
<<<<<
Lalu Pengamen tersebut langsung membuka topinya, sontak membuat Zuy dan Airin tercengang dan matanya pun terbelalak saat melihatnya, karena pengamen tersebut ternyata adalah...
"Tuan Muda > Tuan Bos...!!"
°°°°°°°°°
°Beberapa Saat Sebelumnya....
Setelah lama berdiskusi dengan Pak Willy tentang ulang tahun Perusahaan CV. Ray segera berpamitan kepada Pak Willy dan Yiou, kebetulan Davin juga sudah berada di sana setelah dari tempat tinggal Zuy. Lalu Pak Willy dan Yiou mengantar Ray menuju pintu arah keluar rumah. Setelah itu...
"Om Willy, Tan eeh maksudnya Kak Yiou, Ray pulang dulu ya," pamit Ray sambil mencium tangan Pak Willy dan memeluknya.
"Iya hati-hati Rayyan," ucap Pak Willy.
Lalu Ray melepaskan pelukannya dan membalikan badannya menuju ke arah mobilnya, akan tetapi..
"Eeh, anak ini gak ada sopannya main pergi saja, apa kau tidak mau mencium tanganku dan memelukku?" pekik Yiou sambil menarik jas Ray.
"Ah iya lupa Tan," kata Ray sambil memutarkan badannya, lalu ia pun segera memeluk Yiou.
"Dasar anak ini ya, yaudah Kakak titip salam buat Zuy ya," tutur Yiou sambil menepuk-nepuk punggung Ray,
"Oh iya lupa, Kakak punya pesan untukmu, jangan lupa pakai pengaman ya, takutnya kamu gak bisa tahan nafsu," sambung bisik Yiou dengan maksud menggoda Ray.
Mendengar itu, wajah Ray seketika memerah, "Kak ngomong apa sih.." pekik Ray.
Yiou terkekeh sambil melepaskan pelukannya. Lalu Ray memutar badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya. Sebelum menyusul Ray, Davin pun berpamitan dengan Pak Willy dan Yiou sambil membungkukkan badannya.
Lalu setelah itu ia pun segera menyusul Ray yang sudah berada di dalam mobilnya. Davin langsung masuk ke dalam mobil dan kemudian menyalakan mobilnya.
Ray lalu menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Pak Willy dan Yiou, mereka pun membalasnya. Kemudian Davin langsung menancap gas mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Pak Willy.
Di Perjalanan...
Setelah berada di jalan, Ray lalu mengambil hp di sakunya, ia pun membuka kunci layar hpnya dan mengecek apakah ada pesan atau telpon dari Zuy, namun ternyata kosong, yang ada hanya pesan dari Kimberly.
"Hah..." desah Ray sambil menyandarkan tubuhnya.
"Ada apa Tuan Ray?" tanya Davin
"Tidak ada apa-apa," jawab Ray, "Oh iya Kak Davin, bagaimana soal Bu Ima?"
"Iya Tuan Ray, Bu Ima setuju dan besok pagi-pagi sekali saya akan menyuruh seseorang untuk menjemputnya," jelas Davin
"Oh Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana dengan si manis?" tanya Ray
"Si manis baik-baik saja, Bu Ima merawatnya dengan baik, besok dia akan ikut Bu Ima. Hmmm ternyata si manis itu kucing ya, pantesan anda minta di buatkan taman dan rumah untuk manis," ujar Davin.
"Ya memang si manis itu kucing Kak," papar Ray
Ray pun mengedarkan pandangannya ke arah kaca mobilnya, lalu tanpa sengaja pandangannya tertuju pada motor yang terparkir di sisi jalan. Sontak ia langsung mengangkat bahunya dan kemudian..
"Stop Kak..!!" titah Ray
Davin pun segera menghentikan laju mobilnya secara mendadak, membuat Ray terbentur jok yang berada di depannya.
"Awww, pelan-pelan Kak Davin..!" pekik Ray
"Maaf Tuan Ray, tadi anda minta saya berhenti mendadak, otomatis saya mendadak," jelas Davin, "Memang ada apa Tuan Ray?" sambungnya
"Tuh lihat, bukankah itu motornya Zuy?" tanya Ray sambil menunjuk ke belakang, karena posisinya hanya beberapa jarak dari motor Zuy yang terparkir.
"Coba Kak Davin turun, terus periksa apa itu beneran motornya Zuy atau bukan.." titah Ray.
Davin pun langsung membuka sealt beatnya dan segera turun dari mobilnya, lalu ia berjalan mendekat ke arah di mana motornya Zuy berada untuk memastikannya, setelah itu, Davin kembali ke mobil dan mengetuk kaca jendela mobilnya, Ray pun segera menurunkan kaca mobilnya.
"Bagaimana Kak, apa benar itu motornya Zuy?" tanya Ray.
"Iya Tuan Ray, itu motornya Zuy dan Airin, mereka sedang berada di kedai itu," jelas Davin.
"Oke baiklah kita kesana..!!" ajak Ray, namun ketika ia hendak membuka pintu mobilnya,
Tiba-tiba seorang pengamen datang dan berdiri di hadapan mereka.
"Permisi Tuan-Tuan.." kata pengamen tersebut, lalu ia segera memainkan gitarnya, akan tetapi...
"Tunggu...!!" titah Ray
Seketika pengamen tersebut langsung berhenti bermain gitar dan bertanya, "Ada apa Tuan? apa saya mengganggu?" tanyanya.
"Ah bukan begitu, gini bisakah saya pinjam gitarmu sebentar, nanti saya bayar deh," kata Ray.
Mendengar itu Davin pun langsung menatap Ray dan bertanya, "Tuan Ray, kenapa anda ingin meminjam gitarnya?"
"Nanti Kak Davin juga akan tahu, mana sini gitarnya," pinta Ray sambil memberikan uang untuk pengamen tersebut.
Pengamen itu pun memberikan gitarnya pada Ray, kemudian Ray segera melepaskan jas dan dasinya, lalu ia membuka semua kancing baju kemejanya kebetulan ia memakai baju pendek di dalamnya dan kemudian ia melipat lengan kemejanya sampai siku. Tidak ketinggalan pula dengan topinya.
Penyamaran yang sempurna, lalu Ray turun dari mobilnya.
"Nah Kak Davin, tolong parkirkan mobilnya ke sisi, setelah selesai Kakak langsung menyusul ku kesana...!!" titah Ray,
"Lalu kamu ikut saya, setelah selesai saya akan kembalikan gitarmu ini," sambungnya.
__ADS_1
Mereka pun mengangguk, lalu kemudian Ray melangkahkan kakinya menuju ke kedai tersebut dan di ikuti oleh Pengamen itu. Sesampainya di kedai..
"Kamu Tunggu di sini, biar saya saja yang masuk," pinta Ray.
Ia pun menganggukkan kepalanya, "Baik Tuan.."
Lalu kemudian Ray pun masuk ke dalam kedai itu untuk memberi kejutan pada Zuy.
Flashback End...
°°°°°°°°°°°°°°°
"Tuan Muda > Tuan Bos...!!" ucap Airin dan Zuy bersamaan.
"Terkejut?!!" tanya Ray sambil menyunggingkan senyumannya. Airin dan Zuy pun menganggukkan kepalanya.
"Ke-kenapa Tuan Muda bisa berada di sini, bukankah Tuan Muda sedang di rumah Pak Willy?" tanya Zuy yang keheranan.
Ray lalu mengambil tisu di dekatnya, "Ya mungkin karena di sini ada Kakak," kata Ray sambil mengusap mulut Zuy yang blepotan karena makan Mie ayam.
Semua yang berada di sana pun terpesona melihat keromantisan Ray terhadap Zuy terutama Airin, ia pun segera menutup matanya.
"Aduuh kalian ini bikin orang baper aja," batin Airin.
"Ehemmm.. Tuan Muda, jangan seperti ini, banyak orang yang melihatnya," papar Zuy
"Biarin aja, jangan pedulikan orang lain," tutur Ray
Zuy kemudian melirik ke arah Airin yang tengah menutup matanya.
"Rin.. kamu kenapa?" tanya Zuy yang keheranan.
"Aah.. tidak apa-apa Zuy," jawab Airin sambil menurunkan tangannya.
Airin lalu melihat Davin yang tengah duduk di meja lain sambil melambaikan tangannya ke arah Airin.
"Zuy, sepertinya Pak Davin memanggil, aku temani Pak Davin ya Zuy.." kata Airin sambil membawa makanan dan minumannya.
"Ta-tapi Rin.."
"Udah nikmati saja waktu kalian, Tuan Muda tolong ya.." kata Airin, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Davin.
"Aah.. Dasar Airin," lirih Zuy, ia pun menatap Ray kembali, "Tuan Muda, apa anda mau pesan Mie?" tanya Zuy sambil menyumpitkan mie yang di mangkuknya.
Namun saat Zuy hendak menyuapkan Mie ke dalam mulutnya, tiba-tiba Ray menarik pelan tangan Zuy yang sedang memegang sumpit berisi Mienya, dan kemudian Ray langsung menyantap Mie yang berada di tangan Zuy tersebut.
"Hmmm, enak Kak.." ucap Ray sambil mengunyah..
"Tuan Muda benar-benar ya, kalau anda mau, anda bisa memesannya," papar Zuy.
Sementara itu di tempat yang sama, Airin dan Davin yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Gak di sangka Tuan Bos, padahal dia di Kantor sangat dingin, tegas, tapi ternyata bisa romantis seperti itu, buat orang baper aja," ujar Airin.
"Ya seperti itu lah Tuan Ray, kamu yang baru melihatnya juga baper, apalagi saya yang setiap hari harus menghadapi kemesraan mereka," gumam Davin.
Airin yang mendengar gumaman Davin pun langsung terkekeh.
"Hihihi.. sabar Pak Davin, makanya cari jodoh sana, jangan ngejomblo terus, jadi biar gak baper lihat mereka bermesraan," ledek Airin menggoda Davin.
"Kamu Rin, sesama jomblo di larang saling meledek," papar Davin.
"Hahaha, iya maaf Pak.." ucap Airin, "Oh iya Pak Davin, ngomong-ngomong Zuy baik-baik saja kan selama tinggal dengan kalian?" sambung tanya Airin.
Davin pun mengangguk, "Ya tentu saja, Tuan Ray menjaganya dengan baik," jelas Davin.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Airin sambil menyantap makanannya.
"Hmmm, kamu benar-benar sahabat terbaiknya Zuy ya Rin, kamu sangat peduli dengannya," kata Davin.
"Dia bukan hanya sahabat, tapi dia juga sudah aku anggap seperti Kakakku sendiri," ungkap Airin sambil melihat ke arah Zuy.
Lalu Airin menatap kembali Davin, "Jadi kalau kalian macam-macam padanya, aku yang akan memberi pelajaran pada kalian," gertak Airin.
"Ahahaha, kamu tenang saja Rin, Zuy aman pokoknya," ujar Davin.
Mereka pun kembali menyantap makanannya, Beberapa saat kemudian, mereka lalu keluar dari kedai itu. Setelah di luar Ray langsung memberikan gitar tersebut kepada pemiliknya,
"Ini punyamu aku kembalikan, terimakasih.." ucap Ray.
"Justru saya yang berterimakasih pada anda Tuan, yaudah kalau gitu saya permisi Tuan-Tuan dan Nona-Nona," kata Pengamen itu, lalu ia pun bergegas pergi.
"Nah Zuy, Pak Davin, Tuan Bos, kalau gitu saya duluan ya, soalnya sudah larut," pamit Airin.
"Tunggu, Rin aku antar ya.." tawar Zuy.
Airin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Zuy, aku bisa sendiri kok," kata Airin yang menolak tawaran Zuy.
"Tapi ...,"
"Euum Zuy, bolehkah aku pinjam kunci motormu?" tanya Davin.
"Oh.." lalu Zuy mengambil kunci motornya dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Davin.
"Ini Pak Davin," kata Zuy.
__ADS_1
Lalu Davin pun mengambil kunci motornya Zuy dari tangan Zuy.
"Rin, biar aku yang antar, dan lagi kamu tahu kan kalau mereka ...," kata Davin sambil menggerakan Alisnya memberikan isyarat pada Airin.
Airin pun langsung mengerti apa yang di maksudkan Davin.
"Ah baiklah Pak Davin, toh bahaya juga pulang malam-malam, apalagi harus lewat jalan gelap," kata Airin.
"Aah Syukurlah, Pak Davin tolong ya.." pinta Zuy.
"Baik Zuy tenang saja, kalau gitu kita pamit ya.." kata Davin, "Dan Tuan Ray, ini kunci mobilnya," sambungnya sambil melempar kunci mobil.
Airin dan Davin pun bergegas pergi menggunakan motornya masing-masing.
"Nah Kakak, ayo kita pulang, atau Kakak mau jalan-jalan dulu?" tanya Ray
Zuy pun langsung menggeleng, "Tidak Tuan Muda, Zuy langsung pulang saja, lagian juga Zuy udah gak nyaman, pengin cepat-cepat istirahat."
"Baiklah kalau begitu," kata Ray.
Ray dan Zuy pun melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil yang terparkir beberapa jarak dari kedai tersebut. Sesampainya, Ray pun membukakan pintu mobilnya untuk Zuy.
"Silahkan Nona cantik," ucap Ray.
Zuy pun tersenyum, seketika ia pun langsung masuk ke mobil, Ray lalu menutup pintu mobilnya, ia pun menyusul Zuy, lewat pintu mobil sebelahnya, setelah itu Ray pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
***************
Rumah Bi Nana
Sementara itu di dalam kamar Bi Nana, Bi Nana nampak sedang mencari sesuatu di dalam lemarinya, Pak Randy yang saat itu baru masuk ke kamar pun merasa kebingungan.
"Na, kamu sedang cari apa?" tanya Pak Randy
"Nana sedang cari kotak milik Nana, perasaan Nana menarohnya di sini," kata Bi Nana.
"Kotak, kotak apaan Na?" tanya balik Pak Randy karena penasaran.
Bi Nana pun tidak menjawab pertanyaan Pak Randy, tangannya terus sibuk mencari sesuatu, tak lama kemudian...
"Nah ketemu.." kata Bi Nana sambil menunjukan kotak tersebut pada Pak Randy.
"Na, bukankah kotak itu ...," papar Pak Randy
Lalu Bi Nana duduk di samping Pak Randy, dan Bi Nana pun membuka kotak itu. Setelah di buka ternyata isinya adalah Cincin dan kalung tanpa liontin.
"Na, apa yang kamu mau lakukan dengan barang itu?" tanya Pak Randy.
"Aku ingin memberikannya pada Zuy," kata Bi Nana.
"Na, kalau kamu berikan ini pada Zuy, berarti kamu akan memberitahu pada Zuy siapa ibunya?" tanya Pak Randy.
"Tidak, aku hanya ingin memberikannya, dan setelah itu biar Maria yang mengenalinya sendiri siapa Zuy sebenarnya," kata Bi Nana, namun tangannya bergetar.
Melihat itu, Pak Randy menepuk pundak Bi Nana.
"Na, apa kamu yakin dengan keputusan mu?"
Bi Nana pun menganggukkan kepalanya, "Iya saya sangat yakin," kata Bi Nana
"Na, walaupun kamu bilang iya, tapi hatimu berbeda dari ucapanmu," ujar Pak Randy.
Tanpa sadari Bi Nana pun menitihkan air matanya, membuat Pak Randy terkejut, ia pun lalu merengkuh tubuh Bi Nana dan memeluknya.
"Udah kamu jangan menangis Na, kasihan bayi yang ada di perutmu," tutur Pak Randy, "Itu semua keputusanmu Na, aku selalu mendukungmu," sambungnya.
Bi Nana pun menganggukkan kepalanya, lalu ia melepaskan pelukan Pak Randy. Setelah itu Bi Nana langsung menaroh kembali kalung dan cincin itu dan meletakkan kembali ke dalam lemarinya.
*************
Rumah Ray
Tak terasa malam sudah berlalu, pagi pun menyapa, Zuy yang sedang tertidur pun seketika langsung terbangun, lalu ia memgerjapkan matanya dan mengusapnya. Setelah semua nyawa terkumpul, Zuy segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke luar dari kamarnya.
Setelah berada di luar, tiba-tiba di kaki Zuy sudah ada anak bulu (kucing) yang menempel sambil menggosok-gosok kepalanya di kaki Zuy, sontak membuat Zuy tercengang, lalu ia pun mengangkatnya.
"Manis, apa ini benar-benar kamu?" tanya Zuy memandangi kucing itu.
Kucing itu pun membunyikan suaranya, seakan-akan ia menjawab pertanyaan Zuy. Mendengar suara khas dari kucingnya, Zuy pun langsung memeluknya.
"Manis, mamah benar-benar kangen, kamu kesini sama siapa, apa kamu mencium jalanan sehingga menemukan Mamah di sini?" tanya Zuy yang terus memeluk si manis.
Lalu seseorang menghampiri Zuy, "Manis berada di sini karena ibu yang membawanya Zuy."
Mendengar suara orang di belakangnya, Zuy pun langsung menoleh ke arah suara tersebut. Betapa terkejutnya Zuy ternyata orang tersebut adalah..
"Hah.. B-Bu Ima..!!"
**Bersambung...
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... ✌😉😉✌
IG: Kim_Anandin_Chan0619
__ADS_1