
<<<<<
Mendengar suara Ray, Zuy langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ray. "Ray, Syukurlah kamu da ...," lirih Zuy, lalu tiba-tiba ...,
Bruuugh..!
"Sayangkuuu...!!!"
...----------------...
Beberapa Saat Sebelumnya....
°Rumah Ray
Ray terlihat sedang berdiri di depan rumahnya karena menunggu kedatangan pujaan hatinya, perasaan cemas dan khawatir mulai menyerang di dirinya. Ray sesekali menghubungi Zuy, akan tetapi ...,
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi." suara Operator
"Tsk, sayangku kamu di mana sih? Kenapa dari tadi gak aktif?" cemas Ray.
Sebenarnya Ray sudah menghubungi Airin dan Pak Randy, untuk menanyakan Zuy. Namun ternyata Zuy tidak ada di sana. Lalu kemudian Henri menelponnya....
Triiiiiing.. Triiiiiing...
Ray segera menjawab panggilan tersebut.
"Apa kau sudah menemukan keberadaan Nyonya?" tanya Ray
"Maaf Tuan, saya belum menemukan Nyonya," jawab Henri.
"Tsk, kalau belum ketemu, ngapain kau menghubungiku? Dasar bodoh! Cepat cari Nyonya sampai ketemu!" bentak Ray.
"Baik Tuan Ray,"
Ray segera memutuskan telponnya.
"Shit! Kak Daviiiiin...!"
Davin pun langsung datang dan menghampiri Ray. "Iya Tuan Ray, ada apa?" tanyanya.
"Cepat siapkan mobil, kita cari Zuy sekarang!" perintah Ray.
Davin mengangguk cepat, lalu ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil jas dan kunci mobilnya, sesaat kemudian ia pun keluar dan menutup pintunya.
"Tuan Ray ini jas anda," kata Davin memberikan jas pada Ray.
"Iya terimakasih Kak," ucap Ray.
Davin lalu berjalan menuju ke arah mobilnya, setelah berada di dalam mobil, Davin menyalakan mobilnya. Sesaat ia menjalankan mobilnya beberapa jarak dan berhenti sejenak. Ray pun segera masuk ke dalam mobil. Saat Davin hendak menjalankan mobilnya kembali, tiba-tiba seseorang menghadangnya, membuat Davin terkejut.
"Airin..!!"
Davin segera turun dari mobilnya dan menghampiri Airin.
"Rin, kenapa kamu datang kesini?" tanya Davin.
"Saya kesini karena saya khawatir dengan Zuy Pak, apa Zuy sudah pulang?"
Davin menggelengkan kepalanya, "Belum Rin, ini saya dan Tuan Ray akan mencari Zuy."
"Apa!!" Airin terkejut mendengar perkataan Davin, "Pak Davin, apa saya boleh ikut?" sambungnya.
"Ayo kalau mau ikut," ajak Davin, ia menggandeng tangan Airin dan membawanya ke arah mobil.
Sesampainya Airin segera masuk ke dalam mobil, di susul Davin.
"Malam Tuan Bos,"
"Malam juga Rin, terimakasih sudah datang dan ikut mencari Zuy," ucap Ray.
"Sama-sama Tuan Bos," balas Airin.
Davin lalu menancapkan gas mobilnya dan pergi mencari Zuy.
Selama perjalanan mencari Zuy, Ray terus mengedarkan pandangannya ke arah kaca mobilnya dan sesekali turun bertanya pada orang-orang sekitar.
"Tuan Ray, tenanglah saya yakin Zuy baik-baik saja," tutur Davin sambil mengemudikan mobilnya.
"Tapi Ray gak yakin kalau dia baik-baik saja, perasaan Ray dari tadi gak tenang, hpnya juga gak aktif, jadi sangat susah untuk melacak keberadaannya," ujar Ray.
"Tapi Tuan Ray ...,"
"Sudah jangan banyak bicara!" bentak Ray.
Davin menganggukkan kepalanya, "Baik Tuan Ray, maaf."
"Tuan Bos sebegitu khawatirnya pada Zuy, Syukurlah aku merasa senang," batin Airin.
Triiiiiing.. Triiiiiing....
Hp Ray kembali berdering, ia pun segera mengambil hpnya di saku jasnya.
"Henri..!!"
Ray langsung menjawab panggilan dari hpnya itu.
"Aku sudah bilang, jangan menghubungiku kalau kau belum menemukan Nyonya!" sergah Ray.
"Nyonya sudah ketemu Tuan," kata Henri
Mendengar perkataan Henri membuat Ray terkejut, "Apa kamu bilang?!"
"Iya Tuan, Nyonya sedang mengendarai motornya menuju arah pulang, tapi ada yang aneh Tuan," papar Henri.
"Aneh? Aneh bagaimana maksudmu Henri?!"
"Iya Tuan, Nyonya mengendarai motornya tidak stabil, ah Tuan Ray, Nyonya menepikan motornya di halte xxxx," ujar Henri
"Hah! Baiklah kita langsung ke sana, kebetulan halte itu sangat dekat, kau awasi terus Nyonya, jika terjadi sesuatu kau harus cepat bertindak..!!" titah Ray
"Baik Tuan Ray."
Henri pun memutuskan telponnya.
"Kak Davin, kita ke halte xxxx sekarang!" perintah Ray.
"Siap Tuan Ray," Davin melajukan mobilnya dengan cepat menuju halte.
Tak butuh lama, mereka pun sampai di halte, Ray segera turun dari mobilnya dan menghampiri Zuy yang tengah duduk menunduk di halte.
Flashback End
...----------------...
Tubuh Zuy tumbang dan hampir terjatuh di lantai, namun dengan sigap Ray langsung menahannya.
"Sayangku, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" lontar Ray
Dengan lemas, Zuy mengangkat tangannya dan memegang pipi Ray.
"R-Ray, kalau mau marah nanti saja ya! Zuy gak kuat, tenggorokan Zuy panas," lirih Zuy dengan suara serak dan seketika ia tak sadarkan diri.
"Sayangku, bertahan lah!"
Ray segera mengangkat tubuh Zuy, lalu Davin dan Airin menghampiri Ray.
"Zuy! apa yang terjadi padamu?" tanya Airin.
"Dia pingsan, Kak Davin kita ke rumah sakit HR!" titah Ray.
Davin mengangguk cepat, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju ke rumah sakit.
**********************
__ADS_1
Rumah Dimas
Sementara itu, setelah selesai makan, mereka pun duduk di ruang keluarga, kecuali Eqitna yang berada di kamarnya menemani Nayla.
"Sayang sekali, dia langsung pergi, padahal Bunda ingin mengobrol banyak dengannya," kata Bunda Artiana.
"Bunda, kenapa mikirin anak tidak sopan seperti itu. Lihatlah setelah memuntahkan makanannya, ia langsung pergi begitu saja," pekik Maria.
"Memuntahkan! Apa maksudmu Kak Maria?"
Sesaat Maria menghela nafasnya, "Huu... Tadi saat aku menyusulnya, ia sedang memuntahkan makanannya, pas aku tanya dia bilang kalau masakan Bunda tidak enak," kata Maria yang berbohong.
"Aku menduga kalau Mam sedang berbohong," batin Archo.
"Apa! Bukankah tadi dia bilang masakan Bunda itu enak?"
"Bunda, jangan tertipu tampang polosnya! Dia itu wanita penggoda, Bunda." ujar Maria, membuat Bunda Artiana tersentak.
"Maria, kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu salah menilainya Maria. Dia bukan wanita seperti itu," papar Bunda Artiana.
"Bunda, kenapa Bunda membelanya? Dan lagi kenapa Bunda bisa mengenal wanita itu?" tanya Maria.
Bunda Artiana menatap Maria sambil memegang tangan Maria.
"Maria, kenapa Bunda bisa mengenal Zuy. Karena pertama pas Bunda melihatnya, Bunda menyangka bahwa Zuy itu adalah kamu Maria, di situ Bunda sangat senang, tapi sayangnya ternyata dia bukan kamu dan itu membuat Bunda sedih. Akan tetapi entah kenapa setelah bertemu dengannya Bunda selalu kepikiran dia terus. Apalagi waktu dia menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya, yang berasal dari Kota M dan di tinggal oleh Ibunya ketika dia berusia dua bulan, terus dia ...,"
"Tadi Bunda bilang apa? Dia dari Kota M?" sela Maria yang terkejut.
Bunda Artiana menganggukkan kepalanya, "Iya Maria, dia bilang seperti itu, Bunda aja sampai menangis mendengar ceritanya. Maria bukankah dulu kamu pernah tinggal di sana bersama suami mu dulu? Dan kamu juga punya anak kan? Maria apa jangan-jangan dia itu ...,"
Tiba-tiba Maria bangkit dari tempat duduknya, "Maaf Bunda, Maria ke kamar dulu."
"Tapi Maria...,"
Maria terus melangkah pergi menuju ke arah kamarnya.
"Bunda...." lirih Dimas
"Padahal Bunda ingin memberitahunya Dimas, Nak Archo, tapi sayangnya Maria ...," ujar Bunda Artiana, air matanya pun lolos membasahi pipinya.
"Bunda jangan menangis, ingat kesehatan Bunda!"
"Iya Nyonya, benar apa yang di katakan Dokter Dimas," sambung Archo.
"Dimas bagaimana hasil tes DNA itu, apa sudah ada kabar?"
Dimas menggelengkan kepalanya, "Belum Bunda, katanya butuh waktu lama."
"Bunda harap sebelum Maria kembali ke Amerika, tes DNA itu sudah keluar," ucap Bunda Artiana
"Iya semoga saja.."
Kamar Maria
Setelah berada di kamarnya, Maria membuka kopernya, lalu ia mengambil sebuah foto dirinya bersama anaknya yaitu Zuy saat masih bayi.
"Apa benar kalau dia itu Zoya anakku? Apakah aku harus menyelidikinya?" lirih Maria memandangi foto tersebut.
Lalu tiba-tiba ia teringat akan Kimberly, membuat hatinya kembali mengeras.
"Tidak, aku gak boleh terpancing, dia hanya mencoba mengambil hati Bunda saja. Benar-benar wanita licik, sudah mengambil Ray dari Kimberly, sekarang dia juga mengambil kasih sayang Bunda yang seharusnya untuk Kimberly. Tidak akan aku biarkan dia hidup tenang, Kimberly kamu tenang saja ya, Mam akan balaskan rasa sakitmu itu," pekik Maria sambil mengepalkan tangannya.
****************
Rumah Sakit HR
Sesampainya Ray segera masuk ke rumah sakit sambil menggendong Zuy, Airin pun mengikuti Ray.
"Dokter Arif, Dokter Arif...." seru Ray memanggil Dokter Arif, membuat orang yang di sana melihat ke arahnya.
Kemudian Dokter Arif keluar dari ruangannya dan menghampiri Ray.
"Ada apa ini?"
Pandangan Dokter Arif mengarah ke Zuy dan membuatnya terkejut.
"Zuy!! Apa yang terjadi pada Zuy? Apa dia salah makan lagi?" tanya Dokter Arif
"Dokter jangan bertanya dulu, lebih baik anda tangani istri saya, cepat!" pinta Ray
Dokter Arif pun mengangguk, lalu mereka membawa Zuy ke ruang IGD. Setelah berada di ruang IGD, Ray membaringkan Zuy di atas tempat tidur.
"Kalian tunggu di luar, biar saya periksa!" pinta Dokter Arif.
Akan tetapi Ray menggelengkan kepalanya, "Saya tidak akan keluar, saya mau menunggunya."
Dokter Arif menghela nafasnya, "Baiklah hanya anda saja yang di sini!"
"Yaudah kalau begitu Airin tunggu di luar," kata Airin, lalu ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Dokter segera memeriksa Zuy, sesaat setelahnya ...,
"Bagaimana Dokter? Dia baik-baik saja kan?"
"Ya, untungnya Zuy segera meminum obat alerginya, kalau tidak, mungkin akibatnya bisa fatal, selain alergi juga trombositnya menurun, untuk sementara dia harus istirahat dulu, jangan terlalu kecapean! Malam ini biarkan dia menginap di sini, besok baru boleh pulang!" jelas Dokter Arif.
Mendengar itu, Ray menganggukkan kepalanya, "Baiklah Dokter, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri saya!"
Dokter Arif pun memegang pundak Ray, "Sudah tugas saya Tuan, anda tenang saja Zuy baik-baik saja. Yaudah saya pergi dulu, nanti saya akan menyuruh suster untuk menginfusnya."
Dokter pun melangkahkan kakinya keluar, sedangkan Ray langsung duduk di samping Zuy dan memegangi tangannya.
"Sayangku jangan membuatku takut, bangunlah sayangku, aku gak sanggup melihatmu seperti ini, jika bisa biar aku saja yang merasakan sakitnya," ucap Ray, ia pun mencium tangan Zuy.
Tak lama suster datang dan menghampiri Zuy.
"Permisi Tuan, saya mau pasang infusnya dulu!"
Ray lalu bangkit dari posisinya dan menjauh beberapa jarak supaya Suster bisa leluasa. Tak lama setelah memasang infus, Suster pun bergegas keluar, Lalu Airin dan Davin masuk ke ruang IGD.
"Tuan Bos, bagaimana keadaan Zuy?"
"Ya seperti itu Rin, alerginya kambuh terus juga trombositnya menurun, otomatis malam ini dia harus menginap," jelas Ray.
Airin pun terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya, air matanya tak dapat di bendungnya. Davin yang melihat Airin menangis langsung memeluknya.
"Sabar Rin, Zuy baik-baik saja kok, dia wanita kuat Rin," ucap Davin mengelus punggung Airin
"Tapi saya takut kalau Zuy seperti dulu lagi, di mana dia hampir tidak tertolong gara-gara alerginya," tangis Airin.
"Jadi kamu mengetahui kejadian itu?" tanya Ray.
Airin lalu melepaskan pelukan Davin dan beralih menghadap ke arah Ray, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya Tuan Bos, waktu itu Zuy tidak sengaja makan tom yum karena ajakan seorang teman sekolahnya, saya juga berada di sana karena di ajak Zuy, dia tidak tahu kalau makanan itu mengandung udang, dan saya juga tidak tahu kalau Zuy memiliki alergi akut, jadi saya biarkan saja ia memakannya, namun setelah itu dia sesak nafas dan di bawa ke rumah sakit. Lalu Dokter Arif berusaha menyelamatkannya dan akhirnya Zuy terselamatkan," jelas Airin
"Jadi seperti itu kejadiannya Rin?"
"Iya Tuan Bos, Pak Davin."
Ray sekilas melihat ke arah Zuy, lalu pandangannya beralih ke Davin.
"Kak Davin, Ray boleh minta tolong?"
"Apa itu Tuan Ray?"
Ray mendekat ke arah Davin dan membisikan sesuatu padanya.
"Baik Tuan Ray, saya akan ke ruangan Dokter Arif," patuhnya, lalu Davin melihat ke arah Airin, "Rin kamu tunggu sebentar ya, setelah urusanku selesai kamu aku antar pulang," sambungnya.
"Iya Pak Davin," Airin mengangguk patuh.
Kemudian Davin berjalan keluar menuju ke ruangan Dokter Arif.
__ADS_1
"Tuan Bos, terimakasih banyak karena sudah menerima Zuy dan melindunginya," ucap Airin membungkukkan badannya.
"Rin angkat kepalamu! Jangan seperti itu, ini sudah kewajibanku melindunginya, justru aku yang berterimakasih padamu. Kamu sudah menjaganya dengan baik selama aku tidak ada di sampingnya. Zuy sangat beruntung mempunyai sahabat baik seperti mu Rin," kata Ray
"Justru saya yang sangat beruntung Tuan Bos, punya sahabat baik dan suka penolong seperti Zuy."
"Iya kamu benar Rin, sifat Zuy yang itu memang tidak bisa hilang, makanya aku juga sangat beruntung bisa memilikinya," ujar Ray.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.35Am, Ray tengah tertidur lelap di samping Zuy dan memeluknya, karena beberapa jam yang lalu Zuy di pindahkan ke kamar rawat VVIP A atas permintaan Ray sendiri. Davin dan Airin pun sudah pulang setelah Zuy di pindahkan.
"Ray, Bi Nana, tolongin Zuy! Zuy takut dengannya, Zuy gak mau bertemu dengannya lagi, tolongin Zuy!" erang Zuy suaranya pun masih serak.
Mendengar suara Zuy sontak Ray langsung terbangun dari tidurnya, ia pun melihat ke arah Zuy yang tengah mengigau, keringat dingin mengalir di tubuh Zuy.
"Sayangku, sayangku.."
Ray mengguncang pelan tubuh Zuy, seketika Zuy membuka matanya dan melihat ke arah Ray.
"Ray!" lirih Zuy
"Iya sayangku ini aku Ray."
Mendengar itu, Zuy langsung menangis sejadi-jadinya, membuat Ray panik, ia lalu memeluk erat Zuy.
"Sayangku, kenapa kamu menangis seperti ini? Apa ada yang sakit? Mana yang sakit?" beberapa pertanyaan di lontarkan oleh Ray karena paniknya.
Namun Zuy tidak menjawab hanya isak tangisnya saja sambil memeluk erat Ray.
"Sayangku, menangislah jika itu membuatmu tenang!" lirih Ray, ia pun mengelus kepala Zuy dan menciumnya.
Malam panjang pun berlalu dan pagi sudah menyapa, di mana semua orang melakukan aktivitas paginya, Zuy nampak sudah terbangun dari tidurnya, lalu ia mengganti posisinya dan memandang ke arah Ray sambil mengguncangkan tubuh Ray.
"Ray.. Ray bangun!"
Seketika Ray terbangun dan mengejapkan matanya, kemudian ia melihat ke arah Zuy.
"Sayangku, sudah bangun?" tanya Ray sambil bangkit dari posisinya menjadi duduk.
"Ray, kita di mana? gak mungkin di hotel kan? Lalu kenapa tangan Zuy di infus?" tanya Zuy yang kebingungan.
Ray lalu tersenyum sambil merapihkan rambut Zuy yang berantakan.
"Sayangku, kita sedang di rumah sakit," jawab Ray.
"Apa! Kenapa Zuy bisa di ...," tiba-tiba Zuy mengingat kejadian semalam, ia pun langsung menundukkan kepalanya.
"Sayangku..."
"Ray, maaf lagi-lagi Zuy menyusahkan mu, harusnya semalam Zuy menolak ajakan Nyonya," ucap Zuy
"Sssht.. Jangan bicara seperti itu, tidak ada yang menyusahkan ku sayangku, lalu siapa orang yang kau sebut Nyonya?" tanya Ray.
Zuy mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ray.
"Dia seorang wanita paruh baya, Zuy bertemu dengannya pas sedang makan bersama Airin, lalu ...,"
Zuy menceritakan semuanya pada Ray tentang Bunda Artiana.
"Jadi seperti itu sayangku, kenapa kamu tidak menghubungiku dulu? Ray sempat panik, takut kamu kenapa-napa sayangku, tapi Ray benar kan, bahwa kamu tidak baik-baik saja," papar Ray
"Zuy minta maaf Ray, sebenarnya Zuy sudah ingin memberitahu mu, akan tetapi hp Zuy mati," jelas Zuy, "Kalau kamu mau marah juga gak apa-apa Ray, orang ini salah Zuy," sambungnya.
Lalu Ray memegang pipi Zuy dan mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy, sesaat setelahnya Ray menghentikan aksinya.
"Ray.."
"Itu membuktikan bahwa Ray tidak marah pada sayangku," ujar Ray.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy memeluk Ray.
Lalu tiba-tiba Petugas rumah sakit membawakan sarapan untuk para pasiennya.
"Permisi Nyonya, saya datang mem ..., eh maafkan saya Tuan, Nyonya." ucap Petugas itu karena tidak enak sudah mengganggu mereka.
Mendengar suara seseorang, mereka pun langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Petugas tersebut.
"Tidak apa-apa, maaf ada perlu apa ya?" tanya Ray
"Saya membawa sarapan untuk pasien, Tuan." jelasnya.
"Oh yaudah letakkan di situ saja!"
Petugas itu meletakkan makanannya di atas naskah, setelah itu ia pun keluar dari kamar Zuy. Ray langsung beranjak dari tempat duduknya dan berpindah duduk di kursi sebelah ranjang Zuy.
"Sayangku sarapan dulu ya! Biar Ray yang suapin," titah Ray sambil membuka tutup tempat makanan itu.
Zuy mengangguk pelan, Ray lalu menyodorkan sendok berisi bubur ke arah mulut Zuy dan menyuapinya.
"Pahit..."
"Namanya orang sakit pasti mulutnya pahit sayangku, tapi kamu harus paksain makan ya sayangku!"
"Tapi Zuy merasa mual Ray, huuumpt..."
Ray lalu meletakkan kembali tempat makanannya di atas nakas, ia pun mengambil tempat sampah kecil yang berada di bawah dan memberikannya pada Zuy.
"Ray menjauh!"
Ray menggelengkan kepalanya, lalu ia bangkit dari posisinya dan beralih duduk di tepi ranjang sambil mengelus punggung Zuy. Zuy pun langsung mengeluarkan isi di perutnya. Lalu tiba-tiba Davin datang dan menghampiri mereka.
"Tuan Ray saya datang membawa sara ..., lho kenapa dengan Zuy?" tanya Davin.
"Dia mual Kak," singkat Ray.
"Apa!! Waah jangan-jangan nih, tokcer juga ternyata Tuan Ray," ledek Davin.
Ray pun mendengus kesal saat mendengar ledekan Davin, kemudian ia melemparkan bantal ke arah Davin sehingga mengenai wajahnya.
"Tuan Ray benar-benar tega, nanti wajah mulus ku rusak bagaimana?"
"Biarin aja, kan masih banyak adonan mocinya," celetuk Ray.
"Dasar Tuan Ray, oh iya ini aku bawakan sarapan untuk anda," ujar Davin.
"Letakkan di meja saja, nanti kita sarapan bareng!"
Davin pun menganggukkan kepalanya, lalu ia meletakkan makanannya di atas meja.
***********************
Rumah Pak Wildan
Sementara itu di kamar, Erlin nampak bersiap-siap untuk pergi, tak lama setelah selesai berdandan ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga, setelah itu ia pun menghampiri Pak Wildan dan Linda yang sejak tadi menunggunya.
"Maaf Papih, Mamih sudah membuat kalian menunggu," ucap Erlin.
"Tidak apa-apa sayang, kamu nampak cantik sekali," puji Linda.
"Tentu dong Mih, selain Erlin meminta maaf pada OB j*lang itu, Erlin juga ingin membuat Tuan Ray terpukau melihat Erlin."
Linda memeluk Erlin, "Kamu memang anak pintar sayang, Tuan Ray pasti tergila-gila padamu,"
"Tentu saja, siapa sih yang tidak tergoda oleh kecantikanku. Tuan Ray tunggu Erlin!"
***Bersambung..
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1