Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Jurig....


__ADS_3

<<<<<


Sehingga membuat Davin dan Airin menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah suara tersebut.


"Hwaaaaa....!!"


Davin tiba-tiba berteriak karena melihat orang yang memanggil mereka dengan sebutan 'Om dan Tante' yang ternyata adalah wanita cantik eh maksudnya pria gemulai bertulang lunak atau wanita jadi-jadian yang paling di takuti olehnya. Seketika Davin langsung bersembunyi di belakang tubuh Airin, sehingga membuat Airin dan pria gemulai itu keheranan.


"Lha! Kenapa si Om tiba-tiba berteriak dan bersembunyi seperti itu?" tanya si pria gemulai.


"Tau nih Pak Davin, kaya habis liat jurig aja!" sambung Airin.


"Jurig! Apa itu Rin? Sejenis makanan kah?" tanya Davin.


Airin mendesah. "Huu... Jurig itu maksudnya hantu Pak," paparnya.


"Oh jurig itu hantu ya...." lirih Davin. "Kamu benar Rin, aku memang liat hantu, bahkan lebih dari hantu." sambungnya yang masih bersembunyi di belakang Airin.


Membuat Airin dan si pria itu terperangah.


"Apa! Hantyu? Di mana hantyu-nya? Aiih bikin eyke jadi merinding ciin." lontar pria gemulai.


"Serius Pak Davin liat hantu? Lalu mana hantunya Pak?" cecar Airin.


"Tuh ada di depan kamu, Rin." balas Davin menunjuk ke arah pria gemulai itu.


Lalu Airin beralih kembali melihat ke pria gemulai yang di depannya itu.


"Hah!" Airin menganga kemudian bertanya, "Jadi maksud Pak Davin, wanita ja ah wanita cantik ini adalah hantunya?"


Davin mengangguk. "I-iya, makanya suruh dia pergi dari hadapan ku Rin!" pintanya.


Mendengar itu Airin pun mengulum bibirnya karena ia menahan rasa ingin tertawa.


"Hihihi, aku sampai lupa kalau Pak Davin itu takut sama pria model begini." batin Airin.


"Apose! Jadi yang barusan Om bilang hantyu itu eyke? Aduh si Om bikin gemes deh! masa dandanan eyke udah cantik mirip Katy Perry begini malah di samain sama hantyu." pekik si pria gemulai sambil berlenggak lenggok membuat Davin semakin merinding melihatnya.


"A-apanya yang Katy Perry, dandanan seperti itu malah lebih mirip ondel-ondel atau badut yang sering di jalanan," umpat Davin dalam hatinya.


Berbeda dengan Airin yang terus terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya.


Tiba-tiba si Pria gemulai itu berjalan mendekat dan berdiri di samping Airin, ia pun mengarahkan pandangannya ke Davin. Sontak membuat Davin membelalakkan matanya.


"Nga-ngapain kamu liatin aku seperti itu?"


"Hmmm, kalau eyke perhatikan si Om ini bener-bener gantyeng deh, lihat wajahnya yang mulus kek pan-tat bayi baru lahir. Duh, bikin eyke gemas pengen elus-elus sama cium pipinya ciin!" ucap pria gemulai sambil mengarahkan tangannya ke Davin.


Aaargh....!


"Ja-jangan harap!!!" pekik Davin.


Lalu ia pun menggenggam tangan Airin dan langsung mengambil langkah seribu meninggalkan pria gemulai tersebut, sehingga si pria gemulai itu keheranan.


"Woy! Kenapa kalian berdua malah lari sih ciin?" seru pria gemulai itu.


Akan tetapi Airin dan Davin tidak mendengar seruan darinya, keduanya malah terus saja berlari tanpa peduli dengan mobil yang mereka tinggalkan. Sesaat pria gemulai itu menghela nafasnya sembari mengeluarkan sebuah brosur dari tasnya.


"Adidaw, padahal eyke mau ngasih brosur ini ke kalian berdua, karena di salon spa kami sedang ada discon 50 persen untuk pasangan yang masih pacaran ataupun yang sudah menikah. Tapi sayangnya kalian berdua malah lari ninggalin eyke. Humph! Benar-benar anak muda jaman sekarang." cetus si pria gemulai itu sambil melangkah pergi.


Sementara itu....


Saat sudah jauh beberapa jarak dari si pria gemulai itu, Davin dan Airin langsung menghentikan langkah seribunya.


"Apa makhluk aneh itu mengejar kita Rin?" tanya Davin dengan nafasnya yang terengah-engah sambil membungkukkan badannya.


Sekilas Airin menoleh ke belakang lalu kembali ke Davin.


"Sepertinya tidak Pak," jawab Airin sambil mendaratkan bokongnya di tempat duduk yang terbuat dari beton.


"Syukurlah, kalau dia gak ngejar kita," ucap Davin yang ikut duduk di samping Airin. "Huh! Capeknya...."


"Sama aku juga capek Pak. Lagian Pak Davin pakai lari segala sih? Padahal dia gak ngapa-ngapain lho Pak." cetus Airin.


Davin mendesah. "Apanya yang gak ngapa-ngapain sih Rin, orang barusan dia mau elus-elus sama cium wajahku ini dan untungnya aku buru-buru kabur. Kalau tidak mungkin wajahku sudah.... Ah ngebayanginnya aja udah bikin bulu kudukku berdiri gini."


Airin pun terkekeh. "Hihihi.... Bukannya bagus kalau Pak Davin di cium sama orang seperti itu, jadi bisa di bikin kenangan kalau seorang Pak Davin yang glowing pernah di cium oleh wanita cantik alias lelaki lemah gemulai." paparnya meledek Davin.


Mendengar itu, Davin pun mengerenyit dan mendaratkan tangannya di atas kepala Airin seraya mengacak-acak rambutnya.


"Pak Davin mah! Kebiasaan deh suka banget ngacak-ngacak rambut aku." pekik Airin menurunkan tangan Davin.


"Lagian kamu pakai ngeledekin aku segala sih, bikin aku gemas dan gak tahan pengin ngacak-ngacak rambut kamu, Rin. Dan lagi kamu sangat cocok dengan rambut acak-acakan begitu, jadi benar-benar mirip kaya singa betina yang manis." lontar Davin.


"Ck, Pak Davin bener-bener deh." sungut Airin memanyun.


"Hahaha.... Yaudah aku bantu rapikan lagi rambut kamu ya singa betina yang manis."


"Humph...." Airin mendengus.


Sesuai dengan perkataannya, Davin pun merapikan rambut Airin yang sudah berantakan olehnya.


Sesaat kemudian....


"Nah selesai," kata Davin.


"Wow bener-bener udah rapi bahkan sampai di ikat segala." Airin berdecak kagum. "Terimakasih Pak Davin." sambung ucapnya yang di susul dengan senyumannya.


"Sama-sama Rin-Rin. Yaudah ayo kita ke tempat makan yang di sana! Sepertinya cacing di perutku bertambah anggota deh, makanya lapar ku juga ikut bertambah." balas Davin sekaligus mengajak Airin makan.


Airin mengangguk. "Baiklah Pak. Sama aku juga, mungkin ini karena efek lapar terus di bawa lari jadi ya begini."


"Kamu benar Rin, yaudah ayo!"


Lalu Davin dan Airin beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah tempat makan yang tak jauh dari posisi mereka.


"Oh iya, bagaimana dengan mobil Pak Davin yang di tinggal di sana? Apa sehabis makan kita balik lagi ke sana?" tanya Airin.


"Masalah mobil biarin aja Rin, kalau hilang ya tinggal minta lagi sama big bos, hahaha...." ujar Davin.


"Huh! Dasar Pak Davin ini."


**************************


Villa Z&R


—Pukul 07.47Pm


Di dalam kamar si kembar, Zuy terlihat sedang memberikan ASI-nya untuk anak laki-lakinya yaitu bisa Baby R, sedangkan Baby Z berada di samping Zuy dengan posisi tengkurap sambil menggigiti mainannya.


Karena kondisi Zuy sudah membaik, jadi ia di perbolehkan untuk berkontak langsung dengan anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan Ray?


Tentu saja dia ada di sana juga dan nampak tengah menyuapi pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Lalu....


"Ray sudah cukup! Aku udah kenyang." pinta Zuy.


"Tanggung dua suap lagi sayangku."


Zuy menghela nafasnya dan mengangguk. Lalu Ray kembali menyuapi pujaan hatinya itu sampai makanan yang di piring habis tak tersisa. Setelah selesai, Ray memberikan gelas air minum untuk pujaan hatinya.


"Terimakasih Ray sudah menyuapi ku," ucap Zuy.


"Jangan berterimakasih, lagian ini sudah tugas ku, sayangku." balas si pria tampan itu sembari meletakkan gelas dan piring kosong di atas nakas.


Zuy lalu melirik ke arah jam yang terpampang di dinding kamar si kembar.


"Gak kerasa udah hampir jam delapan malam," lirih Zuy. "Oh iya ngomong-ngomong aku belum lihat Airin. Apa dia sudah pulang?" sambung tanyanya melihat ke Ray.


"Sepertinya Airin belum pulang, sayangku."


Zuy terkejut. "Apa! Airin belum pulang? Apa dia kembali ke Kosannya?" cecarnya.


"Mana mungkin sayangku, soalnya aku sudah menyuruhnya untuk tinggal bersama kita, walau bagaimanapun Airin juga keluarga kita. Eem, tapi kayaknya bukan hanya Airin aja yang belum pulang, Kak Davin juga sampai sekarang belum pulang. Padahal hari ini santai tidak ada jadwal meeting di luar." jelas Ray.


"Hmmmm, apa jangan-jangan mereka berdua lagi ...."


"Maksud mu kencan sayangku?" sela Ray.


Zuy mengangguk. "Iya, tapi itu dugaan ku saja."


"Ya kalau beneran juga gak apa-apa, biar Kak Davin gak jomblo lagi dan cepat move on dari Gracia, serta tidak mengganggu kita yang lagi bermesraan," celetuk Ray.


Zuy mendesah. "Kamu ini ya Ray."


Lalu tiba-tiba Ray mendekatkan wajahnya ke arah Zuy.


"Ngomong-ngomong soal kencan, ayo kita adain kencan kita berdua!"


"Kencan berdua? Apa kamu berniat untuk mengajakku pergi ke suatu tempat untuk berkencan?"


"Iya sayangku...." singkat Ray mengangguk.


"Haaa.... Tapi Ray kalau kita pergi berkencan, lalu bagaimana dengan si kembar? Apa kamu lupa kalau kita sekarang sudah mempunyai si kembar, dan lagi Zuy gak mau ninggalin si kembar demi kesenangan kita sendiri," cetus Zuy sambil merapikan bajunya karena Baby R sudah melepaskan mulutnya dari ASI Zuy.


Mendengar itu, Ray tersenyum dan merangkul pundak pujaan hatinya seraya mencubit pipi Baby R.


"Sayangku, tentu saja aku tidak lupa kalau sekarang kita sudah memiliki si kembar, lagi pula kita tidak akan meninggalkan si kembar saat kita kencan nanti," jelas Ray.


"Hmmmm, berarti kita akan bawa si kembar?" tanya Zuy dengan raut wajah yang senang.


Akan tetapi Ray malah menggelengkan kepalanya. "Tidak sayangku, si kembar juga tidak akan kita bawa," jawabnya.


Zuy mengerenyit. "Hah! Jadi maksudmu Ray?"


"Nanti juga kamu akan mengetahuinya sayangku," ujar Ray.


Zuy pun menghela nafasnya. "Terserah kamu aja Ray, yang terpenting aku gak mau ninggalin si kembar, aku takut nanti mereka datang dan ...."


Perkataan Zuy terhenti sebab Ray menempelkan jari telunjuknya ke bibir Zuy.


"Ssssht, jangan di teruskan lagi sayangku! Aku tidak mau kamu kepikiran soal mimpi itu lagi," tutur Ray.


"Tapi aku benar-benar takut kalau mim .... Humpt!"


Tiba-tiba Ray langsung menyambar bibir manis pujaan hatinya meskipun di depan si kembar, Ray melakukan itu dengan maksud agar Zuy tidak membicarakan soal mimpinya dan Ray juga tidak ingin pujaan hatinya kepikiran akan mimpinya itu.


Lalu....


Sontak membuat mereka berdua menghentikan tautannya dan beralih menoleh ke arah pintu. Seketika Ray langsung mengerenyitkan keningnya.


"Ck, baru aja di omongin orangnya sudah nongol dan mengganggu kemesraan lagi," umpat Ray.


"Ahahaha, maaf deh Tuan Ray kalau aku mengganggu misteri kalian. Tapi aku tutup mata kok Tuan, berbeda dengan Baby R dan Baby Z, yang sedari tadi melihat kalian melakukan misteri." lontar Davin.


Seketika Ray dan Zuy beralih melihat si kembar, benar saja apa yang di katakan Davin, ternyata si kembar sedang memandangi kedua orang tuanya itu sambil merengut.


"Duh ganteng dan cantiknya Daddy, jangan pasang wajah seperti itu dong! Daddy hanya mengusap mulut Mamah aja kok," ucap Ray terbata-bata, kemudian ia langsung mengangkat tubuh Baby Z dan memangkunya.


Davin yang melihatnya pun hanya bisa tertawa geli sambil menutup mulutnya.


Lalu....


"Emmm, Pak Davin baru pulang?" tanya Zuy.


Davin mengangguk. "Iya Zuy, baru aja sampai terus langsung kesini."


"Oh, lalu Airin? Apa dia ikut pulang dengan Pak Davin?" Zuy bertanya kembali.


"Aku di sini Zuy," seru Airin yang muncul dari arah belakang tubuh Davin.


Kemudian ia berjalan menghampiri Zuy dan di susul Davin.


"Zuy, bagaimana keadaan mu? Apa sudah membaik?" tanya Airin.


"Ya lumayan membaik Rin, makanya aku bisa berkontak langsung dengan si kembar," jawab Zuy.


"Syukurlah kalau begitu, aku benar-benar khawatir Zuy," kata Airin dengan mata yang berkaca-kaca.


Zuy tersenyum. "Terimakasih udah mengkhawatirkan ku, Rin."


"Sama-sama...."


"Ehemm, ngomong-ngomong kenapa kalian bisa berduaan? Apa kalian habis kencan?" tanya Ray menggoda.


"Siapa yang kencan?" ucap Davin dan Airin serempak.


Sehingga Ray dan Zuy saling melirik dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu kalau bukan kencan kalian berdua ngapain?" cecar Ray.


"Tentu saja kami berdua habis jalan-jalan dan makan di luar," jawab Davin.


Airin membelalakkan matanya sesaat, lalu ia pun menepuk jidatnya. "Duh atasan satu ini," batin Airin.


"Oh, begitu ya." lirih Ray manggut-manggut.


Davin lalu mendekatkan posisinya ke arah Ray.


"Tuan Ray, ada yang ingin saya diskusikan dengan anda," lontar Davin.


"Memangnya apa yang ingin Kak Davin diskusikan?" tanya Ray.


Sekilas ia melihat ke arah Zuy dan Airin secara bergantian, kemudian beralih kembali ke Ray.


"Tentu saja soal pekerjaan, ada dokumen yang mesti anda periksa Tuan," jawab Davin.

__ADS_1


"Oh, yaudah ayo kita ke ruang kerja!"


Davin mengangguk. "Iya Tuan Ray."


Ray lalu bangkit dari posisinya. "Cantiknya Daddy di sini dulu ya sama Mamah, Kakak Rayn dan juga Tante Airin ya! Soalnya Daddy ada urusan sama Uncle Davin." ucapnya mencium pipi Baby Z, lalu ia memberikan Baby Z pada Airin.


Ray beralih mengelus pipi Zuy dan mencium Baby R. Setelah selesai, Tay melangkahkan kakinya keluar dari kamar si kembar, di susul Davin di belakangnya.


"Rin...."


Airin menoleh. "Hmmmm, iya Zuy."


"Aku perhatikan mata kamu seperti sembab gitu, apa kamu habis menangis?" cecar Zuy menyidik.


"Oh ini, iya Zuy aku memang habis nangis," jawab Airin.


"Apa!" Zuy tersentak lalu bertanya, "Kenapa kamu menangis Rin? Apa terjadi sesuatu pada Mamah atau Rion? Atau kamu habis di sakiti seseorang?"


Namun Airin menggelengkan kepalanya.


"Aku menangis bukan karena ada sesuatu yang terjadi pada Mamah dan Rion, aku juga tidak di sakiti seseorang Zuy. Hanya saja aku menangis karena aku sedih mendengar kisah dari Pak Davin." jelas Airin.


"Kisah dari Pak Davin?" lirih Zuy mengulang perkataan Airin.


Airin mengangguk. "Iya Zuy, Pak Davin tadi cerita kalau ...."


Airin lalu menceritakan apa yang tadi di ceritakan oleh Davin.


"Oh, jadi Pak Davin sudah menceritakan kisah cintanya yang tragis padamu, Rin?"


"Iya, makanya aku nangis sampai mataku sembab gini. Tunggu! Kenapa kamu barusan berkata seperti itu dan gak nangis kaya aku? Apa jangan-jangan kamu sudah tau kisah Pak Davin ya Zuy?" ujar Airin sekaligus bertanya.


Zuy mengibaskan tangannya. "Aku belum tahu Rin, justru aku baru tahu dari kamu. Ya sebenarnya aku ingin nangis tapi nanti takutnya si kembar malah ikutan nangis juga, jadi ya aku tahan Rin."


"Oh, iya kamu benar juga Zuy." lirih Airin.


Zuy tersenyum dan di hatinya berkata, "Maafkan aku Rin, sebenarnya aku sudah tahu kisah Pak Davin dari Ray waktu kami berada di Swedia. Aku ingin sekali menceritakannya padamu, hanya saja aku takut kamu nantinya sakit hati karena sampai sekarang Pak Davin masih belum bisa melupakan Gracia."


Sementara itu....


Sesampainya di ruang kerja, Ray dan Davin langsung mendudukkan dirinya di atas sofa dan saling berhadapan.


"Kak Davin, sebenarnya Kakak mengajakku berdiskusi bukan soal pekerjaan kan?" cecar Ray.


Davin mengangguk pelan. "I-iya Tuan Ray, memang bukan soal pekerjaan, tapi ini soal Mr Mario ayah dari Kimberly."


"Apa! Mr Mario?"


"Iya Tuan Ray, tadi dia datang ke Perusahaan bersama dengan istri dari si mata empat," ujar Davin.


Ray lalu menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya di dinding sofa.


"Sudah ku duga pasti dia akan datang ke Perusahaan."


"Jadi Tuan Ray sudah tau kalau Mr Mario ada disini dan dia akan datang ke Perusahaan?" tanya Davin.


"Ya, sebenarnya semalam Dokter Dimas yang memberitahu ku kalau Mr Mario sedang ada di sini dan menginap di rumahnya." jawab Ray.


Davin manggut-manggut.


"Ternyata anda sudah tau dari Dokter Dimas. Lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya Tuan Ray? Soalnya tadi pas di sana Mr Mario menanyakan tentang anda yang sudah bersama wanita lain. Apa anda akan memberitahu padanya soal Zuy yang sekarang jadi milik anda, atau anda akan menyembunyikannya?" lontar pertanyaan Davin.


"Kalau soal itu, semalam aku juga sudah mendiskusikannya dengan Dokter Dimas, dan Dokter Dimas melarang ku untuk mengatakannya pada orang tua itu soal Zuy yang sudah menjadi milikku." Kata Ray.


"Ya aku setuju dengan Dokter Dimas Tuan, tadi saat Mr Mario menanyakan itu juga aku juga pura-pura tidak tahu. Ya meskipun ujung-ujungnya aku di katain bodoh olehnya," papar Davin.


"Dasar orang tua itu mulutnya gak berubah sama sekali. Tapi terimakasih ya Kak, karena sudah membantu ku berbohong pada si tua itu." ucap Ray.


"Ya sama-sama Tuan Ray."


Perbincangan mereka pun berlanjut.


********************************


Rumah Sakit


Sementara itu di rumah sakit, Aries nampak tengah mendorong kursi roda Bi Nana menuju ke arah ruang ICU. Sebab sesaat yang lalu Dokter mengatakan bahwa Pak Randy sudah sadar dan ingin bertemu dengan Bi Nana.


Setibanya di dalam ruangan ICU dan sudah mengenakan pakaian khusus, Aries lalu menempatkan kursi roda Bi Nana di samping bet Pak Randy. Setelah itu ia berdiri di belakang Bi Nana.


Lalu....


"Papih...." ucap Bi Nana memegangi tangan Pak Randy.


Mendengar suara lembut istrinya, Pak Randy membuka matanya dan melirik ke Bi Nana.


"Na....na, a..pa itu kamu?" lirih Pak Randy.


Bi Nana mengangguk. "Iya ini Nana Pih, Syukurlah akhirnya Papih sudah sadar."


"Na, maaf ya ka..lau sel..ama ini aku se..ring nyusahin kamu, bah..kan ninggalin ka...mu." ucap Pak Randy.


"Tidak Pih, Papih sama sekali tidak pernah nyusahin Nana," balas Bi Nana.


"Na, maaf ya! Ka-lau nanti Papih tidak pulang, ber-arti Pa-pih udah per-gi ya, ka-mu hati-hati di rumah ya, ja-ga anak-anak de-ngan ba-ik ya Na!"


Mendengar itu air mata Bi Nana pun lolos membasahi pipinya.


"Papih, kenapa Papih bicara seperti itu? Memangnya Papih mau kemana? Apa Papih mau ninggalin Nana dan anak-anak?" cecar Bi Nana.


Aries yang berada di sampingnya pun mengelus punggung Bi Nana seraya menenangkannya.


"Si...apa yang mau pergi, Papih ha...nya merasa le..lah saja Na. Dan to-long sampaikan maaf Pa-pih pada Nara, karena Pa-pih su-dah mema-rahinya dan sam-paikan ma-af Pa-pih pada Zuy ka-rena Pa-pih ti-dak bisa mene-pati janji Papih untuk menjadi pengan-tarnya pa-da saat resepsi mereka! Tapi ja..nji Papih untuk menjadi saksi su-dah Pa-pih tepati. Na... uhuk, uhuk...." ucap Pak Randy di susul batuknya.


"Papih sudah cukup jangan bicara apa-apa lagi! Aries cepat panggil Dokter!" pinta Bi Nana.


Aries mengangguk lalu menekan tombol darurat di ruangan tersebut.


"Na-na...." lirih Pak Randy yang perlahan memejamkan matanya dan di susul dengan mengalirkan buliran bening dari sudut matanya. Lalu...


Piiip.....


Suara nyaring terdengar dari monitor detak jantungnya dan garis yang awalnya bergelombang pun kini berubah menjadi garis lurus.


"Papih!!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2