
<<<<<
Zuy mengarahkan pandangannya ke bawah, seketika ia pun terkejut karena melihat cairan yang mengalir di kakinya itu.
"I-ini air apa ya Bu?"
Tanya Zuy yang keheranan, sehingga membuat Bu Ima dan Henri terdiam sejenak sembari melihat ke arah Zuy. Lalu ....
"N-nak Zuy yang tenang ya, jangan panik!" tutur Bu Ima, nampak jelas bahwa ia juga panik.
"Panik! Zuy gak panik Bu. Justru malah Bu Ima yang panik, memangnya ini air apa Bu? Terus apa ini tidak apa-apa?" cecar Zuy yang kebingungan.
"Nak Zuy jangan banyak bicara dulu! Tenang ya Nak Zuy!" titah Bu Ima sembari memegang lengan Zuy.
Zuy pun nampak semakin kebingungan, lalu pandangan Bu Ima mengarah ke Henri yang tengah terbengong.
"Nak Henri, kenapa kamu bengong begitu? Cepat bantu Nak Zuy untuk masuk ke mobil!" pekik Bu Ima.
Henri tersadar. "Ah iya, baik Bu Ima. Ayo Nyonya, saya bantu!" ia ikut memegangi lengan Zuy.
"Bu! Sebenarnya ada apa? Kenapa Ibu nampak panik seperti itu?" tanya Zuy.
"Nanti Ibu jelasin, untuk sekarang kita masuk dulu!" tutur Bu Ima.
Zuy mengangguk, ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dengan bantuan Bu Ima dan Henri. Setelah membantu Zuy, Bu Ima dan Henri menyusul masuk.
"Nak Henri, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Bu Ima.
"Baik Bu Ima," balas Henri.
"Apa! Rumah sakit?"
Zuy tercengang mendengarnya, pandangannya pun mengarah ke Bu Ima.
"Bu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita ke rumah sakit?" cecar Zuy.
Sebelum menjawab, Bu Ima terlebih dahulu menghela nafas panjangnya.
"Nak, sepertinya kamu akan melahirkan sekarang," ujar Bu Ima.
"Apa! Me-melahirkan?" Zuy pun terkejut mendengarnya. "
"Iya Nak Zuy," singkat Bu Ima.
"Ta-tapi kata Dokter Eqi, Zuy akan melahirkan sekitar dua mingguan lagi Bu, kok bisa sekarang?"
"Itu karena air ketuban mu pecah Nak," jelas Bu Ima.
Sontak membuat Zuy membelalakkan matanya karena terkejut mendengar penjelasan dari Bu Ima.
"Hah! Ja-jadi ini air ketuban!" lirih Zuy, lalu tiba-tiba ....
Aaaaaah....
Zuy memekik keras sambil memegang perutnya.
"Nak Zuy kenapa?"
"Perut Zuy tiba-tiba mules Bu."
"Yaudah kamu berbaring dulu ya!" titah Bu Ima.
Zuy mengangguk. "Iya Bu Ima."
Zuy pun langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi kepalanya di atas paha Bu Ima. Kemudian Bu Ima mengelus rambut Zuy.
****************************
Rumah Sakit
Butuh waktu perjalanan selama kurang lebih 20 menit, mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit. Henri lalu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit. Kemudian Henri dan Bu Ima terlebih dulu turun dari mobilnya.
"Pak! Tolong di sini ada yang mau melahirkan!" teriak Henri pada Petugas rumah sakit.
Mendengar teriakan dari Henri, Petugas itu pun segera mengambil kursi roda dan bergegas menuju ke arah Henri dan Bu Ima. Setelah itu, Zuy perlahan turun dari mobilnya di bantu oleh Bu Ima dan petugas rumah sakit itu.
"Pelan-pelan Nak Zuy!" tutur Bu Ima.
Saat sudah turun dari mobilnya, Zuy langsung duduk di atas kursi roda. Kemudian petugas itu mendorong kursi roda itu menuju ke dalam. Sebelum ke ruang persalinan, mereka terlebih dahulu ke resepsionis untuk pendaftaran.
"Henri...." lirih Zuy.
"Iya Nyonya...." sahut Henri.
"Tolong kamu daftarkan aku ya! Semua data-data ku ada di dalam ransel," pinta Zuy.
Henri mengangguk patuh, ia pun mengambil ransel milik Zuy dan membukanya untuk mengambil apa yang di perlukan. Henri pun langsung memberikan data-data Zuy kepada Petugas resepsionis. Setelah selesai semuanya, Mereka langsung bergegas menuju ke arah ruang bersalin.
Ruang Eqitna
Sementara itu, Eqitna nampak tengah menikmati makan siangnya bersama Dimas dan Bunda Artiana. Lalu ....
"Eqi...." sapa Bunda.
"Iya Bunda," sahut Eqitna.
"Kamu harus makan yang banyak ya! Supaya kandungan kamu sehat," tutur Bunda Artiana.
Eqitna pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Bunda," balas Eqitna.
Dan di saat mereka sedang menikmati makanannya, tiba-tiba interkom yang berada di atas meja kerja Eqitna berbunyi, sontak membuat Eqitna menghentikan aktivitas makannya dan bangkit dari duduknya.
"Sebentar ya! Bunda, Dimas." kata Eqitna, di balas anggukan kepala oleh Dimas dan Bunda Artiana.
Eqitna pun langsung mendekat ke arah meja kerjanya, setelah itu, ia mengangkat gagang telepon tersebut dan menempelkannya di telinga.
"Iya, di sini Dokter Eqi."
"Maaf Dokter kalau saya menganggu istirahat anda," ucap seorang petugas resepsionis.
"Tidak menganggu kok. Memangnya ada apa?" tanya Eqitna.
"Begini Dok, di ruang bersalin ada seorang pasien yang akan melahirkan dan butuh bantuan dari anda," ujar petugas tersebut.
"Baiklah, kirimkan data pasien tersebut!" titah Eqitna.
"Siap Dok," balasnya.
Eqitna langsung meletakkan gagang telepon tersebut di tempatnya semula.
"Ada apa?" tanya Dimas.
"Ada pasien yang akan melahirkan," jawab Eqitna sambil melihat ke layar laptopnya.
"Oh..." lirih Dimas memanggut.
"Udah masuk data pasiennya," lontar Eqitna.
Lalu ia pun membaca data pasien yang di kirimkan oleh petugas resepsionis itu lewat laptopnya. Dan betapa terkejutnya Eqitna setelah membacanya, karena data pasien tersebut adalah ....
"Hah! Zuy!!"
"Zuy? Kenapa dengan Zuy, Eqi?" tanya Bunda Artiana yang terkejut mendengar nama Zuy.
"Zuy akan melahirkan Bunda," jawab Eqitna.
"Apa! Kok bisa? Bukannya masih dua minggu lagi?" cetus Dimas.
Eqitna mengarahkan pandangannya ke Dimas.
"Ketubannya udah pecah Dim," ujar Eqitna.
Lagi-lagi Dimas dan Bunda Artiana di buat terkejut oleh Eqitna.
"Apa! Yaudah kita kesana sekarang!" titah Bunda Artiana sambil perlahan bangkit dari duduknya.
Eqitna dan Dimas pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan, sesaat kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang bersalin.
Di ruang bersalin
Setelah sampai, Zuy langsung di bawa masuk ke dalam ruangan tersebut, sedangkan Bu Ima dan Henri berada di luar ruang bersalin.
"Nak Henri, tolong sekarang kamu jemput Bibinya Zuy ya!" pinta Bu Ima.
"Baik Bu Ima. Oh iya ini ransel milik Nyonya."
Henri memberikan ransel Zuy pada Bu Ima.
"Jangan lupa hubungi Tuan Ray juga!"
Henri kembali mengangguk, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Bu Ima. Setelah Henri pergi, Bu Ima langsung mengeluarkan hpnya dan menghubungi Bi Nana yang berada di Villa
**************************
Villa Z&R
Di Villa, Bi Nana sedang duduk di ruang utama bersama dengan Mamahnya Airin dan Rion yang beberapa menit yang lalu baru datang dari Kota asalnya.
__ADS_1
"Na, Zuy kapan pulang? Aku sudah kangen dengannya," lontar Mamahnya Airin.
"Mungkin sebentar lagi Teh," balas Bi Nana.
"Lalu suaminya?" tanya Mamahnya Airin
"Hmmmm, kalau Ray sudah dua hari berada di luar kota, mungkin nanti malam dia kembali," jawab Bi Nana. "Oh iya Teteh sama Rion kalau mau istirahat, di kamarnya Airin aja!" imbuhnya.
Akan tetapi Mamahnya Airin menggelengkan kepalanya.
"Tidak Na, nanti aja kalau Zuy udah datang."
Bi Nana memanggut, lalu tiba-tiba ....
Trrrrrrrt.... Trrrrrrrt.... Trrrrrrrt....
Hp Bi Nana berdering, membuat pandangan Bi Nana mengarah ke hp miliknya yang berada di atas meja, lalu ia pun langsung mengambilnya dan melihat ke arah layar hpnya.
"Kak Ima! Euuum, sebentar ya Teh."
Mamahnya Airin membalas dengan anggukan.
Bi Nana pun menjawab panggilan tersebut.
"Nana...." lirih Bu Ima.
"Iya Kak. Oh iya Ngomong-ngomong Kalian sudah sampai mana? Kenapa lama?" sahut Bi Nana sekaligus bertanya.
"Kami sedang di rumah sakit, Na." jawab Bu Ima.
"Rumah sakit? Apakah terjadi sesuatu?" cecar Bi Nana yang terkejut.
Terdengar suara helaan nafas Bu Ima dari sebrang telponnya.
"Haaa.... Begini Na, sepertinya Nak Zuy akan melahirkan sekarang."
"Apa! Serius Kak Ima?" Bi Nana kembali terkejut.
"Iya Na, soalnya air ketubannya sudah pecah."
"Ya ampun! Aku akan siap-siap kesana, Kak!"
"Iya, tadi juga aku udah menyuruh Henri untuk menjemput mu, Na."
"Oh, yaudah kalau begitu aku tutup telponnya Kak, soalnya aku mau nyiapin semua yang di perlukan."
"Iya Na."
Bi Nana pun langsung memutuskan telponnya.
"Ada apa Na?" tanya Mamahnya Airin.
"Zuy akan melahirkan Teh, soalnya ketubannya sudah pecah dan sekarang mereka sudah berada di rumah sakit," jawab Bi Nana dengan gemetaran.
"Apa! Kalau begitu kita langsung ke rumah sakit sekarang!"
"Iya Kak, tapi kita tunggu Henri datang, karena dia yang akan membawa kita ke sana," kata Bi Nana.
"Yaudah kalau seperti itu, Na."
"Sebentar ya Teh! Nana ke atas dulu, mau nyiapin semua yang di perlukan Zuy."
"Aku bantu ya Na!" tawar Mamahnya Airin.
Bi Nana pun mengangguk, lalu Mamahnya Airin bangkit dari posisinya dan mengalihkan pandangannya ke arah Rion.
"Kamu tunggu di sini ya! Mamah mau bantuin Tante Nana dulu." suruh Mamahnya Airin pada Rion.
"Iya Mamah," balas Rion.
Lalu Bi Nana dan Mamahnya Airin pun bergegas menuju ke kamar Z&R.
****************************
Sementara itu di lain tempat....
Ray sedang berada di dalam ruang meeting dan tengah membahas tentang pekerjaannya bersama para Dewan direksi dan para Kolega. Sedangkan Davin tengah berada di luar ruangan tersebut, sesekali ia mengarahkan pandangannya ke Arloji yang terpasang di lengannya itu.
"Sebentar lagi waktunya istirahat makan siang. Hmmmm kalau cuaca panas gini enaknya makan apa ya?" pikir Davin sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Dan di saat ia tengah memikirkan tentang makanan, tiba-tiba ....
Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....
Hpnya berdering dengan keras, seketika Davin tersadar.
"Ck, siapa sih yang menelpon? Mengganggu lamunan indah ku saja," umpat Davin sambil mengambil hpnya dari saku jas.
Kemudian ia pun langsung menjawab panggilan dari telponnya.
"Pak, ini saya Henri."
"Iya aku tahu, memangnya ada apa kamu tiba-tiba menelpon ku?" cetus Davin.
"Begini Pak, tolong bilang ke Tuan Ray! Kalau Nyonya sekarang ada di rumah sakit dan akan melahirkan," ujar Henri.
"Oh hanya itu, iya nanti akan aku sampaikan," balas Davin, sepertinya ia belum sadar dengan perkataan Henri.
Lalu ....
"Kamu bilang apa Hen? Kedua ponakan ku akan lahir?" seru Davin yang terkejut.
"Iya Pak, makanya saya bilang pada anda untuk menyampaikan kabar ini pada Tuan Ray."
"Oh baiklah akan aku sampaikan ke Tuan Ray, yaudah aku tutup telponnya sekarang," kata Davin
Ia pun langsung memutuskan telponnya secara sepihak.
"Yeaaa.... Keponakanku akan lahir," Davin berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Sesaat Davin langsung menghentikan aksinya, ia pun segera masuk ke ruang rapat tersebut.
"Permisi...." seru Davin.
Sehingga membuat pandangan semuanya mengarah ke arahnya. Davin lalu melangkahkan kakinya menghampiri Ray.
"Tuan Ray, maaf mengganggu." ucap Davin berbisik.
"Ada apa Kak Davin?" tanya Ray.
"Begini Tuan, saya ingin menyampaikan berita yang menggembirakan," jawab Davin.
"Hah! Berita menggembirakan? Memang berita tentang apa?" Ray mulai penasaran.
Sesaat Davin menghela nafasnya. "Ini tentang kedua ponakan ku dan mereka berdua sebentar akan lahir, Tuan Ray."
"Oh ponakan Kak Davin akan lahir. Ck, kirain berita apaan," lontar Ray membuat Davin mengerenyitkan keningnya.
Nampaknya Ray juga tidak sadar apa yang di sampaikan oleh Davin, sama seperti Davin sebelumnya.
"Lha kok tanggapannya seperti itu?" lirih Davin.
Lalu tiba-tiba ....
Braaaak....
Ray dengan refleks menggebrak meja sambil bangkit dari posisinya, sontak membuat Davin dan lainnya tersentak kaget.
"Tuan Ray ada apa?" tanya salah satu koleganya.
"Tidak ada apa-apa. Sebentar!"
Ray langsung mengalihkan pandangannya ke arah Davin.
"Barusan Kak Davin bilang apa? Kedua ponakan Kakak akan lahir? Itu berarti ...."
Davin mengangguk cepat. "I-iya Tuan, tadi Henri bilang padaku bahwa Zuy akan melahirkan dan sekarang dia ada di rumah sakit."
Deeeg....
Seketika jantung Ray berdegup kencang, tangannya pun bergetar hebat saat mendengar bahwa Zuy akan melahirkan.
"Sebentar lagi aku menjadi Daddy," lirih Ray di barengi dengan aliran air matanya.
"Iya Tuan Ray, sebentar lagi anda akan menjadi Daddy."
Semua orang berada di ruangan itu nampak keheranan. Lalu ....
"Tuan Ray, bisa kita lanjutkan rapatnya?" lontar salah satu rekannya.
Mendengar itu, Ray langsung menghapus air matanya dan mengarahkan pandangannya ke para Dewan direksi dan koleganya.
"Maaf, sepertinya saya harus meninggalkan rapat ini!" lontar Ray.
"Apa! Tapi kenapa?"
"Karena istri saya akan melahirkan," ujar Ray.
Sontak membuat mereka terkejut dan saling memandang satu sama lain.
"Kalau begitu saya pergi dulu, permisi!" ucap Ray. "Ayo Kak Davin!" imbuhnya.
__ADS_1
Davin pun langsung menurut, kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat. Setelah berada di luar ruangan ....
"Tuan, kita kembali ke hotel dulu! Setelah itu baru kita langsung berangkat," kata Davin.
"Iya atur aja Kak! Yang terpenting aku ingin segera menemani sayangku," cetus Ray.
Davin mengangguk. "Siap Tuan Ray."
***************************
Rumah Sakit
—Pukul 03.45Pm
Tak terasa Bi Nana dan lainnya sudah sampai di rumah sakit, setelah beberapa saat Henri datang untuk menjemput mereka.
Lalu setibanya di ruang bersalin, Bi Nana melihat Zuy tengah duduk di depan ruangan bersama dengan Bu Ima dan Bunda Artiana. Kemudian Bi Nana dan lainnya langsung menghampiri Zuy.
"Zuy...." seru Bi Nana.
Mendengar suara Bi Nana, Zuy menolehkan kepalanya.
"Bi Nana, Mamah!"
Sebelum memeluk Zuy, Bi Nana terlebih dahulu memberikan Rana pada Bu Ima, setelah itu ia mendekat ke arah Zuy dan memeluknya.
"Bi, maafin Zuy ya! Kalau Zuy sering berbuat salah dan bahkan Zuy sering merepotkan Bi Nana. Terimakasih banyak Bi, karena Bi Nana sudah merawat Zuy dari bayi hingga sekarang ini, Zuy benar-benar sangat bersyukur karena memiliki Bi Nana yang sudah membesarkan Zuy dan bahkan rela berkorban demi Zuy. Bi Nana, hari ini Zuy akan melahirkan anak pertama Zuy, Zuy minta izin sama Bi Nana dan Zuy minta doa dari Bi Nana, supaya lahiran Zuy lancar." ucap Zuy menangis.
Seketika membuat tangis Bi Nana dan lainnya pecah saat mendengar ucapan Zuy. Bi Nana lalu melepaskan pelukannya dan mendaratkan ciuman ke kening dan beralih kedua pipi Zuy.
"Zuy, kamu adalah gadis kecilku, peninggalan satu-satunya dari Kak Jordhan, jadi sudah sepantasnya Bi Nana merawat dan membesarkan mu. Dan Bibi sama sekali tidak pernah merasa di repotkan oleh mu, Zuy. Iya Bibi akan mendoakan mu supaya kamu persalinannya lancar dan gampang. Kamu yang tenang ya! Jangan terlalu panik dan juga banyak berdoa ya, gadis kecilku!" tutur Bi Nana.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia beralih ke arah Mamahnya Airin.
"Mamah...."
Mamahnya Airin pun langsung memeluk Zuy.
"Mamah, terimakasih karena sudah datang," ucap Zuy.
"Sama-sama geulis. Mamah kan sudah janji, bahwa Mamah akan menemani kamu saat persalinan mu, dan Mamah doakan semoga lahirannya lancar ya geulis-na Mamah."
"Iya Mah."
Mereka pun melepaskan pelukannya, lalu tiba-tiba ....
Aaaaaah....
Lagi-lagi Zuy memekik keras, sehingga membuat semuanya panik.
"Zuy...."
"Perut Zuy sakit Bi," rintih Zuy sembari memegangi perutnya.
"Ya ampun, apa sudah waktunya? Yaudah kamu tenang dulu ya sayang!" tutur Bi Nana.
Namun Zuy terus saja meringis, lalu kemudian Eqitna menghampiri Zuy dengan menggunakan pakaian khusus.
"Zuy, sekarang sudah waktunya, ayo kita masuk!" ajak Eqitna.
"I-iya Dok."
"Lalu siapa yang akan ikut menemani Zuy?"
Mamahnya Airin pun langsung mengangkat tangannya. "Saya yang akan menemaninya."
"Baiklah, ayo ikut saya!"
Mamahnya Airin lalu mendorong kursi roda Zuy menuju ke ruang bersalin, di susul oleh Eqitna.
"Tuhan saya mohon selamatkan cucu dan kedua cicit ku, lancarkan persalinannya," ucap Bunda Artiana merekatkan kedua tangannya.
Begitu pula dengan Bi Nana dan Bu Ima, mereka juga berdoa untuk keselamatan Zuy beserta kedua anaknya.
Di dalam ruang bersalin, Zuy pun membaringkan tubuhnya sambil merentangkan kakinya dengan lebar.
"Ingat Zuy, kamu harus tenang, atur nafasmu perlahan, mengejan jika sakit dan yang terpenting jangan menutup mata kamu!" pesan Eqitna.
Zuy pun mengangguk patuh.
"Siap Zuy? Ayo kita mulai sekarang!"
Zuy mulai mengatur nafasnya dan mendorongnya, ia pun mengejan dengan sekuat tenaga, Mamah Airin yang berada di samping Zuy, sesekali memberikan dorongan semangat untuk Zuy sambil mengusap keringat yang mengalir, dan dalam hitungan beberapa menit, salah satu bayi Zuy pun lahir dan berjenis kelamin laki-laki.
Oeek... Oeeek....
Tangisnya pun menggema, sehingga Zuy terharu dan menitihkan air matanya. Eqitna lalu memberikan bayi tersebut pada perawat lainnya, setelah itu ia beralih kembali ke arah Zuy, karena masih ada satu bayi lagi yang masih berada di dalam kandungan Zuy.
"Apa kamu sudah siap Zuy?"
"Iya Dok."
"Sama seperti tadi ya! Atur nafasmu perlahan, mengejan jika sakit dan yang terpenting jangan menutup mata kamu!" Eqitna mengulangi perkataannya dan di balas anggukan Zuy.
"Ayo kita mulai!"
Zuy pun kembali mengulang apa yang ia lakukan tadi, dan beberapa saat kemudian ....
Oeeek.... Oeeek....
Suara tangis salah satu bayi Zuy kembali menggema, membuat Zuy kembali menitihkan air matanya, lalu Eqitna kembali memberikan bayi Zuy pada perawat lainnya.
"Akhirnya selesai juga, kamu hebat Zuy," puji Eqitna.
Zuy pun hanya membalasnya dengan senyuman, sesaat kemudian kedua anak Zuy langsung di letakkan di atas dada Zuy.
"Anak-anakku...." tangis Zuy yang bahagia.
"Selamat ya anak Mamah," ucap Mamahnya Airin.
Eqitna mendekat ke arah Zuy. "Selamat ya Zuy, kamu telah melahirkan kedua anak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keduanya sehat dan tanpa cacat sekalipun."
"Terimakasih banyak Dok," ucap Zuy.
"Yaudah kalau begitu anak-anak mu akan di bawa ke ruang bayi terlebih dahulu untuk perawatan dan imunisasi," kata Eqitna.
"Iya Dok."
Sebelum di bawa Eqitna, Zuy terlebih dahulu mencium kedua anaknya itu, lalu Eqitna mengambil kedua anaknya Zuy dan membawanya keluar.
Setelah berada di luar, Bi Nana, Bu Ima dan Bunda Artiana langsung menghampiri.
"Syukurlah kedua cucuku sudah lahir," ucap Bi Nana.
"Cicit-cicit uyut sangat lucu," sambung Bunda Artiana.
Setelah puas melihatnya, Eqitna segera membawa kedua bayi itu ke ruangan khusus bayi. Lalu mereka pun masuk ke ruang bersalin secara bergantian.
—Pukul 08.35Pm
Ray nampak baru sampai di rumah sakit, ia pun langsung berlari menuju ke arah ruang bersalin di mana pujaan hatinya berada.
Setibanya di sana, Ray langsung menghampiri Dimas, Aries, Yiou, Rion, Airin serta Mamahnya Airin, sedangkan Bi Nana sudah pulang ke Villa bersama Bu Ima. Lalu ....
"Di mana sayangku? Lalu bagaimana dengan anak-anakku?" seru Ray terengah-engah.
Sehingga membuat mereka memalingkan pandangannya ke arah Ray. Yiou pun langsung bangkit dari posisinya dan memeluk Ray.
"Selamat ya Tuan dingin, sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah."
"Apa! Terimakasih Kak," ucap Ray.
Kemudian mereka melepaskan pelukannya.
"Kamu masuklah ke dalam! Baby sudah menunggu kedatangan mu," titah Yiou.
"Iya Kak, maaf semuanya. Ray masuk ke dalam dulu," pamit Ray, mereka hanya membalas anggukan saja.
Ray lalu melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruang tersebut.
"Sayangku...." seru Ray menghampiri.
Zuy yang sedang terbaring pun perlahan menolehkan kepalanya ke arah suara Papah dari anak-anaknya itu.
"Ray!!"
***Bersambung....
Welcome to Baby Z&R,
Siapa yang penasaran dengan nama mereka?
See you next time... 😉😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌