Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Body Gendut....


__ADS_3

<<<<


"Kita sudah sampai di Apartemen milikku! Mulai sekarang dan seterusnya kita akan tinggal bersama-sama dengan status kita sebagai pasangan suami-istri."


Tutur si pria tersebut pada wanita di sampingnya itu dan langsung di balasnya dengan anggukan pelan oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


Pria itu pun tersenyum dan di hatinya berkata, "Aku masih tidak percaya bahwa pada akhirnya aku benar-benar menikahi wanita ini. Padahal tujuan ku datang ke Desanya hanya ingin meluruskan masalah yang terjadi padanya serta keluarganya karena fitnahan dari sepupunya itu."


......................


Flashback....


Kota B


Siang menjelang sore hari di sebuah Desa yang terletak di Kota B. Nampak seorang pria tampan berwajah blasteran dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidung mancungnya itu baru saja turun dari mobil. Dan ternyata pria tersebut tak lain adalah Archo Fuca. Setelah menutup pintu mobilnya, ia pun menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya itu.


"Ini Kota yang di maksud Billy kan?" lirih Archo seraya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Ia pun melihat ke layar benda pintarnya yang sedari tadi di genggamnya dan menghubungi seseorang yaitu Billy, kemudian menempelkan hpnya itu di telinganya.


Tuuut....


"Halo Mr Archo."


"Bil, kamu di mana sekarang? Aku sudah sampai di lokasi yang kamu kirim," cecar Archo.


"Oh, udah sampai ya Mister?" bukannya jawab Billy malah balik bertanya.


"Ck, iya.... Barusan kan aku udah bilang kalau aku udah sampai di lokasi." cetus Archo.


"Ya maaf Mister!" ucap Billy. "Yaudah kalau begitu tunggu sebentar! Saya akan meminta teman saya untuk menjemput anda kesana."


"Oke."


Archo memutus telponnya.


"Di sini tempatnya indah, ada pemandangan gunung dan banyak pepohonan juga." lirihnya sembari menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.


Sepuluh menit telah berlalu, akan tetapi orang yang di suruh Billy belum juga datang, sehingga membuat Archo nampak sedikit kesal.


"Ck, mana sih orang suruhannya Billy, kenapa belum sampai juga. Apa aku kesana sendiri aja ya." gumam Archo.


Lalu beberapa saat kemudian seorang pria dengan menggunakan motor matic datang menghampiri Archo.


"Permisi Tuan...." ucapnya.


Archo pun menengadah menatap pria tersebut.


"Apa benar anda Mr Archo atasannya Billy?" lanjut tanya si pria itu.


"Iya saya Archo." Archo menganggukkan kepalanya. "Lalu apa kamu temannya Billy?" sambung tanyanya.


"Ya Tuan, saya temannya Billy."


"Oh. Syukurlah kalau kamu beneran temannya Billy, yaudah kita langsung kesana sekarang!"


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian Archo bergegas masuk ke dalam mobilnya dan menyalakannya. Kemudian mereka pun pergi menuju ke desa tempat tinggal Melan.


Sesaat setelah berada di jalan yang lumayan sepi, tiba-tiba sekelompok orang menghadang jalan mereka berdua membuat Archo dan temannya Billy menghentikan laju kendaraannya.


Lalu sekelompok orang tersebut berjalan mendekat ke arah keduanya, seketika membuat temannya Billy nampak terkejut dan ketakutan, namun berbeda dengan Archo yang terlihat biasa saja.


"Sudah ku duga sebelumnya kalau ini bakalan terjadi." Archo membuang nafasnya. "Baiklah kalau begitu, mari kita berolahraga sebentar." lirihnya dengan sorot mata tak biasa.


Ia pun langsung turun dari mobilnya itu.


Sementara itu di tempat lainnya....


Billy nampak tengah berdiri di ambang pintu kantor balai desa menunggu kedatangan sang Tuannya yaitu Archo. Begitu pula dengan yang lainnya, seperti Melan bersama Ibu dan Bapaknya yang terpaksa di bawa meskipun sedang sakit. Di sisi lain juga ada sepupunya Melan bersama dengan bos-nya serta seorang laki-laki bertubuh kekar (Orang yang mengejar Melan malam itu). Sisanya adalah orang-orang terpenting yang ada di desa tersebut.


"Bagaimana Nak? Apa orang yang kamu maksud itu sudah sampai?" tanya seorang lelaki yang di yakini sebagai ketua RT tempat tinggal Melan.


Billy pun membalikkan badannya ke arah Pak RT.


"Belum Pak, mungkin masih di jalan bersama teman saya." jawab Billy seraya menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa lama ya?"


Billy mengangkat bahunya.


"Entahlah Pak, saya juga gak tau. Mungkin terjadi sesuatu pada mereka." Ia menatap bos bordil dengan tatapan mata elangnya.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa kamu sedang mencurigai ku?" cecar bos tersebut atau bisa panggil dia dengan sebutan Mamih.


Billy mencebik. "Heh, siapa juga yang sedang mencurigai anda, dasar body gendut!"


"Kamu bilang apa barusan?!"


"BODY GENDUT." Billy memperjelas ucapannya.


"Dasar anak kurang ajar! Sini kamu, biar ku hantam mulut lemes-mu itu!" sergah Mamih seraya mengernyitkan wajahnya karena kesal dengan Billy yang mengatainya body gendut.


Braaaak....


"Sudah cukup! Kalian berdua jangan bikin keributan di sini!" sentak Kades sembari menggebrak mejanya.


"Tapi anak ini yang mulai duluan Pak dengan mengatai saya body gendut." Mamih menunjuk-nunjuk ke arah Billy.


"Tapi memang kenyataannya kalau body anda gendut mirip kerbau sawah."


"Kau!"


Mamih semakin kesal dengan Billy, sehingga ia langsung bangkit dari posisinya seraya menajamkan tatapannya.


"Saya bilang cukup!" pekik Pak Kades. "Nyonya saya minta anda duduk kembali di tempat anda, begitu juga dengan kamu, anak muda!"


Billy dan Mamih seketika langsung menuruti perintah Pak Kades, keduanya langsung duduk di tempatnya masing-masing.


"Anak muda, apa kamu benar-benar serius kalau orang yang kamu maksud itu sedang menuju kemari?" tanya Pak Kades.


"Iya Pak, Mr Archo memang sedang menuju kemari. Bukankah tadi bapak sudah mendengar saat ia menelpon tadi, bahkan bapak dan semuanya juga tahu kalau saya juga menyuruh teman saya untuk menjemputnya." ujar Billy.


"Iya saya tahu, tapi sampai kapan kita harus menunggunya, hari sudah semakin gelap."


"Saya mohon, tunggu sebentar lagi ya Pak!"


"Udahlah Pak, gak ada gunanya kita nunggu dia, lebih baik Bapak langsung bawa aja si Melan ke kantor Polisi. Pencuri seperti dia mah harus dapat hukuman setimpal." lontar sepupunya Melan.


"Ami, kenapa kamu jadi seperti ini Nak. Melan ini sepupu kamu, Nak. Harusnya kamu membela sepupu mu ini, bukan malah menyusahkannya." ucap Ibu Sri di barengi aliran air matanya.


"Bi, Melan memang sepupu Ami, tapi Melan sudah buat Ami malu sama bos Ami. Padahal Ami udah baik ngajak Melan bekerja, tapi apa yang Ami dapatkan dari Melan malah seperti ini. Baru sehari bekerja dia malah mencuri barang milik bos. Ami benar-benar malu Bi," kata Ami yang juga menitihkan air matanya membuat semua yang ada di sana tertegun.


Namun berbeda dengan Billy yang memutar bola matanya dengan malas.


"Tangisan buaya." batin Billy.


Sedangkan Melan terus saja memeluk erat ibu Sri.

__ADS_1


"Sudahlah Pak! Jangan menunggu orang yang tidak mungkin datang. Lebih baik kita langsung bawa pencuri ini ke Kantor polisi! Biar dia kapok dan tidak mencuri lagi." kata si pria yang duduk di samping Mamih.


Lalu tiba-tiba....


"Jangan bawa Melan ke Kantor polisi! Karena dia tidak bersalah dan saya bisa membuktikannya." seru seseorang dari ambang pintu.


Mendengarnya pun sontak membuat pandangan semua orang yang berada di sana beralih ke arah suara tersebut yang tak lain adalah ....


"Mr Archo." lirih Billy sembari bangkit dari posisinya.


Archo mengangguk pelan dan berjalan menghampiri Billy.


"Huft, akhirnya anda sampai juga, Mr Archo." ucap Billy dan di rangkulnya pundak Billy oleh Archo.


Kemudian Archo beralih ke arah Melan yang berada tak jauh dari posisinya seraya menyunggingkan senyumnya pada Melan. Tentu saja Melan membalasnya dengan anggukan sopan di sertai senyuman manisnya.


Sedangkan untuk Ami, Mamih dan pria di sampingnya itu malah terkejut seraya membelalakkan matanya karena melihat Archo.


"Ke-kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah orang-orang ku sudah ...." lirih Mamih.


Sesaat Archo berjalan mendekat ke arah Ami dan lainnya sembari menempatkan tangannya di dalam saku celananya serta senyum sinisnya.


"Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Apa kalian terkejut melihat saya masih hidup? Hm!" cicit Archo mencondongkan tubuhnya ke arah Mamih.


"Ahahaha.... Si-siapa yang terkejut dan apa yang kamu bicarakan barusan? Saya benar-benar tidak mengerti." elak Mamih sembari mengibaskan tangannya.


"Ciih...." decak Archo seraya memicingkan matanya, kemudian ia beralih ke arah Pak Kades yang sedari tadi melihatnya.


"Maafkan saya Tuan, karena saya sudah membuat Tuan dan lainnya menunggu." ucap Archo sembari membungkukkan badannya.


"Angkat kepala anda, Tuan. Tidak perlu membungkuk seperti itu!" tutur Pak Kades.


Archo pun mengangkat kepalanya kembali.


"Coba anda jelaskan pada kami! siapa anda sebenarnya dan juga tujuan anda kemari?" cecar Pak Kades dan di balas anggukan oleh Archo.


"Baik Tuan. Semuanya, perkenalkan nama saya Archo Fuca dan tujuan saya datang kesini karena saya ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi pada Melan dan keluarganya karena fitnahan dari mereka semua." Archo menunjuk ke arah mereka bertiga.


Sehingga membuat semua pasang mata yang berada di sana langsung tertuju pada ke Ami dan lainnya.


"A-apa! Fitnah? Anda jangan asal bicara ya Tuan! Kami tidak memfitnah Melan, dia memang pencuri." lontar Ami.


"Ami, bisakah kamu diam! Biarkan Tuan ini berbicara terlebih dahulu!" titah Pak Kades.


"I-iya Pak." patuh Ami menundukkan kepalanya.


"Tuan Archo, coba anda jelaskan pada kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, sampai anda bisa menuduh Ami dan bos-nya itu memfitnah Melan?!" Pak Kades pun meminta penjelasan dari Archo.


Sebelum menjelaskan, Archo terlebih dahulu melihat ke arah Melan dan keluarganya di barengi helaan nafasnya.


Lalu ia beralih ke arah Pak Kades.


"Sebenarnya ...." Archo pun menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Melan saat Melan di bawa ke Kota oleh Ami, bahkan ia memberitahu pada semuanya tentang pekerjaan Ami serta siapa Mamih sebenarnya. Namun Archo masih belum bercerita tentang apa yang ia lakukan pada Melan.


(Kisahnya udah ada di Bab 254 dan 256)


Sontak membuat mereka yang di sana terkejut dan menatap sinis pada Ami serta lainnya.


"Lalu tentang barang-barang ini?" Pak Kades menunjuk ke arah barang-barang yang di atas mejanya.


Barang-barang tersebut berupa pakaian, topi, tab dan kartu debit berwarna hitam.


"Itu semua adalah barang-barang yang saya berikan untuk Melan sebagai kompensasi atas apa yang telah saya lakukan pada Melan." jelas Archo.


"Memang apa yang sudah anda lakukan pada Melan, sehingga anda memberikan kompensasi padanya?" karena penasaran Pak Kades pun bertanya kembali.


Lagi-lagi membuat semuanya kembali terkejut dengan perkataan Archo terutama orang tua Melan. Lalu Ibu Sri pun langsung menatap lekat wajah anak perempuannya itu.


"Neng, apa benar yang di katakan oleh Tuan itu? Kalau kamu sudah melakukan hal itu bersama dengannya?" tanya Ibu Sri sembari memegang bahu Melan.


Dengan air matanya yang mengalir, Melan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Seketika tangis Pak Tono dan Ibu Sri langsung pecah, perasaan mereka berdua benar-benar terpukul saat mengetahui kondisi Melan.


"Ya ampun Neng!"


Melihat orang tuanya menangis, Melan pun langsung bangkit dari duduknya kemudian bersimpuh di hadapan Ibu serta Bapaknya seraya menggenggam erat tangan keduanya dan menangis. Seakan-akan ia meminta maaf pada kedua orang tuanya.


"Percuma kamu minta maaf, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Kamu sudah bikin malu Bapak sama Ibu. Coba aja kalau waktu itu kamu dengar omongan Bapak dan Ibumu, pasti kejadian ini tidak akan terjadi padamu, Melan." cicit Pak Tono.


Archo lalu mendekat ke arah Melan dan ikut bersimpuh di hadapan kedua orang tua Melan.


"Pak, saya mohon jangan salahkan Melan! Ini semua kesalahan saya karena saya tidak bisa mengontrol nafsu saya pada anak Bapak. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan padanya. Dan saya juga akan membersihkan kembali nama baik keluarga anda, Pak." ucap Archo membela Melan.


Pak Tono lalu menatap tajam wajah pria berkacamata itu sembari membuang nafasnya.


"Kalau kamu benar-benar ingin bertanggung jawab dan membersihkan nama baik keluarga kami. Maka kamu harus nikahi anak saya sekarang juga! Dan setelah kalian menikah, besok pagi kalian berdua harus segera meninggalkan desa ini demi kebaikan semua yang ada di sini!" pinta Pak Tono.


Archo tersentak dengan permintaan Pak Tono dan ia tidak menyangka bahwa Pak Tono memintanya untuk menikahi gadis berusia 20 tahun itu. Lalu dengan helaan nafasnya yang panjang, Archo langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Pak Tono.


"Baiklah, sesuai permintaan Bapak, hari ini juga saya akan menikahi Melan." tegasnya.


Sedangkan Melan, ia malah menangis sejadi-jadinya seakan menolak untuk di nikahkan.


"Saya sudah menghubungi seseorang yang akan menikahkan kalian berdua. Dan untuk anda Tuan Archo, bisakah saya meminta data identitas anda?" kata Pak RT.


"Baik Pak." balas Archo.


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai mengucapkan janji sucinya di hadapan semua yang ada di tempat tersebut, kini Archo dan Melan telah resmi menjadi pasangan suami istri.


Sedangkan untuk Ami, Mamih serta lainnya. Mereka semua langsung di bawa pergi ke kantor Polisi dan mereka semua mendapatkan hukuman setimpal.


Di malam harinya, Melan dan Archo tidak tidur sekamar karena Melan yang memintanya, sebab ia ingin tidur bersama kedua orang tuanya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan mereka.


Keesokan harinya....


Sesuai dengan permintaan Pak Tono, Archo dan Melan kini siap-siap berangkat ke Kota. Saat berpamitan dengan orang tuanya, tangis Melan kembali pecah di pelukan Ibunya.


"Neng, kamu hati-hati di sana ya! Ingat pesan Ibu, kamu harus menuruti apa yang di katakan oleh suami kamu dan jangan pernah sekalipun kamu membantahnya ya! Karena sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab suami kamu. Sebenarnya Ibu sangat berat melepas anak perempuan Ibu, tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau Ibu harus melepasmu." ucap Ibu Sri.


Lalu ia melepaskan pelukannya Melan dan beralih memegang tangan Archo.


"Tuan, Ibu titip Neng ya! Tolong jaga anak Ibu dengan baik. Dan Ibu sangat berharap kamu benar-benar menyayangi Neng meskipun dia memiliki banyak kekurangan."


"Ibu tenang aja! Saya pasti akan menjaga Istri saya dengan baik."


Mendengar itu pun membuat senyum Ibu Sri mengembang meski di barengi dengan buliran air matanya yang mengalir.


"Terimakasih Tuan."


"Sama-sama Bu."


Mereka berdua beralih ke arah Pak Tono yang sedang duduk di kursi roda. Melan pun memeluk erat Bapaknya itu.


"Sudah jangan menangis! Bapak sudah memaafkan mu, Neng. Bapak juga minta maaf karena selama ini Bapak sering nyusahin kamu, Bapak doakan semoga kamu selalu bahagia dengan kehidupan mu yang baru, meskipun sekarang kamu tidak tinggal bersama dengan kami lagi. Dan satu lagi, Neng harus selalu ingat pesan Ibu ya!" tutur Pak Tono.


Pak Tono pun mengalihkan pandangannya ke arah Archo.

__ADS_1


"Tuan, seperti pesan Ibunya Neng. Tolong jaga Neng dengan baik ya! Walau Neng memiliki kekurangan tapi bagi kami Neng adalah anak spesial yang Tuhan berikan untuk kami." pesan Pak Tono pada Archo.


"Iya Pak, saya pasti akan menjaga Melan dengan baik." balas Archo.


Sesaat setelah selesai berpamitan dengan semuanya, keduanya pun langsung berangkat menuju ke Kota. Sedangkan kedua orang tua Melan beserta adiknya langsung kembali ke rumahnya.


Flashback end


......................


Archo terus saja memandangi Melan tanpa berkedip membuat Melan mengernyit heran, lalu ia pun menarik baju Archo sehingga Archo tersadar seraya mengerjapkan matanya.


"Iya ada apa Mel?" tanya Archo.


Melan pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh, kirain ada apa."


Archo mengambil kunci pintu Apartemennya yang berada di saku jas-nya, kemudian ia memasukkannya ke dalam lubang kuncinya.


Setelah itu, ia pun mendorong pintunya hingga terbuka.


"Ayo masuk!" ajak Archo dan lagi-lagi Melan hanya membalas dengan anggukan pelan saja.


Lalu keduanya pun masuk ke dalam Apartemennya Archo.


*****************************


Tak terasa langit yang cerah sudah mengubah warnanya menjadi langit malam yang di taburi bintang-bintang di iringi dengan hembusan angin serta deburan ombak yang menyapu pantai.


Villa Z&R


β€”Pukul 09.20pm


Sementara itu di dalam kamar, Zuy terlihat sedang duduk di depan meja riasnya sembari menyisir rambut panjangnya itu. Dan di saat ia sedang asik menyisir rambutnya, tiba-tiba dari arah belakang Ray mendekap tubuhnya dengan erat seraya mencium atas punggung Zuy, sehingga Zuy meringis kegelian.


"Rayyan hentikan!"


"Gak."


Zuy menolehkan kepalanya sedikit.


"Tapi aku masih menyisir rambut ku, Ray. Nanti kena mata kamu gimana?" lontar Zuy membuat Ray menghentikan aksinya.


Lalu ia pun mengambil sisir yang masih berada di tangan Zuy.


"Ray, kenapa sisirnya di ambil sih? Aku kan belum selesai." pekik Zuy.


"Biar aku aja yang menyisir rambut mu ini, ya sayangku!"


Tanpa membantah, Zuy pun menganggukkan kepalanya.


"Oke tampan-ku."


Ray menyisir rambut Zuy dengan perlahan dan lembut sampai rambut Zuy benar-benar rapi. Setelah selesai menyisirnya, ia pun beralih mengepang rambut pujaan hatinya itu.


Lalu kemudian....


"Sudah selesai sayangku, bagaimana bagus gak hasil kepangan ku?"


"Eemmm," Zuy menatap cermin melihat hasil kepangan rambut yang di buat oleh Ray.


"Bagus dan aku sangat menyukainya. Terimakasih tampan-ku," lanjut ucapnya sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah Ray.


"Syukurlah kalau sayangku menyuβ€”"


Cup....


Zuy mendaratkan ciuman di bibir pria tampannya membuat Ray menghentikan perkataannya.


Sedangkan Ray nampak begitu bahagia mendapat ciuman secara tiba-tiba dari pujaan hatinya sehingga ia dengan cepat membalasnya, akan tetapi karena posisinya kurang nyaman, ia pun mengangkat tubuh Zuy dan menempatkannya di pangkuannya.


Tiga menit berlalu, Zuy pun melepaskan tautannya itu.


"Ray, terimakasih ya untuk hari ini karena kamu sudah mengajakku dan si kembar jalan-jalan, bukan hanya itu saja bahkan kamu sudah membelikan semua kebutuhan untuk adik-adikku di Panti." ucap Zuy seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Ray.


"Sayangku yang cantik, kalau untuk barang-barang yang tadi, bukan aku yang membelinya tapi kita yang membelinya." Ray mengelus kepala Zuy.


Zuy mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ray.


"Iya maksudku kita yang membelinya. Hmmm, aku benar-benar gak sabar ingin melihat wajah bahagia dari adik-adikku saat menerima pemberian dari kita."


"Ya aku juga sayangku."


Suasana pun menjadi hening karena keduanya saling memandang satu sama lain. Lalu perlahan Ray mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Zuy dan menelusurinya serta membuat jejak merah sebagai tanda kepemilikannya.


...----------------...


Kota M


Menjelang siang hari, Ray, Zuy, Davin, Airin beserta si kembar sudah berada di tempat tujuan yaitu Kota M. Dan kini mereka sudah sampai di Panti asuhan yang berada di Kota M.


Ya karena saat itu cuaca di Kota M tengah gerimis, maka Ray dan lainnya terlebih dahulu singgah ke Panti asuhan sebelum pergi ke makam Papahnya Zuy.


Kedatangan mereka pun di sambut hangat oleh anak-anak Panti terutama Ibu Panti yang tak henti-hentinya memeluk Zuy sembari menangis.


"Rin, kamu nangis ya?" tanya Davin karena melihat Airin mengusap-usap matanya.


Airin menoleh. "Si-siapa yang nangis Pak? Aku gak nangis kok." elaknya.


"Kalau gak nangis, kenapa kamu mengusap mata kamu seperti itu?"


"Ini karena mataku sakit akibat terpapar cahaya menyilaukan yang terpancar dari wajah anda, Pak." lontar Airin.


"Apa! Dasar kamu ya singa betina. Nih rasakan jurus mengacak rambut dari ku."


Davin pun mengacak-acak gemas rambut Airin.


"Pak Daviiiin!"


"Ck-ck, kalian berdua gak di mana-mana selalu aja berantem dasar Tom and Jerry." gerutu Ray menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu kemudian seorang pria datang menghampiri mereka.


"Lho, ternyata yang datang kamu ya Zuy." ucapnya.


Zuy yang masih memeluk Ibu Panti pun langsung menengadah melihat ke arah Pria tersebut, begitu juga dengan Ray dan lainnya.


"Siapa?"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ

__ADS_1


__ADS_2