
<<<<<
Mendengar suara Bunda Artiana, membuat Maria tersentak dan langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Bunda Artiana.
"Bunda...!!"
Seru Maria dengan raut wajahnya yang bahagia, karena melihat Bunda Artiana tersadar, bahkan air matanya mengalir di pipinya. Maria lalu mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Bunda...."
Perlahan Bunda Artiana melirik kan matanya yang masih sayu ke arah Maria.
"Syukurlah, akhirnya Bunda sudah sadar," ucap Maria dengan bahagianya.
"Ka-mu siapa?" tanya Bunda Artiana dengan nada lirih.
Sepertinya penglihatan Bunda Artiana masih belum terlalu jelas, sehingga Bunda Artiana tidak mengenali Maria.
"Ini aku Maria, anak Bunda." ujar Maria.
"Maria!" Bunda Artiana lalu mengedarkan pandangannya.
"Ini di mana?" sambung tanya Bunda Artiana.
"Di rumah sakit, Bunda sekarang sedang berada di rumah sakit," jawab Maria.
"Dimas?"
"Dimas sedang di luar, sebentar Bunda! Maria panggil Dimas dulu," kata Maria.
Bunda Artiana hanya membalas dengan anggukan kecil saja, Maria lalu memutar kursi roda nya dan menjalankan dengan remote control menuju ke arah pintu (Karena Maria memakai kursi roda elektrik).
Ketika sudah di dekat pintu dan hendak membukanya, akan tetapi seseorang terlebih dahulu membukanya dari luar, sehingga membuat Maria mengurungkan niatnya itu. Kemudian seseorang melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan orang itu tak lain adalah ....
"Dimas!"
Dimas menoleh. "Kak Maria! Kenapa Kakak di sini?"
"Kakak di sini karena ingin keluar dan memanggil mu, Dimas." ujar Maria.
"Memanggil ku? Memangnya ada apa, Kak?" tanya Dimas. Lalu ....
"Di-mas...." suara Bunda Artiana memanggil Dimas.
Sontak membuat Dimas terperangah dan memalingkan pandangannya ke arah Bunda Artiana.
"Bunda!!"
Dimas pun segera mendekat ke arah Bunda Artiana.
"Syukurlah, Bunda sudah sadar," ucap Dimas dengan air matanya yang lolos membasahi pipinya.
"Di-mas, Bunda mau pu-lang."
"Iya Bunda, nanti ya kalau Bunda sudah benar-benar sembuh, baru boleh pulang." tutur Dimas.
"Bunda ka-ngen Nayla," ucap Bunda Artiana.
"Iya Bunda, Nayla juga udah kangen sama Bunda. Makanya Bunda cepat sembuh ya! Supaya kita bisa kumpul bersama lagi," balas Dimas.
"Cu-cu pertama?"
"Cucu pertama?" Dimas berfikir sejenak. "Oh maksud Bunda, Zuy?"
Bunda Artiana menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Kalau sekarang Zuy lagi di rumahnya, tapi kemaren dan beberapa hari sebelumnya dia datang menjenguk Bunda, tapi sayangnya saat Zuy datang Bunda belum sadar," jelas Dimas.
Mendengar itu, Bunda Artiana mengerjapkan matanya, nampak aliran bening yang keluar dari sudut mata Bunda Artiana.
"Bunda kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Dimas sembari mengusap air mata Bunda Artiana.
"Zuy...." lirih Bunda Artiana.
"Bunda ingin bertemu dengan Zuy?"
Bunda Artiana membalasnya dengan anggukan kecil saja.
"Iya nanti Dimas akan hubungi Zuy dan menyuruhnya datang ke sini!" kata Dimas.
Seketika membuat senyum Bunda Artiana sedikit mengembang, sedangkan Maria terus menundukkan kepalanya saat mendengar percakapan antara Bunda Artiana dan Dimas. Akan tetapi berbeda dengan hatinya itu.
"Kenapa hanya Nayla dan Zuy saja yang Bunda sebut. Padahal kan cucu Bunda masih ada satu lagi yaitu Kimberly. Tapi kenapa kalian berdua melupakannya," batin Maria sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Lalu kemudian Dokter Arga masuk dan menghampiri Dimas.
"Dokter Dimas...."
Dimas menoleh ke arah Dokter Arga.
"Dokter Arga, Syukurlah anda sudah datang," sahut Dimas.
"Iya, maaf ya kalau saya sedikit terlambat," ucap Dokter Arga.
Dimas tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, sebentar ya Dok!"
Pandangan Dimas lalu beralih ke Bunda Artiana.
"Bunda, Dimas tinggal sebentar ya! Nanti Dimas datang lagi setelah Bunda selesai di periksa," ucap Dimas.
Bunda Artiana mengangguk pelan. "I-ya Di-mas."
Dimas lalu beralih kembali ke arah Dokter Arga dan memegang pundaknya.
"Dokter Arga, tolong ya!" pinta Dimas.
"Siap Dokter Dimas, serahkan semuanya padaku," balas Dokter Arga.
Dimas tersenyum. "Terimakasih banyak Dok," ucapnya.
"Sama-sama Dokter Dimas."
Kemudian Dimas menurunkan tangannya dari pundak Dokter Arga dan mendekat ke arah Maria.
"Kak, ayo kita keluar!" ajak Dimas.
Maria mengangguk. "Iya Dimas."
Lalu Dimas mendorong kursi roda Maria dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
*************************
Perusahaan CV
Sementara itu, Davin nampak keluar dari pintu lift, terlihat di tangannya membawa sebuah paper bag berukuran sedang.
"Semoga saja dia ada di pantry," batin Davin.
Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke pantry. Setibanya di sana, Davin menghentikan langkahnya di ambang pintu sambil mengedarkan pandangannya.
"Airin kemana ya?" lirih Davin. Lalu ....
"Cari siapa Pak?" tanya seseorang dari arah belakang Davin sambil menepuk pundak Davin.
Sehingga membuat Davin tersentak dan menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
"Huuft.... Ternyata kamu Rin, aku kira siapa. Bikin jantung orang mau copot saja," cetus Davin.
__ADS_1
"Hehehe.... Maaf Pak, habisnya Pak Davin berdiri di ambang pintu, ngalangin jalan orang tau, Pak." celetuk Airin. "Memangnya Pak Davin sedang cari siapa?" sambung tanyanya.
"Tentu aku cari kamu, Rin." balas Davin.
"Hah! Cari saya?" lontar Airin sambil menunjuk ke arah hidungnya sendiri.
"Iya cari kamu, Rin. Orang aku nyebutnya nama kamu." celetuk Davin.
"Oh yaudah kita duduk di sana Pak!" ajak Airin.
Lalu mereka berdua melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi yang berada di sana.
"Pak Davin mau ku buatkan kopi?" tawar Airin.
"Tidak Rin, nanti saja. Sebenarnya aku mencari mu karena ingin memberikan ini," ujar Davin sambil menyerahkan paper bag yang berada di tangannya.
"Apa ini Pak?" tanya Airin kebingungan.
"Itu oleh-oleh dari Mrs Yiou, Rin." jawab Davin.
"Hah! Jadi Mrs Yiou sudah datang Pak?"
Davin mengangguk. "Iya sudah, Rin. Makanya dia nitip oleh-oleh ini buat kamu."
"Waah, Mrs Yiou baik banget deh. Tolong sampaikan terimakasih ku pada Mrs Yiou ya Pak Davin!" pinta Airin.
"Iya nanti aku sampaikan."
Airin pun menyunggingkan senyumannya ke arah Davin, membuat Davin terpukau melihatnya.
"Cantik...." lirih Davin.
"Kenapa Pak?"
"Ti-tidak apa-apa, Rin." balas Davin menggeleng.
"Oh, kirain Pak Davin bilang sesuatu. Euuum, ngomong-ngomong Tuan bos kemana, Pak?"
"Tuan Ray ada di rumahnya, dia sedang sakit, Rin."
Sontak membuat Airin terkejut mendengarnya.
"Apa! Tuan bos sakit?"
Davin mengangguk. "Iya, mungkin karena kelelahan, Rin. Oh iya jam istirahat nanti, kamu mau gak temani aku makan siang?"
"Euuum, gimana ya? Tapi kalau yang lain pada salah paham bagaimana? Maksudku takutnya nanti ...."
Belum menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Davin mendaratkan tangannya ke kepala Airin.
"Kamu ini Rin. Sudah jangan pedulikan omongan orang lain! Yang penting kamu mau tidak temani aku?" lontar Davin.
Airin lalu menghela nafas panjangnya. "Haaaa.... Baiklah Pak."
Senyum Davin langsung mengembang, kemudian ia menurunkan tangannya dari kepala Airin dan beranjak dari tempat duduknya.
"Yaudah kalau gitu aku balik ke ruangan ku dulu, nanti jam istirahat aku tunggu kamu di lobby ya!"
"Oke Pak Davin."
Davin lalu melangkahkan kakinya keluar dari pantry. Sesaat setelah Davin pergi, Airin pun bangkit dari posisinya dan melangkah menuju ke ruang ganti untuk menyimpan paper bag itu.
***********************
Rumah Ray
—Pukul 11.45Am
Zuy nampak tengah menyiapkan makanan untuk Ray dan meletakkannya di atas nampan.
Karena sekarang waktunya makan siang dan Ray juga harus minum obatnya.
"Ray...." lirih Zuy sembari mengelus rambut Ray.
"Heeeuung...." erang Ray sambil perlahan membuka matanya.
Dan saat matanya terbuka, ia pun mengarahkan pandangannya ke arah Zuy.
"Sayangku...."
Zuy tersenyum. "Iya Ray, bangun yuk! Makan siang dulu!"
Ray mengangguk, kemudian ia perlahan bangkit dari posisinya menjadi duduk.
"Minum dulu, Ray!" titah Zuy sambil memberikan gelas minum pada Ray.
"Terimakasih sayangku."
Ray mengambil gelas air dari tangan Zuy dan meminumnya. Kemudian Zuy mengambil piring makanannya.
"Mau makan sendiri atau di suapin?"
"Tentu saja di suapin, sayangku."
"Baiklah...."
Zuy pun langsung menyendok kan makanan yang di piring dan menyuapkan nya pada Ray.
"Sayangku, apa kamu sudah makan?" tanya Ray
"Sudah Ray," jawab Zuy sambil kembali menyodorkan sendok makanan ke arah mulut Ray.
Sesaat kemudian, makanannya pun habis tak tersisa, Zuy lalu meletakkan piring kosong tersebut di atas nampan.
"Ray, sebentar lagi minum obatnya ya!"
Ray mengangguk, kemudian ia menggeser posisinya sedekat mungkin dengan pujaan hatinya itu dan memeluknya.
"Sayangku, terimakasih karena sudah merawat ku, maaf ya kalau aku merepotkan mu," ucap Ray.
"Hmmmm, kamu ngomong apa sih, Ray. Lagian sudah kewajiban ku untuk merawat mu, karena kamu adalah kesayangan ku," balas Zuy.
Seketika membuat Ray menyunggingkan senyumannya, ia lalu memegang dagu Zuy dan mengangkatnya, sehingga pandangan keduanya saling bertemu.
"Aku benar-benar sangat beruntung memiliki wanita seperti mu, sayangku."
"Iya, aku juga Ray. Yaudah kamu minum obatnya sekarang ya! Biar cepat sembuh."
"Iya sayangku, tapi setelah aku sembuh kamu harus menepati janji mu itu ya!"
"Janji! Memangnya aku ada janji apa?" tanya Zuy.
Seketika Ray mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Zuy.
"Kok malah bertanya janji apa? Bukannya sayangku tadi pagi sudah berjanji. Jika aku sembuh, maka aku boleh melakukannya sepuas yang aku mau." lontar Ray.
"Benarkah? Tapi aku tidak mengingatnya," seloroh Zuy.
Padahal sebenarnya Zuy hanya berpura-pura saja, sebab ia ingin menggoda Papah dari anak-anaknya itu.
"Oh sayangku mulai berlagak lupa ya? Hmmm, harus aku apain ya supaya sayangku bisa mengingatnya."
Ray menyunggingkan senyuman jahilnya, kemudian ia mendekatkan dirinya sedekat mungkin dengan pujaan hatinya itu.
"Ray, ka-kamu mau apa?" tanya Zuy.
Akan tetapi Ray tidak menjawab, ia malah menempatkan tangannya ke pinggang Zuy dan menggelitiknya, sontak membuat Zuy tertawa karena kegelian.
__ADS_1
"Berhenti Rayyan! Ini benar-benar membuat ku geli, hahaha...."
"Aku tidak akan berhenti sampai sayangku ingat akan janji sayangku."
"Iya-iya sekarang aku sudah mengingatnya," seru Zuy.
"Serius?"
"Se-serius Ray, bahkan sebenarnya aku selalu mengingatnya, hanya saja aku pura-pura lupa. Supaya aku bisa mengerjai mu, Ray." jelas Zuy.
"Apa! Ternyata sayangku sudah berani mengerjai ku ya. Nih rasakan hukuman dari Daddy-nya si kembar," lontar Ray.
Akan tetapi kali ini ia menggunakan bibirnya untuk menggelitik leher Zuy, sehingga membuat Zuy semakin kegelian.
"Rayyan berhenti!"
...----------------...
—Pukul 05.00Pm
Tak terasa matahari yang awalnya berada di atas kepala, kini telah bergeser ke arah barat, pertanda bahwa sore hari telah tiba.
Sementara itu, Zuy nampak keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono nya.
"Sayangku, sudah selesai mandinya?" tanya Ray yang sedang duduk di sofa.
Zuy mengangguk. "Iya sudah, sebentar ya! Aku ganti baju dulu."
"Oke sayangku."
Zuy lalu melangkah ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sesaat setelah selesai mengganti pakaiannya itu dengan menggunakan dress berwarna biru muda dan panjangnya hanya di bawah lutut. Zuy langsung menghampiri Ray dan duduk di sampingnya.
Lalu kemudian Ray menyandarkan kepalanya di bahu Zuy sambil mengendus harum dari tubuh Zuy.
"Aku suka harum di tubuh mu ini, sayangku." bisik Ray menggoda.
"Mulai deh mesumnya," gumam Zuy.
Ray mengangkat kepalanya kembali dan menatap wajah pujaan hatinya itu.
"Hehehe.... Mesum juga cuma sayangku ini," ucap Ray.
Sehingga membuat Zuy memutar bola matanya dengan malas. Lalu Ray kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy.
"Sayangku, apa kamu memakai lipstik?" tanya Ray menatap bibir Zuy.
"Hah! Tidak, aku tidak memakai lipstik." jawab Zuy.
"Itu buktinya bibir sayangku merah." Ray menunjuk-nunjuk bibir Zuy.
"Serius kamu, Ray. Tapi aku ...."
Belum menyelesaikan perkataannya, Ray langsung menyambar bibir Zuy, membuat Zuy tercengang dan membelalakkan matanya. Namun berbeda dengan bibirnya yang membalas ciuman Ray.
Dan saat mereka tengah asik berciuman, tiba-tiba seseorang langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Tuan Ray, aku sudah pulang dan membawa sesuatu untuk an.... Eeeh," serunya sambil menutup matanya.
Sehingga membuat mereka menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah orang tersebut.
"Kak Davin > Pak Davin!" lontar mereka serempak.
"Oh, hai Tuan Ray, Zuy. Maaf aku mengagetkan kalian berdua, tapi aku gak lihat apa-apa, beneran deh." selorohnya yang ternyata Davin.
Ray segera bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Davin.
"Kebiasaan suka menganggu orang lagi bermesraan saja," umpat Ray dengan tatapan tajamnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Ma-maaf Tuan Ray, aku kira kalian tidak sedang melakukan misteri Cup-cupan," ucap Davin menangkupkan kedua tangannya.
"Ck, makanya lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dulu!" cetus Ray.
"Ahahaha.... Maaf aku-nya kelupaan, Tuan Ray."
"Huuumpt, dasar adonan moci." sungut Ray.
Davin pun terkekeh, sedangkan Zuy hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan malu.
************************
Amerika
Sementara itu, Di pagi buta. Archo nampak tengah mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat, karena ia mendapatkan kabar dari anak buahnya, bahwa pelaku penukaran kosmetik milik Kimberly sudah di temukan. Bahkan anak buahnya sudah menangkapnya dan membawanya ke suatu tempat.
Sesampainya di tempat tujuan, Archo langsung menghentikan laju mobilnya dan memarkirkannya di tempat yang tidak terlihat oleh orang. Setelah itu ia segera turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke tempat tersebut yang tak lain adalah markas pribadinya sendiri.
"Mr Archo," sapa salah satu anak buahnya sambil membungkukkan badannya.
"Di mana orangnya?" tanya Archo.
"Dia ada di sana," jawab Cole anak buahnya. "Mari saya antar, Mr Archo."
Kemudian Cole mengantar Archo ke orang tersebut dan betapa terkejutnya Archo, ternyata pelakunya adalah seorang wanita yang tengah terikat sambil di tutup mata dan mulutnya dengan menggunakan kain.
"Apa benar dia pelakunya?" tanya Archo memastikan.
Cole lalu menganggukkan kepalanya. "Iya benar dia orangnya, Mr Archo."
Archo mendekat ke arah wanita tersebut, ia langsung membuka penutup mata dan mulut si wanita itu. Setelah terbuka ....
"Lepaskan aku! B*stard." teriak perempuan itu.
"Jadi kamu orang yang sudah menukar kosmetik adik ku?" tanya Archo.
"Anda jangan asal menuduh aku mana mungkin melakukannya," elak perempuan itu.
"Oh, jadi kamu tidak mau mengakuinya? Apa kamu ingin wajah cantik mu ini ku buat rusak sama seperti adik ku, Kimberly." gertak Archo sambil memainkan pisaunya ke arah pipi wanita itu.
"Apa! Jadi wajah wanita itu beneran rusak? Hahaha.... Akhirnya aku berhasil membuatnya cacat," tawa wanita itu dengan kerasnya.
Sehingga membuat amarah Archo semakin menjadi dan rahangnya pun sudah mengeras, lalu ....
Plaak!
Satu tamparan dari Archo mendarat ke pipi wanita itu sampai membuat sudut bibirnya berdarah. Kemudian Archo mencengkeram kuat rahang wanita tersebut.
"Ternyata kamu memang pelakunya, dasar wanita rendahan." umpat Archo.
"Iya, aku memang melakukannya, karena Kimberly telah menghina dan memfitnah ku." jelas wanita itu.
"Apa maksud mu bahwa Kimberly menghina dan memfitnah mu?" tanya Archo.
"Sa-saya akan menjawabnya, ta-tapi saya mohon lepaskan tangan anda, Tuan!" ucapnya yang sudah merasa kesakitan.
Archo pun langsung melepaskan tangannya dari rahang wanita itu.
"Cepat katakan padaku apa yang sudah di lakukan Kimberly sampai kamu bisa berbuat seperti itu padanya?" Archo kembali meninggikan suaranya.
Wanita itu lalu menundukkan kepalanya.
"Kimberly, dia telah ...."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌