
<<<<<
"Sayangku, terimakasih karena sudah menunggu dan mempertahankanku. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, aku akan selalu melindungimu dan membahagiakanmu selamanya."
Ucap Ray yang bersungguh-sungguh, ia pun mengusap air matanya dan tetap berada di posisinya itu.
Lalu kemudian....
"Euuum Baby, ada yang ingin aku tanyakan padamu," lontar Yiou.
"Apa itu Mrs Yiou?"
"Soal pernikahan kalian? Kenapa kalian masih enggan membicarakannya?" lontar pertanyaan Yiou.
Ya sebenarnya Yiou hanya ingin tahu dan juga ingin menguji Zuy.
Mendengar pertanyaan Yiou, Zuy menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan-lahan.
"Sebenarnya bukan kami, tapi aku yang enggan membicarakannya," jawab Zuy.
"Hah! Tapi kenapa Baby? Padahal perutmu sudah membesar begitu, apa kamu gak khawatir jika ada orang yang menjelek-jelekkan mu?" Yiou kembali mengajukan pertanyaan.
"Itu karena aku masih takut dan truma dengan apa yang di alami orang tuaku akan terjadi padaku juga. Aku gak mau jika nasib anak-anak akan sama sepertiku, dan lagi soal janji Zuy pada Papah," ungkap Zuy.
Di episode sebelumnya Zuy juga pernah bercerita pada Ray, tentang ia yang enggan membicarakan tentang pernikahan.
Seketika raut wajah Yiou dan Airin berubah sendu saat mendengar ungkapan Zuy, begitu juga dengan Ray.
"Jadi seperti itu ya, bukan karena dia gak mau menikah tapi karena dia belum siap dan masih mempunyai trauma dengan perpisahan kedua orang tuanya bahkan dia sampai tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka. Hmmm, pantas saja Rayyan menikahinya secara diam-diam, aku baru mengerti sekarang. Dan lagi aku jadi merasa bersalah karena waktu itu sudah berbuat jahil dengan memberikan obat pada mereka supaya benar-benar honeymoon," batin Yiou.
Lalu....
"Tapi tidak untuk sekarang...." sambung kata Zuy.
Sontak membuat Yiou dan Airin terperangah.
"Hah! Jadi maksudmu?" tanya Airin dan Yiou serempak.
Zuy pun menyunggingkan senyumannya.
"Ya kalau kemaren-kemaren Zuy enggan membicarakan tentang pernikahan karena rasa takut dan trauma. Tapi sekarang Zuy akan membicarakannya pada Rayyan," ujar Zuy.
"Baby, apa kamu serius dengan perkataan mu itu?" tanya Yiou.
Zuy mengangguk. "Iya, aku sangat serius, mungkin perlahan aku akan mencoba menghilangkan rasa trauma dan rasa takut yang aku alami selama ini."
"Syukurlah kalau kamu benar-benar serius Baby, Ray pasti senang mendengarnya dan semoga rasa trauma yang kamu alami selama ini cepat hilang," ucap Yiou dengan senangnya. "Lalu kapan kamu akan membicarakannya?" sambung tanyanya.
"Zuy akan membicarakannya setelah si kembar lahir," ujar Zuy.
"Kenapa nunggu mereka lahir?" tanya Airin.
"Ya supaya si kembar bisa menyaksikan Papah, Mamahnya menjadi raja dan ratu sehari. Selain itu Zuy juga bisa mengenakan gaun pernikahan hasil karya sendiri, sesuai dengan impianku itu, tanpa harus terganjal oleh perut besar ku," ungkap Zuy.
"Oh jadi begitu ya. Ya aku mengerti sekarang," lirih Yiou.
Ray yang berada tak jauh dari mereka pun tersenyum bahagia mendengar perkataan pujaan hatinya itu.
Lalu tiba-tiba Zuy menangkupkan tangannya di depan dadanya.
"Baby apa yang kamu lakukan?" tanya Yiou terkejut.
"Zuy!!" timpal Airin.
"Mrs Yiou, Airin. Zuy mohon pada kalian, tolong rahasiakan ini dari Ray! Jangan sampai Ray mengetahuinya," pinta Zuy
"Apa! Kenapa harus di rahasiakan dari Ray?"
Yiou nampak kembali terkejut dengan permintaan Zuy, begitu juga dengan Airin.
"Karena aku ingin memberikan kejutan untuknya dan aku juga ingin menguji kesetiaan dan kesungguhannya lagi. Bukan Zuy tidak percaya dengan Ray, akan tetapi hati seseorang bisa berubah tidak selamanya sama. Tentunya kalian juga tau bahwa di luaran sana masih banyak wanita-wanita yang terobsesi dengan Ray. Ya Zuy khawatir jika Ray akan goyah dan berubah perasaannya, jadi Zuy ...." jelas Zuy.
"Oh seperti itu, ya sekarang aku paham, Baby. Oke aku akan merahasiakannya dari Ray," ucap Yiou yang berjanji pada Zuy.
"Iya Zuy. Aku juga tidak akan bilang ke Pak Davin tentang ini," sambung Airin.
Zuy pun tertegun mendengar janji Airin dan Yiou.
"Mrs Yiou, Airin. Terimakasih banyak," ucap Zuy tersedu-sedu.
Ia kembali menitihkan air matanya.
Seketika Airin memeluk kembali Zuy. "Iya sama-sama Zuy," balasnya.
Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa Ray sedang berada di sana dan bahkan ia sudah mendengarnya sendiri.
"Sayangku, kamu tenang saja. Aku akan selalu setia padamu dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menghianati mu. Tapi kalau kamu ingin memberikan kejutan untuk ku, maka aku akan mengikutinya dan aku akan pura-pura tidak mengetahui apa yang telah kamu katakan pada mereka," lirih Ray.
Kemudian Ray mengeluarkan hpnya dari saku celananya, lalu ia segera menghubungi seseorang.
"Tolong kamu pesankan buket cokelat dan boneka beruang untukku! Lalu antar ke Villa milikku, sekarang!" titah Ray.
"Baik Tuan Ray," suara seseorang dari seberang hpnya.
Ray lalu menutup teleponnya, setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju ke Villa-nya lewat pintu rahasia yang terhubung ke arah Villa miliknya.
*****************
Rumah Dimas
Dimas nampak tengah duduk di teras menikmati secangkir kopi sembari mengawasi anaknya yang tengah bermain di halaman rumahnya.
"Nay, jangan lari-lari!" tutur Dimas pada anaknya.
"Iya Ayah," balas Nayla.
Lalu kemudian Bunda Artiana menghampiri Dimas.
"Dimas...." tegur Bunda Artiana.
Dimas pun menoleh. "Iya Bunda."
"Apa Maria dan Nak Archo sudah sampai?" tanya Bunda Artiana sambil mendudukkan dirinya di kursi lain.
"Belum Bunda, paling juga nanti malam sampainya," jawab Dimas.
"Berarti seharian mereka di pesawat?"
Dimas mengangguk. "Iya Bunda, perjalanan dari Amerika ke Indonesia kurang lebih 24 jam."
Bunda Artiana memanggut-manggut.
"Dimas, kenapa cucu Bunda gak main lagi ya? Padahal Bunda kangen sama cucu Bunda. Bunda ingin sekali mengelus perutnya itu," kata Bunda Artiana
"Mungkin dia sibuk Bunda, apalagi sekarang weekend, suaminya pasti ada di rumah," balas Dimas.
"Oh begitu ya Dimas, Bunda berharap kalau Maria sudah datang, Zuy juga main kesini, jadi Maria juga tahu keadaan anaknya itu dan juga sebaliknya," ujar Bunda Artiana.
Dimas pun menganggukkan kepalanya.
"Ya semoga saja," singkat Dimas.
Bunda Artiana tersenyum, lalu Bunda bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Nayla.
"Dimas juga berharap seperti itu Bunda, tapi ada yang Dimas takutkan. Jika mereka bertemu, apa mereka akan saling sapa atau malah sebaliknya," batin Dimas.
__ADS_1
***********************
Villa Z&R
Beberapa saat setelah berada di Villa Yiou, Zuy pun kembali ke Villa-nya melalui pintu depan pastinya. Saat melangkah masuk, ia berpapasan dengan Davin yang hendak keluar.
"Dari mana kamu, Zuy?" tanya Davin.
"Zuy dari sebelah Pak."
"Airin?!"
"Airin masih di sana nemenin Mrs Yiou. Oh iya, apa Ray udah bangun?" seloroh Zuy.
Davin lalu melihat ke atas. "Sepertinya belum."
"Oh, yaudah kalau begitu Zuy ke kamar dulu, mau bangunin Ray," ucap Zuy.
"Iya, aku juga mau ke sebelah."
Davin melangkahkan kakinya keluar menuju ke Villa Yiou. Sedangkan Zuy, ia bergegas ke kamarnya.
Kamar
Setelah berada di depan kamarnya, Zuy lalu membuka pintunya dan berjalan masuk.
"Ray, apa kamu sudah ba ...."
Zuy menghentikan langkahnya karena ia melihat Ray yang tengah duduk menyandar di atas ranjangnya dengan bertelanjang dada. Lalu kemudian, Ray menoleh ke arah Zuy yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Sayangku, kenapa kamu hanya berdiam diri di sana? Ayo sini duduk di sampingku!" kata Ray sambil menepuk-nepuk kasurnya.
Sesaat Zuy tersadar dan melangkah menghampiri Ray.
"Sejak kapan kamu bangun, Ray?" tanya Zuy sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu, nih baru beres mandi, sayangku." jawab Ray. "Terus kamu dari mana?" imbuhnya.
"Aku dari Villa Mrs Yiou, soalnya tadi Mrs Yiou menyuruhku kesana," ujar Zuy.
"Oh iya, dia menyuruh sayangku kesana? Memang ada apa?" tanya Ray.
Zuy menggeleng. "Tidak ada apa-apa Ray." jawabnya.
Lalu tiba-tiba Ray memeluk Zuy dan menangkupkan wajahnya di dada Zuy, seketika terdengar suara isak tangis dari mulut Ray, sehingga membuat Zuy terkejut.
"Ray, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Zuy.
"Aku, aku hanya mimpi buruk," jawab Ray.
"Mimpi buruk! Memangnya kamu mimpi apa sampai nangis seperti ini?" Zuy pun mulai penasaran.
"Aku bermimpi sayangku di sakiti seseorang hanya demi mempertahankan ku, dan saat aku datang akan menolong sayangku, tiba-tiba ia mendorong sayangku, sampai sayangku terhempas dan ...." Ray melanjutkan ucapannya dengan tangisan.
Padahal Ray hanya berbohong saja, akan tetapi ia benar-benar sedih saat mendengar cerita Zuy tadi.
"Itu hanya mimpi Ray, udah jangan nangis lagi! Malu tahu, masa seorang Rayyan G Michael bisa menangis seperti ini hanya karena mimpi," tutur Zuy sambil menggodanya.
"Sayangku...."
"Si kembar aja sampai nendang-nendang, mungkin mereka mau meledek Papahnya," seloroh Zuy.
Seketika Ray melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Apa! Mereka meledekku?"
Zuy terkekeh. Lalu Ray segera menempelkan telinganya di perut buncit Zuy karena ingin mendengar tendangan si kembar.
"Kamu benar sayangku, mereka sedang nendang-nendang," Ray beralih mengarahkan pandangannya ke perut Zuy.
"Hei anak-anak Daddy, kalian meledek Daddy ya? Gara-gara Daddy menangis. Huuu.... Masih di dalam perut udah berani meledek Daddy. Nih Daddy kasih ciuman sayang untuk kalian berdua," ucap Ray, ia pun mencium gemas perut Zuy.
"Aku mencintaimu, sayangku."
Zuy memegang pipi Ray. "Aku juga mencintaimu, suamiku."
"Hah! Barusan sayangku bilang apa?" Ray terkejut mendengar Zuy memanggilnya dengan sebutan suamiku.
Zuy lalu memalingkan wajahnya. "Ah, Zuy gak bilang apa-apa, lidah Zuy hanya terpleset saja." elaknya.
"Tapi aku suka lho kalau lidahmu terpleset, soalnya ucapannya selalu romantis," goda Ray.
"Apa sih! Udah ah jangan godain aku! Oh iya, kamu belum nyarap kan?"
Ray menggeleng. "Belum sayangku."
"Mau aku ambilkan? Atau ...."
"Kita ke bawah aja, kamu temani aku ya!" pinta Ray.
"Oke, kamu pakai bajunya! Oh iya, nanti setelah selesai nemenin kamu makan, Zuy keluar bentar ya!" kata Zuy.
"Memangnya mau kemana sayangku?"
"Zuy mau cari penjual cilok, soalnya Zuy lagi pengin makan cilok," jawab Zuy.
Ray memanggut. "Jadi sayangku pengin makan cilok, yaudah nanti aku suruh orang untuk membelinya."
"Tapi Ray ...."
"Sayangku...."
Sesaat Zuy menghela nafasnya. "Haaa.... Baiklah, terimakasih Ray."
"Sama-sama sayangku," balas Ray sembari mengenakan bajunya.
Setelah itu, mereka beranjak dari posisinya dan melangkah keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian....
Setelah Ray selesai menghabiskan makanannya, Ray dan Zuy memilih bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Sayangku, nanti siap-siap ya! Soalnya sore ini kita akan pulang ke rumah," ujar Ray
"Pulang ke rumah! Euuum baiklah Ray," balas Zuy dengan raut wajahnya yang sendu.
Lalu Ray merangkul pundak Zuy. "Jangan sedih sayangku, Weekend nanti kita bisa kesini lagi."
Zuy mengangguk sambil menyunggingkan senyuman manisnya itu. Lalu....
"Permisi Tuan...." seru seseorang dari arah pintu depan.
"Ray, sepertinya ada yang datang," lirih Zuy
"Mungkin pesanan kamu datang sayangku, yaudah kalau begitu aku kedepan dulu ya sayangku, untuk nemuin dia," ucap Ray di balas anggukan oleh Zuy.
Ray segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang depan. Sesaat kemudian....
"Sayangku, kemarilah sebentar!" seru Ray.
"Iya Ray...." sahut Zuy. "Hmmm.... Ada apa ya?" imbuhnya.
Zuy beranjak dari posisinya dan menghentakkan kakinya menuju di mana Ray berada. Setibanya....
"Ada apa Ray?" tanya Zuy.
__ADS_1
Kemudian Ray membalikkan badannya menghadap Zuy.
"Ini untukmu, sayangku." kata Ray sambil memberikan sesuatu yang tak lain adalah sebuah buket berisi cokelat dan boneka beruang kecil.
Zuy pun terpukau dengan pemberian dari Ray dan langsung menerimanya.
"Kamu selalu saja memberikan kejutan yang tak terduga untukku dan aku tentu saja sangat menyukainya. Terimakasih banyak Ray," ucap Zuy memeluk buket pemberian dari Ray.
"Oh iya, ada satu lagi...." ujar Ray.
"Satu lagi? Apa itu Ray?" tanya Zuy penasaran.
Lalu Ray membawa Zuy keluar. setelah itu....
"Nah aku bawakan pesanan yang kamu mau sayangku," jelas Ray sambil menunjuk.
Zuy pun melihat ke arah yang di tunjuk oleh Ray, seketika Zuy tercengang melihat beberapa gerobak cilok beserta penjualnya yang sudah berjejer di samping Villanya.
"Ray...."
"Iya sayangku, apa kamu menyukainya?" tanya Ray.
Zuy mengangguk. "Iya aku menyukainya, sampai-sampai aku gemas dan ingin menjepit rambutmu itu," pekiknya.
"Lho kenapa sayangku? Bukannya tadi kamu ingin cilok. Ya aku bawain ciloknya," seloroh Ray.
"Ya aku memang menginginkan cilok, tapi bukan berarti sampai beberapa gerobak gini! Ck, dasar.... Kamu kira aku panda gemuk apa? Yang harus makan banyak seperti itu," gerutu Zuy.
Seketika Ray menyunggingkan senyuman jahilnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Ya kamu memang panda gemuk, sayangku." bisik Ray menggoda Zuy, ia pun segera menjauhkan dirinya beberapa jarak dari Zuy.
"Apa kamu bilang! Rayyan sini kamu!" seru Zuy dengan nada kesal, ia pun mengejar Ray yang sudah berada di tepi pantai.
"Hahaha.... Sayangku, panda-ku, tangkaplah aku! Bleeh," ledek Ray sambil menjulurkan lidahnya
Zuy pun semakin kesal. "Rayyan...."
Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ray. Di sisi lain, karena mendengar suara keras dari Zuy dan Ray. Yiou, Airin dan Davin pun keluar dari dalam Villanya, mereka pun melihat Ray dan Zuy tengah berada di tepi pantai berkejaran.
Eiitz tapi mereka gak berlarian ya!
"Ck, kalian berdua selalu saja heboh kalau lagi bermesraan, terutama pas lagi melakukan aktivitas Misteri," celetuk Davin.
"Ya namanya juga manusia yang lagi di landa cinta. Apalagi satunya, bucinnya minta ampun," sambung Yiou.
Airin yang mendengarnya pun terkekeh, lalu tanpa sengaja pandangan Airin mengarah ke arah gerobak cilok yang tengah berjejer.
"Lho, kenapa banyak gerobak cilok di sini?" tanya Airin.
Yiou dan Davin langsung mengalihkan pandangannya ke arah gerobak cilok tersebut.
"Haaa... Itu pasti Baby lagi ingin cilok terus si Tuan dingin malah bawanya sekalian gerobak-gerobaknya," celetuk Yiou.
Mereka pun serempak menggelengkan kepalanya.
Sementara itu para penjual cilok yang berada di sana.
"Sampai kapan kita di sini? Rasanya jiwa jombloku berteriak melihat Tuan dan Nyonya itu."
"Entahlah.... Tapi yang penting kita udah di bayar ini, kamu sabar aja ya, hahaha...."
...----------------...
Sore hari....
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Zuy dan Ray nampak tengah bersiap-siap pulang ke rumah. Sedangkan Yiou, Airin dan Davin sudah pulang terlebih dahulu. Setelah selesai, mereka keluar dari Villa tersebut dan berjalan menuju ke parkiran. Sesampainya, Ray segera membuka pintu mobilnya untuk Zuy.
"Silahkan Tuan putri!"
"Terimakasih...." ucap Zuy sambil masuk ke dalam mobil.
Ray pun menyusul masuk dan menyalakan mobilnya, sesaat kemudian Ray melajukan mobilnya.
*********************
Rumah Ray
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, mereka akhirnya sampai di rumah. Mereka pun segera turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah, di sana ternyata ada Davin yang tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Kami pulang!" seru Ray dan Zuy.
"Selamat datang...." sahut Davin.
"Ray, Pak Davin. Aku ke kamar dulu ya! mau naroh ransel. Oh iya kamu mau minum apa Ray? Biar sekalian," ucap Zuy.
"Buatkan kopi aja ya, sayangku!" balas Ray.
"Baiklah...."
Zuy lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.
Drama masih berlanjut.....
*****************
Airport
—Pukul 10.15pm
Sementara itu, Dimas sudah berada di Airport untuk menjemput Maria dan Archo. Sesekali Dimas mengedarkan pandangannya, walaupun malam hari, masih banyak orang yang berdatangan.
Lalu tiba-tiba....
"Dokter Dimas...." seru seseorang.
Mendengar namanya di panggil, Dimas pun langsung menoleh ke arah suara tersebut yang tak lain adalah....
"Tuan Archo!"
Dimas segera berjalan menghampiri mereka. Setelah saling berhadapan, Dimas langsung memeluk Maria.
"Selamat datang Kak Maria," sambut Dimas, nampak air matanya mengalir membasahi pipinya.
Maria pun membalas pelukan dari adiknya itu, sesaat setelah saling melepas rindu, Dimas langsung melepaskan pelukannya dan beralih berjabat tangan dengan Archo.
"Tuan Archo apa kabar?" tanya Dimas.
"Kabar saya baik Dokter," jawab Archo.
Lalu mereka melepaskan jabatan tangan mereka.
"Yaudah, ayo kita pulang! Bunda sudah menunggu di rumah." ajak Dimas.
Archo dan Maria menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Iya Dokter," balas Archo.
Dimas pun mendorong kursi roda Maria, sedangkan Archo membawa barang bawaannya. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil yang berada di Airport.
"Zuy anakku, Mamah sudah datang dan kembalinya Mamah kesini untuk meminta maaf padamu atas perbuatan yang telah Mamah lakukan selama ini. Meski sulit untuk mendapatkan maaf darimu, tapi Mamah akan berusaha."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌