Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kesungguhan...


__ADS_3

Jangan lupa Like Rate Vote Kakak-Kakak sayang.. 😘😘


<<<<<


Ray semakin kesal dengan perkataan Pak Randy, lalu kemudian Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.


"Maaf Pak Randy, Bi Nana, sekarang saya bukan hanya Atasan Zuy, tapi saya juga Calon suaminya Zuy..."


Ungkap Ray di hadapan Pak Randy dan Bi Nana, membuat Pak Randy dan Bi Nana terkejut mendengarnya, Bi Nana pun langsung menunduk, akan tetapi senyuman terukir di wajah Bi Nana. Sedangkan Zuy yang berada di pelukan Ray hanya bisa terdiam.


"Tuan Ray, apakah anda benar-benar serius dengan ucapan anda barusan? atau anda hanya main-main saja?" tanya Pak Randy yang masih ingin menguji keseriusan Ray.


"Saya serius dengan ucapan saya barusan, bahwa saya calon suaminya Zuy, dan saya yang akan menikahinya," ungkap Ray dengan tegas.


"Apa anda sudah yakin dengan keputusan anda Tuan Muda?" tanya Pak Randy.


"Iya saya sangat yakin dengan keputusan saya," jawab Ray.


"Walau Zuy hanya gadis biasa, usianya lebih tua dari anda, pekerjaannya hanya OB dan masih banyak kekurangannya?" Pak Randy bertanya kembali.


Ray pun menganggukkan kepalanya, "Ya, Saya tidak peduli mau Kak Zuy OB, atau usianya lebih tua dari saya, ataupun banyak kekurangannya, Ray hanya ingin Kak Zuy menemani Ray, menjadi pendamping hidupku selamanya," ungkap Ray dengan serius.


Pak Randy lalu menyilangkan kedua tangannya di dadanya, matanya pun langsung menatap ke arah Ray dengan tajam.


"Buktikan pada kami kalau anda benar-benar ingin menikahinya..!!" pinta Pak Randy.


Ray langsung melepaskan Zuy dari pelukannya. Matanya menatap kembali ke Pak Randy.


"Saya akan buktikan pada Pak Randy dan Bi Nana, bahwa saya Rayyan G Michael, berjanji akan selalu mencintainya, melindunginya, dan membahagiakan Zoey Lestari untuk selamanya," ucap Ray dengan sungguh-sungguh.


Deeeg


Zuy pun tertegun saat mendengar ucapan Ray yang bersungguh-sungguh, jantungnya pun langsung berdegup kencang, "Tuan Muda.." batin Zuy sambil memegang dadanya.


"Lalu bagaimana kalau kami memintamu untuk menikahinya sekarang, apa kamu bersedia?" tanya Pak Randy menguji Ray kembali.


Mendengar pertanyaan dari Pak Randy, Zuy dan Ray pun terkejut, mata Zuy langsung melihat ke arah Pak Randy.


"Me-menikah..!! Paman Randy, Paman jangan becanda," pekik Zuy


Lalu Ray pun menyunggingkan senyuman Smirk dan berkata, "Kalau Pak Randy meminta Ray untuk menikahinya sekarang, dengan senang hati, detik ini juga Ray akan menikahinya."


"Tu-Tuan Muda, apa yang anda katakan barusan?" tanya Zuy yang terkejut.


Mendengar perkataan Ray yang benar-benar serius, Pak Randy pun langsung tersenyum, lalu ia melihat ke arah Bi Nana yang kalah itu tengah tertunduk.


"Bagaimana Na, apakah kau puas dengan kesungguhan dari Tuan Ray?" tanya Pak Randy sambil menepuk pundak Bi Nana.


"Iya, aku sangat puas," ucap Bi Nana sambil mengusap air matanya, lalu ia mengangkat kepalanya.


"I-ini sebenarnya ada apa?" tanya Zuy yang keheranan.


Bi Nana pun menatap tajam Zuy, dan berkata, "Ini adalah rencana Bibi agar kalian mau mengakui hubungan kalian di hadapan kami, Bibi dengar dari seseorang bahwa Tuan Muda adalah calon suamimu."


"Kalau Bi Nana gak melakukan ini, mau sampai kapan kalian menyembunyikan semua dari Bibi," sambung Bi Nana


Lalu Bi Nana bangkit dari duduknya dan tatapannya beralih pada Ray.


"Dan untuk anda Tuan Muda," lalu Bi Nana melangkahkan kakinya menuju ke arah Ray.


"Na, sabar Na..!" titah Pak Randy.


"Bi, Ray udah pernah bicara pada Bi Nana, namun selalu ada gangguan, dan lagi ...," belum juga menyelesaikan pembicaraan, Bi Nana tiba-tiba memeluk Ray.


"Tuan Muda, Bi Nana sangat berterimakasih, anda mau mengakui dan juga menerima kekurangan Zuy, Bi Nana percaya, kalau anda bisa jagain Zuy, hiks.." ucap Bi Nana sambil menangis.


Ray pun langsung membalas pelukan Bi Nana, "Terimakasih, Bi Nana sudah percaya pada Ray, tapi Ray ingin bertanya pada Bibi." ujar Ray


"Apa itu Tuan?"


"Apakah Bi Nana benar-benar mengizinkan Ray untuk menikahi Kakak eh maksudku Zuy?" tanya Ray.


Bi Nana segera melepaskan pelukannya, lalu kemudian ia memegang pipi Ray.


"Tentu saja, sebagai orangtua Zuy, Bi Nana sangat mengizinkan anda untuk menikahinya, tapi anda harus berjanji pada Bi Nana untuk menjaganya, melindunginya, dan membuatnya bahagia," pinta Bi Nana


"Karena Zuy dari kecil hidupnya tidak pernah bahagia, orang tuanya meninggalkannya saat masih kecil, apalagi saat anda meninggalkan kami dulu, Zuy selalu bersedih kalau mengingat anda," sambung Bi Nana.


Mendengar itu, wajah Zuy pun langsung memerah karena malu, ia pun menundukkan kepalanya.


"Apa anda bisa melakukannya Tuan Muda?" tanya Bi Nana kembali.


Ray pun melihat sekilas ke arah Zuy yang tengah menunduk, lalu ia kembali menatap Bi Nana. Ray langsung membungkukkan badannya sedikit, kemudian ia memegang tangan Bi Nana dan meletakkan tangan Bi Nana di kepalanya.


"Bibi, Ray berjanji akan membahagiakan Kak Zuy, Bibi boleh pegang janji Ray ini," ucap Ray.


"Baiklah, Bi Nana pegang janji anda Tuan Muda, tapi kalau Bi Nana dengar Zuy menangis karena anda, Bi Nana gak akan segan mengambil Zuy kembali," kata Bi Nana.

__ADS_1


Ray menganggukkan kepalanya, "Iya Bi Nana.."


Mereka langsung duduk dan mengobrol kembali.


********************


Β°Beberapa saat sebelumnya...


Sementara itu, setelah selesai menambal ban motornya, Davin dan Airin pun mampir ke tempat makan di pinggir jalan, karena sejak dari tadi, cacing di perut Davin sudah pada berdemo, mungkin karena efek mendorong motornya Airin.


"Maaf ya Pak Davin, merepotkan anda," ucap Airin.


"Santai saja Rin, aku senang kok, apalagi kamu teman baiknya Zuy," kata Davin sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


"Hah, tapi serius lho Pak, kalau gak ada Pak Davin mungkin aku bakalan dorong tuh motor," papar Airin.


"Hahaha, berarti makanan ini kamu yang traktir ya Rin, karena aku sudah menolongmu," pinta Davin menggoda Airin.


Mendengar itu, Airin pun langsung memicingkan matanya ke arah Davin.


"Cih dasar perhitungan," gerutu Airin.


"Hahaha.. becanda Rin, tenang aja ini aku yang traktir kok," ujar Davin.


"Waah serius Pak Davin, asik beruntung sekali punya atasan baik seperti Pak Davin, hahaha.." kata Airin sambil tertawa.


"Huuu.. muji kalau ada maunya saja," gumam Davin.


"Hahaha, iya maaf, kapan-kapan gantian deh aku yang traktir," ujar Airin


"Baiklah, aku tunggu.."


Lalu mereka pun melanjutkan makannya. Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan dan langsung bergegas pulang ke rumah.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Sementara itu, beberapa saat kemudian, Ray dan Zuy pun sudah berada di jalan menuju arah rumahnya, setelah lama berkunjung ke rumah Bi Nana.


"Euuum, Tuan Muda.."


"Ada apa Kak?" tanya Ray namun pandangannya tetap fokus pada jalanan, karena posisinya sedang menyetir.


Lalu Zuy melepaskan sealt beatnya, ia pun mendekat ke arah Ray, dan dengan ragu-ragu Zuy langsung..


CUP..!!


Jedug..


"Awww..." rintih Zuy karena kepalanya terbentur.


Melihat itu, Ray langsung melepaskan sealt beatnya dan mendekat ke arah Zuy.


"Kakak, Ray minta maaf, Ray benar-benar gak sengaja, mana yang sakit?" tanya Ray sambil mengusap dahi Zuy.


"Udah gak apa-apa Tuan, hanya saja sakit dikit," jawab Zuy, "Lalu kenapa anda berhenti mendadak Tuan?" sambung tanya Zuy


"Ya, karena Ray kaget saja, tiba-tiba ada yang mencium pipi Ray," ujar Ray sambil memegang pipi kirinya.


Zuy pun tersipu saat mendengar perkataan Ray, ia langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf Tuan Muda, Zuy sudah lancang cium anda, saat di rumah Bi Nana tadi, Zuy sangat tertegun dengan apa yang anda katakan pada Bi Nana, ternyata anda benar-benar serius dengan ucapan anda, sampai Bi Nana pun menangis seperti itu," jelas Zuy.


"Lalu..."


Zuy pun meneteskan air matanya, ia lalu meremas bajunya.


"Awalnya Zuy terlalu ragu, ragu tentang perasaan Zuy terhadap anda Tuan, saat tadi Bi Nana bilang kalau Zuy sedih ketika Tuan Muda pergi meninggalkan Zuy dulu. Memang benar Zuy selalu menangis bahkan hampir setiap hari, Zuy pikir kalau ini hanya perasaan seorang Kakak yang kehilangan adiknya. Tapi semakin lama Zuy menyadari kalau perasaanku ini sangatlah nyata, bahkan ketika Mrs Maria mengatakan bahwa anda calon tunangan Kimberly, rasanya dadaku sesak, seakan-akan Zuy tidak ikhlas. Itu berarti memang benar kalau Zuy itu mencintai anda sebagai seorang Laki-laki, dan bukan sebagai adik," ungkap Zuy.


"Jadi maksud Kakak?" tanya Ray dengan penuh harap mendapatkan jawaban dari Zuy.


Zuy lalu menatap ke arah Ray, ia pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, kalau kemaren Zuy sempat menggantungkan perasaan anda dan membuat anda menunggu, sekarang Zuy akan memberikan jawaban ke anda, bahwa Zuy menerima anda Tuan, Zuy mau menikah dengan anda Tuan, Zuy mau menjadi pendamping hidup anda Tuan Muda," ungkap Zuy


Seketika Ray pun langsung memeluk erat tubuh Zuy.


"Terimakasih, terimakasih banyak Kakak, Ray sangat senang, akhirnya Kakak memberikan jawaban itu pada Ray," ucap Ray dengan bahagia.


"Ta-tapi Tuan, Zuy juga mohon bantuannya, sebelum kita menikah, Zuy ingin kita seperti biasa saja Tuan Muda, Tuan Muda harus bersikap biasa terhadap Zuy saat berada di Perusahaan, anda mengerti kan maksud Zuy," pinta Zuy.


Mendengar itu, Ray pun melepaskan pelukannya, lalu ia memandangi Zuy, "Iya Ray mengerti, sangat mengerti Kak," papar Ray.


"Terimakasih banyak Tuan Muda, Zuy sangat se ...," ucap Zuy, namun terhenti karena...


Ray mendaratkan bibirnya tepat di bibir Zuy, membuat Zuy terkejut, lalu ia mendorong pelan tubuh Ray.


"Tuan Muda..."

__ADS_1


Ray lalu menyunggingkan senyumannya, "Itu balasan untuk Kakak, karena udah mencium pipi Ray secara tiba-tiba," papar Ray dengan sengaja menggoda Zuy.


Blush...


Wajahnya kembali memerah seperti kepiting yang di rebus.


"Aah Tuan Muda anda benar-benar ya, bukankah anda yang selalu mengambil kesempatan, dan lagi Zuy kan hanya mencium pipi anda, Tuan Muda..." pekik Zuy.


"Hahaha, wajahnya sudah memerah, berarti Kakak benar-benar menikmatinya, nanti kita lanjut di rumah ya," goda Ray.


"Tuan Mudaaaa..."


Ray pun terus terkekeh, lalu ia menyalakan mobilnya, sesaat kemudian ia pun melajukan mobilnya.


********************


Rumah Ray


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah, Ray pun segera memarkirkan mobilnya, setelah itu Ray turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu mobil sebelahnya. Ray pun mengulurkan tangannya ke arah Zuy.


"Kak ayo turun..!!" kata Ray,


Zuy langsung membalas uluran tangan Ray dan segera turun dari mobil. Kemudian mereka berjalan menuju ke arah pintu utama.


Ting Tong...


Mendengar suara bel berbunyi, Davin pun langsung membuka pintunya.


"Kalian baru pulang.." sambut Davin, Ray dan Zuy pun langsung masuk ke dalam rumah.


"Iya Pak Davin, kalau gitu Zuy masuk duluan ya Tuan Muda, Pak Davin," kata Zuy sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


"Hmmm, kenapa dengan Zuy, wajahnya memerah gitu, Tuan Muda apa anda tahu?" tanya Davin sambil melihat ke arah Zuy.


"Ya mungkin karena gerah, dan lagi Ray gak habis fikir lho, baru juga jam berapa, tapi adonan Moci udah tebal menempel di wajah Kak Davin," gerutu Ray melihat ke wajah Davin.


"Hah ini tuh supaya gantengnya gak luntur Tuan Ray," ujar Davin sambil mengedipkan matanya sehingga membuat Ray merinding.


"Hiiii, yaudah terserah Kak Davin, Ray mau ke kamar dulu," kata Ray, saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba..


Triiiiiing.. Triiiiiing..


Hp milik Ray berbunyi, ia lalu segera mengeluarkan Hpnya di saku jasnya, kemudian ia mengecek siapa yang menelponnya.


"Lesya..!!" lontar Ray,


Ia pun segera menjawab telponnya.


"Hai Sis.." sapa Ray


"Ay ini aku Kimberly..." ujarnya yang ternyata adalah Kimberly.


"Kimberly, kenapa kamu pakai hp Lesya?" tanya Ray


"Ya karena Ay gak pernah angkat telpon Kim, jadi Kim terpaksa nyuruh Lesya untuk telpon Ay," papar Kimberly.


"Maaf aku sangat sibuk, lalu ada perlu apa kamu menelponku?" tanya Ray.


"Ay, Kim kangen sama Ay, sebagai calon tunangan Kim, seharusnya Ay juga kangen dong sama Kim,"


"Lalu?!!"


"Ay, Daddy Mario menanyakan hubungan kita, dan Daddy meminta Ay pulang ke Amerika untuk membicarakan pertunangan kita, yang tinggal satu bulan lagi, " ujar Kimberly.


Ray pun terkejut mendengar perkataan Kimberly, lalu..


"Kimberly, Sorry untuk sekarang Ray tidak ingin membahas soal pertunangan, Ray sangat cape, ingin istirahat, Bye.."


Lalu tiba-tiba Ray memutuskan telponnya.


"Ah benar-benar sangat menyebalkan..." gerutu Ray sambil melempar hpnya ke sofa.


"Memangnya siapa yang menelpon anda, Tuan?" tanya Davin


"Kimberly, orang tuanya memintaku agar segera pulang ke Amerika untuk membicarakan tentang pertunanganku dengan Kimberly," jawab Ray. Lalu tiba-tiba..


Praaaang....


Mendengar suara gaduh, membuat Ray dan Davin terkejut, mereka pun langsung menoleh ke arah suara tersebut, betapa terkejutnya mereka ternyata suara gaduh tersebut berasal dari...


"Kakak...!!"


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... βœŒπŸ˜‰πŸ˜‰βœŒ

__ADS_1


__ADS_2