Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Bumbu Rahasia....


__ADS_3

<<<<<


Mendengar suara orang menyapanya, Zuy langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.


"Kamu...!!"


Zuy tercengang melihat seorang laki-laki berpakaian OB tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


"Maaf sebelumnya, anda siapa ya? Kenapa bisa tau nama saya?" tanya Zuy.


"Sudah ku duga, Kakak pasti lupa padaku. Aku Aydan Kak, anak dari Panti asuhan," jawab Pria yang bernama Aydan itu.


"Aydan? Maksudmu Aydan Rahadi?"


Aydan mengangguk. "Iya Kak, akhirnya Kakak ingat juga."


"Maaf Aydan, akhir-akhir ini Kakak memang suka lupa. Oh iya ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini? Dan kenapa kamu berpakaian OB?" tanya Zuy.


"Aku bekerja di sini sebagai OB, Kak." jawab Aydan.


"Benarkah? Sejak kapan?"


"Sejak hari senin yang lalu Kak," ujar Aydan.


"Oh, Syukurlah kalau begitu, Dan."


"Iya Kak, soalnya Aydan ingin melangkah lebih maju dan lagi Aydan juga ingin membantu Ibu Panti sama seperti Kakak. Makanya Aydan datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, dan setelah mencari beberapa informasi lowongan pekerjaan, akhirnya aku sampai di gedung Perusahaan ini untuk melamar pekerjaan, dan akhirnya aku mendapatkan pekerjaan, meskipun hanya sebagai OB," Aydan bercerita dengan panjangnya.


Zuy yang mendengarnya pun tersenyum, lalu ia memegang pundak Aydan.


"Kamu harus banyak bersyukur Aydan dengan apa yang kamu dapat sekarang ini, dan Kakak doakan supaya kamu menjadi anak yang sukses."


Mendengar itu, Aydan pun langsung menyunggingkan senyumannya itu.


"Terimakasih banyak Kak." ucap Aydan.


"Sama-sama Aydan," balas Zuy.


Lalu....


"Kak Zuy, kalau begitu aku kembali ke dalam dulu ya! Gak apa-apa kan kalau aku tinggal?" lontar Aydan.


Zuy mengangguk. "Yaudah sana kalau mau masuk ke dalam, kamu yang semangat kerjanya ya Aydan!"


Aydan pun kembali tersenyum, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Zuy. Sedangkan Zuy segera masuk ke dalam mobil sambil menunggu Henri yang sekarang sedang berada di dalam Perusahaan.


••••••••••••••


Sementara itu, beberapa saat sebelumnya, sesuai dengan permintaan Zuy, Henri pun sudah berada di depan ruang CEO, kemudian ia langsung mengetuk pintunya.


Tok...Tok... Tok....


"Masuk...!" suara dari dalam ruangan Ceo.


Setelah mendapatkan izin, Henri langsung mendorong pelan pintu ruangan tersebut hingga terbuka dan melangkah masuk menghampiri Ray yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Tuan Ray...." sapa Henri membungkuk.


Ray yang mendengar sapaannya pun langsung menghentikan aktivitasnya sejenak sembari mendongakkan kepalanya ke arah Henri.


"Ternyata kamu Hen," lontar Ray.


Henri lalu mengangkat kepalanya dan menganggukkannya.


"Ada perlu apa kamu kesini Hen? Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk mengawasi Nyonya selama aku bekerja," cetus Ray


"Maaf Tuan Ray, sebenarnya saya datang ke sini karena di suruh Nyonya untuk memberikan ini pada anda," Henri memberikan tempat makanan yang berbentuk Love pada Ray.


Ray mengambil tempat makan tersebut dari tangan Henri, kemudian ia melihat sebuah kertas yang berada di atas tempat makan tersebut. Ray langsung mengambilnya dan membacanya.


Hai tampan-ku, ini bekal makanan untuk mu. Sengaja aku buat dengan menggunakan bumbu rahasia yaitu CINTA. Selamat menikmati Ray sayang dan semangat bekerja ya! I LOVE YOU... :-*


^^^Zuy^^^


Begitulah isi dari surat tersebut.


Seketika senyum Ray mengembang setelah membaca isi dari kertas tersebut.


"Sayangku, kamu benar-benar sangat menggemaskan," lirih Ray.


Ray lalu membuka tempat makan tersebut dan kembali menutupnya.


"Terimakasih Hen karena sudah mengantarkannya padaku."


"Iya Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu, soalnya Nyonya sudah menunggu di luar," pamit Henri.


Mendengar itu, Ray tersentak dan langsung bangkit dari posisinya.


"Apa! Nyonya ada di sini?"


Henri mengangguk. "Iya Tuan dan beliau sedang menunggu di mobil."


"Ck, kenapa tidak bilang dari tadi sih." sungut Ray.


Ia pun segera melangkah keluar dari ruangannya dan di susul oleh Henri. Sesaat kemudian, Ray dan Henri keluar dari pintu lift, semua karyawan yang berpapasan dengan Ray pun langsung menyapanya seraya memberikan hormat pada atasannya.


"Tuan Ray...."


Ray hanya membalas anggukan saja sambil terus melangkah keluar. Setibanya di luar kantornya, Ray segera menghampiri pujaan hatinya yang berada di dalam mobil.


"Sayangku...."


Zuy langsung menolehkan kepalanya ke arah Ray.


"Ray! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zuy terkejut.


Ray lalu masuk ke dalam mobil, sedangkan Henri menunggu di luar mobil.


"Justru aku yang bertanya padamu sayangku, kenapa kamu berada di luar sini? Terus kenapa kamu memakai pakaian rapi serta membawa ransel ini, memangnya kamu mau kemana, sayangku?"


"Hari ini jadwal ku mengikuti kelas kehamilan, Ray."


"Apa! Jadi hari ini jadwal sayangku mengikuti kelas kehamilan? Kenapa kamu gak bilang dari semalam sayangku?" cecar Ray.


"Sebenarnya semalam aku ingin bilang, cuma kamu-nya sudah tidur, terus pas paginya aku malah kelupaan," ujar Zuy.


"Oh, jadi begitu ya sayangku."


Zuy menundukkan kepalanya. "I-iya, maaf ya Ray."


Ray menempelkan tangannya di dagu Zuy dan perlahan mengangkatnya, sehingga membuat pandangan mereka saling bertemu.


"Tidak apa-apa sayangku, asal lain kali jangan sampai lupa lagi ya!"


Zuy mengangguk cepat. "Iya Ray, Zuy tidak akan lupa lagi."


"Oh iya, kelasnya di mulai jam berapa?" tanya Ray.


"Satu jam setelah istirahat, tapi Zuy sengaja berangkat sebelum jam istirahat. Supaya bisa mampir ke sini dulu dan memberikan bekal makan siang untuk mu, Ray." jawab Zuy.


"Terimakasih sayangku, kamu benar-benar pengertian," ucap Ray sambil memeluk erat tubuh Zuy dan menghujani ciuman di wajah Zuy.


"Iya, tapi jangan memeluk dan mencium ku sembarangan dong! Soalnya ini masih di kantor, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" pekik Zuy.


Sesaat Ray langsung melepaskan pelukannya.


"Sayangku, apa kamu sudah makan?" tanya Ray.


"Belum, tapi Zuy akan makan, setelah sampai di sana," ujar Zuy.


"Bagaimana kalau kita makan bersama di luar? Mumpung sebentar lagi jam istirahat."

__ADS_1


"Tapi Ray, aku kan sudah membuatkan makan siang untukmu, masa kita makan di luar sih?" lontar Zuy sembari mengerucutkan bibirnya.


Melihat ekspresi wajah Zuy, Ray pun mencubit gemas kedua pipi Zuy.


"Awww sakit Rayyan!"


"Habisnya kamu benar-benar menggemaskan sayangku, rasanya aku ingin melahap mu sampai puas."


"Mulai deh pikiran mesumnya," pekik Zuy memutar bola matanya dengan malas.


Ray terkekeh geli, kemudian ia membuka pintu dan turun dari mobilnya.


"Henri...."


Henri langsung menoleh dan menghampiri Ray.


"Iya Tuan Ray." sahutnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Ray.


"Kalau tadi pagi udah, tapi kalau makan siang belum, Tuan Ray." jawab Henri.


"Yaudah kalau begitu kamu makan siang di kantin Perusahaan ya! Soalnya aku mau makan di luar bareng Nyonya."


Henri mengangguk patuh. "Baik Tuan Ray."


Lalu ia pun bergegas menuju ke kantin, sedangkan Ray kembali masuk ke mobil dan mengambil alih kemudi.


"Ray, kita mau kemana?"


"Kita mau makan siang, sayangku." jawab Ray.


"Tapi ...."


Ray menolehkan kepalanya ke arah Zuy dan mengelus rambut Zuy.


"Kamu tenang aja sayangku, bekal dari kamu pasti aku makan, apa lagi itu bekal istimewa yang di buat dengan menggunakan bumbu cinta, pasti rasanya sangat enak dan bahkan menandingi masakan chef terkenal," ujar Ray memuji Zuy.


Blush....


Seketika membuat wajah Zuy memerah, karena mendapat pujian dari Papahnya anak-anaknya.


"Kamu benar-benar pandai membual ya Ray."


"Aku tidak membual sayangku, tapi aku memujimu. Karena memang kenyataannya, makanan yang kamu buat selalu enak."


"Ya, terimakasih sudah memuji ku Ray. Tapi beneran ya kamu akan memakannya?"


"Iya sayangku, pasti aku akan memakannya dan lagi aku lupa bilang, mungkin hari ini aku akan pulang telat, karena ada meeting di luar bersama Klien." jelas Ray.


"Tidak apa-apa kan, sayangku. Kalau aku pulangnya malam?" sambung tanya Ray.


Zuy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya tidak apa-apa Ray, lagian pulang malam juga karena pekerjaan, aku akan selalu menunggu mu."


"Terimakasih sayangku. Yaudah ayo kita berangkat sekarang!"


"Oke tampan-ku."


Ray lalu menyalakan mobilnya, sesaat setelahnya, ia pun melajukan mobilnya menuju ke tempat makan.


************************


Amerika


°Rumah Maria


Archo nampak tengah tertidur pulas di sofa yang berada di kamar Kimberly. Begitu pula dengan Kimberly yang sedang berada di tempat tidurnya itu. Karena waktu di Amerika saat ini adalah malam hari.


Pasalnya setelah kedatangan Archo ke Apartemen Kimberly, ia pun langsung mengajak Kimberly untuk pulang ke rumahnya.


......................


—Pukul 01.50pm


Kala itu Archo baru sampai di salah satu Airport yang berada di Amerika, setelah menempuh perjalanan panjang. Rasa lelahnya pun sudah terlihat dari raut wajah si pria kacamata itu.


Saat sudah berada di luar Airport dan menunggu jemputan dari anak buahnya. Setelah jemputannya datang, ia pun langsung menuju ke Apartemen Kimberly.


Apartemen Kimberly


Sesampainya di tempat tujuan, Archo segera menekan bel pintunya.


Teeet....


Dari dalam Apartemennya, Kimberly nampak tengah duduk sambil menonton televisi. Saat mendengar suara bel pintunya berbunyi, ia pun berjalan menuju ke arah pintu.


Akan tetapi sebelum membuka pintunya, Kimberly terlebih dahulu melihat ke arah layar monitor yang berada di samping pintunya. Saat tahu bahwa yang datang adalah Archo, Kimberly segera membuka pintunya dan menarik tangan Archo masuk ke dalam.


Setelah Archo berada di dalam Apartemennya, ia pun langsung memeluk erat tubuh Kakak laki-lakinya itu sembari menangis.


Hiks....


"Kenapa kamu baru datang sekarang, Archo? Kenapa gak kemaren-kemaren kamu datang, apa kamu tidak kasihan pada adikmu ini?" cecar Kimberly.


"Maaf ya my sister," ucap Archo sambil mengelus kepala Kimberly.


Sesaat setelah tenang, Archo mengajak Kimberly duduk di sofa.


"Archo, di mana Mam? Kenapa dia tidak kesini?" tanya Kimberly.


"Mam masih di sana Kim, beliau tidak bisa ikut," ujar Archo.


"Kenapa Archo? Apa Mam sudah tidak sayang padaku lagi?"


"Bukan Mam gak sayang, Kim. Akan tetapi di sana juga Mam sedang sibuk bolak-balik ke rumah sakit."


"Bolak-balik ke rumah sakit? Apa Mam sedang berobat di sana?"


Archo menggelengkan kepalanya. "Tidak Kim, Mam tidak berobat di sana. Mam sering bolak-balik ke rumah sakit karena Nenek kamu sedang terbaring di rumah sakit dan beliau terkena serangan jantung."


"Apa! Maksud kamu Ibunya Mam?"


"Iya Kim, Ibunya Mam."


Mendengar itu, Kimberly kembali menitihkan air matanya. Archo yang melihatnya pun langsung memegang tangan Kimberly.


"Kim, sudah jangan menangis! Nenek kamu baik-baik saja kok," tutur Archo.


"Tapi Archo, selama ini Kimberly kan belum pernah bertemu dengannya, itu karena Mam tidak menceritakannya padaku."


"Kim. Sebenarnya ada alasan kenapa Mam tidak menceritakan tentang keluarganya padamu."


"Alasan?"


Archo mengangguk. "Iya Kim, makanya Mam tidak menceritakan tentang keluarganya itu."


"Tapi apa alasan Mam, Archo?"


"Nanti kamu juga akan mengerti kenapa Mam melakukan itu."


Seketika Kimberly langsung menundukkan kepalanya.


"Kim. Sekarang kamu siap-siap ya!"


"Siap-siap? Memangnya kita mau kemana?" tanya Kimberly penasaran.


"Kita pulang ke rumah sekarang!"


"Baiklah Archo."

__ADS_1


Kimberly segera masuk ke kamarnya, kemudian ia mengambil koper dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper tentunya di bantu Archo. Dan tak lama kemudian, mereka berdua bergegas pergi meninggalkan Apartemen tersebut.


Flashback end....


......................


Saat tengah berada di alam mimpi, tiba-tiba Kimberly merasakan sesuatu di wajahnya itu, seketika ia langsung terbangun dari tidurnya.


Aaaaaah


"Wajah ku benar-benar panas dan gatal," lirih Kimberly sambil menggaruk wajahnya.


Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setibanya di dalam kamar mandi, Kimberly langsung berdiri menghadap ke arah cermin. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajahnya semakin memerah.


"Tidaaaaaak....." teriak Kimberly sambil menjatuhkan tubuhnya.


Mendengar teriakkan dari Kimberly, sontak membuat Archo terbangun dari tidurnya, ia pun segera melangkah menuju ke arah kamar mandi.


"Kimberly ada apa?" tanya Archo


"Wajahku...."


"Ya ampun, Kimberly wajahmu!"


Archo pun terkejut melihat wajah Kimberly, ia lalu mengangkat tubuh Kimberly dan menggendongnya ala bridal style.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Kimberly hanya mengangguk seraya menyetujui ajakan Archo. Kemudian Archo bergegas menuju ke arah rumah sakit.


************************


Rumah Sakit


Tak terasa waktu sudah sore dan matahari pun sudah bergeser ke arah barat.


Ruang ICCU


Sementara itu, Zuy nampak berada di ruang ICCU dan sedang duduk di samping tempat tidur Bunda Artiana.


Setelah selesai mengikuti kelas kehamilan, ia memutuskan untuk singgah ke rumah sakit untuk menjenguk Bunda Artiana.


"Nyonya, Zuy datang lagi. Awalnya Zuy sempat mengira kalau Zuy datang Nyonya sudah bangun dari tidur Nyonya, tapi ternyata Nyonya masih tertidur. Kapan Nyonya bangun? Zuy kangen sama Nyonya, Zuy kangen belajar merajut dengan Nyonya. Zuy kangen di peluk Nyonya, Zuy ..., ah pokoknya Zuy kangen semua tentang Nyonya. Nyonya Zuy berharap Nyonya bisa sembuh, karena Zuy ingin Nyonya melihat anak-anak Zuy lahir, mereka juga ingin merasakan kasih sayang dari Nenek uyut-nya. Jadi Zuy mohon bangunlah!" ucap Zuy sambil memegang tangan Bunda Artiana.


Lalu tiba-tiba Zuy merasakan pergerakan dari jari-jari tangan Bunda Artiana, sontak membuat Zuy tersentak.


"Nyonya...." lirih Zuy.


Kemudian ia segera bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dan menghampiri Dimas, yang kala itu sedang duduk bersama Henri.


"Dokter Dimas...."


"Iya Zuy...." sahut Dimas.


"Itu, Nyonya...."


"Bunda!"


Dimas segera bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke ruang Bunda Artiana, di susul oleh Zuy. Setibanya ....


"Zuy, apa yang terjadi dengan Bunda?" tanya Dimas khawatir.


"Tadi tangan Nyonya bergerak, Dok." jelas Zuy.


"Benarkah itu Zuy?"


Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat. Seketika senyum Dimas mengembang, ia pun langsung memeluk Zuy.


"Terimakasih Zuy, berkat kamu kondisi Bunda semakin membaik," ucap Dimas.


"Iya Dok, tapi Dokter harus memanggil Dokter yang menangani Nyonya! Supaya Nyonya langsung di periksa."


Dimas lalu melepaskan pelukannya. "Iya kamu benar Zuy, yaudah kamu tunggu di sini ya! Paman keluar sebentar, mau menghubungi Dokter Arga.


Zuy lagi-lagi mengangguk, setelah itu Dimas berjalan keluar untuk memanggil Dokter Arga.


...----------------...


Tak terasa malam hari tiba, langit cerah pun sudah berubah gelap bertabur bintang serta bulan yang bersinar.


Malam itu Ray dan Davin sudah berada di perjalanan menuju arah pulang. Lalu ....


Hoaaam....


Mungkin karena lelahnya, CEO dingin itu terus saja menguap.


"Kak Davin aku tidur sebentar ya!"


"Baiklah Tuan Ray," balas Davin mengangguk.


Ray lalu menyandarkan kepalanya di dinding jok, saat ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba ....


Ciiit....


Davin menghentikan laju mobilnya secara mendadak, sontak membuat Ray tersentak kaget.


"Kak Davin, kenapa Kakak berhenti mendadak?" pekik Ray.


"Itu Tuan, di depan sepertinya ada yang kecelakaan mobil," kata Davin.


Deeeg...


Tiba-tiba jantung Ray berdegup sangat kencang, ia merasakan perasaan tidak enak yang menyerang pada dirinya. Lalu tanpa pikir panjang, Ray langsung turun dari mobilnya.


"Tuan Ray, anda mau kemana?" tanya Davin.


Namun Ray tidak menjawab pertanyaan Davin, ia terus saja berjalan menghampiri kerumunan orang yang berada di tempat kecelakaan itu.


Sesampainya, Ray sangat terkejut melihat sosok perempuan hamil yang terbaring dengan banyak darah yang mengalir di tubuhnya bersama seorang pria. Ternyata mereka berdua adalah Zuy dan Henri. Ray pun segera mendekat ke arah tubuh Zuy dan memeluknya.


"Sayangku, apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?"


Perlahan Zuy membuka matanya dan menatap ke arah Ray.


"R-Ray, apa itu kamu?"


Ray mengangguk cepat. "Iya sayangku, ini aku."


"Ray, maafkan aku ya! Yang tidak bisa menepati janjiku untuk menemani mu sampai, uhuk..."


"Sayangku, kamu jangan berkata seperti itu, aku yakin kamu pasti bisa bertahan, ayo kita ke rumah sakit sekarang!"


Lalu perlahan Zuy mengangkat tangannya dan memegang pipi Ray, senyumnya pun terukir di wajahnya yang di penuhi oleh darah.


"Ma...af...kan aku Ray...."


Seketika Zuy langsung menjatuhkan tangannya dari pipi Ray sambil memejamkan matanya, sontak membuat Ray membulatkan matanya karena tersentak, ia lalu mengguncang tubuh Zuy yang sudah lemas tak bertenaga. Perasaan Ray kini sangat hancur, dadanya pun terasa sesak seperti mendapatkan pukulan berkali-kali lipat.


"Sayangku...."


Ray kembali mendekap erat tubuh pujaan hatinya itu, dengan air matanya yang lolos membasahi pipinya.


"Sayangku, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayangku. Kita sudah berjanji akan hidup bersama selamanya. Sayangku...."


****Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2