Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Perkataan Mom Candika....


__ADS_3

<<<<<


Sontak membuat Yiou dan lainnya tersentak kaget.


"Apa! Kak Candika mendatangi mu, Ray?"


Ray mengangguk. "Iya Kak, Mom juga mengatakan sesuatu padaku."


"Oh iya, aku jadi penasaran, memangnya apa yang di katakan oleh Kak Candika, Ray?" tanya Yiou yang penasaran.


"Itu ...."


......................


Flashback


β€”Pukul 11.30Pm


Malam itu, setelah selesai bercengkrama dengan Yiou dan lainnya, Ray langsung masuk ke dalam kamar rawat di mana Zuy dan si kembar berada. Sedangkan Davin beserta lainnya kembali ke tempatnya masing-masing, Ray lalu menyuruh beberapa pengawal untuk berjaga-jaga di depan.


Saat sudah berada di dalam, Ray terlebih dahulu melihat si kembar yang sedang tertidur, seketika senyumnya pun terukir di wajah tampannya.


"Bobo nyenyak ya anak-anak Daddy! Baby R dan Baby Z, Daddy sangat menyayangi kalian berdua," ucap Ray.


Setelah puas memandangi kedua anaknya, Ray langsung beralih ke arah Zuy yang juga sedang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Ia pun mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan di pandanginya wajah Zuy sembari mengelus lembut pipinya.


"Sayangku pasti sangat kecapean sehingga tidurnya serasa damai seperti ini, terimakasih banyak sayangku atas kebahagiaan telah kamu berikan untuk ku, aku berjanji akan membuat kalian bahagia, menjaga dan melindungi kalian semua. Aku sangat mencintaimu sayangku."


Lagi-lagi aliran bening lolos dari matanya dan mengalir membasahi pipi Ray.


"Ah, nampaknya mataku mulai membengkak ini, gara-gara menangis." lirih Ray mengusap air matanya.


Lalu Ray mendaratkan ciuman di kening dan kedua pipi Zuy. Setelah selesai, ia pun menarik selimut Zuy sehingga menutupi tubuhnya. Kemudian Ray beranjak dari tempatnya dan beralih duduk di sofa yang berada di kamar tersebut.


Di sandarkan kepalanya di dinding sofa sambil mengarahkan pandangannya ke langit-langit, rasa kantuknya pun sudah mulai menyerangnya, karena nampak jelas dari matanya yang sayu dan perlahan mulai terpejam.


Dan belum lama Ray memejamkan matanya, tiba-tiba ....


"Ray, Rayyan...." seseorang memanggilnya.


Sontak membuat Ray kembali membuka matanya saat mendengar namanya di panggil dan ketika matanya terbuka sempurna, ia terkejut melihat pemandangan di sekelilingnya, yang tadinya sebuah kamar rawat kini berubah menjadi sebuah taman yang sangat indah.


"Kenapa aku berada di taman ini? Bukannya tadi aku sedang menemani sayangku serta kedua anakku? Dan lagi sepertinya tempat ini tidak asing bagiku," cecar Ray mengedarkan pandangannya.


Nampak jelas bahwa saat ini Ray tengah kebingungan. Lalu ....


"Rayyan...."


Lagi-lagi seseorang memanggilnya, sehingga membuat Ray menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Seketika Ray membelalakkan matanya saat melihat seorang wanita cantik berpakaian putih sedang merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum pada Ray dan wanita tersebut tak lain adalah ....


"Mom Candika!!" lirih Ray.


Wanita itu pun menganggukkan kepalanya, membuat Ray langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya.


"Mom! Apa ini benar-benar Mom?" tanya Ray memastikan.


"Tentu ini Mom, sayang." jawab wanita itu yang ternyata benar-benar Candika ibu dari Ray.


Ray lalu melepaskan pelukannya. "Kenapa baru sekarang Mom menemui Ray? Apa Mom tahu betapa Ray sangat merindukan Mom." cetusnya.


Candika pun tersenyum, kemudian ia menarik tangan Ray dan membawanya duduk di kursi yang berada di tempat itu. Setelah mereka berdua duduk, Candika langsung mengelus rambut Ray.


"Kamu sudah besar dan tinggi ya Ray, bahkan sangat tampan melebihi ketampanan Michael, Daddy kamu." ujar Candika.


"Ray memang lebih tampan dari Daddy, karena Ray menurun dari Mom bukan dari Daddy," celetuk Ray sehingga membuat Candika terkekeh geli.


"Iya kamu benar Ray, tapi sifat mu itu sangat mirip dengan Daddy-mu," papar Candika.


Ray lalu menurunkan tangan Candika dari kepalanya dan menggenggamnya dengan erat.


"Mom, maafin Ray ya! Karena Ray belum bisa menjenguk Mom, Ray ...."


"Tidak apa-apa Rayyan, Mom mengerti kok. Oh iya selamat ya sayang, kamu sekarang sudah menjadi orang yang sukses dan bahkan kamu sudah menjadi seorang Ayah. Mom benar-benar sangat bangga padamu, Ray."


"Terimakasih Mom. Hmmmm, andai saja Mom masih ada, pasti Mom akan lebih bahagia melihat anak-anak Ray yang sangat tampan dan cantik itu." lontar Ray dengan nada sendu.


Lagi-lagi Candika tersenyum dan berkata, "Mom sudah melihat anak-anak mu, Ray. Bahkan saat mereka baru di lahirkan."


"Apa! Jadi Mom berada di sana? Di samping Zuy?" tanya Ray terkejut.


Candika mengangguk. "Iya Ray, bukan hanya Mom saja, Papah mertua kamu juga ada di sana. Menemani putrinya melahirkan."


Mendengar itu, seketika air mata Ray langsung mengalir membasahi pipinya.


"Berarti hanya aku saja yang tidak ada di sampingnya," rutuk Ray.


"Hei jangan merasa bersalah seperti itu, Ray! Dulu Daddy kamu juga seperti itu, pada saat Mom melahirkan mu, dia tidak ada di samping Mom," jelas Candika.


"Apa! Daddy juga sama sepertiku? Tapi kenapa?"


"Iya Ray, itu karena Mom melahirkan mu sebelum waktunya dan saat itu Daddy kamu sedang berada di Swedia. Dia juga selalu merutukki kesalahannya karena tidak mendampingi Mom saat persalinan," ujar Candika.


Ray memanggut. "Oh, jadi seperti itu ya Mom."


"Iya Ray. Oh iya Ray, sebenarnya ada yang ingin Mom sampaikan padamu," papar Candika.


"Hmmmm, apa itu Mom?" Ray mulai penasaran.


"Sebelum itu, Mom ingin bertanya padamu, Ray. Apa kamu benar-benar sangat mencintainya? Apa kamu benar-benar akan membuatnya bahagia selalu dan tidak akan pernah menyakitinya ataupun meninggalkannya?" tanya Candika memastikan.


"Mom, kenapa Mom bertanya seperti itu? Tentunya Mom pasti tahu kan bahkan Ray sering bilang ke Mom, bahwa Ray sangat mencintai Zuy dan Ray akan selalu membahagiakannya, menjaganya dan melindunginya selalu. Sampai kapanpun Ray tidak akan pernah menyakitinya ataupun meninggalkannya," ungkap Ray dengan sungguh-sungguh.


"Syukurlah kalau seperti itu, Mom sangat senang mendengarnya. Ray, Mom minta padamu! Tolong kamu lebih menjaga dan melindungi Zuy serta kedua anak mu itu! Dan juga kamu harus berhati-hati dan waspada terhadap Maria, Kimberly dan orang-orang jahat terdahulu. Sebab tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan berbuat jahat lagi, terutama Ibu tiri mu, Liora."


"Liora? Memangnya ada apa dengan wanita gila itu?"


Sebelum menjawab pertanyaan Ray, terlebih dahulu Candika menghela nafasnya.


"Mom selalu mempunyai firasat buruk tentangnya, pastinya kamu tahu kan bahwa Liora mempunyai ambisi untuk membuat keluarga Michael jatuh dan berpihak pada keluarga Fuca. Bahkan ia sampai menggunakan Lesya sebagai tamengnya, mungkin saat ini ia belum bertindak apa-apa tapi suatu saat nanti ia pasti akan mengeluarkan taringnya. Dan Mom takut jika target utamanya adalah Istri dan kedua anak mu itu, Ray." jawab Candika dengan panjangnya.


Sehingga membuat raut wajah Ray seketika berubah menjadi marah, uratnya pun sudah nampak jelas di pelipis kepalanya.


"Mom tenang aja! Ray akan selalu menjaga dan melindungi mereka selalu. Dan Kalau benar wanita itu atau yang lainnya sampai melakukan sesuatu terhadap istri dan kedua anakku, maka aku pun tidak akan segan-segan membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih menyakitkan sebelum mereka menemui ajalnya terlebih dahulu," sungut Ray.


Melihat itu, Candika langsung mengelus punggung Ray dengan lembut seraya menenangkannya kembali.


"Ray, kamu memang benar-benar sudah dewasa, andai saja waktu bisa berputar kembali, Mom ingin sekali hidup lebih lama bersama kalian dan cucu Mom. Tapi sayangnya Mom malah pergi terlebih dahulu. Mom minta maaf ya Ray, karena telah meninggalkan kalian, bahkan Mom tidak bisa memberikan kasih sayang lebih untuk kalian dan membesarkan kalian, Mom benar-benar Ibu yang sangat buruk," ucap Candika tersedu-sedu.


Ray tertegun sampai menitihkan air matanya kembali saat mendengar ucapan Candika, lalu dengan sigap ia pun langsung memeluk Ibunya itu.

__ADS_1


"Mom, jangan bicara seperti itu! Bagi Ray Mom adalah Ibu yang terbaik yang pernah Ray miliki. Kalau bukan karena Mom, mungkin Ray dan Lesya tidak akan ada di dunia ini. Terimakasih Mom karena sudah melahirkan kami, Mom sampai bertaruh nyawa demi Ray dan Lesya. Ray benar-benar sangat bersyukur dan berterimakasih pada Mom dan Ray sangat menyayangi Mom." lontar Ray.


"Mom juga sangat menyayangi mu, Ray." balas Candika.


Dan saat mereka sedang berpelukan, tiba-tiba cahaya mengelilingi tubuh Candika dan tubuhnya pun semakin memudar, membuat Ray tercengang melihatnya.


"Mom...."


"Sepertinya cukup sampai di sini pertemuan kita, jangan lupa untuk mengingat perkataan dari Mom! Sampaikan salam Mom buat Zuy, Davin, Yiou dan semuanya!" pinta Candika. "Selamat tinggal anak Mom tersayang, semoga kita bisa bertemu kembali." imbuhnya.


Seketika tubuh Candika menghilang dari pandangan bersamaan dengan cahaya tersebut.


"Mom Candika! Mom...."


"Mom....!!"


Teriak Ray terengah-engah sambil membangunkan tubuhnya, dan saat matanya terbuka lebar, ia pun kembali tersentak karena melihat pemandangan yang tadinya taman indah kini berubah menjadi kamar rawatnya.


"Aku di sini lagi? Berarti tadi cuma mimpi? Tapi kenapa begitu nyata?" lirih Ray mengusap kasar wajahnya.


Lalu tiba-tiba....


Oaaaa.... Oaaaaa.....


Terdengar suara tangis dari salah satu anaknya, sontak membuat Ray langsung beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah di mana anaknya berada dan ternyata yang menangis adalah Baby Z anak perempuannya.


"Baby Z, kenapa kamu menangis? Apa kamu haus?" ucap Ray sambil mengangkat tubuhnya dan menggendongnya.


Dan saat sudah berada dalam gendongan Ray, Baby Z malah kembali tenang, sehingga membuat Ray mengurungkan niatnya untuk membangunkan Zuy.


"Ternyata Baby Z ingin di gendong Daddy ya? Hmmmm, cantiknya anak Daddy mirip sama Mommy-nya ya!" Ray mengajak ngobrol Baby Z.


Seketika senyuman kecil terukir di bibir Baby Z di barengi dengan gerakan tangannya membuat Ray terpukau melihatnya.


"Duh.... Gemasnya anak Daddy, bikin Daddy makin sayang sama kalian."


Karena saking gemasnya, Ray langsung mencium gemas pipi Baby Z, kemudian ia menimangnya sampai Baby Z tertidur kembali.


Flashback end


......................


Setelah mendengar cerita dari mimpi Ray yang bertemu dengan Candika. Seketika membuat Yiou, Davin dan Zuy langsung menitihkan air matanya.


"Ternyata Mrs Candika dan Papah ada di samping ku dan melihat si kembar lahir," tangis Zuy.


"Kak Candika, begitu sayangnya Kakak pada anak, menantu dan kedua cucu Kakak, sampai Kakak datang menemui Ray dan memberi pesan peringatan buat si Tuan dingin," sambung Yiou.


"Hweeee Mommy! Davin sangat merindukan Mommy Candika," timpal Davin yang ikut menangis juga.


Kemudian pandangan Yiou beralih ke arah Davin.


"Vin, kamu kalau nangis jangan sampai ngeluarin air mata ya!" tutur Yiou.


"Memangnya kenapa Mrs Yiou? Bukannya kalau menangis harus mengeluarkan air mata?" pekik Davin.


"Bukan apa-apa Vin, takutnya air mata kamu menggelinding dan jatuh mengenai Baby R, kasihan kan Baby R kalau air mata mu sampai mengenainya," celetuk Yiou mencandai Davin.


Sontak membuat wajah Davin langsung merengut.


"Mrs Yiou! Anda benar-benar ya! Aku doakan semoga anak anda juga sama seperti ku, mempunyai wajah yang mulus dan glowing," papar Davin.


"Davino Roveis!!!" sungut Yiou memukuli Davin.


"Hei kalian berdua! Berhenti becanda! Jangan sampai si kembar terbangun dan menangis karena ulah kalian berdua," sungut Ray.


Seketika membuat Davin dan Yiou tertunduk diam, sedangkan Zuy menyemburkan tawa kecilnya. Lalu ....


"Ada apa ini?" seru seseorang dari ambang pintu, membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Selamat pagi Dokter Eqi," sapa Yiou ramah.


"Pagi juga Mrs Yiou," sahut Eqitna berjalan menghampiri. "Zuy, aku periksa ya!" imbuhnya.


Zuy mengangguk. "Baik Dok."


"Euuum Tuan Ray, Zuy. Sepertinya aku harus segera berangkat ke Perusahaan," kata Davin.


"Aku juga harus ke Boutique," sambung Yiou.


Lalu mereka berdua perlahan meletakkan si kembar di box bayi secara bergantian.


"Tuan Ray, Zuy. Tolong jaga kedua anakku dengan baik!" tutur Davin.


Mendengar itu, Ray langsung mendengus kesal. "Kak Davin! Mereka berdua anakku, bukan anak Kak Davin."


"Ahahaha.... Oh iya aku lupa, kalau wajah mereka kan sangat dingin mirip seperti moyangnya," canda Davin.


"Hahaha.... Kamu benar Vin," sambung tawa Yiou.


"Kak Davin, Kak Yiou!" Ray menyilangkan kedua tangannya di dada sembari menatap tajam keduanya.


"Vin, ayo kita pergi! Nampaknya si Tuan dingin udah mulai mengeluarkan es panasnya, hihihi...." lontar Yiou.


Davin mengangguk. "Benar apa yang anda katakan, Mrs Yiou. Ayo kita pergi sekarang! Sebelum kita terkena semburan es panasnya, hahaha...."


"Baby, kita berdua pergi dulu ya! Dokter Eqi...." pamit Yiou dan di balas anggukan oleh Eqitna dan Zuy.


"Ya, kalian berdua hati-hati! Dan terimakasih sudah menjaga si kembar," ucap Zuy.


Kemudian Yiou dan Davin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Sesaat setelah mereka pergi, Eqitna pun mula memeriksa Zuy dan si kembar.


Dan saat Eqitna memeriksa jahitan di jalan lahirnya si kembar, sontak membuat Ray terperangah bahkan wajahnya sedikit memucat.


"Baru kali ini aku melihat jahitan di bagian itu, sayangku aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu ataupun membuat mu menangis," batin Ray menutup wajahnya.


Sesaat setelah selesai di periksa....


"Dok, kapan saya boleh pulang?" tanya Zuy.


"Kemungkinan sore ini, Zuy." jawab Eqitna.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Zuy.


Eqitna tersenyum, "Yaudah kalau begitu aku pergi dulu ya!"


"Iya Dok, terimakasih banyak."


Eqitna lalu melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Zuy dan Ray. Setelah itu, Ray langsung duduk kembali di samping Zuy.

__ADS_1


"Sayangku, apa kamu mau makan lagi?" tanya Ray.


Zuy menggeleng. "Tidak Ray, aku udah kenyang."


"Oh...."


Ray menggeser kan tubuhnya sedekat mungkin dengan pujaan hatinya itu, kemudian ia merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.


"Sayangku, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Ray.


"Untuk saat ini Zuy tidak menginginkan apa-apa, Ray." jawab Zuy mendongakkan kepalanya. "Oh iya, tadi kamu bilang kalau semalam Baby Z menangis. Kenapa kamu gak bangunin aku?" sambung tanyanya.


"Tadinya juga aku ingin bangunin kamu, sayangku. Takutnya Baby Z lapar, tapi setelah aku gendong Baby Z malah diam, dan saat aku ajak ngobrol dia senyum, Mereka benar-benar menggemaskan, sayangku." ujar Ray dengan senangnya.


Pandangan Zuy mengarah ke Box Baby R dan Baby Z.


"Ya mereka memang menggemaskan, wajah mereka juga semuanya fotocopy-an dari mu, Ray. Apalagi Baby R mirip banget sama kamu," ujar Zuy, lalu ....


Pfffft....


Zuy tiba-tiba terkekeh sambil menutup mulutnya membuat Ray keheranan.


"Sayangku, kenapa kamu terkekeh seperti itu? Apa ada yang lucu?" tanya Ray.


"Aku hanya sedang mengingat saat kamu ulang tahun yang ke 4 dan aku ulang tahun yang ke 8. Waktu itu Mrs Candika dengan sengaja mendandani mu seperti perempuan, memakai gaun, rambut kuncir dua. Hahaha, benar-benar sangat lucu, Ray." ujar Zuy menyemburkan tawanya.


"Apa! Memangnya ada yang seperti itu di saat ulang tahun ku yang ke 4?" tanya Ray terkejut sekaligus penasaran.


"Ada Ray, bahkan lebih lucunya saat kamu memasang wajah cemberut, mirip sekali dengan Baby Z."


"Hah! Mirip Baby Z?"


Zuy mengangguk cepat. "Iya Ray, lihatlah ekspresi wajah putri mu yang seperti itu, benar-benar mirip dengan mu."


Ray langsung memandangi wajah si kembar yang tengah tertidur, senyumnya pun mengembang seketika. Kemudian ia beralih pandang ke arah Zuy sambil menangkup kedua pipinya.


"Terimakasih sayangku atas kebahagiaan yang kamu berikan untukku."


"Sama-sama Rayyan."


Ray mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy, ia lalu menghujani beberapa ciuman mesranya di wajah Zuy dan saat hendak mendaratkan bibirnya ke bibir pujaan hatinya itu, tiba-tiba....


Oeeek.... Oeeek....


Baby R menangis dengan kencang membuat Ray mengurungkan niatnya itu.


"Boy! Kenapa kamu pake bangun sih di saat Daddy sedang ingin bermesraan dengan Mommy?"


"Hihihi.... Mungkin dia lapar makanya bangun. Ray, tolong bawa Baby R padaku!" pinta Zuy.


Ray langsung mengangguk, kemudian ia mengangkat tubuh Baby R dari Box bayi dan memberikannya pada Zuy. Setelah itu, Zuy langsung memberikan ASI-nya untuk Baby R dan di minumnya dengan lahap oleh Baby R.


"Minum yang banyak ya anak Mamah! Biar cepat besar." ucap Zuy.


"Benar apa kata Mommy kamu, Baby R. Supaya nanti kalau Daddy lagi mesra-mesraan sama Mommy, gak di ganggu kalian lagi," sambung Ray sambil menoel gemas pipi Baby R.


Sontak membuat Baby R yang tengah menyusu terusik dan kembali menangis dengan kencang.


"Rayyaaaan!!!" sentak Zuy dengan tatapan mata elangnya.


"Ampun sayangku...."


***********************


Amerika


β€’Kediaman Daddy Michael


Setelah mendapatkan kabar gembira bahwa kedua cucunya sudah lahir. Daddy Michael nampak sibuk memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper, karena besok Daddy Michael akan pergi ke Indonesia untuk menjenguk cucu kembarnya. Lalu kemudian Liora datang dan menghampiri Daddy Michael.


"Dad!!" panggil Liora.


Daddy Michael menoleh. "Oh ternyata kamu, Mom."


"Sedang apa Dad?" tanya Liora.


"Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang sibuk memasukkan baju ku ke dalam koper," jawab Daddy Michael.


"Hmmmm, memangnya Daddy mau kemana?"


Daddy Michael lalu menghentikan aktivitasnya dan membalikkan badannya menghadap Liora.


"Aku akan pergi ke Inggris bersama Willy untuk pekerjaan," ujar Daddy Michael yang berbohong.


Sontak membuat Liora terkejut mendengarnya.


"Hah! Inggris? Kenapa Willy gak bilang padaku tentang ini? Terus berapa hari Daddy di sana?" cecar Liora.


"Cuma beberapa hari, dan lagi kenapa Willy gak bilang padamu, ya karena ini adalah urusan ku dan Willy, jadi kamu tidak perlu mengetahuinya," pekik Daddy Michael.


Sehingga membuat Liora mengerenyitkan keningnya. Lalu ....


"Oh iya Dad, kapan Daddy akan membantu Kimberly bebas dari hukuman?" tanya Liora.


"Li, berapa kali aku bilang bahwa Kimberly bukan urusan ku! Dan lagi biarkan dia di hukum atas kesalahannya itu," cetus Dady Michael.


"Tapi dia kan calon menantu mu, Dad. Calon istrinya Rayyan."


Mendengar itu, Daddy Michael langsung menatap tajam Liora sambil memegang kedua pundaknya.


"Li, aku sudah berapa kali bilang padamu, untuk tidak ikut campur dengan hubungan Ray. Dan asal kamu tahu saja, aku juga tidak pernah menganggap bahwa Kimberly adalah calon menantu ku, paham!" sentaknya.


"Ta-tapi Dad...."


"Sudah! Aku tidak ingin berdebat dengan mu tentang masalah Kimberly, aku ingin mandi dan istirahat, karena besok pagi aku akan lamgsung pergi ke Inggris."


Daddy Michael lalu melepaskan tangannya dari pundak Liora, kemudian ia menghentakkan kakinya menuju ke kamar mandi.


"Aaargh, kenapa susah sekali membujuk orang tua itu," umpat Liora.


Kemudian tanpa sengaja, ia melihat hp Daddy Michael yang tertinggal di atas meja, Liora pun langsung menyambar hp tersebut dan membuka kuncinya.


Setelah kunci hp milik Daddy Michael terbuka, Liora sangat terkejut saat melihat foto Baby R dan Baby Z yang terpasang di layar hp milik Daddy Michael.


"Fo-foto bayi kembar siapa ini?"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ


__ADS_2