
WARNING...!!
CUP Bab ini mengandung unsur... Mohon bijak dalam membacanya... 🙏🙏🙏
<<<<<
Mendengar suara tak asing, sontak membuat Zuy menghentikan langkahnya, kemudian Zuy memutarkan badannya menghadap ke arahnya.
"Ray!!"
"Iya sayangku, aku pulang!"
Lontarnya yang ternyata adalah Ray, ia tersenyum sambil merentangkan tangannya, melihat Ray berada di depannya membuat Zuy sangat bahagia, bahkan air matanya tak dapat di bendungnya, dengan langkah kakinya yang berat, Zuy menghampiri Ray dan memeluknya.
"Selamat datang Ray...."
"Aku benar-benar merindukanmu, sayangku." ucap Ray mengelus kepala Zuy.
Zuy mendongakkan kepalanya sehingga pandangan mereka saling bertemu.
"Aku juga merindukanmu, Ray." balas Zuy sembari menitihkan air matanya.
"Jangan menangis sayangku!" Ray mengusap air mata Zuy.
"Si-siapa yang nangis, mata Zuy hanya kemasukan debu," elak Zuy sambil memanyunkan bibirnya.
Ray merasa gemas melihat ekspresi wajah pujaan hatinya, lalu ia mendekatkan wajahnya dan saat bibirnya hampir menempel di bibir Zuy, tiba-tiba ....
"Ehemmm.... Kalau mau cup-cup jangan di depan pintu! Menghalangi jalan tahu." pekik seseorang membuat Ray menghentikan aksinya.
Lalu Zuy dan Ray menoleh ke arah suara tersebut.
"Mrs Yiou...!!"
"Hai Baby.." Yiou melambaikan tangannya.
"Ck, kenapa Tante keluar sih? Aku kan belum ngasih kode," gerutu Ray.
Bletaaak...
Yiou menyentil jidat Ray dengan keras.
"Nungguin kode dari si Tuan dingin? Haaa... Bisa-bisa kaki ku kram duluan," celetuk Yiou. Lalu ....
"Tunggu-tunggu! Zuy bingung nih, kenapa kalian bisa barengan?" tanya Zuy.
"Oh, tadi aku meminta Tuan dingin ini untuk menjemput ku, soalnya aku kangen kamu dan calon keponakan ku ini," jawab Yiou mengelus perut Zuy.
"Maaf ralat, itu bukan keponakan Tante tapi cucu Tante," tegas Ray.
Seketika Yiou memicingkan matanya ke arah Ray.
"Diam kau Tuan dingin!"
Ray langsung memutar bola matanya dengan malas, sedangkan Zuy langsung terkekeh....
"Duh kalian ini, ayo masuk!" ajak Zuy
Yiou pun melangkahkan kakinya terlebih dahulu, sedangkan Ray dan Zuy menyusul.
"Di mana Pak Davin?" tanya Zuy
"Kak Davin lagi beli makanan, tadi aku yang menyuruhnya," jawab Ray.
"Oh.... Lalu kamu mau duduk dulu apa bebersih dulu?"
"Ray langsung bebersih sayangku, soalnya udah lengket banget nih badan," ujar Ray.
"Oh, yaudah kalau begitu."
Lalu Ray melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Sedangkan Zuy berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur, ia pun membuatkan minuman untuk Ray. Setelah selesai, Zuy langsung membawa minumannya menuju ke kamar Ray.
Kamar Ray
Setelah berada di kamar Ray, Zuy meletakkan minuman yang ia bawa di atas meja yang ada di kamarnya Ray. Lalu Zuy langsung mendudukkan dirinya di atas sofa, karena ia kembali merasakan tendangan dari anak yang di kandungnya itu.
"Tumben jam segini kamu nendang-nendang sayang? Apa kamu bahagia karena Papahmu sudah pulang? Ya Mamah juga bahagia sayang," ucap Zuy sambil mengelus perutnya.
Semenjak usia kehamilan Zuy memasuki trimester dua, Zuy sering sekali mengajak ngobrol anak yang di dalam kandungannya itu.
Tak lama kemudian, Ray keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya, tanpa sengaja pandangannya mengarah ke Zuy yang tengah duduk sambil mengelus perutnya. Ia pun langsung menghampiri Zuy.
"Sayangku...." sapa Ray sembari duduk di samping Zuy.
Zuy menoleh. "Sudah mandinya Ray?"
"Sudah sayangku. Euuum tadi aku lihat sayangku lagi ngelus perut, apa terjadi sesuatu?" tanya Ray.
Zuy mengangguk. "Iya Ray, dia barusan nendang-nendang."
"Apa! Nendang-nendang? Benarkah itu sayangku?"
Zuy kembali menganggukkan kepalanya seraya menjawab pertanyaan dari Ray. Seketika senyuman Ray terukir di wajah tampannya, lalu ia menempelkan telinganya ke perut Zuy. Sontak membuat Ray tercengang saat mendengar suara dari dalam perutnya Zuy.
"Anak Daddy makin aktif ya!" ucap Ray mencium perut Zuy.
"Iya, apalagi saat Papahnya pergi, setiap malam nendang-nendang terus," ujar Zuy.
Ray mengangkat tubuhnya dan menatap sendu wajah Zuy.
"Ada apa Ray?"
"Maaf ya sayangku, kemaren aku ninggalin kamu selama seminggu," ucap Ray
"Tidak apa-apa Ray, kamu pergi juga untuk pekerjaan bukan untuk macam-macam," kata Zuy.
"Terimakasih sayangku sudah mengerti dan mempercayai ku," Ray mengelus pipi Zuy.
"Sama-sama Ray...."
Ray menyandarkan kepalanya di pundak Zuy.
"Sayangku, selama aku tinggal pergi, apa sayangku makan dengan teratur?"
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Ray? Kan kalau setiap telpon aku sering bilang kalau makanku teratur," jawab Zuy.
"Aku hanya ingin mengujimu, sayangku. Oh iya sayangku, apa kita perlu belanja perlengkapan untuk anak kita?" sambung tanyanya.
Zuy menggelengkan kepalanya. "Jangan Ray, nanti saja kalau usia kehamilan ku sudah berusia tujuh bulan. Tapi kalau kita mau beli perlengkapan bayi, mendingan kita beli khusus buat anaknya Bi Nana," ujarnya.
"Anak Bi Nana? Nara?" tanya Ray, karena ia belum tahu kalau Bi Nana sudah melahirkan.
"Bukan Nara Ray, tapi anak perempuan Bi Nana," balas Zuy
"Anak perempuan Bi Nana? Jadi Bi Nana sudah melahirkan?" tanya Ray.
"Iya tadi sore lahirannya," jawab Zuy.
"Syukurlah.... Nanti kita jenguk sama-sama ya sayangku!"
"Oke Rayyan...." balas Zuy
Ray mengangkat kepalanya. "Sayangku...."
"Iya Ray, kenapa?" tanya Zuy menoleh.
Ray memegang dagu Zuy dan mendekatkan wajahnya, kemudian ia menghujani ciuman mesra di wajah Zuy. Saat bibirnya mendarat ke bibir Zuy, Ray langsung mengecupnya dengan lembut, tangannya pun sudah mulai aktif menelusuri tubuh Zuy. Sesaat setelah selesai dengan aksinya, Ray mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke ranjang, kemudian membaringkannya.
"Sayangku, aku benar-benar merindukanmu," bisik Ray dan hembusan nafas hangatnya menyambar ke telinga Zuy.
"Ray...."
Seketika Ray langsung melakukan aktivitasnya bagaikan serigala buas, namun karena pujaan hatinya tengah hamil, ia hanya melakukan pelan saja. (Skip)
Puasa jadi di skip saja ya! Hehehe... ✌✌
Beberapa saat kemudian ....
Setelah selesai beradu, Ray langsung memeluk erat tubuh Zuy.
"Sayangku, selama aku pergi, apa ada orang yang membicarakan hal buruk tentang sayangku lagi?" tanya Ray
"Tidak ada Ray, soalnya mereka melihat cincin yang aku pakai ini, makanya mereka diam dan menyangka kalau Zuy udah nikah," ujar Zuy.
"Oh Syukurlah kalau begitu," ucap Ray.
"Itu memang cincin pernikahan kita, aku sengaja memberikannya saat hari ulang tahun kita dan kamu juga sudah mengucapkan janjimu, sayangku. Haaaa... Padahal aku ingin sekali memberitahu tentang status kita, tapi ...." batin Ray.
(Bab.116 Happy Birthday Z&R)
"Ray, maaf jika Zuy masih enggan membicarakan soal pernikahan kita. Bukannya Zuy tidak mau, tapi Zuy takut jika suatu saat apa yang di alami orang tua ku akan di alami olehku juga. Zuy gak mau kejadian itu terulang lagi, Zuy gak mau anak kita bernasib sama seperti ku dan lagi soal janji ...." ucap Zuy
"Sayangku.... Ray paham kok dan Ray janji tidak akan meninggalkan mu, Ray akan selalu menjagamu, melindungimu, jadi kamu tidak perlu takut ya!" tutur Ray.
Zuy mengangguk. "Iya Ray.... Nanti kalau Zuy siap, Zuy akan membahas soal pernikahan kita."
"Iya sayangku, aku akan menunggu dan tidak akan memaksa sayangku. Dan lagi aku sangat berterimakasih, kamu sudah mau mengandung anakku ini," ucap Ray
"Kamu tentu tahu alasanku kenapa aku mau melakukan itu dan sampai mengandung anakmu ini," tegas Zuy.
"Iya sayangku, ya pokoknya kita akan selalu bersama sampai kapanpun dan dengan hadirnya si junior ini, maka tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
"Oh iya Ray, lalu bagaimana urusanmu di sana, apa kamu berhasil?" tanya Zuy.
"Jangan panggil aku Young master is cruel kalau aku tidak berhasil," Ray membanggakan dirinya sendiri.
"Huuu... Dasar sombong, tapi Syukurlah Ray. Kamu benar-benar hebat," ucap Zuy.
"Itu juga karena kamu dan anak kita yang menjadi kekuatanku, sehingga aku bisa berhasil. Terimakasih sayangku," Ray mengecup kening Zuy.
Zuy pun tersenyum bahagia, lalu ia mengeratkan pelukannya. Sesaat mereka memejamkan matanya dan tertidur sambil berpelukan.
*******************
Amerika...
Kediaman Maria
Semenjak Maria kembali ke Amerika, ia sering menghabiskan waktunya di kamar, karena kondisinya belum memungkinkan. Setelah ia mendapatkan kabar bahwa Boutique besar miliknya terbakar, Maria seperti kehilangan akal. Kadang ia tertawa sendiri dan kadang juga ia menangis.
Archo pun langsung membawanya ke Psikiater, setelah Maria di bawa berobat ke Psikiater, kondisinya semakin membaik. Namun tidak untuk penyakit stroke yang ia derita.
Kamar Maria...
Maria nampak tengah duduk di kursi roda sambil melihat foto anak kesayangannya itu yaitu Kimberly. Semenjak Maria sakit, Kimberly lebih banyak menghabiskan waktunya di luar bersama teman-teman model lainnya ketimbang bersama Maria, bahkan ia jarang pulang ke rumah. Lalu seseorang membuka pintu kamar Maria dan menghampiri Maria.
"Mam...."
Maria pun menoleh. "Kamu Archo, Mam pikir Kimberly yang datang," kata Maria dengan raut wajahnya yang sedih.
"Mam merindukan Kimberly?" tanya Archo sambil memegangi tangan Maria.
"Iya Archo. Kenapa Kimberly jarang pulang ke rumah? Apa dia malu karena Mam sekarang cacat?" lirih Maria.
"Mam, Kimberly sedang sibuk, karena hari ini ia ada pemotretan lagi," ujar Archo. "Maaf Mam, Archo terpaksa berbohong," sambung batinnya.
......................
Flashback
Kamar Kimberly
Di kamarnya, Kimberly nampak tengah bersiap-siap untuk pergi, lalu kemudian Archo datang dan menghampirinya.
"Hei Archo, kalau mau masuk ketuk dulu dong!" pekik Kimberly.
"Kamu mau kemana Kim?" tanya Archo.
"Ya mau kemana lagi, tentunya mau kerja Archo," jawab Kimberly.
"Apa kamu tidak pulang lagi?"
"Haaa... Gimana nanti saja, kalau jadwalku gak padat ya aku pulang, kalau jadwal ku padat ya terpaksa aku menginap di Apartemen ku," jelas Kimberly.
Kemudian Archo memegang kedua bahu Kimberly.
"Hei! Apa kamu tidak kasihan pada Mam? Mam ingin di temani kamu Kimberly, Mam ingin kamu berada di sampingnya," tutur Archo.
__ADS_1
"Ya, Kimberly juga inginnya seperti itu, tapi Kim benar-benar sibuk Archo dan lagi Kimberly minta agar Mam tidak kemana-mana, sebab Kimberly tidak ingin ada seseorang mengetahui kondisi Mam sekarang!" papar Kimberly.
"Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu malu dengan kondisi Mam sekarang?" tanya Archo menyidik.
Mendengar pertanyaan Archo, Kimberly pun menatap Archo dengan tatapan sendu.
"Tidak, hanya saja Kimberly tidak ingin teman-teman, media, dan reporter tahu tentang keadaan Mam saat ini. Karena aku gak mau karirku hancur gara-gara ini," ungkap Kimberly.
Lalu tiba-tiba....
Plaak....
Archo menampar pipi mulus Kimberly, sontak membuat Kimberly tersentak kaget.
"Archo! Kenapa kamu menamparku?"
"Itu karena perkataan mu barusan Kimberly. Kamu hanya mementingkan karirmu di bandingkan kesehatan Mam. Padahal kamu selalu di sayang dan di manja oleh Mam, semua permintaan kamu Mam turutin, sampai-sampai Mam rela melakukan kejahatan demi kamu. Dan sekarang kamu malah seperti ini, di mana rasa hormatmu terhadap orang tua, Kimberly!" bentak Archo.
"Bukan seperti itu, kamu sudah salah paham Archo!" teriak Kimberly, lalu ia mengambil tasnya dan melangkah keluar.
Braaaak...
Kimberly menutup keras pintu kamarnya membuat Archo tersentak.
"Apa yang salah, kenapa keluarga ku sekarang jadi seperti ini, apa ini karma untuk kami?" rutuk Archo.
Flashback End...
......................
"Archo.... Apa kamu tahu kabar dari Zuy?" tanya Maria.
"Kata Dokter Dimas, kabar Zuy baik-baik aja, Mam." jawab Archo.
"Syukurlah kalau dia baik-baik aja," lirih Maria.
"Hmmm... Tadi Mam bilang apa?" tanya Archo yang terperanga mendengar ucapan Maria.
Lalu Maria memalingkan wajahnya dari Archo.
"Mam tidak bilang apa-apa Archo, yaudah kamu keluar sana! Mam ingin istirahat," kata Maria.
"Biar Archo bantu Mam dulu, setelah itu baru Archo keluar."
Maria pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian Archo mengangkat tubuh Maria dan membaringkannya di atas ranjangnya.
"Terimakasih Archo...."
"Iya Mam, yaudah kalau begitu Archo keluar ya Mam."
Lalu Archo berjalan keluar dari kamar Maria, sesaat setelah Archo pergi....
"Archo, Mam tahu. Sebenarnya kamu membohongi Mam soal Kimberly yang tidak pernah pulang," lirih Maria menitihkan air matanya.
Maria pun menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya, lalu ia memejamkan matanya.
*******************
Menjelang siang hari...
Rumah Ray
Zuy nampak tengah duduk di ayunan dekat dengan kolam renang sambil membaca buku tentang kehamilan. Lalu kemudian Ray datang dan langsung duduk di sebelah Zuy.
"Ray, sejak kapan kamu di sini?" tanya Zuy
"Baru saja, lagian sayangku serius baca bukunya, jadi gak sadar kalau aku datang," gumam Ray.
"Maaf Ray...."
"Sayangku, kita beli hadiah buat Bi Nana yuk!" ajak Ray
Mendengar itu Zuy langsung menganggukkan kepalanya.
"Ayo! Tapi Zuy siap-siap dulu ya."
"Baiklah sayangku...."
Zuy beranjak dari tempatnya kemudian ia bergegas menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berangkat menuju tempat yang akan mereka tuju yaitu Mall CCV
*******************
Mall CCV
Hanya memakan waktu perjalanan selama beberapa menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya, Ray dan Zuy bergegas masuk ke dalam Mall tersebut.
"Sudah lama aku tidak datang kesini, terakhir pas di ajak Pak Davin, waktu beli hp kamu itu Ray," jelas Zuy
"Jangan bilang kalau sayangku juga mengingat kejadian penyiraman itu?"
"Ya sedikit mengingatnya, yaudah ayo kita pilih hadiah buat si cantik!" kata Zuy.
Lalu mereka masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi, di mana toko itu pernah di kunjungi oleh Davin dan Airin saat ia tengah membeli kado untuk Friska.
Sesampainya mereka langsung memilih-milih pakaian sepatu, ada rasa keinginan Zuy membeli untuk dirinya sendiri, akan tetapi ia tahan keinginannya itu. Lalu saat mereka tengah asik memilih, tiba-tiba ....
"Zuy...!!"
Seseorang memanggilnya, Seketika Zuy langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Hmmmm...."
***Bersambung....
IG: kim_anandin_chan0619
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1