
WARNING...!!
Cerita ini mengandung unsur kekerasan, harap bijak dalam membacanya. Terimakasih.. ππ
<<<<<
Seseorang memanggilnya, membuat Bunda Artiana menoleh ke arah suara tersebut, dan betapa terkejutnya Bunda Artiana ternyata yang memanggilnya adalah ...,
"Ma-Maria..!!"
...----------------...
Flashback
Β°Airport
Waktu menunjukkan pukul 07.45 Am, Archo sudah berada di Airport, Karena hari ini Maria akan datang, sesuai dengan waktu yang sudah di perhitungkan. Archo terus menunggu kedatangan Maria sambil sesekali pandangannya mengarah ke arloji yang menempel di tangannya dan juga sesekali mengedarkan pandangannya. Beberapa saat kemudian ...,
"Archo..!!" seru seseorang
Archo pun langsung menoleh, senyumnya mengembang di wajahnya, kemudian ia segera menghampirinya dan ternyata seseorang itu adalah Maria. Setelah itu mereka berdua saling berpelukan.
"Archo, bagaimana kabarmu?" tanya Maria.
"Kabarku baik-baik saja Mam," jawab Archo.
Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya.
"Mam kita ...,"
"Kita langsung ke rumah Bunda Archo, setelah itu Mam akan pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang," ujar Maria.
"Seseorang?!" tanya Archo penasaran
"Kamu tidak perlu tahu Archo, ayo kita pergi sekarang..!!"
Archo menganggukkan kepalanya, "Baik Mam, kita cari Taxi dulu."
Mereka berjalan menuju ke arah luar, kemudan Archo langsung menghentikan Taxi, setelah itu mereka berdua masuk ke dalam Taxi tersebut dan segera menuju ke rumah Dimas.
************
Rumah Dimas
Setelah menempuh perjalanan sekitar lebih dari empat puluh menit, mereka pun sampai di rumah Dimas. Archo dan Maria segera turun dari Taxi dan segera menuju ke rumah Dimas.
"Archo, apa ini benar rumah Dimas?"
"Iya Mam, ini rumah Dokter Dimas," jawab Archo.
Mendengar jawaban dari Archo, Maria pun menundukkan kepalanya dan memegang dadanya.
"Mam, apa Mam baik-baik saja?"
"Mam baik-baik saja, hanya saja Mam merasa gugup."
Archo pun menghela nafasnya, kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu masuk ke rumah Dimas. Sesampainya Archo langsung memijit bel pintu rumahnya, sedangkan Maria berdiam diri di halaman rumah Dimas.
Flashback End
...----------------...
"Ma-Maria...!!"
Ucap Bunda Artiana, tangannya pun bergetar, air matanya lolos membasahi pipinya. Kemudian Maria langsung menghampiri Bunda Artiana.
"Ma-Maria, apa ini benar-benar kamu?" tanya Bunda Artiana sambil perlahan mengangkat tangannya dan memegang pipi Maria.
Maria pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bunda, ini Maria.."
Seketika tubuh Bunda Artiana lemas dan hampir terjatuh, namun dengan sigap Archo menahannya.
"Bunda..!"
"Bunda tidak apa-apa, Bunda hanya terkejut saja," ucapnya.
Maria pun langsung bersimpuh di hadapan Bunda Artiana.
"Bunda, maafin Maria, Maria baru sempat datang menemui Bunda," tangis Maria.
Lalu Bunda Artiana membungkukkan badannya dan memegang pundak Maria.
"Maria bangun lah!! jangan seperti ini!!"
Maria pun segera bangkit dari posisinya dan memeluk erat Bunda Artiana.
"Bunda, maafkan kesalahan Maria."
"Iya Bunda memaafkanmu Maria, dan lagi ini bukan kesalahan kamu, kami yang salah, maafin Bunda juga ya Nak!"
"Iya Bunda.."
Mereka pun saling melepaskan rindunya, sedangkan Archo yang melihatnya merasa terharu dan meneteskan air matanya. Sesaat setelahnya, Bunda Artiana dan lainnya langsung masuk ke dalam rumah, kemudian mereka duduk di sofa.
"Lalu Dimas mana Bunda?"
"Dimas sedang di rumah sakit," jawab Bunda Artiana.
"Apa! Dimas di rumah sakit? apa dia sakit?" tanya Maria terkejut.
Bunda Artiana menggelengkan kepalanya, "Tidak, adikmu itu seorang Dokter, Maria."
"Oh, hebat ya Dimas sudah jadi Dokter," puji Maria.
"Iya Maria, lalu kamu datang kesini dengan siapa?"
"Maria sendirian Bunda, Kimberly sedang ada pemotretan di Swedia," ujar Maria.
"Kimberly?! maksudmu anakmu dengan Mr. Mario?"
Maria pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bunda, dia anaknya sangat cantik, pintar dan model terkenal Bunda," jelasnya.
Mendengar penjelasan Maria, Bunda Artiana hanya manggut-manggut dan tersenyum saja. Setelah itu mereka melanjutkan ngobrolnya.
*********************
Perusahaan CV
Menjelang siang hari, Zuy nampak tengah duduk di taman sambil menatap ke layar hpnya, menggerakan jari tangannya ke layar hpnya itu. Dan ternyata ia sedang membalas chat dari Ray.
[Chat]
π² Sayangku, sepertinya Ray bakalan pulang malam. β (Ray)
β Oh, iya gak apa-apa Ray, semangat ya! π² (Zuy)
π² Terimakasih sayangku, aku jadi semakin semangat. Oh iya sayangku, nanti malam kita bikin telinga yuk! :-* :-* β (Ray)
β Ray..! Kebiasaan deh, suka banget godain Zuy.π² (Zuy)
π² Hahaha.. Maaf sayangku, habisnya sayangku bikin aku tegang terus, yaudah sayangku, sepertinya meetingnya mau di mulai, jangan telat makan ya sayangku! I LOVE YOU.. :-* β (Ray)
β Iya Ray, kamu juga jangan telat makan ya! I LOVE YOU TOO. :-* π² (Zuy)
Chat pun berakhir.
"Dasar kamu Ray," lirih Zuy, ia pun menaroh hpnya kembali di saku celananya.
Zuy beranjak dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam Perusahaan.
***************
Sementara itu di tempat lain.
Setelah mendapat pesan dari pujaan hatinya, Ray langsung tersenyum bahagia, sampai ia lupa bahwa banyak pasang mata memperhatikannya. Lalu kemudian ...,
"Ehemmm.. Tuan Ray," tegur Davin sambil menepuk pundak Ray, membuat ia tersadar dan menoleh ke arah Davin.
"Ada apa?"
"Tuan Ray, kalau mau bermesraan nanti saja, soalnya rapat akan di mulai," tutur Davin.
Mendengar tuturan Davin, pandangan Ray beralih ke arah yang lainnya.
__ADS_1
"Ehemmm maaf semuanya, ayo kita mulai rapatnya," kata Ray.
Lalu rapat Perusahaan pun di mulai dan Ray yang memimpin rapatnya.
*********************
Kembali ke Perusahaan CV
Tak terasa sore hari pun tiba, dan waktu pulang hanya tinggal beberapa menit saja. Akan tetapi nampak seseorang datang ke Perusahaan CV, ia langsung menuju ke Resepsionis.
"Maaf Mrs, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Citra.
"Iya, saya mau cari Rayyan," jawabnya.
"Tuan Ray sedang berada di luar Mrs." ujar Citra.
"Oh begitu ya,"
Citra pun menganggukkan kepalanya, kemudian ...,
"Euum, kalau yang namanya Zuy, apa dia masih d sini?"
"Oh, kalau Zuy ...," Citra mengedarkan pandangannya, "Ah itu dia, Zuy..!" seru Citra
Mendengar dirinya di panggil, Zuy langsung menghampiri Citra.
"Ada apa Nona Citra?"
"Kamu di cariin sama Mrs ini," ujar Citra
Tanpa berkata, orang tersebut langsung menarik tangan Zuy dan membawanya keluar. Setelah berada di luar ...,
"Maaf ada apa ya?" tanya Zuy
Lalu orang itu membuka kacamatanya, "Apa kamu ingat saya?"
"Hah! M-Mrs Maria..!"
Zuy terkejut melihatnya, namun ada rasa bahagia dalam diri Zuy dan ternyata orang itu adalah Maria.
"Syukurlah kalau masih ingat, oh iya bisa kita bicara di tempat lain?" tanya Maria.
Zuy mengangguk, "Bisa, tapi saya sedang bekerja, Mrs Maria." ujarnya.
"Nanti setelah bekerja, saya tunggu kamu di Restaurant seberang sana!" pinta Maria sambil menunjuk ke arah Restaurant.
"Baik Mrs Maria."
Lalu Maria pergi meninggalkan Zuy, sedangkan Zuy kembali bekerja.
**************
Restaurant
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Zuy langsung pergi ke Restaurant yang di tunjuk oleh Maria, setelah memarkirkan motornya, Zuy bergegas masuk. Saat berada di dalam, ia segera menghampiri Maria yang tengah duduk sambil meminum orange jus. Dan ternyata Restaurant tersebut sudah di pesan oleh Maria.
"Sudah datang kamu? Duduk!"
Zuy mengangguk, ia menarik kursi dan mendudukinya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Ba-baik Mrs, bagaimana kabar Mrs Maria?"
"Lumayan, gak sangka kita bertemu lagi," papar Maria.
Zuy menundukkan kepalanya, "Iya Mrs, saya senang bisa bertemu dengan anda lagi," ucapnya.
Lalu tiba-tiba Maria merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat, kemudian ia memberikannya pada Zuy.
"Ini apa Mrs?" tanya Zuy keheranan.
"Itu uang seratus juta dan saya memberikan uang itu agar kamu pergi sejauh mungkin dari kota ini!" pinta Maria.
Mendengar permintaan Maria sontak membuat Zuy terkejut.
"Ma-maksud anda apa Mrs Maria?" tanya Zuy keheranan.
"Maksudku adalah kamu tinggalkan Rayyan, karena dia hanya milik Kimberly, aku peringatkan kamu! Kamu hanya gadis miskin dan lagi kamu hanyalah seekor burung gereja, jangan bermimpi bisa menandingi burung Phoenix," pekik Maria.
Dada Zuy terasa sesak, sesaat Zuy menghela nafasnya, kemudian ia memberikan kembali amplop itu pada Maria.
"Maaf Mrs Maria, jika saya tidak sopan, tapi saya tidak bisa menuruti apa kata anda. Saya tidak bisa meninggalkan kota ini dan saya juga tidak bisa meninggalkan Ray," jelas Zuy.
"Kamu..!! Apa yang kamu bilang barusan?"
"Maaf Mrs Maria, jika saya mengecewakan anda, tapi saya tidak bisa menuruti keinginan anda," tegas Zuy
Sontak Maria terkejut mendengar perkataan Zuy dan membuatnya marah.
"Kamu memang benar-benar wanita tidak punya malu, ternyata benar apa kata Kimberly, kalau kamu yang sudah membuat Ray mencampakannya, dan kamu juga sudah mengambil apa yang menjadi milik Kimberly. Apa kamu tahu perasaannya sekarang dan apa kamu merasakan rasanya kehilangan, hah!" sergah Maria.
Zuy menggelengkan kepalanya, "Mrs Maria, saya tidak pernah mengambil Ray dari siapapun, saya juga tidak pernah memaksakan perasaan Ray, dan lagi soal merasakan kehilangan, Zuy sangat tahu rasanya kehilangan. Kehilangan Ibu yang pergi entah kemana, dan kehilangan seorang Ayah yang sudah meninggal."
Bukannya merasa tertegun, Maria justru tersenyum jahat.
"Heh, ternyata kamu di tinggal oleh Ibu-mu, sepertinya kamu memang beban, makanya Ibumu meninggalkan mu, hah.. aku jadi berfikir apa jangan-jangan kamu jadi wanita seperti ini karena ajaran orang yang telah merawatmu itu," pekik Maria
Mendengar itu, Zuy langsung bangkit dari posisinya.
"Mrs Maria, anda boleh menghina saya, tapi anda jangan menghina orang yang sudah merawat saya!"
Maria pun ikut bangkit dari posisinya, "Makanya kalau kamu tidak ingin aku menghinanya, kamu harus tinggalkan Rayyan!"
"Maaf Mrs Maria," lirih Zuy, membuat amarah Maria memuncak, lalu tiba-tiba..
Plaaak..
Satu tamparan keras mendarat ke pipi kanan Zuy, membuat Zuy terkejut, air matanya pun mengalir.
"Mrs Maria..!!"
"Itu untuk air mata Kimberly."
Plaaak..
Satu tamparan mendarat kembali ke pipi kiri Zuy.
"Dan ini untuk orang yang berani melawanku!" pekik Maria,
Dan saat ia melayangkan tangannya lagi, tiba-tiba seseorang menahan tangan Maria.
"Mam, berhenti..!!"
Maria pun menoleh, "Archo!!"
Ternyata Archo datang bersama Dimas, Dimas lalu menoleh ke arah Zuy.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Zuy tidak menjawabnya, hanya isak tangisnya sambil memegang pipinya.
"Archo, lepasin tangan Mam, biar Mam kasih pelajaran pada wanita j*lang ini," pekik Maria.
"Nona, lebih baik kamu pergi dari sini!" titah Dimas.
Zuy langsung menganggukkan kepalanya, ia pun melenggang pergi.
"Hei berhenti..!!" seru Maria.
"Kak Maria, cukup! Tenangkan diri Kakak!" pinta Dimas.
Maria pun menoleh ke arah Dimas, "Dimas...!!"
"Iya ini Dimas Kak."
Seketika Maria langsung diam dan mendudukkan dirinya kembali di atas kursi, begitu juga dengan Archo dan Dimas.
**************
Rumah Sakit
Beberapa saat kemudian, setelah dari restaurant, ternyata Zuy singgah ke rumah sakit, ia bergegas menuju ke kamar rawat Bi Nana. Setelah sampai di depan kamar rawat, Zuy berhenti sejenak.
__ADS_1
"Kenapa aku malah di sini?" lirihnya.
Lalu seseorang membuka pintunya, ternyata ia Pak Randy.
"Paman..!"
"Lho Zuy, ngapain berdiri di situ? Ayo masuk!!"
Zuy mengangguk cepat, ia pun segera masuk ke kamar rawat Bi Nana dan menghampiri Bi Nana.
"Zuy, sudah pulang? Lalu kamu ke sini dengan siapa?" tanya Bi Nana.
Zuy menarik kursi dan mendudukinya, "Zuy sendiri, Tuan Muda sedang di luar kota," ujar Zuy.
Kemudian Bi Nana memegang pipi Zuy dan menatapnya.
"Apa yang terjadi dengan pipimu? Dan kenapa matamu memerah? apa kamu habis menangis?" tanya Bi Nana menyidik.
Zuy menggelengkan kepalanya, "Zuy tidak apa-apa Bi."
"Zuy, jangan membohongi Bi Nana, siapa yang melakukannya?"
Zuy menundukkan kepalanya, kemudian ia kembali menitihkan air matanya.
"Zuy..!"
"Bi, apa benar Zuy adalah beban? sehingga Mamah pergi ninggalin Zuy?"
Bi Nana terkejut mendengar pertanyaan Zuy, "Zuy, apa yang kamu tanyakan? Sebenarnya apa yang terjadi? jawab Zuy!!"
Zuy lalu mengangkat kepalanya, ia pun menjelaskan pada Bi Nana apa yang terjadi sebenarnya, membuat Bi Nana dan Pak Randy kembali terkejut.
"Ya ampun Zuy.." lirih Pak Randy.
"Zuy, duduklah di samping Bibi!!" titah Bi Nana sambil menepuk ranjangnya.
Zuy mengangguk, lalu ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemudian Bi Nana langsung memeluk Zuy, tangis Zuy pun pecah.
"Maria, kamu benar-benar wanita jahat, kamu sudah meninggalkannya selama bertahun-tahun, dan sekarang kamu menamparnya bahkan membentaknya. Aku tidak akan biarkan ini," batin Bi Nana sambil mengepalkan tangannya.
"Bi Nana, Zuy cape Bi, Zuy ngantuk," lirih Zuy.
"Apa kamu mau tidur di peluk Bibi?" tanya Bi Nana.
Zuy menganggukkan kepalanya, "Iya Bi, Zuy kangen tidur di peluk Bibi."
"Yaudah, kalau begitu kita pindah ke tempat tidur itu, karena lebih besar, Papih bisakah Papih membantuku!!"
Pak Randy membantu Bi Nana turun, kemudian ia menuntun Bi Nana ke tempat tidur yang berada di kamar rawatnya. Setelah itu Bi Nana merebahkan dirinya dan di susul Zuy. Bi Nana langsung memeluk Zuy dan mengelus kepalanya, sehingga Zuy merasa nyaman dan tertidur lelap, tanpa terasa air mata Bi Nana mengalir membasahi pipinya.
"Kak Jordhan, apa Kakak melihatnya? Apa Kakak merasakannya? Anak Kakak menangis seperti ini karena perlakuan Ibunya, hati ku sangat sakit Kak, gadis kecil ku terluka karena Ibunya," batin Bi Nana.
Pak Randy pun tak hentinya menyeka air matanya sambil menggendong Nara yang tertidur.
*****************
Malam semakin larut, sementara itu Ray dan Davin sudah berada di perjalanan menuju arah pulang.
"Kak Davin, bisa tidak lebih cepat lagi! dari tadi perasaanku tidak enak," pinta Ray.
"Ini juga sudah cepat Tuan Ray, gak sabaran banget, pengin buru-buru melakukan aktivitas Misteri ranjang bergoyang ya?" goda Davin.
"Kak Davin.. berhenti menggodaku..!!" pekik Ray, lalu kemudian...
Kling..
Mendengar suara chat masuk dari hpnya, Ray segera mengambil hpnya dari saku jasnya dan segera membaca chat tersebut.
[Chat]
Bi Nana
π² Tuan Muda, Zuy lagi di rumah sakit, jika anda ingin menjemputnya, maka jemputlah sekarang!β
"Kak Davin, putar arah! kita ke rumah sakit sekarang!" titah Ray.
"Baik Tuan Ray."
Davin segera memutar setirnya dan bergegas menuju ke rumah sakit.
*******************
Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka sampai di rumah sakit, Ray segera turun dari mobilnya sedangkan Davin langsung memarkirkan mobilnya. Ray bergegas menuju ke arah kamar rawat Bi Nana.
Kamar Rawat
Sesampainya Ray segera masuk ke dalam dan berjalan menghampiri Bi Nana.
"Malam Bi," sapa Ray sambil mencium tangan Bi Nana.
"Tuan Muda, maaf Bi Nana menyuruh anda datang," ucap Bi Nana.
"Tidak apa-apa Bi, oh iya Zuy mana?"
Lalu Bi Nana menunjuk ke arah Zuy yang tengah tertidur, "Itu dia sedang tidur, dari tadi dia mengigau memanggil nama anda terus dan dia juga sempat demam, tapi sepertinya sekarang panasnya sudah menurun," jelasnya.
"Apa!"
Ray terkejut dan langsung menghampiri Zuy, kemudian ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, ia pun menempelkan tangannya ke dahi Zuy.
"Hmmm, Syukurlah panasnya sudah turun, tapi kenapa pipinya memar gini?" lirih Ray, "Sayangku, ayo bangun..!"
Perlahan Zuy membuka matanya, "Ray..!"
"Iya sayangku, ini aku Ray," ujar Ray tersenyum.
Zuy segera bangkit dari posisinya dan langsung memeluk Ray, seketika ia menangis di pelukannya.
"Sayangku, kenapa kamu menangis?"
"Ray berjanji lah, untuk tidak meninggalkan Zuy!"
Ray mengelus kepala Zuy, "Sayangku, Ray tidak akan meninggalkan mu, Ray akan selalu berada di sampingmu, menjagamu dan membahagiakanmu sayangku," ucapnya.
Zuy mengeratkan pelukannya, Bi Nana yang melihatnya pun ikut menangis. Sesaat kemudian ...,
"Sayangku, apa kamu sudah tenang?"
"Iya Ray, sudah lebih tenang, terimakasih Ray."
"Yaudah, kita pulang yuk!" ajak Ray
Zuy menganggukkan kepalanya, lalu Zuy beranjak dari tempat duduknya. Ray dan Zuy menghampiri Bi Nana untuk berpamitan.
"Bi Nana, kita pamit ya!" ucap Ray
"Iya, Tuan Muda, tolong jaga Zuy dengan baik ya!" pinta Bi Nana.
"Iya Bi Nana, Ray akan menjaganya dengan baik," ucap Ray.
Lalu mereka berdua mencium tangan Bi Nana, setelah itu mereka bergegas keluar dari kamar rawat Bi Nana.
*********************
Rumah Dimas
Sementara itu, Dimas, Archo dan Maria tengah berada di ruang utama, sedangkan Bunda Artiana sudah tertidur lelap. Makanya mereka mempunyai kesempatan untuk berbicara.
"Kak Maria, kenapa Kakak melakukan kekerasan seperti itu? Apa Kak Maria gak kasihan?" tanya Dimas
"Untuk apa aku kasihan dengannya, dia juga tidak kasihan pada anakku Kimberly, karena dia Kimberly di campakan oleh calon tunangannya," ujar Maria.
"Tapi Mam, setidaknya jangan melakukan kekerasan seperti itu, bagaimana kalau dia kenapa-napa, dan lagi bagaimana jika dia itu anak Mam yang sebenarnya!" cetus Archo.
Mendengar cetusan Archo, Maria terkejut dan menoleh ke arah Archo.
"Kamu bilang apa Archo?"
***Bersambung...
PS: Buat yang lupa, Zuy dan Maria sudah pernah bertemu sebelumnya dari Bab.27 sampai Bab. 41 ππ
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ