
<<<<<
Hasil tes DNA
Tingkat kecocokan 99.8% hubungan keduanya adalah biologis. Artinya hubungan antara keduanya adalah IBU dan Anak.
Isi dari kertas tersebut...
"Ternyata dia memang benar-benar keponakan ku!!"
Lontarnya, seakan tak percaya pandangannya pun beralih ke arah temannya yang berada di depannya itu.
"Ren! Apa hasil tes DNA ini benar? Tidak ada kesalahan ataupun mengubahnya?" tanya Dimas, tangannya pun bergetar semakin kencang.
"Hei apa kau meragukan ku? Tentu saja hasil tes DNA itu benar dan akurat," jawab temannya.
Seketika Dimas menundukkan kepalanya, tak terasa air mata Dimas mengalir dengan sendirinya saat mendengar jawaban dari temannya.
"Dimas, kenapa kau menangis?" tanya temannya yang kebingungan.
"Aku menangis karena bahagia, Ren." Dimas pun kembali mengangkat kepalanya, "Terimakasih Ren karena sudah membantu ku," ucapnya.
"Sama-sama Dim, kau kan sahabat ku jadi sudah sepatutnya aku membantumu," ujarnya.
Dimas pun menyunggingkan senyumannya membuat temannya terpaku.
"Senyuman itu tidak pernah berubah, sama seperti dulu." batin temannya.
"Iya kau benar Ren, aku sahabat mu. Dan sebagai tanda ucapan rasa terimakasih ku, bagaimana kalau aku meneraktirmu makan?" tawar Dimas.
"Oke aku terima tawaranmu, tapi ajak istrimu juga ya, aku gak mau di anggap duri gara-gara kita hanya makan berdua saja," kata temannya.
Dimas menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya Ren, aku pasti akan ajak Eqi juga."
"Bagus kalau gitu."
"Yaudah aku keluar ya Ren, sekali lagi terimakasih banyak," Dimas berdiri dari posisinya dan mengulurkan tangannya.
Temannya pun membalasnya. "Iya sama-sama Dim."
Dimas melepaskan tangannya dan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Hmmm... Kau akan selalu jadi cinta pertama ku Dimas," lontarnya sambil menyandarkan kepalanya.
Setelah berada di luar, Dimas melipatkan kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam amplop.
"Bunda pasti akan senang mendengar kabar ini," ucap Dimas, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Eqitna untuk menemuinya.
Ruang rawat Bi Nana
Kembali pada Zuy dan Bi Nana yang tengah berbincang...
"Itu dulu Bi, tapi sekarang Zuy sangat trauma dengannya dan sepertinya Zuy mulai membencinya!" ungkap Zuy.
"Hah!!"
Bi Nana kembali terkejut saat mendengar ungkapan dari Zuy.
"Zuy, apa kau serius dengan perkataanmu itu?" tanya Bi Nana
"Iya Zuy serius, bahkan benar-benar serius," jawab Zuy.
Bi Nana lalu memegang pundak Zuy, "Zuy...."
"Zuy gak mau bertemu dengannya lagi, Zuy trauma Bi dengan perlakuannya terhadap Zuy. Padahal Zuy sangat mengidolakannya bahkan sampai berharap Mrs Maria itu Mamah. Tapi malah kebalikannya Mrs Maria menuduh Zuy, mengatai Zuy wanita j*lang bahkan sampai menampar dan menjambak Zuy," jelas Zuy.
"Apa! Maria menjambakmu?"
Zuy menganggukkan kepalanya dan menceritakan kejadian saat di rumah Dimas. Sontak membuat Bi Nana geram sampai mengepalkan tangannya.
"Maria... kamu benar-benar sudah kehilangan akal!" umpat Bi Nana dalam hati.
"Bi, kalau boleh jujur, sebenarnya Zuy sangat iri dengan Kimberly, mempunyai Ibu yang sangat menyayanginya, berbeda dengan Mamah yang pergi ninggalin Zuy saat masih bayi. Tapi Zuy bersyukur masih ada Papah dan Bi Nana yang merawat Zuy, walau pada akhirnya Papah juga pergi untuk selama-lamanya saat usia Zuy menginjak satu tahun, dan yang paling sangat Zuy syukuri adalah Bi Nana yang masih bertahan merawat Zuy sampai sekarang. Kadang Zuy sempat berfikir, kenapa Zuy tidak terlahir dari rahim Bi Nana saja," ungkap Zuy sembari menitihkan air matanya.
Bi Nana dan Pak Randy pun ikut menitihkan air matanya saat mendengar ungkapan dari Zuy. Seketika Bi Nana merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Zuy, kamu adalah anak tertua kami, ya walaupun kamu keponakan Bibi dan tidak terlahir dari rahim Bibi, tapi Bibi sangat sayang sama kamu, Zuy." ucap Bi Nana.
"Iya Zuy, yang di katakan Bibi mu itu benar, kamu memang anak tertua kami dan kami sangat menyayangi mu," sambung Pak Randy sambil memegang kepala Zuy.
Zuy sangat tertegun mendengar perkataan dari Paman dan Bibinya, ia pun mengeratkan pelukannya pada Bi Nana dan menangis kembali.
"Ssht, sudah jangan menangis lagi! Nanti suara mu semakin habis Zuy," tutur Bi Nana.
Namun Zuy tetap saja menangis di pelukan Bi Nana, membuat Bi Nana dan Pak Randy saling menatap satu sama lain, lalu kemudian ....
"Euuum Zuy, tadi kamu bawa buah kan? Mana buahnya Zuy? Bi Nana mau memakannya sekarang, soalnya kalau di bawa ke rumah bisa-bisa buahnya udah habis duluan sebelum Bi Nana makan," kata Bi Nana, namun Bi Nana hanya mengalihkan saja, agar Zuy tidak larut dalam kesedihannya.
Lalu Zuy melepaskan pelukannya dan memberikan kantong buah itu pada Bi Nana.
"Ini buahnya Bi," kata Zuy, Bi Nana pun langsung mengambil kantong buah tersebut.
"Terimakasih gadis kecil ku," ucap Bi Nana.
Bi Nana langsung membuka kantong buah itu dan mengeluarkan isinya, akan tetapi Bi Nana tercengang saat mengeluarkan bungkus styrofoam, saking penasarannya Bi Nana pun membukanya dan isinya ternyata ...,
"Rujak buah!!" lontar Bi Nana, pandangannya pun beralih ke arah Zuy. "Zuy kamu membelikan Bi Nana rujak?" tanyanya yang keheranan.
"Euuum, kalau itu punya Zuy Bi, hehehe...." ujar Zuy membuat Bi Nana dan Pak Randy kembali saling menatap.
"Tumben anak ini doyan rujak, biasanya juga suka menolak, alasannya karena Maghnya, apa jangan-jangan ...," batin Bi Nana yang menduga-duga.
Kemudian Zuy mengambil bungkus styrofoam itu dari tangan Bi Nana.
"Bi, Zuy ke sana dulu ya," kata Zuy.
Bi Nana pun mengangguk pelan, Zuy beranjak dari tempatnya dan beralih duduk di sofa, setelah itu ia langsung menyantap rujak tersebut dengan lahapnya membuat Bi Nana dan Pak Randy terheran-heran.
"Na, lihat gadis kecil itu, apa jangan-jangan dia ...," duga Pak Randy.
"Ya kalau benar juga tidak apa-apa, toh dia kan sudah mempunyai Tuannya," kata Bi Nana, senyumnya pun mengembang.
"Hmmmm, benar juga kamu Na," ujar Pak Randy sambil merangkul pundak Bi Nana.
...----------------...
Menjelang malam hari, Ray dan Davin tengah berada di perjalanan menuju arah pulang.
"Ka Davin, bisa tambah kecepatan tidak?"
"Ini juga sudah cepat Tuan Ray, gak sabaran banget. Pengin cepat-cepat ketemu Zuy ya?" papar Davin sambil fokus menyetir.
"Iya itu salah satunya, dan lagi Ray takut ice creamnya mencair," kata Ray
"Oh, baiklah Tuan Ray," patuhnya.
Davin pun mempercepat laju mobilnya.
****************
Rumah Ray
Tak butuh lama, mereka pun sampai di rumah. Ray segera turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah pintu. Sesampainya ia langsung memijit bel pintunya. Bu Ima pun langsung membuka pintunya.
"Terimakasih Bu Ima," ucap Ray sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sama-sama Tuan."
"Bu, apa Zuy sudah pulang?" tanya Ray
__ADS_1
Bu Ima pun menggelengkan kepalanya, "Belum Tuan Ray."
"Oh yaudah kalau gitu. Oh iya Bu, tolong taroh ini ke dalam kulkas! Soalnya Ray mau bebersih dulu," titah Ray sambil memberikan barang bawaannya.
"Baik Tuan Ray," Bu Ima langsung berjalan menuju ke dapur, sedangkan Ray bergegas menuju ke kamarnya.
Kamar Ray
Sesampainya di kamar, Ray mendudukkan dirinya di sofa, ia lalu mengambil hpnya dari saku jasnya dan langsung menghubungi Zuy.
Tuuut.. Tuuut...
"Iya Ray..." suara Zuy dari seberang telponnya.
"Sayangku, apa kamu masih di rumah Bi Nana?"
"Zuy lagi di jalan menuju arah pulang Ray dan di antar sama Kak Aries," kata Zuy.
Mendengar perkataan Zuy, Ray langsung tersentak, "Apa! Di antar Aries?"
"Iya, soalnya Bi Nana yang nyuruh, beliau takut Zuy kenapa-napa. Udah ya Ray, bentar lagi Zuy sampai kok," ujar Zuy.
Lalu telpon pun terputus.
"Sabar Ray jangan cepat cemburu, ingat sayangku sudah jadi milikmu," lontar Ray, lalu tiba-tiba sesuatu menyerang kembali pada dirinya, membuat Ray bergegas menuju ke kamar mandi.
...----------------...
Sementara itu....
Setelah selesai mengobrol dengan Ray, Zuy memasukan hpnya kembali ke dalam ranselnya.
"Telpon dari Ray ya?"
"Iya Kak," singkat Zuy.
"Apa dia memperlakukan dirimu dengan baik Zuy?" tanya Aries.
Zuy mengangguk, "Iya Kak, Ray sangat baik dan perhatian sama Zuy."
"Oh... Syukurlah kalau begitu, Kakak merasa senang," ucap Aries. "Oh iya Zuy, wanita cantik yang bernama Yiou itu siapa nya Ray?"
"Maksudnya Mrs Yiou Kak? dia itu Tantenya Ray," jawab Zuy, lalu ia memicingkan matanya ke arah Aries,
"Tadi Kak Aries bilang Mrs Yiou cantik? Apa jangan-jangan Kak Aries ..., ehemmm." sambung ledek Zuy.
"Jangan berfikir yang macam-macam, Kakak hanya bertanya saja," pekik Aries, namun terukir senyuman di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah Ray, namun Aries hanya mengantar Zuy sampai depan gerbang saja.
"Kak Aries gak mampir? Siapa tau Mrs Yiou ada di dalam, hehehe...." goda Zuy sambil turun dari mobil.
"Zuy jangan menggoda Kakak terus, sudah sana masuk! Oh iya salam buat semuanya," kata Aries.
"Termasuk buat Mrs Yiou ya?"
Aries pun mendengus kesal. "Iiish.. kamu ya! Udah ah Kakak pulang dulu, jangan lupa istirahat!"
"Siap Kakak."
Aries tersenyum, lalu ia menjalankan mobilnya kembali, Zuy pun melambaikan tangannya. Setelah mobil Aries tak terlihat, ia bergegas masuk ke dalam. Sesampainya di dalam rumah...
"Zuy baru pulang?" tanya Davin
"Iya Pak Davin, euuum... Tuan Muda mana?"
"Tuan Ray lagi di kamarnya, sepertinya sedang tidak enak badan, dari tadi muntah-muntah terus," jelas Davin.
Zuy terkejut mendengar penjelasan Davin, "Hah! Apa Ray masuk angin?"
"Entahlah, tadi aku juga nyuruh Bu Ima untuk buatin air hangat. Zuy, lebih baik kamu langsung ke kamarnya saja!" pinta Davin.
"Iya Pak Davin, terimakasih sudah memberi tahu Zuy," ucap Zuy.
"Ibu, apa itu untuk Ray?" tanya Zuy
"Iya Nak, ini air jahe untuk Tuan Ray," jawab Bu Ima.
Lalu Zuy mengambil nampan dari tangan Bu Ima. "Ini biar Zuy yang antar Bu, Bu Ima istirahat ya!"
"Iya Nak, terimakasih." ucap Zuy.
Zuy pun langsung menaiki anak tangga, setelah sampai di depan kamar Ray, Zuy langsung mengetuk pintunya.
Tok Tok Tok
"Siapa?!" suara Ray dari kamarnya.
"Ini Zuy, Ray."
"Masuklah sayangku! Pintunya gak di kunci."
Zuy memutar handle pintu dan mendorong pintunya sehingga terbuka, lalu ia masuk ke dalam kamar dan menghampiri Ray yang tengah duduk menyandar di tempat tidurnya. Setelah itu Zuy meletakkan nampannya di atas nakas dan duduk di tepi ranjang.
"Ray, apa yang terjadi? Kata Pak Davin kamu muntah-muntah?"
"Gak tau sayangku, tiba-tiba perut Ray enek dan mual," ujar Ray.
Lalu Zuy mengambil cangkir berisi air jahe dan memberikannya pada Ray.
"Mungkin kamu masuk angin Ray, nih minum air jahe biar enakan perutnya, setelah itu baru Zuy pijat badannya," kata Zuy.
"Baiklah sayangku," balas Ray, ia pun mengambil cangkir dari tangan Zuy dan perlahan meminumnya.
......................
Malam semakin larut, orang-orang pun tengah lelap tertidur, akan tetapi berbeda dengan dua sejoli yang masih terjaga di kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Ray dan Zuy.
"Ray, apa kamu serius mengajak ku ke Kota M?" tanya Zuy.
"Tentu sayangku, kan Ray udah janji." jawab Ray.
"Tapi kamu kan sedang sakit Ray," papar Zuy
Tiba-tiba Ray mencubit pipi Zuy. "Siapa yang sakit sayangku? Ya pokoknya besok kita berangkat dari sini jam delapan pagi, biar gak panas di jalannya."
"Baiklah, Zuy ikut kamu saja, Ray."
Kemudian Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy. "Sayangku, satu ronde lagi ya?"
"Hah! Tidak, tidak... Sudah cukup hukumannya!" tolak Zuy.
"Sayangku, mumpung kita masih terjaga dan masih banyak waktu," kata Ray
"Apa kau benar-benar serigala buas?"
"Yap, kau benar sayangku, dan sekarang serigala buas ini akan melahapmu kembali," tanpa aba-aba, Ray langsung menyerang Zuy.
"Jangan Ray...!"
Aaaaaaah......
Ayo! saatnya pikiran kita Travelling kemana-mana... tututututu.. (Author nimbrung)
......................
Pagi hari pukul 07.47Am, Ray dan Zuy nampak tengah bersiap-siap untuk pergi ke Kota M.
"Kak Davin beneran gak mau ikut?" tanya Ray
__ADS_1
"Gak Tuan Ray, lebih baik aku menghabiskan waktu ku untuk membaca buku dongeng sekalian perawatan wajah," jawab Davin.
Ray langsung memutar bola matanya dengan malas karena mendengar jawaban Davin.
"Hmmm, wajah lagi yang dia pikirin." rutuknya.
Zuy tiba-tiba mencubit pinggang Ray, membuat Ray meringis dan melihat ke arah Zuy.
"Yaudah kalau Pak Davin gak ikut juga gak apa-apa," kata Zuy.
Davin pun tertegun dan merangkul Zuy, membuat Ray menumpahkan cukanya alias cemburu, lalu ia melepaskan Davin dari Zuy.
"Ciih, dasar posesife," celetuk Davin memalingkan pandangannya.
"Kak Davin bilang apa?!"
Zuy lalu menarik tangan Ray dan melangkahkan kakinya menuju keluar.
"Pak Davin, kita berangkat ya, bye.." ucap Zuy
"Iya hati-hati, jaga bayi gedemu itu Zuy!" seru Davin.
Ia pun langsung mendudukkan dirinya di sofa dan membaca buku dongeng kembali.
*********************
Rumah Dimas
Sementara itu, Bunda Artiana tengah berada di teras depan sambil menikmati secangkir tehnya. Kemudian Dimas menghampiri Bunda Artiana.
"Bunda...." panggil Dimas
"Iya Dimas."
Dimas lalu menarik kursi sehingga berhadapan dengan Bunda Artiana dan menduduki kursi itu, lalu Dimas menyerahkan sebuah amplop pada Bunda.
"Apa ini Dimas?" tanya Bunda Artiana yang kebingungan.
"Coba Bunda buka dan baca!" pinta Dimas.
Bunda Artiana langsung membuka amplop tersebut, kemudian mengambil isinya dan membacanya. Seketika tangannya bergetar dan jantungnya pun berdegup kencang, lalu pandangannya mengarah ke Dimas.
"Dimas, i-ini...."
"Iya Bunda, ternyata dugaan Bunda selama ini benar dan terbukti bahwa Zuy adalah cucu Bunda, anak dari Kak Maria," jelas Dimas.
Bunda Artiana langsung menjatuhkan kertas tersebut, air matanya tak dapat di bendung lagi.
"Syukurlah... Syukurlah... Bunda benar-benar bahagia, ini kado terindah yang di berikan oleh Tuhan." tangis Bunda Artiana.
Dimas pun ikut menangis karena melihat Bunda Artiana bahagia.
"Bunda, apa kita akan beritahu Kak Maria sekarang?" tanya Dimas.
"Nanti Dimas, kita akan memberitahu Maria pada saat perayaan ulang tahun Bunda, sekalian Bunda ingin memberitahu pada orang-orang soal cucu Bunda," kata Bunda Artiana.
"Iya Dimas tahu apa maksud Bunda, nanti Dimas akan mengatur semuanya, tentunya dengan bantuan dari Archo," ujar Dimas.
"Terimakasih Dimas," ucap Bunda
"Iya Bunda. Ngomong-ngomong Kak Maria mana? Kok dari tadi Dimas gak melihatnya?"
"Tadi pagi Maria sudah pergi dengan Nak Archo menggunakan mobil Bunda," jawab Bunda Artiana
"Memangnya pergi kemana Bunda?"
"Entahlah, dia hanya bilang ingin pergi," ujar Bunda.
Dimas pun memalingkan wajahnya, dalam hatinya berkata, "Kira-kira mereka berdua pergi kemana ya?"
*****************
Kota M
Β°Pemakaman Umum
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, Ray dan Zuy sampai di tempat tujuan, Ray lalu memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus. Setelah itu mereka turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke area pemakaman sambil membawa bunga yang mereka beli di jalan. Sesampainya di makam Papahnya ....
"Pak Toto, apa kabar?" tanya Zuy pada seseorang yang ternyata tukang bersih-bersih pemakaman.
Pak Toto pun menoleh, "Kamu anak pemilik makam ini kan? Kalau tidak salah namamu Zoey, benar?"
"Iya tebakan bapak benar. Oh iya, terimakasih banyak sudah membersihkan makam Papah," ucap Zuy.
"Sudah tugas saya Nak, yaudah Bapak kesana dulu ya," pamit Pak Toto.
Zuy mengangguk, Pak Toto pun melangkah pergi. Kemudian Zuy meletakkan bunga di atas makam Papahnya, sedangkan Ray menyirami nisannya dan berdoa, lalu ....
"Papah, sesuai janji Zuy. Zuy datang ke rumah Papah, tapi Zuy tidak datang bersama Bi Nana, Zuy datang dengan orang yang Zuy sayangi, apa Papah bahagia dengan kehadiran Zuy? Pah, kapan Papah datang lagi ke mimpi Zuy? Zuy ingin bertemu dengan Papah dan di peluk Papah lagi. Zuy ingin curhat sama Papah tentang apa yang Zuy alami sekarang, Zuy juga ingin minta maaf karena tidak bisa menjaga barang-barang peninggalan Papah. Maafin Zuy Pah, Zuy bersalah, Zuy sudah jadi anak bandel Pah." ucap Zuy sambil menangis.
Ray sangat tertegun mendengar ucapan Zuy, tanpa terasa air matanya pun mengalir membasahi pipinya, kemudian ia memeluk erat Zuy, pandangannya mengarah ke makam Papahnya Zuy.
"Papah mertua, Bi Nana sudah memberi tahu ke saya tentang pesan yang anda berikan untuk saya, dan saya Rayyan G Michael berjanji akan selalu melindunginya, menyayanginya dan membahagiakannya selalu, saya rela bertaruh nyawa demi anak anda. Karena anak anda adalah wanita yang sangat saya cintai," ucap Ray.
Beberapa saat setelah menumpahkan kesedihan dan rasa rindunya, Ray dan Zuy langsung bangkit dari posisinya.
"Sayangku, setelah ini kita ke Panti Asuhan!" ajak Ray.
"Ray, terimakasih sudah membawa Zuy ke sini," ucap Zuy.
"Sama-sama sayangku, ayo kita pergi!"
Zuy mengangguk, "Iya Ray, kau duluan saja, nanti aku menyusul."
"Baiklah sayangku, Ray tunggu di parkiran!"
Lalu Ray melangkah pergi, sedangkan Zuy mengusap nisan Papahnya itu.
"Pah, Zuy pergi dulu ya! Nanti kapan-kapan Zuy datang lagi," ucap Zuy. Ia pun berjalan pergi meninggalkan makam Papahnya.
Dari arah jauh nampak dua orang yang tengah kebingungan, mereka adalah Maria dan Archo, lalu tanpa sengaja Maria melihat Zuy, sehingga membuatnya berkerut kening.
"Shit! ternyata dia masih hidup dan baik-baik saja. Lalu kenapa dia berada di sini? Apa ada keluarganya yang di makam kan di sini?" batinnya.
"Mam ada apa? Ayo katanya mau cari makam suami Mam itu, kebetulan itu ada tukang bersih-bersih makam, kita tanya saja padanya," ajak Archo.
Maria dan Archo langsung menghampiri Pak Toto.
"Permisi Pak, apa boleh saya bertanya sesuatu?"
"Iya silahkan!" kata Pak Toto
"Apa anda tahu Makam yang bernama Jordhan? tanya Maria
Sesaat Pak Toto terdiam sambil mengingat-ingat, lalu kemudian ...,
"Nama Jordhan ya, itu makamnya yang ada buket bunga mawar," kata Pak Toto sambil menunjuk.
Maria pun melihat ke arah Pak Toto menunjuk.
"Pak, apa ada yang datang? Soalnya di lihat dari bunganya masih segar." tanya Maria.
Pak Toto menganggukkan kepalanya, "Iya, barusan anaknya yang bernama Zoey datang," kata Pak Toto.
Sontak membuat Maria tersentak kaget. "Z-Zoey!! Anak?!"
***Bersambung
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ