Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Aku Bahagia, Rin!


__ADS_3

<<<<<


Airin menarik nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum membuangnya, kemudian ia menatap Brian.


"Iya...."


Airin menjawabnya seraya mengangguk, sehingga Brian menyunggingkan senyum sumringahnya karena bahagia mendengar jawaban 'Iya' dari Airin. Namun berbeda dengan Davin yang menunjukkan ekspresi wajah masamnya serta dahinya yang terus berkerut.


"Singa betina yang manis, kenapa kamu pakai menjawab iya sih? Bikin mood ku buruk aja!" gerutu Davin mengepalkan tangannya dengan kuat.


Lalu....


"Kamu beneran suka sama aku, Rin?" tanya Brian memastikan.


"Iya, ta—"


"Aku bahagia Rin, benar-benar sangat bahagia!" sela Brian.


"Hei jangan menyela perkataan ku dulu, Brian! Aku belum selesai bicara." pekik Airin.


"Oh maafkan aku, Rin!"


Airin menghela nafas panjangnya.


"Iya aku memang menyukai mu, Brian. Tapi itu dulu bukan sekarang!" jelas Airin.


Sontak membuat Brian tersentak, ekspresi wajahnya pun langsung berubah seketika, senyum bahagianya perlahan memudar. Demikian pula dengan Davin yang awalnya berwajah masam kini berubah seketika bahkan senyumnya perlahan mengembang.


Brian lalu bangkit dari posisinya dan berdiri berhadapan dengan Airin.


"Rin, jadi yang kamu bilang suka padaku itu dulu bukan sekarang ini?" tanya Brian memastikan.


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Brian, itu pun rasa suka ku hanya sebatas mengagumi mu, karena kamu adalah sosok sahabat kedua yang baik dan pengertian."


Brian manggut-manggut.


"Oh jadi begitu ya, ternyata rasa suka kamu ke aku itu hanya sebatas mengagumi ku saja?"


"Iya Brian."


Brian menarik nafas panjangnya.


"Padahal tadi aku mengira kamu benar-benar menyukaiku tapi ternyata aku salah."


"Maafkan aku, Brian!"


"Tidak apa-apa, aku paham Rin. Mungkin kamu tidak menyukai ku karena aku tidak seperti Pak Davin."


Airin mengerenyitkan dahinya.


"Hmmm, tidak seperti Pak Davin?! Apa maksudmu itu Brian?"


"Aku tidak ada maksud apa-apa Rin, aku hanya mengira kalau kamu tidak menyukai ku karena aku hanya seorang OB tidak seperti Pak Davin yang Sekretaris sekaligus asisten Tuan Ray. Pasti gajinya lebih besar dari ku, makanya kamu lebih milih bersama Pak Davin dari pada aku." lontar Brian.


Lalu tiba-tiba....


Plak!


Airin mendaratkan tamparannya ke pipi Brian membuat Brian tersentak kaget.


"Rin!"


"Jadi kamu menganggap ku wanita yang seperti itu? Wanita yang materialistis yang cuma memandang harta, begitu? Hah!"


"Maafkan aku! Bukan maksudku...."


Airin lalu mencengkeram kuat kerah baju Brian.


"Hei Brian Candra! Asal kamu tahu saja, aku memang menyukainya tapi bukan karena harta yang dia miliki melainkan karena dia adalah sosok lelaki yang selalu membuat ku tersenyum, nyaman dan bahagia. Jadi rasa suka ku padanya tidak ada kaitannya dengan harta atau kemewahan yang Pak Davin miliki." jelas Airin.


Sontak membuat Davin dan Brian yang mendengarnya pun tercengang, bahkan Davin sampai menyunggingkan senyum sumringahnya. Lalu Airin melepaskan cengkeramannya seraya menghempaskan tubuh Brian sehingga membuat Brian hampir terjatuh, kemudian Airin membalikan badannya membelakangi Brian.


"Rin, aku minta maaf! Aku benar-benar tidak sengaja berbicara seperti itu, aku ...."


Airin menolehkan sedikit kepalanya.


"Simpan saja kata maaf mu itu! Dan satu lagi aku benar-benar kecewa sama kamu, Brian."


Ia pun berjalan menuju ke motornya, sesaat setelah menyalakan motornya, Airin langsung menarik gas motornya dan pergi meninggalkan Brian. Sedangkan Brian masih pada tempatnya sembari menundukkan kepalanya.


"Rin, aku benar-benar sangat menyesal. Maafkan aku!" rutuk Brian.


Dan untuk Davin, tentu saja ia terus mengarahkan pandangannya ke arah Airin yang sudah hampir tak terlihat. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk punggung Davin dengab keras sehingga Davin terkejut dan menoleh ke belakang.


"Tuan Ray! Sejak kapan Tuan ada di sini?"


Ray tersenyum dan berkata, "Sejak tadi Kak."


Davin manggut-manggut.


"Oh...."


Lalu kemudian Ray menyodorkan sebuah kunci pada Davin membuatnya mengernyit heran.


"Kunci apa ini, Tuan Ray?" tanya Davin.


"Itu kunci motor ku, Kak. Pakai dan cepatlah kejar Airin! Jangan sampai terjadi sesuatu padanya." ujar Ray.


"Tapi Tuan...."


"Udah gak usah pakai tapi-tapi, cepat kejar dia! Mumpung masih belum jauh, Kak."


Davin menganggukkan kepalanya seraya mengambil kunci motor tersebut dari tangan Ray.


"Terimakasih Tuan Ray, kalau begitu aku pergi dulu."


"Sama-sama Kak. Hati-hati!"


"Baik Tuan."


Davin melenggang pergi mengambil motor sport milik Ray, begitu juga dengan Ray yang berjalan ke arah mobilnya.


Sesaat setelah sudah di jalanan, Davin terus saja mengendarai motornya mengejar Airin yang sudah berada beberapa meter di depannya. Namun tiba-tiba saja ia menghentikan laju motornya karena Airin melihat Airin menepikan kendaraannya di sisi jalan.


"Hmmm, kenapa singa betina berhenti disana?" lirih Davin mengernyit heran.


Kemudian ia melajukan kembali motornya ke arah di mana Airin berhenti.


Sementara itu....


Setelah memarkirkan motornya, Airin menjejakkan kakinya ke arah kedai bakso yang berada di sana. Setibanya....


"Abang pesen bakso tanpa mie ya, makan disini!" kata Airin.


"Oh, siap Neng!"


Airin tersenyum kemudian berjalan ke arah tempat duduk yang sudah di sediakan. Lalu sesaat Davin datang dan menghampiri Airin.


"Hoe singa betina!"


Davin menepuk pundak Airin, seketika Airin tersentak kaget dan langsung memalingkan wajahnya ke arah Davin.


"Pak Davin!"


"Ahahaha, maaf Rin sudah mengagetkan mu," ucap Davin seraya menarik kursi dan mendudukinya.


"Kenapa Pak Davin bisa ada disini?" tanya Airin kebingungan.


"Itu tadi pas di jalan aku gak sengaja liat motor kamu terparkir di sisi jalan. Jadi ya dari pada aku penasaran, lebih baik aku langsung kesini eh ternyata benar kalau kamu beneran ada di sini, singa betina."


"Oh.... Begitu ya Pak. Lalu di mana Tuan bos?"


"Tuan Ray sudah pulang duluan dan dia meminta ku untuk membawa motor sportnya, Rin."


Airin manggut-manggut.


"Oh...."


Kemudian pelayan dari kedai bakso tersebut membawakan pesanan Airin.


"Ini Kak." ia meletakkan semangkuk bakso milik Airin.


"Terimakasih." ucap Airin.


"Sama-sama Kak."


Pelayan itu pun meninggalkan mereka berdua.


"Pak Davin gak pesan bakso?"


"Udah, itu lagi di bikinin."


"Oh...." lirih Airin sembari mengambil tempat sambal di depannya.


Ia lalu menaruh beberapa sendok sambal ke baksonya sehingga membuat Davin terperangah melihatnya.


"Hei singa betina!"


Airin menengadah. "Apa."


"Kamu gak salah tuh ngasih sambal sebanyak itu di bakso kamu?"


"Gak Pak. Soalnya hari ini kepala ku sakit dan hampir mau pecah. makanya aku mampir kesini dan ingin makan makanan yang pedas, hihihi....." ujar Airin yang berbohong.

__ADS_1


"Hmmm, jadi begitu ya."


"Iya."


Davin menyunggingkan senyumnya.


"Hmmm, dasar singa betina yang manis masih sempat-sempatnya tertawa seperti itu, padahal hatimu sedang terluka karena perkataan Brian tadi." batinnya.


Tak lama makanan yang di pesan Davin pun sudah di antar kemudian mereka menyantap makanannya. Sesekali Davin melirikkan matanya ke Airin yang sedang menyantap makanannya dengan lahap dan nampak keringat yang keluar di kening Airin. Melihat itu, Davin menghentikan makannya lalu ia mengambil selembar tisu yang berada di dekatnya.


"Singa betina!"


Airin mendongakkan kepalanya melihat Davin.


"Iya Pak?"


Davin mengulurkan tangannya ke arah kening Airin seraya mengusap keringatnya dengan tisue tersebut, seketika membuat Airin terperangah.


"Pak!"


"Kamu pasti kepedesan kan makanya sampai berkeringat seperti ini! Bahkan bibir kamu pun sampai merah dan bengkak begitu." lontar Davin.


Airin tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak juga, justru ini malah masih kurang Pak dan aku mau menambahnya lagi."


"Sudah cukup jangan menambahnya lagi! Nanti kamu bisa sakit perut lho!" tutur Davin seraya menjentikkan jarinya ke kening Airin.


"Aw, iya baiklah aku gak akan nambah. Tapi setidaknya jangan menyentil ku, sakit tau Pak!" pekik Airin.


Davin terkekeh. "Iya, maaf singa betina. Yaudah kita makan lagi yuk!"


"Oke."


Mereka berdua kembali menyantap makanannya.


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai makan dan membayarnya, mereka berdua keluar dari kedai tersebut berjalan ke arah motornya.


Lalu....


"Rin, sebelum pulang kita duduk di taman dulu yuk! Perutku bener-bener begah banget nih."


"Lagian tadi Pak Davin makannya sampai dua mangkuk, makanya perutnya jadi begah tuh. Hahaha...."


Davin mendesah. "Lagian aku lapar Rin dan bakso di situ sangat enak, makanya aku nambah sampai dua porsi."


"Hmmm, dasar Oppa-Oppa saranghe." Airin menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka berdua pun menaiki motornya masing-masing dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sesampainya di taman, Airin dan Davin kembali memarkirkan motornya di sisi jalan. Davin terlebih dahulu berjalan ke taman dan duduk di kursi panjang yang berada di dekat air mancur.


Sesaat....


"Pak Davin, ini untuk anda!" Airin memberikan minuman kaleng bersoda pada Davin.


"Terimakasih Rin," ucap Davin sembari mengambil minuman tersebut.


"Sama-sama."


Airin mendudukkan dirinya di samping Davin.


"Rin, bagaimana? Apa sekarang perasaan mu sudah membaik?"


Airin mengerenyit. "Hmmm, maksud Pak Davin apa?!"


Davin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Maaf Rin sebelumnya! Eum, sebenarnya tadi waktu di parkiran aku melihat mu bersama dengan Brian."


Airin tersentak. "Apa! Jadi Pak Davin ada di sana juga?"


Davin menganggukkan kepalanya.


"Iya Rin dan aku juga mendengar pembicaraan kalian berdua."


"Jadi Pak Davin juga mendengarnya ya?" Airin menghela nafas panjangnya. "Maafkan aku ya Pak!"


"Maaf? Kenapa kamu minta maaf, singa betina?!"


"Ya karena tadi aku bilang ke Brian kalau aku menyukai Pak Davin."


"Oh kerena itu ya?!"


"I-iya Pak." balas Airin di barengi anggukannya.


Davin lalu menyandarkan tubuhnya di dinding kursi seraya membuang nafasnya.


Airin menundukkan kepalanya. "Itu sebenarnya—"


"Sebenarnya apa singa betina?" tanya Davin yang semakin penasaran.


Namun sayangnya Airin tidak menjawabnya dan terus saja menunduk seraya menggigit bibir bawahnya.


"Ya udah gak apa-apa kalau kamu gak mau bicara. Tapi asal kamu tahu Rin, sebenarnya di saat kamu bilang kalau kamu menyukai ku di depan Brian, entah kenapa aku malah seneng banget ya Rin bahkan aku sampai berharap bahwa yang kamu katakan itu benar bukannya sebuah kebohongan." lontar Davin.


Airin tercengang sembari mengangkat kepalanya dan menatap Davin saat mendengar kata yang di lontarkan oleh Davin.


"Pak!"


Davin memalingkan wajahnya ke arah Airin.


"Rin, tentunya kamu tahu kan cerita masa lalu ku dengan Gracia?"


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya aku tahu itu, Pak."


"Dan saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengunci hatiku dan tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun. Ya meskipun aku suka genit terhadap wanita lain, tapi aku tidak ada perasaan apa-apa terhadap mereka. Namun entah mengapa setelah aku bertemu dan dekat dengan kamu, ada perasaan yang tidak biasa yang aku rasakan dan semakin lama rasa itu semakin nyata Rin." ungkap Davin.


"Emm, memangnya perasaan apa yang Pak Davin rasakan itu?" tanya Airin penasaran.


Davin tersenyum lalu berkata, "Tentu saja perasaan bahwa aku menyukai mu, singa betina!"


Airin terperangah. "Apa! P-P-Pak Davin menyukai ku?"


"Iya singa betina, aku menyukai mu tapi bukan sebagai bawahan, teman ataupun seorang adik melainkan sebagai seorang wanita. Makanya pada saat kamu bilang ke Brian kalau kamu menyukai ku, aku benar-benar bahagia Rin dan aku berharap apa yang kamu katakan itu adalah suatu kebenaran bukan kebohongan."


Seketika Airin mengulum senyumnya dan menunduk, jantungnya berdegup sangat kencang sehingga ia memegang dadanya seraya meremas bajunya.


"Rin."


Airin menghela nafas panjangnya lalu kembali ke arah Davin.


"Emm, sebenarnya apa yang aku katakan pada Brian itu benar kalau aku memang menyukai Pak Davin. Sama halnya dengan Pak Davin, aku menyukai Pak Davin sebagai seorang pria bukan atasan ataupun sahabat dan lagi bukan juga karena status Pak Davin yang sebagai Asisten dan sekretaris pribadinya Tuan bos." ungkap Airin.


Mendengarnya pun membuat Davin kembali menyunggingkan senyumnya kemudian ia meraih tangan Airin seraya menggenggamnya.


"Nah singa betina, kita sudah tahu perasaan kita masing-masing. Jadi bagaimana kalau aku meminta mu untuk menjadi pendamping hidupku? Apa kamu bersedia menerima ku?" tanya Davin penuh harap.


Tanpa menunda, Airin langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya aku mau Pak."


"Terimakasih ya singa betina karena mau menerimaku!" ucap Davin.


Airin menggeleng-geleng pelan.


"Tidak Pak, seharusnya aku yang berterimakasih karena Pak Davin sudah memilih ku sebagai pendamping Pak Davin. Padahal aku banyak kekurangannya, dari mulai keadaan keluarga, sifatku dan bahkan masih banyak lagi kekurangan yang lainnya."


Davin lalu menempatkan tangannya di atas kepala Airin.


"Jangan berkata seperti itu, singa betina! Di dunia ini tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan, semuanya memiliki kekurangan masing-masing terutama aku. Dan lagi apapun kekurangan kamu, aku tetap akan menerima mu apapun itu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, ya singa betina yang manis!" kata Davin.


Airin tertegun mendengar perkataan dari Davin, ia pun menyunggingkan senyumnya dan kembali mengangguk.


"Baik Pak Davin, terimakasih."


"Sama-sama, yaudah kalau begitu apa yang kamu tunggu, cepat peluk aku singa betina yang manis!"


"Maaf Pak, tapi tidak ada yang namanya tempat duduk menghampiri orang."


Davin pun langsung mengerti apa maksud perkataan Airin, lalu ia merengkuh tubuh Airin dan memeluknya dengan erat.


"Terimakasih singa betina yang manis!"


******************************


Villa Z&R


—Pukul 06.15pm


Sementara itu, Ray terlihat baru saja melangkah masuk ke dalam Villanya, lalu ia berpapasan dengan Mamahnya Airin.


"Ray, selamat datang."


"Terimakasih Mah."


Ray terlebih meraih tangan Mamahnya Airin seraya mencium punggung tangannya.


Lalu....


"Emm, Davin mana Ray? Kalian gak pulang bareng?" tanya Mamahnya Airin sembari mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Kak Davin sedang ada urusan Mah, makanya dia gak


Mamahnya Airin manggut-manggut.


"Oh begitu ya?!"


"Iya Mah." balas Ray. "Yaudah kalau gitu Ray ke kamar dulu ya Mah, mau bebersih."


"Iya Ray."


Ray tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah lift di Villanya.


Setibanya di depan kamar si kembar, Ray langsung mendorong pintunya seraya membukanya.


"Aku pulang!" seru Ray.


Zuy yang sedang membereskan mainan si kembar pun langsung menolehkan kepalanya ke arah pria tampannya.


"Ray!"


"Iya sayangku."


Zuy bangkit dari posisinya dan mendekat ke Ray.


"Selamat datang tampan-ku."


"Terimakasih sayangku." Ray mencium pipi Zuy.


Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah tempat tidur dimana Baby Rayn dan Baby Zea sedang tertidur.


"Si ganteng dan cantiknya kita sudah pada tidur ya?!"


"Iya Ray."


Ray mendesah. "Yaudah kalau gitu kita ke kamar kita yuk!"


"Oke."


Lalu keduanya pun beralih ke arah kamarnya kemudian duduk di atas sofa.


"Duh lelahnya!" lirih Ray menyandarkan tubuhnya ke dinding kursi seraya merenggangkan otot tangannya.


"Mau ku buatkan sesuatu?" tawar Zuy.


"Nanti aja sayangku. Oh iya ada yang aku ingin ceritakan ke kamu, sayangku."


Zuy menaikkan satu alisnya.


"Hmmm, memangnya apa yang ingin kamu ceritakan itu Ray?"


"Tadi pas jam pulang kantor, Brian mengungkapkan perasaannya pada Airin."


Sontak membuat Zuy sangat terkejut mendengarnya.


"Apa! Maksud mu Brian nembak Airin, begitu?!"


Ray mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya sayangku."


"Terus apa yang terjadi, apa Airin menerimanya atau menolaknya? Cepat katakan padaku!" desak Zuy.


Ray menarik nafas panjangnya, kemudian ia menceritakan tentang apa yang terjadi dan berhasil membuat Zuy kembali terkejut.


"Hah! Brian berkata seperti itu?!"


"Iya sayangku!"


Zuy mengerenyitkan dahinya.


"Ck, aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan mengatakan hal yang menyinggung perasaan Airin."


"Iya aku juga tidak menyangka kalau dia bisa mengatakan hal seperti itu."


"Terus bagaimana kelanjutan Airin dan Pak Davin, Ray?"


Ray mengangkat bahunya. "Entahlah sayangku, aku berharap semoga berjalan dengan baik."


"Ya semoga aja ya."


Ray menegapkan posisi duduknya lalu ia menempatkan tangannya di dagu Zuy.


"Sayangku, aku ingin bebersih!"


"Oh, yaudah kalau begitu aku siapkan dulu airnya ya!"


Zuy lalu bangkit dari posisinya dan saat hendak melangkah, Ray malah menarik tangan pujaan hatinya sehingga terjatuh dalam pelukannya.


"Ray, katanya mau bebersih!"


"Iya tapi nanti dulu sayangku, ada sesuatu yang ingin aku lakukan."


Zuy mengerenyit. "Yang ingin kamu lakukan?!"


Ray hanya tersenyum kemudian mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy seraya menyesapnya dengan lembut.


Sesaat mereka melepaskan tautannya, Ray lalu beralih mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Sayangku, mumpung anak-anak tidur, bantu aku bebersih yuk!"


"Tapi aku udah mandi!"


Seketika Ray merengut, lalu ia bangkit dari posisinya dan mengangkat tubuh Zuy.


"Ray...."


"Tidak ada penolakan sayangku!"


Sehingga membuat Zuy menghela nafas panjangnya, kemudian Ray bergegas menuju ke arah kamar mandi dan masuk.


Braak!


(Travelling otak ya. 🤭🤭)


*******************************


Rumah Dimas.


°Beberapa saat sebelumnya....


Sesampainya di rumah, Dimas dan Eqitna berjalan masuk ke dalam rumahnya. Eqitna langsung mendaratkan bokongnya di atas sofa, sedangkan Dimas malah kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Bunda Artiana.


"Dimas!" lirih Eqitna


Setelah di depan kamar Bunda, Dimas langsung memutar handle pintu Bunda sembari mendorongnya hingga terbuka kemudian melangkah masuk.


"Bunda, Dimas pul—" ucapnya pun terhenti karena ia tersadar bahwa Bunda Artiana sudah tidak ada lagi.


Seketika Dimas langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang Bunda Artiana sembari menundukkan kepalanya.


Lalu Eqitna datang menghampiri Dimas.


"Dimas...."


Dimas menengadah melihat ke arah Eqitna.


"Iya Qi," lirih Dimas seraya mengusap air matanya.


Eqitna tersenyum dan duduk di samping Dimas.


"Dim, ini sudah hari ke tujuh kamu seperti ini!"


"Maafkan aku! Tapi aku benar-benar masih belum percaya bahwa Bunda pergi meninggalkan kita. Aku masih merasakan Bunda ada di tengah-tengah kita, Qi." ujar Dimas di barengi air matanya yang mengalir.


Eqitna lalu memeluk tubuh suaminya.


"Iya aku tahu, Dim. Tapi setidaknya jangan seperti ini terus! Kasihan Bunda disana, pasti beliau juga sedih melihat kamu seperti ini." tuturnya.


"Maafkan aku!"


"Iya tidak apa-apa, Dim."


Lalu tiba-tiba....


Praaang....


Terdengar suara gaduh dari arah luar, seketika membuat Dimas dan Eqitna tersentak kaget.


"Suara apa itu?"


***Bersambung....


Author: "Hai Kakak2 kesayanganku. Maafkan Author yang baru bisa update! Soalnya Author istirahat pulang menjenguk rumah baru kekasih halal Author, karena Author sangat merindukannya. Ya sekalian istirahat sama refreshing otak biar gak ngebul. 😁😁✌️ Terimakasih banyak yang sudah menunggu cerita dari anak2 songong ku, terimakasih banyak untuk tips, hadiah dan Votenya dari Kakak semuanya. 🙏


Dan sebelum memasuki bulan Ramadhan, Author minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata atau ucapan yang salah. Semoga Kakak selalu dalam lindungan Allah.


Tetap semangat.... semangat.... semangat... Jaga kesehatan dan sukses selalu buat Kakak semuanya. sayang banyak7x dari Author gaje/A3 ♥️😘😘"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2