beyza saja, Irma pun ikut terkejut mendengar kabar tersebut.
"Ya ampun, pantas saja Rana dari tadi nangis terus, ternyata Tuan Randy...." lirih Irma memandangi Rana.
Lalu Beyza melepaskan pelukan Yiou dan beralih memegang kedua bahunya.
"Kamu tidak sedang becanda kan Yi?"
Yiou menggeleng. "Yi tidak sedang becanda, Abla. tadi Aries sendiri yang mengatakannya pada Yi, bahkan Baba juga mendengarnya."
"Lalu dimana Baba sekarang?"
"Baba sedang di ruang keluarga, Abla."
Beyza langsung menjejakkan kakinya menuju ke arah ruang keluarga, Yiou dan Irma pun langsung menyusulnya.
°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu di Villa Z&R.
Setelah selesai berdiskusi dengan Ray, Davin pun langsung pergi ke kamarnya untuk bebersih dan istirahat.
Sedangkan Ray, tentu saja ia kembali ke kamarnya berkumpul dengan si kembar dan pujaan hatinya.
Saat sudah berada di kamarnya, Davin langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil meletakkan hpnya di atas nakas. Kemudian Davin memalingkan wajahnya ke arah Nara yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.
"Hmmmm, ternyata si anak kecil sudah tidur ya? Padahal tadinya aku ingin mengajaknya bertanding," lirih Davin mengelus rambut Nara.
Lalu tiba-tiba....
"Papih...." teriak Nara sambil membuka matanya.
Sehingga membuat Davin terkejut. lalu ia pun bertanya, "Anak kecil, kenapa kamu tiba-tiba bangun dan berteriak gitu?"
Mendengar suara Davin, Nara pun langsung menolehkan kepalanya.
"Paman putih! Nara lihat Papih pergi ninggalin Nara," lirih Nara memasang wajah sendu.
"Hah! Hei anak kecil itu hanya mimpi kamu saja, Papih kamu tidak pergi kemana-mana, Papih kamu masih di rumah sakit." balas Davin.
Lalu kemudian Nara bangkit dari posisinya, ia pun beranjak dari tempat tidur dan saat hendak melangkah Davin pun menahannya.
"Hei anak kecil, kamu mau kemana?" tanya Davin.
"Paman putih, lepasin tangan Nara! Nara mau ke Papih sebelum Papih pergi jauh," kata Nara sambil mencoba melepaskan pegangan Davin.
"Nara, besok aja ya ke Papihnya! Sekarang udah malam, rumah sakit juga sudah nutup Nara," Davin pun membohongi Nara.
"Tidak, Nara mau ke Papih sekarang!" sentak Nara.
"Yaudah, ayo kita ke Papihnya Nara. Tapi sebelum itu, kita bilang ke Zuy dulu ya anak kecil!" tutur Davin.
Nara pun langsung menganggukkan kepalanya, dan saat Davin hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba....
Kliing....
"Mrs Yiou! Emm, sebentar ya anak kecil, Kakak buka chat dulu siapa tau penting!" kata Davin.
"Iya Paman putih."
Davin lalu membuka chat masuk tersebut dan membacanya, seketika mata Davin langsung membulat sempurna karena terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh Yiou melalui chat-nya.
"Ya ampun...." lirih Davin menutup mulutnya. "Jadi maksud perkataan anak kecil ini bukan hanya sekedar mimpinya saja, tapi memang benar-benar kenyataan bahwa Papihnya pergi ninggalin dia," sambung batinnya melirik ke Nara.
Sesaat Davin bangkit dari posisinya dan menggendong Nara, kemudian ia bergegas menuju ke arah kamar Ray.
Setibanya di depan kamar Ray, Davin menurunkan Nara dari gendongannya dan mengetuk pintu kamar Ray.
Tok... Tok.... Tok....
"Tuan Ray, Zuy. Cepat buka pintunya!" seru Davin.
Sesaat Ray langsung membuka pintu kamarnya.
"Om ganteng...." lirih Nara.
"Lho Nara, Kak Davin. Ada apa?" tanya Ray.
"Maaf Tuan Ray, kalau saya mengganggu anda yang mau melakukan aktivitas misteri ranjang bergoyang, tapi ini benar-benar darurat," ujar Davin.
Ray mengerenyit. "Darurat? Maksud Kak Davin apa?"
Lalu....
"Ada apa Ray?" tanya Zuy menghampiri.
"Tau nih Kak Davin, tiba-tiba datang bilang darurat."
"Kakak...." panggil Nara.
Zuy pun menoleh. "Lho Nara kenapa kamu bangun sayang?"
"Nara mau bertemu Papih."
"Bertemu Papih?" ucap Ray dan Zuy serempak.
Tiba-tiba Davin menarik tangan Ray keluar dari kamarnya.
"Nara, kamu sama Kakak Zuy dulu ya! Paman ada perlu dulu sama Om Ray." kata Davin.
"Iya Paman putih," balas Nara.
Davin pun langsung membawa Ray menjauh dari Nara dan Zuy.
"Yaudah kalau begitu Nara masuk ke kamar Kakak yuk!" ajak Zuy dan di balas anggukan oleh Nara.
Kemudian Zuy membawa masuk Nara ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Davin terus saja menarik tangan Ray dan menuju Villa milik Yiou.
"Kak, sebenarnya apa yang mau Kakak bicarakan? Kenapa sampai membawa ku ke Villanya Kak Yiou?" cecar Ray yang kebingungan.
"Nanti juga Tuan Ray tau sendiri," jawab Davin.
Sesampainya di Villa Yiou, Ray tercengang melihat Baba Yash, Beyza dan Yiou sedang menangis.
"Lho ada apa ini? Kenapa kalian semua menangis seperti ini?" tanya Ray.
Yiou pun langsung bangkit dari posisinya mendekat ke arah Ray dan memeluknya sambil menangis membuat Ray semakin kebingungan.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kak Yiou menangis?"
"Ray, Om Randy ...."
"Om Randy! Kenapa dengan Om Randy Kak?" Ray mulai penasaran.
__ADS_1
"Om Randy meninggal Ray," jawab Yiou.
Sontak Ray langsung membelalakkan matanya.
"Hah! Om Randy meninggal?" lirih Ray yang terkejut mendengar kabar bahwa Pak Randy meninggal.
"Iya, Aries yang memberi kabar bahkan Tante Nana juga pingsan, Ray." ujar Yiou.
Seketika air mata Ray tak dapat di tahannya lagi, ia pun memeluk erat tantenya itu dan menangis. Sesaat setelah tenang, Ray langsung melepaskan pelukannya dan mendudukkan dirinya di atas sofa samping Baba Yash.
"Lalu bagaimana? Apa kita pergi ke rumah sakit sekarang?" tanya Ray.
"Iya adik Ray, kita akan pergi ke rumah sakit sekarang, tapi hanya Abla dan Baba saja, kalian semua tetaplah di sini!" ujar Beyza.
"Lho kenapa kami tetap di sini Abla?" tanya Yiou.
"Sebab kamu sedang hamil Yi, gak baik malam-malam bepergian," kata Beyza.
Yiou pun langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mengerti Abla."
"Lalu bagaimana dengan jenazah Om, apa mau di bawa ke Villa atau ke rumahnya?" tanya Ray.
"Tentu saja jenazah Randy akan langsung kita bawa pulang ke rumahnya," jawab Baba Yash.
"Oh, baiklah kalau begitu, besok pagi kita langsung ke rumah Om Randy," ujar Ray. "Tapi...."
"Tapi kenapa adik Ray?" tanya Beyza.
Sesaat Ray menghela nafasnya. "Bagaimana dengan Zuy? Apa kita beritahu sekarang soal kabar Pamannya ini?"
Mendengar pertanyaan Ray seketika membuat lainnya saling memandang satu sama lain.
Lalu....
"Kalau menurut Abla, lebih baik untuk sekarang kamu jangan beritahu dulu soal keadaan Randy amca! Besok saja setelah kalian berada di rumah Randy amca." tutur Beyza.
"Iya Ray aku setuju dengan perkataan Abla, kalau Baby tau kabar Om Randy sekarang, dia pasti shock dan akan memaksa untuk pergi ke rumah sakit," sambung Yiou.
Ray mendesah dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, Ray tidak akan bilang padanya tentang kondisi Om Randy," balas Ray.
Beberapa saat kemudian....
Setelah keberangkatan Baba Yash dan Beyza ke rumah sakit, Ray langsung kembali ke kamarnya.
Ketika sudah berada di dalam kamarnya, Ray melihat Zuy yang sedang duduk menyandar di ranjang sambil membaca buku, lalu ia pun langsung menghampirinya.
"Sayangku...." lirih Ray.
Zuy pun menoleh. "Ray, udah selesai urusannya dengan Pak Davin?"
Ray mengangguk. "Iya udah selesai sayangku, oh iya di mana Nara?"
"Dia tidur di kamar si kembar," balas Zuy.
"Oh...."
Ray lalu naik ke atas ranjangnya dan duduk di samping pujaan hatinya seraya merangkul pundaknya.
"Sayangku yang cantik," bisik Ray.
"Hmmmm...."
"Besok kita pergi yuk!" ajak Ray.
"Pergi? Memangnya kita mau kemana Ray?" cecar Zuy.
"Ke rumah Bi Nana, tadi Kak Aries bilang Bi Nana sudah boleh pulang ke rumah," ujar Ray.
"Oh iya, Syukurlah kalau begitu, Ray. Aku senang mendengarnya," ucap Zuy dengan sumringah.
"Yaudah kalau begitu kita istirahat yuk!" ajak Ray.
Zuy menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua pun langsung merebahkan tubuh mereka dan berpelukan.
"Entah kenapa dari tadi perasaan ku gak enak banget ya? Apa ada sesuatu yang akan terjadi?" kata hati Zuy.
"Maaf sayangku kalau aku harus berbohong padamu," batin Ray mengelus rambut Zuy.
...----------------...
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan malam yang panjang pun kini telah berubah menjadi pagi.
—Pukul 08.35am
Sementara itu, Ray dan lainnya sudah berada di perjalanan menuju ke rumah Pak Randy.
Rumah Pak Randy
Setelah tiba di tempat, semuanya pun langsung turun dari mobilnya. Zuy nampak keheranan saat melihat banyak orang yang berkumpul di rumah Pak Randy dengan menggunakan pakaian hitam.
"Ray, sebenarnya ada apa ini? Kenapa banyak orang berpakaian hitam? Layaknya orang yang sedang berkabung." tanya Zuy.
"Sayangku, kita masuk yuk!" ajak Ray.
Zuy mengerutkan dahinya.
"Ray, jawab dulu pertanyaan ku! Sebenarnya ada apa?" cecar Zuy.
"Sayangku, lebih baik kita masuk dulu dan setelah itu kamu pasti akan tahu jawabannya," ujar Ray.
"Baiklah...."
Ray tersenyum, kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah Pak Randy.
Saat sudah berada di ambang pintu, Zuy pun membulatkan matanya dengan sempurna saat ia melihat peti jenazah berada di dalam rumah Pak Randy.
"I-itu peti jenazah milik siapa Ray?" tanya Zuy menunjuk ke arah peti jenazah itu, tangannya pun nampak gemetar.
Sebelum menjawab, Ray menghela nafas panjangnya terlebih dahulu.
"Itu peti jenazah milik Om Randy, sayangku." jawab Ray.
"Hah! Mi-milik Paman?"
***Bersambung....
×Catatan tambahan×
Sementara itu di alam lainnya....
Pak Randy nampak tengah duduk termenung di suatu tempat, lalu kemudian seseorang datang dan menepuk punggungnya, seketika Pak Randy langsung menoleh ke arah orang yang menepuknya.
"Hmmmm, Kak Jordhan!" lirih Pak Randy.
"Ternyata kamu mengenali ku ya." ujar Papah Jordhan.
"Tentu saja aku mengenal Kakak, karena Nana suka sekali cerita tentang Kakak." kata Pak Randy. "Maaf ya Kak, sekarang aku sudah tidak bisa menjaga Zuy dan Nana lagi." sambung ucapnya.
Papah Jordhan menghela nafasnya. "Aku sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi takdir kamu pergi meninggalkan mereka. Aku berharap si penculik (Ray) anak ku bisa lebih menjaga dan melindungi mereka semuanya."
Mendengar itu, Pak Randy menyunggingkan senyumannya. "Ya semoga aja ya Kak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1