
<<<<
Lalu Kimberly pun memeluk Ray dan mencium Ray, di tempat yang sama Davin dan Zuy baru sampai dan mereka pun turun dari mobil, ketika hendak berjalan menuju ke rumah, Zuy terkejut melihat Kimberly mencium Ray.
Deeeg..
"Tuan Muda...!!"
Davin yang berada di belakang Zuy saat itu karena selesai menutup pintu mobil dan mengambil barang-barang di dalam mobil, lalu ia melihat Zuy berdiri di depannya, ia langsung mendekati Zuy.
"Ada apa Zuy?" tanya Davin.
Zuy hanya terdiam sambil melihat pemandangan tidak mengenakan baginya, Davin melirik ke arah dimana mata Zuy memandang, ia sontak terkejut melihat Kimberly sedang memeluk dan mencium Ray, padahal Kimberly hanya mencium pipi Ray, namun nampak dari jauh seperti sedang ciuman ke bibir. Davin pun langsung melihat ke arah Zuy kembali.
"Hmmm, di lihat dari tatapan matanya dan raut wajahnya Zuy, sepertinya ia cemburu. Bagus kalau dia cemburu berarti perasaan Tuan Ray ke Zuy tidak bertepuk sebelah tangan," batin Davin.
Lalu Davin menepuk pundak Zuy, sontak membuat Zuy kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Eeh kucing manis, ya ampun Pak Davin ngagetin aja," papar Zuy sambil mengelus dadanya.
"Hahaha lagian kamu ngapain berdiri di sini bukannya buru-buru ke rumah, memangnya kamu liat apa sih sampai berdiri dan melamun seperti itu?" tanya Davin yang pura-pura tidak tahu.
Zuy lalu memutar bola matanya ke arah lain, "Emmm, itu anu ... ...,"
Davin menyunggingkan senyumannya, dan kembali melihat ke arah Ray dan lainnya berada, "Oh jadi kamu melamun gara-gara itu, hmmm apa kamu cemburu melihat mereka seperti itu Zuy?" tanya Davin bermaksud menggoda Zuy.
Zuy terkejut dan menoleh ke arah Davin, "Ce-cemburu? siapa yang cemburu Pak, Zuy gak sedikit pun merasa cemburu, lagian kan mereka pasangan yang sebentar lagi bakal tunangan," jelas Zuy,
"Bagaimana aku cemburu, sedangkan selama ini aku gak pernah pacaran, jadi aku sendiri gak tau apa arti dari cemburu itu, namun kenapa hatiku terasa sesak begini, jantung ku juga berdegup kencang seperti mau meledak," batin Zuy.
"Oh seperti itu, hah andai kamu tahu perasaan Tuan Ray yang sebenarnya Zuy," lirih Davin sedikit kecewa.
"Hmmm.. apa maksud anda Pak?" tanya Zuy penasaran.
Davin pun tersenyum, "Bukan maksud apa-apa kok, ayo kita ke rumah, soalnya aku udah berat bawa barang sebanyak ini, huhuhu.." ujar Davin
"Hahaha, lagian Zuy mau bantuin tapi anda bilangnya tidak usah, mana sini barangnya..!" kata Zuy, lalu Zuy mengambil setengah kantong yang berada di tangan Davin.
"Hehehe maaf ya Zuy," ucap Davin, lalu mereka pun langsung berjalan menuju ke arah rumah.
Sementara itu, sebenarnya saat Kimberly memeluk Ray, Ray tidak suka dan hampir mendorong Kimberly, namun ia melihat kalau Davin dan Zuy sudah kembali, Ray pun ingin menguji Zuy, apakah Zuy bakalan sedih saat dia di peluk orang lain atau biasa saja, jadi ia menerima pelukan dan ciuman Kimberly. Ray melirikkan matanya ke arah Zuy yang sedang berdiri di halaman.
Betapa senangnya Ray melihat raut wajah Zuy yang nampak sedih, "Maaf Kak, bukannya Ray ingin membuat Kakak sedih tapi Ray hanya ingin menguji Kakak, bagaimana perasaan Kak Zuy terhadap Ray, dan sekarang Ray sudah tahu Kak," batin Ray.
Saat Ray tahu Davin dan Zuy sudah berjalan ke arahnya, Ray pun langsung melepaskan pelukan Kimberly, dan mengusap bekas ciuman Kimberly di pipinya, kelakuan Ray yang seperti itu sontak membuat Kimberly dan lainnya terkejut.
"Ay ada apa, kenapa Ay melepaskan pelukan Kim, bahkan menghapus ciuman Kim, padahal kan ini pelukan perpisahan kita, apa Ay gak suka ya?" tanya Kimberly dengan nada sedih.
"Jujur aku gak suka Kim, benar-benar gak suka," pekik Ray
"Tapi kenapa?" tanya Kimberly
Ray lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zuy, lalu...
"Kami pulang.." seru Davin
Mereka langsung menoleh ke arah Davin dan Zuy, Maria tersenyum saat melihat Zuy, sedangkan Kimberly sangat tidak senang, dan ia langsung menyadari kenapa Ray langsung melepaskan pelukannya dan bilang kalau Ray tidak menyukainya. Perasaan Kimberly yang tadinya sedih berubah jadi marah.
"Lho Mrs Maria, Mrs Kimberly kalian mau kemana?" tanya Davin
"Kami harus kembali ke Amerika, karena Kimberly harus beraktivitas kembali," jawab Maria.
"Oh, aku pikir kalian akan lama berada di kota ini," ujar Davin sekedar basa-basi saja.
"Nanti kapan-kapan pasti kita kesini lagi," balas Maria.
"Oh baiklah Mrs Maria,"
YanYan pun mendekati Maria, "Mrs ayo udah waktunya kita berangkat," bisik YanYan
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar lagi," kata Maria.
Lalu Maria menghampiri Zuy yang sedang tertunduk diam di belakang Davin. Entah apa yang di pikirkan Maria, ia langsung memeluk Zuy dengan eratnya, membuat Zuy dan yang lainnya terkejut.
"Zoya, maaf atas perkataanku tadi, pasti itu sangat menyakiti perasaanmu," kata Maria
"Tidak apa-apa Mrs Maria, Zuy paham maksud anda bilang seperti itu," papar Zuy.
Melihat Maria memeluk Zuy, Kimberly langsung menghampiri mereka, "Mam, apa yang Mam lakukan?" tanya Kimberly.
Maria segera melepaskan pelukannya, " Maaf sayang Mam hanya ...,"
Kimberly pun mendekati Zuy dan memeluknya, akan tetapi...
"Aku ingatkan satu hal, Ay itu punyaku selamanya akan jadi milikku, kamu hanya seorang pengasuh jangan bermimpi untuk mendapatkan Ay dan berkhayal menjadi Nyonya Rayyan," bisik Kimberly sambil memeluk Zuy dengan eratnya, sehingga membuat Zuy merasa tidak nyaman.
Kimberly lalu melepaskan pelukannya, "Aku pergi dulu ya, Davin tolong jagain Ay ya! Supaya tidak ada orang yang mendekatinya," kata Kimberly menatap ke arah Zuy.
"Iya baiklah serahkan padaku," kata Davin
"Ayo Mrs kita berangkat..!!" ajak YanYan.
Kimberly pun ingin sekali lagi memeluk Ray, namun ia takut kalau Ray akan marah, ia hanya memandangi Ray dengan perasaannya yang sedih.
"Yaudah kita berangkat dulu, Zuy jaga dirimu baik-baik," tutur Maria, Zuy hanya menganggukkan kepalanya.
"Ay Kim berangkat dulu ya," kata Kimberly, matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Iya kalian hati-hati ya," kata Ray.
Lalu mereka pun pergi dengan menggunakan Taxi dan langsung menuju ke Airport.
Namun tanpa sadar Zuy menitihkan air matanya, sontak membuat Ray terkejut melihat Zuy menangis.
"Ada apa Kak, kenapa Kak Zuy menangis?" tanya Ray
"Zuy gak apa-apa Tuan, ini hanya kemasukan debu saja, kalau begitu Zuy ke dalam dulu, naroh barang-barang ini," ujar Zuy sambil menghapus air matanya.
"Oh ini, iya Zuy hanya ingin ganti gaya rambut, kalau gitu Zuy ke dalam ya," ujar Zuy, ia pun langsung ke dalam.
Davin segera mendekati Ray, "Ini pesanan Hp anda Tuan, Zuy yang memilihnya lho," ujar Davin sambil memberikan Hp kepada Ray.
Ray langsung membukanya, "Waah pilihannya sangat bagus aku menyukainya," kata Ray
"Hah, itu karena yang milih Zuy anda langsung menyukainya, coba kalau saya pasti sudah di protes," papar Davin, "Tuan Ray sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan tentang kejadian di Mall tadi," imbuhnya.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Ray
Davin melirikkan matanya ke dalam rumah, takut Zuy tiba-tiba datang, ia pun langsung menarik tangan Ray menuju ke halaman.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Kak Davin membawa ku kesini?" tanya Ray
"Ini yang ingin saya bicarakan, soalnya ada kaitannya dengan Zuy," kata Davin
Mendengar perkataan Davin, ia terkejut dan bertanya, " Coba jelaskan..! sebenarnya apa yang terjadi?"
"Begini Tuan, tadi di Mall CCV ... ...,"
Davin langsung menjelaskan secara detailnya, Ray sontak terkejut mendengar penjelasan dari Davin, ia langsung berlari ke dalam menuju ke Zuy, namun saat sampai di ruang tengah, Ray berpapasan dengan Zuy.
"Kak Zuy, kakak mau kemana?" tanya Ray
"Maaf Tuan Muda, Zuy harus pulang ke rumah, Zuy kangen sama rumah, Zuy juga kangen sama si manis," ujar Zuy.
Ray langsung memeluk erat Zuy dan berkata, "Kak Zuy, tetaplah di sini! Ray akan menjaga Kakak, Ray akan menjadi perisai yang melindungi Kakak, Ray mohon jangan pergi!"
Zuy mendorong pelan tubuh Ray, "Apa yang anda katakan Tuan, apa Pak Davin menceritakan kejadian yang menimpa Zuy hari ini kepada anda?" tanya Zuy
Ray menganggukan kepalanya, "Iya Kak, makanya Ray mohon pada kakak, jangan pergi ya..!!" pinta Ray
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, kalau Zuy tetap tinggal di sini, pasti ada omongan yang gak enak lagi, apalagi Zuy harus bersama seseorang yang akan bertunangan," pekik Zuy.
"Maksud Kakak apa? Kenapa Kakak ngomong seperti itu?" tanya Ray yang terkejut.
"Tanpa Zuy mengatakannya pada Tuan Muda, anda pasti sudah tahu apa maksud Zuy. Zuy gak mau suatu saat nanti ada omongan yang gak menyenangkan, cukup hari ini Zuy mengalaminya." cetus Zuy.
Ray memegang pundak Zuy, "Kak Zuy itu tidak seperti apa yang di katakan oleh Mrs Maria ataupun Kimberly, Ray mohon pada Kakak tunggu sebentar lagi sampai Ray menyelesaikan semua ini. Ray janji akan segera mengungkapkan perasaan Ray yang sebenarnya," ungkap Ray meyakinkan Zuy.
Zuy pun langsung menatap arah Ray, "Apa maksud anda Tuan Muda?" tanya Zuy
"Ray tidak bisa menjawabnya sekarang," ujar Ray
Zuy langsung memalingkan wajahnya, tanpa sepatah kata pun.
"Kak Zuy Ray mohon tetaplah tinggal di sini...!" pinta Ray
Zuy menggelengkan kepalanya, "Maaf Tuan, Zuy ingin pulang, Zuy ingin sendiri," ujar Zuy
"Baiklah, kalau mau Kakak seperti itu, tunggu sebentar," Ray bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.
Sementara itu Davin yang berada di depan langsung menghampiri Zuy.
"Zuy, apa gak sebaiknya kamu di sini dulu!" pinta Davin
"Maaf Pak Davin, tapi Zuy benar-benar ingin menenangkan diri dulu," ujar Zuy.
Davin pun langsung terdiam, beberapa saat kemudian Ray turun dari tangga, ia segera menghampiri Zuy.
"Ayo kita pergi, Kak mana kunci mobilnya?" tanya Ray
Davin memberikan kunci mobilnya ke Ray, "Ini Tuan, kalian hati-hati ya," kata Davin.
Lalu Ray menarik tangan Zuy menuju ke depan rumah, setelah sampai mereka pun langsung masuk mobil dan pergi...
"Semoga kalian bisa menyelesaikan masalah kalian masing-masing," ujar Davin. lalu ia pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
°°°°°
`Beberapa Saat kemudian..
Sementara itu, di perjalanan Zuy hanya terdiam tanpa bicara apa-apa, pandangannya hanya di jendela sebelahnya, melihat Zuy seperti itu, membuat Ray sedikit khawatir dengannya, biasanya Zuy tersenyum dan tertawa, kini hanya diam membisu. Ray pun ingin bertanya namun ia takut mengganggu, dan ia takut kalau Zuy tidak menyukainya kalau Ray mengajaknya bicara.
*****
Rumah Zuy
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Zuy.
"Tuan, lebih baik anda langsung pulang saja, Tuan kan baru sembuh dari sakit, dan terimakasih sudah mengantar Zuy sampai rumah," kata Zuy
"Iya Kak," lirih Ray
Zuy pun hanya tersenyum tipis, ia lalu turun dari mobilnya Ray, dan ketika hendak berjalan menuju ke rumah, akan tetapi ...,
"Kak Tunggu sebentar," kata Ray sambil turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Zuy
Zuy lalu berbalik ke arah Ray, "apalagi Tuan?" tanyanya
Ray lalu melepaskan jasnya, dan memakaikannya pada Zuy, "Pakai ini agar tetap hangat!" pinta Ray
"Terimakasih Tuan," ucap Zuy, lalu Zuy berjalan menuju ke rumahnya tanpa melihat ke arah Ray lagi.
Namun bukannya pergi, Ray malah tetap berdiri di samping mobil sambil terus melihat ke arah Zuy.
"Kak Zuy, Ray janji akan menjaga Kakak," lirih Ray, lalu ia melihat Zuy sudah masuk ke dalam rumah, ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
**Bersambung...
^Hai Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... ✌😉😉✌