Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Mata Empat Dan Wajah Licin...


__ADS_3

<<<<<


Yiou pun menganggukkan kepalanya, Davin dan Pak Randy bergegas keluar dari Resto.


"Semoga Tante Nana baik-baik saja.."


Ucap Aries sambil terus melihat ke arah di mana Pak Randy dan Davin melangkah keluar.


"Iya semoga beliau baik-baik saja," lirih Yiou


Lalu Aries menoleh ke arah Yiou, "Ah maaf Mrs, gara-gara terlalu khawatir sama Tante, anda jadi terabaikan," ucapnya.


"Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti kok," kata Yiou sambil tersenyum.


"Terimakasih Mrs, oh iya anda mau pesan apa?" tanya Aries.


Yiou pun melihat ke arah buku menu, sesaat kemudian, ia memesan makanan yang ia inginkan dan Aries mencatat pesanan Yiou.


"Mohon tunggu sebentar ya Mrs..!!" kata Aries.


"Oke Tuan Aries."


Aries pun melenggang pergi meninggalkan Yiou.


**********


Rumah Sakit


Hanya butuh waktu beberapa menit, Davin dan Pak Randy sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun masuk dan bergegas menuju ke arah ruang di mana Bi Nana di rawat. Sesampainya Pak Randy langsung menghampiri Nara yang sedang duduk di depan ruang rawat Bi Nana, sedangkan Davin tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memicingkan matanya ke arah seseorang yang tengah duduk bersama Nara.


"Hah..!! bukankah itu si mata empat Archo?!" lirih Davin, lalu kemudian..


"Naraaa.." seru Pak Randy


Nara pun menoleh, "Papiiii..."


Nara beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Pak Randy.


"Hwaaaa.. Papi tolongin Mami Pi.." tangis Nara


"Apa yang terjadi pada Mami?" tanya Pak Randy sambil mengangkat tubuh Nara dan menggendongnya.


Namun Nara tidak menjawab pertanyaan dari Pak Randy, ia menyandarkan kepalanya di pundak Pak Randy sambil menangis.


"Maaf apa anda suami Nyonya Nana?" tanya Archo


"Iya saya suaminya, anda siapa?"


"Perkenalkan saya Archo, tadi saya yang menghubungi anda lewat jam telpon milik anak anda," jelas Archo, dan ternyata yang memberi tahu Pak Randy adalah Archo.


Lalu tiba-tiba Davin datang menghampiri mereka, "Hoho.. ternyata benar-benar si mata empat, Archo.."


Mendengar suara memanggilnya mata empat, Archo pun menoleh ke arah Davin.


"Hmmm ternyata si Wajah licin, Davino Roveis.. " lontar Archo, Mereka pun saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.


"Tunggu..! Davin, apa anda mengenalnya?" tanya Pak Randy


"Tentu saja saya mengenalinya, dia adalah ...,"


Belum sempat menjelaskan, Eqitna keluar dari ruang rawat Bi Nana, sontak Pak Randy langsung menghampiri Eqitna.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Pak Randy


"Oh anda suaminya, istri anda baik-baik saja Pak, hanya saja tubuh istri anda sangat lemah dan tensi darahnya juga sangat rendah" jelas Eqitna


"Lalu bagaimana dengan kandungannya?"


Eqitna pun menyunggingkan senyumannya, "Bapak tenang saja, kandungan istri anda baik-baik saja, tapi saya sarankan agar dia di rawat di sini selama beberapa hari.." saran Eqitna.


"Syukurlah, terimakasih Dokter.." ucap Pak Randy


"Sama-sama Pak, jika anda ingin melihat istri anda silahkan, kebetulan beliau sudah sadar.." ujar Eqitna


Pak Randy pun menganggukkan kepalanya, lalu Pak Randy bergegas masuk ke ruang rawat Bi Nana. Sedangkan Davin masih terus saja menatap tajam ke arah Archo dan membuat Archo merasa tidak nyaman.


"Mau sampai kapan kau menatapku seperti itu, dasar si Wajah licin.." pekik Archo


"Hei mata empat, kenapa kamu bisa berada di sini? Apa adikmu yang menyuruhmu kesini untuk menemui Tuan Ray?" tanya Davin menyidik.


"Heh, saya datang ke Kota ini tidak ada hubungannya dengan Kimberly ataupun Tuan dingin itu, saya punya urusan sendiri," jelas Archo


"Saya tidak percaya," cetus Davin


Archo pun memutar bola matanya dengan malas, "Terserah kau saja, mau percaya atau tidaknya."


Ya memang seperti itu mereka berdua, tidak pernah akur..


Karena tidak tahan melihat perdebatan mereka, Eqitna langsung mendekat ke arah mereka.


"Hei Tuan-Tuan, ini rumah sakit, kalau mau ribut mending kalian ke lapangan saja mau main tonjok-tonjokan atau apa terserah kalian," pekik Eqitna.


Lalu Davin dan Archo langsung terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Nah gitu dong, yaudah saya pergi dulu..!!" kata Eqitna, lalu ia melangkahkan kakinya, akan tetapi...


"Tunggu..!!" seru Archo


Eqitna pun menghentikan langkahnya dan berbalik, "Ada apa Tuan Archo?" tanya Eqitna


"Apa anda ingin ke ruangan Dokter Dimas?" tanya Archo


"Iya, kan di sana juga ada Bunda," jawab Eqitna


"Yaudah, saya lebih baik ikut anda Dokter Eqi, dari pada di sini bersama Si Wajah licin," ujar Archo memicingkan matanya ke arah Davin.


Eqitna pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka pergi meninggalkan Davin. Sesaat setelahnya Davin pun mendudukan dirinya di kursi tunggu yang berada di depan ruang rawat Bi Nana.


"Sebenarnya apa tujuan si mata empat datang kesini? Semoga bukan untuk mencari masalah dengan Tuan Ray," lirih Davin,


Lalu kemudian, Pak Randy keluar dan menghampiri Davin.


"Vin, Maminya Nara ingin berbicara denganmu," ujar Pak Randy


"Berbicara dengan saya?" tanya Davin


Pak Randy pun mengangguk, "Iya, ayo kita masuk..!!" ajaknya.

__ADS_1


Davin langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian mereka masuk ke dalam ruang rawat Bi Nana. Setelah berada di dalam Davin menghampiri Bi Nana.


"Tante Nana, ada apa?" tanya Davin


Bi Nana pun menoleh, "Eh Pak Davin, gak ada apa-apa, Tante ingin mengucapkan terimakasih karena sudah mengantar Papinya Nara," ucapnya


"Iya sama-sama Tante," balas Davin


"Vin, Tante boleh minta tolong?"


"Tentu boleh Tan, memang mau minta tolong apa?" tanya Davin.


Sesaat Bi Nana menghela nafasnya dan berkata, "Vin, Tante minta tolong sama kamu, bilang ke Ray untuk menghubungi Tante, tapi jangan bilang Tante di rawat, Tante gak mau merusak liburan mereka, tolong ya Vin..!!"


"Iya Tante, nanti Davin akan hubungi Tuan Ray," kata Davin.


"Terimakasih banyak Vin," ucap Bi Nana.


Davin pun mengangguk, lalu kemudian Nara menarik jas Davin.


"Paman putih, Om ganteng mana?" tanya Nara


"Om ganteng sedang pergi Nara," jawab Davin


"Oh, Nara pengin gendong Om ganteng," lirih Nara sambil memanyunkan bibirnya.


Lalu tiba-tiba Davin mengangkat tubuh Nara, "Untuk sementara, Paman putih yang akan gendong Nara."


"Iya Paman putih," balas Nara sambil tersenyum.


Melihat Nara tersenyum, Bi Nana dan Pak Randy pun ikut tersenyum bahagia.


Beberapa saat kemudian, Davin pun langsung berpamitan pada Pak Randy dan Bi Nana. Kemudian ia bergegas pergi menuju ke Perusahaan CV.


**************


Perusahaan CV


Hanya memakan waktu 15 menit perjalanan, Davin akhirnya sampai di Perusahaan. Setelah di Lobby, Davin pun langsung mendudukan dirinya di atas sofa yang berada di Lobby.


"Haaa, sepertinya ada yang lupa, tapi apa ya?!" lirih Davin, lalu kemudian...


Kling..


Mendengar suara pesan dari hpnya, Davin pun segera mengambil hpnya dari saku jasnya, kemudian ia membuka layar kunci hpnya dan menekan icon Chat, lalu membaca chat tersebut. Setelah membaca chat itu, mata Davin langsung terbelalak, tangannya pun gemetaran, lalu tiba-tiba...


Taak..


Tanpa sengaja ia menjatuhkan hpnya ke lantai.


"Shaka...!!" lirih Davin yang terkejut, kemudian ia menundukkan kepalanya sambil meremas rambutnya.


Sementara itu, Airin baru saja keluar dari lift, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu luar Perusahaan, akan tetapi saat pandangannya mengarah ke Davin yang sedang duduk menunduk, Airin pun menghentikan langkahnya, dan menghampiri Davin.


"Pak Davin.." sapa Airin menepuk pundak Davin.


Davin pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Airin, dan tanpa sengaja ia langsung memeluk Airin, sontak membuat Airin terkejut.


"Pak Davin ada apa?"


"Shaka Rin, Shaka.."


"Dia kecelakan, dan sekarang sedang di rawat di ruang ICU," jelas Davin tersendu-sendu.


"Apa..!! ya ampun Tuan Shaka, sabar ya Pak Davin," ucap Airin sembari menepuk-nepuk punggung Davin.


Citra yang berada tak jauh dari mereka pun merasa kesal melihat Davin memeluk Airin.


"Sepertinya benar, si Airin punya hubungan dengan Pak Davin, tsk dasar.." gerutu Citra.


********


Sementara itu di Resto Nara, Yiou masih bertahan di sana, karena menunggu Davin yang belum datang juga.


"Tsk, kemana si Davin, dari tadi di tungguin gak datang-datang, awas kalau sampai di rumah aku curi semua maskernya," umpat Yiou.


******************


SWEDIA


Bandara Åre Östersund 


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di bandara Åre Östersund. Karena tempat tujuan mereka kali ini adalah Åre Ski Resort. Åre adalah resort ski di Jämtland, Swedia.


Setelah berada di luar Jet, Henri salah satu pengawal datang menghampiri Ray dan Zuy dengan membawa mobil jemputan untuk mereka, setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil jemputannya, seperti biasa satu mobil khusus untuk Ray dan Zuy, dan satunya lagi untuk pengawalnya. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Bandara.


Selama di dalam mobil, Zuy terus menyandar di dada Ray yang bidang itu, karena selama perjalanan menuju tempat wisata Åre, lagi-lagi Zuy mengalami mabuk udara.


"Sayangku, nanti kalau sudah sampai di tempat, Ray pijitin ya.." tawar Ray.


Mendengar tawaran Ray, Zuy langsung mengangkat kepalanya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah Tuan, terimakasih.." ucap Zuy


"Kenapa sayangku?" tanya Ray yang sedikit kecewa.


"Tidak kenapa-napa Tuan Muda-ku, hanya saja Zuy gak mau ngerepotin anda, Tuan.."


Sesaat Ray menghela nafasnya, "Huh, Ray gak merasa di repotin sayangku, justru Ray senang soalnya bisa ...,"


"Bisa apa Tuan?" sela Zuy.


"Ah, soalnya Ray bisa bantu ngobatin sayangku dari mabuk udara, hehehe" kata Ray berbohong.


"Begitu ya Tuan, Zuy pikir apa, hmmm.." lirih Zuy


"Iya sayangku, yaudah sini sayangku menyandar lagi..!!" titah Ray.


Kemudian Zuy mengangguk dan menyandarkan kepalanya kembali di dada Ray.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat wisata, Åre ski Resort, Setelah keluar dari mobil, Zuy langsung terpesona melihat pemandangan yang begitu indah.


"Waah.. banyak sekali limbah sabunnya.." lirih Zuy


"Apa sayangku menyukainya?" tanya Ray


Zuy pun menoleh ke arah Ray dan menganggukkan kepalanya, "Iya Tuan Muda, Zuy sangat menyukainya, terimakasih banyak Tuan."

__ADS_1


"Sama-sama sayangku, ayo kita ke sana..!!" ajak Ray


Lalu mereka berjalan masuk ke dalam Resort yang sudah di pesan oleh Henri. di dalam Resort tersebut terdapat lima kamar, yaitu tiga kamar di bawah dan dua kamar di atas.


"Kamar Zuy dimana?" tanya Zuy


"Kamar Nyonya ada di atas di samping kamar Tuan Ray, sedangkan yang di bawah kamar kami Nyonya," jawab Henri.


Mendengar jawaban dari Henri, Zuy pun langsung menyunggingkan senyumannya.


"Waah benarkah? jadi Zuy gak perlu satu kamar lagi dengan Tuan Muda," ucap Zuy dengan senangnya.


Namun berbeda dengan Ray yang kecewa karena tidak satu kamar dengan Zuy, lalu ia langsung menatap tajam ke arah Henri, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Henri.


"Kenapa kamu carinya kamar atas yang terpisah sih?" bisik Ray


"Ahahaha, maaf Tuan Ray, habisnya hanya Resort ini yang ada," lirih Henri.


Melihat Ray dan Henri saling berbisik, Zuy langsung menatap keduanya.


"Kalian sedang membicarakan apa? sampai berbisik gitu?" tanya Zuy.


"Tidak sayangku, kami tidak berbicara apa-apa," jawab Ray, lalu ia melihat ke arah Henri, "Iya kan Hen?"


"I-iya benar kata Tuan Ray, Nyonya.."


"Oh, yaudah kalau begitu Zuy ke atas dulu ya.." kata Zuy.


"Bareng sayangku, Ray juga mau ke atas, dan untukmu Henri, tolong pesankan makanan dan bawa ke atas..!!" titah Ray


Henri pun menganggukkan kepalanya, "Baik Tuan Ray.."


Ray dan Zuy bergegas menuju ke lantai atas. Sesampainya di atas Zuy malah terlihat kebingungan.


"Yang mana kamarku ya?" lirih Zuy


Lalu kemudian Ray memeluk Zuy dari belakang, dan menempatkan dagunya di pundak Zuy.


"Sayangku, ada apa?" tanya Ray


"Tidak ada apa-apa Muda, Zuy hanya bingung memilih kamar yang mana," jawab Zuy.


"Kalau sayangku bingung, kenapa kita tidak satu kamar saja," kata Ray, lalu ia mencium leher Zuy.


Mendengar perkataan Ray, Zuy langsung membalikan badannya, "Tuan Muda, sudah jangan menggodaku terus, lebih baik Tuan Muda memilih kamarnya terlebih dahulu..!"


"Tapi Ray mau pilih kamar yang sama dengan sayangku," lirih Ray dengan nada manja dan memasang wajah memelas.


"Rayyan.."


"Iya sayangku.."


Zuy lalu memegang pipi Ray, "Tuan Muda, nanti kita pasti satu kamar, untuk sekarang Tuan Muda pilih kamarnya ya..!!"


"Hmmm, yaudah Ray pilih kamar sebelah kanan," kata Ray sambil menunjuk ke arah kamarnya.


"Baiklah, kalau gitu Zuy yang kiri, nah sekarang Tuan Muda istirahat, Zuy juga mau istirahat, tapi sebelum itu Zuy mau bebersih dulu ya.." ujar Zuy.


"Waah, ayo kita mandi bareng..!!" goda Ray.


"Tuan Muda, kalau gitu Zuy gak jadi mandi, Zuy mau ke kamar saja," pekik Zuy, lalu ia berjalan menuju ke kamarnya.


"Sayangku, hah baiklah selamat beristirahat My beloved Wife," ucap Ray.


Ray juga bergegas menuju ke kamarnya, setelah berada di dalam kamarnya, Ray merebahkan dirinya di atas kasur, kemudian ia mengambil hpnya dan mematikan mode pesawat, tenyata banyak sekali Chat yang masuk di hpnya, dari mulai pekerjaan, hingga Chat dari Kimberly.


"Ck ngapain sih wanita ini.." umpat Ray.


Kling


Kemudian ada Chat masuk dari Davin, Ray pun langsung membuka dan membacanya.


[Chat]


Si Adonan moci


📲 Tuan Ray, tadi saya dapat pesan dari Tante Nana, anda harus menghubunginya, soalnya beliau sedang di rawat, beliau bilang Zuy jangan sampai tahu.. ✉


Sontak Ray langsung terkejut setelah membaca Chat dari Davin, lalu ia keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah, sesampainya Ray mendudukan dirinya di sofa yang berada di sana. Ray lalu menghubungi nomer Bi Nana, akan tetapi tidak ada jawaban, kemudian ia mencari kontak Pak Randy.


Setelah dapat nomernya, Ray langsung menghubungi Pak Randy.


Tuut.. Tuut..


"Halo.."


"Halo Pak Randy, ini saya Ray.."


"Oh, ada apa Tuan Ray?" tanya Pak Randy.


"Tadi Ray dapat kabar dari Kak Davin, katanya Bi Nana mau ngomong sama Ray, Ray coba hubungi nomer Bi Nana, tapi gak di angkat," ujar Ray


"Sebentar ya Tuan Ray," lalu Pak Randy memberikan hpnya ke Bi Nana


"Tuan Muda, ini Bi Nana.."


"Bi Nana, apa yang terjadi? kenapa Bi Nana bisa di rawat?" tanya Ray.


Bi Nana pun terkejut, "Anda tahu dari mana? apa Davin yang memberitahu?"


"Iya Bi, lalu bagaimana keadaan Bi Nana, apa Ray langsung pulang saja Bi, soalnya Ray khawatir."


"Jangan Ray, Bi Nana baik-baik saja, hanya saja Bi Nana ingin minta sesuatu dari mu Rayyan," ujar Bi Nana.


"Bi Nana mau minta apa? sebutkan saja Bi...!!"


"Tuan Muda, Bibi mohon sama Tuan Muda, tolong jaga Zuy baik-baik, jangan sampai ada orang yang mengambil Zuy, Bibi gak mau kalau sampai Zuy pergi," ucap Bi Nana tersendu-sendu.


Mendengar ucapan Bi Nana, sontak membuat Ray tersentak dan langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Apa..!! Siapa yang mau mengambil Zuy?!!"


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2