Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Mirip Sama Papah....


__ADS_3

<<<<<


"Zuy anakku, Mamah sudah datang dan kembalinya Mamah kesini untuk meminta maaf padamu atas perbuatan yang telah Mamah lakukan selama ini. Meski sulit untuk mendapatkan maaf darimu, tapi Mamah akan berusaha."


Ucap dalam hati Maria, senyumnya terukir di wajahnya itu. Archo yang melihatnya pun merasa sedikit heran, soalnya selama berada di pesawat, Maria tidak banyak berbicara, hanya tertunduk diam dengan raut wajah yang sendu.


"Mam...." lirih Archo.


Maria mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Archo.


"Ada apa Archo?" tanya Archo.


"Tidak ada apa-apa Mam, Archo hanya senang melihat Mam tersenyum seperti itu," ujar Archo.


"Oh, Mam kira ada apa. Iya Mam tersenyum karena bahagia, akhirnya kita sampai di kota ini dengan selamat," ucap Maria.


"Iya Mam benar, Archo juga bahagia Mam. Rasanya Archo ingin langsung istirahat," balas Archo.


"Sabar Tuan Archo! Nanti kalau sampai rumah anda bisa istirahat," kata Dimas.


Pandangan Archo beralih ke arah Dimas.


"Tapi setelah mengantar Mam, saya mau langsung ke hotel Dok, karena saya sudah membooking satu kamar di hotel sini," jelas Archo.


"Lho, kirain mau menginap di rumah saya," lontar Dimas.


Archo menggeleng. "Tidak Dokter, lebih baik saya di hotel saja."


"Oh, yaudah kalau mau anda seperti itu, Tuan Archo. Tapi setidaknya malam ini menginap lah di rumah!" pinta Dimas.


Archo pun tersenyum dan berkata, "Gimana nanti aja ya Dok."


Tanpa terasa mereka sudah sampai parkiran, Dimas segera membuka bagasi mobilnya. Archo lalu menempatkan barang-barang bawaannya ke dalam bagasi. Sedangkan Dimas, ia mengangkat tubuh Maria dan masuk ke dalam mobil. Setelah selesai semuanya, begitu juga Archo dan Dimas yang sudah masuk ke dalam mobil, Dimas pun segera melajukan kendaraannya menuju ke rumahnya.


Selama di perjalanan, Maria hanya mengedarkan pandangannya ke arah jalanan lewat kaca mobil yang berada di sebelahnya. Dimas yang sedang mengemudikan mobilnya sesekali melihat ke arah Maria lewat kaca spion yang berada di depannya. Lalu ....


"Kak Maria, apa Kakak mau minum?" tawar Dimas.


"Tidak Dimas. Soalnya perut Kakak udah kembung banget gara-gara tadi di pesawat banyak minum," tolak Maria.


"Oh, yaudah kalau begitu," lirih Dimas.


"Euuum Dimas...."


"Iya Kak Maria," sahut Dimas


"Kakak dengar dari Archo, kalau istrimu itu yang memeriksa kandungan Zuy. Apa itu benar?" tanya Maria.


Mendengar pertanyaan dari Maria, Dimas dan Archo pun tersenyum bahagia. Karena mereka mendengar Maria menyebutkan nama Zuy dengan benar, bukan anak itu ataupun anak sial lagi.


"Iya Kak, Eqi yang memeriksanya. Itupun kami yang memohon pada Tuan Muda," jawab Dimas.


"Hmmm, memohon pada Tuan Muda!" lontar Maria yang terkejut.


Dimas mengangguk dan berkata, "Iya Kak. Soalnya itu permintaan Bunda, Beliau ingin kalau Eqitna menjadi Dokter kandungannya Zuy. Jadi Bunda memaksa kami untuk berbicara dengan Tuan Muda dan Zuy. Awalnya sih Tuan Muda sempat menolaknya karena ia sudah menunjuk Dokter kandungan lainnya. Akan tetapi setelah kami memberitahu mereka yang sebenarnya, mereka pun menyetujuinya."


"Oh, Syukurlah kalau begitu, jadi kita juga tahu perkembangan anaknya lewat Eqitna," ucap Maria.


Sontak membuat Dimas dan Archo tertegun mendengar ucapan Maria, dua pria berkacamata itu pun saling memandang satu sama lain. Lagi-lagi senyuman mereka terukir di wajahnya itu.


"Sepertinya Kakak benar-benar sudah berubah. Syukurlah kalau begitu," batin Dimas.


*****************


Rumah Dimas


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit, mereka akhirnya sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, Dimas dan Archo terlebih dahulu turun dari mobilnya. Lalu Archo mengambil kursi roda milik Maria dan meletakkannya di samping mobil Dimas. Kemudian Dimas mengangkat tubuh Maria dan mendudukkannya di atas kursi roda tersebut.


Sesaat setelahnya, mereka pun berjalan ke arah pintu masuk, saat pintu sudah terbuka, mereka segera masuk ke dalam rumah.


"Akhirnya kalian sampai di rumah," sambut Bunda Artiana yang sedari tadi menunggu kedatangan Dimas dan lainnya.


"Bunda...." lirih Maria.


Seketika pandangan Bunda Artiana mengarah ke Maria, lalu Bunda Artiana melangkah menghampiri Maria dan langsung memeluknya, tangis keduanya pun pecah.


"Maria, akhirnya kamu kembali. Bunda benar-benar sangat merindukanmu," lontar Bunda Artiana.


"Maaf Bunda, Maria kembali masih dengan keadaan seperti ini, Maria ...." Maria pun kembali menangis.


"Tidak apa-apa Maria, bagi Bunda yang penting kamu kembali dan kita bisa berkumpul bersama lagi," tutur Bunda Artiana sambil mengelus punggung Maria.


"Terimakasih Bunda," ucap Maria.


Sesaat setelah saling melepas rindu, mereka pun melepaskan pelukannya.


"Bunda, kenapa Bunda belum tidur?" tanya Maria.


"Itu karena Bunda sedang menunggu anak perempuan Bunda datang, makanya Bunda belum tidur," jawab Bunda Artiana.


Maria tertegun mendengar jawaban Bundanya, ia pun menundukkan kepalanya.


"Terimakasih karena sudah menunggu ku, Bunda." ucap Maria.


"Sama-sama, oh iya kalian pasti cape, lebih baik kalian langsung istirahat saja ya! Maria Bunda antar ke kamar kamu ya!" kata Bunda Artiana.


Maria mengangguk. "Iya Bunda."


"Yaudah kalau begitu biar Dimas yang mendorong kursi rodanya. Tuan Archo duduklah dulu!" ujar Dimas.


"Tidak Dokter, saya ingin ke kamar mandi," papar Archo.


"Oh yaudah kalau begitu, anda masih ingat kan kamar mandinya," cetus Dimas.


Archo menganggukkan kepalanya.


"Tentu saya masih ingat, yaudah saya ke kamar mandi dulu," Archo pun berjalan menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Dimas, Bunda Artiana dan Maria, melangkahkan kakinya menuju ke kamar Maria.


************************


Rumah Ray


Sementara itu di kamarnya, Zuy nampak terbangun dari tidurnya. Semenjak beberapa hari terakhir ini, ia tidak bisa tidur nyenyak dan beberapa kali sering terbangun. Entah itu ingin buang air kecil, merasakan kram pada kaki dan tangannya, dan lain sebagainya. Sekarang ini Zuy tengah merasakan tendangan dari kedua anaknya itu.


"Anak-anak, apa kalian lapar? Makanya malam-malam begini kalian menendang perut Mamah?" ucap Zuy sambil mengelus perutnya.


Setelah di elus perutnya, Zuy pun tidak merasakan tendangan dari si kembar.


"Ternyata kalian minta di elus sama Mamah ya? Hmmm.... Kalian berdua mirip sama Papah kalian, kalau mau tidur minta di elus dulu," seloroh Zuy sambil melihat ke arah Ray yang tengah tertidur pulas.


Sesaat kemudian, rasa kantuknya kembali menyerang Zuy, ia pun perlahan membaringkan tubuhnya. Setelah itu, Zuy mulai memejamkan matanya dan tertidur.


...----------------...


Tak terasa malam yang panjang telah berganti menjadi pagi. Matahari pun sudah menampakkan sinarnya di pagi hari.


Di meja makan. Ray, Zuy dan Davin tengah menikmati sarapannya.


"Kak, bagaimana persiapannya? Apa sudah semuanya?" tanya Ray pada Davin.


"Tentu sudah Tuan, sesuai rencana kita sejak awal," ujar Davin.


Ray memanggut. "Bagus! Pokoknya kita jangan biarkan dalang tikus terlepas!"


"Siap Tuan," balas Davin.


"Ray kamu mau nangkap tikus? Memangnya di sini ada tikus?" tanya Zuy dengan polosnya.


Mendengar itu Davin dan Ray terkekeh geli, sehingga membuat Zuy kebingungan.


"Kenapa kalian terkekeh seperti itu?" tanya Zuy


"Hahaha, habisnya kamu lucu Zuy, lagian rumah segede gini mana ada tikusnya. Tikus yang di maksud Tuan Ray itu penjahat yang sudah membuat Wawan celaka," jelas Davin.

__ADS_1


Pandangan Zuy langsung mengarah ke Ray dan bertanya, "Benarkah itu Ray?"


"Iya sayangku, yang di katakan Kak Davin itu benar," ujar Ray.


"Oh.... Kalau begitu tangkap saja tikusnya, jangan kasih ampun! Karena dia juga, aku sampai ketakutan setengah mati," cicit Zuy.


Membuat Ray dan Davin tersenyum, lalu Ray memegang pipi Zuy.


"Pasti sayangku, tikus itu akan segera kita tangkap dan di hukum seberat-beratnya karena sudah melukai orang-orang ku dan juga membuat sayangku ketakutan," kata Ray dengan bersungguh-sungguh.


Zuy pun menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih Ray," ucap Zuy.


"Anything for you," balas Ray,


Sekilas Ray mencium bibir Zuy, lalu....


"Ehemm.... Kalau mau bermesraan nanti saja! Cepat lanjutkan makannya!" pekik Davin.


Ray pun langsung mengerenyitkan dahinya.


"Ck, dasar adonan moci," cetus Ray.


Lalu mereka melanjutkan sarapannya.


—Pukul 09.15am


Ray tengah berada di walk in closetnya bersama Zuy, sedangkan Davin sudah berangkat terlebih dahulu, karena ia akan menghadiri rapat.


"Ray, kamu harus waspada dan berhati-hati, jangan sampai lengah!" tutur Zuy sambil mengancingkan kemeja Ray.


"Iya sayangku, aku akan selalu berhati-hati. Doain ya sayangku! Semoga rencana ku berhasil," ucap Ray.


Zuy mengangguk. "Iya, aku selalu doain kamu Ray."


"Aku makin cinta sama sayangku...."


Cup....


Cup....


Cup....


Ray menghujani ciuman di wajah Zuy.


"Udah cukup Ray!" pekik Zuy. "Mana dasinya?" imbuhnya.


Ray segera menghentikan aksinya sambil terkekeh.


"Maaf sayangku, habisnya aku gemas sih sama sayangku," ucap Ray memberikan dasinya.


Zuy lalu mengambil dasi dari tangan Ray dan memasangkannya. Sesaat setelah selesai dengan semuanya, mereka pun melangkah keluar bersama. Ketika sudah menuruni anak tangga, mereka berjalan keluar dan di sana sudah ada beberapa pengawal menunggu, termasuk Henri.


"Sayangku, aku berangkat ya!" pamit Ray.


"Iya, hati-hati Ray." ucap Zuy.


Pengawal Ray membukakan pintu mobilnya untuk Ray, kemudian Ray segera masuk ke dalam mobilnya. setelah semua sudah berada di posisi masing-masing, tentunya dengan kendaraan yang berbeda. Mereka pun langsung berangkat ke tempat yang akan mereka tuju.


Ray lalu menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah pujaan hatinya itu. Tentu saja Zuy membalas lambaian tangan Ray. Setelah semua sudah tak terlihat, Zuy menurunkan tangannya.


"Semoga kamu berhasil Ray. Oh iya mumpung ada tukang sampah lewat, lebih baik aku buang sampah dulu, sekalian gerak dan lagi Bu Ima juga masih di pasar," ucap Zuy, ia lalu berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil sampahnya.


Setelah selesai mengambil sampah di dapur, Zuy melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu pagar, akan tetapi ia di ikuti oleh si manis dan beberapa anabul lainnya.


Meong....


Suara khas dari si manis membuat Zuy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah si manis.


"Anak-anak kalian lapar ya? Nanti Mamah kasih makan setelah buang sampah ini. Kalian tunggu di sini aja!" kata Zuy pada peliharaannya itu.


Mendengar perkataan dari Zuy, semuanya langsung terdiam. Tapi tidak untuk si manis, ia malah menempel ke kaki Zuy.


Ia pun kembali melangkahkan kakinya, setelah sampai di pintu pagar.


"Nyonya, anda mau kemana?" tanya penjaga.


"Saya mau buang sampah," jawab Zuy.


"Biar saya saja Nyonya," tawarnya.


Akan tetapi Zuy malah menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah biar saya saja, lagian saya juga harus banyak jalan," ucap Zuy menolak halus.


Penjaga itu pun mengangguk, lalu ia membukakan pintu pagarnya, setelah pintu pagar terbuka, Zuy melangkah keluar.


"Pak tunggu sebentar!" seru Zuy.


Seketika tukang sampah itu pun berhenti, Zuy lalu menghampirinya.


"Ini ketinggalan Pak," kata Zuy sambil membuang sampah ke tempatnya.


Bapak itu hanya mengangguk saja, karena si bapak tukang sampah memang tidak bisa berbicara, lalu kemudian Zuy memberikan sebuah bingkisan untuknya.


"Ini untuk Bapak ya," ujar Zuy.


Bapak itu pun menerimanya sambil mengucapkan terimakasih, walaupun hanya menggunakan bahasa isyarat. Tentu saja Zuy mengerti apa yang di ucapkan Bapak tersebut.


"Sama-sama Pak," balas Zuy, ia pun menyunggingkan senyumannya.


Sementara itu di sisi lain, nampak sebuah mobil yang tengah berhenti tak jauh dari tempat Zuy berdiri. Mobil tersebut ternyata milik Bunda Artiana, dan yang berada di dalam mobil tersebut ada Maria dan Archo.


......................


Beberapa saat sebelumnya....


Di rumah Dimas, Archo dan Bunda Artiana nampak tengah mengobrol di ruang keluarga. Sedangkan Dimas dan Eqitna sudah berangkat ke rumah sakit.


"Nak Archo, apa kamu akan kembali ke Amerika?" tanya Bunda Artiana.


"Iya Bunda, soalnya di sana masih banyak pekerjaan," jawab Archo.


Bunda Artiana pun memasang raut wajah yang sedih.


"Bunda ada apa?" tanya Archo karena melihat raut wajah Bunda Artiana yang sendu.


Bunda Artiana menggeleng, lalu ia memegang pipi Archo.


"Bunda tidak apa-apa Nak. Bunda hanya merasa kalau Bunda bakalan kangen lagi sama kamu, karena Bunda sudah menganggap kamu sebagai cucu Bunda sendiri," ujar Bunda Artiana.


Pria berkacamata itu langsung tertegun saat mendengarnya, ia lalu memegang erat tangan Bunda Artiana.


"Terimakasih, karena Bunda sudah menganggap Archo sebagai cucu Bunda, Archo sangat senang mendengarnya," ucap Archo.


"Sama-sama Nak, Bunda juga senang." balas Bunda Artiana.


Lalu kemudian Maria datang menghampiri Archo dan Bunda Artiana.


"Bunda, Archo...." panggil Maria.


Seketika mereka langsung menoleh ke arah Maria.


"Mam > Maria!" sahut mereka secara bersamaan.


"Ada apa Maria?" tanya Bunda Artiana.


Maria lalu menundukkan kepalanya. "Begini Bun, Maria ingin pergi ke suatu tempat, bersama dengan Archo. Apa Maria boleh pinjam mobil Bunda?" tanyanya pada Bunda Artiana.


"Tentu boleh Maria, pakai saja!" kata Bunda Artiana.


Maria seketika langsung mengangkat kepalanya dan menatap Bunda Artiana dengan wajah sumringah.


"Beneran Bunda?"

__ADS_1


Bunda Artiana mengangguk. "Iya Maria, udah kalau mau pakai mobil Bunda tinggal pakai saja! Gak perlu minta izin segala, kaya sama siapa aja."


"Terimakasih Bunda. Euuum, apa Bunda mau ikut?" tanya Maria.


"Tidak Maria, ada kerjaan yang harus Bunda kerjakan," tolak Bunda Artiana.


Maria pun memanggut. "Oh yaudah kalau begitu, Maria dan Archo pergi dulu ya Bunda," pamit Maria. "Ayo Archo!"


Archo mengangguk dan langsung beranjak dari tempat duduknya, setelah Archo berpamitan dengan Bunda Artiana, ia pun mendorong kursi roda Maria dan berjalan keluar.


Sesampainya Archo mengambil mobil milik Bunda Artiana, setelah itu Archo mengangkat tubuh Maria dan masuk ke mobil, begitu pula dengan Archo.


"Mam, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Archo.


"Sebenarnya Mam ingin menemuinya, Archo." jawab Archo.


"Oh, yaudah kalau begitu, ayo kita kesana!"


Archo pun melajukan mobilnya. Tak berapa lama mereka pun sampai di tempat yang di tuju, yaitu rumah Ray. Saat sudah beberapa jarak dari rumah Ray, Archo menghentikan laju mobilnya, karena ia melihat Zuy keluar.


"Zoya...."


Flashback end


......................


Maria terpaku melihat anaknya itu, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Sudah berapa lama aku melewatkannya, sudah berapa banyak penderitaan yang ia alami karena ulahku. Tapi kamu tetap tersenyum seperti itu," lirih Maria.


Archo yang mendengarnya pun langsung menoleh ke arah Maria.


"Mam kenapa?" tanya Archo.


"Mam tidak apa-apa Archo, Mam hanya merasa bahagia melihatnya lagi, apa lagi melihat perutnya yang sudah membesar seperti itu, pasti dia sudah mulai keberatan, dan lagi di dalamnya ada dua bayinya. Mam jadi teringat saat sedang hamil dia dan Kimberly," ucap Maria mengusap air matanya.


"Iya Mam. Tapi keduanya memiliki sifat yang berbeda," papar Archo.


Maria mengangguk. "Kamu benar Archo. Meskipun wajah dan bakatnya menurun dariku, tapi sifat baik dan kasih sayangnya di turunkan oleh Jordhan," ungkapnya.


Lalu mereka melihat Zuy sudah melangkah menuju ke arah rumah, Archo pun langsung menyalakan mobilnya kembali, saat hendak melajukan mobilnya ke arah rumah Ray. Tiba-tiba....


"Archo, kita pulang!" ajak Maria.


Archo terkejut dan menoleh ke arah Maria.


"Kenapa pulang? Bukannya Mam ingin menemuinya?" tanya Archo.


"Mam rasa sekarang belum waktunya, dan Mam belum siap Archo," ujar Maria. "Lebih baik kita pulang saja!" imbuhnya.


Archo pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya.


"Baiklah Mam, kita pulang sekarang," Archo pun menuruti perkataan Maria.


Archo lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah Bunda Artiana.


Zuy yang sudah berada di depan pagar rumahnya, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya sambil mengedarkan pandangannya.


"Perasaan kaya ada yang memperhatikan ku, tapi siapa?" lirih Zuy.


Lalu....


"Nak Zuy, kenapa melamun?" seru Bu Ima yang baru pulang dari pasar.


Zuy tersadar dan menoleh. "Eh Bu Ima, Zuy gak apa-apa kok, yaudah ayo masuk Bu!"


Bu Ima menganggukkan kepalanya, Lalu mereka pun melangkah masuk.


**********************


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di Perusahaan milik Pak Wildan. Davin sudah berada di rapat bersama perwakilan dari perusahaan lainnya.


"Kenapa belum datang juga sih?" gerutu seseorang yang berada di samping Davin.


"Mungkin sedang nyalon dulu, makanya lama," celetuk Davin.


Mendengar itu, semua yang berada di ruang itu pun pada terkekeh geli. Tak lama Pak Wildan pun datang dengan gaya rambut seperti anak muda.


"Anda benar Pak, lihatlah gaya rambutnya itu," bisik rekannya Davin. Lalu....


"Ehemm, maaf kalau saya terlambat, tadi ada sedikit masalah," ujar Pak Wildan. "Oh iya Pak Davin, bagaimana kabar Tuan Ray sekarang?" sambung tanya Pak Wildan.


"Ya masih seperti kemaren-kemaren," jawab Davin dengan nada di buat sendu.


"Oh, semoga cepat sembuh ya, padahal awalnya aku ingin menunjukkan kepada Tuan Ray, tentang apa yang di lakukan oleh Tuan Ray," papar Pak Wildan.


"Yang di lakukan Tuan Ray? Memang apa?" tanya salah seorang yang berada di sana.


"Apa kalian tidak merasa bahwa Tuan Ray telah berbuat curang dalam menjalani perusahaannya," jelas Pak Wildan yang berbohong.


Sontak membuat semua orang jadi pada berbisik, sedangkan Davin ia hanya santai sambil tersenyum sinis.


"Pak Davin, apa yang di katakan Pak Wildan itu benar? Bahwa Tuan Ray sudah melakukan kecurangan?" tanya salah satu rekannya.


Davin lalu menegakkan tubuhnya dan menumpuhkan tangannya di atas meja.


"Apa kalian merasa kalau Tuan Ray berbuat curang?" tanya Davin.


Semuanya pun kembali berbisik, lalu Pak Wildan membagikan sebuah kertas kepada masing-masing orang yang berada di sana.


"Itu adalah bukti yang di lakukan oleh Tuan Ray," kata Pak Wildan.


Mereka langsung membaca isi dari selembar kertas tersebut. Lalu....


"Pak Davin, tolong jelaskan pada kami! Apa maksudnya ini?" tanya rekannya yang mulai termakan oleh sebuah kertas.


"Apa dengan kertas ini kalian langsung percaya begitu saja? Harusnya ada bukti lainnya bukan kertas seperti ini!" cetus Davin.


Pak Wildan pun mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Davin.


"Pak Davin, bukan hanya itu saja. Kami juga mempunyai bukti lain," kata Pak Wildan.


"Kalau begitu tunjukkan!" pinta Davin.


Pak Wildan menyuruh asistennya menunjukkan bukti lainnya, ia pun menuruti perintah dari Pak Wildan, lalu ia membuka laptopnya dan menghubungkannya ke arah layar besar, Pak Wildan pun tersenyum bahagia.


"Kena kau Tuan Ray, inilah akibatnya melawan ku," batin Pak Wildan.


Akan tetapi.....


"Apa yang anda tunjukkan pada kami, Pak Wildan?" tanya salah satu rekannya.


Pak Wildan langsung menoleh ke arah layar tersebut, dan betapa terkejutnya dia, ternyata adalah sebuah Video percakapan antara dia dan montir bengkel.


"Hei apa yang kau lakukan? Cepat matikan!" sergah Pak Wildan.


"Maaf Pak, tapi ini tidak bisa di matikan," kata asistennya.


"Dasar bodoh!" umpat Pak Wildan.


Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka, seseorang menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam ruang rapat tersebut.


"Apa anda menyukai kejutan dariku, Pak Wildan!"


Pak Wildan terkejut mendengar suara khas dari orang tersebut, lalu ia menoleh ke arahnya.


"Tu-Tuan Ray!"


****Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2