Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Penculik Tanpa Nama....


__ADS_3

<<<<<


"Sabar ya Mam, sebentar lagi Mam akan terbebas dari tikus-tikus itu."


Archo bergumam di dalam hatinya, sangat jelas bahwa saat ini emosinya tengah memuncak. Terlihat dari sorot matanya yang tak biasa, rahangnya yang mengeras, urat marahnya sudah muncul di pelipisnya, bahkan buku-buku tangannya pun nampak memutih akibat ia mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Tuan Archo...." tegur Dimas membuat Archo memalingkan wajahnya ke arah Dimas yang berada di sampingnya.


"Iya Dok?"


"Maaf sebelumnya!" Dimas membuang nafasnya. "Tuan Archo, apa informasi yang anda dapatkan ini benar, kalau mereka membawa dan menyekap Kak Maria di Kota ini?" tanya Dimas.


"Ya tentu saja informasi yang saya dapatkan dari orang suruhan saya ini sangat benar, kalau Mam di bawa dan di sekap di Kota ini," ujar Archo.


"Oh, Syukurlah kalau memang informasi ini benar," ucap Dimas dengan leganya.


"Kenapa anda tiba-tiba bertanya seperti itu Dok? Apa jangan-jangan anda tidak percaya dan ragu dengan informasi yang saya dapat ini?" cecar Archo.


"Ya jujur saja, sebenarnya saya sedikit ragu dan lagi perasaan saya juga gak enak," balas Dimas.


Archo mengerenyit. "Perasaan gak enak? Maksud anda, Dok?"


Sekilas Dimas mengangkat bahunya. "Entahlah, saya juga gak tau Tuan Archo."


"Apapun itu, saya berharap itu bukan apa-apa dan semoga aja Mam benar-benar ada di sana," lontar Archo.


Dimas manggut-manggut.


"Ya semoga aja Tuan Archo." lirih Dimas.


*************************


Villa Noel Gallagher


Sesampainya di lokasi, Archo, Dimas, beberapa pengawal dan polisi langsung turun dari mobilnya masing-masing.


Lalu....


"Mr Archo...." sapa-nya.


"Apa benar ini tempat mereka?" tanya Archo.


"Iya Mr Archo, ini memang tempat mereka menyekap Mrs Maria," jawab pengawal itu.


"Oke kalau begitu, kita langsung masuk ke Villa itu sekarang!" titah Archo.


Namun....


"Tunggu Tuan! Lebih baik biar anggota kami dulu yang masuk ke sana dan mencari tahu." kata Polisi.


Sejenak Archo terdiam lalu sesaat ia menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Polisi.


Kemudian Para petugas polisi yang berjumlah empat orang dan di tambah dua orang pengawal itu pun langsung menuju ke arah Villa tersebut.


Tak lama kemudian mereka keluar dari Villa tersebut dengan membawa dua orang laki-laki dan satu wanita, Archo dan Dimas pun langsung menghampirinya. Dan ....


Bugh!


Archo memukul salah satu pria tersebut, membuat lainnya tersentak.


"Honey...." teriak si wanita itu.


"Kakak!" timpal pria satunya.


"A-apa salah saya? Kenapa saya di pukul seperti ini?" tanya pria yang di pukul Archo.


Mendengar itu membuat Archo menggertakan giginya, lalu ia pun mencengkeram kuat kerah baju pria tersebut sampai lehernya tercekik oleh Archo.


"Apa yang kamu lakukan pada suami ku! Lepaskan dia b*jingan!" lagi-lagi wanita itu berteriak.


"Le-lepaskan! I-ini membuatku tercekik." lirih si Pria tersebut.


"Cepat katakan padaku! Dimana kalian menyembunyikan Mam." cerca Archo


"Ma-maksud Tuan apa? Sa-saya benar-benar tidak mengerti," ucap pria itu terbata-bata.


Sehingga membuat emosi Archo semakin memuncak, lalu ia kembali mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke pria tersebut, akan tetapi Dimas langsung menahan tangan Archo.


"Tuan Archo, tahan emosi mu itu!" tutur Dimas.


"Maaf Dokter Dimas, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan emosi ku ini. Aku ingin memberikan hukuman untuk mereka karena sudah menculik Mam." cetus Archo.


"Iya saya tau itu, tapi lihatlah wajah mereka dengan teliti! Sepertinya mereka bukan orang yang menyekap Kak Maria," papar Dimas.


Mendengar itu Archo menajamkan pandangannya ke arah orang di hadapannya itu, seketika matanya terbelalak saat mengetahui bahwa orang yang di hadapannya itu bukan orang yang membawa Maria. Ia pun langsung melepaskan cengkeramannya dari pria tersebut.


"Honey, kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa," jawabnya.


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang berdiri di dekatnya itu. Lalu....


"Sebenarnya siapa kalian semua, kenapa kalian tiba-tiba datang dan menyerang kami?" tanya si wanita itu dengan nada tinggi.


Kemudian salah satu Polisi mendekat ke arah wanita tersebut dan memberitahukan kepada wanita itu tentang tujuan mereka datang ke Villa itu. Setelah itu....


"Oh, jadi kalian mengira kalau kami adalah orang yang sudah menculik Ibu dari Tuan ini. Maaf Tuan-tuan, asal kalian tau saja kami baru saja membeli Villa ini beberapa hari yang lalu dari seorang wanita, dan kami baru menempati Villa ini tadi malam," ujar si wanita membuat Archo terkejut.


"Barusan kalian bilang apa? Kalian baru membeli Villa ini dari seorang wanita?" tanya Archo.


"Iya Tuan...." jawab si pria.


"Lalu siapa wanita itu, apa kalian mengenalnya." Dimas pun ikut bertanya.


Akan tetapi pria tersebut menggelengkan kepalanya.


"Maaf Tuan, kami tidak mengenalnya, dia hanya menawarkan Villa ini dengan harga murah dan kebetulan kami juga sedang mencari tempat tinggal, maka dari itu kami langsung membeli Villa ini," jelas pria itu.


"B*stard!" umpat Archo melayangkan tinjunya ke pintu.


"Sabar Tuan Archo."


Lalu salah satu Polisi bersama Pengawal datang dari dalam Villa itu.


"Maaf Tuan, ada sesuatu yang akan kami tunjukkan pada anda," ujar Polisi itu.


Archo mengerenyit. "Sesuatu? Sesuatu apa yang ingin anda tunjukkan itu?"


"Mari ikut kami Tuan!"


Archo dan lainnya langsung masuk ke dalam Villa dan mengikuti langkah Polisi ke arah yang ia tuju. Sesaat Polisi itu menghentikan langkahnya di depan kamar (Tempat bekas Maria di sekap).


Setelah pintu di buka, Dimas dan Archo langsung masuk ke dalam kamar tersebut seraya mengedarkan pandangannya. Lalu tiba-tiba mata dua pria berkacamata itu langsung terbelalak melihat sebuah tulisan tangan yang terdapat pada cermin dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Sampai kapanpun juga kami tidak akan pernah membebaskan Maria, sebelum ia mengabulkan keinginan kami semua. Teruslah mencarinya sampai rambut kalian beruban! Hahaha...."


^^^Salam si penculik wanita Lumpuh^^^


^^^Tanpa nama :-P^^^


"Jadi ini benar-benar Villa bekas penculikan?" lirih pria tersebut.


"Sepertinya sih iya honey," balas si wanita.


Pria itu pun mendesah. "Haaa, kalau tau begitu aku tidak akan membelinya." sesalnya.


Lalu tiba-tiba....


Prank....


Archo melempar sebuah Vas bunga ke arah cermin itu hingga pecah.


Aaargh....


"Benar-benar tidak bisa di percaya, ternyata mereka lebih pandai dari apa yang kita duga. Sebenarnya siapa bos dari kedua orang itu dan apa yang di inginkannya, sampai-sampai dia menyekap Mam seperti itu," umpat Archo, emosinya pun sudah tidak terkontrol lagi.


Sehingga Dimas kembali menenangkan Archo.


Setelah ingatan Mira dan Dadan kembali pulih, mereka berdua langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga Archo dan Dimas tahu bahwa Yon dan Fan hanyalah orang suruhan saja.


**********************


Sementara itu di tempat lainnya....


Sebuah rumah yang terletak di pinggiran kota, nampak empat orang terdiri dari tiga orang pria dan satu orang wanita tengah mengobrol di ruang keluarga dan mereka tak lain adalah Noel, Yon, Fan dan Desi.


Ternyata setelah Fan memberitahu ke Noel tentang Polisi dan orang-orang dari Archo tengah mencari keberadaan Maria. Noel pun langsung menyuruh Desi untuk menawarkan Villanya kepada orang yang akan membelinya.


Setelah Villa terjual, Noel langsung membeli rumah yang terletak di pinggiran Kota dan pindah ke tempat tersebut.


"Bos, apa anda yakin kalau tempat ini aman untuk kita tinggali?" tanya Fan yang nampak khawatir.


"Kamu tenang saja, aku pastikan tempat ini sangat aman dan tidak ada yang mengetahuinya." ujar Noel.


"Lalu bagaimana jika mereka benar-benar tahu keberadaan kita? Apa kita akan pindah ke tempat lain lagi atau menyerah?" Yon pun ikut bertanya.


"Tentu saja kita akan pindah ke tempat lain lagi, pokoknya aku tidak akan menyerah sebelum wanita lumpuh itu mengabulkan keinginan ku." tegas Noel.


Yon dan Fan pun menghela nafasnya secara bersama.


"Iya kalau itu terserah Bos aja deh, asal kita aman dan terbebas dari yang namanya hotel prodeo." ucap Fan.


"Iya kalian tenang aja, pokoknya kalau kalian tetap berada di bawah ku kalian pasti aman." lontar Noel.


"Baiklah kalau bos sudah berkata seperti itu."


Lalu....


"Bos...."


"Ada apa Desi sayang?"


"Eemmm, bagaimana kalau Bos mempertimbangkan perkataan Mrs Maria yang waktu itu," kata Desi.


Noel mengerenyit. "Mempertimbangkan perkataan Mrs Maria?"


"Jadi gini loh bos, bukankah waktu itu Mrs Maria menyuruh anda menculik orang yang mirip dengannya itu dan meminta tebusan pada Tuan Ray. Nah siapa tau kalau bos menyetujui perkataan Mrs Maria itu, siapa tau dengan begitu keinginan bos langsung terkabul dan kita juga tetap aman dari hukuman," lontar Desi.


"Bagaimana bos?"


"Hmmm, boleh juga di coba. Tapi bagaimana caranya aku menemukan wanita itu? Modelnya saja aku tidak tau seperti apa dia?"


"Bos kan bisa minta bantuan sama teman bos yang bernama Andrew, bukankah dia menyukai wanita itu. Aku pastikan dia akan membantu anda," tutur Desi.


Noel mengangguk. "Baiklah aku akan meminta bantuan pada si Andrew."


"Nah gitu dong, baru ini yang namanya Noel Gallagher bos tercinta kami," Desi menyanjung Noel.


Seketika membuat Noel tersenyum dan mendaratkan ciuman pada Desi. Sedangkan Yon dan Fan hanya bisa menjadi penonton saja.


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Villa Z&R


—Pukul 11.40pm


Zuy terlihat ada di dalam kamar si kembar, karena beberapa saat yang lalu Baby R terbangun dari tidurnya dan menangis kencang membuat Zuy harus menidurkan Baby R kembali. Setelah Baby R tertidur, perlahan Zuy menempatkannya ke box dekat dengan Baby Z, kemudian ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya lagi.


"Apa anak-anak terbangun, sayangku?" tanya Ray yang berada di ranjangnya.


"Iya tadi Baby R bangun karena haus, Ray." jawab Zuy sambil mendaratkan bokongnya di atas ranjang.


"Oh...." lirih Ray manggut-manggut.


"Lalu kenapa kamu juga ikutan bangun?" tanya Zuy menaikan kakinya ke atas ranjang dan duduk menyandar.


"Itu karena kamu tidak ada di samping ku, sayangku. Jadi aku terbangun dari tidur ku. Tentunya kamu tahu kan sayangku, aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada di samping aku," ucap Ray manja sambil menempatkan kepalanya di atas paha Zuy.


"Hmmm, dasar kamu ya manjanya melebihi si kembar." gumam Zuy.


"Biarin bleeeh, yang penting aku manjanya sama Mamah cantiknya si kembar." lontar Ray.


"Huuumph!" Zuy mendengus membuat Ray terkekeh.


Sesaat....


"Ray...."


"Apa sayangku?"


"Besok aku boleh ya pergi ke rumah Nenek, soalnya aku udah janji dengan Nenek," Zuy meminta izin pada Ray.


"Tentu boleh sayangku, asal kamu hati-hati dan harus bawa pengawal untuk menjaga kamu serta anak-anak."


Seketika Zuy menyunggingkan senyum sumringahnya.


"Terimakasih Ray, dan lagi aku juga ingin bertanya pada Kak Eqitna soal si kembar," ucap Zuy.


"Bertanya soal si kembar!" Ray tersentak dan langsung bangkit dari posisinya menghadap ke Zuy. "Memangnya ada apa dengan si kembar sayangku? Apa mereka sakit?" sambungnya yang panik.


Zuy mengibas tangannya. "Tidak, mereka tidak sakit Rayyan."


"Lalu...."


"Aku cuma ingin bertanya soal perkembangan mereka saja, kamu kan tahu kemaren keduanya sudah bisa duduk sendiri tanpa di bantu padahal usia mereka belum menginjak enam bulan. Rana aja bisa duduk sendiri saat usianya menginjak tujuh bulan, Ray," papar Zuy.

__ADS_1


"Ya itu karena anak-anak kita memang pintar sejak dini sayangku, persis seperti Daddy-nya."


"Hmmmm, iya deh memang keduanya mirip dengan mu, Ray. Bahkan wajah mereka kalau sedang kesal sangat mirip sekali dengan Daddy-nya ini." ujar Zuy.


"Hehehe.... Pastinya mereka mirip dengan ku, soalnya aku yang sudah menaburkan benih dan menyicil telinga mereka sampai full," ucap Ray dengan bangganya.


"Issh, dasar kamu ya! Untung saja si kembar udah pada tidur, jadi telinga mereka aman dari ucapan mesum-mu ini, Ray." Zuy menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.


Ray merasa gemas saat melihat ekspresi wajah pujaan hatinya itu, ia lalu mendekatkan wajahnya dan didaratkan bibirnya ke bibir Zuy membuat Zuy terbelalak dan membalas ciuman maut dari Ray sambil mengalungkan tangannya ke leher Ray.


Lima menit berlalu bukannya melepaskan tautannya justru malah semakin mendalam bahkan Ray sudah membaringkan tubuh pujaan hatinya itu dengan posisinya tubuhnya di atas tubuh Zuy, tangannya bergerak aktif memainkan Squishy milik pujaan hatinya itu. Sepuluh menit berlalu barulah mereka berdua melepaskan tautan bibirnya.


"Rayyan...." lirih Zuy dengan wajahnya yang memerah.


Melihat itu pun membuat Ray merona dan kembali mendekatkan wajahnya.


"Sayangku, kamu benar-benar sudah menggodaku. Jangan salahkan aku kalau malam ini kamu tidak bisa tidur nyenyak karena fanservice-ku ini," bisik Ray seraya menghujani ciumannya dan meninggalkan bekas merah di seluruh tubuh pujaan hatinya.


Dan setelah itu..... (Skip misteri ranjang bergoyang, wkwkwk)


Keesokan harinya....


Menjelang siang hari....


Setelah selesai dengan semua aktivitasnya, Ray, Davin dan Airin pun sedari tadi sudah berangkat ke Perusahaan CV.


Kini Zuy bersama si kembar dan lainnya sudah berada di perjalanan menuju ke arah rumah Dimas.


**********************


Rumah Dimas.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit, mereka akhirnya sampai di rumah Dimas. Namun yang masuk hanya mobil Zuy saja sedangkan untuk para Pengawalnya berjaga di depan rumah Dimas.


Zuy pun turun dari mobilnya dan setelah menempatkan si kembar di stroller-nya, Zuy dan Bu Ima langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk di ikuti Henri dan Bu Ima.


Setelah berada di ambang pintu, Zuy melihat Bunda Artiana sedang mengobrol dengan seorang wanita dan seorang pria beranjak tua di ruang tamu.


Mereka adalah Daddy Mario dan Adriene.


Lalu....


"Permisi...." seru Zuy.


Mendengar suara tak asing di telinga, Bunda Artiana pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu, seketika senyumnya mengembang saat tau kalau yang datang adalah cucu pertamanya itu.


"Cucuku...." ucap Bunda Artiana sambil bangkit dari posisinya.


"Cucuku? Siapa dia Nyonya?" tanya Daddy Mario penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Daddy Mario, ia melangkahkan kakinya ke arah Zuy.


Dan karena penasaran Daddy Mario pun ikut bangkit dari posisinya, begitu pula dengan Adriene, lalu mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Betapa terkejutnya Daddy Mario dan Adriene saat matanya menangkap sosok wanita (Zuy) sedang berdiri di pintu.


"Daddy siapa wanita itu, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Kimberly dan Mam Maria?" tanya Adriene penasaran.


Namun Daddy Mario tidak menjawab pertanyaan Adriene, matanya hanya terfokus pada Zuy saja sambil menyunggingkan senyumannya.


"Dia benar-benar cantik mirip Maria dan Kimberly-ku," batin Daddy Mario.


Sementara itu.....


"Cucu dan cicitnya Nenek, akhirnya kalian datang juga," sambut Bunda Artiana sambil memeluk cucunya itu.


"Maaf ya Nek kalau Zuy terlambat, soalnya di jalan sedikit macet." ucap Zuy.


"Iya tidak apa-apa cucuku," balas Bunda bisa Artiana.


Sesaat mereka melepaskan pelukannya.


"Sepertinya Nenek sedang ada tamu ya?" tanya Zuy.


Sekilas Bunda Artiana menoleh ke arah Daddy Mario dan kembali lagi ke Zuy dan mengangguk.


"Iya cucuku, Nenek sedang ada tamu," jawab Bunda Artiana.


"Oh...." lirih Zuy


"Yaudah ayo masuk! Kita mengobrol di dalam aja dan Nenek juga ingin memperkenalkan kamu pada tamu Nenek itu." ajak Bunda Artiana.


Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil mendorong stroller si kembar menuju ke arah Daddy Mario dan Adriene.


Saat sudah berada di dekat Daddy Mario dan Adriene....


"Nah Mr Mario, Nona Adriene. Perkenalkan ini Zuy cucu pertama saya," Bunda Artiana memperkenalkan Zuy pada Daddy Mario dan Adriene.


Adriene pun langsung mengulurkan tangannya ke arah Zuy.


"Adriene...."


Zuy tersenyum sopan seraya membalas uluran tangan Adriene. "Zuy...."


Kemudian mata Adriene beralih melihat ke arah stroller si kembar.


"Lalu mereka berdua ini siapanya kamu?" tanya Adriene.


"Mereka anak-anak saya Miss," jawab Zuy.


"Oh ternyata sudah punya anak ya?"


Zuy mengangguk. "Iya sudah Miss."


"A-apa dia anak perempuan Maria, Nyonya Artiana?" tanya Daddy Mario pada Bunda Artiana.


"Iya dia anak dari Maria cucu pertama ku." jawab Bunda Artiana.


"Aku tidak menyangka kalau anak yang di tinggalkan oleh Maria akan secantik ini. Nak bagaimana kabarmu sekarang?" ucap Daddy Mario sekaligus bertanya pada Zuy.


"Ka-kabar Zuy baik-baik aja. Maaf sebelumnya anda siapa ya? Kenapa anda bisa tau kalau saya anak Maria?" Zuy pun nampak kebingungan.


Bunda Artiana lalu meraih tangan Zuy dan menggenggamnya dengan erat.


"Nak, pria di hadapan kamu ini namanya Mr Mario dan dia adalah suami dari Maria, Ayah dari Archo dan Kimberly," jelas Bunda Artiana.


"A-ayah Kimberly?"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2