
<<<<<
Abang kurir itu pun menunjuk ke arah paket yang ia antar. "Itu paketnya, Nona." ujarnya.
"Hah!"
Zuy tercengang melihat beberapa kurir sedang membawa beberapa box dengan ukuran yang berbeda-beda. Kemudian mereka meletakkannya di teras Villa Z&R.
"I-itu paketnya?"
Abang kurir mengangguk. "Iya Nona."
"Ta-tapi kenapa sebanyak itu? Apa benar kalau penerima paket itu adalah Rayyan? Atau anda salah orang saja?" tanya Zuy menyidik.
"Tentu benar Nona, mana mungkin saya salah. Di catatan saya juga tertulis nama penerimanya adalah Rayyan G Michael," ujar Abang kurir. Lalu....
"Ada apa Zuy?" tanya Bi Nana menghampiri Zuy.
Pandangan Zuy pun langsung beralih ke Bi Nana.
"Eh Bi Nana, itu Bi ada yang ngirim paket buat Ray," jawab Zuy.
"Paket?" Bi Nana mengalihkan pandangannya ke arah luar. "Hah! Zuy i-itu ...." sambung kata Bi Nana yang terkejut.
"Iya Bi, makanya dari tadi Zuy kebingungan."
"Coba kamu tanya ke Abang kurirnya! Siapa yang mengirim paket sebanyak itu," suruh Bi Nana.
Zuy mengangguk, ia pun kembali melihat ke arah Abang kurir tersebut.
"Euuum, Bang kurir...."
"Iya Nona, ada apa?" sahut Bang kurir.
"Saya mau tanya, sebenarnya semua paket-paket itu dari mana? Dan siapa pengirimnya?" cecar Zuy.
"Sebentar Nona!" Abang kurir itu langsung melihat ke layar hpnya. "Semua paket ini di kirim dari Amerika, Nona. Dan nama pengirimnya adalah Mr. Richard Michael." imbuhnya.
Sontak membuat Zuy dan Bi Nana kembali terkejut.
"Apa! Amerika?" ucap Zuy
"Mr. Richard Michael!" sambung Bi Nana.
"Iya Nona, Nyonya. Kalau kalian gak percaya, nih ada catatannya, Nona." balas Bang kurir sambil menyodorkan hpnya.
Zuy lalu mengambil hp milik Bang kurir tersebut dan membaca catatan yang ada di hp itu.
"Ternyata benar-benar Mr. Michael," lirih Zuy.
Setelah selesai, Zuy langsung mengembalikan hp milik Bang kurir tersebut. Lalu temannya Bang kurir datang menghampiri.
"Kak...." sapa temannya
"Bagaimana, apa sudah selesai semuanya?" tanya Bang kurir.
Temannya mengangguk. "Iya, sudah semuanya Kak."
"Oke, kalian kembali ke mobil! Nanti aku menyusul," titah Bang kurir pada temannya.
"Iya Kak."
Teman-teman Bang kurir pun langsung melenggang pergi meninggalkan Bang kurir.
"Nona, kami sudah selesai mengantar paket anda," ujar Bang kurir.
"Oh iya Bang, terimakasih banyak." ucap Zuy.
"Iya Nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bang kurir.
Kemudian ia membalikkan badannya dan melangkah, akan tetapi....
"Bang kurir...." seru Zuy.
Sehingga membuat Bang kurir menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zuy.
"Iya Nona, ada apa lagi?" tanya Bang kurir.
Zuy lalu berjalan menghampiri Bang kurir itu sembari memberikan sesuatu padanya.
"Ini untuk anda!" kata Zuy.
"Tapi Nona ...."
"Udah ambil aja Bang! Saya ikhlas kok."
Bang kurir pun mengangguk. "Terimakasih banyak Nona."
"Sama-sama," balas Zuy.
Lalu Abang kurir tersebut kembali melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Villa Z&R. Sesaat setelah Bang kurir pergi, Henri pun datang dan menghampiri Zuy.
"Nyonya...." sapa Henri.
Zuy menyahutnya dengan anggukan kecil.
"Oh iya Nyonya, tadi saya berpapasan dengan Abang pengantar paket, Apa dia dari sini?" tanya Henri.
"Iya, dia memang dari sini dan mengantarkan paket-paket ini," Zuy menunjuk ke arah paket tersebut.
"Oh, mau saya bawakan ke dalam, Nyonya?" tawar Henri.
"Boleh, kalau gak merepotkan mu, Hen."
"Tentu saja tidak merepotkan Nyonya."
"Yaudah kalau begitu, aku tinggal ke dalam dulu ya!"
Henri mengangguk, Zuy pun melangkah masuk ke dalam Villanya. Saat berada di dalam, Zuy menghampiri Bi Nana.
"Rana...."
Bayi berusia tiga bulan itu pun tersenyum sambil menggerakkan tangan dan kakinya, pertanda bahwa ia minta di gendong Zuy.
"Dede Rana minta di gendong ya? Yaudah sini Kakak gendong."
Zuy pun langsung mengangkat tubuh Rana dari pangkuan Bi Nana dan menggendongnya.
"Makin berat aja nih si cantik, pipinya juga makin bulet kaya bakpao," ucap Zuy membuat Rana tersenyum menampilkan gusinya.
Karena merasa gemas, Zuy langsung menciumi pipi gembul Rana, seketika tawa khas Rana menggema. Bi Nana yang melihatnya pun hanya tersenyum. Dan saat Zuy tengah asik bercanda dengan Rana, tiba-tiba ....
Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....
Hp Zuy berdering, membuat Zuy menghentikan candaannya bersama Rana dan menyambar hpnya yang berada di atas meja.
"Ray!!" lirih Zuy melihat ke layar hpnya.
__ADS_1
Ia pun segera menjawabnya.
"Iya Ray...."
"Sayangku, kamu lagi apa? Udah makan siang apa belum?" tanya Ray.
"Zuy lagi gendong Rana, Ray. Zuy juga udah makan siang," jawab Zuy. "Kalau kamu udah makan siang apa belum?"
"Nih lagi makan siang sama Kak Davin. Oh iya sayangku, apa paket dari Daddy udah sampai?"
"Paketnya udah sampai, Ray. Hmmm, kenapa sebelumnya kamu gak bilang sih kalau Daddy kamu akan mengirim paket itu? Hampir aja Zuy berburuk sangka," cetus Zuy.
"Aku juga baru tau sayangku, barusan Daddy menelpon ku dan menanyakan soal paket itu," jelas Ray.
"Oh begitu ya."
"Iya sayangku. Euuum, udah dulu ya sayangku, aku mau lanjut makan lagi."
"Iya Ray...."
"I love you sayangku, Emmuuuaaach...."
"I love you too."
Mereka pun mengakhiri obrolannya.
"Hmmmm, dasar kamu Ray," lirih Zuy sambil meletakkan hpnya kembali di atas meja.
Lalu kemudian Henri datang menghampiri.
"Nyonya...."
Zuy menoleh. "Iya Hen, ada apa?"
"Semua paketnya sudah saya masukin, Nyonya." ujar Henri.
"Terimakasih Hen, oh iya apa kamu sudah makan?"
"Kalau nyarap udah tapi kalau makan belum, Nyonya."
"Hmmmm, kenapa gak bilang sih? Yaudah kamu makan dulu sana!" titah Zuy.
Henri mengangguk. "Baik Nyonya."
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.
"Bi, bantu Zuy buka paketnya yuk!" ajak Zuy.
"Iya Zuy."
Bi Nana pun bangkit dari posisinya, kemudian mereka berdua berjalan menuju di mana paketnya berada. Setibanya dan sebelum membuka box paket tersebut, Zuy terlebih dahulu memberikan Rana pada Bi Nana, selepas itu ia langsung membuka paketnya satu-persatu dan di mulai dari yang berukuran besar.
"A-apa ini?" pikir Zuy memandangi isi dari box paket yang berukuran besar itu.
Lalu di ambilnya isi dari box besar tersebut.
"Itu apa Zuy?" tanya Bi Nana.
"Zuy juga gak tau Bi, tapi seperti stroller baby," jawab Zuy sambil membuka plastik pembungkusnya.
Setelah selesai di buka, tanpa sengaja pandangan Zuy mengarah ke sebuah tombol yang berada di benda tersebut. Karena penasaran, Zuy pun langsung menekan tombol tersebut.
Lalu tiba-tiba, benda itu bergerak secara otomatis, sehingga membuat Bi Nana dan Zuy tercengang melihatnya. Dan ternyata dugaan Zuy benar, bahwa benda tersebut adalah sebuah Stroller untuk baby kembar (Stroller lipat).
"Ternyata benar-benar stroller," lirih Zuy.
"Cocok itu buat si kembar," ucap Bi Nana.
Bagaimana mereka tidak kagum, semua isi paket tersebut adalah barang-barang branded yang di kirim langsung dari Amerika. Barang tersebut tak lain adalah Stroller, satu box penuh pakaian bayi dari usia 0 sampai dua tahun, perlengkapan mandi bayi, macam-macam mainan, box bayi (bongkar pasang), ayunan, tas dan masih banyak lagi.
"Waaah, Mr Michael benar-benar sangat keren, gak tanggung-tanggung memberikan barang untuk kedua cucunya itu, bahkan Rana sama Nara juga dapat." Bi Nana memuji Daddy Michael.
"I-iya Bi, Zuy benar-benar gak menyangka, bahkan tangan dan kaki Zuy masih bergetar melihat semua barang-barang ini," lontar Zuy.
Sehingga membuat Bi Nana terkekeh geli, kemudian ia menempatkan tangannya di atas kepala Zuy.
"Kamu harus banyak bersyukur dengan apa yang kamu dapatkan sekarang ini, sayang!" tutur Bi Nana.
Zuy mengangguk. "Iya Bi Nana."
Bi Nana tersenyum dan menurunkan tangannya dari kepala Zuy.
"Zuy...." panggil Bi Nana.
"Iya Bi Nana," sahut Zuy.
"Maafin Bi Nana ya! Selama membesarkan mu, Bi Nana masih banyak kekurangan dan tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untuk mu," ucap Bi Nana.
Mendengar ucapan Bi Nana, Zuy pun tertegun dan langsung memeluk Bibinya itu.
"Bibi, kenapa bicara seperti itu? Justru Zuy sangat bersyukur, Bi Nana sudah mau merawat Zuy. Kalau gak ada Bi Nana, mungkin Zuy sudah menjadi anak terlantar dan liar. Terimakasih ya Bi."
"Sama-sama gadis kecilku," balas Bi Nana. "Dan semoga kebahagiaan selalu menyertai mu, gadis kecilku." sambung batinnya.
****************************
Rumah Dimas
Sementara itu, Dimas dan Eqitna nampak tengah duduk di ruang keluarga, begitu pula dengan Bunda Artiana yang sudah berada di rumah sejak beberapa minggu yang lalu.
Di karena kan kondisinya sudah membaik, maka Bunda Artiana di izinkan pulang ke rumah. Sedangkan Maria, ia sedang berada di dalam kamarnya.
"Dimas...."
Dimas menoleh. "Ada apa Bunda? Apa Bunda memerlukan sesuatu?"
"Zuy kenapa gak datang ya? Padahal Bunda udah ada di rumah." tanya Bunda Artiana.
"Hmmmm, kan kemaren Zuy udah datang jenguk Bunda sambil membawa makanan kesukaan Bunda, apa Bunda sudah lupa?" ujar Dimas.
"Apa benar yang di katakan Dimas itu, Eqitna?" tanya Bunda Artiana pada Eqitna.
Eqitna mengangguk. "Iya Bunda, yang di katakan Dimas itu benar. Kemaren sore Zuy datang bersama suaminya, bahkan suaminya Zuy sampai nyuapin Bunda."
"Oh, berarti Bunda lupa ya. Terus Maria? Apa mereka bertemu?" Bunda Artiana bertanya kembali.
Seketika membuat Dimas dan Eqitna saling memandang satu sama lain. Lalu ....
"Waktu Zuy datang bersama suaminya, Kak Maria sedang pergi bersama Mira, Bunda. Jadi mereka tidak saling bertemu." ujar Dimas, akan tetapi ada kebohongan di dalamnya.
Sebab saat Zuy datang bersama Ray, Maria sebenarnya ada di dalam kamarnya, akan tetapi ia tidak berani untuk menemui Zuy. Pasalnya sejak kedatangan Ray waktu itu, Maria selalu di hantui rasa ketakutan akan gertakan dari Ray, karena ia tahu bahwa Ray orangnya selalu serius dan tidak pernah main-main.
"Oh jadi begitu ya Dimas, dasar Maria anaknya datang malah pergi," gerutu Bunda Artiana.
"Mungkin Kak Maria ingin jalan-jalan, Bunda. Dan lagi Kak Maria kan tidak tahu kalau Zuy bakalan datang ke sini," lontar Dimas.
"Oh iya, Dimas, Eqi. Sebentar lagi Bunda akan punya cicit ya?"
__ADS_1
Dimas mengangguk dan berkata, "Iya Bunda, tidak lama lagi Zuy akan melahirkan cicit Bunda, apa Bunda bahagia?"
"Tentu Bunda sangat bahagia Dimas. Karena Bunda di berikan kesempatan untuk melihat kedua cicit Bunda yang akan lahir nanti," ucap Bunda Artiana.
"Iya Bunda, makanya Bunda sehat selalu ya! Dan lagi selain Bunda akan mendapatkan cicit dari Zuy, Bunda juga akan mendapatkan cucu baru lagi," jelas Dimas.
"Apa! Cucu baru? Maksud kamu apa Dimas?" tanya Bunda Artiana kebingungan.
Dimas tersenyum, kemudian ia mengarahkan tangannya ke perut Eqitna dan mengelusnya, sehingga membuat Bunda terpaku melihatnya.
"Maksud kamu Eqitna sedang mengandung?"
"Iya Bunda, Eqitna sedang mengandung adiknya Nayla," jawab Eqitna.
Seketika senyum Bunda Artiana langsung mengembang, kemudian Bunda Artiana langsung memeluk Eqitna.
"Selamat ya Eqi! Bunda benar-benar bahagia."
"Terimakasih Bunda," Eqitna membalas pelukan Bunda Artiana, begitu pula dengan Dimas yang ikut memeluk Bunda dan istrinya itu.
Sementara itu di dalam kamar Maria....
"Tsk, kenapa Bunda hanya mengingat Zuy dan anak Dimas saja, kenapa Bunda tidak pernah mengingat akan Kimberly. Walau bagaimanapun Kimberly juga cucunya. Aaargh kalau bukan karena gertakan si Ray, mungkin sekarang ini aku sudah berhasil membuat Zuy berpihak padaku," umpat Maria.
Kemudian ia mengangkat kepalanya dan mengarahkannya ke langit-langit.
"Kimberly, maafin Mam ya! Di saat kamu kesusahan, Mam tidak bisa berbuat apa-apa, tapi walau bagaimanapun Mam sangat menyayangi mu, Kimberly." sambung ucap Maria.
**************************
Tak terasa waktu sudah berlalu, matahari pun sudah bergeser dan akan kembali ke tempat asalnya.
Villa Z&R
Zuy nampak sedang berdiri di tepi pantai sambil mengarahkan pandangannya ke arah matahari yang akan terbenam.
"Selalu indah...." ucap Zuy yang kagum.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang seseorang melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy, sontak membuat Zuy terkejut dan menolehkan kepalanya.
"Ray! Hufft, bikin kaget aja," cetus Zuy
"Hahaha, maaf sayangku, lagian kamu anteng banget ngeliatin sunset-nya."
Zuy lalu melepaskan tangan Ray dan membalikkan badannya menghadap ke arah Ray.
"Habisnya kalau udah ngeliat sunset pikiranku jadi tenang, Ray." balas Zuy mengalungkan tangannya ke arah Ray.
Ray tersenyum, ia pun langsung mendaratkan ciuman ke wajah Zuy. Sesaat setelah puas ....
"Sayangku, ayo masuk!" Ray mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
Zuy mengangguk dan membalas uluran tangan Ray, saat hendak melangkah menuju ke arah Villa-nya, tiba-tiba ....
Aaaaaah....
Zuy memekik sambil memegangi perutnya, sontak membuat Ray terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.
"Sayangku, kamu kenapa?" tanya Ray, nampak dari raut wajahnya yang panik.
"Perutku kencang lagi, Ray." pekik Zuy.
"Apa! Yaudah kita duduk dulu!"
Ray menggiring Zuy ke kursi santai yang berada di dekatnya. Zuy pun langsung mendudukkan dirinya di kursi tersebut di barengi dengan Ray yang duduk di samping pujaan hatinya itu.
"Sayangku, apa sebaiknya aku menghubungi Dokter Eqitna untuk memeriksa mu?"
Zuy menggeleng. "Tidak usah Ray, bentar lagi juga sembuh."
"Tapi sayangku ...."
Zuy tersenyum dan memegang pipi Ray.
"Aku tidak apa-apa Ray, mungkin karena sudah mau memasuki bulannya, makanya Zuy sering kontraksi seperti ini," ujar Zuy.
Ray memanggut, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah perut besar pujaan hatinya itu.
"Anak-anak Daddy, kalian berdua yang anteng di sana ya! Sabar ya sayang, sebentar lagi kalian berdua akan bertemu dengan Daddy dan Mommy," ucap Ray mengelus perut Zuy dan menciumnya.
"Sayangku, ini pasti sangat berat ya?" tanya Ray.
Zuy menggeleng. "Tidak, Zuy tidak merasakan berat."
Ray mengangkat kepalanya kembali dan mengarahkan pandangannya ke arah Zuy.
"Maaf ya sayangku, gara-gara mengandung anak-anakku, kamu jadi kesusahan begini," ucap Ray dengan sendu.
"Ck, kamu bicara apa sih Ray? Aku gak merasa kesusahan kok, dan lagi ini kan anak-anak ku juga, jadi sudah kewajiban ku merawatnya. Mungkin nanti kalau mereka sudah lahir, aku juga pasti akan merindukan perut besar ku ini," ujar Zuy.
"Hmmmm, kalau nanti misalnya sayangku kangen dengan perut besar sayangku, ya gampang kita tinggal bikin lagi sampai sayangku hamil lagi, dan seterusnya seperti itu," lontar Ray menggoda Zuy.
Sehingga membuat Zuy mengerenyitkan keningnya.
"Apa! Dasar kamu ya, kamu pikir perutku ini apa Rayyan!" cetus Zuy sambil memukul pundak Ray.
Ray langsung menyemburkan tawanya.
Pffft....
"Hahaha.... Perut sayangku kan memang perut panda, makan aja gak cukup satu piring," ledeknya.
"Rayyan! Berhenti meledekku!"
Ray terus saja tertawa geli, karena puas menggoda pujaan hatinya itu.
Padahal sebenarnya maksud Ray ingin mengalihkan Zuy dari rasa sakit di perutnya itu.
Sesaat kemudian.....
"Sayangku, apa perut mu masih sakit?" tanya Ray.
"Sudah mendingan Ray, tidak seperti tadi," jawab Zuy.
"Oh, Syukurlah kalau begitu."
Ray lalu bangkit dari posisinya, kemudian ia mengulurkan tangannya kembali ke arah Zuy.
"Ayo kita masuk ke dalam! Mungkin yang lain sudah menunggu kita," ajak Ray.
"Iya Ray...."
Zuy membalas uluran Ray dan perlahan bangkit dari posisinya, kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke arah Villanya itu.
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌