Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Adik Dari Kenalan....


__ADS_3

<<<<<


Seketika senyumnya mengembang sempurna di wajahnya saat membaca isi chat tersebut.


"Akhirnya...."


Ia berucap dengan nada yang pelan, pandangannya pun tak lepas dari layar benda pintarnya seraya membaca ulang chat yang di kirim oleh Cole.


Dan chat yang Cole kirim itu yang tak lain adalah lokasi di mana Maria berada.


......................


Sehari sebelumnya....


—Pukul 07.20pm


Malam itu setelah selesai menikmati makan malam yang di buat oleh Melan, Archo berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil hpnya bersama dengan laptopnya, ia kembali keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Kemudian Archo mendudukkan dirinya di sofa seraya meletakkan laptopnya di atas meja.


Ia pun mengaktifkan kembali hpnya yang dari kemaren malam sengaja ia matikan, supaya tidak ada yang menghubunginya dulu sebab saat itu ia sedang berada di Desa tempat tinggal Melan.


Ketika hpnya menyala kembali sontak membuat Archo tercengang, pasalnya banyak sekali chat masuk bahkan panggilan tak terjawab mulai dari koleganya, Daddy Mario, Adriene dan Dimas. Ia pun menghela nafasnya untuk sesaat.


"Huft, baru aja sehari udah banyak yang nyariin."


Lalu satu-persatu ia buka chat masuk tersebut dan pada saat Archo membaca isi chat dari Dimas, seketika membuatnya tersentak seraya membelalakkan matanya.


Sebab isi chat-nya ialah Dimas memberitahu Archo bahwa Maria menghubunginya.


Seakan tak percaya dengan isi chat tersebut, ia pun langsung menghubungi Dimas.


Tuut....


"Iya Tuan Acho," suara Dimas dari seberang telponnya.


"Dokter Dimas maaf sebelumnya, apa benar pesan yang anda kirim itu bahwa Mam menghubungi anda?" cecar Archo.


"Tentu saja benar, Tuan Archo. Kemaren malam Kak Maria menghubungi saya." jawab Dimas.


"Terus apa yang di katakan oleh Mam, Dok?"


"Soal itu lebih baik kita bicara secara langsung aja! Gak enak kalau harus lewat telepon." lontar Dimas.


"Baiklah, tapi posisi anda?"


"Saya masih di Rumah sakit, Tuan."


"Oh, oke saya langsung kesana sekarang!"


"Iya, saya tunggu!"


Obrolan pun berakhir.


Selepas itu, Archo bangkit dari posisinya dan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Sesaat kemudian....


"Mel, Melan...." seru Archo yang sudah berada di luar kamarnya.


Mendengar Archo memanggilnya, seketika membuat Melan yang sedang berbenah di dapur pun segera menghampiri Archo.


"Mel, aku mau keluar sebentar! Soalnya ada urusan penting dan mungkin pulangnya agak larut. Oh iya, kalau kamu mau istirahat duluan aja ya! Jangan lupa kunci pintunya!" kata Archo.


Melan pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepalanya saja.


"Yaudah, aku pergi dulu ya!"


Saat hendak melangkah, tiba-tiba Melan memegang lengan Archo.


"Ada apa Mel?" tanya Archo.


Melan menggeleng pelan, kemudian ia meraih tangan kanan Archo lalu mencium punggung tangan suaminya sehingga membuat Archo tertegun melihatnya.


"Jadi begini rasanya memiliki seorang istri," batin Archo.


Melan kembali mengangkat kepalanya seraya melepaskan tangan Archo. Ia menatap lekat wajah pria berkacamata yang berdiri di hadapannya itu sembari membuka tutup mulutnya dan menggerakkan jari tangannya seakan mengucapkan kata 'Hati-hati' pada suaminya.


Archo menyunggingkan senyumnya di barengi anggukan kepala, karena ia mengerti apa yang di ucapkan pada Melan untuknya meskipun melalui bahasa isyarat.


"Iya, aku akan hati-hati. terimakasih Mel," ucap Archo.


Sesaat ia pun melenggang pergi meninggalkan Melan.


*******************************


Rumah Sakit


Hanya butuh beberapa menit perjalanan, akhirnya ia sampai di Rumah sakit dan kini sudah berada di depan ruang pribadi Dimas.


Tok.... Tok.... Tok....


"Permisi Dok." ucap Archo seraya mengetuk pintu.


Lalu....


"Tuan Archo." seseorang datang sembari menepuk pundak Archo membuat Archo tersentak dan langsung memutar badannya.


"Dokter Dimas! Huft, saya pikir anda sedang ada di dalam," lontar Archo.


"Tadinya sih. Tapi karena saya mengantuk, jadi ya saya ke Kantin dulu beli kopi sekalian buat anda juga." ujar Dimas menunjukkan dua cup kopi yang di bawanya. "Ayo masuk!" sambung ajaknya.


Archo membalas dengan anggukan pelan, Dimas mendekat ke arah pintu dan memutar handle pintu seraya mendorong pintunya hingga terbuka, kemudian mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Silahkan duduk!"


"Terimakasih Dok." Archo mendaratkan bokongnya di atas sofa.


Begitu pula dengan Dimas yang memilih duduk di sofa lainnya sembari memberikan satu cup kopi yang ia beli itu pada Archo.


"Dokter Dimas, tolong jelaskan pada saya! Bagaimana Mam bisa menghubungi anda, terus apa yang di katakan oleh Mam? Dan di mana beliau sekarang berada?" cecar Archo.


Sebelum menjelaskan, Dimas terlebih dahulu mengambil gawainya yang berada di atas meja kerjanya dan mencari kontak yang saat itu di gunakan oleh Maria.


Setelah itu, Dimas langsung menyodorkan hpnya ke arah Archo sehingga membuatnya mengernyit heran, lalu ia pun mengambil hp milik Dimas itu.


"Dok!" lirih Archo.


"Itu nomor yang di pakai Kak Maria pada saat dia menghubungi ku. Kak Maria tidak memberitahu ku posisinya sekarang ini, sebab Kak Maria sendiri juga tidak tahu di mana dia sekarang. Akan tetapi ...."


Dimas pun menceritakan apa yang di katakan Maria pada saat Maria menghubunginya.


(Kisahnya udah ada di Bab. 262)


Dan betapa terkejutnya Archo ketika mendengar apa yang di ceritakan oleh Dimas.


"Apa! Jadi Mam meminta nomor Zuy dengan alasan bahwa Mam sangat merindukannya?" sentak Archo.


Dimas mengangguk. "Iya."


"Lalu apa anda memberikan apa yang Mam minta itu?"


"Tentu saja saya tidak memberikannya, karena saya masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh Kak Maria."


"Oh, syukurlah kalau anda tidak memberikannya." Archo menghela nafas leganya. "Lalu apa ada lagi yang di katakan oleh Mam, selain meminta nomor Zuy?" sambungnya.


"Ada. Kak Maria berpesan kalau saya tidak boleh menghubungi nomor itu lagi, katanya demi keselamatannya." jelas Dimas.


"Apa! Demi keselamatannya?"


"Iya, Kak Maria yang bilang seperti itu."


Mendengarnya seketika membuat rahang Archo terlihat mengeras, garis keningnya nampak terlihat jelas bahkan urat marahnya pun sudah muncul di pelipisnya serta tangannya yang meremas kuat, pertanda bahwa amarah Archo saat ini mulai memuncak.


"Tsk kurang ajar! Pasti para penculik itu sudah mengancam Mam. Ini tidak bisa di biarkan," sungut Archo.


Lalu....


"Tahan emosi anda, Tuan! Sebab itu tidak ada gunanya sama sekali. Untuk saat ini yang terpenting adalah mencari keberadaan Kak Maria dan membebaskannya dari para penculik itu!" tutur Dimas menepuk-nepuk punggung Archo.


Untuk sejenak Archo menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Kalau urusan itu, saya akan meminta orang saya untuk melacak nomor yang di pakai Mam itu. Semoga saja bisa terlacak dan kita bisa langsung ke lokasinya untuk membebaskan Mam."


"Yaudah kalau gitu masalah melacak saya serahkan pada anda, Tuan Archo. Nanti kabarin aja jika lokasinya sudah ketemu dan kita akan kesana bersama-sama." kata Dimas.


Archo mengangguk. "Siap Dok."


"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kemaren anda tidak bisa di hubungi? Tadinya saya sempat mengira kalau anda sedang berada di perjalanan pulang ke Amerika." cecar Dimas, ia pun menyeruput kopinya kembali.


"Erh, soal itu ..., sebenarnya kemaren saya menikah, jadi hp sengaja saya nonaktifkan, supaya tidak ada yang mengganggu saya dulu, Dok." jelas Archo sembari menggaruk-garuk pipinya. Dan tiba-tiba...


Buuur....


Sontak Dimas terperanjat ketika mendengarnya sampai-sampai kopi yang sudah di dalam mulutnya pun di semburkannya ke arah lain.


"Dokter, apa anda baik-baik saja?"


"Iya saya tidak apa-apa. Saya hanya kaget saja mendengar anda menikah dan lagi bagaimana ceritanya anda tiba-tiba menikah dengan Miss Adriene tanpa memberitahu kami terlebih dahulu." cerca Dimas.


"Maaf Dok! Sebenarnya saya menikah bukan dengan Adriene melainkan wanita lain."


"Apa! Wanita lain? Kenapa bisa?" lagi-lagi Dimas terkejut.


"Emmm, ceritanya panjang Dok. Nanti saya ceritakan semuanya pada Dokter."

__ADS_1


Dimas mendesah. "Oke, saya tunggu cerita dari anda, Tuan Archo!"


"Siap Dok." Archo menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua kembali menikmati kopi mereka.


Dan setelah bertemu dengan Dimas, Archo mulai menghubungi Cole dan memintanya untuk melacak nomor telepon tersebut.


Flashback end.


......................


"Besok aku harus sampaikan kabar ini pada Dokter Dimas beserta lainnya. Semoga aja kali ini aku bisa membebaskan Mam dari para penculik itu."


Ia meletakkan kembali benda pintarnya di atas meja dan beralih ke laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa jam kemudian....


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Archo pun langsung ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ketika sudah di kamarnya, ia segera naik ke atas ranjangnya seraya membaringkan tubuhnya menghadap ke arah Melan yang sedari tadi sudah tertidur pulas.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya seraya memandangi wajah gadis yang di nikahi-nya itu.


"Terimakasih untuk hari ini ya Mel!" ucap Archo sembari merapikan anak rambut Melan yang berantakan menutupi keningnya.


•Keesokan harinya....


Pagi itu Melan nampak sibuk dengan aktivitasnya sebagai istri dari mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci baju serta membuatkan sarapan pagi.


Teet...


Suara bel pintu berbunyi cukup keras dan berulang-ulang sehingga Melan menghentikan aktivitasnya dan melangkah menuju ke arah pintu.


Ketika pintu sudah terbuka, mata Melan terbelalak karena terkejut melihat seorang wanita yang tengah berdiri dihadapannya begitu pula sebaliknya dengan wanita itu yang ternyata adalah Adriene.


"Qui es-tu? (Siapa kamu?) Dan mengapa kamu bisa di sini?" cecarnya.


Melan hanya terdiam tanpa berkata, namun pandangannya tak lepas dari Adriene.


"Kakak ini ..., bukankah Kakak yang waktu itu menangis gara-gara Tuan?" batin Melan yang masih ingat akan Adriene pada saat di kamar hotel bersama Archo.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku dan malah menatap ku seperti itu? Apa kamu tidak bisa bicara?" pekik Adriene.


Melan membalasnya dengan anggukan kepala membuat Adriene terkejut.


"Ya ampun, maafkan aku! Aku beneran gak tau kalau


tidak bisa berbicara," ucap Adriene.


Melan tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu....


"Sedang apa kamu di sana Mel?" seru Archo.


Seketika Melan dan Adriene mengalihkan pandangannya ke arah Archo.


"Morning Arc." Adriene melambaikan tangannya pada pria berkacamata itu.


"Adriene!"


Adriene tersenyum, kemudian melangkah masuk melewati Melan dan menghampiri Archo.


"Driene, kenapa pagi-pagi kamu sudah datang kesini?"


Adriene mendesah. "Kenapa pakai di tanya sih! Tentunya kamu tahu kalau pagi-pagi aku datang berarti aku mengantarkan sarapan untuk kamu, Arc.",


Ia menunjukkan goodie bag yang berada di tangannya pada Archo.


"Oh, terimakasih ya Driene. Tapi sepertinya Melan juga sudah membuatkan sarapan." ujar Archo.


"Hmmm, Melan?" Adriene menaikkan satu alisnya.


Archo beralih ke Melan. "Mel, sini bentar!"


Melan mengangguk dan mendekat ke arah Archo.


"Adriene, kenalkan ini Melan dan dia is—"


Archo menghentikan perkataannya sebab Melan menarik-narik baju Archo di bagian belakangnya. Seakan memberi isyarat pada suaminya untuk tidak memberitahu tentang hubungan mereka yang sebenarnya pada Adriene. Mengerti akan maksud Melan, mau tidak mau Archo harus menurutinya.


"Arc, kenapa diam? Sebenarnya dia siapa? Apa jangan-jangan Melan ini istrimu?" cecar Adriene yang mulai mencurigai mereka.


Archo membuang nafasnya dan menempatkan tangannya di bahu Adriene.


"Driene, jangan bicara yang bukan-bukan! Dan lagi Melan ini sebenarnya adik dari kenalan ku saja bukan siapa-siapa." ujar Archo yang terpaksa berbohong.


"Oh gitu ya." Adriene manggut-manggut seakan percaya dengan perkataan Archo.


"Iya, Udah jangan di bahas lagi! Mending kita sarapan bareng yuk! Soalnya aku udah lapar banget."


Kedua wanita itu pun langsung menganggukkan kepalanya.


Di tempat lainnya....


Ray nampak sedang berada di salah satu taman Kota bersama dengan Zuy dan si kembar. Mereka berjalan santai menyusuri taman tersebut sembari mendorong stroller si kembar.


Karena hari libur jadi Ray memanfaatkan waktunya untuk bersama kesayangannya itu dengan mengajak mereka jalan-jalan.


"Taman ini benar-benar sudah berubah ya, berbeda dengan waktu itu." lontar Zuy seraya mengedarkan pandangannya.


"Kamu benar sayangku, semuanya memang sudah berubah. Sekarang lebih banyak tempat bermain untuk anak-anak bahkan pengunjungnya lebih banyak dari sebelumnya." ujar Ray.


"Iya, kalau waktu itu hanya beberapa orang saja yang datang ke taman ini."


Ray lalu merangkul pujaan hatinya.


"Sayangku, meskipun semuanya sudah berubah tapi masih ada lho yang gak berubah." lontar Ray.


"Oh iya, memangnya apa yang gak berubah?" tanya Zuy.


"Tentu saja rasa cintaku padamu, sayangku." ucap Ray seraya mengedipkan sebelah matanya.


Sehingga membuat Zuy mengulum senyumnya dan nampak rona merah yang muncul di pipinya itu.


"Huh! Kamu ini ya Ray, gak di mana-mana selalu saja berkata manis," cetus Zuy.


Ray tersenyum lalu di pegangnya dagu pujaan hatinya seraya mendekatkan wajahnya.


"Tapi aku berkata manis juga cuma sama kamu seorang, sayangku." bisik Ray dan ...


Cup....


Ia mengecup bibir pujaan hatinya tanpa peduli dengan semua orang yang berada di taman itu.


"Rayyan, kebiasaan deh suka cium sembarangan di tempat umum! Semua orang jadi ngeliatin kita." Zuy mendorong pelan tubuh Ray.


"Memang aku sengaja sayangku! Habisnya aku gemas sih liat pipi kamu yang memerah itu. Hahaha...."


"Pipiku bukan merah tapi ungu. Udah ah jangan menggodaku terus!" pekik Zuy seraya mengalihkan pandangannya ke arah stroller anaknya. "Ayo anak-anak kesayangan Mamah, kita jalan lagi!" sambung ucapnya pada si kembar.


Lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya terlebih dahulu sembari mendorong stroller si kembar.


"Dasar sayangku." lirih Ray yang menyusul pujaan hatinya.


Beberapa saat setelah puas berkeliling di taman dan sebelum pulang ke Villanya, mereka terlebih dahulu singgah ke tempat makan yang tak jauh dari taman tersebut.


Ketika berada di tempat makan, tiba-tiba mata Ray terbelalak karena melihat seseorang yang di kenalnya sedang berada di tempat makan tersebut.


"Lho bukankah itu Rezki?" lirih Ray.


"Rezki? Rezki siapa Ray?" tanya Zuy.


"Patner-ku dulu." jawab Ray. "Ayo kita kesana sayangku." lanjut ajaknya.


Zuy mengangguk. "Oke."


Keduanya pun berjalan ke arah orang yang bernama Rezki itu yang tengah duduk bersama dua orang wanita dan satu laki-laki.


Lalu....


"Rezki!" seru Ray.


Mendengar namanya terpanggil, Pria yang yang bernama Rezki itu menolehkan kepalanya ke arah Ray.


"Rayyan G Michael!" ucapnya seraya bangkit dari posisinya.


"Rayyan siapa Yank?" tanya perempuan cantik di sampingnya.


"Partner bisnis ku, sayang." jawab Rezki.


Setelah saling berhadapan, Ray dan Rezki saling berjabat tangan.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu sekarang? Apa masih memimpin Perusahaan RGM?" lontar pertanyaan Rezki.


"Kabar ku baik Rez.Tapi sekarang aku sudah tidak memimpin Perusahaan RGM lagi melainkan Perusahaan CV."


"Oh, berarti CEO CV yang sekarang itu kamu ya Ray?"


Ray mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya benar banget, lalu bagaimana kabar kamu, Rez?"


"Kabar aku juga baik, Ray."


"Syukurlah kalau begitu, Oh iya kenalin ini istriku namanya Zoey Lestari dan sayangku, kenalkan ini Rezki Aditya Pratama CEO dari Perusahaan Pratama grup. Dulu kami partner bisnis saat aku masih memimpin Perusahaan RGM."

__ADS_1


Zuy pun tersenyum seraya mengangguk sopan pada pria yang bernama Rezki itu.


"Oh iya, kenalin juga ini istri tercinta ku Kharshi Setiawan. Istriku seorang Dokter spesialis anak," Rezki tersenyum pada wanita yang bernama Kharshi. "Lalu yang ini sahabat sekaligus partner bisnis-ku Adriansyah Alrizzi seorang pengusaha sukses di berbagai negara, dan di sebelahnya adalah istri tercintanya Arti Aurora." lanjutnya.


Mereka saling berjabat tangan secara bergantian. Selepas itu, Ray dan Zuy pun ikut bergabung bersama dengan Rezki beserta lainnya.


...----------------...


Dua hari kemudian....


—Pukul 02.25am


Archo, Dimas beserta beberapa pengawalnya sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi tempat para penculik Maria yang berada di pinggiran Kota.


Dan setelah menempuh perjalanan selama hampir satu setengah jam lebih mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Archo dan Dimas segera turun dari mobilnya. Lalu kemudian salah seorang anggota polisi bersama dengan Cole datang menghampiri Archo.


"Mr Archo, Dokter Dimas." sapanya dengan sopan.


"Cole, apa Mam benar-benar ada di rumah itu?" tanya Archo pada Cole.


"Benar Mister dan beliau di sekap di kamar lantai atas." jawab Cole.


Dan ternyata Cole, polisi dan beberapa pengawal lainnya sudah berada di tempat terlebih dahulu untuk mengawasi sekeliling.


"Lalu bagaimana persiapannya?"


"Sudah semuanya Mister dan mereka sudah ada di posisinya masing-masing."


"Bagus! Ayo kita bergerak cepat sebelum pagi tiba!"


"Oke."


Semuanya pun bergegas menuju ke rumah tersebut. Lalu setibanya di sana Archo dan salah satu anggota polisi itu mendekat ke arah pintu seraya mendobraknya hingga terbuka.


Sementara itu....


Yon dan Fan terlihat sedang asik bermain game di ruang tengah, sedangkan Desi sudah tertidur di kamarnya sendiri dan untuk Noel, saat ini ia sedang berada di Amerika untuk menjenguk Ibunya yaitu Madam Evelyn.


"Hei, apa kamu mendengar sesuatu?" tanya Fan.


"Mungkin bos udah pulang dari Amerika." jawab Yon. "Cepat sambut bos! Sebelum dia marah." sambung titahnya.


Fan pun mendesah. "Baiklah, dasar tukang suruh."


"Jangan menggerutu!"


Saat hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba....


"Kakak-kakak, gawat!" seseorang yang berlari menghampiri mereka.


"Gawat? Gawat kenapa?" tanya Fan.


"Ki-kita—" ucapnya terhenti sebab ....


"Oh, ternyata kalian orangnya yang sudah berani menculik dan menyekap Orang tua ku." seru Archo, sehingga Yon dan Fan menoleh.


Betapa terkejutnya mereka melihat Archo dan lainnya sudah berada di ruangan tersebut seraya menodongkan pistol ke arah mereka.


"Ka-kalian!" lirih Fan.


"Celaka!" gumam Yon sembari bangkit dari posisinya.


Archo pun mendekat ke arah Yon dan mencengkram kuat kerah bajunya.


"Katakan padaku! Siapa yang telah menyuruh kalian untuk menculik Mam? Hah!" sentak Archo.


Bukannya takut, Yon malah tersenyum sinis membuat Archo mengernyitkan dahinya.


"Heh! Jangan harap kamu bisa tau siapa bos kami itu." cetus Yon.


Duaaak....


Ia pun menendang kuat perut Archo dan membuatnya tersungkur.


"B*stard!" umpat Archo.


"Fan, cepat lari!" titah Yon.


Fan mengangguk, namun saat ia hendak berlari tiba-tiba ....


DOR!


Polisi menembak kaki Fan membuatnya terjatuh.


"Aaargh...." pekik Fan.


"Fan!"


Dan di saat Yon lengah, Archo pun memukul wajahnya dengan kuat hingga sudut bibi Yon berdarah.


"Dokter Dimas, cepat ke atas dan bebaskan Mam!" titah Archo.


"Oke."


Dimas bersama dengan dua anggota polisi serta beberapa pengawal pun segera berlari menuju ke lantai atas.


Sesampainya di sana mereka di hadang oleh tiga orang suruhan Noel. Para pengawal pun melawan ketiga orang tersebut, sedangkan Dimas mencari keberadaan Maria.


Saat menemukan sebuah pintu kamar yang di yakini sebagai tempat di mana Kakaknya berada, Dimas langsung mendobrak pintu tersebut dan benar saja Maria memang berada di sana dan tengah tertidur, ia pun bergegas masuk menghampiri Maria.


"Kak Maria, Kak Maria...." Dimas mengguncang tubuh Maria.


Karena merasa tidurnya terusik, Maria pun langsung bangun dari tidurnya dan perlahan membuka matanya.


"Ada apa lagi Fan?" lirih Maria mengusap matanya.


"Ini Dimas, Kak."


"Dimas!"


Mendengar nama Dimas, membuat Maria langsung mengarahkan pandangannya ke arah adiknya itu.


"Kak...."


"Dimas, ini beneran kamu?"


Dimas mengangguk-anggukkan kepalanya, sontak Maria langsung melingkarkan tangan kirinya di tubuh adiknya itu dan memeluknya, seketika tangis keduanya pun pecah.


"Syukurlah, akhirnya kamu datang menyelamatkan Kakak."


"Iya Kak, maaf kalau Dimas terlambat!"


"Tidak apa-apa Dimas."


Sesaat melepaskan pelukannya, Dimas pun langsung mengangkat tubuh Maria dan menempatkannya di atas kursi roda lalu membawanya keluar dari kamar tersebut menuju ke arah di mana Archo dan lainnya berada.


Dan saat sudah sampai di sana, Maria tercengang melihat Yon dan lainnya berhasil di lumpuhkan.


"Mam...." lirih Archo.


Maria pun menengadah. "Archo."


Keduanya saling berpelukan dan tangis Maria kembali pecah begitu pula dengan Archo. Lalu sesaat Archo melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Mam! Aku benar-benar sangat terlambat." sesal Archo.


"Iya, tidak apa-apa Nak." balas Maria mengelus rambut Archo.


Archo tersenyum kemudian bangkit dari posisinya.


Melihat itu membuat Fan sangat kesal, ia pun melepaskan diri dan merampas pistol yang berada di tangan salah satu anggota polisi kemudian mengarahkannya ke Maria.


"Mrs Maria...."


Tanpa ragu Fan langsung menarik pelatuk pistolnya seraya melepaskan tembakannya.


DOR!


Satu peluru pun melesat ke arah Maria.


"Mam > Kak Maria!"


***Bersambung....


Author: "Hai Kakak2 kesayangan Author, maafkan Author yang terlambat update. Oh iya Author izin promosiin karya dari Kakak Pena Author tercinta Kak Khardha. Nama tokoh novelnya yang Author sebutin di atas, bisa Kakak cek di bawah ini .... 👇


Rezki Aditya Pratama dan Kharshi Setiawan.👇



Adriansyah Alrizzi dan Arti Aurora 👇



Jangan lupa mampir ya Kakak2, di jamin ceritanya seru abis dan bikin baper. Apalagi visualnya bikin mata terang seketika... 😉"


(Maaf ya Kak Kharda kalau ada kesalahan dalam namanya... 😁✌️)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2