Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kasih Sayang Zuy terhadap Bibinya...


__ADS_3

<<<<<


Zuy pun mulai terpancing amarah mendengar perkataan Bu Ida, ia langsung mengepalkan tangannya.


"Bu Ida, apa maksud anda berkata seperti itu?" tanya Zuy dengan kesalnya, lalu kemudian...


"Zuy..!!"


Sapa seseorang yang baru datang, akan tetapi Zuy tidak menoleh ke arah orang tersebut, pendangannya saat ini hanya tertuju kepada Bu Ida.


"Kak Ima..." ucap Bu Endah, ternyata orang itu adalah Bu Ima.


"Lho ada apa ini, Nak Zuy tumben kamu belum berangkat kerja?" tanya Bu Ima sambil melihat ke Zuy.


Akan tetapi Zuy tidak menjawab, ia terus menatap ke arah Bu Ida dengan tatapan tajam penuh kemarahan sambil melangkah mendekati Bu Ida.


"Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu, apa kamu marah dengan perkataanku tadi?" tanya Bu Ida yang sedikit ketakutan.


"Apa maksud perkataan tadi Bu Ida," pekik Zuy yang terus mengepalkan tangannya.


Melihat Zuy seperti itu, Bu Endah pun langsung memegangi lengan Zuy.


"Zuy, sudah kamu jangan dengerin perkataan Bu Ida, lebih baik kamu berangkat kerja sana," tutur Bu Endah.


"Bu Endah, tolong lepasin tangan Zuy, Zuy hanya ingin tahu kenapa Bu Ida berkata seperti itu," pinta Zuy sambil mencoba melepaskan pegangan Bu Endah.


Bu Ima yang melihatnya pun merasa kebingungan, "Hei sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Zuy nampak marah seperti itu?" tanya Bu Ima


"Ini Kak Ima, Si Ida lagi-lagi bergosip gak benar," ujar Bu Endah yang terus memegangi tangan Zuy.


"Ya ampun, Ida lagi-lagi mulutmu itu ya, kenapa gak ada henti-hentinya kamu membuat gosip yang gak bener," sergah Bu Ima.


"Siapa yang bergosip gak benar, orang aku benar kok kalau banyak laki-laki yang berdatangan ke rumahnya, terus juga aku semalam melihat dia di peluk laki-laki, dia memang sama seperti Bibinya itu, memang salahku di mana, dan lagi kenapa dia mesti marah, harusnya kan gak perlu marah dong," papar Bu Ida yang merasa paling benar.


"Ida, kamu ...,"


"Bu Ida, Zuy tidak akan marah jika anda hanya membicarakanku saja, tapi Zuy marah karena anda berkata buruk tentang Bi Nana, memfitnah Bi Nana di depan Zuy. Asal Bu Ida tahu, Bi Nana bukan orang yang seperti anda katakan itu. Bagi Zuy Bi Nana adalah orang yang sangat baik, Orang yang rela mengorbankan masa mudanya, demi merawat dan membesarkan Zuy sampai sekarang, Zuy gak akan terima jika ada seseorang berkata buruk tentangnya, karena hanya Zuy yang tahu Bi Nana seperti apa, Zuy sangat sayang padanya, dan Zuy gak terima ada orang yang menjelekkan nama baik Bi Nana," kata Zuy dengan nada tinggi, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


Mendengar perkataan Zuy, Bu Ima dan Bu Endah pun langsung menitihkan air matanya, lalu di elusnya punggung Zuy oleh Bu Ima untuk menenangkan Zuy.


"Ida, kamu benar-benar keterlaluan ya, udah Nak Zuy kamu jangan dengerin perkataan orang gila satu ini, ayo Bu Ima antar kamu pulang ke rumah," tutur Bu Ima.


Zuy langsung menggelengkan kepalanya, "(Sniift) Gak Bu Ima, lebih baik Zuy berangkat kerja aja Bu," kata Zuy sambil mengusap air matanya.


"Iya benar Zuy, daripada tetap di sini yang ada hanya sakit hati karena orang gila ini," celetuk Bu Endah sambil melihat ke arah Bu Ida.


"Endah apa maksudmu bicara seperti itu..!!" pekik Bu Ida.


Bu Ima pun langsung menatap tajam ke arah Bu Ida, membuat Bu Ida gemetaran.


"Iya Bu Endah, terimakasih banyak, kalau gitu Zuy pergi dulu," kata Zuy sambil mencium punggung tangan Bu Ima dan Bu Endah.


Zuy pun menaiki motornya, lalu kemudian menyalakan motornya.


"Bu Endah, Bu Ima..." ucap Zuy sambil tersenyum.


"Iya hati-hati nak Zuy," kata Bu Ima.


Zuy pun langsung menarik gas motornya, dan pergi menuju ke Perusahaan CV.


"Ida, kamu benar-benar punya mulut tapi isinya ucapan buruk semua, kalau kamu dendam dan benci sama Nana, jangan anak itu yang kau jadi sasaran," pekik Bu Endah.


"Oh jadi ini karena kebencianmu dengan Nana, makanya kamu begitu, hei Ida, kamu gak tau siapa mereka yang sebenarnya, mereka adalah orang-orang baik, bukan orang yang seperti kamu katakan itu, punya mulut tapi gak di gunain baik-baik," sergah Bu Ima.


Tanpa berkata apa-apa, Bu Ida pun langsung bergegas pergi dengan perasaan yang kesal karena rencananya untuk bergosip dan menjadi pusat perhatian ibu-ibu gagal total. Sedangkan Bu Endah dan Bu Ima melanjutkan belanjanya di warung itu.


°°°°°°


Sementara itu, di perjalanan Zuy gak berhenti-hentinya mengusap air matanya yang terus mengalir, perasaannya saat ini tercampur aduk, karena perkataan dari Bu Ida. ia pun terus melajukan motornya dengan cepat agar sampai di Perusahaan CV karena ia sudah sangat terlambat masuk kerja.


********


^Di Perusahaan CV


Tak lama kemudian, Zuy akhirnya sampai di tempat, ia langsung menuju ke parkiran, setelah berada di parkiran dan memarkirkan motornya, ia bergegas masuk ke dalam Kantor.


Setelah berada di dalam, ia pun langsung bergegas ke Pantry, akan tetapi...

__ADS_1


"Zuy..." seseorang memanggilnya.


Zuy lalu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara orang yang memanggilnya.


"B-Bu Rere.." lirih Zuy.


Ternyata yang memanggil Zuy adalah Rere, ia pun langsung menghampiri Zuy.


"Zuy, kamu tahu ini sudah jam berapa?" tanya Rere dengan nada keras


"Iya Bu Rere ini udah hampir jam 08.00 lewat," ujar Zuy sambil menunduk.


"Lantas kenapa kamu terlambat?" Rere kembali bertanya.


"Zuy tadi kesiangan bangun Bu Rere, maaf Bu Rere," ucap Zuy sambil merapatkan kedua tangannya di depan dadanya.


Rere pun menghela nafasnya, "Huh, yaudah kamu langsung ke Pantry aja..!!" suruh Rere.


"Baik Bu Rere, kalau gitu Zuy ke Pantry dulu," kata Zuy.


Lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke Pantry. Setelah sampai, ia pun langsung masuk ke dalam.


"Pagi semua..." sapa Zuy.


"Zuuuuuy..." seru Airin sambil menghampiri Zuy, lalu Airin pun langsung merangkul Zuy.


"Duuh ini orang, giliran Kakaknya datang langsung kegirangan, dari tadi mah manyun mulu dia," ceplos Brian.


"Diam kamu...!! dasar Brian jelek," pekik Airin


"Hihihi, kalian berdua ya benar-benar deh," papar Zuy.


Airin lalu melepaskan rangkulannya dan melihat ke arah Zuy, "Oh iya Zuy kenapa kamu terlam ... ...," obrolannya langsung terputus karena terkejut melihat mata Zuy yang memerah dan sembab karena habis menangis.


"Ada apa Rin?" tanya Zuy


"Mata kamu, kamu habis nangis ya?" tanya balik Airin.


"Ah tidak Rin, mungkin ini gara-gara semalam gak tidur, terimakasih banyak Rin, sudah menggantikan pekerjaanku," ucap Zuy.


°°°°°°


Ruangan Ceo


Ray nampak sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mengecek semua berkas yang menumpuk di depannya, setelah itu Ray pun langsung menanda tangani semua berkas-berkas itu. Lalu...


Tok.. Tok... Tok....


"Masuk...!!" suruh Ray


Cekleeek..


Lalu seseorang membuka pintu ruangan Ray.


"Tuan Ray Permisi..." ucap Friska sambil berjalan menghampiri Ray.


"Hmmmm... Bu Friska, ada apa?" tanya Ray


"Oh iya ini berkas yang anda minta Tuan Ray," kata Friska sambil menyerahkannya.


"Tolong berkasnya taroh saja di situ Bu Friska, terimakasih ya," ucap Ray.


"Iya sama-sama Tuan Ray.."


"Oh iya Bu Friska, anda kapan mau ambil cuti hamil?" tanya Ray


"Eeummm... mungkin minggu depan Tuan, setelah acara Ulang tahun Perusahaan CV," jawab Friska.


"Yaudah kalau seperti itu, anda boleh kembali..!!" suruh Ray


Friska pun menganggukkan kepalanya, Lalu Friska keluar dari ruang kerja Ray.


"Hah, mungkin kalau aku dan Kakak nikah, kalau dia hamil pasti kaya Bu Friska," Ray membayangkan apa yang ia bayangkan. lalu kemudian..


Paaak.. Paaak..


Ray lalu tersadar dan memukul pipinya sendiri, "Aduh Ray, apa yang kamu bayangkan barusan, sadar.. sadar.." paparnya. ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


•••••


Sementara itu, nampak seorang wanita datang ke Perusahaan CV, ia langsung masuk ke dalam dan menuju ke Resepsionis.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Citra


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Ray," jawabnya


"Apa anda sudah punya janji dengan Tuan Ray?"


"Banyak pertanyaan banget, bilang aja Erlinda datang," pintanya, ternyata dia adalah Erlin.


"Baik, tunggu sebentar aku hubungi Tuan Ray dulu, apa dia bisa di temui atau tidak," kata Citra


"Buruan jangan lama-lama..!!" pinta Erlin dengan nada keras


Lalu Citra pun langsung menghubungi Ray, tak lama kemudian..


"Nona Erlin, Tuan Ray bilang anda langsung ke Ruangannya saja, mari saya antar Nona," ujar Citra.


"Oh, yaudah kalau gitu," papar Erlin.


Lalu mereka pun bergegas menuju ke Ruangan Ceo.


^Di Ruangan Ceo


"Erlinda, ada apa dia datang kesini, hah males banget kalau ketemu sama dia, lebih baik aku hubungi Kak Zuy aja biar dia datang kesini," kata Ray,


Lalu ia mengeluarkan Hpnya, dan langsung mengirimkan pesan kepada Zuy.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk...!!"


"Tuan Ray, ini Nona Erlin ingin bertemu dengan anda," kata Citra


"Oh, suruh dia masuk..!!" suruh Ray sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Nah Nona silahkan masuk..!!" kata Citra.


"Terimakasih banyak.." ucap Erlin sambil berjalan menghampiri Ray.


"Yaudah kalau gitu saya Permisi dulu, Tuan Ray," Citra pun langsung bergegas pergi.


"Tuan Ray apa kabar?" tanya Erlin sambil mengulurkan tangannya.


"Oh saya baik-baik Nona, bagaimana dengan Nona?" tanya balik Ray sambil membalas uluran tangan Erlin.


"Saya juga baik-baik saja," jawab Erlin sambil menyunggingkan senyuman manis di bibirnya dengan niat agar Ray terpesona.


Namun gak seperti yang di inginkan Erlin, melihat Erlin tersenyum Ray nampak biasa saja, malah memasang wajahnya yang datar dan dingin dengan senyum terpaksa di bibirnya, Ray lalu melepaskan tangannya,


"Hmmm, kenapa ekspresinya biasa aja sih," gumam Erlin di dalam hati.


"Silahkan duduk Nona..!!" tawar Ray.


"Terimakasih Tuan Ray," ucap Erlin.


Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Erlin kehilangan keseimbangan akibat menggunakan high heels dengan hak tinggi, lalu ia pun hampir terjatuh di lantai, akan tetapi dengan sigapnya Ray langsung menahan tubuh Erlin agar tidak terjatuh.


"Nona Erlin apa anda tidak apa-apa?" tanya Ray


Erlin pun tidak menjawabnya, ia hanya memandangi wajah Ray, jantungnya pun berdegup dengan kencang.


"Aah, Tuan Ray perhatian sekali, apa aku berhasil merebut hatinya," batin Erlin.


Lalu tiba-tiba Zuy datang ke ruangan Ray, tentunya atas permintaan Ray, karena pintu terbuka jadi ia langsung masuk ke dalam ruangan Ray.


"Tuan Muda, ada apa anda menyuruh Zuy dat ... ...," belum sempat bertanya ia terkejut melihat Ray yang sedang memegangi Erlin.


"Tu-Tuan Muda.."


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2