
<<<<<
Mata Zuy pun langsung membulat sempurna saat melihat perut roti sobek milik Ray itu, mulutnya pun sedikit terbuka. Lalu kemudian...
"Ro-roti sobek..!!"
Ucap Zuy sedikit kencang, membuat Ray yang sedang menyeka wajahnya langsung terhenti saat mendengarnya.
"Hmmm, roti sobek?" tanya Ray lirih.
Kemudian ia melihat ke arah Zuy yang terfokus pada dirinya, Ray pun menangkap pandangan Zuy yang mengarah ke bagian perutnya. Seperti biasa senyuman jahilnya pun terukir di bibirnya, Ray segera menghampiri Zuy yang masih berdiri terdiam.
Saat sudah di dekat Zuy, Ray mendekatkan wajahnya ke telinganya Zuy.
"Apa sayangku yang cantik ini menginginkan roti sobek milikku?" bisik Ray menggoda Zuy.
Mendengar bisikan Ray dan hembusan nafas Ray yang hangat menyambar di telinga Zuy, membuat Zuy tersadar, ia langsung menoleh ke arah Ray. Sontak Zuy terkejut saat melihat Ray sudah berada di dekatnya dan ia pun menjauh beberapa jarak dari Ray.
"Tu-Tuan Muda, sejak kapan anda berada di sini? bukan kah anda tadi sedang di sana..," tanya Zuy yang kebingungan sambil menunjuk ke arah di mana Ray berdiri tadi.
Ray pun tersenyum dan berkata, "Hmmmm, Ray sudah berada di sini sejak ...,"
Lalu Ray mendekatkan wajahnya kembali ke telinga Zuy,
"Sejak Kakak memandangi Ray sambil berkata 'Roti Sobek' dan mata Kakak terfokus pada perut Ray ini, ternyata sayangku ini sudah mulai nakal ya..." bisik Ray yang lagi-lagi menggoda Zuy.
Blush...
Wajah Zuy seketika memerah saat mendengarnya, "Ah.. si-siapa yang bilang roti sobek, si-siapa yang nakal, maksud Zuy, Zuy bawain Tuan Muda sarapan roti sobek," ujar Zuy yang salah tingkah
Ray kemudian melihat ke arah makanan yang di bawa oleh Zuy, "Hmmm, bukannya itu nasi goreng ya Kak?" tanya Ray menunjuk ke arah makanan itu.
"Apa..!!" Zuy langsung melirik ke arah makanan yang berada di meja, kemudian ia beralih pada Ray sembari tersenyum kaku.
"Ah iya, sepertinya Zuy salah Tuan, ternyata itu nasi goreng," ujar Zuy, ia pun menundukkan kepalanya sambil menutup wajahnya karena malu.
"Duh, benar-benar sangat memalukan, pasti wajahku memerah, ini semua gara-gara roti sobek," batin Zuy.
Ray terkekeh melihat Zuy yang tengah malu itu, dan hatinya pun berkata, "Lucu banget sih sayangku ini, jadi ingin melahapnya."
Lalu Ray menurunkan tangan Zuy, kemudian ia memegang dagu Zuy dan mengangkatnya sehingga pandangan mereka saling bertemu. Mereka pun saling menatap satu sama lain. Lalu tiba-tiba..
Krunyuuuuuk...
Cacing di perut Ray sudah mulai berdemo, yang berarti mereka minta di kasih makan, sekarang gantian wajah Ray yag memerah, Zuy pun langsung terkekeh, kemudian ia memegang tangan Ray.
"Ayo sarapan dulu Tuan Muda..!!" ajak Zuy, Ray pun tersenyum dan mengangguk.
Zuy lalu melepaskan tangannya dari tangan Ray, ia kemudian menarik kursi untuk Ray, Ray pun langsung mendudukinya.
"Ini Tuan Muda, minum dulu..!!" titah Zuy sembari memberikan minuman pada Ray.
"Terimakasih Kak," ucap Ray, lalu ia meminumnya.
Zuy menyodorkan piring makanan pada Ray, akan tetapi bukannya di sentuh makanannya, Ray malah menopang dagunya dan menatap Zuy sambil tersenyum.
Merasa dirinya sedang di perhatikan, Zuy pun langsung menoleh ke Ray.
"Hmmm, kenapa anda menatapku seperti itu, Tuan Muda?" tanya Zuy
"Ya karena Kakak cantik, apa lagi kalau lagi tersenyum begitu," puji Ray sambil mengedipkan satu matanya.
Mendengar pujian dari Ray, Zuy pun menghela nafasnya..
"Hah.. Tuan Muda berhenti menggodaku dan habiskan sarapannya, jangan sampai cacing di perut anda kembali berdemo," pekik Zuy yang sedikit kesal karena di goda terus
Namun berbeda dengan hatinya yang bahagia dan berbunga-bunga setiap Ray memujinya. Zuy lalu menarik kursi yang berada di sebelahnya dan mendudukinya, kemudian ia mengambil segelas su-su, saat hendak meminumnya, tiba-tiba..
"Kak.." panggil Ray
Zuy pun menoleh, namun ia terkejut karena Ray menyodorkan sendok berisi nasi goreng miliknya ke arah Zuy.
"Buka mulut Kakak..!!" pinta Ray
"Ta-tapi Tuan Muda.."
"Gak usah tapi-tapian, ayo buka mulutnya Kak.." lagi-lagi Ray menyuruh Zuy buka mulut.
Zuy menuruti permintaan Ray dan membuka mulutnya, Ray kemudian menyuapkannya, lalu Ray menyendok kembali nasi yang di piring dan menyantapnya.
"Memang berbeda kalau makan bekas Kakak," batin Ray sembari mengunyah makanannya.
Akan tetapi mereka belum menyadari bahwa di luar ruangan Gym, ada dua orang yang sedang mengintip mereka.
•••••••••
Beberapa saat sebelumnya....
Nampak seseorang berkunjung ke rumah Ray, kemudian ia memencet bel pintu..
Ting Tong...
Lalu Bu Ima pun segera membukakan pintunya, setelah pintu terbuka, ia pun terkejut melihat Bu Ima.
"Lho, bukan kah anda Bu Ima, tetangga Zuy?" tanya nya
"Iya, dan nona ini siapa?" tanya balik Bu Ima.
"Saya temannya Zuy Bu, Airin.." jelasnya yang ternyata Airin, ia pun mencium tangan Bu Ima.
__ADS_1
"Oh Nak Airin toh, maafkan Ibu ya, maklum sudah tua, hehehe.." ujar Bu Ima, "Pasti kamu ingin bertemu Zuy ya?" sambung tanya Bu Ima.
"Iya Bu, saya memang datang kesini untuk betemu dengan Zuy.." jawab Airin, lalu tiba-tiba...
"Siapa yang datang Bu?" tanya Davin berjalan menghampiri Bu Ima.
Bu Ima pun menoleh ke arah Davin, "Oh ini Tuan, temannya Nak Zuy.." jawab Bu Ima.
Davin pun menoleh ke arah pintu, "Airin..!!"
"Pagi Pak Davin.." sapa Airin melambaikan tangannya.
"Pagi juga Rin, ayo masuk..!!" ajak Davin. Airin pun berjalan masuk ke dalam rumah Ray.
"Silahkan duduk Rin..!!" tawar Davin
Airin pun mengangguk, "Terimakasih tawarannya Pak Davin, tapi saya ingin langsung bertemu dengan Zuy, Pak Davin," jelas Airin.
"Oh, Zuy mungkin masih di kamarnya Rin," ujar Davin, lalu..
"Maaf Tuan dan Nak Airin, kalau Ibu menyela, Zuy sebenarnya sedang mengantar makanan untuk Tuan Ray," kata Bu Ima.
"Memangnya Tuan Ray lagi di mana Bu?" tanya Airin.
"Kalau tidak salah, dia lagi di ruang Gym," jawab Bu Ima.
Lalu tiba-tiba Davin menepuk jidatnya dan berkata, "Aduh sampai lupa, aku kan udah janji sama Tuan Ray menemaninya olahraga. Yaudah Rin kamu duduk aja dulu, biar saya yang panggilkan Zuy."
Saat Davin hendak melangkahkan kakinya, Airin tiba-tiba memegangi baju Davin. Sontak membuat Davin menoleh ke arah Airin.
"Ada apa Rin?" tanya Davin
"Boleh saya ikut Pak..!!" pinta Airin sambil menyunggingkan senyumannya dan mengangkat kedua jarinya.
"Yaudah kalau mau ikut, ayo..!!" ajak Davin, "Bu Ima, tolong nanti bawakan minuman dan camilan ke ruang Gym ya..!!" sambungnya.
Bu Ima pun menganggukkan kepalanya, "Baik Tuan.."
Davin dan Airin pun langsung bergegas menuju ke arah ruang Gym. Sesaat kemudian mereka pun sampai di ruangan itu, ketika mereka hendak masuk ke ruang Gym, namun tiba-tiba terhenti karena melihat Ray dan Zuy sedang saling menatap satu sama lain.
"Waah, pemandangan yang menarik nih, sayang kalau di lewatkan.." papar Airin.
"Mereka mulai lagi.." lirih Davin menutup matanya dengan tangannya.
Airin pun melihat ke arah Davin, "Pak Davin kenapa tutup mata, ini seru lho," kata Airin, ia pun menurunkan tangan Davin dari matanya Davin.
Davin perlahan membuka matanya, "Ah benar juga kamu Rin," ujar Davin,
Lalu mereka pun kembali mengintip Ray dan Zuy di balik pintu sambil berlutut.
Flashback End
Sementara itu, Ray masih menikmati sarapannya, sesekali Ray menyuapi Zuy.
"Tuan Muda, sudah jangan menyuapi ku lagi, Zuy sudah kekenyangan karena su-su ini," pinta Zuy pada Ray.
Namun Ray hanya tersenyum dan menyantap satu sendok terakhir sarapannya. Setelah selesai...
"Terimakasih makanannya.." ucap Ray menangkupkan kedua tangannya.
Lalu ia melirik ke arah Zuy, matanya tertuju ke arah sudut bibir Zuy, ternyata ada nasi yang menempel di sudut bibirnya, sontak membuat Ray segera beranjak dari tempat duduknya dan beralih mendekat ke arah Zuy, perlahan Ray mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy.
"Tu-Tuan Muda, anda mau apa?" tanya Zuy yang terkejut melihat Ray sudah mendekat ke wajahnya. Jantungnya pun berdegup kencang.
"Kakak diam sebentar ya..!!" pinta Ray.
Lalu Ray mendaratkan tangannya ke pipi Zuy, membuat Zuy menutup matanya, ia menyangka kalau Ray akan menciumnya. Akan tetapi Ray hanya membersihkan nasi yang menempel di sudut bibirnya Zuy dengan tangannya.
"Nah sudah bersih.." kata Ray
"Sudah bersih?" tanya Zuy sambil membuka matanya.
"Iya Kakak, tadi ada nasi yang menempel di sudut bibir Kakak," jelas Ray.
Mendengar itu, Zuy lalu menghela nafasnya, "Oh, hanya membersihkan nasi, Syukurlah.. Zuy pikir Tuan Muda mau ...." belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba..
Grasak.. Grasak...
Suara berisik dari luar ruangan, sontak membuat Ray dan Zuy langsung menoleh ke arah pintu.
"Sepertinya di luar ada orang yang mengintip kita!" lirih Ray.
"Memangnya siapa yang mengintip Tuan Muda?" tanya Zuy
"Siapa lagi kalau bukan adonan moci, Kakak tunggu di sini, biar Ray yang memeriksanya," tutur Ray, Zuy pun menganggukkan kepalanya.
Lalu Ray berjalan menuju ke arah pintu..
Sementara itu Airin dan Davin yang berada di luar ruangan Gym...
"Waah bener-bener Tuan Bos, bisa seromantis itu pada Zuy, gak kuat aku melihatnya, bikin baper," papar Airin.
"Ya memang seperti itu Rin, kan Tuan Ray itu bucinnya hanya pada Zuy," balas Davin
Lalu Airin melihat ke arah Davin, "Tapi aku salut pada anda Pak, bisa kuat melihat keromantisan mereka.. Hahaha.." papar Airin meledek Davin
"Airin, jangan meledekku, lebih baik kita fokus saja mengintip mereka," tutur Davin.
"Baiklah..."
__ADS_1
Airin dan Davin pun berjalan membungkuk kembali menuju ke arah pintu, akan tetapi..
Bruuugh..!!
Kedebug...!!
Airin menabrak sesuatu sehingga ia terpental jatuh bersama Davin yang kalah itu berada di belakang Airin.
"Duh Airin, kenapa pake jatuh segala sih," gerutu Davin
"Maaf Pak Davin, tadi aku menabrak sesua ... tu.." ujar Airin memandang ke depan, namun ia terkejut saat pandangannya tertuju seseorang yang sudah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Tu-Tu-Tuan Bos...!!"
Davin pun langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ray, "Waduh gawat, ketahuan sama Tuan Ray."
"Airin, Kak Davin.. sedang apa kalian di sini?" tanya Ray dengan tatapan tajamnya.
Airin dan Davin langsung menundukkan kepalanya, karena tidak berani menatap Ray.
"Ma-maaf Tuan Bos, saya kesini ingin bertemu dengan Zuy," jawab Airin
"Iya Tuan Ray, saya di sini juga mengantar Airin, tapi saya gak lihat anda lagi bermesraan kok ataupun menyuapi Zuy, iya kan Rin?" ujar Davin
Mendengar ujaran Davin, Airin pun langsung menepuk jidatnya dan hatinya berkata, "Duh Pak Davin, benar-benar deh."
Ray kemudian menghela nafasnya, "Hah, dasar kalian berdua selalu kompak ya kalau urusan begini."
Airin dan Davin pun langsung terkekeh dan saling menatap satu sama lain, lalu kemudian...
"Maaf Tuan Ray > Bos," ucap bersama.
"Yaudah kalian berdiri...!!" titah Ray.
Lalu Davin dan Airin segera bangkit dari posisinya, Ray pun mengajak mereka masuk ke ruang Gym, setelah berada di dalam...
"Kak, ada Airin mencari Kakak," ujar Ray,
"Airin..!!" lirih Zuy sembari melirik ke arah Airin, lalu kemudian...
"Zuuuy..." seru Airin menghampiri Zuy, setelah itu Airin langsung memeluk Zuy.
Ray dan Davin hanya tersenyum saat melihat dua sahabat itu saling berpelukan.
***********
Rumah Dimas
Sementara itu, Nampak Dimas, Eqitna dan juga anaknya sedang berada di ruang tengah sambil menonton tv, lalu kemudian Bunda Artiana yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri mereka, lalu Bunda Artiana mendudukan dirinya di atas sofa di samping cucunya.
"Dimas, kamu belum berangkat kerja nak?" tanya Bunda Artiana.
"Ini hari libur Bun, jadi Dimas gak masuk kerja," jawab
"Oh libur ya, maaf nak Bunda lupa, mungkin karena sudah tua," ucap Bunda Artiana.
"Tidak apa-apa Bunda," kata Dimas
"Dimas.." panggil Bunda Artiana
"....." Dimas pun langsung menoleh.
"Apa kamu sudah bertemu lagi dengan anak itu?" tanya Bunda Artiana.
Mendengar pertanyaan dari Bunda Artiana, Dimas pun sedikit kebingungan, begitu pula dengan Eqitna.
"Anak itu, maksud Bunda?" tanya balik Dimas.
"Maksud Bunda, wanita yang mirip dengan Maria, Bunda lupa namanya," jelas Bunda Artiana.
"Oh maksud Bunda wanita yang di tempat makan itu ya?" tanya Dimas.
Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya, "Iya wanita itu."
Kemudian Dimas pun menggelengkan kepalanya, "Belum Bunda, Dimas belum ada waktu mencarinya, karena akhir-akhir ini Dimas sibuk, banyak pasien berdatangan," ujar Dimas
"Dan lagi nanti malam Dimas harus menghadiri acara ulang tahun Perusahaan CV, karena Pak Willy mengundang Dimas," sambung kata Dimas.
"Pak Willy? kenapa dia mengundangmu Dim? kan kamu hanya Dokter," tanya Bunda Artiana
"Ya kan, Dimas Dokter pribadinya Pak Willy Bun," jawab Dimas.
"Oh begitu ya Dim, apa Bunda boleh ikut nanti malam?" tanya Bunda Artiana, ia sangat berharap Dimas mengajaknya.
"Bunda boleh ikut kok, gantiin Eqi," ujar Eqitna
"Lho kenapa kamu gak ikut, Eqi?"
Eqitna pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Bunda, soalnya Nayla gak mau di tinggal, dan lagi takutnya Eqi dapat tugas mendadak," jelas Eqitna.
Lalu Bunda Artiana beralih menatap Dimas dan bertanya, "Kalau kamu Dimas, apa kamu keberatan kalau Bunda ikut?"
"Tentu tidak keberatan Bunda, Dimas malah seneng ada yang nemenin, walaupun Dimas berharap Eqitna dan Nayla bisa ikut juga," kata Dimas
"Syukurlah kalau begitu, Bunda berharap semoga saja nanti malam bisa bertemu dengannya lagi, karena Bunda benar-benar sangat penasaran dengannya.."
***Bersambung...
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author...♥🙏♥🙏