
<<<<<
Pandangan Dimas dan Archo pun beralih ke arah Bunda Artiana.
"Bundaaaa...."
Dimas langsung menghampiri Bunda Artiana.
"Bunda.... Bunda...."
Dimas mengambil nebulizer milik Bunda Artiana dan memasangkannya hingga menutupi mulut dan hidung Bunda Artiana.
"Dimas, apa yang terjadi pada Bunda?" tanya Eqitna yang baru datang.
Dimas menoleh ke arah Eqitna. "Asma Bunda kambuh," jawabnya.
"Apa!!" Eqitna pun terkejut dengan jawaban Dimas.
Lalu....
"Dimas...." lirih Bunda Artiana
Seketika pandangan Dimas lainnya langsung mengarah ke Bunda Artiana.
"Bunda...." ucap serempak.
"Dimas...." lagi-lagi Bunda Artiana memanggil Dimas.
"Iya Bunda," sahut Dimas.
"Dimas, mana cucu Bunda?" tanya Bunda Artiana.
"Nayla sedang berada di kamar Bunda," jawab Dimas.
Akan tetapi Bunda Artiana menggelengkan kepalanya.
"Bu-kan Nayla tapi Zuy," jelas Bunda Artiana.
"Zuy! Zuy ada di rumahnya, Bunda." balas Dimas.
"Uhuk... Dimas. Bawa dia ke Bunda! Bunda ingin memeluknya dan meminta maaf padanya. Sebab karena Bunda dan Ayahmu lah, Maria meninggalkannya. Bunda mohon Dimas!" pinta Bunda Artiana.
Dimas pun mengangguk cepat. "Iya Bunda, nanti Dimas bawa dia untuk menemui Bunda."
"Te-rimakasih Nak, uhuk.... uhuk...." ucap Bunda Artiana sambil terbatuk-batuk.
Bunda Artiana pun mengalami sesak nafas kembali, sontak membuat Dimas dan lainnya tersentak.
"Bunda! Eqi, siapkan mobil sekarang!" pinta Dimas.
"Iya Dim...." balas Eqi.
"Biar saya saja, mana kunci mobilnya?" ucap Archo.
"Itu Tuan, di samping pintu," ujar Eqitna menunjuk.
Archo pun langsung mengambil kunci mobil Dimas yang tergantung, kemudian ia melangkah keluar. Sedangkan Dimas langsung mengangkat tubuh Bunda Artiana dan membawanya keluar dari kamar.
"Dimas Kakak ikut!" cetus Maria
"Kakak di rumah aja bersama Eqi, biar Dimas dan Tuan Archo yang ke rumah sakit membawa Bunda," titah Dimas.
"Tapi Dimas...."
Lalu Eqitna memegang pundak Maria.
"Kak Maria, kita di rumah aja ya! Biar Dimas dan Tuan Archo yang membawa Bunda," tutur Eqitna.
"Baiklah, Kakak akan di sini menunggu kalian. Kalau ada apa-apa dengan Bunda, segera kabarin Kakak!" pinta Maria.
Dimas mengangguk. "Pasti Kak. Yaudah kalau gitu Dimas berangkat ya Kak, Eqitna."
"Iya Dimas, hati-hati di jalan!" ucap Eqitna.
Dimas lalu melangkahkan kakinya.
"Semoga Bunda baik-baik saja ya Eqi," kata Maria.
"Iya Kak," balas Eqitna seraya menganggukkan kepalanya.
Saat sudah berada di luar rumahnya, Dimas segera memasukkan Bunda Artiana ke dalam mobil dan di susul olehnya. Sesaat setelahnya, Archo langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
********************
Puskesmas Kota M
Beberapa saat setelah selesai menghabiskan bubur yang di berikan oleh Dokter, Zuy kembali membaringkan tubuhnya. Bu Sarmi pun kembali mengompres Zuy, karena panas di tubuh Zuy belum turun.
"Bu, Pak Toto. Terimakasih banyak sudah menolong Zuy dan membawa Zuy kesini," ucap Zuy.
"Sama-sama Nak, ya untungnya Bapak belum pulang. Coba kalau Bapak udah pulang, pasti kamu masih pingsan di atas makam Ayah kamu," ujar Pak Toto.
"Nak, kenapa kamu datang ke Kota ini sendirian? Dimana suami dan Bibi kamu?" tanya Bu Sarmi.
"Suami Zuy sibuk, sedangkan Bi Nana harus mengurus anaknya yang masih bayi. Jadi Zuy datang ke sini sendirian dan lagi Zuy kangen sama Papah," jawab Zuy.
"Oh begitu ya Nak," lirih Bu Sarmi.
Lalu Pak Toto memberikan hp milik Zuy.
"Nak Zoey, ini hp kamu. Maaf tadi Bapak lancang ambil hp kamu dari ransel kamu, soalnya Bapak ingin memberitahu pada keluargamu soal keadaanmu. Itu juga Bapak minta tolong sama Dokter di sini," jelas Pak Toto.
"Oh, iya gak apa-apa Pak Toto. Justru Zuy berterimakasih pada Pak Toto, karena sudah menghubungi keluarga Zuy," ucap Zuy sambil mengambil hpnya itu.
"Sama-sama Nak. Yaudah kalau begitu Bapak keluar ya," kata Pak Toto.
Zuy dan Bu Sarmi menganggukkan kepalanya secara bersamaan, lalu Pak Toto pun melangkah keluar.
"Nak, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Bu Sarmi.
Zuy menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu."
"Oh yaudah kalau begitu. Ibu akan tetap di sini nemenin kamu sampai keluarga mu datang menjemput," kata Bu Sarmi.
"Iya Bu, terimakasih banyak," ucap Zuy.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, Ray dan lainnya sudah sampai di Kota M.
"Tuan Bos, apa anda yakin kalau Zuy ada di Kota ini?" tanya Airin.
"Iya Rin, aku sangat yakin. Kak Davin, nanti pas di depan sana belok kiri ya!" titah Ray.
"Baik Tuan Ray," balas Davin.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke arah Puskesmas.
Beberapa saat kemudian....
Ray dan lainnya akhirnya sampai di tempat tujuan yaitu di Puskesmas. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka langsung keluar dari mobilnya.
"Apa benar ini tempatnya, Tuan?" tanya Davin mengedarkan pandangannya.
"Iya benar Kak, ayo kita ma ...."
Ray menghentikan perkataannya, karena ia melihat seseorang yang tengah duduk di luar sambil merokok, dan ternyata orang tersebut adalah Pak Toto.
"Lho bukankah beliau itu, Pak Toto." ucap Ray melihat ke arah Pak Toto.
"Pak Toto? siapa itu Tuan?" tanya Davin.
Ray tidak menjawab pertanyaan Davin, ia malah berjalan menghampiri Pak Toto.
"Pak Toto, anda Pak Toto kan?" sapa Ray.
Mendengar ada yang menyapanya, Pak Toto pun mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Iya saya Toto, lalu anda siapa ya?" tanya Pak Toto yang kebingungan.
"Pak Toto lupa sama saya? Saya Ray suaminya Zoey Pak," jawab Ray.
"Oh, kamu suaminya nak Zoey. Maaf Bapak udah tua nak, jadi Bapak sering lupa. Tapi Syukurlah kamu sudah datang," ujar Pak Toto.
"Lalu dimana istri saya?"
"Nak Zoey ada di dalam bersama istri saya," jawab Pak Toto. "Ayo Bapak antar ke sana!" imbuhnya.
Ray mengangguk. "Iya Pak, terimakasih banyak."
Lalu mereka melangkah masuk ke dalam dan menuju ke ruangan dimana Zuy sedang berada di sana bersama Bu Sarmi. Setibanya....
"Sayangku...." seru Ray dari ambang pintu.
Sontak membuat Zuy dan Bu Sarmi langsung menoleh ke arah Pintu.
"Ray!!"
Ray lalu bergegas masuk dan langsung memeluk tubuh pujaan hatinya itu.
"Sayangku, kamu benar-benar membuatku khawatir dan ketakutan, tapi Syukurlah kamu sudah sadar," lontar Ray.
"Maaf, maaf...." ucap Zuy, ia pun menangis di pelukan Ray.
"Sebenarnya apa yang terjadi sayangku? Sampai kamu nekat pergi ke Kota ini dan lagi kenapa kamu bisa sampai pingsan?" tanya Ray.
"Itu karena ...." belum sempat berkata, tangis Zuy kembali pecah.
Sesaat Zuy melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Ray.
"Harusnya Zuy senang kan Ray, mengetahui siapa Mamah sebenarnya, harusnya Zuy bahagia kan orang yang Zuy rindukan selama ini pulang, tapi kenapa Zuy malah tidak menyukainya, bahkan Zuy membencinya, Hiks." ungkap Zuy menangis.
Sontak membuat Ray dan lainnya terkejut mendengar ungkapan dari Zuy.
"Apa! Jadi sayangku sudah tahu Mrs Maria itu Ibu kandungnya?" batin Ray.
"Sesuai dugaan ku, bangkai yang tersembunyi akan tercium baunya," sambung batin Davin.
Airin lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut Zuy.
"Zuy, kenapa kamu tidak menyukainya? Bukankah bagus Ibumu akhirnya pulang," ucap Airin.
"I-itu karena dia adalah Mrs Maria, Rin." jawab Zuy.
"Apa! Ja-jadi Mrs Maria itu ...." Airin tersentak mendengarnya.
Lalu....
"Rin, Bapak dan Ibu. Ayo kita keluar dulu, biarkan mereka berdua saja. Jangan sampai kita jadi terbawa perasaan, gara-gara melihat kemesraan mereka yang tidak mengenal sekitar," celetuk Davin sembari mengajak Airin, Pak Toto dan Bu Sarmi keluar.
Mereka pun menuruti perkataan Davin dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Sesaat setelah mereka pergi....
"Sayangku, kamu tahu dari mana kalau Mrs Maria adalah Ibu kandungmu?" tanya Ray.
"Dia yang memberi tahu sendiri, bahkan Nyonya sampai memberikan hasil tes DNA antara aku dan Mrs Maria," ujar Zuy.
"Oh jadi Mrs Maria ada di sini ya?"
Zuy mengangguk. "I-iya, dia ada di sini bersama anaknya yang laki-laki."
"Jadi Archo juga ada di sini," batin Ray, lalu kemudian....
"Ray...."
"Iya sayangku...."
"Ray, setelah kamu mengetahui siapa Ibuku yang sebenarnya, apa kamu akan mengubah perasaan mu terhadap ku? Apa kamu akan meninggalkan ku?" tanya Zuy.
Seketika Ray langsung mengerutkan keningnya.
"Sayangku, kenapa kamu bertanya seperti itu?" pekik Ray.
"Itu karena aku anak dari Mrs Maria," ujar Zuy.
"Jadi...."
"Ray, bukannya kamu sangat membenci Mrs Maria dan keluarganya karena ia memaksamu untuk bertunangan dengan Kimberly? itu berarti kamu akan membenciku juga, dan lagi Kimberly ternyata ad ...."
Belum juga menyelesaikan perkataannya, Ray langsung menyambar bibir Zuy dan menyesapnya dengan buas, sehingga membuat Zuy terpaku. Sesaat kemudian, Ray menghentikan aksi buasnya itu.
"Ray...."
__ADS_1
"Sayangku, dengarkan perkataan ku! Walaupun kamu anak dari Mrs Maria atau penjahat sekalipun. Aku tidak peduli, kamu adalah kamu, orang yang sangat aku cintai, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayangku, apalagi sekarang kamu tengah mengandung buah cinta kita. Dan lagi, meskipun kamu terlahir dari rahim Maria, tapi yang membesarkan mu adalah Bi Nana, bukan Mrs Maria." ungkap Ray dengan panjangnya.
Zuy pun tertegun mendengar Ray, air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Sayangku, sudah kamu jangan menangis lagi ya! Lihatlah matamu sudah sembab seperti itu, dan lagi kasihan anak-anak kita, mereka pasti sedih melihat Mommy-nya seperti ini," tutur Ray sembari mengusap air mata Zuy.
"Tapi Ray...."
Ray menangkup kedua pipi Zuy.
"Sayangku, aku tahu perasaan mu sekarang ini seperti apa. Tapi aku mohon padamu sayangku! Untuk ingat akan kesehatan mu dan juga anak-anak kita," kata Ray.
"Dan aku juga tidak mau kamu jadi ragu dengan perasaan mu terhadap ku, yang akhirnya kamu akan melepaskan ku dan meninggalkan ku, setelah kamu tahu siapa Ibu kamu sebenarnya," sambung perkataan Ray sembari menundukkan kepalanya.
"Ray, kenapa kamu berkata seperti itu. Aku mana mungkin melepaskan mu dan meninggalkan mu. Kamu adalah orang yang sangat aku sayangi, Ray. Aku sudah menunggu mu begitu lama dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi," ucap Zuy.
Seketika Ray langsung mengangkat kepalanya dan memeluk erat pujaan hatinya.
Sementara itu di luar kamar rawat Zuy.
Davin, Airin, Bu Sarmi dan Pak Toto tengah duduk di kursi tunggu yang berada di depan kamar rawat tersebut.
"Aku tidak menyangka kalau Mrs Maria adalah Ibu kandung Zuy, pantas saja mereka terlihat sangat mirip," ucap Airin.
"Ya memang itu kenyataannya Rin," ujar Davin.
"Tunggu! Jangan-jangan Pak Davin sudah tahu yang sebenarnya," Airin pun nampak curiga dengan Davin.
Sesaat Davin menghela nafasnya dan berkata, "Iya, aku sudah mengetahuinya, bahkan Tuan Ray juga tahu."
"Hah! Tuan Bos juga tahu. Lalu sejak kapan kalian tahu?" tanya Airin menyidik.
"Kami tahu saat Tuan Ray meminta izin pada Tante Nana untuk menikahi Zuy, dan dari situlah Tante Nana menceritakan siapa Ibu Zuy yang sebenarnya. Kami benar-benar terkejut Rin, bahkan aku sampai mengira kalau Tuan Ray akan mengurungkan niatnya itu. Tapi ternyata tidak, Tuan Ray malah tetap menikahinya, dia tidak peduli dari siapa Zuy di lahirkan, bagi Tuan Ray Zuy adalah Zuy. Orang yang sangat di cintainya," ungkap Davin.
"Oh jadi seperti itu Pak, kasihan Zuy. Pasti ia sangat shock sampai lari ke Kota ini sendirian, bahkan sampai pingsan di atas makam Papahnya," ucap Airin tersedu-sedu.
Davin memanggut. "Iya kamu benar Rin."
Mendengar pembicaraan antara Davin dan Airin membuat Bu Sarmi terenyuh, bahkan Bu Sarmi sampai menitihkan air matanya.
"Bu, kenapa kamu menangis?" tanya Pak Toto yang berada di sampingnya.
"Ibu sedih Pak mendengar cerita dari anak-anak ini. Ibu jadi teringat masa lalu, dimana nak Zuy di tinggal oleh Ibunya saat masih bayi. Padahal dia masih membutuhkan kasih sayangnya. Ibunya benar-benar sangat jahat, wajar kalau ia sangat kecewa terhadap ibunya itu," cetus Bu Sarmi.
Seketika pandangan Airin dan Davin langsung mengarah ke Bu Sarmi.
"Jadi Ibu tahu tentang masa kecilnya Zuy?" tanya Airin yang terkejut.
"Iya tentu Ibu tahu, Nak. Ibu sudah lama mengenal Ayahnya Zuy dan Nana, bahkan sebelum ia menikah dengan Ibunya Zuy," jawab Bu Sarmi.
"Oh begitu ya Bu, pantas saja Ibu tahu tentang masa kecilnya Zuy yang di tinggal Ibunya," ucap Davin.
"Iya Nak. Ibu benar-benar kasihan padanya, sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya, setelah ibunya pergi, Ayahnya depresi dan sakit parah, bahkan sampai meninggal pada saat usia Zuy menginjak satu tahun, lalu setelah kepergian Ayahnya, ia langsung di bawa oleh orang Panti asuhan. Padahal kan Nana bisa mengurusnya sendiri, kami juga bisa membantu merawatnya, akan tetapi orang-orang itu malah kekeh membawa Zuy," ungkap Bu Sarmi sambil menangis.
(Kisahnya ada di Bab.54 pesan Papah)
Seketika tangis Airin pecah saat mendengar cerita dari Bu Sarmi, Davin yang melihatnya pun langsung memeluk Airin.
"Sudah jangan menangis Rin!" tutur Davin mengelus rambut Airin.
Di kamar rawat.
Kembali pada Ray dan Zuy.
"Ray, aku ingin pulang ke Villa!" pinta Zuy.
"Iya sayangku, nanti setelah cairan infusnya habis kita langsung pulang ke Villa," kata Ray.
"Terimakasih Ray, tapi boleh ya Zuy tinggal di sana beberapa hari, soalnya Zuy ingin menenangkan diri dulu dan Zuy tidak ingin bertemu dengan mereka!"
Ray tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu boleh sayangku, itu kan Villa kamu juga. Dan aku juga tidak akan mengizinkan mereka untuk menemui, sayangku." kata Ray sambil mengelus rambut pujaan hatinya itu.
"Terimakasih Ray...."
Lalu tiba-tiba....
Triiiiing.... Triiiiing.... Triiiiing....
"Ray sepertinya ada yang menelpon mu," lontar Zuy.
"Iya kah," Ray lalu mengambil hpnya dari saku jasnya.
"Oh iya kamu benar sayangku, sebentar ya! Aku jawab telponnya dulu." kata Ray sambil bangkit dari posisinya dan di balas anggukan oleh Zuy.
Kemudian ia melangkah keluar dari kamar rawat tersebut. Setelah beberapa jarak dari kamar tersebut, Ray langsung menjawab telponnya.
"Halo Ray...." suara dari sebrang telponnya.
"Iya Bi Nana," sahut Ray,
Ternyata yang menelponnya adalah Bi Nana.
"Ray, bagaimana dengan Zuy? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Bi Nana.
"Iya Bi, Ray sudah menemukannya di Kota M dan sekarang kami sedang di Puskesmas Kota M," jawab Ray.
"Apa! Di Kota M? Puskesmas? Ray apa yang terjadi padanya, sampai dia ada di Kota M dan berada di Puskesmas?"
Bi Nana pun meminta penjelasan dari Ray.
"Bi, sepertinya kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran dari ibu kandungnya Zuy," papar Ray.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, apa jangan-jangan Zuy ...."
"Iya Bi, Zuy sudah tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya," jelas Ray.
Sontak membuat Bi Nana tercengang.
"Apa! Jadi Zuy benar-benar sudah tahu Ibu kandungnya?!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌