
<<<<<
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, tubuh Zuy kehilangan keseimbangan dan seketika Zuy langsung menjatuhkan tubuhnya dalam posisi duduk.
"Ti-tidak mungkin...!!"
Lirih Zuy yang terus memandangi brankar yang berada tak jauh darinya, dadanya terasa sakit dan nafasnya pun tak beraturan.
"Tidak, ini pasti mimpi, ini pasti mimpi, ini pasti mimpi. Bi Nanaaaaa!!" teriak Zuy membuat Pak Randy dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Zuy.
"Zuy..!!"
Dengan tubuhnya yang lemas, Zuy mencoba bangun dari posisinya, dengan langkah kaki terhuyung-huyung, Zuy menghampiri Pak Randy.
"Zuy, kapan kamu pulang dari Swedia?" tanya Pak Randy
Namun Zuy tidak menjawab pertanyaan dari Pak Randy, ia malah mendekat ke brankar yang di sebelah Pak Randy, lalu kemudian Zuy berlutut di samping brankar itu sambil mengguncangkan tubuh seseorang yang berada di atas brankar tersebut.
"Zuy..!!"
Hiks...
"Bi, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Bi Nana, kenapa Bibi pergi di saat Zuy kembali? Bi Nana bangun Bi, buka mata Bi Nana! Lihatlah Zuy sudah ada di sini, di samping Bi Nana. Bi bangun..! Jangan pergi Bi, Zuy mohon buka mata Bibi! Zuy masih membutuhkan kasih sayang Bibi, Zuy gak mau di tinggal oleh Bibi. Bibi satu-satunya orang tua yang Zuy punya. Dan lagi Zuy juga belum minta maaf sama Bibi, apa yang telah Zuy lakukan sama Tuan Muda waktu di Swedia, Zuy benar-benar khilaf Bi, ini kesalahan Zuy yang tidak bisa menjaga diri. Kalau Bibi mau marah silahkan Bi, Zuy terima kemarahan dan hukuman dari Bibi, tapi Zuy mohon Bi buka mata Bibi dan bangunlah..!" ucap Zuy sambil menangis sesenggukan.
Mendengar ucapan Zuy, Pak Randy mendekat ke arah Zuy dan memegang pundak Zuy.
"Zuy, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini!"
Zuy pun menoleh ke arah Pak Randy, "Paman... Kenapa Bi Nana bisa seperti ini? Bukannya Paman janji akan jagain Bi Nana, tapi kenapa Bi Nana malah pergi ninggalin Zuy?"
"Zuy.."
Kemudian pandangan Zuy beralih kembali ke arah brankar tersebut, ia pun membenamkan wajahnya di samping brankar sambil terus menangis.
"Bi Nana, Zuy mohon bangun..! Jangan tinggalin Zuy, Zuy janji akan jadi anak baik, Zuy janji gak akan bandel dan nakal lagi, Zuy janji Bi, asalkan Bibi bangun!"
Pak Randy yang melihatnya hanya tertunduk diam. Tiba-tiba seseorang seusia Pak Randy datang menghampiri Pak Randy.
"Ada apa ini Randy? Lalu siapa dia?" tanyanya.
"Dia keponakan-ku," jawab Pak Randy.
Lalu orang tersebut menghampiri Zuy. "Dek, apa yang kamu lakukan pada jenazah Istriku?"
"Tentu saja Zuy sedang memba ..., hmmmm,"
Seketika Zuy mengangkat kepalanya kembali dan menoleh ke arah orang tersebut.
"Apa yang anda katakan barusan?" tanya Zuy
"Itu jenazah istri saya dek."
Pak Randy lalu membangunkan Zuy dari posisinya.
"Paman, apa benar yang di katakan Bapak ini?" tanya Zuy pada Pak Randy.
Pak Randy menganggukkan kepalanya. "Iya Zuy, yang di katakannya memang benar, jenazah yang kamu tangisi barusan adalah istrinya, dan dia ini adalah sahabat Paman," jelas Pak Randy.
"Ja-jadi itu bukan Bi Nana?"
"Tentu saja bukan Zuy," jawab Pak Randy.
Zuy tercengang mendengar jawaban Pak Randy, ia pun menghela nafas panjangnya dengan lega.
"Haaa.. Syukurlah, syukurlah..." ucap Zuy mengelus dadanya.
Pak Randy memegang kepala Zuy. "Dasar anak ini ya."
"Maaf Paman, Zuy kan panik jadi Zuy kira itu Bi Nana," lalu pandangan Zuy beralih ke arah temannya Pak Randy dan membungkukkan badannya.
"Maafkan saya Pak,"
"Tidak apa-apa dek, saya bisa mengerti kok, yaudah kalau gitu saya pergi dulu, masih ada yang harus saya urus, Randy terimakasih atas bantuanmu," ucapnya.
"Iya sama-sama, yang sabar ya Bro."
Temannya Pak Randy pun pergi.
"Paman, terus Bi Nana ada di mana?" tanya Zuy
"Ada di kamar VIP, yaudah ayo bareng sama Paman..!" ajak Pak Randy
Zuy menganggukkan kepalanya, kemudian mereka pun pergi menuju ke kamar rawat Bi Nana.
Kamar Rawat
Sementara di kamar rawat, Bi Nana sedang di periksa oleh Eqitna. Setelah selesai di periksa,
"Bagaimana keadaanku? Lalu kapan aku pulang?"
"Keadaan anda semakin membaik Nyonya, tinggal pemulihan saja dan untuk masalah kapan anda pulang nya, nanti saya kabari lagi ya..!"
"Baiklah Dok."
Lalu kemudian Pak Randy datang...
"Nana..."
Bi Nana dan lainnya pun menoleh, "Papi, sudah selesai urusannya?" tanyanya
"Sudah, dan lihat ini siapa yang datang," kata Pak Randy
"Memangnya siapa?" tanya Bi Nana penasaran
Zuy pun masuk, "Bi Nana..."
"Zuy...!!"
Zuy langsung menghampiri Bi Nana dan memeluknya dengan erat.
"Bi Nana maafin Zuy yang baru datang, Zuy benar-benar gak tahu kalau Bibi di rawat," ucap Zuy tersedu-sedu.
Bi Nana membalas pelukan Zuy dan menepuk-nepuk punggungnya, "Gak apa-apa Zuy, kan kamu sedang liburan, jadi Bi Nana gak mau ganggu liburan kamu."
Lalu tanpa sengaja pandangan Bi Nana mengarah ke bagian yang terdapat tanda merah di bagian tengkuk leher Zuy.
"Hmmmm, ternyata Tuan Muda sudah melakukannya. Haaa.. sepertinya sebentar lagi selain kehadiran anak kedua-ku, aku juga akan kehadiran seorang cucu," batin Bi Nana, seketika senyumnya mengembang.
Zuy kemudian melepaskan pelukannya, "Bi Nana, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Bi Nana bisa seperti ini?"
"Tidak ada yang terjadi Zuy, Bi Nana hanya kelelahan saja dan lagi sekarang keadaan Bi Nana sudah membaik kok, iya kan Dokter?"
Tatapan Zuy beralih pada Eqitna, "Benarkah itu Dok?"
"Iya benar Nona, keadaan Nyonya Nana sudah membaik, hanya tinggal pemulihan saja," jelas Eqitna.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Zuy.
"Yaudah kalau gitu saya permisi dulu," pamit Eqitna.
"Terimakasih Dok sudah merawat Bibi saya," ucap Zuy.
Eqitna pun mengangguk sambil tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Bi Nana. Pak Randy langsung menghampiri Zuy dan Bi Nana.
"Bagaimana Zuy? apa kamu senang melihat Bibi-mu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Tentu Zuy senang banget Paman," jawab Zuy.
"Tidak nangis-nangis seperti tadi lagi?" ledek Pak Randy.
"Paman jangan meledekku..!"
"Tunggu sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Zuy bisa bersama Papih?" tanya Bi Nana keheranan.
Pak Randy mendaratkan tangannya ke kepala Zuy, "Begini Na, tadi gadis kecilmu ini nangis-nangis di depan jenazah orang lain."
"Pamaaan...!!"
"Ceritakan apa yang terjadi!" titah Bi Nana.
"Jadi begini Na ...,"
Pak Randy pun menceritakan kejadian tadi membuat Bi Nana langsung memicingkan matanya ke arah Zuy.
"Oh, jadi kamu menyangka kalau itu Bi Nana?" tanyanya menyidik.
"Ya maaf Bi bukan maksudku begitu Bi, hanya saja tadi Zuy lihat Paman mengusap matanya, Zuy pikir Paman lagi nangis," jelas Zuy.
Sesaat Pak Randy menghela nafasnya, "Haaa... Ternyata seperti itu ya. Zuy, Paman ngusap mata itu karena mata Paman pegal, beberapa hari Paman kurang tidur."
"Oh begitu ya Paman, mana Zuy tahu kalau Paman kurang tidur," papar Zuy, lalu tiba-tiba....
Bletaaak
Bi Nana menyentil jidat Zuy dengan keras membuat Zuy meringis kesakitan.
"Dasar kamu ya, lalu kamu datang ke sini dengan siapa? Mana Tuan Muda?" tanya Bi Nana.
"Sebenarnya Tuan Muda lagi ...,"
"Ray di sini Bi," seru Ray yang baru datang bersama Davin, Bi Nana dan Zuy langsung menoleh.
"Tuan Muda...!!"
"Ray...!!"
Lalu Ray menghampiri mereka, "Bi Nana bagaimana keadaan Bibi?"
"Ya seperti yang anda lihat, Bi Nana baik-baik saja," jawab Bi Nana.
"Syukurlah Bi, Ray benar-benar khawatir," ucap Ray, kemudian pandangannya beralih ke Zuy sambil menyunggingkan senyumannya.
"Nah sayangku, kenapa kamu ke sini sendirian dan tidak menunggu ku?"
"Zuy, apa itu benar?"
Zuy menundukkan kepalanya, "Ma-maaf, Zuy tadi kaget dan panik jadi Zuy buru-buru ke sini," ucapnya.
"Haaa... dasar kamu ini," pekik Bi Nana.
"Yaudah, mumpung pada datang, lebih baik kalian duduk dulu biar Paman ambilkan minuman untuk kalian," tawar Pak Randy.
Ray dan Davin mengangguk, kemudian mereka duduk di atas sofa. Sedangkan Pak Randy mengambilkan minuman bersoda di kulkas yang berada di kamar rawat Bi Nana, lalu memberikannya pada Ray dan Davin.
"Oh iya Bi, Nara mana?"
"Itu lagi tidur, sepertinya ia kecapean," jawab Bi Nana menunjuk ke arah Nara.
"Oh, Zuy kangen sama ocehannya,"
"Nanti juga kalau sudah bangun bakalan ngoceh dia, apalagi kalau ada kamu Zuy," papar Bi Nana.
"Ah, iya juga ya Bi.."
Zuy kembali memeluk Bi Nana.
Trrrrrrt.. Trrrrrrt..
Hp Davin berbunyi, seketika ia mengeluarkan hpnya dari saku celananya.
"Maaf Tuan Ray, Pak Randy, saya angkat telpon dulu,"
Ray dan Pak Randy mengangguk, kemudian Davin pun berjalan keluar. Sesaat kemudian Davin kembali dan mendekat ke arah Ray.
"Tuan Ray tadi aku dapat kabar kalau dia sudah bisa di temui," bisik Davin.
"Benarkah?"
Davin mengangguk, "Iya Tuan Ray, apa kita ke sana sekarang?"
"Baiklah kita kesana sekarang.!" titah Ray.
"Ada apa Tuan Ray?" tanya Pak Randy.
"Maaf Pak, sepertinya Ray harus pergi karena ada urusan mendesak," jelas Ray sambil bangkit dari posisinya.
"Oh, iy saya paham."
Lalu Ray berjalan menghampiri Zuy dan Bi Nana.
"Bi Nana, Ray pergi dulu ya,"
"Memang anda mau kemana Tuan Muda?"
"Mau ke suatu tempat Bi, karena ada urusan mendesak," jawab Ray
"Oh, yaudah kalau begitu, Zuy antar Tuan Muda ya...!!"
Zuy mengangguk, "Baiklah Bi,"
Kemudian Ray dan Davin keluar di antar oleh Zuy. Setelah berada di luar ...,
"Sayangku, kamu di sini dulu ya, nanti Ray balik lagi, kalau gak ya paling Ray nyuruh seseorang menjemputmu," tutur Ray
Zuy mengibas tangannya, "Tidak usah Ray, Zuy bisa pulang sendiri, lagian Zuy bawa motor kok. Yang penting kamu hati-hati ya..!"
"Iya sayangku, Ray akan selalu hati-hati," ujar Ray
Lalu Ray menyodorkan wajahnya dan menunjuk-nunjuk ke arah pipinya, pertanda bahwa ia minta di cup.
"Haaaa... mulai lagi mereka," lirih Davin, ia pun memutar badannya sambil menutup matanya dengan tangan.
Zuy menoleh ke kanan-kiri, ia lalu menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke pipi Ray. akan tetapi saat hampir menyentuh ke pipi Ray, Ray malah memutar kepalanya sehingga bibir Zuy bukan mendarat ke pipi melainkan bibir Ray. Ray pun mengecupnya dengan lembut sontak membuat Zuy terkejut dan membuka matanya. Setelah puas Ray menghentikan aksinya.
"Ray kamu benar-benar ya.." pekik Zuy mengusap bibirnya.
"Hmmmm, ini belum seberapa sayangku, nanti malam bakalan ada yang lebih dari ini," goda Ray
Blush..
"Rayyan, berhenti menggodaku! dan cepat pergi sana..!" pekik Zuy dengan wajah merahnya.
"Hahaha, baiklah sayangku yang cantik, Ray pergi dulu ya," lalu Ray mendekat ke arah Davin dan menepuk punggungnya, "Ayo Kak Davin..!!"
"Apa sudah selesai bermesraannya?"
"Diamlah! ayo buruan..!"
Davin mengangguk, "Iya ayo, Zuy aku pergi dulu ya, bye.."
Davin melambaikan tangannya ke arah Zuy, melihat itu Ray langsung menarik kerah baju Davin dan membawanya pergi. Setelah Ray dan Davin pergi dan tak terlihat oleh matanya, Zuy kembali ke kamar rawat Bi Nana.
__ADS_1
*******************
Beberapa saat kemudian, Davin dan Ray sudah berada di tempat yang mereka tuju. Lalu mereka pun masuk ke sebuah tempat, yang tak lain adalah Kantor Polisi. Setelah membuat perjanjian, Ray dan Davin di antar Petugas ke tempat kunjungan untuk bertemu dengan seseorang.
"Silahkan duduk dulu Tuan..!!" tawar si Petugas.
Ray dan Davin mengangguk dan duduk di atas sofa yang sudah di sediakan, sesaat kemudian Petugas tersebut membawa seseorang yang tak lain adalah salah satu preman yang menyerang Davin.
"Nah itu dia Tuan Ray yang membuat wajah mulusku lebam," seru Davin menunjuk ke arah Preman tersebut.
"Waktu kalian terbatas, jadi pergunakan lah dengan baik..!!" tutur Petugas tersebut.
"Baik Pak, terimakasih," ucap Ray,
Lalu Petugas itu pergi, sedangkan Ray dan Davin menghampiri Preman tersebut, hawa dingin sudah mulai terasa di ruang tersebut.
"Cepat jelaskan padaku, kenapa kau dan lainnya mengincar istriku? apa tujuan kalian sebenarnya?" beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Ray dengan tatapan tajamnya.
Namun Preman tersebut tidak menjawab, ia hanya tertunduk diam sambil memainkan jarinya.
"Hei Tuan Ray bertanya padamu bukan pada tembok," pekik Davin. Lalu tiba-tiba...,
Braaaak..
Ray memukul meja yang berada di depannya dengan kuat, lalu ia mencengkram kerah baju Preman tersebut.
"Aku bertanya padamu sekali lagi, kenapa kau mengincar istriku? dan apa tujuan kalian sebenarnya?"
"Ma-maaf, ka-kami hanya di suruh seseorang saja, dia menyuruh kami untuk menculik wanita yang bernama Zuy, kemudian melecehkannya sekaligus merekamnya. Lalu rekaman itu harus di kirim padanya," jelas Preman tersebut.
Mendengar penjelasan dari Preman tersebut membuat Ray memanas, amarahnya pun memuncak.
"Tsk, kurang ajar.. Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu pada Istriku?" tanya Ray dengan nada meninggi.
Preman itu pun kembali terdiam, lalu kemudian ...,
Bugh...!!
Satu pukulan keras dari Ray mendarat ke pipinya dan mengenai hidungnya membuat hidung Preman tersebut berdarah.
"Jawab sial*n! siapa yang menyuruh mu?"
Mendengar keributan, Petugas itu pun datang.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa, hanya keributan kecil saja," kata Davin.
Ray kembali mencengkram kerah baju Preman tersebut dengan kuat membuat Preman itu merintih kesakitan. Petugas yang melihatnya pun mendekat dan mencoba melepaskan cengkeraman Ray.
"Tuan, jangan buat keributan di sini..!" pinta si Petugas itu.
Kemudian Ray segera menurunkan tangannya, "Bawa dia kembali, dan pastikan dia di hukum seberat-beratnya..!"
Petugas itu mengangguk dan pergi bersama Preman tersebut, sedangkan Davin dan Ray bergegas pulang.
*********************
Rumah Ray
Tak terasa malam hari pun tiba, setelah pulang dari Kantor Polisi, Ray menghabiskan waktunya di kamarnya hingga malam sambil di temani sebotol Wine, perasaannya kini sedang memanas. Setelah menghabiskan sebotol Wine-nya itu, ia merebahkan dirinya di atas kasur.
Sedangkan Davin nampak gelisah menunggu kedatangan Zuy, lalu kemudian ...,
Ting Tong...
Mendengar suara bel, Davin pun langsung membukakan pintunya, dan ternyata yang datang adalah Zuy.
"Zuy, akhirnya kamu datang juga," seru Davin.
"Memangnya ada apa Pak Davin?" tanya Zuy keheranan.
"Itu Zuy, Tuan Ray sepertinya demam, badannya juga panas," ujar Davin berbohong
"Apa..!"
Zuy terkejut dan langsung bergegas menuju ke kamar Ray.
"Maaf Zuy, aku terpaksa berbohong," lirih Davin, dan saat hendak menutup pintunya, ia terkejut melihat Henri tengah berdiri di ambang pintu.
"Malam Pak Davin,"
"Tsk, bikin kaget saja, ayo masuk..!!"
Henri pun mengangguk, lalu ia masuk ke dalam rumah.
••••••••••
Kamar Ray
Setelah berada di depan kamar Ray, Zuy langsung mengetuk pintunya, akan tetapi tidak ada jawaban, lalu ia memutar handle pintu, dan ternyata pintunya tidak terkunci, lalu ia mendorong pintunya dan masuk ke dalam. Saat berada di dalam kamar Ray, Zuy kembali menutup pintunya dan menghampiri Ray yang tengah terbaring.
"Ray, apa yang terjadi? kenapa wajahmu memerah? apa kamu demam?" tanya Zuy
Ia pun mendudukan dirinya di tepi ranjang dan memegang dahi Ray, lalu tiba-tiba tangan Ray memegangi tangan Zuy.
"Sayangku, tubuh Ray merasa panas.."
"Sebentar, Zuy ambilkan kompres dulu."
Saat ia hendak bangkit, tiba-tiba Ray menarik tangan Zuy, sehingga Zuy terjatuh di atas tubuhnya, lalu Ray mengganti posisinya menjadi di atas Zuy dan mengunci tangan Zuy dengan kuat.
"Ray apa yang kamu lakukan?"
"Maaf sayangku, Ray tidak kuat lagi, tolong bantu Ray..!"
Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy, seketika aksi dan aktivitas Misteri ranjang bergoyang pun terjadi lagi. (Skip)
**********
Rumah Dimas
Sementara itu, Dimas, Bunda Artiana dan Eqitna sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Lalu ...
"Eqi, bagaimana keadaan Bibinya Zuy?"
"Keadaannya sudah membaik," jawab Eqitna.
"Oh Syukurlah kalau begitu," ucap Bunda Artiana.
"Iya Bunda, oh iya tadi juga ada keponakannya datang menjenguknya."
"Keponakannya?" tanya Bunda Artiana
Eqitna menganggukkan kepalanya, "Iya kalau tidak salah namanya Zuy, Bunda," jelasnya membuat Bunda Artiana dan Dimas terkejut.
"Apa..!! Zuy?!"
***Bersambung
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1