Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Merahasiakannya Dari Zuy....


__ADS_3

<<<<<


"Baby Z ah maksudnya Zea ada di dalam bersama dengan Om dan Tantenya. Sedangkan Zuy sekarang sedang di rumah sakit, Nyonya." jawab Ray.


"Barusan kamu bilang apa Nak? Cucuku sekarang di rumah sakit?"


Bunda Artiana nampak terkejut dengan jawaban Ray yang bilang bahwa Zuy berada di rumah sakit. Bukan hanya Bunda Artiana saja, Dimas pun ikut terkejut mendengarnya.


"A-apa yang terjadi pada cucuku? Kenapa dia berada di rumah sakit?" tanya Bunda Artiana.


"Iya Tuan Muda, kenapa dengan keponakanku itu? Apa dia sakit sampai harus pergi ke rumah sakit?" timpal Dimas.


Saat Ray hendak menjawab pertanyaan dari keduanya, tiba-tiba saja Baby R yang berada di pangkuan Dimas menangis kencang sambil menggerakkan tangannya ke arah Ray.


"Lha kok tiba-tiba nangis?" lirih Dimas.


"Cicit gantengnya uyut kenapa menangis? Jangan-jangan mau minta di gendong sama Nenek uyut ya? Yaudah sini Nenek gendong!" ucap Bunda Artiana sambil mengarahkan tangannya ke tubuh Baby R.


Akan tetapi Baby R menolak untuk di gendong sama Nenek uyut-nya dan terus saja menangis.


"Mungkin Rayner mengantuk makanya dia menangis seperti itu, sini biar saya yang menggendongnya!" kata Ray mengulurkan kedua tangannya.


Dimas pun mengangguk dan langsung menyerahkan Baby R pada Daddy-nya itu.


"Cup-cup.... Gantengnya Daddy jangan nangis ya! Bentar lagi Mamah juga pulang," ucap Ray menggendong anak laki-lakinya.


Benar saja setelah berada di gendongan Ray, Baby R berhenti menangis, bahkan ia tersenyum memandangi Daddy-nya itu sambil mengisap jari tangannya. Bunda Artiana dan Dimas pun terpukau melihatnya.


Sesaat Bu Ima pun datang sambil membawa minuman dan meletakkannya di atas meja.


"Bu...."


"Iya Tuan Ray," sahut Bu Ima melihat ke arah Ray.


"Tolong bawa Baby R ke dalam! Sepertinya dia sudah mengantuk." titah Ray.


Bu Ima mengangguk. "Baik Tuan Ray."


Bu Ima lalu mengambil Baby R dari gendongan Ray dan melangkah pergi masuk ke dalam. Setelah itu Ray kembali mendudukkan dirinya kembali.


"Nak, kamu tadi belum menjawab pertanyaan Nenek. Kenapa cucuku bisa di rumah sakit? Apa terjadi sesuatu padanya?" Bunda Artiana kembali menanyakan hal yang sama pada Ray.


Sebelum menjawabnya, Ray terlebih dahulu membuang nafas panjangnya dan memandang ke arah Dimas dan Bunda Artiana secara bergantian.


"Nenek sama Dokter Dimas tenang aja! Mamahnya si kembar baik-baik aja kok. Sebenarnya dia di rumah sakit karena ingin menjenguk Paman dan Bibinya yang sedang di rawat akibat kecelakaan." jelas Ray.


"Apa! Kecelakaan?"


Lagi-lagi perkataan Ray berhasil membuat Bunda Artiana dan Dimas kembali terkejut.


"Nak, apa yang kamu katakan barusan itu benar? Terus kapan kejadiannya?" tanya Bunda Artiana memastikan.


Dengan cepat Ray menganggukkan kepalanya.


"Iya Nek, apa yang Ray katakan barusan itu benar. Kejadiannya kemaren saat Om dan Bi Nana sedang berada di perjalanan menuju arah pulang."


"Ya ampun," lirih Bunda Artiana sembari menutup mulutnya. "Kenapa kalian tidak memberitahu kami tentang kejadian yang di alami oleh mereka?" sambung tanyanya.


"Maafkan kami Nek! Kami benar-benar lupa memberitahu kalian tentang kejadian ini." ucap Ray menunduk.


"Emmm, lalu bagaimana keadaan mereka berdua, Tuan Muda?" Dimas pun ikut bertanya.


"Kalau Bi Nana mengalami patah tulang di tangan kirinya dan luka robek di bagian pelipisnya, akan tetapi beliau sudah sedikit membaik dan sekarang sudah berada di kamar rawat. Sedangkan untuk Om Randy, beliau sedang berada di ruang ICU karena kondisinya masih kritis," jawab Ray yang menceritakan kondisi Pak Randy dan Bi Nana.


Seketika air mata Bunda Artiana lolos mengalir membasahi pipinya.


"Bunda...." lirih Dimas.


"Bunda kasian pada Nana dan anak-anaknya, Bunda juga kasian pada cucu Bunda, Dimas. Pasti saat ini dia sangat sedih dan terpukul atas musibah yang dialami oleh Paman dan Bibinya itu," ucap Bunda Artiana di barengi tangisnya.


Ray hanya bisa tertunduk diam, karena apa yang di ucapkan Bunda Artiana itu benar bahwa saat ini Zuy memang sangat sedih dan terpukul atas musibah yang dialami Paman dan Bibinya itu. Sedangkan Dimas terus memeluk Bunda Artiana seraya menenangkannya.


"Terus kalau seperti ini, bagaimana Bunda mengatakan padanya tentang Maria yang tidak pulang karena di culik oleh orang-orang itu, Dimas. Kenapa kejadiannya bisa barengan seperti ini?" lontar Bunda Artiana.


"Tunggu! Barusan Nenek bilang Mrs Maria di culik orang?" tanya Ray dengan matanya yang membelalak karena terkejut.


"Iya Tuan muda, Kak Maria di culik orang dan sampai sekarang belum ada kabar apa-apa tentang Kak Maria ataupun si penculiknya. Tapi kami sudah melaporkan kejadian penculikan Kak Maria pada Polisi dan mereka sedang memproses laporan dari kami," ujar Dimas mewakili Bunda Artiana.


"Di mana kejadiannya?" Ray bertanya kembali.


"Kejadiannya di Minimarket, Tuan muda." jawab Dimas sambil mengambil hpnya dari saku celananya.


Kemudian Dimas memutarkan video kejadian penculikan Maria itu dan menunjukkannya pada Ray. Seketika membuat dahi Ray mengerut saat melihatnya.


"Kenapa aku merasa kalau penculikan Mrs Maria ini ada hubungannya dengan orang-orang suruhannya yang sudah aku jebloskan ke dalam penjara itu," batin Ray yang menduga-duga.


"Tuan Muda, kenapa anda berkerut kening seperti itu? Apa anda mengenali mereka?" tanya Dimas.


"Maaf Dok! Saya tidak kenal dengan mereka berdua, dan lagi sepertinya mereka bukan berasal dari kota ini," jawab Ray memberikan hp milik Dimas.


"Saya kira anda mengenal mereka," lirih Dimas.


"Dokter Dimas, Nenek. Ray minta tolong pada kalian untuk merahasiakannya dari Zuy tentang apa yang terjadi pada Mrs Maria ini!" pinta Ray.


Mendengar itu, Bunda Artiana langsung melepaskan pelukan Dimas dan beralih melihat ke Ray.


"Nak, apa maksud permintaan mu itu? Kenapa cucuku tidak boleh tahu tentang apa yang terjadi pada Maria? Dia kan anak kandung Maria, jadi sudah sepantasnya dia tahu kalau Ibunya sedang dalam bahaya," cecar Bunda Artiana.


"Maaf Nek! Maksud Ray bukannya Zuy gak boleh tahu, hanya saja sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahunya. Tentunya Nenek dan Dokter tahu saat ini Zuy tengah bersedih karena kejadian yang menimpa Paman dan Bibinya itu. Ray khawatir Zuy akan semakin sedih dan terpukul jika ia sampai mendengar kabar tentang Ibunya juga." kata Ray.


"Tapi Nak...." lirih Bunda Artiana menundukkan kepalanya.


Melihat itu Dimas pun menempatkan tangannya kembali di bahu Bunda Artiana.


"Maaf Bunda, tapi apa yang Tuan Muda katakan itu benar. Untuk sementara ini lebih baik kita merahasiakannya dari Zuy. Dan lagi tidak baik juga untuk kesehatan Zuy jika ia terlalu banyak bersedih, apalagi sekarang Zuy punya dua anak yang masih bayi, nanti bisa berdampak pada mereka juga Bun." tutur Dimas.


Sejenak Bunda Artiana menghela nafasnya, lalu perlahan Bunda Artiana mengangkat kepalanya menatap ke arah Ray dan Dimas secara bergantian.


"Iya kalian berdua benar. Maafkan Nenek ya Nak! Nenek gak kepikiran soal kedua cicit Nenek itu." ucap Bunda Artiana.


"Tidak apa-apa Nek, Ray mengerti apa yang Nenek rasakan saat ini." balas Ray.


Bunda Artiana pun langsung mengukir senyum di bibirnya itu. Lalu mereka melanjutkan perbincangannya.


Sementara itu di ruang lainnya di mana Airin dan Davin berada bersama dengan Bu Ima beserta si kembar.


"Huh! Akhirnya kena karmanya juga tuh Emak-emak jahat," umpat Airin saat mendengar Maria di culik. Lalu....


*Ble*taak....


Davin menyentil keras dahi Airin, sehingga membuat Airin meringis memegangi dahinya.

__ADS_1


"Hust, kamu jangan bicara seperti itu, Rin! Gak enak kalau kedengaran lagi sama mereka," tutur Davin.


"Habisnya aku kesal sih, ada ya seorang Ibu kandung bisa sekejam itu terhadap anak kandungnya sendiri. Kebanyakan kan Ibu tiri yang kejam terhadap anak tirinya seperti cerita Cinderella dan putri tidur." papar Airin. "Dan lagi aku juga kesal sama Pak Davin." sambungnya.


"Hah! Kesal padaku?" Davin menunjuk ke hidungnya sendiri. "Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Rin?"


"Ya karena ulah Pak Davin. Udah semalam nyelinap ke kamar orang sekarang jidatku pakai di sentil segala," pekik Airin.


"Apa! Aku menyelinap ke kamar mu, Rin?" tanya Davin yang terkejut.


"Iya Pak, untungnya aku kuat jadi aku bisa mindahin Pak Davin ke depan pintu," balas Airin.


Nampaknya Airin belum sadar kalau ia sudah mulai keceplosan.


"Oh, jadi yang mindahin aku ke depan itu kamu ya Rin? Terus bagaimana caranya kamu memindahkan ku?" cecar Davin.


"Tentu saja dengan cara menyeret tubuh Pak Davin sampai ke pi .... Upz," Airin pun menutup mulutnya karena ia baru sadar kalau ia sudah keceplosan.


Seketika Davin mendengus kesal sambil membulatkan matanya, wajah glowingnya pun mulai memerah.


"Airin...." sungut Davin.


Airin yang melihat itu pun langsung buru-buru bangkit dari posisinya dan mengambil langkah seribu ke arah ke kamarnya.


"Airin jangan kabur kamu!" Davin mengejar Airin.


"Mamah.... Ada Hantu wajah putih ngejar-ngejar Airin."


"Apa kamu bilang! Airin...."


Bu Ima yang sedang berada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku Davin dan Airin itu.


*****************************


Rumah Sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Zuy dan lainnya bergegas menuju ke kamar VVIP tempat dimana Bi Nana sedang di rawat. Sesampainya, mereka pun langsung di sambut para pengawal Ray yang sedang berjaga di sana.


Lalu Zuy dan lainnya pun melangkah masuk ke dalam kamar rawat tersebut.


"Mamiiih...." seru Nara berlari kecil ke arah Bi Nana.


"Nara, jangan lari-lari seperti itu, nanti jatuh!" tutur Zuy yang berada di belakang Nara.


Mendengar suara dari anak dan keponakannya, Bi Nana yang kala itu sedang terbaring sambil menonton televisi pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah mereka.


"Kalian!!" lirih Bi Nana.


Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia pun mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Bi Nana. Sedangkan Nara langsung menaiki ranjang dan memeluk erat Mamihnya itu.


"Mamih, Nara kangen sama Mamih."


"Mamih juga kangen sama Nara. Maafin Papih sama Mamih ya Nak! Karena tidak mendengarkan perkataan Nara. Coba kalau Mamih dan Papih dengerin perkataan Nara kemaren, pasti kami tidak mengalami musibah seperti ini. Mamih benar-benar sangat menyesal, Nak." ucap Bi Nana sambil menangis karena rasa penyesalannya.


Mendengar itu, Zuy langsung meraih tangan Bi Nana dan menggenggamnya.


"Bi, jangan berkata seperti itu! Mungkin ini sudah menjadi ujian untuk kita. Yang terpenting sekarang Bibi fokus pada kesehatan Bibi. Kasihan anak-anak Bi Nana, apalagi Rana masih membutuhkan Bi Nana." tutur Zuy sambil mengusap air mata Bi Nana.


Seketika membuat Bi Nana tertegun mendengar perkataan dari keponakannya itu.


"Iya kamu benar gadis kecilku, harusnya Bibi tidak berkata seperti itu, apalagi di depan anak-anak. Maafin Bibi ya!" ucap Bi Nana.


Lalu tiba-tiba Rana yang berada di gendongan Irma terbangun dan menangis kencang. Sehingga Bi Nana melepaskan pelukan Nara dan mengganti posisinya menjadi duduk menyandar (Tentunya dengan bantuan dari Zuy) Irma pun langsung menempatkan Rana dipangkuan Bi Nana. Selepas itu, Bi Nana memberikan ASI-nya pada Rana.


"Bi Nana...."


"Hmmmm, iya Zuy." sahut Bi Nana menoleh ke Zuy.


"Zuy keluar sebentar ya!" pamit Zuy.


"Keluar? Apa kamu mau menjenguk Paman-mu?" tanya Bi Nana menyidik.


Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ti-tidak Bi, Zuy cuma ingin, emmm ingin ...."


"Ingin kemana Zuy? Kenapa jadi kaya orang kebingungan begitu sih?"


"Si-siapa yang kebingungan Bi, Zuy hanya ingin ke Kantin ya ke Kantin," balas Zuy terbata-bata.


"Oh ke hanya ke Kantin, Bibi kira kamu mau ke Pamanmu, Zuy. Padahal tadinya Bibi mau ikut, soalnya Bi Nana ingin melihat keadaan Paman-mu, Zuy." kata Bi Nana dengan sendunya.


Seketika Zuy menundukkan kepalanya dan di hatinya berkata, "Maafin Zuy Bi! Sebenarnya Zuy memang ingin menjenguk Paman."


"Zuy, katanya mau ke Kantin? Kenapa jadi diam begitu sih?" pekik Bi Nana.


"Maaf Bi, Zuy tadi ingat si Kembar. Yaudah Zuy ke Kantin dulu ya Bi," ucap Zuy dan di balas anggukan Bi Nana.


Lalu Zuy melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Bi Nana.


"Kenapa aku merasa kalau gadis kecilku sedang membohongiku," batin Bi Nana.


Saat berada di luar, Zuy berjalan menuju ke arah ruang ICU.


Sesaat setelah sampai di sana dan mendapat izin, Zuy pun masuk ke dalam ruang ICU tempat di mana Pak Randy berada, tentunya dengan pakaian khusus yang sudah di sediakan.


Dan ketika sudah berada di samping Pak Randy, Zuy terdiam sejenak namun tidak untuk air matanya yang mengalir membasahi pipinya, rasa sedihnya tak dapat di elaknya lagi karena melihat Pamannya terbaring lemah dengan banyak perban dan selang yang menempel di tubuhnya itu.


Perlahan Zuy mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Pak Randy.


"Paman, maaf Zuy baru datang menemui Paman. Zuy gak tau harus apa, saat melihat Paman seperti ini dada Zuy terasa sesak Paman, mungkin karena Paman sudah Zuy anggap seperti Papah Zuy sendiri. Paman, Zuy juga minta maaf karena Zuy berbohong pada Bi Nana soal keadaan Paman sekarang. Zuy gak mau Bi Nana shock kalau sampai tahu tentang keadaan Paman." ucap Zuy di barengi tangisnya.


Zuy meraih tangan Pak Randy dan menggenggamnya.


"Paman, Zuy mohon cepatlah bangun dan sembuh supaya kita bisa berkumpul lagi. Bukannya Paman waktu itu sudah berjanji pada Zuy akan menjadi pengganti Papah untuk mengantar Zuy pada Ray ketika acara pesta resepsi pernikahan kami nanti. Paman harus tepati janji Paman itu! Karena Zuy maunya sama Paman Randy, gak mau sama yang lain meskipun sekarang Zuy sudah ada Paman Dokter juga. Dan lagi apa Paman tidak kasihan pada Bi Nana, Nara dan Rana, mereka sangat merindukan Paman dan memaksa ingin bertemu dengan Paman. Jadi Zuy mohon cepatlah sadar dan sembuh Paman!" sambung ucapnya pada Pak Randy.


Sesaat kemudian....


Zuy nampak keluar dari ruang ICU setelah selesai menjenguk Pamannya, sebelum kembali ke ruang Bi Nana, Zuy terlebih dahulu menjejakkan kakinya menuju ke toilet terdekat. Tak lama ia pun keluar dari toilet dan berjalan menuju ke arah ruang VVIP.


Akan tetapi tiba-tiba....


Bruuugh....


Zuy di tabrak seorang pria hingga dirinya terjatuh.


"Aduh, kalau jalan liat-liat dong!" pekik Zuy.


"Ma-maafkan saya Nona!" ucap pria tersebut, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Zuy. "Mari saya bantu berdiri, Nona." sambung tawarnya.


"Tidak usah, saya bisa bangun sendiri." tolak Zuy sambil bangkit dari posisinya.

__ADS_1


Saat sudah berdiri Zuy pun mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah pria yang menabraknya itu, seketika pandangan mereka saling bertemu.


"Ca-cantiknya...." batin pria itu yang terpukau melihat Zuy.


"Maaf Tuan, anda menghalangi jalan saya!" kata Zuy.


Pria itu pun tersadar. "Ah, maafkan saya Nona! Tapi Nona beneran tidak apa-apa kan?" ucapnya sekaligus bertanya.


"Saya tidak apa-apa, Tuan. Dan maaf saya sedang buru-buru, permisi." ucap Zuy dan bergegas pergi meninggalkan pria tersebut.


"Siapa wanita cantik barusan? Kenapa aku baru melihatnya? Apa dia orang baru di sini? Aaah, dasar bodoh! Kenapa aku tidak minta kenalan saja dengannya, siapa tau dia jodoh yang Tuhan berikan untukku," lirih si Pria tersebut sambil melangkah pergi ke arah lainnya.


***************************


Villa Noel Gallagher


Sementara itu, Maria nampak tengah di suapi oleh seorang wanita suruhan Noel. Sebenarnya Maria masih menunggu jawaban dari Noel atas permintaan Maria tadi pagi yang ingin di bebaskan oleh Noel.


Padahal Maria sudah berjanji, jika ia di bebaskan maka ia akan memenuhi semua keinginan yang Noel ajukan pada Maria, tentu saja dengan bantuan dari Archo. Tapi bukannya langsung menjawab, Noel malah pergi meninggalkan Maria.


Bahkan sampai siang ini, Noel belum juga datang ke kamar di mana Maria di sekap untuk memberikan jawabannya.


"Hei, dimana Noel sekarang?" tanya Maria pada wanita yang menyuapinya.


"Saya tidak tahu bos di mana, dan lagi jangan panggil saya dengan sebutan Hei saya punya nama, dan nama saya adalah Desi." ujar wanita yang bernama Dewi itu.


"Maaf aku tidak tahu kalau nama kamu itu Desi." ucap Maria.


Mendengar itu Desi memutar bola matanya dengan malas. Lalu tiba-tiba....


Braaaak....


Seseorang yang sudah di tunggu Maria pun akhirnya datang, ya siapa lagi kalau bukan Noel Gallagher.


"Noel, akhirnya kamu datang juga." seru Maria.


Noel pun berjalan menghampiri Maria dan Desi sembari menyunggingkan senyum smirk-nya.


"Noel, bagaimana dengan jawaban mu itu? Apa kamu akan membebaskan ku sekarang?" tanya Maria.


Noel lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.


"Mrs Maria Fuca, maaf dengan berat hati saya tidak akan membebaskan Anda!" tegas Noel.


"Apa! Tapi kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan ucapan ku yang akan mengabulkan keinginan mu itu?" cecar Maria.


"Aku percaya dengan anda, Mrs Maria. Tapi saya tidak bisa percaya dengan Archo Fuca!" papar Noel.


"Kenapa kamu tidak percaya dengan Archo, Noel?"


"Ya karena aku tahu siapa Archo itu, Mrs Maria." sentak Noel.


"Ta-tapi Noel ...."


"Sudah! Aku tidak ingin mendengar apa-apa dari anda, Mrs Maria." sergah Noel. "Desi! Cepat selesaikan pekerjaan mu dan pergi dari sini!" sambung titahnya pada Desi.


Desi mengangguk. "Baik bos."


Noel pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.


"Dasar B*stard kau, Noel! Lihat saja kalau aku bebas dari sini, aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup bebas seperti sekarang ini," teriak Maria.


"Berhenti berteriak! Dan cepat habiskan makanannya, Mrs Maria!" sentak Desi.


Maria pun langsung terdiam dan kembali menikmati makanannya.


****************************


AMERIKA


Β°Kediaman Maria.


Malam itu di dalam kamarnya, Archo masih berkutat dengan laptopnya karena ia masih terus mencari informasi tentang pelaku penculikan terhadap Maria.


Tok... Tok... Tok....


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.


"Come in!" seru Archo.


Sesaat pintu pun terbuka dan seseorang melangkah masuk menghampiri Archo.


"Archo...." ucapnya.


Pandangan Archo seketika langsung beralih ke arah suara tersebut.


"Daddy!" lontar Archo, dan ternyata yang datang Daddy Mario.


Daddy Mario tersenyum dan duduk di samping Archo.


"Archo, Daddy dengar dari Cole bahwa Maria di culik, apa itu benar?" tanya Daddy Mario.


"Apa! Jadi Cole menceritakannya pada Daddy? Benar-benar orang satu itu," lirih Archo mengumpat Cole.


Lalu tiba-tiba Daddy Mario mendaratkan tangannya di atas kepala Archo dan menekannya.


"Jangan memarahinya! Karena dia juga orang Daddy, jadi sudah sepantasnya dia memberitahu masalah ini pada Daddy," kata Daddy Mario.


"Maaf Dad! Iya yang di katakan Cole memang benar, bahwa Mam di culik dan Archo menyuruhnya untuk menyelidiki orang yang sudah menculik Mam itu, dan Archo juga akan pergi ke Indonesia, Dad!" jelas Archo.


"Lalu kapan kamu akan ke Indonesia?" tanya Daddy Mario.


"Besok siang, Dad." singkat Archo


Sejenak Daddy Mario menghela nafas panjangnya.


"Kalau begitu Daddy akan ikut dan menemani kamu pergi kesana," papar Daddy Mario.


Sehingga membuat Archo terkejut. "Hah! Daddy mau ikut Archo ke Indonesia?"


"Iya, walau bagaimanapun Maria itu masih istri sah Daddy dan ibu dari Kimberly. Sebenarnya Daddy juga ini tahu siapa putri kandung Maria serta wanita yang sudah merebut Ray dari Kimberly," balas Daddy Mario.


"Apa!"


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ

__ADS_1


__ADS_2