Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Barang-Barang Kenangan...


__ADS_3

<<<<<


"Ini lah akibatnya, jika berani melawan burung Phoenix. Kimberly sedikit demi sedikit Mam sudah balaskan rasa sakitmu itu. Heh, mau sampai mana dia akan bertahan!"


Maria pun meletakkan hpnya di atas nakas, lalu ia mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas dan meneguknya. Sesaat setelahnya Maria meletakkan kembali gelas tersebut, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa kantuknya pun mulai menyerang dirinya.


Hoaaam...


"Hmmmm.. Kira-kira bagaimana keadaannya, semoga saja dia berada di rumahnya, tapi kalau benar, apa dia selamat atau tidak ya," lirih Maria yang ngelantur, sekejap ia menutup matanya dan tertidur lelap.


Namun Maria tidak mengetahui, bahwa sebenarnya di luar kamar ada dua orang yang sedari tadi mengamati Maria, mereka tak lain adalah Dimas dan Archo.


"Tidak ku sangka Kak Maria akan berbuat seperti itu. Untung saja anda tadi mengikutinya," lirih Dimas.


"Iya soalnya aku merasa ada yang aneh dengan Mam, makanya aku mengikutinya. Dan sekarang Dokter sudah tahu kan bagaimana sifat Mam. Maka dari itu aku butuh bantuan anda," ujar Archo. "Ngomong-ngomong obat tidur itu ada efek sampingnya tidak? Terus berapa lama Mam akan tertidur?" sambungnya.


Dimas menggelengkan kepalanya, "Tidak ada efek sampingnya Tuan Archo, itu hanya obat tidur biasa. Ya paling besok juga Kak Maria bangun."


"Oh begitu ya, baiklah sekarang aku akan ke dalam untuk mengecek hpnya, siapa tau aku bisa melacak keberadaan orang suruhan Mam," papar Archo.


"Tuan Archo, itu berarti kau akan ..., lalu bagaimana jika mereka memberitahu kalau Kak Maria yang menyuruh mereka?" tanya Dimas khawatir.


"Anda tenang saja Dokter Dimas, saya sudah punya rencana matang," kata Archo membuat Dimas kebingungan.


"Aku serahkan padamu Tuan Archo, karena untuk masalah seperti ini, aku bukan ahlinya," pekik Dimas.


Archo pun menganggukkan kepalanya, lalu ia masuk ke kamar Maria. Sedangkan Dimas hanya berdiri di luar sambil mengedarkan pandangannya. Saat berada di kamar Maria, Archo mengambil hp Maria, ia pun mulai mengecek hp Maria, Sesaat setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Archo pun bergegas keluar dari kamar tersebut.


***********************


Kembali ke Rumah Zuy


"Apa! Sengaja di bakar?!!"


Lontar Ray, mendengar itu Zuy langsung melepaskan pelukan Ray, lalu kemudian Zuy mencengkram baju Petugas pemadam tersebut dengan kencang.


"Anda bilang rumah ku sengaja di bakar? siapa yang melakukannya? Kenapa harus rumah ku?" sergah Zuy.


"Jangan tanya saya Nona, saya tidak tahu siapa yang melakukannya," kata Petugas tersebut.


"Sayangku tenang lah! Ingat sayangku, kau masih masa pemulihan, suaramu juga masih serak begitu," tutur Ray sambil melepaskan tangan Zuy dari baju Petugas pemadam tersebut.


"Rumah ku Ray, rumah ku!" tangis Zuy


Ray lalu memeluk Zuy. "Iya sayangku Ray tahu, tapi sayangku harus tenang ya! Ray janji akan mencari orang yang sudah membakar rumah mu dan mereka harus membayar apa yang sudah mereka perbuat pada sayangku," paparnya, lalu kemudian ...,


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" seru seseorang yang ternyata adalah Pak Randy. Ia pun menghampiri Ray dan Zuy.


Mendengar suara Pak Randy, Zuy langsung menoleh ke arah Pak Randy.


"Paman..!!" lirih Zuy.


Pak Randy mendaratkan tangannya ke kepala Zuy. "Zuy, Tuan Ray apa yang terjadi sebenarnya?"


"Ada seseorang yang sengaja membakarnya," jelas Ray.


"Apa! Siapa yang melakukannya?" tanya Pak Randy terkejut.


"Entah siapa yang melakukannya, namun anda tenang saja, saya pasti akan mencari pelakunya," ujar Ray. "Lalu anda ke sini apa Bi Nana tahu?"


Pak Randy menggeleng cepat, "Tidak, saat saya mendapatkan kabar ini, Nana sedang tertidur, makanya saya bergegas datang kesini untuk memastikannya."


"Syukurlah kalau begitu," lirih Ray.


"Pak, apa saya bisa masuk ke sana?" tanya Pak Randy pada Petugas pemadam tersebut.


"Maaf Pak, sepertinya belum bisa, lebih baik besok saja!" ujar Petugas tersebut.


"Baiklah kalau begitu."


Pandangan Pak Randy kembali mengarah ke Zuy.


"Zuy, kamu yang sabar ya!" tutur Pak Randy mengelus rambut Zuy.


Zuy mengangguk pelan, "Iya Paman."


"Tuan Ray, lebih baik anda bawa Zuy pulang! Soalnya wajahnya sudah pucat seperti itu," titah Pak Randy.


"Baiklah Pak Randy. Sayangku ayo kita pulang! Besok kita kesini lagi," ajak Ray.


Zuy hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Kak Davin, ayo pulang!"


"Baik Tuan Ray."


Lalu Davin berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir.


"Pak Randy kita duluan ya," pamit Ray


"Iya hati-hati, Tuan Ray jaga dia dan hibur lah dia supaya tidak sedih lagi!" tutur Pak Randy.


Ray menganggukkan kepalanya, "Pasti Pak Randy."


Ray melangkah pergi dari tempat tersebut sambil terus menggandeng Zuy menuju ke arah mobilnya. Sesampainya mereka bergegas masuk ke mobil, Davin pun segera menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumah.


*******************


Rumah Ray


Sesampainya di rumah, Ray dan Zuy segera masuk ke dalam rumah, lalu Ray membawa Zuy ke dalam kamarnya.


Kamar Ray


Setelah berada di dalam kamarnya, ia pun mendudukkan Zuy di sofa yang berada di kamarnya.


"Sayangku, tunggu sebentar ya! Ray ambilkan minum dulu," kata Ray.


Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya dan memegang erat tangan Ray.


"Sayangku ada apa?" tanya Ray


"Ray, bolehkah aku memelukmu sebentar saja!" ucap Zuy.


Mendengar ucapan Zuy, Ray segera duduk di samping Zuy dan memeluknya. Zuy langsung membalas pelukan Ray dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Ray. Kesedihannya tak dapat di tahannya lagi, ia pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Ray.


"Teruslah menangis sayangku! Jika itu membuatmu merasa tenang," tutur Ray mengelus kepala Zuy.


Akan tetapi berbeda dengan sorot matanya Ray yang memancarkan amarahnya.


"Tsk, mereka benar-benar cari mati!" umpat Ray dalam hatinya.


Sesaat setelah puas meluapkan kesedihannya, Zuy pun melepaskan pelukannya.


"Sayangku kenapa melepas pelukan? Apa sayangku sudah tenang?" tanya Ray


"Ray, Zuy tiba-tiba mengantuk, Zuy ingin tidur. Bisakah kau menemaniku Ray?"


"Tentu sayangku, tanpa di minta pun Ray akan selalu menemani sayangku. Yaudah kalau sayangku sudah ngantuk, kita pindah ke tempat tidur!" ajak Ray.


Mereka pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan beberapa langkah menuju ke tempat tidur. Zuy lalu merebahkan dirinya di atas kasur, begitu pula dengan Ray.

__ADS_1


...----------------...


Malam panjang pun berlalu, giliran pagi yang menyapa ke semuanya. Bu Ima pun sudah kembali dan tengah menjalankan aktivitasnya.


"Pagi Bu Ima...." sapa Davin


"Pagi juga Tuan Davin," sahut Bu Ima sambil memasak.


"Bu Ima bikin apa?" tanya Davin penasaran


"Oh ini Ibu bikin bubur untuk Nak Zuy, kalau sarapan untuk kalian sudah ibu siapkan di meja," kata Bu Ima.


"Oke, terimakasih Bu Ima."


"Oh iya, tadi Tuan Ray bilang kalau Nak Zuy kemaren sempat di rawat. Maaf Ibu benar-benar tidak tahu," ucap Bu Ima


Lalu Davin mengibas tangannya, "Bu Ima jangan minta maaf gitu, ini salah saya yang tidak menghubungi Bu Ima, ya soalnya saya pikir Bu Ima sedang bersama anak Bu Ima itu, dan lagi Bibinya juga gak tahu kalau Zuy di rawat," jelasnya. "Maaf ya Bu Ima."


"Iya Tuan."


Davin pun tersenyum, ia melangkahkan kakinya ke arah meja makan, setelah itu Davin menarik kursinya dan mendudukinya. Lalu Davin mengambil sarapannya.


Kamar Ray


Ray nampak baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai melakukan aktivitas di kamar mandi. Ray berjalan menuju ke tempat tidur, kemudian ia duduk di tepi ranjang.


"Ray..."


Mendengar namanya di panggil, ia pun menoleh ke arah suara tersebut, yang tak lain adalah pujaan hatinya yang baru bangun dari tidurnya.


"Pagi sayangku.."


"Ray jam berapa sekarang?" tanya Zuy sambil mengusap matanya.


Ray lalu mengambil hpnya dan melihat ke arah layarnya.


"Sudah jam setengah delapan lewat, sayangku." jawab Ray.


"Apa!!" Zuy terkejut dan langsung bangun dari posisinya.


"Ada apa sayangku? Kenapa terkejut begitu?" tanya Ray.


"Kenapa gak bangunin Zuy? Zuy jadinya terlambat kerja, Ray." pekik Zuy.


Mendengar itu Ray pun memicingkan matanya ke arah Zuy dan memegang pundak Zuy.


"Sayangku, Ray memang sengaja gak bangunin kamu, soalnya kamu masih belum pulih, Dokter Arif pun menyarankan agar sayangku istirahat dan jangan terlalu cape!" jelas Ray


"Ta-tapi Ray, nanti Zuy ...,"


"Takut di pecat?" sela Ray


Zuy pun menganggukkan kepalanya, sesaat Ray menghela nafasnya.


"Huuu.. Sayangku tidak akan ada yang berani memecatmu, jadi sayangku tenang saja ya!"


Zuy lalu menundukkan kepalanya, "Iya Ray, tapi apa boleh Zuy dateng ke rumah Zuy? Soalnya Zuy penasaran sama barang yang Zuy simpan, apa masih ada atau sudah habis di lahap api."


"Barang? Memangnya sayangku menyimpan barang apa?" tanya Ray


"Zuy menyimpan baju-baju milik Papah, soalnya itu barang yang paling berharga, satu-satunya kenangan yang Zuy punya. Bi Nana yang memberikannya padaku, waktu Zuy ulang tahun yang ke tujuh belas," kata Zuy.


Ray tertegun mendengar perkataan Zuy, lalu ia memegang kepala Zuy dan mengelusnya.


"Iya nanti kita ke sana, semoga barang berharga milik sayangku masih ada," ujar Ray.


"Iya semoga saja."


Tiba-tiba perut Zuy berbunyi, sontak membuat wajahnya memerah karena malu. Ray pun terkekeh saat mendengarnya.


"Apa sayangku sudah lapar?" tanya Ray


"I-iya Ray, kan kamu tahu dari kemaren Zuy hanya makan sedikit."


"Hmmmm, yaudah kalau gitu ayo kita keluar!"


"Baiklah, tapi Zuy ke kamar mandi dulu ya Ray," papar Zuy sambil beranjak dari tempat tidurnya, kemudian ia pun segera ke kamar mandi.


Setelah selesai, Zuy keluar dari kamar mandi, lalu mereka berdua berjalan keluar dari kamarnya.


*********************


Perusahaan CV


Tak terasa siang hari pun tiba, di mana para karyawan sedang beristirahat. Sedangkan Davin nampak sedang duduk di sofa yang berada di lobby sambil menatap ke layar hpnya. Nampak kesedihan di raut wajahnya itu,dan ternyata ia sedang melihat foto-foto kenangan bersama sahabatnya yang baru saja pergi meninggalkannya.


"Kenapa kau pergi begitu cepat, padahal kau sahabat terbaik ku, ya walaupun kadang wajah mu menyebalkan dan kaku mirip kertas kering," lirih Davin, tak terasa air matanya jatuh namun tak mengenai pipinya melainkan menggelinding ke bawah.


Lalu tiba-tiba seseorang menyodorkan tisue ke arah Davin, membuat Davin tercengang dan mendongakkan kepalanya ke arah orang tersebut, yang ternyata dia adalah ...,


"Airin..!!"


Airin pun tersenyum, lalu ia mendudukan dirinya di sofa lainnya.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan Pak, ikhlasin aja walaupun berat, ya mungkin memang sudah waktunya dia pergi," tutur Airin.


"Ya walaupun sebenarnya saya juga kecewa dan marah, sebab dia tidak menepati janjinya untuk meneraktirku makan, kalau kemaren aku di sana, mungkin aku guncangkan tubuhnya biar bangun dan nepatin janjinya itu," sambung umpat Airin.


Mendengar umpatan Airin, Davin yang awalnya sedih langsung tertawa.


"Dasar kamu Rin, untung orangnya udah gak ada, kalau masih hidup mungkin sekarang dia lagi bersin-bersin karena di kutuk oleh mu Rin, hahaha.."


Airin pun tersenyum bahagia melihat Davin tertawa dan dalam hatinya berkata, "Syukurlah.. Pak Davin tertawa lagi, maaf Tuan Shaka, aku gak bermaksud mengumpat atau mengutuk anda, jadi jangan datang ke mimpiku ya!"


"Airin..."


Airin pun menoleh, "Iya Pak Davin ada apa?"


"Terimakasih ya sudah menghiburku," ucap Davin.


"Hmmmm, padahal aku lagi gak menghibur Pak Davin lho, Airin hanya ngasih tahu Pak Davin saja," celetuk Airin. Akan tetapi berbeda dengan hatinya.


"Rin ka ...,"


Kling..


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ada chat masuk, sontak membuat Davin mengurungkannya, lalu ia segera membuka chat tersebut dan membacanya.


[Chat]


081xxxxxx


📲 Jika kau ingin mengetahui orang yang telah membakar rumahnya itu, maka datang lah ke alamat xxxx sekarang! Karena satu jam lagi mereka akan pergi ke tempat lain,✉


Davin pun tercengang saat membaca isi Chatnya, kemudian ia segera bangkit dari posisinya, lalu tiba-tiba ada Chat masuk lagi, ternyata dari nomer yang sama, dan ternyata dia mengirim foto orang yang sudah membakar rumah Zuy.


"Tsk, ternyata mereka orangnya, awas kalian!" umpat Davin.


"Ada apa Pak?" tanya Airin


"Ini orang yang membakar rumah Zuy sudah di temukan," jawab Davin membuat Airin tersentak kaget.

__ADS_1


"Apa! rumah Zuy di bakar? Kenapa bisa?" tanya Airin.


"Soal itu akan saya ceritakan nanti, soalnya sekarang saya buru-buru," ujar Davin.


Airin pun menganggukkan kepalanya, lalu Davin bergegas pergi keluar menuju Parkiran.


*************************


Rumah Zuy


Sementara itu, Ray dan Zuy baru saja sampai, mereka berdua langsung turun dari mobil, kemudian mereka bergegas menuju ke rumah yang setengahnya sudah rusak karena di lalap si jago merah. Dengan tubuhnya yang lemas, ia mencoba kuat saat melihat keadaan rumahnya, perasaan sedih tak bisa di sembunyi kan lagi.


Zuy lalu memasuki kamarnya yang sudah hancur, begitu pula dengan barang-barang miliknya, seperti baju miliknya yang ia tinggalkan, bahkan tempat tidurnya pun sudah hancur, lalu Zuy mencari kotak simpanannya yang berisi barang-barang yang ia anggap sebagai kenangan. Akan tetapi kotak tersebut juga hangus dan tak tersisa apapun, sontak membuat tangis Zuy pecah.


"Sayangku...!"


Hiks..


"Semuanya hancur Ray, tidak ada kenangan dari Papah," tangis Zuy.


Seketika Ray langsung memeluk erat Zuy. "Sayangku sabar ya! Ray janji akan mencari pelakunya sampai dapat, Ray akan buat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan pada sayangku," ucap Ray. Lalu kemudian ...,


Triiiiiing... Triiiiiing...


"Ck, siapa yang menelpon sih.." umpat Ray, lalu ia mengambil hpnya dari saku celananya. "Kak Davin!!"


Ray segera menjawab panggilan tersebut


"Ada apa?"


"Tuan Ray, saya sudah menemukan pelakunya," ujar Davin


"Apa!! Kak Davin serius sudah menemukan pelakunya?" tanya Ray terkejut.


"Iya Tuan Ray dan saya sedang menuju ke alamat xxxx, tempat mereka berada," ujar Davin.


"Baiklah... Nanti kalau sudah sampai segera kirim lokasinya!" titah Ray.


"Siap Tuan Ray, kalau gitu saya tutup telponnya dulu."


Davin pun memutuskan telponnya.


"Sayangku, pelakunya sudah di temukan dan Kak Davin sedang menuju ke sana," jelas Ray.


"Antar aku ke sana!"


"Sayangku..."


"Ray, antar aku ke sana! Aku benar-benar ingin tahu, kenapa mereka tega membakar rumah ku," sergah Zuy.


Ray menganggukkan kepalanya, "Baiklah.. Tapi kita tunggu Kak Davin mengirimkan lokasinya."


Tak lama kemudian, suara chat masuk di hpnya Ray. Ia pun langsung membuka chat tersebut dan membacanya, ternyata chat dari Davin, ia mengirimkan lokasi para pelakunya.


"Ayo kita berangkat sayangku! Kak Davin sudah berada di sana," kata Ray.


Zuy pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka keluar dari rumah tersebut dan bergegas masuk ke dalam mobil. Ray langsung menyalakan mobilnya, sesaat kemudian ia menginjak gas mobilnya dan pergi menuju tempat para pelaku.


**********************


Rumah Sakit


Bi Nana dan Pak Randy nampak sedang berbincang, sedangkan Nara tengah asik menonton Video di hpnya Bi Nana sambil menggunakan earphonnya.


"Sekarang Papih jawab pertanyaan ku! Apa yang terjadi sebenarnya? Dan rumah siapa yang terbakar? Sehingga Papih bergegas pergi," tanya Bi Nana.


"Na, tidak ada apa-apa, yang terbakar hanya rumah temanku saja," jawab Pak Randy.


"Jangan membohongiku! Aku benar-benar merasakan sesuatu yang mengganjal dan lagi Papih tidak pandai berbohong," kata Bi Nana.


Sesaat Pak Randy menghela nafasnya dan berkata, "Memang kamu orangnya sangat peka ya Na. Baiklah aku akan mengatakan yang sejujurnya, tapi kamu janji jangan terkejut apalagi pingsan!"


"Ya. Memangnya apa yang terjadi?"


"Sebenarnya semalam itu aku mendapat kabar bahwa rumah Zuy terbakar, dan aku segera ke sana untuk memastikannya dan ternyata benar, rumahnya benar-benar terbakar."


"Apa!! Kenapa bisa terbakar? Apa karena korsleting listrik?" tanya Bi Nana yang terkejut.


Pak Randy menggelengkan kepalanya, "Bukan Na, tapi karena ada yang sengaja membakarnya," jelasnya, sontak membuat Bi Nana terkejut.


"Apa! Siapa yang membakarnya?"


"Entahlah Na, Tuan Ray sedang mencari pelakunya, semoga secepatnya ketemu," ujar Pak Randy.


"Tsk, kurang ajar... Siapa yang berani membakar rumah gadis kecil ku? Tidak akan aku maafkan," umpat Bi Nana mengepalkan tangannya.


"Sabar Na, kita berdoa saja semoga pelakunya segera di temukan," tutur Pak Randy


Bi Nana pun menganggukkan kepalanya, namun air matanya lolos membasahi pipinya, seketika Pak Randy pun langsung memeluknya.


**************************


Beberapa saat kemudian, Ray dan Zuy akhirnya sampai di rumah pelakunya. Mereka pun bergegas masuk ke dalam, saat berada di dalam rumahnya. Kedua pelaku tersebut sedang duduk sambil menundukkan kepalanya dan di sana juga sudah ada Davin dan para pengawalnya.


"Kak Davin..!"


Mendengar suara Ray, para pengawal langsung membungkukkan badannya ke arah Ray.


"Tuan Ray, Zuy, selamat datang di pesta!" sambut Davin dengan senyum sumringah.


"Hmmmm, apa mereka pelakunya?" tanya Ray


"Tentu saja mereka para pelakunya, Tuan Ray." jawab Davin.


"Good job!"


Lalu Ray menghampiri para pelaku tersebut dan kemudian ...,


Bugh!!


Bugh!!


Beberapa pukulan mendarat ke arah dua pelaku tersebut dan membuat wajah mereka lebam. Lalu kemudian Ray mencengkram baju salah satu pelaku itu.


"Siapa yang menyuruh kalian membakar rumah istriku? Hah..!!" bentak Ray.


Pelaku itu hanya menundukkan kepalanya, membuat amarah Ray semakin memuncak.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh mu membakar rumah istriku? jawab b*stard!!"


Salah satu pelaku tersebut akhirnya perlahan membuka mulutnya.


"Se-sebenarnya ...,"


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2