Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Firasat Calon Ayah....


__ADS_3

<<<<<


Sehingga membuat Aries tersentak kaget saat mendengarnya.


"Maksudmu My love, Mrs Maria di culik?!"


Yiou mengangguk. "Iya Yank, Mrs Maria Ibu kandungnya Baby."


"My love, kamu tahu dari mana soal kabar Mrs Maria di culik orang?" tanya Aries yang penasaran.


"Aku tahu dari Davin, Yank. Tadi waktu kamu masih tidur, Davin datang kesini sambil menggendong Baby Z. Dia bilang kalau di Villanya Tuan dingin ada Dokter Dimas dan Neneknya Baby datang berkunjung, kemudian mereka cerita ke Ray kalau Mrs Maria di culik orang." jelas Yiou.


"Oh ternyata mereka berkunjung ke sini, lalu kapan kejadiannya?"


"Euuuum, kata Davin sih kejadiannya di hari yang sama di mana saat Om Randy dan Tante Nana kecelakaan," jawab Yiou.


"Apa! Kejadiannya sama dengan kecelakaan yang di alami Om dan Tante?" Aries kembali terkejut akan jawaban istrinya itu


"Iya Yank, itu yang aku dengar dari Davin," balas Yiou.


Sesaat Aries menghela nafasnya sembari menyandarkan kepalanya di dinding sofa.


"Haaa.... Kenapa harus bersamaan seperti ini sih?" lirih Aries mengusap wajah hingga rambutnya itu.


Melihat itu, Yiou mendekatkan kembali tubuhnya sedekat dengan Aries dan menempatkan tangannya di pundak Aries.


"Yank...." tegur Yiou.


Seketika Aries melirik kan matanya ke arah istrinya itu.


"Aku tidak apa-apa, My love." balas Aries, karena ia tahu dari tatapan Yiou kalau Yiou akan menanyakan keadaannya.


"Tapi...."


Aries tersenyum dan menenggakkan kembali posisi duduknya, lalu di sentuhnya perut Yiou sembari mengelusnya.


"Aku beneran tidak apa-apa My love. Hanya saja aku kepikiran dengan adikku, bagaimana perasaannya nanti jika ia tahu tentang Ibunya yang di culik itu, " ujar Aries.


"Tadi juga aku bilang seperti itu ke kamu, Yank. Kalau aku gak bisa bayangin bagaimana perasaannya saat mengetahui kondisi Ibunya. Ya walau sejahat apapun Mrs Maria terhadap Baby, akan tetapi Mrs Maria tetap Ibu kandungnya, orang yang sudah melahirkan Baby. Dan aku sangat yakin jika suatu saat nanti Maria belum juga di temukan dan Baby mengetahuinya, maka bisa dipastikan bahwa Baby akan meminta Ray untuk menolong ibunya itu, dan yang paling di khawatirkan adalah jika Baby sampai bertindak sendirian, Yank. Tentunya kamu tahu kan kalau Baby orangnya sangat nekat, tidak peduli dengan bahaya yang mengancamnya." paparnya.


Aries pun manggut-manggut. "Hmmmm, apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga, My love. Adik ku itu memang sangat nekat orangnya dan kadang juga keras kepala. Ya pokoknya untuk saat ini kita jangan bicara apa-apa pada Zuy tentang keadaan Ibunya itu, ya My love!"


"Tentu aku tidak akan bicara apa-apa soal Ibunya itu pada Baby. Karena aku tidak ingin dia semakin bersedih dan kepikiran terus, nanti bisa-bisa menganggu kesehatannya lagi. Kasihan kan kedua gembul-ku itu kalau sampai Ibunya sakit," lontar Yiou.


Sekali lagi Aries mengulas senyumnya dan memegang kepala Yiou.


"Begitu pula dengan mu, My love. Kamu juga jangan terlalu banyak pikiran dan beban! Apalagi sekarang kamu tengah mengandung anakku yang beberapa bulan lagi akan lahir. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak laki-laki kita terutama kamu, My love." tutur Aries mengelus rambutnya.


"Kamu tenang aja ya Yank! Pasti aku akan menjaga anak kita dengan baik, dan lagi ...." Yiou mendekatkan sedikit wajahnya seraya memicingkan matanya ke Aries. "Kenapa kamu sangat yakin kalau calon anak kita ini laki-laki?" sambungnya.


"Ya mungkin karena firasat calon Ayah, hehehe...." balas Aries terkekeh.


"Hmmmm, lalu bagaimana jika firasat mu itu salah dan ternyata anak yang aku kandung ini adalah perempuan?"


"Ya tidak apa-apa My love, mau laki-laki atau perempuan bagiku sama aja yang penting kamu dan anak kita sehat." kata Aries.


Seketika membuat Yiou tersenyum sumringah karena perkataan Aries, kemudian ia mengecup kilat pipi suaminya itu.


"Terimakasih ya Yank," ucap Yiou.


"Sama-sama My love."


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Sementara itu di Villa sebelahnya (Villa Z&R)


Beberapa saat setelah di bawanya Zuy ke kamar mandi oleh Ray. Mereka pun kini berada di walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Haaa.... Padahal niatku tadi hanya ingin buang air kecil saja bukan untuk mandi bareng," gumam Zuy mengusap rambut Ray yang basah.


Ray terkekeh. "Sekali-kali gak apa-apa dong sayangku. Lagian aku kegerahan dan juga baju kamu udah basah semua, jadi ya sekalian aja kita mandi bareng. Hahaha...."


"Apanya yang sekali-kali Rayyan! Dan lagi baju ku basah itu juga karena kamu sengaja jatuhin aku ke dalam Bathtube." Zuy menggerutu sembari mengerucutkan bibirnya.


Ray terus tertawa geli melihat ekspresi wajah pujaan hatinya itu, sehingga Zuy berkerut kening. Lalu tiba-tiba....


"Aduh-aduh...." pekik Ray memegangi perutnya.


"Tuh kan, kebanyakan tertawa sih jadi sakit tuh perutnya." lontar Zuy. "Duduk sini!"


Ray menuruti pujaan hatinya, mereka berdua pun duduk di kursi stool panjang yang berada di walk in closetnya.


"Mana yang sakit?" tanya Zuy menempatkan tangannya di perut Ray. "Yang ini?"


"Bukan yang itu sayangku."


"Terus yang mana? Yang ini?"


"Bukan juga."


Sesaat Zuy menghela nafasnya sembari mengelus perut roti sobek rasa Vanilla milik si pria tampannya itu.


"Hmmmm, padahal aku sudah sering melihatnya, tapi entah kenapa aku tidak pernah bosan dan ingin selalu memandangi tubuhnya yang semakin bagus ini apalagi perutnya yang mirip dengan roti sobek," batin Zuy yang fokus dengan perut Ray. "Ah, apa yang kamu katakan barusan Zuy? Benar-benar memalukan!" sambung batinnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu....


Pffft....


"Hahaha...." Ray tiba-tiba menyemburkan tawanya.


Sontak membuat mata Zuy yang tadinya fokus ke perut Ray kini beralih ke wajah Ray.


"Ray, kenapa kamu tertawa seperti itu? Bukannya perutmu sedang sakit?" tanya Zuy keheranan.


"Maaf sayangku, habisnya aku tidak tahan melihat wajah sayangku yang memerah," balas Ray di susul tawanya.


"Apa! Wa-wajahku memerah?" Zuy terkejut mendengarnya, ia pun memegangi wajahnya.


Ray menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya sayangku, dan lagi sebenarnya perutku baik-baik saja. Aku hanya ingin menggoda mu saja, sayangku." jelas Ray.


Seketika Zuy kembali terkejut dan membelalakkan matanya.


"Apa! Jadi sakit perut kamu hanya pura-pura aja Ray?"


"Iya sayangku, hehehe...." Ray tersenyum menampilkan baris giginya dan mengangkat dua jarinya.


Zuy mendengus kesal. "Rayyan! Kamu bener-bener deh."


Ia pun mengarahkan tangannya ke pinggang Ray dan menggelitiknya. Akan tetapi Ray malah tersenyum saja karena tidak merasakan kegelian karena gelitikan dari Pujaan hatinya, sehingga membuat Zuy mengerenyitkan keningnya.


"Lho, kenapa kamu malah senyum-senyum gitu? Apa kamu tidak merasa kegelian akibat gelitikan ku?" tanya Zuy keheranan.


"Tidak sayangku, aku malah merasa kalau kamu sedang menggaruk pinggang ku," jawab Ray.


"Kenapa bisa?"

__ADS_1


Ray menyunggingkan senyum jahilnya dan mendekatkan wajahnya ke Zuy.


"Itu karena sayangku menggunakan cara yang salah untuk menggelitik, harusnya kalau mau menggelitik tuh yang seperti ini, sayangku!" papar Ray, ia pun langsung menggelitik pinggang Zuy, sontak membuat Zuy kegelian.


Kyaaaa....


"Hahaha, berhenti! Kau membuatku kegelian, Rayyan." pekik Zuy.


"Kenapa harus berhenti sayangku, aku kan sedang mengajari mu caranya menggelitik yang benar," lontar Ray yang terus menggelitiki pujaan hatinya itu.


Bahkan bukan hanya tangannya yang menggelitik, bibirnya pun juga ikut menggelitiki nya.


"Ini namanya bukan mengajariku, tapi kamu memang sengaja menggelitiki ku!" cetus Zuy di barengi tawanya.


Lalu tiba-tiba dari arah kamarnya terdengar suara tangisan keras anaknya. Seketika Ray menghentikan aksinya itu, kemudian ia terlebih dahulu bangkit dari posisinya dan di susul oleh Zuy. Setelah itu Zuy bergegas ke arah anak-anaknya, sedangkan Ray mengambil bajunya yang berada di dalam lemari.


Karena Ray masih memakai handuk yang melilit di pinggangnya itu.


Sementara itu di sisi lainnya, Airin nampak baru keluar dari kamar mandi, karena ia merasakan tidak enak pada perutnya sehingga membuatnya harus berlama-lama di dalam kamar mandi.


"Huuu.... Ternyata mules ku ini karena datang bulan, untungnya aku bawa bekal untuk datang bulan ku." lirih Airin menepuk-nepuk perutnya.


Airin lalu melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Setelah berada di dapur, seketika Airin membelalakkan matanya sebab makanan Korea yang ia taruh di atas meja sudah tidak ada.


"Di mana makanan Korea milikku? Perasaan sebelum aku pergi ke kamar mandi, aku terlebih dulu menaruh makanan itu di sini deh," lontar Airin mencari makanannya. "Hmmmm, apa mungkin udah di simpan di tempat yang lain oleh Bu Ima." sambungnya.


Lalu Airin beralih menuju ke tempat penyimpan makanan, namun makanan miliknya tidak ada di sana, ia pun mencari di kulkas dan tempat lainnya, tetap tidak ada juga.


"Sebenarnya dimana makanan milikku itu? Masa iya di ambil sama hantu. Tunggu! Soal hantu kenapa aku ingat Pak Davin, apa jangan-jangan...." pikir Airin yang bergegas menuju ke arah ruang keluarga.


Lalu saat tiba di sana, Airin melihat Davin yang sedang duduk sambil menonton televisi, ia pun segera mendekatinya.


"Pak Davin...." sapa Airin sembari duduk di samping Davin.


Davin menoleh. "Hmmmm, kenapa Rin?" sahutnya sembari mengunyah.


Seketika Airin kembali membelalakkan matanya karena melihat makanan yang sedang di makan Davin.


"Pak Davin dapat dari mana makanan Korea itu?" tanya Airin penasaran.


"Makanan Korea? Oh maksudmu Sushi sama marshmellow yang di kasih bumbu pedas ini? Aku dapat dari meja yang ada di dapur, Rin." balas Davin.


"Pak, itu bukan Sushi sama marshmellow, tapi namanya kimbab sama toppoki. Dan lagi makanan itu punyaku, Pak!" ujar Airin memasang wajah cemberut.


"Apa! Jadi makanan kimbab dan marshmellow bumbu ini punya kamu? Maaf! Aku benar-benar tidak tahu, Rin." ucap Davin.


"Huuuu.... Pak Davin mah!" seru Airin.


Davin menghela nafasnya. "Lagian salah kamu juga kenapa makanannya tidak di beri nama. Sudah jangan ngambek gitu anak manis! Nih masih ada satu kimbab dan satu marshmellow-nya."


"Hummmph...." Airin membuang wajahnya ke arah lainnya sembari menyilangkan kedua tangannya.


"Rin, jangan ngambek dong! Nanti aku belikan lagi makanan yang seperti ini dan sebanyak yang kamu mau," lontar Davin.


Namun tetap saja Airin bergeming, lalu Davin menyumpitkan kimbab serta toppoki-nya.


"Rin, Airin."


Sesaat Airin membuang nafasnya dan menolehkan kepalanya ke arah Davin.


"Ap.... Umpt!"


Belum sempat bilang kata "Apa" tiba-tiba Davin menyuapkan kimbab dan toppoki itu ke mulut Airin.


"Bagaimana enakkan?"


"Aku bener-bener gak menyangka bahwa marshmellow di bumbu sangat enak, awalnya aku sempat mengira ini makanan aneh yang gak bisa di makan." papar Davin.


"Pak, ini namanya toppoki bukan marshmellow di kasih bumbu. Makanan ini memang enak dan aku ingin memakannya lagi," pekik Airin.


"Iya, nanti aku belikan lagi supaya kita bisa memakannya bersama-sama." kata Davin.


"Janji?"


Davin mengangguk cepat. "Iya aku janji, Rin."


Airin pun langsung menyunggingkan senyumnya, sehingga membuat Davin terpukau melihatnya.


"Senyumnya itu sama persis dengan mu, Gracia." batin Davin.


Lalu tiba-tiba....


"Affedersin! (Permisi!)" seru seseorang dari arah pintu masuk.


Sontak membuat Airin dan Davin mengarahkan pandangannya ke arah ruang tamu.


"Sepertinya ada yang datang, coba kamu lihat Rin!" titah Davin ke Airin.


Airin mengangguk patuh dan bangkit dari duduknya, lalu ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk.


Sesampainya, ia terperangah melihat seorang pria paruh baya bersama dengan wanita cantik yang berusia sekitar 37 tahun, mereka berdua tersenyum dan mengangguk sopan pada Airin.


"Maaf sebelumnya, kalau boleh tau Tuan dan Nona ini siapa ya? Dan ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya Airin pada dua orang di hadapannya itu.


Kemudian perempuan itu mengulurkan tangannya ke arah Airin dan langsung di balas oleh Airin.


"Perkenalkan nama saya Beyza Gilfan dan ini Baba saya Yash Gilfan. Dan kedatangan kami kesini adalah kami ingin bertemu dengan Aries," ucapnya seraya memperkenalkan dirinya. "Apa Aries ada di sini?" sambungnya.


"Oh, jadi kedatangan Tuan dan Nona ingin bertemu dengan Kak Aries. Maaf tapi Kak Aries tidak ada di sini," ujar Airin.


"Hah! Tidak ada di sini, lalu di mana dia?" tanya wanita yang bernama Beyza.


"Kak Aries ada di Villa sebelah, Nona. Mari saya antar!" kata Airin.


"Terimakasih," ucap Beyza.


Airin tersenyum, kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke Villa sebelahnya. Saat sampai di sana dan kebetulan pintu terbuka, Airin dan lainnya pun langsung masuk ke dalam.


"Tuan, Nona. Silahkan duduk!" Airin mempersilahkan mereka untuk duduk.


Mereka pun mengangguk secara bersamaan dan langsung duduk di atas sofa. Setelah itu, Airin melenggang menuju ke arah ruang lainnya untuk memanggil Aries.


Ketika berada di ruang keluarga, Airin melihat Aries dan Yiou sedang duduk bersama, ia pun langsung menghampiri mereka.


"Kak Aries, Mrs Yiou." sapa Airin.


Seketika keduanya langsung menoleh ke arah Airin.


"Airin...!!"


"Maaf kalau saya mengganggu kalian," ucap Airin menundukkan kepalanya.


"Tidak menggangu kok Rin, memangnya ada apa?" tanya Yiou.


Airin mendongakkan kepalanya kembali. "Euuum, itu ada tamu yang mencari Kak Aries." jawabnya.

__ADS_1


"Mencariku? Memang siapa tamunya Rin?"


Airin mengangkat bahunya. "Entah Kak, Airin juga gak tau. Tapi sepertinya bukan orang sini." ujarnya.


Karena penasaran Aries langsung bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar ya My love!" kata Aries dan di balas anggukan kecil oleh Yiou.


Lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu, sedangkan Airin menghampiri Yiou dan duduk di sampingnya.


Setelah di ruang tamu, Aries tercengang sambil membelalakkan matanya saat melihat kedua orang tersebut.


"Baba, Abla!" lirih Aries.


Baba adalah panggilan untuk Ayah, sedangkan Abla panggilan untuk Kakak perempuan. Jadi bisa di pastikan kalau mereka berdua adalah Ayah dan Kakak perempuan dari Aries, mereka juga Kakak dan keponakan dari Pak Randy yang datang dari Istanbul.


Keduanya pun tersenyum sambil bangkit dari duduknya, kemudian Aries meraih tangan keduanya dan menciumnya secara bergantian. Selesai itu, mereka kembali mendudukkan diri mereka masing-masing.


"Ba, Abla! Kenapa kalian gak bilang ke Aries kalau kalian mau datang kesini? Kan Aries bisa jemput kalian di Airport." lontar Aries.


"Maaf Ries! Kami benar-benar lupa untuk bilang ke kamu kalau kami akan ke Indonesia. Habisnya setelah kamu memberitahu soal keadaan Amca (Paman) Randy. Baba jadi kepikiran terus dan meminta ku untuk menemaninya ke Indonesia." jelas Beyza.


Aries manggut-manggut. "Oh jadi seperti itu ya Abla," lirihnya.


"Iya Ries, lalu sekarang bagaimana keadaan Amca dan Hala Nana?"


"Kalau Tante Nana sudah sedikit membaik, sedangkan Om Randy sampai saat ini masih kritis."


"Ya ampun Randy, Ries antar Baba ke rumah sakit! Baba ingin melihatnya." pinta Baba Yash.


"Iya nanti kita kesana Ba," balas Aries.


Sesaat pelayannya datang membawa minuman dan meletakkannya. Setelah itu Aries menyuruh pelayannya untuk memanggil Yiou. Selang sesaat setelah pelayannya pergi, Yiou pun datang.


"Ada apa Yank!" tanya Yiou menghampiri.


"My love, coba kamu lihat siapa yang datang!" Aries menunjuk ke arah Baba Yash dan Beyza.


Yiou mengarahkan pandangannya ke arah dimana Aries menunjuk. "Hah! Baba, Abla."


"Hai Ayi!" Beyza melambaikan tangan ke arah Yiou.


Yiou pun tersenyum sembari berjalan menghampiri Baba Yash dan Beyza. Kemudian di ciumnya punggung tangan mereka secara bergantian. Selepas itu, mereka pun melanjutkan perbincangannya.


...----------------...


Dua hari kemudian....


Rumah Dimas.


Sementara itu, Bunda Artiana nampak sedang duduk di kursi yang berada di teras depan rumahnya dengan di temani secangkir teh lippe hangat kegemaran Bunda Artiana.


Meskipun hari ini cuacanya cukup cerah, akan tetapi tidak untuk Bunda Artiana. Sebab Bunda Artiana masih terus memikirkan Maria yang sampai saat ini belum juga ada kabarnya.


"Maria, kamu dimana sekarang Nak? Bunda benar-benar mencemaskan mu. Bunda takut kalau para penculik itu melakukan hal yang tidak-tidak padamu, Nak." ucap Bunda Artiana di susul air matanya.


Lalu....


"Bunda, Dimas berangkat dulu ya!" pamit Dimas menghampiri.


Mendengar suara Dimas, seketika Bunda Artiana mengusap air matanya dan memalingkan wajahnya ke Dimas.


"Oh, kamu sudah mau berangkat ya Nak?"


Dimas pun mengerutkan dahinya saat melihat mata Bunda Artiana yang berkaca-kaca. Kemudian ia mendekat ke Bunda Artiana dan duduk berjongkok di hadapannya sambil memegang tangannya.


"Bunda kenapa? Apa memikirkan tentang Kak Maria lagi?" tanya Dimas.


Bunda Artiana menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Bunda, Bunda yang sabar ya! Semoga hari ini Polisi dan pengawal yang di utus oleh Tuan Muda menemukan titik terang tentang keberadaan Kak Maria." tutur Dimas.


"Tapi mau sampai kapan Dimas? Udah berapa hari ini tapi belum ada kabar apa-apa soal Maria. Bunda khawatir kalau Maria sudah ...." cecar Bunda Artiana di susul tangisannya.


"Sshtt.... Bunda jangan berfikiran seperti itu? Dimas sangat yakin kalau Kak Maria sekarang baik-baik aja." ucap Dimas menenangkan Bunda Artiana.


"Tapi perasaan Bunda mengatakan kalau Maria ...." lontar Bunda Artiana yang terhenti karena melihat sebuah mobil yang masuk dan berhenti tepat di halaman rumah Dimas.


"Mobil siapa itu Nak?" tanya Bunda Artiana kebingungan.


"Entah Bun, Dimas juga gak tau itu mobil siapa?" jawab Dimas.


Sesaat seorang pria berkacamata turun dari mobil tersebut dan tersenyum pada Bunda Artiana dan Dimas. Pria berkacamata itu tak lain adalah....


"Nak Archo > Tuan Archo!" ucap Bunda Artiana dan Dimas serempak sambil bangkit dari posisinya.


Archo berlari kecil menuju ke arah Bunda Artiana dan Dimas. Setelah di dekat mereka, ia pun menjabat tangan keduanya secara bergantian.


"Bagaimana kabar Bunda dan Dokter Dimas?" tanya Archo.


"Kami semua baik-baik aja, Tuan Archo." jawab Dimas. "Lalu bagaimana dengan mu?" sambungnya.


"Saya juga baik-baik saja, Dokter Dimas."


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja Nak. Bunda benar-benar senang bisa bertemu lagi dengan mu, Nak Archo." kata Bunda Artiana menepuk-nepuk punggung Archo.


Archo mengangguk. "Archo juga senang bertemu Bunda lagi."


Lalu....


"Lama tidak berjumpa dengan anda, Nyonya Artiana!" seru seseorang.


Mendengar suara menyebutkan nama Bunda Artiana. Sontak Bunda Artiana, Dimas dan Archo menoleh ke arah suara tersebut.


"Mr Mario Fuca!"


***Bersambung....



Author: "Terimakasih banyak atas dukungan melalui Like, Komen, Vote dan tips dari Kakak semuanya, sehingga CUP mencapai Popularitas sampai 2M, aku benar2 terharu dan bahagia (Lebay banget ish AQ tuh... 😒) Butuh perjuangan sampai setahun lebih, walaupun kadang Author suka malas2n, apalagi sekarang semangat hilang malah malasnya Author bertambah 😌😌😌 pokoknya Author benar2 berterimakasih dan maaf kalau CUP ceritanya masih panjang, soalnya belum ikhlas namatinnya... 😁😁🙏🙏"


Davin: "Horeee.... Nambah masker lagi...."


Ray: "Yees! Jalan-jalan dan honeymoon lagi...."


Me: "😒😒😒"


Zuy dan Airin: "☺️☺️☺️"


See you next time... 😉😉


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2