
<<<<<
Sontak membuat Ray tercengang mendengarnya.
"Hah! Di celakai seseorang?"
Maria mengangguk. "Iya Ray. Orang itu telah menukar kosmetik yang biasa di gunakan oleh Kimberly dengan kosmetik berbahaya."
"Oh...." lirih Ray.
Mendengar Ray hanya berkata OH, Maria pun mengerutkan dahinya.
"Ray, kenapa kamu hanya bilang Oh saja?" tanya Maria.
"Terus saya harus bilang apa, Mrs Maria?"
"Ya setidaknya kamu merasa kasihan terhadap apa yang terjadi pada Kimberly. Padahal Kimberly anak yang baik dan tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, tapi kenapa ada saja orang yang tidak suka dan berbuat jahat padanya," seloroh Maria sambil menyanjung Kimberly di hadapan Ray.
"Merasa kasihan ya! Hmmm, apa itu artinya anda ingin saya menghubunginya serta menghiburnya, begitu?" cetus Ray.
Maria pun kembali menganggukkan kepalanya.
"Iya kamu benar, Ray. Aku memang ingin kamu menghubungi Kimberly dan menghiburnya! Pasti Kimberly akan senang bila sudah mendengar suara kamu," ujar Maria. "Bisakah kamu melakukannya?" sambung tanya Maria.
Sebelum membuka mulutnya untuk berbicara, Ray terlebih dahulu mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Maaf Mrs Maria, saya tidak bisa melakukannya," tegas Ray yang menolak permintaan Maria.
"Apa! Ta-tapi kenapa Ray?"
Maria terkejut mendengar penolakan dari Ray.
"Karena itu bukan urusan saya, dan lagi saya bukan Ray yang dulu, saya sekarang sudah mempunyai istri dan sebentar lagi akan mempunyai anak. Jadi saya harus bisa menjaga perasaan istri kesayangan saya itu," jelas Ray.
"Tapi Ray ...."
Ray menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Hmmmm, sepertinya anda memang hanya peduli pada Kimberly saja ya, sampai anda lupa siapa istri saya itu. Haaaa.... Padahal istri saya juga anak anda lho, Mrs Maria. Akan tetapi anda malah ingin menyakiti perasaannya dan bahkan secara langsung anda meminta saya untuk melakukannya. Sebenarnya di mana hati nurani anda, Mrs Maria!" sungut Ray.
Seketika Maria menundukkan kepalanya saat mendengar cetusan dari Ray. Kemudian Ray mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Maria.
"Mrs Maria, saya peringatkan pada anda! Jika anda atau siapapun yang berani menyakiti dan melukai istri kesayangan saya, maka saya tidak akan segan-segan berbuat kasar. Dan saya tidak peduli siapapun orangnya itu, meskipun Ibu kandungnya," bisik Ray menggertak, sehingga membuat mata Maria membulat sempurna.
Di sisi lain, Archo yang berada di beberapa jarak dari mereka pun mulai curiga dan khawatir dengan obrolan antara Ray dan Maria, pasalnya ia melihat Maria yang tengah menundukkan kepalanya. Rasanya Archo ingin sekali menghampiri mereka, akan tetapi ia tahan dan mengurungkan niatnya itu, sesuai permintaan Maria.
"Tuan Archo...." tegur Dimas yang berada di samping Archo.
Archo menoleh. "Iya Dokter Dimas," sahutnya.
"Kenapa anda melihat ke arah mereka terus? Apa anda sedang khawatir dan penasaran dengan pembicaraan mereka?" tanya Dimas menyidik.
"Haaaa.... Kalau boleh jujur sih, memang saya penasaran dan khawatir dengan apa yang mereka bicarakan, soalnya saya melihat Mam menunduk seperti itu dan lagi ekspresi wajah si Tuan dingin itu juga tidak biasa," ujar Archo.
Mendengar itu, sekilas Dimas melihat ke arah Maria dan Ray, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menghela nafasnya.
"Hmmm.... Ya wajar saja kalau anda merasa khawatir dan penasaran. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak ikut campur dengan apa yang terjadi pada mereka, lebih baik kita biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka itu," tutur Archo.
"Anda benar juga, Dokter Dimas." balas Archo.
Dimas pun menyunggingkan senyumannya sambil menepuk-nepuk punggung Archo.
"Oh iya, kapan anda berangkat ke Amerika?" tanya Dimas.
"Nanti siang, sesuai jadwal penerbangan,Dok." balas Archo.
"Oh...." lirih Dimas.
Sesaat kemudian Zuy keluar dari ruang ICCU tempat dimana Bunda terbaring, lalu ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, nampak dari raut wajahnya yang sedikit pucat. Ray yang melihat Zuy keluar pun segera bangkit dari posisinya dan melangkah menghampiri Zuy, begitu pula dengan Dimas.
Sedangkan Archo dan Maria tetap berada di tempatnya. Sebenarnya Maria ingin sekali menghampiri putri pertamanya, akan tetapi ia urungkan niatnya itu.
"Sayangku...." seru Ray
Zuy menolehkan kepalanya ke arah Ray, ia pun tersenyum tipis pada lelaki tampan itu, dan saat sudah berada di dekat pujaan hatinya, Ray terkejut melihat wajah Zuy yang nampak memucat, ia pun langsung menangkup pipi Zuy.
"Sayangku, kenapa wajahmu pucat seperti ini?" tanya Ray panik.
"Zuy tidak apa-apa Ray, hanya saja kepala Zuy mulai sakit," jawab Zuy.
"Apa! Yaudah kita duduk dulu di sana! Biar aku pijat kepala kamu, sayangku."
Akan tetapi Zuy malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ray, lebih baik kita pulang saja!" pinta Zuy.
"Oh, baiklah sayangku, kita pulang sekarang!" balas Ray mengangguk.
Lalu ....
"Zuy, apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu di ruangan Paman? Kebetulan di sana ada tempat tidurnya. Nanti Paman juga akan minta tolong Eqitna untuk memeriksa mu," tawar Dimas.
"Tidak Dok, lebih baik saya pulang saja dan terimakasih untuk tawarannya," Zuy menolak halus tawaran dari Dimas.
"Baiklah Zuy, Paman tidak akan memaksa." kata Dimas.
Dimas lalu mendekat ke arah Zuy dan mendaratkan tangannya tangannya di atas kepala Zuy.
"Terimakasih ya keponakan Paman, karena sudah menemui Bunda, semoga setelah ini keadaan Bunda semakin membaik," ucap Dimas.
"Iya sama-sama Dokter Dimas," balas Zuy.
Dimas pun tersenyum sambil menurunkan tangannya.
"Yaudah kalau begitu kita pamit dulu, Dokter Dimas." pamit Ray.
"Iya, kalian berdua hati-hati di jalan!" ucap Dimas.
Zuy menganggukkan kepalanya, Zuy lalu menoleh ke arah Maria dan pandangan mereka berdua pun saling bertemu, karena sedari tadi pandangan Maria tertuju pada Zuy.
"Zoya...." lirih Maria dengan tatapan sendu.
Melihat itu, Zuy langsung memalingkan wajahnya kembali dan beralih ke arah Ray.
"Ayo Ray!"
Kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumah sakit. Sesaat setelah mereka berdua pergi, Maria menundukkan kepalanya kembali sambil menangis, Archo dan Dimas pun langsung menghampiri Maria.
"Mam...."
Maria mengangkat kepalanya kembali dan melihat ke arah Archo serta Dimas secara bergantian, air matanya pun terus mengalir membasahi pipinya.
"Kak Maria...."
"Dimas, Archo. Apa Zuy benar-benar marah padaku dan tidak menganggap ku? Sehingga ia tidak menyapaku dan memelukku?" lirih Maria.
Dimas lalu duduk berjongkok di hadapan Maria sambil memegang tangan Maria.
"Kak, dengarkan perkataan Dimas! Zuy bukan tidak menganggap Kakak, hanya saja ia masih takut dan trauma terhadap Kakak," jelas Dimas.
"Apa! Kenapa dia harus takut dan trauma padaku?" tanya Maria keheranan.
"Kak, apa Kakak lupa dengan apa yang Kakak lakukan terhadap Zuy? Waktu itu Kakak pernah menamparnya, membentaknya bahkan Dimas pernah dengar bahwa Kakak sudah mempermalukannya di tempat umum. Dan itulah sebabnya kenapa Zuy takut dan trauma terhadap Kakak," ujar Dimas.
Nyuut...
Dada Maria pun terasa sakit saat mendengar perkataan Dimas, Maria tidak menyangka bahwa rasa trauma dan takutnya Zuy terhadapnya adalah karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
"Zoya...." tangis Maria.
"Kak, Zuy membutuhkan waktu lama untuk mengobati luka dan rasa traumanya itu, jadi Dimas minta Kakak harus bersabar ya!" tutur Dimas.
Namun Maria tidak merespon penuturan Dimas, ia hanya menundukkan kepalanya sembari kembali menangis.
...----------------...
Tak terasa Zuy dan Ray sudah berada di perjalanan menuju arah pulang. Lalu tiba-tiba....
"Ray berhenti!" seru Zuy
Sehingga Ray langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Sayangku ada apa?" tanya Ray.
Akan tetapi Zuy tidak menjawab, ia malah sibuk membuka safety belt yang melilit di tubuhnya. Setelah terbuka, Zuy bergegas keluar dari mobil sambil menutup mulutnya sehingga membuat Ray tersentak, ia pun segera turun dari mobilnya untuk menyusul Zuy.
Dan ternyata keluarnya Zuy dari mobil, bukan karena ia ingin pergi, akan tetapi ia sedari tadi merasakan mual. Zuy berdiri di samping pohon sambil membungkuk, kemudian ia pun memuntahkan apa yang ia makan tadi pagi.
"Sayangku, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ray sambil mengelus punggung pujaan hatinya itu.
"Ray, menjauh lah sebentar! Apa kamu tidak jijik melihat ku muntah seperti ini?" cetus Zuy, ia pun kembali memuntahkan cairan dari mulutnya itu.
"Sayangku, aku tidak akan menjauh darimu dan aku tidak merasa jijik saat melihat mu muntah seperti ini," tegas Ray.
"Ray...."
"Sssht.... Jangan banyak bicara sayangku!" titah Ray sambil terus mengelus punggung Zuy.
Sesaat setelah selesai memuntahkan isi perutnya, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil. Ray lalu menyodorkan botol minuman ke arah Zuy.
"Minum dulu, sayangku!"
Zuy mengangguk sambil meraih botol minuman yang berada di tangan Ray dan meneguknya. Setelah itu ia meletakkan kembali botol minuman itu di sampingnya.
Kemudian Ray mendekatkan tubuhnya ke arah Zuy dan mengusap mulut Zuy yang basah dengan tangannya.
"Apa sudah mendingan sayangku?" tanya Ray.
"Iya sudah mendingan, terimakasih Ray." ucap Zuy.
Ray tersenyum sambil mengelus pipi pujaan hatinya itu, kemudian ....
Cup....
Ray mendaratkan ciuman di pipi dan bibir Zuy, sehingga membuat mata Zuy terbelalak. Setelah puas, ia pun menghentikan aksinya.
"Ray, ini masih di jalan! Nanti kalau ada orang yang melihat bagaimana?" pekik Zuy.
"Tidak ada yang melihat kita sayangku, jadi kamu tenang aja ya!"
"Jangan bilang kalau mobil ini menggunakan kaca mobil khusus?" tanya Zuy menyidik.
"Ya, kamu benar sekali, sayangku. Jadi mereka yang di luar tidak akan bisa melihat apa yang kita lakukan di dalam mobil ini," jelas Ray.
Lalu tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke arah Zuy sambil menyunggingkan senyuman jahilnya.
"Sayangku, apa kamu ingin mencobanya di mobil juga?" bisik Ray menggoda.
Zuy langsung mengerti apa yang di bisikan oleh Ray, ia pun segera mendorong pelan tubuh kekar Ray.
"Sayangku, kenapa kamu mendorong ku?"
"Habisnya kamu mesum Ray. Dari pada melakukannya di mobil, mending kamu simpan tenaga mu itu, karena aku ingin meminta sesuatu dari mu," ujar Zuy.
"Oh iya, katakanlah sayangku! Apa yang kamu minta?Pasti aku akan mengabulkan semua permintaan mu itu. Apa kamu mau baju, tas, kue coklat, kosmetik, mobil dan lainnya. Sebutkan saja semua yang kamu mau!" lontar Ray.
"Ray.... Aku tidak minta semua itu," cetus Zuy.
Sesaat Zuy menghela nafas panjangnya.
"Fyuuu.... Ray, aku minta kamu buatkan mie rebus untuk ku!" jelas Zuy.
Sontak membuat Ray tercengang mendengarnya.
"Apa! Mie rebus?"
Zuy mengangguk. "Iya Ray, aku ingin makan mie rebus buatan mu."
"Hanya itu saja sayangku?" tanya Ray.
"Iya hanya itu saja, eitz tapi mie rebusnya paket komplit ya!"
"Paket komplit?"
Ray memiringkan kepalanya sambil memasang ekspresi wajah yang sedang kebingungan.
"Iya Ray, paket komplit. Di kasih telor dua, sosis satu aja sama pakai sayuran dan cabainya juga," jelas Zuy sambil menggerakkan jari tangannya.
"Apa kamu bisa melakukannya Ray?" sambung tanya Zuy dengan tatapan memohon.
Ray lalu memegang pipi Zuy dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu sayangku, pokoknya aku akan buatkan mie rebus spesial sesuai dengan permintaan sayangku. Tapi sebelum itu, kita ke minimarket dulu untuk membeli mie-nya, ya sayangku!" kata Ray.
"Oke! Euuum, terimakasih Ray." ucap Zuy.
"Sama-sama sayangku," balas Ray mengelus lembut pipi Zuy.
Kemudian ia kembali ke kemudinya dan menyalakan kembali mobilnya itu. Sesaat setelahnya, Ray langsung melajukan mobilnya menuju ke minimarket terdekat.
********************
Villa Z&R
Sementara itu, Davin nampak keluar dari kamarnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Airin kemana ya? Apa dia sedang tidur di kamarnya?" lirih Davin.
Ia langsung menuju ke kamar Airin yang tepat berada di sebelahnya. Akan tetapi Airin tidak ada di kamarnya, Davin pun kembali keluar dari kamar Airin dan menuju ke ruangan lainnya, namun tetap saja ia tidak menemukan Airin.
"Kemana sih anak itu? Apa kebawa ombak laut kali ya?" ucap Davin yang sekarang sedang berada di dapur.
Saat Davin melangkah keluar, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang jatuh dari atas, sontak membuat Davin terkejut dan langsung membuka pintu yang berada di dapur.
Dan ternyata pintu tersebut menuju ke kebun yang berada di belakang Villa Z&R.
Setelah berada di sana, Davin kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara tersebut. Lalu tiba-tiba....
"Pak Davin...." seru seseorang dari atas pohon.
Mendengar ada yang memanggilnya, Davin langsung mendongakkan kepalanya ke atas, dan lagi-lagi ia di buat terkejut, karena Davin melihat Airin sedang berada di pohon mangga sambil melambaikan tangannya. Ia pun bergegas menuju ke pohon mangga tersebut.
"Rin, apa yang kamu lakukan di atas sana!" tanya Davin dengan keras.
"Aku lagi nyari mangga matang Pak Davin. Soalnya kemaren aku lihat mangga matang di sini," balas Airin.
"Hah! Mangga matang?"
"Iya Pak Davin, mangga matang."
"Tapi kenapa kamu pakai naik segala sih, Rin." pekik Davin.
"Habisnya gak ada galah buat ngambilnya, jadi aku terpaksa naik deh," jelas Airin.
Mendengar kata galah, Davin langsung memiringkan kepalanya karena ia tidak tahu tentang galah yang di maksud Airin itu, Davin pun mendongakkan kepalanya kembali ke arah Airin.
__ADS_1
"Rin, galah itu apa?" tanya Davin.
"Ck, itu lho Pak Davin, alat untuk memetik buah dan lagi ..."
Airin menghentikan ucapannya, karena tanpa sengaja ia menginjak ranting pohon kecil dan patah, sehingga membuat Airin kehilangan keseimbangan dan akhirnya ia terjun bebas dari atas pohon.
Aaaaaah
"Airiiin....!!!" teriak Davin.
Davin langsung berdiri di bawah di mana Airin akan mendarat, ia pun sudah bersiap menangkap Airin. Kemudian ....
Bruuugh....
Davin pun akhirnya berhasil menangkap tubuh Airin yang hampir menyentuh tanah.
"Huuft, hampir saja," ucap Davin sehingga membuat Airin terdiam sambil menatap wajah glowing Davin.
Melihat Airin terdiam, Davin pun langsung mengguncangkan tubuh Airin.
"Rin, kenapa kamu diam seperti itu? Apa kamu kesambet setan pohon mangga?" tanya Davin khawatir.
Merasakan tubuhnya di guncang kuat, Airin pun tersadar.
"Pak Davin, apa yang anda lakukan? Cepat turunkan aku!" pinta Airin menggeliat.
"Baiklah-baiklah aku akan menurunkan mu, tapi berhenti menggeliat!"
Davin lalu menurunkan Airin, saat posisi Airin sudah berdiri, tiba-tiba Davin mendaratkan tangannya di atas kepala Airin.
"Lain kali, kalau ada apa-apa tuh minta bantuan ku, jangan melakukannya sendiri ya!" tutur Davin sambil menyunggingkan senyumannya.
Deeeg...
Tiba-tiba jantung Airin pun berdegup dengan kencang, wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus.
Lalu....
"Rin, wajah kamu kenapa merah seperti itu? Apa make-up mu luntur?" tanya Davin karena melihat wajah Airin yang memerah.
"Hah! make-up luntur? Huh, Pak Davin aku tidak pernah memakai make-up apapun, wajah ku merah mungkin karena cuacanya panas. Sudah ah aku mau ke dalam, mau mandi." ujar Airin sambil melangkah masuk meninggalkan Davin.
"Kamu memang wanita bar-bar Rin, tapi kenapa aku malah menyukai itu," batin Davin.
Kemudian ia segera menyusul Airin masuk ke dalam Villa melalui pintu dapur.
Sore hari....
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, sesuai permintaan pujaan hatinya, Ray saat ini sudah berada di dapur tengah membuatkan mie rebus spesial paket komplit untuk pujaan hatinya itu. Lalu Davin datang menghampiri Ray.
"Tuan Ray, anda sedang apa?" tanya Davin.
"Sedang buat mie untuk sayangku," jawab Ray sembari menempatkan mie yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Waah sepertinya enak, sekalian dong buatkan untukku!" rengek Davin.
Kemudian Ray mengambil bungkus mie yang berada di lemari dapur dan memberikannya pada Davin.
"Nih buat Kak Davin!"
"Lho kok masih mentah?" tanya Davin
"Ya kalau mau matang tinggal di masak, tuh mumpung masih panas. Udah ya aku mau ngantar mie untuk sayangku," seloroh Ray.
Ia melangkahkan kakinya menuju di mana Zuy berada.
"Dasar bucinnya Zuy," umpat Davin.
......................
Tiga hari kemudian....
Rumah Ray
Menjelang siang hari, Zuy nampak berada di dapur dan tengah menempatkan makanan yang sudah masak ke dalam tempat makan, tentunya di bantu Bu Ima.
Zuy sudah berada di rumah Ray sejak kemarin malam, karena hatinya sudah tenang jadi ia memutuskan untuk pulang ke rumah Ray.
Setelah selesai menempatkan makanannya, Zuy kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, karena hari ini ia ada kelas kehamilan.
Beberapa saat kemudian, ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke tempat makan.
"Sudah mau berangkat, Nak Zuy?" tanya Bu Ima sambil memberikan tempat makanan pada Zuy.
"Iya Bu," singkat Zuy.
"Yaudah kalau begitu hati-hati ya! Kalau ada apa-apa segera Ibu, supaya Ibu gak khawatir," tutur Bu Ima.
Mendengar itu, Zuy pun memeluk Bu Ima.
"Maafin Zuy ya Bu, kalau kemaren Zuy membuat Ibu khawatir," ucap Zuy.
"Iya Nak Zuy."
Sesaat kemudian Zuy melepaskan pelukannya dan beralih mencium tangan Bu Ima. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju keluar rumah. Saat sudah berada di luar ....
"Apa anda sudah siap Nyonya?" tanya Henri yang sedari tadi menunggu Zuy.
"Iya sudah Hen. Ayo kita berangkat!"
Henri mengangguk, lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk Zuy, sesudah itu ia pun menyusul masuk, karena ia yang mengambil alih kemudi. Sesaat kemudian, Henri melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana Zuy mengikuti kelas kehamilan.
Selama di perjalanan Zuy hanya membaca buku tentang kehamilannya, dan saat pandangannya mengarah ke sebuah gedung tinggi, yang tak lain adalah Perusahaan CV, lalu tiba-tiba ....
"Hen berhenti!" titah Zuy.
Henri pun langsung menghentikan laju mobilnya dan menoleh ke arah Zuy.
"Kenapa berhenti di sini Nyonya? Apa anda ingin menemui Tuan Ray dulu?" tanya Henri.
"Tidak, tapi aku minta tolong padamu!"
Zuy mengambil kotak makanan dari ranselnya dan memberikannya pada Henri.
"Tolong kamu berikan ini pada Ray, ya!" pinta Zuy.
"Baiklah Nyonya."
Henri mengambil kotak makan tersebut, kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke Perusahaan CV. Setelah Henri pergi, Zuy pun ikut turun dari mobilnya dan mengedarkan pandangannya ke arah gedung tersebut.
"Rasanya kangen sekali sama tempat ini, pantry dan teman-teman yang lain," ucap Zuy.
Lalu kemudian seseorang datang menghampiri Zuy.
"Kak Zuy...." sapanya.
Mendengar suara orang menyapanya, Zuy langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
"Kamu...!!"
*** Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1