
<<<<
Pak Willy pun terkejut mendengar perkataan Pak Wildan, "Apa! Tapi Rayyan gak bilang apa-apa ke saya," ungkap Pak Willy.
"Lho kok bisa, bukannya Tuan Ray tinggal di sini, pasti anda tau kalau Ray lagi sakit," ujar Pak Wildan
"Ya karena Ray tidak tinggal di sini, dia tinggal di rumahnya sendiri," jelas Pak Willy.
Mereka bertiga pun terkejut..
"Jadi Tuan Ray punya rumah sendiri, dia gak tinggal di sini?" tanya Pak Wildan
Pak Willy menggelengkan kepalanya.
"Tidak, udah lama Rayyan pindah dari sini, katanya mau tinggal di rumah lamanya, karena itu milik orang tuanya," jelas Pak Willy.
Pak Wildan manggut-manggut.
"Oh begitu, maaf Pak Willy kalau saya lancang, Ray keponakan anda, lalu dia (Ray) anak dari siapanya Anda?"
Lalu kemudian pelayan Pak Willy datang membawa minuman untuk Pak Wildan dan lainnya.
"Maaf Tuan, ini minumannya.." ucap si pelayan sambil meletakkan minuman di atas meja.
"Terimakasih, kamu boleh kembali..!" suruh Pak Willy, pelayan pun pergi menuju ke dapur.
"Silahkan minum Pak Wildan dan Nonya Wildan," lanjut kata Pak Willy.
"Terimakasih Pak Willy," ucap Pak Wildan.
Lalu mereka pun meminumnya. Sesaat....
"Oh iya soal pertanyaan anda tadi, sebenarnya Ray itu anak dari adik sepupuh saya yaitu Candika," ungkap Pak Willy
Sontak membuat Pak Wildan terkejut saat mendengar nama Candika di sebut oleh Pak Willy.
"Apa! .aksud anda Candika Putri Vallery istri dari Mr Michael?"
Pak Willy menganggukkan kepalanya.
"Iya, dan Rayyan itu anak pertama mereka," ujar Pak Willy.
"Oh jadi begitu ya, ternyata Tuan Ray anak dari Mr Michael. Hmmm, itu sangat bagus jadi Erlin punya suami yang hebat dan mertua yang sangat di sanjungi oleh semua orang, Erlin kamu harus bisa dapetin Ray," kata hati Pak Wildan.
Sementara itu, Erlin terlihat murung karena kecewa mendengar kata Pak Willy kalau Ray gak tinggal di situ, Erlin menoleh ke arah Linda.
"Mami bagaimana ini, padahal Erlin sangat ingin bertemu dengan Tuan Ray," lirih Erlin.
Linda memegang tangan Erlin.
"Sabar sayang, nanti juga ketemu kok, udah jangan manyun gitu nanti cantiknya hilang lho," kata Linda menenangkan Erlin.
"Baiklah Mami," ucap Erlin.
Linda lalu beralih melihat ke Pak Willy.
"Maaf Pak Willy! Boleh tidak kami minta alamat rumah Tuan Ray?!" kata Linda.
Pak Willy langsung meletakkan cangkir yang di pegangnya.
"Hmmm kalau itu, lebih baik kita kesana bareng, aku juga ingin tau keadaan Ray," ujar Pak Willy "Tunggu sebentar aku mau siap-siap dulu!"
"Baiklah Pak Willy," ucap Pak Wildan
Lalu Pak Willy pun beranjak dari tempat duduknya dan ia pun berjalan menuju ke kamarnya.
Wajah Erlin yang tadinya cemberut berubah menjadi sumringah.
"Mami, aku akan ketemu Tuan Ray, aku akan ke rumah Tuan Ray," ucap Erlin dengan senangnya.
"Tuh Mami bilang juga apa, udah kamu rapihkan rambut dan make up kamu itu! Mumpung Pak Willy belum datang. Kalau kamu kelihatan cantik kan, pasti Tuan Ray akan terpanah melihatmu," kata Linda sambil merapihkan rambut Erlin.
"Iya Mih."
"Hmmm, gak di sangka kalau Ray anak dari Mr Michael, nah Erlin kamu harus benar-benar bikin Tuan Ray jatuh cinta padamu ya," tutur Pak Wildan.
Erlin pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Tak berapa lama kemudian, Pak Willy datang.
"Ayo kita berangkat..!!" ajak Pak Willy dan di balas anggukan kepala oleh mereka bertiga.
Lalu kemudian Pak Willy dan lainnya pergi menggunakan mobil mereka masing-masing menuju rumah Ray.
*****
Rumah Ray
Sementara itu, Zuy nampak sibuk memasak untuk Ray dan Davin, sambil menunggu masakan matang Zuy pun mengerjakan yang lainnya, seperti mencuci piring, membersihkan sampah sayuran, dan lainnya. Tak lama kemudian, makanan yang Zuy masak matang, ia segera menyiapkannya di meja makan.
"Hah, akhirnya selesai juga, kalau di pikir-pikir ini seperti waktu itu, waktu masih jadi pengasuhnya, apa kejadian itu akan terulang lagi ya," lirih Zuy.
"Hoaaam, Pagi Zuy.." sapa Davin yang baru bangun tidur seraya menuruni anak tangga.
Zuy mendesah. "Ini bukan pagi Pak, matahari udah naik ke atas Pak."
"Itu mah mataharinya yang kecepetan Zuy, kalau bagiku mah masih pagi, hehehe.." canda Davin
Zuy pun memutar bola matanya dengan malas.
"Iya terserah Pak Davin aja deh," lirih Zuy
__ADS_1
"Hahaha, lagian weekend ini, jadi bisa tidur sepuasnya," ujar Davin.
"Hmmmm..."
Davin lalu melirik ke arah meja makan.
"Waah sepertinya enak, aku jadi lapar Zuy," kata Davin.
"Yaudah kalau Pak Davin udah lapar, Pak Davin nyarap duluan aja ya!" kata Zuy.
"Hmmm nanti aja Zuy, lagian lebih enak kan kalau makan bersama."
Zuy menyunggingkan senyumnya, lalu....
"Eummm Pak Davin."
Davin menoleh dan bertanya, "Iya, ada apa Zuy?"
"Eummm.. Zuy mau tanya pelayan di rumah ini kemana pak?" tanya Zuy.
"Oh, kemaren dia izin cuti karena orang tuanya sakit, entah kapan kembali, Tuan Ray ingin cari pelayan yang baru, tapi yang bisa di percaya," jelas Davin. "Hmmm, tapi kalau di pikir-pikir kenapa gak kamu aja yang kerja di sini, dan jadi pengasuhnya Tuan Ray lagi!" sambungnya.
Zuy menggelengkan kepalanya.
"Kalau itu gak mungkin Pak, karena Zuy udah bekerja. Jadi mana sempat."
Davin menghela nafasnya sejenak.
"Hmm, sayang sekali. Padahal aku ingin kamu lho yang ada di sini buat bantuin Tuan Ray juga." lirih Davin. "Oh iya ngomong-ngomong terimakasih ya semalam udah bantuin kerjaanku."
"Sama-sama Pak."
Lalu sesaat....
"Apa yang sedang kalian bicarakan?!" seru Ray menuruni tangga.
Seketika Zuy dan Davin memalingkan wajahnya ke arah Ray.
"Eh Tuan Muda sudah bangun? Em, ka-kami tidak membicarakan apa-apa Tuan, Pak Davin hanya berterimakasih padaku." kata Zuy sedikit berbohong.
"Oh begitu," lirih Ray sambil melihat ke arah Davin.
Davin memalingkan pandangannya dan hatinya pun berkata, "Kepekaan yang sempurna, tau aja kalau lagi di omongin."
"Tuan Muda, ayo makan..!!" ajak Zuy.
Ray mengangguk kemudian menarik kursi tapi bukan untuknya, melainkan untuk Zuy.
"Silahkan duduk Kak! kamu pasti kecapean." titah Ray
"Ta-tapi Tuan ...."
Untuk sesaat Zuy terpaku atas sikap dan perlakuan Ray terhadapnya, sedangkan Davin biasa saja melihatnya.
"Tu-Tuan Muda ...."
"Sssht.. Kakak makan ya..!!" suruh Ray, ia pun menarik kursinya dan mendudukinya.
Lalu kemudian Davin menyodorkan piringnya ke arah Ray.
"Tuan aku sekalian ambilkan makanannya."
"Ambil aja sendiri...!!" celetuk Ray sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Davin mengerutkan dahinya seraya berdecak.
"Cih.. Tuan Ray pilih kasih, hanya perhatian pada Zuy aja." gumam Davin.
Rayhanya terdiam dan tidak peduli dengan gumaman Davin, sedangkan Zuy terkekeh karena tingkah Davin dan Ray. Davin lalu mengambil makanannya sendiri dengan raut wajah yang cemberut, kemudian mereka menyantap makanannya itu.
Sesaat kemudian...
Setelah selesai makan, Zuy langsung membereskan piring bekas makannya. Sedangkan Ray terus melihat ke arah Zuy sambil tersenyum, namun berbeda dengan Davin yang hanya menggelengkan kepalanya karena melihat Ray seperti itu.
Lalu....
"Tuh, kamu sangat cocok Zuy. Makanya kamu mau ya di sini lagi jadi pengasuhnya Tuan Ray! Tuan Ray pasti sangat senang, iya kan Tuan?" lontar Davin.
Ray menganggukkan kepalanya.
"Iya sangat setuju," balas Ray namun pandangannya mengarah ke Zuy.
"Tuan Ray.." seru Davin.
Seketika Ray tersadar dan menoleh ke arah Davin.
"Eh ada apa Kak?!!" tanya Ray.
"Hmmm, ternyata anda tidak mendengarnya ya? Yasudah lah.." gerutu Davin.
"Emang apaan Kak?!!" tanya Ray penasaran.
Davin terdiam, lalu kemudian Zuy menjawab pertanyaan Ray. "Tadi Pak Davin bilang, kalau Pak Davin menyuruh Zuy untuk menjadi pengasuh anda Tuan Muda."
Mendengar itu, wajah Ray langsung sumringah, ia pun menatap Zuy dan bertanya, "Lalu apa jawaban Kakak, apa Kakak mau?!!"
"Emmm itu, anu ... ..."
Ting Tong.. (suara bel pintu)
__ADS_1
"Ah Tuan Muda sepertinya ada tamu, biar Zuy yang buka ya," kata Zuy, ia pun berjalan menuju ke depan.
"Kenapa Kak Davin gak bilang sih, kalau kakak nanya seperti itu ke Zuy," gerutu Ray
Davin melirik ke arah Ray, sambil tangannya menyanggah kepalanya.
"Aku kan sudah bilang, tapi anda tengan asik menatap Zuy terus, perkataanku jadi terabaikan." gerutu Davin.
"Hahaha, iya deh maaf Kak." ucap Ray membuat Davin mendengus.
Sementara itu, setelah sampai di pintu, Zuy langsung membukakan pintunya.
Cekleek
Ternyata yang datang Pak Willy dan lainnya, Erlin pun terkejut melihat Zuy ada di rumah Ray.
"Lho Zuy kamu di sini?" tanya Pak Willy
"Iya Pak Willy, oh iya mari masuk..!!"
Lalu mereka melangkah masuk, Erlin merasa kesal karena melihat Zuy, ia pun mengepal tangannya seraya menggertakan giginya.
"Tsk, kenapa dia ada di sini sih.." gumam Erlin di dalam hati.
Linda menoleh ke Erlin.
"Ada apa sayang, kok cemberut gitu?" tanya Linda
"Wanita itu Mi," lirih Erlin menunjuk ke arah Zuy.
Linda mengalihkan pandangannya ke arah Erlin menunjuk. Lalu....
"Silahkan duduk! Saya panggilkan Tuan Muda dulu," kata Zuy.
"Iya, terimakasih banyak Zuy," ucap Pak Willy.
Sesaat Zuy pun melenggang ke dalam untuk memanggil Ray.
"Waah rumahnya sangat besar ya Lin," lirih Linda mengedarkan pandangannya.
Namun Erlin tidak menjawab, raut wajahnya masih terlihat masam karena Zuy.
"Ada apa sih Lin, kenapa kamu cemberut gitu? Apa gara-gara wanita tadi? Emang dia siapa?" cecar Linda.
"Dia itu OB di Perusahaan Tuan Ray," jawab Erlin.
Linda menghela nafasnya dan menepuk pundak Erlin.
"Ya ampun Lin, dia kan hanya seorang OB aja apa hebatnya di bandingkan dengan anak cantik Mamih ini. Ya kamu tenang aja, gak perlu takut! Karena Mamih jamin kalau Tuan Ray gak akan tergoda oleh wanita rendahan seperti dia itu." kata Linda.
Pak Wildan mendekat ke arah Linda dan bertanya, "Erlin kenapa Mi? Bukannya tadi dia semangat, kenapa malah cemberut gitu?"
"Itu karena wanita yang barusan," bisik Linda.
"Apa!" Pak Wildan tersentak.
Lalu tak berapa lama Ray pun datang.
"Eh Om Willy, Pak Wildan, Nyonya Wildan dan Nona Erlin," sapa Ray
"Ternyata anda masih mengenali anak saya ya Tuan Ray," ucap Pak Wildan.
"Pasti saya ingat, apa kabar?" tanya Ray
Erlin pun tersipu malu.
"Ka-kabarku baik Tuan," jawab Erlin dengan gugupnya.
"Rayyan, kenapa kamu gak menghubungi Om kalau kamu sakit?" tanya Pak Willy
"Maaf Om, itu karena hp Ray hilang jadi gak sempat hubungi Om," jawab Ray.
Kemudian Zuy datang membawa minuman untuk Pak Willy dan lainnya, ia pun meletakkan minuman di atas meja, setelah itu Zuy pun pergi, akan tetapi Ray mendadak memegang lengan Zuy sehingga Zuy menoleh.
"Tuan Muda.
Ray tersenyum. "Terimakasih Zuy."
Zuy pun membalas dengan tersenyum juga, kemudian ia langsung kembali ke dapur. Melihat itu lagi-lagi Erlin kesal dan menggertakan giginya lagi Linda pun mengelus punggung Erlin.
"Tahan sayang! Mamih tahu kamu sangat marah, tapi ingat harus jaga wibawa agar Tuan Ray terpesona melihatmu." tutur Linda menenangkan Erlin.
Erlin menganggukan kepalanya, lalu ia menyunggingkan senyuman, dan langsung menghampiri Ray.
"Eummm, Tuan Ray ini untuk anda, cepat sembuh ya Tuan," kata Erlin menyerahkan bingkisannya ke Ray.
Ray pun tersenyum, "Ah terimakasih banyak Nona Erlin," ucap Ray mengambil bingkisannya.
Deeeg
Jantung Erlin pun berdegup dengan kencang, ia tersenyum bahagia karena bisa melihat Ray tersenyum, pipinya langsung merona.
Pak Wildan dan Linda pun bahagia melihat anaknya berani mendekati Ray.
"Bagus Erlin, terus seperti itu agar Ray luluh dan langsung jatuh hati padamu," kata hati Pak Wildan.
***Bersambung....
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... ✌😉😉✌