Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Bicara....


__ADS_3

<<<<<


"Nak, pria di hadapan kamu ini namanya Mr Mario dan dia adalah suami dari Maria, Ayah dari Archo dan Kimberly," jelas Bunda Artiana.


"A-ayah Kimberly?"


Zuy sangat terkejut setelah ia mengetahui tentang siapa pria beranjak tua di hadapannya itu yang ternyata adalah suami dari Maria yaitu Ibu kandungnya Zuy dan dalam arti Daddy Mario juga adalah Ayah tirinya Zuy.


Deeg....


Seketika jantungnya pun berdegup kencang, sorot matanya pun memancarkan aura tak biasa, seakan ingin meluapkan emosi yang ia pendam selama bertahun-tahun kepada pria beranjak tua yang ada di hadapannya itu.


"Jadi pria ini yang sudah membawa Mrs Maria pergi meninggalkan ku dan Papah," batin Zuy.


Dan tanpa sadarnya Zuy menggenggam kuat tangan Bunda Artiana sehingga membuat Bunda Artiana merasa kesakitan.


"Cucuku...." lirih Bunda Artiana.


Zuy pun tersadar dan memalingkan wajahnya ke Bunda Artiana, melihat ekspresi wajah Bunda Artiana yang nampak, seketika matanya melirik ke arah tangannya.


"Ah, Maafin Zuy, Nek! Zuy gak sengaja," ucap Zuy melepaskan genggamannya.


"Tidak apa-apa Cucuku," balas Bunda Artiana.


Kemudian Zuy kembali meraih tangan Bunda Artiana dan mengelus telapak tangannya yang memerah.


"Mana yang sakit Nek? Sini biar Zuy obati!"


Bunda Artiana tersenyum dan berkata, "Tidak ada yang sakit Cucuku, tangan Nenek baik-baik saja."


"Tapi barusan ...."


"Barusan tangan Nenek hanya kesemutan aja tapi sekarang udah sembuh kok," ujar Bunda menggerakkan tangannya.


Padahal sebenarnya tangan Bunda Artiana sakit karena Zuy menggenggamnya terlalu kuat dan bukan karena kesemutan. Akan tetapi Bunda Artiana terpaksa berbohong pada Zuy.


Ya Bunda Artiana terpaksa melakukan itu sebab Bunda tidak ingin cucunya merasa bersalah.


"Oh, Syukurlah kalau begitu, sekali lagi Zuy minta maaf ya kalau Zuy nyakitin tangan Nenek!"


"Iya cucuku." Bunda Artiana mengelus rambut Zuy. "Yaudah kalau gitu kita duduk yuk!" sambung ajaknya.


Zuy menganggukkan kepalanya, mereka pun langsung mendudukkan dirinya masing-masing.


Sesaat....


"Maaf semuanya, bisakah kalian tinggalkan kami berdua saja! Soalnya saya ingin berbicara dengannya." pinta Daddy Mario sambil menunjuk ke arah Zuy.


"Apa!" Zuy tersentak kaget kemudian bertanya, "Anda ingin bicara berdua dengan saya?"


Daddy Mario mengangguk. "Iya Zuy. Kamu mau ya, hanya sebentar saja!"


Sebelumnya Zuy menghela nafas panjangnya.


"Baiklah Mister." Zuy menyetujui permintaan Daddy Mario membuat Daddy Mario tersenyum bahagia.


"Yaudah kalau begitu Nenek tinggal ya Cucuku. Kebetulan Nenek juga mau main dengan cicit-cicit lucunya Nenek." kata Bunda Artiana yang perlahan bangkit dari duduknya.


"Adriene juga ikut main sama mereka, Bunda." sambung Adriene yang juga beranjak dari tempat duduknya.


Bunda Artiana beserta lainnya pun melangkah keluar meninggalkan Zuy dan Daddy Mario.


Setelah itu....


"Zuy...." Daddy Mario kembali menyapa Zuy.


Zuy pun mengarahkan pandangannya ke Daddy Mario.


"Hmmmm...." sahut Zuy.


"Emmm, bagaimana kabar kamu sekarang?" Daddy Mario menanyakan lagi kabar Zuy.


Zuy tersenyum sopan. "Seperti yang anda lihat Mister, kabar saya baik-baik saja," jawabnya santai.


"Syukurlah kalau begitu, saya sangat senang mendengarnya. Oh iya saya dengar dari Nyonya Artiana, katanya Om kamu meninggal ya?" lontar Daddy Mario sekaligus bertanya.


"I-iya...." Zuy menjawabnya dengan singkat.


"Oh, saya turut berdukacita ya Zuy, semoga Om kamu di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi Tuhan."


"Iya terimakasih...." ucap Zuy di susul senyum tipisnya.


Seketika suasana kembali hening dan terlihat bahwa mereka berdua masih sama-sama canggung. Lalu....


"Zuy...."


"...." Zuy melirik kan matanya ke Daddy Mario.


Sebelum berkata, Daddy Mario membuang nafasnya terlebih dahulu.


"Zuy, entah harus mulai dari mana saya bicara. Tapi maaf sebelumnya aku ingin sekali bertanya padamu." papar Daddy Mario.


Zuy mengerenyit. "Bertanya pada saya? Memangnya apa yang ingin anda tanyakan, Mister?"


"Saya ingin bertanya tentang kehidupan mu, Zuy. Apa selama ini kamu hidup dengan baik? Apa selama ini kamu merasakan kesusahan? Apalagi saat Maria meninggalkan mu dulu." cecar Daddy Mario.


Zuy menghela nafasnya. "Oh jadi ini yang ingin anda tanyakan ke saya ya Mister? Apa anda benar-benar penasaran dengan kehidupan saya selama ini?"


Daddy Mario menganggukkan kepalanya.


"Ya, kalau boleh jujur saya memang sangat penasaran dengan kehidupan kamu, maka dari itu saya menanyakan hal ini ke kamu, Zuy." ujar Daddy Mario.


"Mr Mario yang terhormat, jika anda ingin mengetahui bagaimana kehidupan saya, baiklah saya akan menjelaskannya. Kehidupan saya saat ini baik-baik saja bahkan sangat baik dan bahagia. Ya meskipun dulu saya selalu mengalami kesusahan, di mulai saat Mamah pergi meninggalkan saya serta Papah demi menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Lalu selang beberapa bulan setelah kepergian Mamah, Papah juga ikut pergi meninggalkan saya, namun kepergian Papah bukan seperti Mamah melainkan di ambil kembali oleh sang Pencipta. Tidak perlu di perjelaskan lagi, pasti anda juga tau kan saat itu saya seperti apa, ya walaupun pada saat itu saya hanyalah seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa tapi seiring berjalannya waktu, saya merasakan sesuatu yang namanya rasa rindu dan penasaran siapa Ibu kandung saya sebenarnya, kenapa dia meninggalkan saya saat saya masih membutuhkan kasih sayangnya. Itu semua yang saya rasakan selama saya belum tahu siapa Ibu kandung saya sebenarnya. Dan setelah sekian lama bahkan hampir 30 tahun usia saya, akhirnya saya mengetahui siapa Mamah yang ternyata adalah orang yang saya idolakan selama ini, bukan hanya itu saja bahkan saya juga baru tahu kalau saya masih mempunyai Nenek serta Paman. Dan itu benar-benar membuat saya sangat bahagia, namun pada akhirnya Mamah ...." ungkap Zuy dengan panjangnya serta di barengi aliran bening dari matanya.


"Mamah kenapa?" tanya Daddy Mario.


Zuy menggeleng seraya mengusap air matanya.


"Tidak, bukan apa-apa. Ya itulah kisah kehidupan saya Mister. Namun di balik itu semua saya masih beruntung karena saya memiliki seorang yang memiliki hati malaikat yang selalu menjaga, melindungi, merawat dan membesarkan saya hingga saya seperti sekarang ini dan beliau adalah Bi Nana. Kalau gak ada beliau, mungkin saya tidak akan seperti sekarang ini. Mungkin saya akan menjadi anak gelandangan atau lebih parah lagi. Dan itu semua karena keegoisan anda yang sudah mengambil Mamah dari saya dan Papah, Mr Mario." Zuy meluapkan apa yang ia pendam selama ini. Tangisnya pun langsung pecah.


Seketika membuat Daddy Mario terenyuh dan tertegun mendengarnya, bahkan nampak buliran air mata yang lolos membasahi pipi Daddy Mario.


"Zuy, maafkan atas kesalahan saya ini! Saya dulu memang egois dan tak berperasaan karena sudah memisahkan seorang Ibu dari anaknya dan seorang istri dari suaminya. Itu semua saya lakukan karena saya mempunyai seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Maka dari itu saya mengambil dan memisahkan Maria dari kalian." ucap Daddy Mario.


"Barusan anda bilang kalau anda melakukan itu karena anak anda membutuhkan seorang Ibu? Lalu bagaimana dengan saya yang saat itu masih sangat membutuhkan kasih sayangnya? Apa anda tidak memikirkan bagaimana saya?" pekik Zuy.


Daddy Mario menggelengkan kepalanya.


"Tidak, saya tidak memikirkan tentang perasaan kamu ataupun Ayah kamu. Yang saya pikirkan hanyalah anak saya dan kesenangan saya sendiri," ujar Daddy Mario.


"Anda benar-benar kejam, Mr Mario." sungut Zuy.


Daddy Mario pun manggut-manggut.


"Iya memang saya kejam bahkan sangat kejam. Dan akibat kekejaman yang saya lakukan terhadap kalian, saya akhirnya mendapatkan karmanya. Saya di beri cobaan oleh Tuhan, dari mulai saya sakit parah dan hampir mening ...."

__ADS_1


"Anda memang pantas mendapatkannya, Mr Mario." Zuy memotong perkataan Daddy Mario.


"Ya kamu benar Zuy, tapi bukan hanya itu saja karma itu pun masih berlanjut dan terus menimpa ke keluarga saya. Perusahaan hampir bangkrut, Maria yang terkena stroke bahkan Kimberly yang sekarang masih kritis di rumah sakit," papar Daddy Mario.


"Apa! Kimberly kritis?" Zuy terkejut saat mendengar keadaan Kimberly.


"Iya Zuy, Kimberly kritis akibat di tusuk oleh teman satu tahanannya," balas Daddy Mario.


"Tahanan! Maksud anda Kimberly di tahan?" lagi-lagi Zuy di buat terkejut.


Daddy Mario menganggukkan kepalanya.


"Iya, Kimberly di tahan karena ia sudah mencelakai dan memfitnah temannya yang sama-sama seorang model. Ya Kimberly melakukan itu mungkin karena ia masih merasakan sakit hati gara-gara calon tunangannya itu tiba-tiba membatalkan acara pertunangannya dengan Kimberly bahkan ia sampai mencampakkan Kimberly demi wanita lain yang gak jelas siapa orangnya itu." ujar Daddy Mario.


"Ca-calon tunangan Kimberly? Apa jangan-jangan yang di maksudnya itu Rayyan?" batin Zuy.


Kemudian....


"Padahal Kimberly anak yang baik, patuh, penurut dan tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tapi setelah di campakkan oleh calon tunangannya yang bernama Rayyan, kini sifat dan sikapnya berubah dari sebelumnya. Saya benar-benar tidak habis fikir hanya karena seorang wanita yang gak jelas, Ray sampai tega berbuat seperti itu terhadap Kimberly yang jelas-jelas dari dulu selalu menemaninya," lontar Daddy Mario, nampaknya ia sangat kecewa dengan Ray.


Nyuuut....


Sontak dada Zuy langsung terasa nyeri seperti tertusuk beberapa jarum, ia pun menundukkan kepalanya dan meremas kuat bajunya.


Lalu....


"Zuy...." tegur Daddy Mario.


Zuy pun langsung mengangkat kembali kepada dan menatap Daddy Mario.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Daddy Mario.


"Kalau boleh jujur, saya tidak sedang baik-baik saja. Apalagi setelah mendengar perkataan anda, Mr Mario." jawab Zuy dengan ketusnya.


Sesaat Daddy Mario menghela nafasnya kembali.


"Apa kamu benar-benar marah dan tidak memaafkan kesalahan saya ini?"


"Mr Mario, sebelum saya menjawab pertanyaan anda, terlebih dahulu saya ingin bertanya pada anda," papar Zuy.


"Silahkan kalau kamu ingin bertanya pada saya, Zuy!" Daddy Mario pun mempersilahkan Zuy untuk bertanya.


"Kalau misalnya anda tahu siapa wanita yang bersama dengan Ray, apa yang akan anda lakukan pada wanita itu?" tanya Zuy.


"Ya tentu saja saya ingin memperingatkan dia untuk segera meninggalkan Rayyan," jawab Daddy Mario.


"Lalu kalau ia menolaknya bagaimana? Apa anda akan memberikan uang padanya?" Zuy kembali bertanya, nampak tangannya masih meremas kuat bajunya.


"Tentu saja saya akan memberikan uang bahkan apapun yang ia minta akan saya kasih, asalkan wanita itu mau meninggalkan Rayyan!" ujar Daddy Mario.


"Oh ternyata begitu ya?" lirih Zuy.


"Iya, sama seperti kamu. Saya akan memberikan apapun yang kamu minta Zuy, asalkan kamu mau memaafkan semua kesalahan saya dan berdamai dengan saya!" balas Daddy Mario.


Mendengar itu sontak Zuy langsung mengerutkan keningnya.


"Apa maksud perkataan anda barusan Mr Mario?" sentak Zuy.


"Bukan maksud apa-apa, hanya saja saya ingin kamu memaafkan kesalahan yang sudah saya lakukan selama ini, Zuy."


"Tapi perkataan anda barusan seperti merendahkan diri saya dan menganggap bahwa saya mau memaafkan anda hanya karena ada maunya, Mr Mario!" pekik Zuy sembari bangkit dari posisinya.


"Zuy ...."


"Maaf Mr Mario, sepertinya pembicaraan kita cukup sampai di sini! Permisi."


"Ternyata anak itu sulit untuk di ajak berdamai dengan ku atau mungkin perkataan ku yang sudah keterlaluan?" lirih Daddy Mario seraya membuang nafasnya.


Sementara itu....


Setelah berada di luar rumah, Zuy pun langsung menghampiri Bunda Artiana yang kala itu sedang menggendong Baby Z.


"Nek...." panggil Zuy.


Bunda Artiana menoleh. "Eh cucuku, apa sudah selesai mengobrol dengan Mr Mario?"


"Iya sudah Nek."


"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Bunda Artiana.


Lalu....


"Maaf Nek, Zuy izin pulang ya!" Zuy meminta izin pada Bunda Artiana.


"Apa! pulang?" Bunda Artiana tersentak. "Kenapa buru-buru cucuku? Kita kan belum ngobrol bahkan makan bersama." sambungnya.


"Kapan-kapan aja ya Nek, soalnya tadi Bi Nana ngehubungi Zuy kalau beliau ada di Villa," ujar Zuy berbohong.


"Oh jadi Nana datang ya? Baiklah kalau begitu Nenek mengizinkannya!" kata Bunda Artiana.


Zuy tersenyum. "Terimakasih Nenek. Yaudah kalau begitu Zuy pergi dulu ya Nenek, Miss Adriene."


Adriene hanya membalas senyuman dan anggukan kepala saja.


"Iya, kalian hati-hati di jalan! Titip salam Nenek buat Nana." ucap Bunda Artiana.


"Iya Nek, akan saya sampaikan salam Nenek."


Zuy dan lainnya pun langsung melangkahkan kakinya ke arah mobilnya, Sesaat setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Henri segera menyalakan mobilnya itu.


"Kita langsung ke Villa Nyonya?" tanya Henri.


Zuy menggeleng. "Tidak Hen, tapi kita ke rumah Bi Nana!" titahnya.


"Baik Nyonya...."


Tak lama, Henri pun melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Dimas, begitu pula dengan para pengawal yang sedari tadi berjaga di luar.


"Maafkan Nenek Cucuku...." batin Bunda Artiana yang terus melihat ke arah pagar.


"Bunda, ayo kita masuk!" ajak Adriene.


"Iya...."


Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


...----------------...


Saat sudah berada di perjalanan, Zuy terus saja terdiam sambil melihat pemandangan jalan dari kaca mobilnya, air matanya pun terus mengalir tanpa henti. Sehingga membuat Bu Ima dan Henri kebingungan, akan tetapi mereka tidak berani untuk bertanya langsung pada Zuy.


Rumah Bi Nana.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah Bi Nana. Seusai turun dari mobilnya, Zuy mendorong stroller si kembar dan melangkah masuk ke dalam bersama Bu Ima. Sedangkan Henri dan lainnya berjaga-jaga di luar.


Sementara itu, Bi Nana terlihat sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Beyza, Nara dan Rana. Sedangkan Baba Yash berada di Resto milik mendiang Pak Randy bersama dengan Aries.

__ADS_1


Lalu....


"Bi Nana, Zuy datang...." seru Zuy.


Mendengar suara keponakan tercintanya, pandangan Bi Nana langsung beralih ke arah ruang tamu.


"Langsung kesini aja Zuy!"


Zuy pun langsung bergegas ke arah ruang keluarga. Setibanya, Zuy menurunkan si kembar dari stroller-nya dan menempatkannya di kasur samping Rana. Setelah itu, ia langsung menghampiri Bi Nana dan memeluknya dengan erat.


"Bibi sehat?" tanya Zuy.


"Seperti yang kamu lihat, Zuy." jawab Bi Nana.


"Tapi badan Bi Nana makin kurus saja, di peluk Zuy juga gak berasa empuk kaya dulu." celetuk Zuy.


Bletaak....


Tiba-tiba Bi Nana menjentikkan jarinya ke dahi Zuy.


"Dasar kamu ya! Memangnya kamu pikir badan Bibi kasur apa, pakai di bilang empuk segala." pekik Bi Nana.


"Hihihi, Bi Nana kan memang kasur kesayangannya Zuy."


"Hummmph," Bi Nana mendengus.


Zuy terkekeh sambil terus memeluk erat Bibinya sambil menangkupkan wajahnya.


"Zuy...."


"Hmmmm...."


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Bi Nana yang nampak curiga dengan gelagat Zuy.


"Tidak Bi Nana." balas Zuy.


Seketika Bi Nana mengerenyitkan keningnya karena ia tahu kalau Zuy sedang berbohong.


Lalu....


"Zuy, kita ke kamar yuk!" ajak Bi Nana.


"Ke kamar? Ngapain Bi?" tanya Zuy keheranan.


"Bantuin Bibi beresin kamar!"


Tanpa bertanya lagi, Zuy langsung mengangguk patuh. Lalu Bi Nana dan Zuy beranjak dari tempatnya.


"Bey, Kak Ima. Titip anak-anak sebentar ya!" pinta Bi Nana.


"Iya Na > Iya Hala." jawab Beyza dan Bu Ima serempak.


Kemudian Bi Nana dan Zuy melangkahkan kakinya dan menaiki anak tangga menuju ke arah kamar Bi Nana.


Saat sudah berada di kamarnya, mereka berdua pun duduk di sofa.


"Katakan pada Bi Nana, apa yang terjadi sebenarnya?"


"Tidak ada yang terjadi Bi," Zuy berkelit.


"Zoey Lestari...."


"Iya-iya Bi Nana, Zuy akan cerita ke Bibi. Sebenarnya tadi Zuy ke rumah Nenek dan di sana tanpa sengaja Zuy bertemu dengan suami Mrs Maria,"


"Hah! Suami Maria? Maksudmu Ayahnya Archo?"


"Iya Bi, lalu Mr Mario ...."


Zuy menceritakan tentang apa yang ia bicarakan dengan Daddy Mario, selama bercerita air matanya pun ikut lolos membasahi pipinya sehingga Bi Nana langsung mengusap air mata Zuy dengan tangannya. Setelah selesai bercerita....


"Benar-benar kelakuan mereka tidak jauh berbeda dari rubah," umpat Bi Nana.


"Bi, menurut Bi Nana bagaimana? Apa Zuy harus menyerah dan melepaskan Ray untuk Kimberly atau Zuy tetap mempertahankannya?" tanya Zuy.


Nampaknya ia mulai goyah dengan perkataan Daddy Mario.


Mendengar pertanyaan Zuy, Bi Nana pun menggenggam tangan Zuy sambil menghela nafasnya.


"Zuy, kalau menurut Bi Nana. Kamu pertahankan apa yang sudah menjadi milik kamu, jangan sampai kamu melepaskannya! Sebab tidak ada pria seperti Ray yang rela melakukan apa saja demi kamu, Zuy. Sama halnya seperti mendiang Paman kamu itu yang selalu menyayangi Bi Nana dan rela melakukan apa saja demi anak istrinya hingga akhir hayatnya." tutur Bi Nana.


Kemudian Bi Nana merapikan rambut Zuy yang berantakan dan mengikatnya.


"Zuy, coba kamu bayangin! Jika kamu sampai melepaskan Ray untuk Kimberly, bagaimana dengan nasib Rayn dan Zea? Ya kalau hak asuh mereka jatuh ke kamu, kalau ke Ray bagaimana? Apa kamu rela membiarkan anak-anak kamu hidup bersama dengan Kimberly?" cecar Bi Nana.


Sontak membuat Zuy mengingat kembali akan mimpi buruknya itu, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nggak, Zuy gak mau si kembar bersama dengan Kimberly dan Zuy juga sayang sama Ray," ujar Zuy.


"Nah maka dari itu, kamu harus tetap pertahankan Ray demi anak-anak kamu dan jangan sampai kamu melepaskannya untuk wanita lain meskipun dia adik kamu sendiri," Bi Nana memberikan nasihatnya pada Zuy.


Zuy pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Benar juga apa kata Bi Nana, pokoknya Zuy harus mempertahankan apa yang Zuy miliki saat ini," kata Zuy. "Terimakasih ya Bi Nana," sambung ucapnya sambil memeluk erat Bibinya itu.


"Sama-sama gadis kecilku."


***************************


Villa Z&R


—Pukul 09.40Pm


Di balkon kamarnya, nampak dua sejoli tengah asik duduk berdua sambil menonton film yang ada di laptop milik Ray, di temani segelas coklat hangat dan capuccino kesukaan mereka berdua.


"Ray...."


"Iya sayangku yang cantik," sahut Ray mengedipkan sebelah matanya.


"Aku mau bilang, tadi waktu aku main ke rumah Nenek aku bertemu dengan Ayah dari calon tunangan mu," ujar Zuy.


Ray mengerenyit. "Calon tunangan ku? Maksud kamu sayangku?"


"Maksud Zuy, tadi Zuy bertemu dengan Mr Mario, Ayah dari Kimberly."


"Oh, kalau itu aku sudah tahu dari Henri, sayangku." jelas Ray. "Lalu apa yang si tua itu katakan padamu, sampai kamu bilang Ayah calon tunangan ku?"


Sebelum berkata, Zuy terlebih dahulu menghela nafasnya kemudian ia menjelaskan pada Ray tentang apa yang di bicarakan Daddy Mario padanya.


Seketika membuat Ray kembali mengernyitkan keningnya dan mengepalkan tangannya, lalu....


Braaaak!


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2