Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Canggung...


__ADS_3

<<<<


"Enak banget kalau bicara, semua Perusahaan yang di sini, semuanya bekerja sama dengan Perusahaan CV, tanpa persetujuan dari Perusahaan CV, kita tidak bisa meminjam uang ke Perusahaan manapun untuk perusahaan kita, apa kamu tau, perusahaan kita bakalan bangkrut dan itu semua karena kamu Zetta," ungkap Deva dengan nada marah.


"Apa yang kamu katakan barusan Deva?!!"


"Perusahaan kita mengalami kerugian yang cukup besar, jika tidak ada suntikan dari Perusahaan mana pun, maka Perusahaan kita akan bangkrut Zetta," jelas Deva.


Mendengar penjelasan dari Deva, membuat Zetta terkejut bak tersambar petir, tubuhnya pun seketika lemas dan terduduk di lantai, air matanya tak bisa terbendung, ia langsung menangis sejadinya.


Hiks..


"Hwaaaa Deva, kenapa kamu baru bilang sekarang, kalau Perusahaan kita sampai bangkrut apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus aku katakan pada Papah soal ini, di sisi lain Papah juga sedang sakit parah, apa jadinya kalau dia sampai tau," tangis Zetta.


Melihat Zetta menangis seperti itu, Deva segera menghampiri Zetta, dan memegang tangan Zetta.


"Makanya aku tidak bilang apa-apa soal ini padamu dan juga Papah, di satu sisi aku gak mau kamu kepikiran, karena kamu juga lagi hamil, dan di sisi lain Papahmu juga sedang sakit, makanya aku berusaha mencari solusi sendiri dengan mencari pinjaman ke Perusahaan lainnya, agar Perusahaan kita kembali normal," ungkap Deva, "Namun saat aku udah hampir dapat pinjaman dari Perusahaan CV, kamu malah membuat masalah, jadi dia membatalkan semua perjanjian kita," imbuhnya.


Lalu Zetta menatap Deva dan langsung memeluknya, "Deva, aku benar-benar minta maaf, aku memang bodoh tanpa pikir panjang, aku langsung menyerang Zuy, aku pikir Zuy mau godain kamu Deva, Anne bilang padaku kalau kalian berdua sangat mesra, jadi aku cemburu, hiks.." ujarnya.


Mendengar nama Anne, Deva pun langsung melepaskan pelukan Zetta, "Apa Anne? Jadi kamu masih berhubungan dengannya, asal kamu tau Anne itu perempuan gak baik, justru dia yang sering menggodaku, makanya aku pecat dia," jelas Deva.


Zetta pun kembali menangis karena menyesal telah mempercayai ucapan Anne, Deva segera menenangkan Zetta dengan kembali memeluk Zetta.


"Sudah, sudah jangan kebanyakan menangis, kasihan bayi yang di perutmu Zetta, kalau kamu merasa bersalah, kamu harus minta maaflah ke Zuy," ujar Deva.


"Iya Dev, aku akan minta maaf padanya, tolong antar aku ke tempat tinggalnya ya!!" pinta Zetta.


"Iya nanti aku antar kamu ke rumah Zuy," kata Deva


"Terimakasih Dev," ucap Zetta.


*****


Rumah Ray


Zuy pun masih berada di rumah Ray, Ia sedang di dapur membuatkan bubur untuk Ray, setelah beberapa saat kemudian bubur yang di buat Zuy pun matang, lalu ia pun mematikan kompornya, setelah itu ia berjalan menuju ke kamar Ray.


`Di kamar Ray


Setelah sampai di kamar Ray, Zuy pun langsung masuk, di sana nampak Davin sedang duduk di samping Ray, lalu Zuy pun menghampiri Davin.


"Pak Davin.."


"Eh Zuy, ada apa?!!" tanya Davin


"Itu buburnya udah matang," jawab Zuy.


"Iya taroh aja di sana! Lagian Tuan Ray juga belum sadar," ujar Davin.


Zuy manggut-manggut.


"Oh.... Euummm, anu Pak, Zuy mau pulang dulu." pamit Zuy


"Apa! Pulang?!" Davin terkejut. "Zuy, lebih baik kamu menginap disini ya! Aku gak bisa ngurus bayi gede ini sendirian. Jadi kamu tetap di sini ya, please!" pinta Davin menangkup kedua tangannya.


Zuy mendesah. "Hmmm, yaudah Pak, Zuy akan menginap di sini." ujar Zuy.


"Terimakasih Zuy, kalau begitu aku ke depan ya, soalnya masih banyak pekerjaan Tuan Ray yang belum di cek semua. Oh iya, kalau ada apa-apa panggil aku ya..!!" tutur Davin.


"Baik Pak," ucap Zuy.


Davin keluar dari kamar Ray, kemudian Zuy menghampiri Ray tengah terbaring, ia pun memegang dahi Ray untuk mengecek suhu badan Ray.


"Panasnya kenapa belum turun juga ya," lirih Zuy.


Zuy mengambil handuk di baskom yang berisi air yang berada di meja kemudian meletakkan handuk itu ke dahi Ray. Setelah itu Zuy menarik tempat duduk dan menempatkannya di samping tempat tidurnya Ray seraya mendudukinya.


Malam semakin larut, Zuy kembali mengompres dahi Ray, karena suhu badan Ray masih panas, ia pun terus menjaga Ray hingga tertidur dan saat pukul 02.45 am, Ray akhirnya sadar dari pingsannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa di rumah?" lirih Ray mengedarkan pandangannya.


Ia pun membangunkan tubuhnya dan duduk menyandar. Ray lalu menoleh ke arah samping dan betapa terkejutnya ia melihat Zuy yang tertidur sambil memegang tangannya.


Ray lalu memandangi Zuy yang tengah tertidur lelap seraya menyunggingkan senyumnya.


"Kak Zuy...."


Lalu tiba-tiba.....


"Tuan Muda, hmmmm.."


Ray panik dan melepaskan tangannya, kemudian ia ingin kembali berbaring dan pura-pura tertidur. Akan tetapi ternyata Zuy hanya mengigau saja, seketika itu Ray menghela nafasnya.


Sesaat ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu dengan tubuhnya yang masih lemas, ia mengangkat Zuy dan membaringkannya di tempat tidurnya. Setelah itu, Ray melangkah keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menuju ke ruang kerjanya. Setelah sampai di ruang kerja, Ray melihat Davin yang sedang tertidur di sana.

__ADS_1


"Kak, Kak Davin bangun..!" Ray membangunkan Davin.


Davin pun bangun. "Hmmmm, Oh Tuan Ray."


Saat matanya terbuka dan melihat Ray, ia pun langsung terkejut seraya mengangkat kepalanya.


"Tuan Ray anda sudah sadar?! Syukurlah.." ujarnya.


Beberapa saat kemudian...


Davin dan Ray duduk di ruang makan, lalu Davin menceritakan apa yang terjadi dengan Ray.


"Oh jadi seperti itu, maaf kalau aku merepotkan kak Davin," ucap Ray.


"Iya gak apa-apa Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?!!" tanya Davin, "Tapi kalau gak mau cerita juga gak apa-apa Tuan," imbuhnya.


Ray menceritakan tentang apa yang terjadi dengannya, Davin pun terkejut mendengar cerita dari Ray.


"Harusnya Tuan Muda ngomong langsung ke Mrs Maria atau Liora bahwa Tuan tidak ingin bertunangan dengan Kimberly." tutur Davin. "Ah tapi mana mungkin sih mereka dua wanita itu bakalan paham."


"Nah itu dia Kak. Ya sebenarnya Ray juga ingin bicara, tapi nunggu waktu yang tepat dan juga nunggu Kak Zuy mengerti tentang perasaanku," ungkap Ray ke Davin.


Davin menghela nafasnya sejenak.


"Hah, ngomong-ngomong soal Zuy, anda harus minta maaf dengannya," ujar Davin


"Minta maaf, memang apa yang terjadi?!!" tanya Ray


"Hoho, ternyata Tuan gak mengingatnya, anda telah mencium bibirnya, Tuan." ungkap Davin.


Mendengar itu Ray pun terkejut, "A-apa yang kamu katakan barusan? jangan becanda Kak!"


"Siapa yang becanda, aku serius Tuan, udah nyium terus meluk lagi, aduuh," celetuk Davin.


Wajah Ray seketika langsung memerah mendengar perkataan Davin.


"Kak Davin, aku boleh minta tolong?!"


"Apa Tuan?!!" tanya Davin, lalu Ray pun membisikan sesuatu pada Davin.


"Baiklah..." ucap Davin.


°°°°°°


*Keesokan Harinya...


"Tuan Muda, Tuan Muda.." seru Zuy sambil menuruni tangga.


"Aku di sini kak..!" sahut Ray.


"Ya ampun Tuan Muda, Zuy pikir anda kemana, gimana keadaan Tuan?" tanya Zuy


"Ya sudah mendingan Kak, terimakasih sudah menjagaku" ucap Ray.


"Oh Syukurlah kalau begitu, oh iya kalau gitu Zuy pulang ya Tuan, soalnya mau kerja," tutur Zuy.


"Ehhhmmm.." Ray memberi isyarat ke Davin.


"Oh iya Zuy, hari ini kamu jangan kerja ya! tolong jagain bayi gede ini, soalnya hari ini ada meeting, jadi aku yang akan gantikan Tuan," ujar Davin.


"Tapi Pak, nanti aku ...,"


"Udah nanti aku yang bilang ke Bu Rere, lagian juga kamu kan jagain Tuan Ray, mau ya..!!" pinta Davin


"Yaudah Pak," lirih Zuy


"Makasih ya Zuy," ucap Davin.


Tak berapa lama kemudian, Davin pun berangkat ke kantor, sedangkan Ray dan Zuy di rumah hanya berdua.


"Zuy maaf ya gara-gara permintaan Davin, kamu harus jagain aku, padahal aku gak apa-apa kok di tinggal sendirian," papar Ray berbohong.


"Ah ti-tidak apa-apa Tuan, kalau gitu Zuy ke kamar mandi sebentar," kata Zuy,


Lalu ia pun pergi ke kamar mandi.


"Kenapa Kak Zuy terlihat gugup, apa gara-gara semalam, aah kenapa aku gak bisa mengingatnya." ujar Ray dengan pipinya yang memerah.


°Kamar mandi.


Zuy berada di dalam kamar mandi, ia pun langsung berdiri sambil menatap ke cermin.


"Kenapa rasanya jadi canggung begini saat dekat dengan Tuan, dan lagi kalau mengingat kejadian itu, rasanya jantungku terus berdegup kencang," kata Zuy, "Tidak-tidak aku gak boleh mikir macam-macam, aku harus bersikap seperti biasa," imbuhnya.


Zuy pun mencuci mukanya, setelah selesai ia langsung keluar dari kamar mandi dan bergegas menghampiri Ray.

__ADS_1


"Maaf Tuan, apa anda sudah minum obatnya?!!" tanya Zuy


"Belum Kak," jawab Ray


Zuy melangkah ke kamar Ray untuk mengambil obatnya Ray. Setelah itu ia pun kembali ke ruang tengah,


"Ini Tuan obatnya!" kata Zuy.


"Terimakasih."


Ray mengambil obat tersebut dari tangan Zuy kemudian ia pun meminumnya.


Lalu....


"Kak, soal yang semalam aku ...,"


"Ah maaf Tuan, sepertinya ada tukang sayur lewat, aku belanja dulu ya Tuan," kata Zuy sambil berjalan keluar rumah.


"Kak Zuy.."


*****


Perusahaan CV


Davin akhirnya sampai di Perusahaan, ia langsung bergegas masuk ke dalam, setelah sampai ke dalam, ia segera menuju ke ruangan Friska, setelah selesai Davin langsung menuju ke ruangannya.


Tak berapa lama kemudian, Friska masuk ke ruangan Davin,


"Pak, ini proposal yang anda minta, Pak Davin," kata Friska sambil menyerahkan berkas ke Davin.


"Terimakasih Bu Friska," ucap Davin


"Pak, apa boleh nanti sepulang kerja kita menjenguk Tuan Ray?!!" tanya Friska.


"Oh iya boleh kok, tapi nanti aku hubungi Tuan Ray dulu," ujar Davin.


"Baik Pak, kalau gitu saya permisi.." Friska pun pergi...


Beberapa saat kemudian, Kimberly datang bersama Maria, namun Kimberly tidak menemukan Ray, dan saat itu Davin sedang ada Rapat di luar, lalu Kimberly bertanya pada salah satu pegawainya Ray, setelah mengetahui keadaan Ray, Kimberly dan Maria langsung bergegas menuju ke rumah Ray.


*****


Rumah Ray


Setelah beberapa saat kemudian, Kimberly dan Maria sampai di rumah Ray, ia pun langsung memencet bel, di saat itu Zuy yang sedang masak, mendengar bel berbunyi ia langsung ke depan dan membukakan pintu. Setelah di buka..


"Lho kok kamu bisa ada di sini?!!" tanya Kimberly


"Ah Mrs Kimberly, A-aku ...,"


"Siapa yang datang Kak?!!" tanya Ray.


"Ay..." seru Kimberly menghampiri Ray dan memeluk Ray


"Kimberly, jangan seperti ini," ujar Ray melepaskan pelukan Kimberly.


Zuy yang melihatnya pun langsung terdiam, lalu..


"Hai, kenapa melamun?!!" tanya Maria


"Ah maaf Mrs, ayo masuk..!" ajak Zuy, "Silahkan duduk dulu Mrs Maria."


"Terimakasih.." ucap Maria.


"Mau minum apa Mrs,?!!" tanya Zuy


"Nanti saja, Euummm sini duduk sebentar! soalnya aku ingin mengobrol denganmu Zoya eh maaf maksudnya Zuy," kata Maria


Lalu Zuy pun duduk di samping Maria, namun pandangannya tertuju pada Ray dan Kimberly.


"Ehemmm, Kimberly suka begitu kalau udah dekat Ray, jadi maaf ya," ucap Maria.


"Ah gak apa-apa Mrs."


"Oh iya kamu disini untuk menjaga Ray kan, denger-denger kamu itu dulu Pengasuhnya Rayyan ya?!!" tanya Maria


"I-iya Mrs, tapi itu dulu sekarang aku hanya pegawainya," jelas Zuy.


"Oh sama aja, Zuy terimakasih banyak sudah menjaga My future Son-in-law," ujar Maria


Deeeg..


"Apa anda bilang Ca-calon me-menantu?!!"


**Bersambung..

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak2 Readers yang aku sayangi, terus semangat ya Kakak dan jaga kesehatan kalian semua ya, ♥♥ Terimakasih banyak atas dukungannya, mohon Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan.. 🙏🙏🙏


Salam Author.. ✌😉😉✌


__ADS_2