
<<<<<
Terdengar suara gaduh dari dalam kamar, sontak membuat Dimas terkejut, ia pun langsung membuka pintu kamar Bunda dengan keras.
"Bunda!!"
Dimas berseru kencang seraya melangkah masuk ke dalam kamar Bunda Artiana, akan tetapi ternyata Bunda Artiana tidak ada di dalam kamarnya.
"Dimana Bunda?" lirih Dimas mengedarkan pandangannya. Lalu....
Braaaak!
Lagi-lagi suara gaduh kembali terdengar dan suara tersebut berasal dari dalam kamar mandi, dengan langkah besarnya Dimas bergegas menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamar Bundanya.
"Bunda, apa Bunda di dalam?" seru Dimas seraya mengetuk pintunya.
Namun Bunda Artiana tidak menyahut suara Dimas, seketika rasa panik dan khawatir semakin menyerang pada diri Dimas, lalu ia pun segera mendorong pintunya hingga terbuka.
Untung saja Bunda Artiana tidak mengunci pintu kamar mandinya.
Setelah terbuka, Dimas membelalakkan matanya karena melihat Bunda Artiana tengah duduk di atas lantai kamar mandinya dengan posisi tubuh menyandar di dinding seraya menundukkan kepalanya, kaki lurus ke depan dan salah satu tangannya tengah memijat kaki kanannya, seketika Dimas langsung mendekat ke Bunda Artiana.
"Bunda, apa yang terjadi pada Bunda?" tanya Dimas memegang kedua bahu Bundanya.
Sehingga membuat Bunda Artiana perlahan mendongakkan kepalanya ke arah Dimas.
"Dimas, Bunda terpeleset dan kaki Bunda sakit," lirih Bunda Artiana dengan raut wajah yang nampak kesakitan.
Melihat itu pun Dimas langsung mengangkat tubuh Bunda Artiana dan membawanya ke ranjang tidur milik Bunda Artiana. Setelah berada dekat dengan ranjang, perlahan ia menempatkan tubuh Bunda Artiana di atas ranjangnya dengan posisi tubuh menyandar di dinding tempat tidurnya, lalu mengambil gelas air minum yang berada di atas nakas dan memberikannya pada Bundanya.
"Minum dulu Bunda!"
Bunda Artiana pun mengangguk seraya mengambil gelas tersebut dari tangan Dimas, lalu Bunda meminumnya hingga habis. Sedangkan Dimas memegang kaki Bunda dan memeriksanya.
"Pe-pelan-pelan nak!" pinta Bunda Artiana.
"Iya Bunda, ini juga Dimas pelan-pelan." balas Dimas. "Dan lagi kenapa Bunda bisa terjatuh di kamar mandi? Apa Mira tidak membersihkan kamar mandi Bunda? Tsk, kalau begitu biar nanti Dimas yang tegur Mira," sambung cecarnya.
"Nak, kamu jangan menegur Mira! Dia tidak bersalah dan Mira juga setiap hari selalu membersihkannya. Sebenarnya Bunda jatuh karena tiba-tiba aja kaki Bunda kram, maklumlah namanya juga udah tua, pasti banyak penyakit berdatangan," ujar Bunda Artiana.
Dimas menghela nafasnya. "Bunda ini. Yaudah besok lusa kita ke rumah sakit ya Bun!"
Bunda mengerenyit. "Rumah sakit! Ngapain kita pergi ke sana, orang Bunda tidak apa-apa Dimas."
"Bunda lupa ya? Besok lusa kan jadwal Bunda check up," papar Dimas.
"Iya kah? Duh maaf ya Pak Dokter, Bunda benar-benar lupa, hehehe...." ucap Bunda Artiana di selingi candaannya.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu....
"Dimas...."
"Iya Bunda, apa Bunda butuh sesuatu?"
Bunda Artiana menggeleng. "Tidak, Bunda membutuhkan apa-apa, hanya saja ...."
Bunda pun terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Hanya saja apa Bun?" tanya Dimas.
Lalu sesaat Bunda Artiana mengangkat kepalanya kembali seraya menatap wajah anaknya itu.
"Dimas...."
"Iya...."
"Sebenarnya Bunda sangat merindukan Maria, Dim. Kenapa sampai sekarang belum ada kabar tentangnya? Dimana dia berada, apa dia sudah makan, apa dia tidur nyenyak? Dan lagi apa dia baik-baik saja? Atau malah sebaliknya? Semua pertanyaan itu yang selalu menghantui Bunda, Dimas." ujar Bunda Artiana di barengi dengan buliran air matanya yang turun.
Dimas tertegun mendengar perkataan Bunda Artiana, lalu di usapnya air matanya Bundanya itu.
"Bunda, bukan hanya Bunda saja yang merindukan Kak Maria, Dimas pun sama seperti Bunda bahkan pertanyaan-pertanyaan itu juga selalu menghantui pikiran Dimas. Akan tetapi Dimas selalu yakin dan percaya bahwa Kak Maria di sana baik-baik aja karena Tuhan akan selalu melindungi Kak Maria dimana pun Kakak berada," kata Dimas.
"Tapi Dim, bagaimana kalau rasa yakin dan percaya kamu itu salah? Bagaimana jika Kakak kamu di sana tidak baik-baik saja, di siksa mereka, di jadikan pengemis oleh mereka atau hal-hal buruk yang mereka lakukan pada Maria? Bunda benar-benar gak bisa bayangin kalau itu sampai terjadi pada Maria, Dimas. Bunda ...." cerca Bunda Artiana yang khawatir terhadap Maria.
"Ssssht, Bunda...." Dimas menggenggam tangan Bunda Artiana. "Bunda jangan berfikiran seperti itu! Ucapan Bunda barusan bisa jadi doa Bunda. Apa Bunda mau kalau ucapan Bunda itu menjadi kenyataan?"
Bunda Artiana menggeleng. "Tentu saja tidak Dimas. Bunda gak mau Maria di perlakukan seperti itu."
"Nah maka dari itu kita terus berdoa pada Tuhan supaya Tuan Archo, Polisi dan lainnya segera menemukan keberadaan Kak Maria dan menangkap si penculik itu." tutur Dimas.
Bunda Artiana manggut-manggut.
"Iya kamu benar juga Nak." ucap Bunda Artiana. "Oh iya Nak, apa Kakak kamu pernah cerita ke kamu kalau dia pernah bersinggungan dengan seseorang?"
"Tidak Bun, Kakak gak pernah cerita apa-apa ke Dimas soal ia pernah bersinggungan dengan seseorang atau apapun," jawab Dimas.
Akan tetapi ada suatu kebohongan dalam perkataannya itu.
"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Bunda Artiana di selingi senyumnya.
"Yaudah sekarang Bunda istirahat ya! Soalnya Dimas mau bebersih dulu, dan malam ini Dimas akan menemani dan menjaga Bunda di sini," lontar Dimas.
Bunda Artiana mengibaskan tangannya dan menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Jangan nak! Lebih baik kamu istirahat ya. Biarkan Mira aja yang menemani Bunda," kata Bunda Artiana sekaligus menolak Dimas.
Dimas mengangguk. Baiklah kalau mau Bunda seperti itu, nanti Dimas akan minta Mira untuk menemani Bunda malam ini. Yaudah Dimas keluar dulu ya Bunda, kalau ada apa-apa beritahu Dimas ya!"
Bunda Artiana mengacungkan ibu jarinya.
"Siap Pak Dokter."
Dimas beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar dari kamar Bundanya. Saat sudah berada di luar, sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.
"Maafkan Dimas, Bunda! Tadi Dimas berbohong pada Bunda. Sebenarnya Kak Maria sampai sekarang ini masih bersinggungan dengan anaknya sendiri, entah sampai kapan Kak Maria akan berhenti membenci anaknya sendiri," batin Dimas.
Dimas kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah dari kamar Bunda Artiana. Lalu....
"Mira, Mira...." Dimas memanggil Mira dengan nada keras.
Sesaat Mira keluar dari arah dapur lalu ia bergegas menghampiri Dimas.
"Iya Tuan Dimas," Mira menundukkan kepalanya.
"Dari mana saja kamu?"
"Maaf Tuan, saya dari tadi di dapur sedang membersihkan peralatan." jawab Mira.
Dimas mengerutkan dahinya.
"Lalu apa kamu tahu kalau Bunda jatuh di kamar mandi?"
__ADS_1
"Apa! Nyonya besar jatuh? Terus bagaimana keadaan Nyonya besar, apa beliau baik-baik saja?" lontar beberapa pertanyaan dari Mira karena terkejut.
"Iya, tapi untungnya Bunda tidak apa-apa, cuma kakinya sedikit memar," ujar Dimas.
"Ya ampun Nyonya, maafkan saya Tuan Dimas! Saya benar-benar tidak tahu kalau Nyonya besar jatuh," ucap Mira menundukkan kepalanya.
Dimas menghela nafas panjang.
"Ya tidak apa-apa. Yaudah malam ini kamu tidur di kamar Bunda dan temani Bunda! Kalau ada apa-apa panggil aku atau Eqitna." titah Dimas.
Mira mengangguk. "Baik Tuan Dimas." patuhnya.
Dimas tersenyum lalu ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya. Sedangkan Mira langsung ke kamar Bunda Artiana.
******************************
Hotel
Di dalam kamarnya, Daddy Mario terlihat sedang mengobrol dengan seseorang lewat telponnya.
Lalu....
"Apa kau serius dengan apa yang kamu katakan ini bahwa Michael sudah mempunyai seorang cucu dari Ray?" cecar Daddy Mario yang ternyata tengah mengobrol dengan Liora.
"Tentu saja aku serius Mario, orang semalam aku mendengarnya sendiri waktu Michael sedang mengobrol dengan Ray di ruang kerjanya dan dari obrolan mereka juga aku mendengar suara wanita bahkan ada suara celotehan seorang anak kecil," balas Liora.
Seketika wajah dan rahang Daddy Mario langsung mengeras, pembuluh darah nampak tegang bahkan buku-buku tangannya terlihat memutih karena di kepalkan tangan Daddy Mario dengan kuat.
"Tsk, tidak di sangka ternyata Michael menghianati ku, aku pikir selama ini dia menyetujui rencana kita untuk menjodohkan Ray dengan Kimberly, tapi nyatanya dia malah mendukung si Ray," sungut Daddy Mario.
"Iya aku juga tidak menyangka Michael bisa seperti itu. Tapi sebenarnya aku dari dulu sudah mencurigainya sih, saat dia bilang aku tidak boleh ikut campur masalah percintaan Ray, terus beberapa bulan sebelumnya aku melihat foto bayi kembar wajahnya mirip sekali dengan Ray di HP-nya Michael, aku juga menemukan sebuah kotak berisi kalung dengan liontin bertuliskan nama Zeanra, aku sempat mengira kalau Michael selingkuh di belakang ku karena setiap di tanya dia pasti marah padaku, lalu aku mencoba menanyakannya pada Maria karena dia berada di Indonesia dan satu Kota yang sama dengan si anak sial itu," jelas Liora membuat Daddy Mario tersentak kaget.
"Apa! Jadi kamu pernah menghubungi Maria dan menanyakan hal ini padanya?"
"Iya Mario, namun sayangnya Maria tidak mengetahui berita tentang anak sial yang sudah menikah dan punya anak, tapi cara bicaranya kurang meyakinkan ku sebab aku mendengar nada suaranya yang gugup serta ragu," ujar Liora. "Mario, menurut mu apa Maria juga menyembunyikan berita ini tentang Ray dari kita?"
"Entahlah Liora, tapi sepertinya yang di katakan Maria itu benar, aku yang ada di sini aja tidak mendengar kabar apa-apa tentang Ray, bahkan aku juga sempat ke Perusahaannya dan bertanya pada staf Karyawannya dan mereka bilang kalau Ray belum menikah." kata Daddy Michael.
"Oh begitu ya, apa jangan-jangan Ray menikah diam-diam dan merahasiakannya dari publik?"
"Hmmm, mungkin saja seperti itu. Tapi nanti aku akan menyelidikinya lagi," balas Daddy Mario.
Lalu terdengar suara helaan nafas dari Liora.
"Ah, sebenarnya aku masih mencurigai Maria. Aku benar-benar yakin kalau Maria sebenarnya mengetahuinya namun dia enggan memberitahukan ini kita. Mario, kamu sekarang berada di dekat Maria kan? Coba kamu desak Maria supaya dia jujur ke kita tentang hal ini!"
"Hmmmm, iya nanti kalau Maria di temukan aku akan langsung mendesaknya."
"Barusan kamu bilang apa Mario? Di temukan! Apa maksudmu itu, apa Maria hilang?" Liora mencecar Mario karena terkejut mendengar perkataannya.
"Sebenarnya bukan hilang, hanya saja di bawa oleh seseorang, makanya aku dan Archo ke Indonesia." balas Daddy Mario.
"Ck, lantas kenapa waktu itu kamu bilangnya ada urusan pekerjaan di Indonesia, kenapa gak bilang sejujurnya kalau Maria itu di culik orang?" pekik Liora.
Daddy Mario mendesah. "Ya karena aku tidak ingin kamu khawatir Liora dan apalagi kalau sampai terdengar oleh Kimberly, dia pasti sangat shock."
"Hmmmm, bener juga sih apa kata kamu, Mario."
"Ya kan, makanya aku dan Archo sengaja tidak bilang ke kamu. Lalu bagaimana keadaan Kimberly sekarang? Apa dia sudah membaik atau ...."
"Keadaan Kimberly sudah sedikit membaik Mario," ujar Liora.
"Syukurlah kalau begitu Liora, aku senang mendengarnya. Yaudah kalau begitu aku tutup telponnya soalnya di sini udah malam dan aku sudah mengantuk. Aku titip Kimberly padamu ya Liora! Aku akan pulang kalau Maria sudah di temukan," kata Daddy Mario.
"Baiklah, serahkan padaku Mario. Kamu hati-hati ya di sana, jaga kesehatan mu itu! Bye...."
Mereka berdua pun langsung memutuskan telponnya.
"Michael, Rayyan. Aku tidak terima di khianati seperti ini! Tunggu saatnya tiba nanti aku akan membalas pengkhianatan kalian terhadap kami." sungut Daddy Mario dengan nada emosi.
**********************
Villa Z&R
Beberapa saat setelah selesai berbincang dengan lainnya (Bi Nana, Davin serta Airin) Zuy dan Ray kembali ke kamarnya, posisi keduanya pun sudah terbaring di atas kasur sambil berpelukan.
"Sayangku...."
"Hmmmm...."
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Ray dengan nada lirih.
Seketika membuat Zuy mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Belum Ray, aku belum ngantuk. Memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa sayangku, hanya saja kamu melupakan sesuatu," ujar Ray.
Zuy mengerenyit. "Melupakan sesuatu? Memangnya aku melupakan apa tampan-ku?"
Ray perlahan mendekatkan wajahnya ke telinga pujaan hatinya itu.
"Kamu melupakan ciuman selamat tidur untuk ku, sayangku." bisik Ray.
"Hah! Bukannya barusan udah, bahkan sisanya masih membekas di pipi kamu, Ray." kata Zuy menyentuh pipi Ray yang bekas di ciumnya.
"Tapi kamu lupa dengan bagian yang ini sayangku dan aku juga belum memainkan jatahku yang ini," gumam Ray menyentuh bibir Zuy dan Squishy-nya.
Zuy mendesah. "Ray, bukannya tadi siang udah ya! Masa masih kurang aja sih? Apa kamu tidak bosan?"
"Tentu saja tidak sayangku. Bahkan aku penginnya setiap saat, hehehe...."
"Huuu.... Dasar mesum!"
"Mesum juga hanya sama kamu seorang, sayangku."
"Hummmph," Zuy mendengus.
Ray terkekeh, lalu ia menempatkan tangannya ke pinggang Zuy seraya menggelitiknya, sontak membuat Zuy langsung menyemburkan tawanya karena kegelian.
Kyaaaa....
"Rayyan berhenti!" seru Zuy.
"Aku tidak akan berhenti sayangku, sampai kamu benar-benar lelah."
"Rayyaaan...."
Sementara itu....
Davin baru saja dari arah dapur sambil membawa air minum, namun saat melewati kamar Ray, tanpa sengaja ia mendengar suara teriakan dari kamar pemilik Villa. Seketika membuat Davin langsung menutup telinganya.
__ADS_1
"Misteri ranjang bergoyang di mulai lagi," gumam Davin seraya melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.
...----------------...
Pagi hari kemudian....
Tidak seperti hari sebelumnya, pagi ini langit nampak gelap berkelabu karena awan mendung sudah menyulam langit cerah di pagi hari sehingga mentari tidak menampakkan dirinya karena bersembunyi di balik awan hitam bahkan rintikan air mata dari langit pun mulai berjatuhan.
—Pukul 09.17am
Di ruang keluarga, semuanya nampak tengah berkumpul di sana, tidak hanya Tuan rumahnya saja Bi Nana, Yiou dan lainnya pun juga berada di sana, kecuali Davin dan Airin yang sedari tadi tidak keliatan.
"Yiou, Aries. Kapan kamu ngadain Syukuran kehamilan kamu?" tanya Beyza.
"Paling sekitar dua mingguan lagi Abla," jawab Aries.
Kemudian Beyza menoleh ke arah Baba Yash.
"Tuh Ba, berarti kita pulang ke Istanbul-nya nanti setelah Aries selesai ngadain Syukuran kehamilan anaknya."
"Iya Bey," balas Baba Yash.
"Memangnya Baba sama Bey Abla mau pulang ke Istanbul?" tanya Ray.
"Ya adik Ray, rencananya tiga hari lagi kita pulang ke Istanbul," jawab Beyza.
"Kenapa tidak tinggal lebih lama lagi?" Zuy pun ikut bertanya.
Beyza menoleh ke Zuy. "Penginnya sih, tapi ya mau bagaimana lagi kita juga di sana punya kesibukan masing-masing Zuy, dan lagi semalam adiknya Aries menghubungi kami, kalau Restoran yang di sana lagi ramai." jawabnya.
Zuy manggut-manggut. "Oh begitu ya."
"Iya Zuy, makanya kalian semua main dong ke Istanbul! Biar tahu indahnya Kota Istanbul."
"Iya nanti kapan-kapan kita main ke sana," balas Ray.
"Oke, aku tunggu kedatangan kalian ya!" kata Beyza.
"Iya Bey Abla."
Sesaat kemudian Baba Yash, Aries dan Beyza kembali ke Villa milik Aries dan Yiou. Sedangkan Yiou masih tetap berada di sana. Selang beberapa saat, Davin dan Airin datang dari arah luar dengan membawa sebuah kotak besar.
"Kalian berdua darimana? Pagi-pagi udah pergi? Jangan-jangan kalian kencan pagi ya?" tanya Yiou sekaligus menyidik.
"Si-siapa yang kencan pagi, Mrs Yiou. Orang Pak Davin tiba-tiba ngajak Airin pergi, katanya ada sesuatu yang mau di beli, jadi ya aku ikut aja nemenin Pak Davin." jawab Airin sambil duduk di samping Zuy seraya menyandarkan kepalanya di bahu Zuy.
Davin lalu mendekat ke arah Nara yang sedang duduk menemani Rana dan juga si kembar.
"Nara...." Davin memanggil Nara.
"Iya Paman Putih...." sahut Nara seraya menoleh ke Davin.
Davin duduk di samping Nara, kemudian ia menyerahkan kotak tersebut pada Nara.
"Hei anak kecil ini untuk kamu!" lontar Davin.
"Ini apa Paman putih? Kok gede banget?" tanya Nara kebingungan sekaligus penasaran.
"Kalau kamu penasaran, buka aja!" kata Davin.
Nara langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya Paman putih, Nara buka ya."
Nara lalu membuka kertas yang membungkus kotak tersebut. Sesaat setelah selesai di buka dan di ambil isinya, seketika membuat mata Nara berbinar-binar karena melihat isi dari kotak tersebut yang ternyata adalah sebuah mobil mainan dengan remote control-nya.
"Paman putih mobilnya bagus banget," ucap Nara yang terkagum-kagum.
"Apa kamu menyukainya anak kecil?"
"Iya Nara suka sangat suka. Tapi beneran ini buat Nara?"
Davin tersenyum sambil menempatkan tangannya di atas kepala Nara.
"Tentu saja itu buat kamu anak kecil, anggap saja sebagai hadiah karena kamu dapat nilai tinggi di sekolah," ujar Davin.
"Waah, terimakasih Paman putih. Kemaren Om ganteng ngasih Nara sepeda bagus sekarang Paman putih ngasih mobil-mobilan bagus." ucap Nara dengan senangnya.
"Belajar yang rajin ya anak kecil!"
Nara kembali mengangguk. "Pasti Paman, Nara akan belajar dengan rajin."
Bi Nana mengarahkan pandangannya ke arah Davin.
"Terimakasih ya Vin," ucap Bi Nana pada Davin.
"Iya sama-sama Tan." balas Davin.
Mereka pun melanjutkan perbincangan.
...----------------...
Dua hari kemudian....
Mall CCV
Siang itu Zuy sedang berada di Mall bersama dengan Bu Ima dan juga si kembar, tentunya ada beberapa pengawal Ray juga dan seperti biasanya mereka selalu menyamar.
Lalu....
"Bu Ima, Zuy titip anak-anak sebentar ya! Soalnya Zuy mau ke toilet udah gak tahan!"
"Iya Nak," balas Bu Ima mengangguk.
Zuy melangkahkan kakinya menuju ke arah toilet wanita. Setibanya di sana, Zuy melangkah masuk ke salah satu ruang toilet. Tak lama kemudian, ia pun keluar dari toilet tersebut dan berdiri di depan wastafel seraya mencuci tangannya.
Lalu seorang wanita mendekat ke arah Zuy dan dengan tiba-tiba menarik rambut Zuy sehingga membuat Zuy tersentak kaget dan menolehkan kepalanya ke arah wanita tersebut.
"Nyonya Linda!"
****Bersambung....
Author: "Yo pasti ada yang ingat kan dengan wanita yang bernama Linda? Lalu apa yang akan terjadi dengan Zuy?"
See You Next Time... 😉
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1