
<<<<<
(Masih percakapan lewat telepon)
Mendengar ucapan Bi Nana, sontak membuat Ray tersentak dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Apa..!! Siapa yang mau mengambil Zuy?!!"
"Itu..., pokoknya seseorang Tuan, nanti Bi Nana akan ceritakan semuanya saat Tuan Muda sudah pulang, Bi Nana mohon sangat pada anda Tuan Muda..," pinta Bi Nana, "Anggaplah ini permintaan seorang ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya," sambungnya sambil menangis.
Mendengar perkataan Bi Nana membuat Ray tertegun, "Bi, jangan bicara seperti itu, tanpa di minta pun Ray akan menjaga Zuy dan tidak akan ada yang mengambil Zuy dariku ataupun Bi Nana," tegas Ray
"Terimakasih Tuan Muda, terimakasih, tidak sia-sia Bi Nana menyerahkan Zuy pada anda, Bibi sangat bahagia.." ucap Bi Nana tersedu-sedu.
"Bi Nana, jangan berterimakasih padaku, justru yang harusnya berterimakasih adalah Ray, karena Bi Nana telah mempercayai Ray untuk menjaga dan melindungi Zuy, Ray benar-benar bahagia Bi," ungkap Ray
"Rayyan... Yaudah kalau begitu Bi Nana tutup telponnya ya, ingat jangan beritahu Zuy kalau Bibi di rawat, jaga diri kalian baik-baik dan satu lagi bersenang-senang lah kalian.." Bi Nana memberikan pesan pada Ray.
"Iya Bi Nana, terimakasih.."
Lalu Bi Nana pun memutuskan telponnya. Sesaat setelahnya..
"Tsk, kurang ajar! Siapa yang berani mengambil sayangku dariku, tidak akan aku biarkan..!!" gertak Ray sambil menggenggam erat hpnya.
Kemudian Ray bergegas menuju ke lantai atas. Sesampainya ia pun langsung ke kamar di mana Zuy berada, akan tetapi..
"Hahaha.. hahaha.." suara tawa Zuy dari dalam kamarnya.
Mendengar itu, Ray langsung membuka pintu kamarnya Zuy, setelah terbuka ia menghampiri Zuy.
"Ada apa sayangku? nampaknya bahagia sekali, apa ada yang lucu?"
Zuy pun menoleh, "Oh Tuan Muda, ini Zuy lagi lihat Video yang di kirim oleh Airin."
"Oh iya, video apa itu sayangku?" tanya Ray sambil mendudukan dirinya di tepi ranjang samping Zuy.
"Ini Tuan, video Pak Davin dan temannya lagi di kejar-kejar sama pria tulang lunak."
Zuy menunjukan video itu pada Ray, lalu Ray menonton video itu.
"Bwahahaha.. ya ampun ini sangat lucu, Ray berani taruhan kalau Kak Davin merayu mereka duluan, karena ia berfikir kalau mereka adalah perempuan beneran," ujar Ray yang terus tertawa.
"Oh iya, ada-ada saja kelakuan Pak Davin, hihihi.." papar Zuy, ia pun menjauhkan hpnya dari Ray dan kembali menonton video itu sendirian.
Namun saat Zuy sedang asik menonton, tiba-tiba Ray mengambil hpnya Zuy.
"Tuan Muda, kenapa di ambil?" tanya Zuy yang keheranan.
"Sudah cukup nontonnya sayangku, jangan di tonton lagi..!!"
"Ke-kenapa, Zuy kan masih ingin nonton video itu Tuan, lagian itu videonya Pak Davin," pekik Zuy
Sesaat Ray menghela nafasnya, "Haaa, bukan masalah Kak Davin-nya, tapi lihat di video ini, banyak laki-laki yang telanjang dada, Ray gak suka sayangku melihatnya..!!" pekik Ray menunjuk ke layar hp.
Nampak raut wajah Ray yang sedang cemburu, melihat itu Zuy menyunggingkan senyumannya.
"Hmmmm, ternyata si tampan-ku Rayyan cemburu ya? tapi bukan cuma pria telanjang dada yang ada di sini lho Tuan Muda, tuh ada juga wanita berbikini dan anda juga tadi melihatnya tanpa berkedip," celetuk Zuy yang ikutan menunjuk ke layar hp.
"Sayangku ternyata cemburu juga, hahaha.."
"Jangan tertawa..!! siapa juga yang cemburu.." gerutu Zuy.
Ia pun memanyunkan bibirnya dan memalingkan pandangannya. Kemudian Ray menyandarkan kepalanya di bahu Zuy.
"Sayangku jangan marah begitu dong, Ray tidak melihat ke arah wanita-wanita berbikini itu, Ray hanya fokus pada Kak Davin yang di kejar-kejar sama wanita jadi-jadian, dan lagi apa bagusnya badan mereka jika di bandingkan dengan sayangku ini," ujar Ray,
"Hmmmm... Jadi ingat saat Ray tidak sengaja melihat sayangku hanya memakai dalaman saja dan lagi saat sayangku menggunakan tank-top, duh terasa mendapat Jackpot," sambung kata Ray menggoda Zuy
Mendengar perkataan Ray itu, sontak membuat Zuy terkejut dan langsung menutup wajahnya.
"Tuan Muda, jangan mengingatkanku akan hal itu..!!" seru Zuy yang malu karena mengingat akan kejadian itu.
Lalu Ray mengangkat kepalanya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Tapi sebenarnya yang paling beruntung adalah sayangku, karena sayangku berapa kali melihat tubuh-ku yang bagus ini dan lagi sampai bilang roti sobek, lalu tadi pagi juga sayangku hampir melihat seluruh badanku ini," bisik Ray yang menggoda.
Deeeg
Jantung Zuy langsung berdegup kencang, ia pun menurunkan tangannya dari wajahnya dan menoleh ke arah Ray sambil memegang boneka bear kecil yang berada di atas kasur, lalu kemudian..
Bugh..!!
Bugh..!!
"Dasar mesuuuum...! berhenti menggodaku..!!" pekik Zuy sembari memukul tubuh Ray dengan boneka itu.
"Lihatlah wajah sayangku yang memerah, hahaha.."
"Rayyaaan, wajahku bukan merah tapi ungu.." seru Zuy.
Lalu ia menghentikan aksinya dan kembali memalingkan wajahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, raut wajahnya terlihat sangat kesal akibat ulah Ray yang selalu menggodanya terus, akan tetapi berbeda dengan hatinya.
Greeb
Melihat pujaan hatinya kesal, Ray langsung memeluk tubuh Zuy dari belakang.
"Sayangku, jangan marah dong..!!" lirih Ray.
"Hummpt.."
"Maaf ya sayangku.." lirih Ray memasang wajah memelas.
Mendengar Ray meminta maaf, sesaat Zuy menghela nafasnya, kemudian ia menoleh ke arah Ray.
"Iya Zuy maafin," balas Zuy
__ADS_1
"Benarkah?! terimakasih sayangku." ucap Ray dengan sumringah. Dan..
Cup..
Satu kecupan mesra mendarat di pipi Zuy, sontak membuat wajah Zuy kembali merona.
"Entah kenapa aku sudah tidak menolak lagi saat Tuan Muda menciumku," batin Zuy memegangi pipi yang bekas di cium Ray.
"Sayangku, kenapa diam seperti itu?" tanya Ray
Zuy pun tersadar, "Ah, Zuy tidak apa-apa Tuan Muda."
Ray lalu membaringkan badannya dan menempatkan kepalanya dia atas paha Zuy.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan?" tanya Zuy
"Ray tiba-tiba mengantuk sayangku," jawab Ray
Zuy pun tersenyum dan membelai rambut Ray, "Yaudah tidurlah..!!"
Sesaat kemudian Ray memejamkan matanya dan tertidur lelap di pangkuhan Zuy.
"Tuan tampan-ku.." lirih Zuy, ia pun mendaratkan bibirnya ke kening Ray.
Sementara itu di luar kamar, Henri sedang berdiri sembari membawa makanan yang di pesan Ray.
"Oh jadi seperti ini rasanya ya di samping orang yang lagi bermesraan, pantas saja Pak Davin suka baper, aku jadi kasihan sama Pak Davin," lirih Henri.
Lalu Henri meletakkan makanannya di atas meja di dekatnya, kemudian ia melenggang pergi.
Beberapa saat kemudian, setelah Ray tertidur pulas, Zuy menempatkan bantal di sampingnya, kemudian ia mengangkat kepala Ray yang berada di pangkuhannya dan menempatkannya di atas bantal di sampingnya, Zuy pun segera bangkit dari posisinya.
"Aaawww.." rintih Zuy memegangi pa-hanya. Mungkin ia merasa pegal karena memangku Ray.
Zuy lalu keluar dari kamarnya, setelah berada di luar kamarnya dan menuju ke kamar mandi untuk bebersih, setelah selesai dengan aktivitasnya, Zuy pun keluar dari kamar mandi, kemudian ia kembali ke kamarnya.
Sesaat setelah berada di kamarnya, Zuy mengambil sweater, topi dan sarung tangannya, kemudian ia mengenakannya, ia pun kembali keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah, setelah berada di lantai bawah, ia berjalan keluar dari Resort, dan saat berada di luar, Zuy langsung mengedarkan pandangannya.
"Waah benar-benar indah, banyak orang di sini dan juga ...," Zuy membungkukkan badannya dan mengambil segenggam salju yang berada di bawahnya.
"Seperti es serut.." lirih Zuy sambil melihat ke arah tangannya.
Harap maklum ya guys, ini pertama kalinya Zuy berada di Negara bersalju, ya bukan Zuy saja Author pun pasti sama seperti Zuy kalau melihat salju.. hehehe.. (Author nimbrung)
Lalu Zuy membuang salju yang berada di tangannya dan melangkahkan kakinya menelusuri jalan bersalju tersebut.
Sementara itu di dalam kamar, Ray nampak terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka matanya. Saat matanya terbuka, ia pun langsung mengedarkan pandangannya.
"Sayangku..." lirih Ray sambil mengganti posisinya menjadi duduk.
Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke luar kamar, saat berada di luar, ia pun mencari Zuy, dari kamarnya sampai ke kamar mandi tak ada juga. Lalu Ray bergegas turun ke bawah, sesampainya Ray langsung ke kamar Henri.
"Henri.. Henri.." seru Ray sambil mengetuk pintu.
"Apa kau melihat Nyonya?" tanya Ray panik
"Nyonya? bukannya dia ada di kamar bersama anda," ujar Henri.
"Kalau ada juga, aku gak akan bertanya, di cari kemana-mana juga gak ketemu," pekik Ray.
"Apa jangan-jangan Nyonya keluar ya?"
Mendengar pertanyaan Henri, Ray mengerutkan dahinya, "Tsk, Henri kau cepat ke atas ambilkan sweater dan sarung tangan milikku, setelah itu kita cari Nyonya di luar, suruh juga para pengawal untuk mencari Nyonya..!!" titah Ray
Henri langsung mengangguk cepat dan bergegas menuju ke atas sesuai yang di perintahkan oleh Ray.
"Sayangku kamu di mana?" lirih Ray.
Di saat yang lain panik mencari keberadaannya, ternyata orang yang di cari justru tengah asik melihat orang-orang yang tengah berkumpul, ada yang membuat boneka salju, ada juga yang bermain Ski, walaupun hari sudah mulai gelap, Zuy pun sangat terpukau melihatnya.
"Hebat banget orang-orang itu," puji Zuy. Lalu kemudian..
"Excuse Me.." sapa seseorang di belakang Zuy.
Zuy pun langsung menoleh, "Hmmmm?!"
*************
Rumah Ray
Yiou nampak baru pulang ke rumah, setelah berada di pintu ia pun langsung memijit bel pintu.
Ting Tong
Tak lama kemudian, seseorang datang membukakan pintu, setelah pintu di buka Yiou pun masuk ke dalam rumah.
"Malam Bu Ima.."
"Malam juga, Mrs Yiou kenapa baru pulang?" tanya Bu Ima
"Iya Bu, di Boutique lagi rame, jadi Yi pulang malam," jawab Yiou, "Oh iya Bu, apa Davin sudah pulang?" sambungnya.
Bu Ima pun mengangguk, "Iya, Tuan Davin sudah pulang sepuluh menit yang lalu," jawabnya.
"Tsk, awas nanti kau..!!" batin Yiou, "Oh iya Bu Ima, Yi ke atas dulu ya, mau bebersih."
"Iya Mrs Yiou.." balas Bu Ima.
Yiou bergegas ke arah tangga, setelah menaiki tangga ia pun langsung ke kamarnya Davin, sesaat setelah berada di depan kamarnya Davin, ia segera membuka pintunya.
Kamar Davin
Saat berada di dalam kamar, Yiou pun mengedarkan pandangannya, takut kalau aksinya ketahuan Davin, akan tetapi Davin tidak ada di tempat tidurnya, melainkan di kamar mandi.
"Bagus, sekali-kali kamu aku kerjai, Davin," ucap Yiou menyeringai.
__ADS_1
Setelah selesai dengan aksinya, ia pun bergegas pergi menuju ke kamarnya. Sesaat setelah Yiou pergi, Davin keluar dari kamar mandi, kemudian ia mendudukan dirinya di kursi dekat tempat tidurnya.
"Waktunya perawatan wajah," ucap Davin sambil membuka laci di mana sisa maskernya ada di sana.
Saat laci terbuka, ia terkejut karena tidak ada satupun masker tersisa.
"Di mana semua maskerku?" Davin pun mulai panik.
Lalu saat pandangannya mengarah ke lantai, ia melihat benda kelip, Davin langsung mengambilnya dan ternyata itu bros milik Yiou.
"Iish, ini ternyata kerjaannya Mrs Yiou," gumam Davin, ia pun bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Yiou
Sesampainya Davin langsung mengetuk pintunya.
"Mrs Yiou, anda sudah terkepung, silahkan keluar dari kamar anda dan serahkan masker yang anda ambil..!!" titah Davin.
Yiou pun membuka pintu kamarnya, "Apa sih Vin, berisik tau.." pekik Yiou yang pura-pura.
"Kembalikan semua masker ku..!!" pinta Davin sembari menyodorkan tangannya.
"Masker?! masker apa Vin?" tanya Yiou dengan polos, namun di hatinya ingin tertawa.
Mendengar pertanyaan Yiou, Davin pun mendengus kesal, "Mrs Yiou cantik mana masker ku?"
"Gak ada Davino Roveis.." pekik Yiou.
"Yaudah kalau gak mau ngaku, biar nanti aku lapor ke Tuan Ray, bahwa Tantenya sedang naksir sama orang Resto," gertak Davin sembari mengedipkan satu matanya.
"Eeh.. apa sih Vin, siapa yang naksir?! Huh, yaudah deh aku nyerah.." kata Yiou sambil masuk ke dalam.
Tak lama ia kembali membawa masker milik Davin.
"Ini milikmu.." Yiou memberikan masker itu pada Davin.
"Tuh kan pasti anda yang mengambilnya, tapi kenapa?"
"Ya, itu karena kau tidak kembali ke Resto lagi, aku udah nungguin hampir tiga jam lebih," pekik Yiou
"Maaf Mrs Yiou, aku benar-benar lupa.." ucap Davin menangkupkan kedua tangannya.
Yiou pun langsung menghela nafasnya, "Haa, baiklah aku memaafkanmu.."
"Terimakasih Mrs Yiou, aku ke kamar lagi ya," kata Davin melangkahkan kakinya,
Yiou pun kembali mengangguk, lalu saat sudah beberapa jarak dari kamarnya, ia pun menoleh ke arah Yiou.
"Oh iya Mrs Yiou, buruan nikah, nanti keburu tua lho.." ledek Davin.
Yiou pun langsung murka saat mendengar ledekan Davin.
"Davino Roveiiiiiiis.." seru Yiou sambil berjalan ke arah Davin dan mengepalkan tangannya.
"Waduh gawat, Mrs Yiou udah marah, kabuuur...!!" Davin langsung bergegas ke kamarnya dan mengunci pintunya.
"Daviiin, buka pintunya..!!"
"Tidaaak..."
"Tsk, awas kau ya..!" umpat Yiou, ia pun pergi dari kamar Davin dan menuju kamarnya kembali.
Ya seperti itu lah mereka berdua..
**********
Rumah Dimas
Β°Kamar Bunda Artiana
Sementara itu di kamar, terlihat Bunda Artiana sedang duduk di tepi ranjang sembari melihat foto Maria yang masih remaja, air matanya pun terus mengalir membasahi pipinya.
"Maria, ternyata kehidupan putrimu benar-benar menyedihkan, Bunda sangat menyesal tidak menemukannya terlebih dahulu, Bunda menyesal karena mengikuti kemauan Ayahmu, jika saja waktu bisa di putar kembali, tapi itu tidak mungkin Maria. Zuy maafkan kesalahan Nenek dan kakekmu ini, yang dulu tidak pernah mengakui keberadaanmu, Nenek benar-benar menyesal.." tangis Bunda Artiana
Lalu seseorang masuk ke kamar Bunda Artiana.
"Bunda kenapa? Dimas dengar suara Bunda nangis, apa yang terjadi Bunda?" tanya Dimas menghampiri Bunda Artiana.
"Bu-Bunda tidak apa-apa Dimas," ujar Bunda Artiana sambil menyeka air matanya.
Dimas lalu berlutut di hadapan Bunda Artiana.
"Bunda, jangan berbohong pada Dimas, Bunda pasti nangis karena mendengar perkataan Bibinya Zuy itu kan?"
Bunda Artiana langsung terdiam, lalu Dimas menyandarkan kepalanya di pangkuhan Bunda Artiana.
"Bunda, bukan hanya Bunda yang sedih, Dimas pun juga sedih, sebagai Pamannya Dimas tidak bisa berbuat apa-apa," kata Dimas.
"Dimas..."
Dimas pun mengangkat kepalanya, "Iya Bunda.."
"Kapan hasil tes DNA itu keluar?" tanya Bunda Artiana
"Dimas belum tahu Bunda, kata teman Dimas memerlukan waktu lama, Bun.." jelas Dimas.
Mendengar penjelasan Dimas, Bunda Artiana kembali menundukkan kepalanya, air matanya pun kembali membasahi pipinya.
"Semoga secepatnya ya Dimas.."
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ
__ADS_1