
<<<<<
"Siapa yang bersama Tuan Ray?" tanya Linda.
"Tidak mungkin, dia adalah si OB j*lang Zuy, Mi..," jawab Erlin
"Hah...!!!"
Linda pun terkejut dengan jawaban Erlin, ia tidak menyangka bahwa orang yang dari tadi di tunggu kehadirannya, ternyata datang dengan membawa seorang wanita, dan lagi semua orang yang hadir malah terpesona melihat Zuy, sehingga pujian yang tadinya di lontarkan untuk Erlin kini berpindah ke Zuy.
"Lihatlah..!! wanita itu benar-benar sangat cantik, Nona Erlin saja kalah cantiknya dengan dia, aku jadi ingin berkenalan dengannya," bisik salah satu tamu itu.
"Hei jangan mimpi, lihatlah laki-laki yang di sebelahnya itu, mungkin dia itu pasangannya, tapi sepertinya laki-laki itu sangat Familiar sekali."
"Dasar bodoh, dia itu kalau gak salah Tuan Rayyan Ceo dari Perusahaan CV itu lho, rumornya dia itu Ceo yang dingin."
"Waah benarkah, aku sangat iri padanya, orang kaya mah bebas dapetin wanita secantik itu."
"Kalau di lihat-lihat wanita itu mirip dengan seseorang ya, tapi aku lupa."
Bla...Bla... Bla...
Begitulah obrolan semua orang yang di sana sambil memperhatikan pasangan tersebut.
Mendengar itu, Erlin semakin kesal, ia pun menggertakan giginya, lalu tangannya mengepal dengan kuat.
"Tsk, ternyata omonganku kemaren gak di dengarnya ya, dasar si OB itu benar-benar tidak tahu malu."
Melihat gelagat anaknya, Linda pun langsung menepuk pundak Erlin.
"Hei sayang, Mami tahu perasaanmu, karena Mami juga merasakan hal yang sama, dia telah merebut semuanya yang seharusnya untukmu. Tapi hari ini adalah hari yang sudah kamu tunggu-tunggu kan, jadi Mami harap kamu bisa sabar, lihatlah semua tamu yang hadir bukan orang sembarangan sayang, pasang senyuman manismu itu," tutur Linda, "Lihatlah mereka menuju kemari."
"Iya Mami.." singkat Erlin.
Ray dan Zuy pun berjalan menuju ke arah dimana Linda dan Erlin berada. Lalu kemudian...
"Eh, Tuan Ray sudah datang, dari tadi Erlin sangat gelisah karena menunggu kedatangan anda Tuan Ray, iya kan sayang," ujar Linda
"Oh seperti itu kah Nona Erlin?" tanya Ray sambil melihat ke arah Erlin.
Akan tetapi Erlin malah melamun, melihat Erlin seperti itu, Linda pun langsung memukul pelan punggung Erlin, membuatnya tersadar dan langsung melihat Ray.
"Ah maaf, iya Tuan Ray, saya sangat menunggu kedatangan anda, saya pikir anda tidak datang, tapi ternyata dugaanku salah," ujar Erlin.
"Maaf kalau begitu, Oh iya selamat Ulang tahun Nona," ucap Ray
Mendengar ucapan Ray, wajah Erlin langsung merona, jantungnya seketika berdegup kencang, ia pun menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Terimakasih banyak Tuan Ray," ucap Erlin,
Erlin lalu melirik ke arah Zuy yang tengah berada di belakang Ray, ia pun menghampiri Zuy.
"Hai Zuy apa kabar?" tanya Erlin sambil mengulurkan tangannya.
Zuy lalu membalas uluran tangan Erlin, "Ka-kabar ku baik Nona, oh iya selamat ulang tahun Nona Erlin," ucap Zuy.
"Terimakasih banyak Zuy," balas Erlin sambil senyum terpaksa, "Ciih.. kalau gak ada Tuan Ray, aku malas berjabat tangan denganmu OB," batin Erlin.
Pak Wildan pun datang menghampiri mereka.
"Tuan Ray apa kabar?" tanya Pak Wildan sambil mengulurkan tangannya.
"Oh kabar saya baik Pak," jawab Ray menjabat tangan Pak Wildan.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya terimakasih banyak sudah datang di acara ulang tahun anak saya Erlin," ucap Pak Wildan, "Lalu siapa wanita yang ada di samping anda Tuan Ray?" sambung tanyanya.
"Oh wanita cantik ini.." Ray sekilas memandang Zuy, "Dia adalah calon is ...,"
Belum sempat menjelaskan, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Pak Wildan.
"Tuan maaf kalau saya mengganggu, apa acaranya bisa kita mulai sekarang?!!" tanya orang tersebut.
"Oh iya, mumpung semuanya udah datang, kita mulai acaranya, Ayo Erlin, Mami dan Tuan Ray," ajak Pak Wildan.
"Tuan Ray ayo kita kesana..!!" ajak Erlin sambil memegang lengan Ray.
"Iya nanti saya kesana dengan Zuy," ujar Ray sambil menepis tangan Erlin dari lengannya.
"Ah yaudah kalau begitu, aku kesana dulu ya Tuan Ray," ucap Erlin, lalu ia pun pergi menyusul orang tuanya.
Ray lalu tiba-tiba menyodorkan lengannya ke arah Zuy, "Ayo Kakak...!!"
Zuy sontak melirik ke arah lengan Ray dan bertanya, "Ini maksudnya apa Tuan Muda?"
"Kakak sayang, ayo kita bergandengan seperti ini biar seperti pasangan kekasih yang romantis," pinta Ray.
Zuy menghela nafasnya, "Haah, Tuan Muda..., berhenti memanggil Zuy seperti itu, nanti orang yang mendengarnya bisa salah paham," tutur Zuy.
__ADS_1
"Ngapain ngurusin orang Kak, lagi pula dari tadi kita sudah jadi pusat perhatian orang-orang di sini Kak," kata Ray sambil menoel hidung Zuy, "Ayo Kak pegang lenganku..!!"
"Dasar, maunya menang sendiri," gumam Zuy, tangannya memegang lengan Ray.
"Nah gitu dong, hehehe.."
Mereka lalu berjalan berdampingan selayaknya sepasang kekasih, dan lagi-lagi menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di situ, mereka pun menuju ke arah tempat dimana Erlin dan keluarganya berada, lalu kemudian Zuy tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia menengok ke kanan-kiri seperti sedang mencari seseorang.
"Ada apa Kak?" tanya Ray
"Eummm Tuan Muda, ngomong-ngomong Pak Davin kemana ya? kok dari tadi aku tidak melihatnya," tanya Zuy
"Mungkin masih di luar, soalnya tadi Ray menyuruh Kak Davin mengambil sesuatu di mobil," ujar Ray
"Oh begitu ya,"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu....
Setelah berada di parkiran, Davin pun langsung membuka mobilnya untuk mengambil sesuatu yang ternyata sebuah bingkisan, setelah itu Davin menutup pintu mobilnya dan bergegas kembali.
Akan tetapi saat hendak melangkahkan kakinya menuju pintu masuk, tiba-tiba beberapa wanita datang dan mengerumuni Davin, sehingga ia terhalang dan tidak bisa lewat.
"Permisi Nona-Nona, bolehkah saya lewat?" tanya Davin sambil menyunggingkan senyuman manis, tapi bukannya menjauh justru mereka malah histeris melihat Davin tersenyum.
Kyaaaaaaaa....
"Oppa, Oppa, wajah Oppa kenapa glowing banget sih, rahasianya apa?"
"Oppa apa Oppa Idol yang di undang oleh Erlin?"
"Apa Oppa sudah punya pacar?"
Seperti itulah pertanyaan yang di lontarkan para wanita itu kepada Davin, mereka menyangka Davin adalah Idol yang terkenal, sontak membuat Davin kebingungan, lalu kemudian..
"Ah maaf Nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan Nona-Nona ini, saya harus pergi menemui seseorang eeh salah maksudnya dua orang," ujar Davin
"Oppa jangan pergi, Oppa di sini aja, iya gak teman-teman?"
"Iya benar, aku setuju.."
Mereka pun terus memegangi tangan Davin.
"Aaah kenapa begini sih, bikin gak nyaman saja, Tuan Ray help me...!!" batin Davin, lalu tiba-tiba..
"Kalian kenapa mengerumuni orangku?" tanya seseorang yang baru datang.
"Pak Willy, oh Syukurlah..." ucap Davin, Pak Willy pun langsung menghampiri mereka.
"Nona-nona, bisakah anda menjauh dari orang saya..!!" tita Pak Willy kepada wanita-wanita itu.
"Hah, mengganggu saja, yaudah ayo kita pergi dari sini, acaranya pasti sudah di mulai," kata salah satu Wanita itu, mereka pun langsung pergi.
"Hah, Pak Willy terimakasih banyak," ucap Davin yang sudah merasa tenang.
"Lagian kamu kenapa bisa di kerumuni para wanita itu Vin?" tanya Pak Willy, mereka pun berjalan menuju ke dalam rumah sembari mengobrol.
"Iya aku gak tau Pak, soalnya pas mau masuk menghampiri Tuan Ray, tiba-tiba mereka mengerumuniku Pak, mau aku lawan tapi semua wanita Pak Willy," ujar Davin.
"Oh begitu..." lirih Pak Willy
"Iya Pak, hmmm ngomong-ngomong, kenapa Pak Willy datang kesini?" tanya Davin.
"Oh itu karena Pak Wildan mengundang saya untuk hadir di acara ulang tahun anaknya," jawab Pak Willy
"Jadi begitu ya Pak," lirih Davin, lalu ia melihat Ray dan Zuy,
"Ah itu Tuan Ray.. Pak," sambung Davin sambil menunjuk ke arah dimana Ray dan Zuy berada.
Pak Willy pun melihat ke arah dimana Davin menunjuk. Mereka bergegas menghampiri Ray yang sedang duduk di tempat yang sediakan oleh Tuan rumah. Setelah berada di belakang Ray, Pak Willy menepuk pundak Ray. Sontak membuat Ray terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Lho Om Willy apa kabar?" Ray langsung berdiri, ia pun mencium punggung tangan Pak Willy.
"Kamu bisa lihatkan Rayyan kalau Om baik-baik saja," jawab Pak Willy.
"Hihihi, iya Ray percaya Om," ujar Ray.
"Hahaha," tawa Pak Willy, "Hmmmm, siapa wanita yang di sampingmu itu Rayyan?" sambung tanya Pak Willy sambil memandangi Zuy.
Zuy lalu menghampiri Pak Willy, lalu ia mengulurkan tangannya, "Pak Willy, lama tidak berjumpa, apa kabar?"
"Hmmm, apa kita saling mengenal?" tanya Pak Willy sambil membalas uluran tangan Zuy.
Mendengar pertanyaan Pak Willy, Zuy pun menyunggingkan senyumannya, lalu kemudian..
"Aduh saking cantiknya Zuy, Pak Willy aja sampai gak ngenalin," papar Davin.
__ADS_1
"Apa jadi ini Zuy, ya ampun maaf Zuy, saya kira siapa," ucap Pak Willy yang tengah terkejut.
"Iya gak apa-apa Pak," kata Zuy, lalu Ray dan yang lainnya segera duduk.
Tak lama kemudian, acara perayaan pesta ulang tahun Erlin pun di mulai, dua orang sebagai pembawa acara memberikan kata sambutannya untuk para tamu yang hadir, dan Kata pembuka untuk memulai acaranya, lalu kemudian Pak Wildan juga memberikan kata sambutan dan doa untuk anaknya, setelah selesai memberikan kata sambutan Pak Wildan pun kembali ke tempatnya, Erlin pun langsung memeluk Pak Wildan. Lalu kemudian...
"Inilah acara yang kita tunggu, yaitu acara tiup lilin dan pemotongan kue yang akan di lakukan oleh Nona Erlinda Khansa, Nona Erlin silahkan..!!" kata pembawa acara itu.
Erlin pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju ke depan, ia pun di temani oleh Pak Wildan dan Linda. Kue ulang tahun setinggi empat tingkat sudah berada di depannya. Dan kemudian...
"Para tamu undangan, di mohon untuk berdiri...!!" pinta pembawa acara.
Lalu semuanya pun pada berdiri dari tempat duduknya, lalu mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun di iringi oleh musik. Setelah selesai Pak Wildan langsung menyalakan Lilin ulang tahun.
"Jangan lupa berdoa sayang..!!" pinta Linda
Erlin pun langsung merekatkan jari tangannya, ia lalu menundukkan kepalanya sambil menutup matanya, pertanda bahwa ia sedang berdoa. Setelah selesai berdoa, Erlin langsung meniup lilin ulang tahunnya.
Prok.. Prok.. Prok....
Suara tepukan para dari para tamu undangan yang hadir disana.
"Sekarang waktunya potong kue, dan berikan pada orang-orang tersayang," kata pembawa acara itu.
Lalu Erlin pun langsung memotong kue ulang tahunnya, kue pertama di berikan untuk Pak Wildan.
"Thanks my Princess.." ucap Pak Wildan sambil mencium pipi Erlin.
Lalu Kue yang kedua Erlin memberikannya kepada Linda.
"Terimakasih sayangku," ucap Linda sambil memeluk dan mencium pipi Erlin, Lalu Erlin memotong kue lagi.
"Kira-kira kue yang ketiga untuk siapa ya?!!"
Erlin pun melihat ke arah Ray, lalu ia berjalan menuju ke arahnya Ray. Setelah itu...
"Tuan Ray ini untuk anda..," kata Erlin sambil memberikan kuenya.
Ray lalu menerima potongan kue dari Erlin, "Terimakasih banyak Nona Erlin, suatu kehormatan bagi saya," ucap Ray tersenyum. (Walau dengan terpaksa)
Pipi Erlin pun langsung memerah, "Sa-sama-sama Tuan Ray."
"Suapin... Suapin... Suapin..." teriak para tamu undangan tersebut.
Erlin sangat berharap kalau Ray menyuapinya, Ray menyendok potongan kue tersebut, akan tetapi bukan Erlin yang ia suapi, melainkan wanita yang di sebelahnya yaitu Zuy.
"Gimana sayang, enak kuenya?" tanya Ray.
"Ehmmmm,"
"Tuan Muda beneran deh, aku jadi gak enak sama semuanya," batin Zuy.
Semua tamu itu pada terpesona, melihat kemesraan yang Ray berikan pada Zuy, berbeda dengan Erlin yang sangat kecewa, harapan di suapi kue sama Ray pupus sudah. Lalu ia pun bergegas pergi.
Beberapa saat kemudian, pesta ulang tahun Erlin pun segera berakhir, akan tetapi sebelum pestanya berakhir, Pak Wildan menyuruh semua para tamu undangan untuk menyantap makanan yang telah di siapkan.
Lalu Pak Wildan mengundang Ray, Pak Willy dan Davin untuk bergabung dengannya, tentunya Zuy juga di ajak (walau mereka terpaksa mengajak Zuy). Pak Wildan telah menyiapkan meja panjang khusus untuk tamu berharganya yaitu Ray dan Pak Willy. Lalu mereka menyediakan berbagai macam makanan mewah ala Italy
Para pelayan pun langsung melayani Pak Wildan dan lainnya. salah satu pelayan menatap ke arah Linda, Linda langsung mengedipkan matanya, dan pelayan itu pun menganggukkan kepalanya ke arah Linda, ia bergegas pergi.
"Nah Tuan Ray, Pak Willy, Pak Davin dan Nona, silahkan di cicipi makanannya.." kata Pak Wildan
"Terimakasih banyak Pak Wildan.." ucap Ray.
Mereka pun langsung menyantap makanannya, Zuy pun mencoba sup yang telah di sediakan oleh pelayan itu.
Setelah sup yang Zuy santap hampir habis, tiba-tiba ia merasakan panas di tenggorokan.
"Uhuk.. Uhuk..."
"Kakak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ray
Zuy pun menggelengkan kepalanya, "Uhuk.. Zuy tidak apa-apa Tuan," jawabnya.
"Tapi wajah Kakak tiba-tiba pucat begitu," Ray mulai panik melihat Zuy.
"Ehemm Zuy beneran gak apa-apa Tuan," ucap Zuy,
"Kenapa tiba-tiba tenggorokanku seperti ini, ini persis kejadian yang aku alami waktu itu, saat tidak sengaja memakan udang, walau hanya sedikit saja, apa jangan-jangan sup ini ..., ah kepalaku kenapa terasa sakit begini," batin Zuy, ia pun memegangi kepalanya. Lalu tiba-tiba...
Bruuuuugggh....
"Kakaaaaaak....!!!!"
***Bersambung...
Ps: Jadi Zuy itu Alergi terhadap Seafood, terutama udang. Walau itu bubuknya, Kaldunya, atau semacamnya.
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... ✌😉😉✌