
<<<<<
"Zoya, maafin Mamah sayang, Mamah benar-benar minta maaf sudah meninggalkan mu, Mamah benar-benar menyesal atas perbuatan Mamah dan kamu berhak membenci Mamah, Zoya.."
Lirih Maria sembari menangis sesenggukan, ia tidak mengira akan mendapatkan mimpi seperti itu. Maria lalu menggeserkan badannya dan menurunkan kakinya hingga menyentuh lantai, setelah itu ia pun duduk di tepi ranjang. Kemudian Maria membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Lalu ia mengambil sebuah buku catatan miliknya dan menutup kembali laci nakas tersebut.
Maria pun membuka bagian tengah dari buku catatannya, kemudian ia mengambil sebuah foto yang ada di dalam bukunya. Maria lalu memandangi foto tersebut, foto itu ternyata foto dirinya sedang menggendong bayi. Sesaat kemudian Maria membalikkan foto tersebut dan di balik foto tersebut ada sebuah tulisan. Maria pun langsung tercengang dan tangisnya kembali pecah.
"Lagi-lagi aku harus melewatkan hari kelahiranmu Zoya, tak terasa besok usia mu sudah menginjak 29 tahun, dan selama 29 tahun kamu tidak pernah merasakan kasih sayang dariku, maafin Mamah Zoya, selama 29 tahun Mamah telah meninggalkan mu. Mamah benar-benar minta maaf Zoya, hiks..."
Maria pun langsung mencium dan memeluk foto tersebut.
************
STOCKHOLM, SWEDIA
°Gamla Stan
Sementara itu, Zuy dan Ray yang sedang menikmati waktu jalan-jalannya di Gamla Stan, tiba-tiba..
Deeeg
Sesuatu menyerang di hati Zuy, membuat Zuy menghentikan langkah kakinya, ia pun berdiam diri sembari memegangi dadanya.
"Ada apa ini? kenapa dadaku tiba-tiba sesak begini, apa yang terjadi sebenarnya?" batin Zuy tak terasa air matanya lolos dan membasahi pipinya.
Ray yang sedang berjalan di depan Zuy menyadari bahwa pujaan hatinya tidak ada di sampingnya, ia langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badannya. Ray terkejut melihat pujaan hatinya tertunduk diam.
"Sayangku.." lirih Ray,
Ia pun segera menghampiri Zuy, sesampainya, Ray langsung memegang pundak Zuy.
"Sayangku, ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Ray
Lalu Zuy mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ray, "Tuan Muda.."
Ray pun terkejut melihat Zuy meneteskan air matanya, lalu ia memegang kedua pipi Zuy.
"Sayangku, kenapa kamu menangis?" tanya Ray sembari mengusap air mata Zuy.
"Hah..!! Si-siapa yang menangis Tuan Muda, Zuy gak nangis kok, hanya saja mata Zuy kelilipan," jawab Zuy yang berbohong.
Mendengar jawaban dari Zuy, Ray langsung mengerutkan dahinya seakan ia menyadari bahwa pujaan hatinya sedang berbohong, sesaat kemudian Ray memeluk tubuh Zuy.
"Sayangku, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ray
"Ti-tidak ada yang mengganggu pikiranku, Tuan Muda," jawab Zuy.
"Sayangku.."
Zuy lalu melepaskan pelukan Ray, kemudian ia memegang pipi Ray.
"Apa si tampan-ku sedang berfikiran, kalau Zuy ini sedang berbohong?" tanya Zuy
"Ti-tidak sayangku, hanya saja Ray khawatir pada sayangku," jawab Ray
Zuy pun tertegun mendengar jawaban Ray, "Terimakasih sudah mengkhawatirkan Zuy, Zuy sangat bahagia Tuan Muda," ucapnya.
"Sama-sama sayangku.." balas Ray sembari mendekatkan wajahnya, saat hendak mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy, tiba-tiba Zuy menahannya.
"Euuum Tuan Muda, jangan sembarangan menciumku di tempat seperti ini, lihatlah banyak orang," tutur Zuy.
"Lalu sayangku maunya di mana? di hotel?" tanya Ray sembari menyunggingkan senyuman jahilnya.
Blush..
Wajah Zuy seketika memerah, kemudian ia memutar badannya dan melangkahkan kakinya.
"Sayangku, kamu mau kemana?" tanya Ray
"Zuy ingin kue Tuan Muda, sepertinya di sana ada toko kue," jawab Zuy sembari terus berjalan cepat. Padahal ia hanya mengalihkan saja supaya Ray tidak melihat wajahnya yang memerah akibat godaan Ray.
"Sayangku, jangan cepat-cepat jalannya, takutnya nanti sayangku terpleset, soalnya jalannya licin akibat salju sayang," tutur Ray mengikuti Zuy dari belakang.
"Tenang saja Tuan Muda, Zuy akan hati-hati kok, dan lagi Zuy ingin ...,"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kaki Zuy tergelincir membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya dan akan terjatuh, lalu...
"Sayangku...!!" seru Ray
Dengan sigapnya Ray bergegas menuju ke arah Zuy yang akan terjatuh, kemudian ia dengan sengaja menjatuhkan dirinya di atas tanah bersalju tersebut, supaya Zuy terjatuh tepat di atas tubuhnya dan tidak terbentur ke tanah.
Bruuugh...
Benar saja, Zuy pun terjatuh tepat di atas tubuhnya Ray.
"Huuft hampir saja," lirih Ray.
Zuy lalu menoleh ke arah Ray, "Tu-Tuan Muda.."
Zuy pun terkejut melihat Ray berada di bawahnya, sontak ia langsung bangkit dari posisinya menjadi duduk, begitu pula dengan Ray.
"Tuan Muda maaf.." ucap Zuy menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayangku," balas Ray,
Ray segera berdiri dari posisinya, kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Ayo berdiri sayang..!!" titah Ray.
Kemudian Zuy membalas uluran tangan Ray, lalu Ray menarik tangan Zuy, sehingga posisi Zuy yang tadinya duduk menjadi berdiri sejajar dengan Ray. Setelah itu Ray langsung membersihkan pakaian Zuy dari salju yang menempel di pakaian, dengan cara menepuk-nepuk pakaian Zuy yang terkena salju tersebut.
"Terimakasih banyak Tuan Muda, tapi apa Tuan Muda baik-baik saja?" tanya Zuy
"Ray baik-baik saja sayangku," jawab Ray
"Maaf.. Zuy tidak mendengarkan perkataan anda tadi, Tuan Muda," ucap Zuy
Ray pun tersenyum sambil memencet hidung Zuy, "Iya sayangku, asal lain kali sayangku harus mendengar perkataanku," pintanya.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, lalu Ray melepaskan tangannya dari hidung Zuy, kemudian ia menggandeng tangan Zuy.
"Ayo sayangku, kita beli kue untuk sayangku, sekalian kita belanja di sini...!!" ajak Ray.
"Baiklah si tampan-ku Rayyan,"
Mendengar Zuy menyebutnya 'si tampan-ku Rayyan' Ray langsung menatap lekat wajah Zuy.
"Tadi sayangku bilang apa? si tampan-ku?"
"Ahahaha, maaf Tuan Muda, tadi lidah Zuy kepleset, jadi salah nyebut," ujar Zuy yang gugup.
"Oh, tapi Ray suka kok, sayangku memanggilku dengan sebutan Rayyan atau si tampan-ku, dari pada harus memanggilku dengan sebutan Tuan Muda," papar Ray
Lalu kemudian Zuy memegang pipi Ray kembali, dan berkata, "Perlahan ya Tuan Muda, Zuy pasti akan mengganti kata panggilan dari Tuan Muda dengan kata panggilan lainnya, hanya saja sekarang Zuy masih nyaman memanggil anda Tuan Muda."
Ray tersenyum sambil memegang tangan Zuy yang berada di pipinya, kemudian ia mencium telapak tangan Zuy dengan mesra. Sesaat setelahnya...
"Baiklah sayangku, Ray akan menunggunya.." ujar Ray.
"Terimakasih Tuan Muda," ucap Zuy, "Yaudah ayo kita jalan lagi Tuan Muda..!!" ajaknya.
"Ayo sayangku, tapi jangan sampai lepas dari genggamanku ya..!!"
"Oke Tuan Muda,"
Zuy pun langsung merangkul tangan Ray, lalu mereka bergegas menuju ke toko Roti, Sesaat kemudian..
Mereka pun sampai di toko bakery bernama Sundbergs Konditori. Toko bakery tertua di Stockholm.
Lalu mereka pun masuk ke dalam toko bakery tersebut, setelah sampai di dalam toko bakery, banyak Roti dan Cake yang berada di toko tersebut membuat mata Zuy langsung berbinar-binar.
"Silahkan pilih yang mana sayangku suka.." titah Ray
Zuy kemudian memilih beberapa roti dan Cake, sesaat setelah selesai memilih, seorang pelayan roti langsung membungkus semua roti yang di pilih oleh Zuy, lalu Ray langsung ke tempat kasir untuk membayarnya.
Tak lama kemudian, Ray dan Zuy langsung keluar dari toko bakery tersebut. Kemudian mereka berdua melanjutkan jalan-jalannya di Gamla Stan.
*****************
Perusahaan CV
Airin nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya, lalu kemudian seseorang menghampirinya.
"Airin..!!" seseorang memanggilnya
Mendengar namanya di panggil, Airin pun langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu,
"Hmmm, Bu Rere.." lirih Airin, ternyata yang memanggilnya adalah Rere,
"Ada apa Bu Rere?" sambung tanya Airin.
Lalu Rere memberikan berkas pada Airin, "Tolong Foto Copy ini ya Rin, habis itu antar ke meja saya, soalnya saya mau ke ruangan Pak Davin dulu," titah Rere
"Baiklah Bu Rere, akan saya kerjakan.." ujar Airin
"Terimakasih Airin," ucap Rere, "Oh iya Rin.."
"Hmmm, iya Bu Rere."
"Ngomong-ngomong, Zuy sebenarnya kemana Rin, apa benar dia ke Kota M?" tanya Rere penasaran.
Sesaat Airin langsung menghela nafasnya, "Huh, iya Bu Rere, Zuy lagi ke Kota M, katanya ada urusan di sana, sekalian berkunjung ke makam Papahnya," jawab Airin yang berbohong, "Memang ada apa Bu Rere?"
"Ah tidak ada apa-apa Rin, cuma penasaran saja, habisnya dia gak masuk bersamaan dengan Tuan Ray, jadi aku menduga kalau Zuy sedang bersama Tuan Ray ke Swedia," ujar Rere
"Itu cuma dugaan Bu Rere saja.."
"Ya kamu benar Rin, yaudah kalau gitu aku ke ruangan Pak Davin dulu ya," Rere pun melenggang pergi meninggalkan Airin. Sesaat setelah Rere pergi..
"Maaf Bu Rere, Airin terpaksa berbohong, soalnya anda orangnya suka bocor alus, berbeda dengan Bu Friska," lirih Airin, kemudian ia pun pergi..
Ruang kerja Davin
Davin nampak tengah sibuk mengecek semua data yang masuk melalui laptopnya, serta berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya.
"Masih banyak yang harus aku cek, setelah itu baru di kirim ke Tuan Ray," gumam Davin,
__ADS_1
Sesaat kemudian Davin menghentikan aktivitasnya, lalu ia menyandarkan kepalanya di kursinya sambil menghela nafasnya.
"Huuu, Tuan Ray lagi apa ya di sana, aah semoga pas pulang nanti Tuan Ray bawa oleh-oleh yang aku inginkan, yaitu masker sama keponakan eeh salah maksudku sama oleh-oleh lainnya," lirih Davin sembari memutar-mutar kursinya. Lalu kemudian..
Tok Tok Tok
"Masuk...!!"
Lalu seseorang membuka pintunya dan ternyata dia Rere.
"Permisi Pak Davin," ucap Rere sambil berjalan masuk dan menghampiri Davin.
"Oh Bu Rere, ada apa?" tanya Davin
"Maaf Pak Davin, ini berkas-berkas kinerja para karyawan bulan ini," jawab Rere
"Oh, letakkan saja di atas meja Bu Rere..!!" titah Davin
Kemudian Rere meletakkan berkas tersebut di atas meja kerja Davin.
"Oh iya.. Pak Davin.."
"Hmmm, iya Bu Rere.."
"Dengar-dengar Bu Friska sudah melahirkan Pak," jelas Rere
Davin pun terkejut mendengar penjelasan Rere, "Oh iya benarkah itu?" tanya Davin
"Iya Pak Davin, tadi di grup Chat rame Pak," jawab Rere
"Saya belum buka Chat hari ini, jadi saya baru tahu, padahal beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya di minimarket, dia bilang tunggu waktunya saja, ternyata secepat ini Bu Friska lahirannya," ujar Davin, "Hmmmm.. terimakasih banyak infonya Bu Rere.."
"Iya sama-sama Pak Davin, kalau gitu saya kembali ke ruang saya Pak Davin, Permisi..!" pamit Rere, ia pun bergegas keluar dari ruangan Davin.
Davin lalu mengambil hpnya dari saku jasnya, kemudian ia membuka kunci pintar di hpnya itu, setelah terbuka ia pun menekan Icon Chat, benar saja banyak pesan masuk di hpnya.
"Hah, ternyata Bu Friska lahiran di rumah sakit ini, oke kalau begitu nanti pulang kerja aku langsung menjenguk Bu Friska, tapi sebelum itu aku harus cari kadonya dulu, tapi aku bingung mau ngasih kado apa, hmmm apa aku ajak Airin aja ya buat nemenin beli kado," lirih Davin, lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya kembali.
°°°°°°°°°°°°
Tak terasa waktu cepat berlalu, waktu pulang kerja pun sudah tiba, sebagian karyawan pun satu-persatu meninggalkan Perusahaan, yang masih tersisa hanya beberapa orang saja.
Pantry
Airin pun nampak tengah sibuk mencuci semua peralatan seperti gelas dan yang lainnya, lalu kemudian..
"Airin.." panggil Brian
Airin pun langsung menoleh, "Apa Brian jelek.."
"Mau pulang bareng gak?" tanya Brian.
"Ngajak pulang bareng? memangnya pacarmu kemana Brian jelek?" tanya Airin.
"Pacar yang mana, aku belum punya pacar dan lagi aku ...,"
Tiba-tiba Brian terdiam, lalu kemudian seseorang datang menghampiri mereka dan ternyata itu Davin.
"Airin..!!" panggilnya,
Airin dan Brian menoleh ke arah Davin, "Pak Davin..!!"
"Ah maaf aku mengganggu ya?" tanya Davin yang terkejut melihat Airin dengan Brian.
"Nggak mengganggu Pak, memangnya ada apa Pak?" tanya Airin
"Begini Rin, bisa tidak kau temani aku membeli kado untuk Bu Friska, sekalian kita jenguk Bu Friska bareng.." ajak Davin
Mendengar ajakan Davin, wajah Airin pun langsung sumringah.
"Waah boleh tuh Pak, kebetulan sekali Pak Davin mengajakku, yaudah kalau begitu Airin akan bantuin Pak Davin memilih kadonya, tapi Airin selesaikan tugas Airin dulu ya Pak," kata Airin.
"Baiklah aku tunggu.."
Sedangkan Brian terlihat sangat kesal, karena harapan ingin pulang bareng Airin pupus, lalu ia melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian setelah selesai dengan pekerjaannya, Airin pun langsung menghampiri Davin yang tengah duduk di Pantry sembari memainkan hpnya.
"Pak Davin, aku sudah siap, ayo kita pergi..!!" ajak Airin.
Lalu Davin beranjak dari tempat duduknya, "Okey, ayo kita berangkat, tapi kamu ikut ke mobilku ya..!!" pinta Davin
"Lalu bagaimana dengan motorku?" tanya Airin yang khawatir dengan motornya.
"Tenang, motor aman di sini, kalau hilang ya nanti aku ganti.. Hahaha.." ucap Davin dengan sombongnya.
"Huu.. kaya yang iya aja.." celetuk Airin, sedangkan Davin hanya terkekeh.
Lalu mereka pun bergegas pergi, Brian yang sedari tadi melihat Airin dan Davin, hanya bisa menahan rasa sakit hatinya sambil mengepalkan tangannya.
"Rin, sepertinya kamu sangat bahagia jika bersama dengan Pak Davin ketimbang denganku, apa karena Pak Davin orang kaya banyak uangnya sedangkan aku hanya seorang OB saja.."
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌