
<<<<<
Masih percakapan di telpon....
"Aku dapat kabar dari seseorang bahwa Ray sudah menikah, apa itu benar?"
"Hah! Kamu bilang apa? Ray menikah?"
Liora sangat terkejut mendengarnya, sampai-sampai benda pipih yang berada di tangannya terjatuh.
Taaak....
Mendengar suara benda jatuh dari seberang telponnya, Maria pun langsung tersentak.
"Ada apa Liora?" seru Maria, akan tetapi tidak ada jawaban. "Liora apa kamu masih di sana? Liora...." Maria pun nampak panik. Lalu ....
"Iya aku masih di sini, Maria." balas Liora.
"Apa yang terjadi? Barusan aku mendengar suara benda jatuh," ujar Maria.
"Hp ku jatuh, Maria."
"Oh, aku pikir kamu kenapa," papar Maria.
"Lagian kamu bikin aku kaget, terus tadi kamu bilang Ray sudah menikah, apa itu benar Maria?" tanya Liora.
"Hmmmm... Kenapa malah jadi kamu bertanya pada ku, Liora. Harusnya kan kamu jawab pertanyaan ku tadi!" pekik Maria.
"Maria.... Kalau aku tahu, aku gak mungkin nanya ke kamu," balas Liora.
"Jadi kamu benar-benar tidak tahu Liora?" tanya Maria
"Aku tidak tahu apa-apa, Maria."
Sesaat Maria menghela nafasnya. "Haaa... Aku pikir kamu tahu Liora, kan kamu istrinya Michael, Ibu tirinya Ray."
"Ck, tapi Michael gak bilang apa-apa. Kalau pun anak sial itu nikah, harusnya Michael datang ke sana dong. Walau bagaimana pun anak sial itu kan kebanggaan Michael," papar Liora.
"Oh begitu ya, hmmm... Tapi aku kok gak yakin ya! Apa jangan-jangan Michael sudah tahu tapi pura-pura tidak mengetahuinya."
"Huh! Kamu benar juga Maria. Kalau seperti itu maka ini akan menjadi bencana untuk keluarga Fuca. Tsk, aku tidak akan biarkan itu terjadi. Bagaimana pun juga, Ray harus menikah dengan Kimberly," gerutu Liora.
"Lalu apa kau punya rencana? Kau kan yang paling licik dari kami," ujar Maria.
"Hmmmm... Nanti akan aku pikirkan lagi. Udah dulu Maria, perut ku tiba-tiba sakit," kata Liora.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup telponnya."
Maria langsung memutuskan telponnya.
"Tsk, kenapa harus seperti ini sih! Andai saja aku tidak sakit seperti ini, pasti aku sudah bertindak duluan tanpa harus menunggu Liora. Haaa... ini semua gara-gara anakmu Jordhan, kalau saja dia tidak keras kepala dan mau menurut, pasti aku tidak akan seperti ini. Ayah sama anak sama-sama keras kepala!" umpat Maria.
Sepertinya Maria tidak menyadari, bahwa sifat keras kepala Zuy itu menurun darinya, sedangkan sifat baik dan lemah lembutnya menurun dari Papahnya.
********************
Restaurant
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka pun duduk di tempat yang sudah di sediakan. Dan ternyata Restaurant itu sudah di booking terlebih dahulu oleh Pak Willy, jadi hanya mereka saja yang berada di sana. Lalu waiters datang dan memberikan buku menu pada mereka.
"Berikan kami makanan yang terbaik yang ada di Restaurant ini!" pinta Daddy Michael.
Waiters mengangguk patuh. "Baik Tuan," lalu ia pun melenggang pergi.
"Anakku, kamu harus banyak makan ya! Supaya kamu dan calon anakmu sehat," tutur Daddy Michael.
"Iya Mr Michael," balas Zuy mengangguk.
Semuanya pun tersenyum melihat Daddy Michael yang begitu sayang dan perhatian pada Zuy.
"Oh iya Vin, Daddy ada hadiah untuk mu," kata Daddy Michael.
"Hadiah! Apa itu Dad?" tanya Davin penasaran.
"Nanti kamu juga pasti tahu," ujar Daddy Michael.
"Daddy, bikin penasaran saja," papar Davin.
Lalu kemudian Waiters yang lain datang membawa minuman.
"Silahkan Tuan dan Nyonya," kata Waiters tersebut sambil meletakkan minumannya. Sesaat setelahnya ia pun pergi.
"Hmmmm...." lirih Davin sembari memandangi minuman di depannya.
"Kamu kenapa Vin?" tanya Yiou
Davin menggelengkan kepalanya. "Aku gak kenapa-napa, memangnya ada apa?"
"Lagian kamu ngeliatin minuman sampai segitunya," pekik Yiou.
"Ray tahu, pasti Kak Davin mengira kalau minuman itu adalah minuman pelancar atau minuman untuk orang hamil. Tebakan ku benar kan Kak Davin?" cetus Ray.
Seketika Davin menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan. Lalu ....
Pffft....
"Hahaha... Ya ampun Davino Roveis, kamu bener-bener ya," tawa Yiou.
"Memangnya Davin sering salah minum ya?" tanya Pak Willy.
"Iya Om, semalam aja susu hamilnya Zuy di minum Kak Davin," ujar Ray membuat wajah Davin memerah.
Seketika tawa mereka menggema, sedangkan Zuy hanya menyunggingkan senyuman manisnya saja. Daddy Michael yang melihatnya pun langsung terpukau.
"Duh ternyata anakku ini benar-benar manis ya," puji Daddy Michael membuat Zuy tersipu.
"Sayangku memang manis dan cantik Dad, jadi jangan muji dia terus," pekik Ray menunjukkan wajahnya yang cemburu.
"Duuh.... Sepertinya ada yang habis makan cuka tuh," ledek Yiou.
"Ya begitu lah, Tuan Ray selalu posesife," timpal Davin.
"Kak Davin, Tante Yiou...." pekik Ray.
Sedangkan Daddy Michael menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya. "Sejak kapan anakku ini jadi laki-laki bucin seperti ini."
"Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dulu kamu juga gitu kan Chael, selalu cemburu jika Candika ada yang deketin," ujar Pak Willy.
Seketika Ray dan lainnya melihat ke arah Daddy Michael.
"Huh! Ternyata sebelas dua belas ayah dan anak ini," cetus Davin, tawa mereka pun kembali menggema.
"Oh iya Zuy, bagaimana kabar Nana?"
"Bi Nana baik-baik saja Mister." jawab Zuy.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang sudah punya anak berapa dia?"
"Sudah mau dua, yang satu sudah berumur enam tahun dan satunya lagi masih di dalam perut Bi Nana," jelas Zuy.
"Oh...."
Tak lama kemudian, makanan yang di pesan pun tiba, lalu Daddy Michael mengambilkan makanan untuk Zuy.
"Kamu harus banyakin makan sayuran biar sehat," tutur Daddy Michael.
"Terimakasih Mr Michael," ucap Zuy.
Ray juga tidak mau kalah sama Daddy-nya, ia pun memotong steak daging dan memberikannya pada Zuy.
"Makan ini juga sayangku, biar banyak gizinya," kata Ray.
Zuy tersenyum. "Terimakasih Ray...."
"Sama-sama sayangku," balas Ray sambil memegang pipi Zuy.
__ADS_1
"Ehemmm... Kalau mau bermesraan nanti saja di rumah, sekarang waktunya kita makan!" celetuk Davin.
Ray langsung menurunkan tangannya, kemudian mereka segera menyantap makanannya masing-masing. Tak lama, mereka pun telah selesai menghabiskan makanannya.
"Terimakasih makanannya!" ucap bersama sambil menangkupkan tangannya.
"Oh iya Chael, setelah ini apa kamu mau ikut Rayyan atau gimana?" tanya Pak Willy.
"Sementara aku ikut kamu Will," jawab Daddy Michael.
"Oh baiklah...."
"Kenapa ikut Om Willy Dad?" tanya Ray yang terkejut.
"Kan kamu harus kembali ke Perusahaan Boy, jadi Daddy lebih baik ikut pulang ke rumah Willy," ujar Daddy Michael.
Sesaat Ray menghela nafasnya dan berkata. "Baiklah kalau itu maunya Daddy. Nanti sepulang dari kantor, Ray jemput Daddy."
Daddy Michael mengangguk. "Oke Rayyan...."
"Tuan Ray, sepertinya kita harus kembali!" kata Davin
"Baiklah.... Ayo sayangku kita kembali ke Perusahaan!" ajak Ray sambil bangkit dari posisinya.
Zuy pun mengangguk dan langsung bangkit dari posisinya. Setelah selesai berpamitan, Ray dan yang lainnya pun pergi meninggalkan Daddy Michael. Sesaat setelahnya ...
"Kenapa kamu malah milih pulang ke rumah ku?"
"Tidak ada apa-apa Willy, hanya saja aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya," jawab Daddy Michael.
"Oh, yaudah kalau begitu kita langsung pulang saja!" ajak Pak Willy.
"Oke Kak, oh iya nanti kalau sudah sampai di rumah, Yi langsung ke Boutique ya Kak," kata Yiou
Pak Willy hanya mengangguk saja seraya menjawab perkataan Yiou. Setelah selesai membayar, mereka pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari restaurant tersebut.
***********************
Sementara itu di tempat lain, nampak Wanda tengah mengunjungi tempat yang tak lain adalah kantor Polisi, dia datang untuk menjenguk Bu Ida. Setelah mendapatkan persetujuan dari Petugas Wanda pun masuk. Lalu salah satu Petugas itu membawa Bu Ida keluar.
"Waktu kalian hanya sebentar, jadi gunakan sebaik mungkin," kata Petugas itu.
"Baik Pak," Wanda pun mengangguk.
Lalu Petugas itu pergi meninggalkan mereka.
"Ini makanan untuk Tante," Wanda menyodorkan rantang ke arah Bu Ida.
"Terimakasih Wanda," ucap Bu Ida.
Wanda pun memandangi Bu Ida dari atas sampai bawah membuat Bu Ida keheranan.
"Ada apa Wanda? Kenapa ngeliatinnya begitu?" tanya Bu Ida.
"Wanda heran aja, baru satu hari Tante di sini, badan Tante udah kurus begini," ujar Wanda.
"Ya mungkin karena Tante gak betah, jadi ya begini," ucap Bu Ida.
"Tsk, ini semua gara-gara Zuy. Karena dia aku di pecat dan Tante jadi masuk ke sini. Awas saja nanti," gertak Wanda. Lalu ....
Plaaak...
Tiba-tiba Bu Ida menampar pipi Wanda dengan keras.
"Tante, kenapa menampar ku?" tanya Wanda sambil memegangi pipinya yang bekas kena tamparan.
"Itu karena ucapan mu bodoh! Dan lagi Tante minta kau jangan usik Zuy lagi, kalau tidak ingin bernasib sama seperti Tante," kata Bu Ida.
"Tapi Tante ...."
"Udah kamu nurut apa kata Tante!" tutur Bu Ida.
Wanda mengangguk paham. "Baik Tante..."
...----------------...
Tak terasa waktu cepat berlalu, sore pun tiba. Setelah dari rumah Pak Willy untuk menjemput Daddy Michael, Ray dan Davin langsung bergegas pulang ke rumah.
Rumah Ray
Sesampainya di rumah, Ray dan Daddy Michael turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke dalam rumah.
Ting Tong...
Dari dalam rumah, Bu Ima pun bergegas dan langsung membukakan pintunya.
"Selamat datang Tuan Ray," sambut Bu Ima.
Ray mengangguk sambil berjalan masuk bersama Daddy Michael. Setelah berada di dalam Daddy Michael pun mengedarkan pandangannya.
"Rumah ini tidak berubah sama sekali ya Ray," ucap Daddy Michael sambil melangkah menuju ke ruang lainnya.
"Tuan...."
"Dia Ayahku Bu," kata Ray.
Bu Ima memanggutkan kepalanya. "Oh, maaf Ibu tidak tahu, lalu Tuan Ray mau minum apa?"
"Apa aja Bu, kalau buat Daddy biasanya kopi," ujar Ray.
"Baiklah kalau begitu Tuan."
Bu Ima pun bergegas menuju ke dapur, sedangkan Ray langsung menghampiri Daddy Michael yang tengah memandangi sebuah foto besar yang terpampang di dinding, dan ternyata foto mendiang Candika.
"Daddy...."
Daddy Michael pun menoleh sambil mengusap matanya.
"Daddy kenapa?" tanya Ray
"Lihat foto itu dan rumah ini, Daddy jadi teringat sama Candika, Ray." jawab Daddy Michael.
"Ray tahu perasaan Daddy, karena dulu pas Ray datang kesini juga Ray teringat akan Mom, sampai sekarang pun Ray selalu ingat Mom," kata Ray, air matanya pun tak bisa di bendung lagi.
Lalu Daddy Michael mengelus punggung Ray.
"Ray, kita ke kamar kamu yuk!" ajak Daddy Michael.
Ray mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju ke kamar Ray.
Kamar Ray
Sesampainya, Daddy Michael langsung mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Kamar mu juga tidak berubah ya Boy."
"Iya Dad, karena Ray lebih suka kamar Ray seperti ini," balas Ray.
Lalu Daddy Michael menyalakan rokoknya.
"Oh iya, Zuy kapan pulangnya?" tanya Daddy Michael.
"Euum paling sebentar lagi Dad," jawab Ray sembari duduk di sofa lainnya.
"Oh, pulang dengan siapa? Apa Davin menjemputnya?"
"Kak Davin tidak menjemputnya Dad, Zuy pulang sendiri mengendarai motornya," ujar Ray.
Sontak membuat Daddy Michael tersentak kaget.
"Apa kamu bilang! Dia mengendarai motornya? Kenapa kamu biarkan Boy?"
"Dia yang mau sendiri Dad, Ray tidak ingin memaksanya dan lagi sebenarnya Ray sudah membelikan sebuah mobil untuknya, tapi Ray belum memberitahunya, soalnya Ray takut kalau ia menolaknya," jelas Ray.
"Hmmmm... Jadi begitu ya, sekarang Daddy paham. Ya kamu memang tidak salah memilihnya Boy, sifat Candika menurun ke istri mu itu," kata Daddy Michael.
__ADS_1
Ray menyandarkan kepalanya di dinding kursi. "Ya maka dari itu Ray menikahinya tanpa dia tahu, karena Ray tidak ingin melepaskannya dan kehilangan dia lagi," ungkapnya.
"Oh iya, besok kamu bisa antar Daddy."
"Memangnya mau kemana Dad?" tanya Ray.
"Tentu saja ke rumah Nana, walau bagaimana pun Daddy harus berterimakasih pada Nana, karena sudah memberikan Zuy pada keluarga kita," ujar Daddy Michael.
Seketika senyum Ray langsung mengembang. "Oke Dad, besok Ray akan antar Daddy ke sana."
Lalu Daddy Michael beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana Dad?" tanya Ray
"Mau ke kamar mandi."
Daddy Michael pun melangkah menuju ke kamar mandi, sedangkan Ray keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian Zuy datang, setelah memarkirkan motornya, ia pun bergegas masuk.
"Aku pulang..."
"Selamat datang Zuy," sambut Daddy Michael.
Zuy segera meraih tangan Daddy Michael dan mencium punggung tangannya.
Daddy Michael pun tersenyum bahagia dan hatinya berkata, "Kamu memang tidak salah memilihnya Ray."
"Kamu lebih baik bebersih dulu Zuy, setelah itu ada yang ingin Daddy bicarakan," kata Daddy Michael.
"Baik Mr Michael," ucap Zuy
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Setelah selesai dengan semua aktivitasnya, Daddy Michael dan lainnya pun berkumpul di ruang keluarga. Lalu Asisten Daddy Michael datang menghampiri dengan membawa beberapa paper bag dan memberikannya pada Daddy Michael. Lalu ....
"Nah ini untuk mu Davin," Daddy Michael memberikan salah satu bingkisan pada Davin.
"Waah... Terimakasih Daddy," ucap Davin sambil membukanya, dan ternyata isinya adalah masker dan jam tangan.
Mata Davin pun langsung berbinar-binar. "Daddy.. Kau sungguh pengertian, aku sayang Daddy," ucapnya sambil memeluk Daddy Michael.
Lalu Daddy Michael memberikan sebuah kotak untuk Zuy.
"Ini untuk mu Anakku."
"Terimakasih Mr Michael," ucap Zuy.
"Buka lah! Pasti kamu akan menyukainya," ujar Daddy Michael
Zuy lalu membukanya dan ternyata kotak itu adalah kotak perhiasan dan di dalamnya ada sebuah kalung berlian berliontin permata, Zuy pun tercengang melihatnya.
"Mr Michael.... I-ini!"
Daddy Michael pun mengambil kalung tersebut dan memakaikannya ke leher Zuy.
"Ini hadiah untuk mu Zuy," kata Daddy Michael.
"Tapi Mr Michael, kalung ini kan ...."
"Zuy.... Tolong terima ya!" titah Daddy Michael.
Sesaat Zuy pun menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. "Baik Mr Michael, terimakasih banyak untuk hadiahnya," ucapnya.
Daddy Michael langsung menyunggingkan senyuman bahagia, lalu kemudian ia memberikan sesuatu untuk Ray, yaitu sebuah jam mewah.
"Daddy, terimakasih banyak...." ucap Ray.
Setelah selesai memberikan hadiah dan mengobrol, mereka pun akhirnya masuk ke kamarnya masing-masing.
Sementara itu di dalam kamar Ray, Zuy terus memandangi kalung yang di berikan oleh Daddy Michael.
"Kamu kenapa sayangku?" tanya Ray
"Zuy tidak apa-apa, hanya saja Zuy masih ragu untuk menerima kalung ini Ray," jawab Zuy.
"Ragu?"
Zuy mengangguk. "Iya Ray, soalnya Zuy merasa gak pantas untuk menerima kalung ini, waktu itu Mrs Yiou memberikan gelang berlian, terus kamu juga ngasih cincin berlian dan sekarang Daddy ngasih ini juga."
"Ya itu udah jadi rezeki kamu sayangku, udah terima saja ya! Lagian kan kamu itu kesayangan ku jadi wajar kamu mendapatkan ini semua," ucap Ray sambil memeluk Zuy.
"Dasar kamu ya! Yaudah kamu istirahat duluan, setelah itu Zuy balik ke kamar Zuy," kata Zuy.
Mendengar itu, Ray langsung mengeratkan pelukannya.
"Tidak boleh, sayangku harus tidur di sini bersamaku!"
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian, kalau menolak Ray serang nih," cetus Ray.
"Ray.... Baiklah Zuy temani kamu tidur," lirih Zuy.
Seketika senyum Ray langsung terukir di wajah tampannya.
"Terimakasih sayangku..."
Ray lalu menempatkan kepalanya di atas paha Zuy, kemudian ia memandangi perut Zuy dan mengelusnya.
"Kesayanganku..." ucap Ray.
Zuy pun tersenyum melihat Ray yang begitu bahagia. Awalnya Zuy sempat berfikir bahwa Ray akan marah dan tidak menerima kehadiran anak yang di kandungnya. Namun yang di pikirkan Zuy ternyata salah, justru sebaliknya Ray malah sangat bahagia dengan kehamilan Zuy, dan bukan hanya Ray saja semuanya pun bahagia saat mendengar kehamilan Zuy.
"Syukurlah...."
...----------------...
Menjelang siang hari, sesuai dengan janjinya, Ray mengantar Daddy Michael menuju ke rumah Bi Nana. Dan untuk pekerjaan, seperti biasa Ray mengandalkan Davin.
******************
Rumah Bi Nana
Setelah menempuh perjalanan, mereka sampai di rumah Bi Nana dan kebetulan Bi Nana sedang berada di teras depan bersama Pak Randy.
Melihat mobil masuk ke halaman rumahnya, membuat Bi Nana dan Pak Randy saling menatap satu sama lain.
"Siapa yang datang Pih?" tanya Bi Nana.
"Entah, Papih juga gak tahu," jawab Pak Randy
Bi Nana dan Pak Randy pun bangkit dari posisinya, lalu kemudian Ray turun dari mobilnya.
"Bi Nana, Pak Randy..." Ray menghampiri Bi Nana dan Pak Randy, lalu mencium punggung tangannya.
"Oh ternyata kamu Ray, Bi Nana kira siapa, kamu kesini dengan siapa? Apa sama Zuy?"
Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak Bi, Zuy lagi kerja. Ray ke sini sama ...."
Daddy Michael pun langsung turun dari mobilnya dan melihat ke arah Bi Nana.
"Na, bagaimana kabarmu?" tanya Daddy Michael pada Bi Nana.
Seketika mata Bi Nana terbelalak, mulutnya pun mulai membuka, lalu ....
"Mr Michael...!!"
***Bersambung..
IG: kim_anandin_chan0619
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1