
<<<<<
Masih percakapan dalam telpon.
"Mam, Kimberly ingin dia pergi dari kehidupan Ay, bahkan Kim ingin dia tidak pernah kembali lagi," cetus Kimberly. "Lalu apa Mam sudah punya cara lain?"
"Soal itu Mam ...."
Seketika Maria tertunduk diam, ia merasa bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Kimberly. Lalu ....
"Mam.... Apa Mam masih di sana?" tanya Kimberly.
"Ah, iya Mam masih di sini Kim." jawab Maria.
"Lalu kenapa Mam diam?"
"Euuum.... Mam diam karena sedang berfikir, Kim." ujar Maria. Lalu tiba-tiba ....
Hiks...
Terdengar suara tangis dari Kimberly membuat Maria terkejut mendengarnya.
"Kimberly sayang, kenapa kamu menangis?"
"Kimberly ingat Ay Mam, padahal rencana pertunangan kami tinggal beberapa minggu lagi, tapi rencana itu semuanya hanya wacana saja, Ay mencampakan Kimberly demi wanita itu. Kim sangat sedih Mam, hati Kim benar-benar sakit, Kimberly ...." tangis Kimberly
"Sayang.... Jangan menangis! Dada Mam sangat sesak mendengar kamu menangis seperti itu," ujar Maria.
"Ta-tapi Mam, Ki-Kim .... Ga-gara-gara wanita itu, A-ay jadi berubah dan mem .... batalkan pertunangan kita, pokoknya K-Kim gak terima, Mam ha-harus secepatnya me-nyingkirkannya, hiks...." ucap Kimberly yang sesenggukan.
Seketika sorot mata Maria berubah saat mendengar ucapan Kimberly yang sesenggukan, amarahnya pun kembali merasuki hatinya, sehingga membuatnya lupa akan Zuy. Lalu ....
"Sayang kamu tenang saja, secepatnya Mam akan menyingkirkan wanita itu, demi anak kesayangan Mam. Kamu jangan sedih lagi ya sayang!" kata Maria.
"Be-benarkah yang Mam katakan itu?"
"Tentu benar Kim, untuk apa berbohong. Dan lagi Mam waktu itu menyuruh orang membakar rumahnya," ujar Maria membuat Kimberly terkejut.
"Apa! Mam membakar rumah wanita itu? Lalu apa dia mati atau terluka parah?" Kimberly pun penasaran.
"Tidak sayang, wanita itu justru selamat. Tapi kamu tenang saja ya! Pokoknya Mam akan mencari cara untuk menyingkirkannya!" tegas Maria.
"Mam memang yang terbaik, Kimberly sangat sayang sama Mam, I LOVE YOU Mam," ucap Kimberly.
"Mam juga sayang sama Kimberly, yaudah kamu istirahat ya sayang! Mam juga mau istirahat, jangan telat makan, jaga kesehatan mu sayang!" tutur Maria.
"Iya Mam, yaudah Kim tutup telponnya Mam. Selamat malam...."
"Selamat malam sayang...."
Obrolan pun berakhir.
"Tidak ada yang boleh menyakiti Kimberly. Pokoknya demi kamu, Mam akan melakukan apapun untuk menyingkirkannya," kata Maria.
Maria pun langsung mencari nomor hp seseorang yang ia kenal lebih tepatnya orang suruhannya, saat Maria hendak menghubungi orang suruhannya, tiba-tiba seseorang mengambil hp Maria. Maria pun terkejut dan mendongakkan kepalanya ke arahnya yang tak lain adalah Archo.
"Archo! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengambil hp Mam? Kembalikan!" Maria pun mencoba meraih hpnya dari tangan Archo.
"Mam, justru Archo yang harusnya bertanya pada Mam. Apa yang Mam lakukan? Apa Mam ingin menyuruh seseorang untuk mencelakai Zuy lagi?"
"Iya.... Karena dia sudah membuat Kimberly-ku menangis sesenggukan," tegas Maria.
Mendengar itu Archo pun tersentak, sesaat ia menarik nafas dan menghembuskannya.
"Lagi-lagi Kimberly yang Mam pikirkan," pekik Archo.
"Tentu saja, karena Kimberly anakku, dia juga adikmu, Archo!" cetus Maria.
"Zuy juga anakmu Mam! Dan dia juga Kakak dari Kimberly," tegas Archo.
Seketika Maria langsung tersadar dan menundukkan kepalanya, air matanya tak dapat di bendungnya lagi.
Hiks...
"Kenapa aku bisa lupa kalau dia juga putriku," lirih Maria
"Itu karena Mam masih belum menerima bahwa Zuy itu anak Mam, di hati Mam hanya ada Kimberly, Kimberly dan Kimberly!" pekik Archo.
Mendengar pekikan Archo, Maria hanya terdiam, lalu Archo memegang pundak Maria.
"Mam, Archo mohon bukalah hati Mam dan terima lah kenyataannya bahwa dia itu anak Mam!" tutur Archo. "Dan lagi Archo minta Mam jangan terlalu memanjakan Kimberly! Archo takut perlakuan Mam terhadap Kimberly akan berdampak buruk bagi Kimberly," sambungnya.
"Mam tidak memanjakan Kimberly, Mam hanya memberikan kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya dan lagi Kimberly masih kecil, Archo." cecar Maria.
Archo pun melepaskan tangannya dari pundak Maria.
"Terserah Mam saja, Archo tidak ingin berdebat sama Mam, Archo mau keluar cari udara segar. Mam istirahat lah!"
Archo lalu melangkah menuju keluar dari ruang rawat Maria. Selepas Archo pergi, Maria kembali menitihkan air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan? Keduanya adalah putriku, anak yang telah aku lahirkan. Dan lagi aku hampir saja mencelakai nya, Zuy maaf atas perbuatanku terhadap mu, Mam benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi dan menerima kenyataan ini," rutuk Maria.
***************
Rumah Ray
Sementara itu, Zuy nampak tengah tertidur di kamarnya sendiri, sebelumnya ia keluar dari kamar Ray, setelah Ray tertidur lelap. Lalu tiba-tiba Zuy terbangun dari tidurnya, ia pun segera bangkit dari posisinya.
"Ya ampun, berapa kali aku terbangun?" lirih Zuy,
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi. Sesaat kemudian Zuy keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya lagi, akan tetapi sesuatu menyerang Zuy kembali sehingga ia harus balik lagi ke kamar mandi karena tidak tahan ingin buang air kecil.
Setelah berapa kali bolak-balik ke kamar mandi, Zuy pun mulai kelelahan, lalu ia mendudukkan dirinya di kursi meja makannya.
"Haaaa.... Aku lelaaah..." lirih Zuy sambil menyandarkan kepalanya di meja, tak lama Zuy pun memejamkan matanya dan tertidur lelap.
•••••••••••••••••••••
Tak terasa waktu menunjukan pukul 05.00Am, nampak Bu Ima baru keluar dari kamarnya, kemudian ia bergegas menuju ke kamar mandi. Sesaat setelahnya, Bu Ima pun melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan, sesampainya Bu Ima terkejut melihat Zuy yang tengah tertidur di sana. Lalu Bu Ima mendekat ke arah Zuy dan membangunkannya.
"Nak Zuy, Bangun Nak!"
Zuy pun terbangun dari tidurnya, perlahan Zuy membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Bu Ima!" lirih Zuy mengusap matanya.
Bu Ima pun mengangguk. "Iya ini Ibu Nak, kenapa Nak Zuy tidur di sini?"
"Oh, semalam Zuy bolak-balik ke kamar mandi, saking lelahnya, Zuy duduk di sini dan gak di sangka malah ketiduran," ujar Zuy.
"Bolak-balik ke kamar mandi? Apa Nak Zuy terkena diare?" tanya Bu Ima terkejut.
Zuy menggelengkan kepalanya. "Zuy tidak terkena diare Bu Ima, tapi Zuy tidak tahan ingin buang air kecil terus, sehingga Zuy bolak-balik ke kamar mandi," jawab Zuy.
"Oh, Ibu kira Nak Zuy terkena diare, yaudah kalau begitu Ibu buatkan susu hangat ya!" kata Bu Ima.
Zuy menganggukkan kepalanya, lalu Bu Ima bergegas menuju ke dapur. Sedangkan Zuy masih duduk di sana. Lalu tiba-tiba rasa mual kembali menyerangnya sehingga membuat Zuy langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Sementara itu, Davin nampak sudah terbangun dari tidurnya, setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga. Setelah itu ia pun berjalan menuju ke dapur. Sesampainya ....
"Pagi Bu Ima...." sapa Davin
"Pagi juga Tuan," sahut Bu Ima. "Apa Tuan ingin sesuatu?"
Davin mengangguk. "Iya Bu, saya membutuhkan apron," jawab Davin.
"Apron? Untuk apa Tuan?" tanya Bu Ima keheranan.
"Untuk di pake Bu, soalnya hari ini saya ingin membuat nasi goreng buat Zuy, karena semalam Zuy meminta ku untuk membuatkan nasi goreng," ujar Davin.
"Oh begitu ya, sebentar Ibu ambilkan apronnya," kata Bu Ima.
Bu Ima lalu membuka lemari kecil yang berada di dapur dan mengambil apron berwarna biru muda. Kemudian ia memberikannya pada Davin.
"Ini Tuan Davin."
"Terimakasih Bu Ima," ucap Davin. Ia pun langsung mengenakannya.
Davin mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat nasi goreng, tentunya dengan bantuan Bu Ima. Lalu ....
__ADS_1
"Pak Davin sedang apa?" tanya Zuy menghampiri.
Davin pun menoleh. "Oh kamu Zuy, tentu sedang memasak dong. Kan semalam kamu minta padaku untuk di buatkan nasi goreng."
"Oh iya Zuy lupa Pak, euum maaf ya Pak Davin sudah merepotkan anda," ucap Zuy menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Zuy, justru aku senang." ujar Davin.
Zuy tersenyum. "Terimakasih Pak Davin."
"Sama-sama Zuy, yaudah kamu tunggu di meja makan saja ya!" titah Davin.
"Baiklah Pak Davin."
Zuy pun melangkah kakinya, namun terlebih dahulu ia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai Zuy keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar Ray.
Kamar Ray
Sesampainya di depan kamar Ray, Zuy pun mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban, lalu ia memutar handle pintu dan mendorong pintunya hingga terbuka. Setelah itu Zuy langsung masuk dan menghampiri Ray yang tengah tertidur. Kemudian ia mendudukan dirinya di tepi ranjang.
"Ray, bangun yuk!" Zuy membangunkan Ray.
"Hmmmm...."
"Ray, ayo bangun! Kita sarapan bareng!" ujar Zuy.
"Kasih morning kiss dulu dong! Baru Ray bangun," ucap Ray yang masih memejamkan matanya.
"Ray...."
Kemudian Ray menarik tangan Zuy sehingga membuat Zuy jatuh tepat di atas dadanya. Lalu ia pun memeluk erat tubuh Zuy.
"Sayangku... Ayo beri aku morning kiss!" pintanya dengan manja.
"Baiklah-baiklah, Zuy akan kasih morning kiss, tapi lepasin dulu dong!"
"Tidak mau!"
Zuy menghela nafasnya, kemudian ia mendaratkan bibirnya ke kening Ray.
"Lagi!"
"Udah cukup...."
"Masih kurang, yang ini belum, ini juga belum, apalagi ini," ujar Ray sambil menunjuk ke arah pipi dan bibirnya. "Kalau gak di kiss, Ray gak akan bangun."
"Iya baiklah..."
Cup..
Cup...
Cup...
"Apa itu cukup?" tanya Zuy
"Hehehe, sangat cukup sayangku..." Ray langsung membuka matanya. "Pagi sayangku yang cantik..."
"Hmmmm, pagi juga Ray. Ayo bangun! Zuy ingin sarapan di suapi kamu Ray." pinta Zuy.
Mendengar permintaan Zuy, Ray langsung membangunkan dirinya dengan posisi duduk.
"Sayangku minta di suapi?"
Zuy mengangguk. "Iya, apa boleh?"
Ray tersenyum bahagia. "Tentu boleh sayangku, apa sih yang gak buat sayangku yang cantik ini."
"Terimakasih Ray, yaudah kamu ke kamar mandi dulu, aku tunggu di bawah ya!"
"Tunggu dulu sayangku!"
"Ada apa lagi Ray?"
Ray mendekatkan bibirnya ke leher Zuy, kemudian ia menggigitnya membuat Zuy meringis kesakitan.
Bukannya minta maaf, Ray malah terkekeh sambil beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.
"Dasar kamu ya!" pekik Zuy.
Zuy langsung beranjak dari posisinya dan melangkah keluar dari kamar Ray. Setelah menuruni anak tangga, ia bergegas menuju ke meja makan.
"Dari mana Zuy?" tanya Davin sambil menempatkan nasi goreng ke piring
"Dari kamar Tuan Muda," jawab Zuy.
"Oh, habis melakukan aktivitas Misteri ranjang bergoyang ya?"
"Hah! Ti-tidak Pak Davin, Zuy hanya membangunkan Ray saja," ujar Zuy
"Kirain.... Soalnya ada bekas gigitan nyamuk besar di lehermu, Zuy." goda Davin.
Blush...
Seketika wajah Zuy langsung memerah bak tomat matang.
"Me-memangnya kelihatan ya?"
"Ya, terlihat sangat jelas."
"Apa! Ck, bener-bener deh si Ray," lirih Zuy.
Davin pun terkekeh, kemudian ia menyantap sarapannya, tak lama Ray datang menghampiri.
"Sepertinya enak nih," ucap Ray sambil menarik kursi dan mendudukinya.
"Iya jelas dong, siapa dulu yang masak," ucap Davin dengan sombongnya.
Zuy memberikan nasi goreng tersebut pada Ray, lalu kemudian Ray langsung menyuapi Zuy. Davin hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kemesraan mereka berdua.
"Hmmmm, dasar kalian ini..." batin Davin.
Mereka pun melanjutkan sarapannya.
************************
Rumah Dimas
Sementara itu, Dimas baru pulang dari rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya, ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah rumahnya. Setelah berada di dalam, Dimas berjalan menuju ke meja makan, dimana Bunda dan yang lainnya berada di sana.
"Pagi semuanya...." seru Dimas
"Papah...." sahut Nayla
Lalu Dimas menarik kursinya dan duduk di samping Nayla.
"Papah, kenapa baru pulang?" tanya Nayla
"Kan Papah kerja sayang dan lagi Papah juga harus jagain Tante Maria," jelas Dimas.
"Dimas, bagaimana keadaan Kakak mu?" tanya Bunda Artiana
Dimas menoleh ke Bunda Artiana. "Ya masih sama seperti kemaren, Bunda." jawabnya.
"Apa Maria benar-benar terkena stroke?"
"Belum di pastikan Bunda, nanti kita akan melakukan pemeriksaan dan CT scan, supaya kita tahu apakah Kak Maria benar-benar terkena stroke atau tidak," ujar Dimas.
"Semoga saja tidak seperti dugaanmu Dimas."
"Iya Bunda semoga saja, kita berdoa saja ya Bunda!" tutur Dimas.
Bunda Artiana mengangguk pelan. "Iya Dimas, lalu bagaimana dengan Zuy? Maksud Bunda apa dia sudah tahu kalau Maria di rawat di rumah sakit?" tanya Bunda Artiana.
"Soal itu, Dimas tidak tahu Bunda, soalnya Dimas belum bertemu dengannya lagi."
"Oh begitu ya Dim. Padahal dia keluarga kita dan tinggal dekat, tapi rasanya susah sekali untuk bertemu dengannya." ucap Bunda Artiana tersedu-sedu.
"Bunda sabar ya! Nanti juga kita bertemu dengannya lagi," tutur Dimas.
__ADS_1
"Iya Dimas."
***************************
Perusahaan CV
Tak terasa waktu berlalu dan beberapa saat lagi waktunya pulang kerja, Zuy dan Airin nampak sibuk dengan pekerjaannya. Lalu ....
Trrrrrrt.... Trrrrrrt...
Mendengar hpnya berdering, Zuy pun menghentikan aktivitasnya, lalu ia mengambil hpnya di saku celananya, kemudian ia melihat layar hpnya itu.
"Dokter Arif!"
Zuy langsung menjawab telponnya.
"Iya Dok,"
"Tadi kamu menghubungiku ya Zuy? Maaf tadi sangat sibuk, jadi tidak sempat menjawab telpon mu, memang ada apa?" tanya Dokter Arif.
"Begini Dok, Obat alergi Zuy hilang, jadi Zuy ingin memintanya lagi, apa boleh?" tanya Zuy.
"Tentu boleh, tapi sekarang saya masih berada di luar kota Zuy. Euum begini saja, kamu datang ke rumah sakit xxxx, nanti di sana kamu temui Dokter Dimas!" kata Dokter Arif
"Oh begitu ya Dok, yaudah nanti Zuy ke sana, terimakasih banyak Dokter," ucap Zuy
"Iya sama-sama Zuy."
Zuy langsung memutuskan telponnya.
"Dokter Dimas! Bukankah dia anaknya Nyonya," lirih Zuy.
"Kenapa Zuy?" tanya Airin.
"Tidak apa-apa Rin, ayo kita lanjut kerja lagi, biar pulang cepet." kata Zuy.
"Baiklah...."
Lalu mereka melanjutkan aktivitasnya kembali.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, setelah selesai dengan pekerjaannya. Zuy sudah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, Zuy sampai di rumah sakit dan segera memarkirkan motornya di tempat parkir khusus motor. Lalu ia pun bergegas masuk ke dalam dan menuju ke Resepsionis.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Petugasnya.
"Saya mencari Dokter Dimas." jawab Zuy. "Apa beliau ada?"
"Dokter Dimas ada di ruangannya, anda tinggal lurus aja, habis itu belok ke kanan," kata Petugas tersebut.
"Oke, terimakasih..."
Lalu Zuy berjalan menuju ke arah ruangan Dimas, sesampainya....
Ruang Dimas
Tok... Tok... Tok...
"Masuk..!!" seru Dimas dari dalam ruangannya.
Mendengar itu, Zuy langsung membuka pintunya.
"Permisi Dokter...." ucap Zuy.
Dimas pun menoleh, betapa terkejutnya Dimas melihat Zuy datang, lalu ia segera beranjak dari posisinya dan menghampiri Zuy.
"Zuy, apa yang membawamu kemari?" tanya Dimas.
"Euuum apa Dokter Arif tidak memberi tahu anda?"
Sesaat Dimas terdiam dan mengingatnya, lalu ....
"Oh iya, maaf Zuy saya lupa. Ayo masuk!"
Zuy langsung masuk dan duduk di kursi yang berada di sana.
"Iya tadi Dokter Arif memberi tahu saya, kalau ada pasiennya akan datang kesini, tapi aku gak menyangka itu kamu Zuy," papar Dimas.
Zuy tersenyum. "Lalu apa saya bisa mendapat obat alergi itu sekarang?"
"Tentu, tapi kamu harus di periksa dulu!"
Zuy mengangguk pelan, lalu Dimas mengambil peralatannya dan langsung memeriksa Zuy. namun saat Dimas memeriksa denyut nadi Zuy, tiba-tiba ia merasakan hal aneh, sehingga Dimas menghentikan pemeriksaannya.
"Ada apa Dokter?"
"Sebentar Zuy, saya hubungi seseorang dulu,"
Dimas pun menghubungi Eqitna, tak lama kemudian Eqitna datang dan menghampiri Dimas.
"Ada apa Dim?"
"Eqi, tolong kamu periksa Zuy ya!"
Eqitna pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah Dim, ayo Nona Zuy ikut dengan saya!"
Lalu mereka pun keluar dari ruangan Dimas dan berjalan menuju ruangan Eqitna.
Ruang Eqitna
Sesaat kemudian mereka sampai dan segera masuk ke dalam.
"Silahkan berbaring Nona!"
Zuy menuruti perkataan Eqitna, ia pun membaringkan badannya di ranjang yang berada di sana. Kemudian Eqitna langsung memeriksanya.
"Apa akhir-akhir ini kamu sering merasa pusing, mual atau hal lainnya, seperti sering buang air kecil?"
"Iya Dok, memang ada apa?"
Eqitna menghela nafasnya dan berkata, "Sepertinya kamu sedang mengandung."
Zuy tersentak kaget mendengar perkataan Eqitna. "Apa! Mengandung?"
"Iya dugaan saya begitu, ayo kita lakukan USG untuk memastikannya!"
Lagi-lagi Zuy hanya menganggukkan kepalanya saja, lalu Eqitna mengoleskan gel ke perut Zuy, kemudian menempelkan transducer dan menggerakannya.
"Apa anda melihatnya Nona? Kantong janinnya sudah terlihat jelas walau masih kecil, itu menandakan bahwa anda sedang mengandung, Nona." ujar Eqitna menunjuk ke arah layar.
Zuy tersentuh saat melihatnya, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Ternyata aku hamil!" batin Zuy.
Setelah melakukan pemeriksaan, Eqitna memberikan foto hasil usg, beserta amplop putih berisi hasil tesnya.
"Terimakasih Dokter, kalau begitu saya permisi dulu."
Zuy pun segera keluar dari ruangan Eqitna, sesaat setelah Zuy keluar.
"Apa dia sudah menikah? Atau hamil di luar nikah? Aku ingin bertanya, tapi takut menyinggungnya." ucap Eqitna.
Setelah berada di luar ruangan, Zuy pun terdiam sejenak, perasaannya kini tercampur aduk. Sesaat kemudian, ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar rumah sakit, lalu tiba-tiba ....
"Zuy....!!"
Mendengar namanya di panggil, Zuy menoleh dan betapa terkejutnya Zuy bahwa yang memanggilnya adalah ....
"Mrs Maria!!"
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1