
<<<<<
Seketika Zuy langsung memalingkan pandangannya ke arah suara tersebut dan betapa terkejutnya Zuy saat melihat kedua laki-laki tersebut yang tak lain adalah....
"Mr Michael, Pak Willy!"
Lirih Zuy sembari bangkit dari posisinya, kemudian ia meraih tangan Daddy Michael dan mencium punggung tangannya, bergantian dengan Pak Willy.
"Mr Michael, Pak Willy. Apa kabar?" tanya Zuy.
"Anakku, berhenti memanggil Daddy dengan sebutan Mr Michael! Panggil saja dengan Daddy atau Papah atau Ayah, senyaman kamu Anakku!" tutur Daddy Michael.
"Iya, padahal kita kan keluarga kamu juga Zuy. Tapi kamu tetap saja memanggil ku dengan Pak Willy terus. Panggil Om, Paman, Ayah atau Papah juga tidak apa-apa. Karena dari dulu kamu sudah saya anggap sebagai anakku," sambung Pak Willy.
Mendengar perkataan Pak Willy membuat Daddy Michael berkerut kening.
"Willy, dia anakku! Jadi Zuy cukup memanggil mu dengan sebutan Om atau Paman!" gerutu Daddy Michael.
"Tapi dia juga seperti anakku Chael," balas Pak Willy yang tidak mau kalah.
Zuy yang melihat perdebatan Pak Willy dan Daddy Michael pun hanya bisa tersenyum. Lalu ....
Oeek.... Oeeek....
Tiba-tiba Baby R menangis, sontak membuat Pak Willy dan Daddy Michael menghentikan debatnya, mereka pun langsung mengalihkan pandangan ke arah Baby R.
"Tuh kan gara-gara kamu terlalu berisik, jadi nangis kan."
"Kenapa aku, bukannya kamu Will yang terlalu berisik."
Zuy lalu mengambil Baby R dari stroller-nya dan menggendongnya.
"Anakku, ini?" lirih Daddy Michael menunjuk ke arah Baby R.
"Ini salah satu anak kami," balas Zuy.
"Ja-jadi ini cucuku?"
Zuy mengangguk. "Iya, ini cucu Daddy yang laki-laki."
Daddy Michael lalu memandangi wajah Baby R dan tak terasa air matanya lolos membasahi pipinya.
"Benar-benar mirip Rayyan saat masih bayi," ucap Daddy Michael.
"Chael, apa kamu menangis? Ck, kaya anak kecil saja. Padahal udah punya cucu juga," goda Pak Willy.
Seketika Daddy Michael langsung mengusap air matanya dan beralih ke Pak Willy.
"Will, berhenti menggodaku! Lagian siapa juga yang menangis, mataku hanya kemasukan pasir," pekik Daddy Michael.
"Hahaha...." Pak Willy menyemburkan tawanya.
"Ck, bener-bener orang satu ini," decak Daddy Michael sembari melihat kembali ke arah Zuy dan Baby R. "Lalu yang satunya lagi mana?" sambungnya.
"Kalau Baby Z ada di sini D-Dad," ujar Zuy mengarahkan tangannya ke Baby Z.
"Ke-kenapa ada dua? Sebenarnya kamu melahirkan berapa bayi, anakku?" tanya Daddy Michael yang kebingungan karena melihat Rana di samping Baby Z.
"Zuy hanya melahirkan dua saja, kalau yang satunya anak perempuan Bi Nana," jawab Zuy.
"Oh, Daddy kira ini juga anak kamu," kata Daddy Michael.
Zuy hanya tersenyum, namun tidak untuk Pak Willy, ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dad, Pak eh maksudnya Om, ayo masuk!" ajak Zuy.
"Nanti saja soalnya Daddy ingin memandangi kedua cucu Daddy," ujar Daddy Michael sambil melihat ke Baby Z.
"Chael, dari pada memandanginya, lebih baik gendong saja. Kalau gak mau ya sini biar aku yang gendong!" kata Pak Willy.
Dan sebenarnya, Pak Willy hanya ingin menggoda Daddy Michael saja.
Pak Willy lalu mengarahkan tangannya ke Baby Z dan saat hendak mengangkat tubuh Baby Z dari stroller-nya, tiba-tiba Daddy Michael memegangi tangan Pak Willy.
"Tidak boleh! Dia adalah cucuku, jadi yang pertama berhak menggendongnya adalah aku Kakeknya," cetus Daddy Michael.
Lalu kemudian Davin keluar dari dalam Villanya, dengan menggunakan baju dalaman dan celana short bahkan maskernya pun masih menempel di wajahnya.
Hoaaam....
"Aduuh, pagi-pagi udah pada ribut begini. Mengusik bobo cantik dan mimpi indah ku saja," gerutu Davin sambil menggaruk-garuk perutnya.
Membuat Zuy dan lainnya menoleh ke arah Davin.
"Ckckck, mentang-mentang weekend ya, bangun pun siang. Dan lagi itu muka ngapain di tempelin tepung seperti itu? Kaya mendoan aja," celetuk Pak Willy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini bukan tepung, ini tuh mas ...." Davin melebarkan matanya dan seketika ia terkejut melihat Daddy Michael dan Pak Willy. "Pak Willy, Daddy!"
Sontak Davin langsung berlari kecil menghampiri Daddy Michael dan memeluknya dengan erat.
"Daddy.... Davin kangen," ucap Davin manja.
"Iya Daddy juga kangen, tapi jangan kenceng begini meluknya! Daddy gak bisa nafas Dav," ujar Daddy Michael.
Davin pun langsung melepaskan pelukannya. "Maafkan aku Dad."
"Dad, Om. Masuk yuk! Si kembar dan Rana juga udah selesai sunbathing-nya." ajak Zuy.
Dan saat Zuy ingin meletakkan Baby R di stroller-nya, namun ....
"Anakku, Daddy ingin menggendongnya!" pinta Daddy Michael.
Zuy pun mengangguk dan memberikan Baby R pada Daddy Michael. Lalu kemudian mereka melangkahkan menuju ke dalam Villa. Zuy membawa Stroller milik si kembar dan Davin membawa Stroller milik Rana.
Ya untungnya Rana tertidur di stroller-nya, andai saja kalau dia bangun, mungkin akan menangis saat melihat wajah Davin yang masih di tempelin adonan moci eh masker.
Setelah berada di dalam, Daddy Michael dan Pak Willy langsung duduk di atas sofa.
"Sebentar Dad, Pak Willy. Saya mau cuci muka dulu, sekalian nyuruh Bu Ima bikin minuman," kata Davin.
"Iya, yang bersih Vin, biar anak-anak gak sawan liat wajah kamu yang di tempelin tepung terigu," balas Pak Willy meledek.
"Ini tuh masker bukan tepung terigu atau adonan moci, hummmpt." gumam Davin membuat yang lainnya terkekeh geli.
Ia pun langsung melenggang pergi ke kamar mandi.
"Villanya sangat megah dan bagus anakku," puji Daddy Michael mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Terimakasih Dad," ucap Zuy.
"Tapi perasaan waktu Om datang ke sini, Villanya gak semegah ini kan?" tanya Pak Willy.
"Iya Om, memang awalnya gak seperti ini, cuma beberapa minggu lalu, Villa ini habis di renovasi," jawab Zuy.
"Oh pantas saja terlihat berbeda."
Lalu....
"Zuy, udah sunbathing-nya?" seru Bi Nana sambil berjalan menghampiri.
Zuy mengangguk. "Udah Bi, Rana juga tidur."
"Maaf ya lama, soalnya Bi.... Lho, Mr Michael, Pak Willy!" ucap Bi Nana yang terkejut melihat Daddy Michael dan Pak Willy.
"Na, apa kabar?" tanya Daddy Michael.
"Ba-baik Mr Michael," balas Bi Nana.
Mereka pun saling bersalaman secara bergantian.
"Mr Michael, Pak Willy kapan datang dari Amerika?" tanya Bi Nana.
"Sebenarnya dari semalam, cuma saya istirahat dulu di rumah Willy," jawab Daddy Michael.
"Oh...." lirih Bi Nana memanggut.
Sesaat Bu Ima datang sembari membawa minuman untuk Daddy Michael dan Pak Willy. Setelah meletakkannya di atas meja, Bu Ima bergegas kembali ke belakang.
"Silahkan di minum!" kata Bi Nana.
"Terimakasih Na, oh iya di mana Ray?" ucap Daddy Michael sekaligus bertanya.
"Ray masih tidur, Dad."
"Apa! Dasar anak dingin itu," sungut Daddy Michael.
"Daddy, tolong jangan marah! Soalnya semalam Ray begadang jagain anak-anak, makanya Zuy sengaja gak bangunin Ray," ujar Zuy.
"Oh, Syukurlah kalau begitu."
"Lalu Yi? Apa dia masih di Villanya?" tanya Pak Willy.
"Kalau Kakak Yiou lagi pergi sama Airin dan Mamah," jawab Zuy.
"Mamah?" lirih Daddy Michael.
Zuy mengangguk. "Iya Dad."
Pandangan Daddy Michael mengarah ke Bi Nana dengan tatapan penuh tanya. Karena Daddy Michael berfikir kalau yang di maksud Zuy adalah Ibu kandungnya. Bi Nana pun langsung mengerti apa maksud dari tatapan mata Daddy Michael, sebelum berkata Bi Nana terlebih dahulu menghela nafasnya.
"Haaaa.... Saya tahu apa yang ingin anda tanyakan, Mr Michael. Sebenarnya yang di maksud Zuy 'Mamah' adalah Ibu temannya Zuy atau Ibu angkatnya Zuy. Dia juga yang kemarin menemani Zuy saat melahirkan," jelas Bi Nana.
"Oh, aku kira yang di maksud Mamah adalah dia."
Bi Nana menggeleng kecil sambil tersenyum, lalu ....
"Sayangku.... Sayangku, kamu di mana?" suara Ray mencari pujaan hatinya.
Mendengar suara memanggilnya, Zuy langsung memalingkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
Zuy melirik kan matanya ke arah Daddy Michael.
"Anakku, jangan bilang kalau Daddy datang! bisik Daddy Michael dan di balas anggukan kecil oleh Zuy.
"Ada siapa sayangku?" tanya Ray dengan langkah lebarnya menghampiri Zuy.
"Ah, maksud Zuy ada ...."
"Baru bangun boy? Mentang-mentang weekend jadi bebas bangun," seru Daddy Michael.
Sontak Ray terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya dan di palingkannya pandangannya ke arahnya.
"D-Daddy, Om Willy!"
Seketika Ray langsung menghampiri Daddy Michael dan Pak Willy. Dan di ciumnya tangan mereka secara bergiliran.
"Dasar kamu ini! Sudah punya dua buntut masih saja bangun kesiangan." cetus Daddy Michael sambil menempelkan tangannya di atas kepala Ray dan menekannya.
"Ma-maaf Dad," ucap Ray sembari mengedipkan matanya ke Baby R yang sedang di gendong Daddy Michael.
Daddy Michael tersenyum sambil menurunkan tangannya. Ray lalu mendudukkan dirinya di samping Daddy Michael.
"Kapan kalian datang? Kenapa gak bilang ke Ray dulu?" tanya Ray.
"Dari semalam, cuma Daddy menginap dulu di rumah Om kamu. Daddy gak bilang karena ingin memberikan kejutan untuk kalian semua," ujar Daddy Michael.
"Oh, lalu Lesya? Apa dia betah tinggal di Asrama sekolahnya?" tanya Ray.
"Ya, dia sekarang udah terbiasa tinggal di sana meskipun awalnya sempat berontak dan menolak juga," jawab Daddy Michael.
"Syukurlah kalau begitu," lirih Ray. Lalu ....
"Lho kenapa tangan Daddy tiba-tiba hangat dan terasa basah begini ya?" Daddy Michael lalu mengarahkan pandangannya ke arah Baby R. "Oh ternyata cucu Kakek pipis ya? Pantesan basah." sambungnya.
Ternyata basah dan hangatnya tangan Daddy Michael berasal dari Babby R yang mengompol, sontak membuat semua menyemburkan tawanya.
Pffft....
"Hahaha.... Baru juga gendong cucunya udah kena ompol," ledek Pak Willy.
"Anggap saja itu perkenalan dari cucunya," sambung Bi Nana.
Ray lalu mengambil Baby R dari tangan Daddy Michael.
"Aduh gantengnya Daddy pinter ya, udah bisa jahilin Kakeknya, hahaha...." Ray ikutan meledek Daddy Michael. ia pun memberikan Babby R pada Zuy.
"Maafin Rayner ya Kakek!" ucap Zuy mewakili Baby R.
Daddy Michael tersenyum. "Tidak apa-apa, justru itu bagus biar cucu Kakek lebih dekat dengan Kakeknya."
"Sebentar ya semuanya, Zuy mau ganti popoknya Baby R dulu."
Semuanya pun menganggukkan kepalanya, kemudian Zuy membawa Baby R untuk mengganti popoknya yang basah.
"Oh iya, Daddy boleh pinjam kamar mandinya? Mau ganti pakaian."
__ADS_1
"Tentu boleh Dad, ayo ikut Ray!" balas Ray.
Daddy Michael mengangguk, lalu keduanya bangkit dari posisinya.
"Bi, Ray titip Baby Z bentar ya!" pinta Ray pada Bi Nana.
"Iya Ray."
Lalu Ray dan Daddy Michael melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang berada di kamar.
Sesampainya, Daddy Michael bergegas ke kamar mandi, sedangkan Ray mendudukkan dirinya di sofa sembari menunggu Daddy Michael. Tak lama kemudian, Daddy Michael keluar dari kamar mandi dan menghampiri Ray.
"Boy...."
Ray menoleh. "Dad, sudah selesai?"
"Iya sudah," balas Daddy Michael sembari duduk di samping Ray.
"Dad, waktu Daddy mau datang ke sini, apa Liora tahu?" tanya Ray.
Daddy Michael pun tersenyum dan berkata, "Kamu tenang aja! Liora tidak tahu kalau Daddy kesini, soalnya Daddy bilang padanya kalau Daddy mau ke Inggris bersama Willy untuk suatu pekerjaan."
Mendengar perkataan Daddy Michael, Ray menghela nafas leganya.
"Huuft.... Syukurlah kalau begitu."
"Sesuai permintaan mu, Daddy menyuruh beberapa orang yang tidak di kenal oleh Liora untuk mengawasinya dari jauh dan juga beberapa orang kepercayaan Daddy. Jadi kamu tidak perlu khawatir soal Liora! Daddy yakin dan pastikan kalau Liora tidak akan berulah ataupun mengusik kehidupan mu bersama anak dan istri mu," tutur Daddy Michael merangkul pundak Ray.
"Thanks Dad," ucap Ray.
"Sama-sama Boy. Ayo kita keluar! Pasti yang lain udah nungguin kita," ajak Daddy Michael.
Ray menganggukkan kepalanya dan bangkit dari duduknya, lalu mereka berdua pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
*******************************
Sementara itu di tempat lain....
Nampak seorang wanita berusia 47 tahun sedang mengunjungi sebuah tempat dan tempat itu tak lain adalah kantor polisi untuk menemui seseorang. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya orang yang di tunggunya pun keluar.
"Mamih...." serunya.
Wanita itu pun langsung memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut.
"Erlin...." sahutnya menghampiri.
Ternyata mereka berdua adalah Istri dan anak dari lelaki yang bernama Pak Wildan. Keluarga yang sangat terobsesi dengan Rayyan.
Lalu mereka berdua pun duduk berhadapan di balik kaca besar.
"Bagaimana keadaan mu hari ini sayang?" tanya Mamahnya Erlin.
"Seperti yang Mamih lihat! Aku masih tidak baik-baik saja," jawab Erlin. "Dan lagi kenapa Mamih baru datang? Kemana Mamih selama ini?"
"Maafkan Mamih ya sayang! Mamih baru datang sebab Mamih pulang ke keluarga Mamih untuk mendapatkan perawatan," ujar Mamahnya Erlin.
"Mendapatkan perawatan?"
Mamahnya Erlin mengangguk dan berkata, "Iya sayang, semenjak kamu dan Papahmu di penjara, kesehatan Mamih langsung menurun, sehingga Mamih di bawa ke suatu tempat oleh Kakek kamu, Lin. Dan baru sebulan Mamih keluar dari sana."
"Tsk, ini semua gara-gara si OB j*lang itu! Coba saja kalau dia tidak menjadi duri penghalang untukku mendapatkan Tuan Ray, pasti saat ini hidup kita tidak akan seperti ini. Dan pastinya sekarang Erlin sudah bahagia dan menikmati kehidupan mewah milik Tuan Ray itu," sungut Erlin.
"Kamu benar sayang, Mamih juga masih benci dan dendam padanya, karena dia keluarga kita jadi pecah seperti ini," balas Mamahnya Erlin.
"Aaargh, sayangnya masa hukuman Erlin masih beberapa tahun lagi. Andai bisa di percepat, pasti Erlin akan langsung membalas apa yang dia lakukan pada keluarga kita, dan Erlin juga bisa merebut kembali apa yang harusnya menjadi milik Erlin," cetus Erlin.
"Kamu harus bersabar ya sayang! Mamih juga masih berusaha membujuk Kakek mu supaya secepatnya membebaskan mu dari tempat terkutuk ini!"
"Terimakasih Mamih."
"Sama-sama sayang."
Mereka melanjutkan percakapannya sampai waktu yang di tentukan.
...----------------...
Waktu bergulir begitu cepat, matahari pun sudah bergeser ke arah barat, pertanda bahwa sore hari telah tiba.
Villa Z&R
Di dalam kamarnya, Zuy sedang di walk in closet untuk mengganti pakaiannya, karena sesaat yang lalu ia telah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, sedangkan kedua anaknya tengah bersama dengan lainnya, tak lama Ray masuk ke kamarnya.
"Sayangku...." Ray memanggil Zuy.
"Zuy di sini! Sedang ganti baju, Ray." seru Zuy menyahutnya.
Mendengar itu, Ray bergegas menuju ke arah pujaan hatinya yang berada di walk in closetnya. Setibanya, ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy sembari menumpukkan dagunya di atas pundak Zuy.
"Ray, ada apa?" tanya Zuy.
"Tidak ada apa-apa, sayangku. Aku hanya ingin memelukmu saja," jawab Ray, ia pun memainkan bibirnya di atas punggung Zuy.
"Oh, aku pikir anak-anak menangis, makanya kamu kesini."
"Anak-anak sedang anteng main bersama Kakek dan lainnya, sayangku."
Ray lalu melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Zuy menghadap ke arahnya.
"Sayangku, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu," papar Ray.
"Oh iya, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan Ray?" tanya Zuy penasaran.
Ray lalu membawa Zuy keluar dari walk in closetnya, setelah itu mereka berdua duduk di tepi ranjang.
"Sayangku, aku ingin bicara tentang ...."
***Bersambung....
Author: Hai Kakak2.... Maaf ya CUP baru bisa Update lg dan maaf kalau ceritanya kurang seru dan amburadul, karena semangat Author menurun drastis, pikiran Author benar-benar buyar, keadaan Author masih drop banget. 🙏🙏🙏🤧
Untuk Kakak2 kesayanganku semuanya, Author ucapkan terimakasih banyak atas ucapan dan doanya serta hadiahnya buat cerita Cintaku Untuk Pengasuhku. Terimakasih juga karena sudah menunggu cerita CUP Updet (Kepedean ish.... 🤣🤣🤣) Sayang banyak-banyak dari Author... 🙏🙏😘😘♥️
Jaga kesehatan ya semuanya dan sukses selalu. Semangat... semangat.... semangat... 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌