
<<<<<
Lalu tanpa sengaja pandangan Airin mengarah pada seseorang yang berada di tepi pantai sambil perlahan berjalan ke arah lautan dan saat ia menyadari orang tersebut adalah Zuy, dengan sigap Airin langsung berlari ke arahnya.
"Zuy, apa yang kamu lakukan?"
Teriak Airin dengan kencangnya, akan tetapi Zuy tidak mendengar teriakkan dari Airin. Zuy terus melangkah, betisnya pun sudah terendam air laut.
Lalu saat sudah berada di dekat Zuy, Airin langsung mendekap tubuh Zuy dengan erat, membuat langkah Zuy terhenti dan menoleh ke arah Airin.
"Airin! Apa yang kamu lakukan? Lepasin!"
Airin menggeleng. "Tidak! Aku tidak akan ngelepasin kamu, Zuy." balasnya.
"Airin!!!"
Hiks....
"Aku tahu perasaan mu sekarang ini seperti apa, Zuy. Tapi setidaknya jangan seperti ini! Apa kamu tidak kasihan pada anak-anak yang sedang kamu kandung? Apa kamu tidak kasihan pada Tuan bos dan orang-orang yang sayang padamu termasuk aku?" ucap Airin sembari menangis.
Mendengar ucapan Airin, Zuy langsung mengerutkan dahinya.
"Airin, kamu bicara apa sih?"
"Zuy, aku tahu ini sangat berat untukmu menerima kenyataan yang sebenarnya. Tapi kamu jangan sampai kehilangan akal sehat mu dengan cara bunuh diri seperti ini! Sebab itu tidak akan menyelesaikan masalah yang kamu hadapi sekarang," tutur Airin.
"Hah! Bunuh diri? Siapa yang bunuh diri?" tanya Zuy kebingungan.
"Ya kamu Zuy, memangnya siapa lagi. Bukannya kamu ingin bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirimu ke lautan?" ujar Airin.
Seketika membuat Zuy melepaskan tangan Airin, kemudian ia pun membalikkan badannya menghadap ke Airin. Dan ....
Bletaaak....
Zuy menyentil jidat Airin dengan keras sehingga membuat Airin meringis.
"Awww.... Kenapa kamu menyentil jidatku, Zuy?" tanya Airin memegangi jidatnya.
"Habisnya bicaramu ngelantur kemana-mana," pekik Zuy. "Dan gara-gara kamu tuh, aku jadi kehilangan Patrick," imbuhnya.
"Kehilangan Patrick? Maksudnya?" Airin nampak kebingungan dengan perkataan Zuy.
Zuy menghela nafas panjangnya, kemudian ia menarik tangan Airin dan membawanya ke tepi pantai.
"Kita duduk dan ngobrol di sini saja!" ajak Zuy.
Airin mengangguk patuh, lalu mereka berdua pun duduk di atas pasir.
"Zuy...."
"Rin. Aku tahu saat ini kamu, Ray dan lainnya tengah mengkhawatirkan keadaan ku ini. Ya memang sekarang ini keadaan ku tidak membaik, pikiranku sangat kacau, tubuhku lemas seakan tidak bertenaga, hati dan perasaan ku hancur seketika. Saat aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang siapa ibu kandungku sendiri. Memang sakit bahkan sangat sakit Rin, orang yang aku rindukan selama ini, ternyata orang yang sudah berkali-kali menyiksaku. Dan lebih konyolnya lagi dia melakukan itu demi anak kesayangannya," ungkap Zuy menundukkan kepalanya.
"Zuy, kamu...."
Zuy mengangkat kepalanya kembali dan melihat ke arah Airin.
"Walaupun sekarang keadaan ku seperti ini, akan tetapi aku masih mempunyai akal sehat, Rin. Aku tidak mungkin berbuat hal bodoh seperti bunuh diri atau semacamnya. Apalagi sekarang ada dua nyawa yang hidup di dalam perutku ini yang harus aku jaga, dan juga ada kalian yang selalu ada di samping ku. Jadi mana mungkin aku meninggalkan kalian yang sudah membuat hidupku bahagia," ucap Zuy.
Airin sangat tertegun mendengar ucapan Zuy, ia pun langsung memeluk erat sahabat terbaiknya itu, seketika tangis keduanya pecah.
"Rin, terimakasih banyak karena sudah menjadi sahabat terbaikku sampai sekarang."
"Zuy, justru aku yang sangat berterimakasih pada mu, karena kamu mau bersahabat dengan orang seperti ku ini. Bahkan kamu sudah banyak membantu ku dan keluargaku, aku benar-benar sangat bersyukur, Zuy." ucap Airin.
Sesaat kemudian, keduanya pun melepaskan pelukannya.
"Zuy, maaf tadi aku sudah salah paham terhadap mu. Habisnya aku lihat kamu jalan ke arah lautan, jadi aku pikir kamu itu ...." seloroh Airin.
Zuy lalu tersenyum dan berkata, "Ya, aku paham Rin. Tapi bukan hanya kamu saja kok yang bakalan salah paham. Ray, Pak Davin dan lainnya pun pasti sama sepertimu."
"Terus ngapain kamu berada di sini? Sampai berjalan ke arah tengah lautan? Dan kenapa kamu tidak meminta ku untuk menemani mu?" lontar beberapa pertanyaan Airin.
Sebelum menjawab pertanyaan Airin, Zuy terlebih dahulu mengambil nafas dan perlahan menghembuskannya.
"Begini lho Rin, sebenarnya aku merasa jenuh saat berada di dalam, jadi aku memutuskan untuk keluar dan menikmati keindahan pantai sambil berjalan di atas pasir yang hangat. Aku juga ingin mengajak mu Rin, akan tetapi saat aku mengetuk pintu kamarmu, kamu gak jawab apa-apa, terpaksa aku kesini sendirian. Lalu saat aku tengah asik berjalan di atas pasir, aku melihat bintang laut di sana, jadi ya aku berniat untuk mengambilnya. Terus tiba-tiba kamu memeluk ku sambil menangis, akhirnya bintang laut yang aku incar itu hilang entah kemana," jelas Zuy, ia pun memanyunkan bibirnya.
"Jadi begitu ya Zuy? Ahahaha.... Berarti ini aku yang salah, maaf ya Zuy." ucap Airin menangkupkan tangannya.
Zuy lalu mendaratkan tangannya di punggung Airin dan menepuk-nepuknya.
"Iya tidak apa-apa Rin," balas Zuy.
"Demi menebus kesalahanku, bagaimana kalau aku carikan bintang laut lagi untuk mu," tawar Airin.
Zuy mengangguk. "Boleh, tapi kita carinya bersama ya!"
"Oke Zuy, ayo kita cari sekarang!" ajak Airin.
Airin terlebih dahulu bangkit dari duduknya, kemudian ia membantu Zuy berdiri. Setelah itu mereka berdua pun mulai mencari apa yang mereka inginkan.
**************************
Rumah Ray
Kembali pada saat Bi Nana dan lainnya yang sedang berada di rumah Ray.
"Apa! Jadi wanita itu Ibu kandungnya Zuy."
Lalu....
"Na, maafkan aku! Aku benar-benar sangat menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan pada Zuy," ucap Maria.
"Maaf katamu! Maria Lestari, apa kau pernah tahu perasaannya selama ini? Apa kau tahu penderitaannya sejak kau pergi meninggalkannya? Apa kau tahu betapa ia sangat merindukan Ibunya? Dan setelah kalian berdua di pertemukan. Apa yang gadis kecilku dapatkan? Hanya penyiksaan yang kau berikan padanya, Maria." sentak Bi Nana.
"Na, maafkan aku...."
"Maria, asal kamu tahu saja. Selama aku merawatnya, tidak pernah sekalipun aku memukul, menjambak atau menamparnya. Sedangkan kamu yang Ibunya, justru malah menganiayanya dan menyiksanya seperti itu. Dimana hati nurani mu Maria!" sergah Bi Nana.
"Sabar Na, jangan seperti ini!" tutur Pak Randy.
__ADS_1
Maria memegang tangan Bi Nana dengan erat.
"Nana, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah aku perbuat pada Zuy, aku ingin menebus kesalahanku ini, Na." ucap Maria tersedu-sedu.
Bi Nana lalu menepis tangan Maria dengan keras.
"Menebus kesalahan mu? Dengan cara apa kamu menebusnya, Maria!"
"Dengan cara apapun akan aku lakukan, asalkan Zuy memaafkan kesalahanku dan menerima ku sebagai Ibunya," tegas Maria. "Jadi aku mohon padamu, tolong bantu aku! Pertemukan aku dengan Zuy, Na." imbuhnya.
Lalu tiba-tiba Dimas menghampiri Bi Nana dan berlutut di hadapan Bi Nana.
"Nyonya, saya mohon pada anda. Izinkan kami bertemu dan membawa Zuy!" pinta Dimas.
"Apa! Membawa Zuy? Bukankah aku sudah mengajukan syarat pada kalian untuk tidak membawa atau mengusik kehidupannya, dan kalian juga menyetujui syarat yang aku ajukan itu. Tapi kenapa sekarang kalian malah mau mengingkarinya?" sentak Bi Nana.
"Nyonya, kami masih ingat persyaratan yang anda berikan pada kami dan kami tidak akan mengingkari janji kami. Tapi ini darurat Nyonya," ujar Dimas.
"Darurat! Apa maksudmu?"
Dimas mengangkat kepalanya dan menatap Bi Nana.
"Bunda sekarang sedang di rumah sakit, beliau terkena serangan jantung dan tengah berada di ruangan ICCU. Sebelum itu Bunda meminta pada kami untuk membawa Zuy pada Bunda, karena Bunda ingin meminta maaf pada cucunya itu," jelas Dimas.
Sontak membuat Bi Nana terkejut mendengarnya.
"Apa! Jadi Nyonya kena serangan jantung?"
"Iya Nyonya, maka dari itu kami datang kemari," ujar Dimas. "Nyonya saya mohon pada anda, tolong biarkan kami menemuinya!" sambung pintanya.
"Dokter Dimas, percuma memohon pada saya, karena saya juga tidak tahu di mana keberadaan Zuy sekarang, bukankah tadi saya sudah bilang bahwa Zuy kabur dan sampai sekarang dia belum pulang," papar Bi Nana.
Seketika raut wajah Dimas kembali sendu, lalu kemudian ....
"Nana...." tegur Pak Randy.
"Ada apa?" tanya Bi Nana.
"Coba kamu baca chat ini!" bisik Pak Randy sambil menyodorkan hpnya.
Bi Nana pun mengambil hp Pak Randy dan membaca chat apa yang di maksud Pak Randy itu. Mata Bi Nana langsung terbelalak saat membaca chat tersebut, yang ternyata chat dari Ray.
[Chat]
Rayyan
π² Om Randy, tolong bilang ke Bi Nana, kalau Zuy sekarang ada di Villa kami, kalian bisa menemuinya di sana. Dan maaf Ray hanya bisa mengirim lewat pesan saja, karena Ray tahu bahwa kalian sedang di rumah, begitu juga dengan Dokter Dimas dan Mrs Maria. Ray mohon sama Om! Jangan bilang ke mereka tentang keberadaan Zuy, karena Zuy tidak ingin menemui mereka dulu. Nanti Ray sharelock Villa kami." βοΈ
Setelah membaca pesan tersebut, Bi Nana langsung mengembalikan hp milik Pak Randy.
"Pih, kita pulang sekarang!" ajak Bi Nana.
"Baiklah Na, kalau mau mu seperti itu," balas Pak Randy.
Kemudian Pak Randy menghampiri Bu Ima dan mengambil anaknya yang sedang di gendong Bu Ima.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Bu Ima.
"Oh begitu ya," lirih Bu Ima.
"Kak terimakasih sudah menggendong Rana, oh iya jika Zuy sudah pulang ke rumah tolong kabari kami!" kata Pak Randy.
Padahal Pak Randy hanya bersandiwara saja.
Bu Ima mengangguk. "Iya, nanti saya kabari kalian jika Zuy sudah pulang."
"Yaudah kalau begitu kami pamit dulu, permisi!" pamit Pak Randy, ia pun menghampiri Bi Nana.
"Ayo Na!"
"Dokter Dimas, kami akan pulang. Kalau kalian mau di sini, ya terserah kalian berdua saja," celetuk Bi Nana.
Dimas lalu bangkit dari posisinya. "Kami juga akan kembali ke rumah sakit, tapi kami mohon jika ada kabar dari Zuy, tolong hubungi kami! Soalnya ini demi Bunda," pintanya.
"Kalau itu saya tidak bisa menjanjikannya, permisi."
Bi Nana dan Pak Randy beserta kedua anaknya pun melangkah keluar rumah dan bergegas masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian Pak Randy melajukan mobilnya dan pergi dari rumah Ray.
Lalu pandangan Dimas mengarah ke Bu Ima.
"Bu, kalau begitu kami permisi dan maaf sudah membuat keributan di sini," ucap Dimas membungkukkan badannya.
"Iya, tapi jangan minta maaf padaku! Minta maaflah pada Tuan Ray, sebab ini rumah Tuan Ray bukan rumah ku," kata Bu Ima.
Dimas mengangkat kepalanya. "Iya nanti kami akan meminta maaf pada Tuan Ray, kalau begitu kami permisi dulu."
Bu Ima hanya membalas dengan anggukan saja, Sesaat Dimas dan Maria pun pergi.
"Nak Zuy, kamu di mana sekarang? Ibu sangat mengkhawatirkan mu," ucap Bu Ima sambil menitihkan air matanya kembali.
***********
Perusahaan CV
Β°Ruang Ceo
Setelah selesai mengirimkan pesan pada Pak Randy, Ray meletakkan kembali hpnya di atas meja. Ray menyandarkan kepalanya di dinding kursi kebesarannya itu, sesekali senyumnya mengembang, karena Ray masih terngiang-ngiang akan peraduan yang ia lakukan bersama pujaan hatinya itu.
"Sayangku, kamu benar-benar membuatku bersemangat, jadi gak sabar ingin cepat-cepat pulang ke Villa dan memeluk sayangku," ucap Ray.
Lalu kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan Ray.
"Permisi Tuan...."
Ray lalu menoleh ke arah orang tersebut yang tak lain adalah Davin.
"Ternyata kamu Kak, ada apa?" tanya Ray.
"Tadi aku mendapat pesan dari si mata empat," ujar Davin.
__ADS_1
"Mata empat? Maksudnya Archo?"
Davin mengangguk. "Iya siapa lagi kalau bukan dia."
"Lalu pesan apa yang ia kirim ke Kakak?" tanya Ray.
Davin mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Ray.
"Dia bilang ingin bertemu dengan anda, Tuan." jawab Davin.
"Oh begitu ya. Euuum Kak Davin, tolong bilang padanya! Aku sibuk dan tidak bisa di temui," titah Ray.
"Baiklah Tuan Ray, aku akan mengirimkan pesan untuknya," balas Davin. "Lalu bagaimana dengan Neneknya Zuy?" imbuhnya.
"Neneknya? Memang ada apa dengan Neneknya Zuy?"
Sesaat Davin menghela nafasnya.
"Haaa.... Begini Tuan Ray, saya dapat kabar bahwa Neneknya Zuy tengah di rawat di rumah sakit, katanya beliau terkena serangan jantung," ujar Davin.
Sontak membuat Ray tersentak dan langsung bangkit dari duduknya.
"Apa! Neneknya terkena serangan jantung?"
"Iya Tuan Ray, saat Zuy pergi meninggalkan rumah Neneknya, tiba-tiba Neneknya pingsan dan malamnya di larikan ke rumah sakit," jelas Davin.
Ray lalu mendudukkan dirinya kembali.
"Kak Davin dapat berita ini darimana?"
"Si mata empat yang menceritakannya, makanya dia ingin menemui Tuan Ray, ya mungkin dia ingin menanyakan soal Zuy."
"Begitu ya? Pokoknya Kak Davin bilang pada Archo, bahwa saat ini aku sedang sibuk dan tidak ingin bertemu dengannya dulu!" perintah Ray.
Davin pun kembali mengangguk patuh. "Baik Tuan Ray."
Lalu tiba-tiba....
Triiiiing.... Triiiiing....
Bunyi dari hp Ray, membuat Ray mengambil hpnya kembali dari atas mejanya.
"Kak Yiou!"
Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya, Ray langsung menjawab telponnya itu.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Ray.
"Tuan dingin, bagaimana keadaan Baby? Aku dengar Baby pergi dan belum pulang sampai sekarang," pekik Yiou.
"Dia baik-baik saja Kak, dan dia sekarang ada di Villanya," ujar Ray.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ray, apa kamu bertengkar dengan Baby?"
"Tidak Kak, hanya saja sayangku tau siapa Ibunya sekarang." jawab Ray
"Apa! Jadi Zuy sudah tau siapa Maria?"
"Iya Kak, makanya dia pergi ke makam Papahnya bahkan sampai pingsan di atas makam Papahnya," jelas Ray.
"Ya ampun, kasihan Baby. Ray apa sebaiknya aku pulang saja untuk menemani Baby?"
"Jangan Kak! Kakak kan sedang honeymoon bersama Aries, jadi Kakak nikmati saja waktu Kakak bersama suami Kakak, kalau masalah sayangku, biar aku saja yang urus," kata Ray.
"Oh yaudah kalau mau kamu begitu Ray," lirih Yiou.
Mereka pun melanjutkan ngobrolnya.
**********************
Villa Z&R
Beberapa saat setelah selesai mencari hewan laut, Airin dan Zuy kini berada di dalam Villa sembari menonton televisi.
"Rin, rambutmu masih banyak pasirnya tuh," ucap Zuy sembari mengelus rambut Airin yang basah.
"Benarkah Zuy? Aduh padahal udah aku keramas bersih lho. Eh rambut mu juga Zuy masih banyak pasirnya."
"Oh iya? Duuuh.... Kalau begitu aku harus mandi lagi dong," seloroh Zuy.
"Habisnya kita niat nyari bintang laut, eh ujung-ujungnya malah basah-basahan di laut, tapi ini benar-benar menyenangkan lho, Zuy." kata Airin dengan senangnya.
"Iya kamu benar Rin, jarang-jarang kan kita bisa seperti ini."
"Kamu benar Zuy, makanya aku sangat senang saat Tuan bos menyuruhku untuk menemani mu, jadi aku bisa libur tanpa menunggu hari libur tiba," lontar Airin.
Mendengar itu, Zuy langsung mencubit pipi Airin.
"Buuuuu.... Dasar kamu ya!"
"Hehehe...."
Sesaat setelah selesai menonton televisi, Airin kembali ke kamar untuk istirahat siang, sedangkan Zuy tengah berada di dapur.
Lalu tiba-tiba....
Ting Tong
Suara bel pintu, sontak membuat Zuy yang berada di dapur langsung menghentikan aktivitasnya.
"Siapa yang datang ya? Apa Ray?" lirih Zuy.
Kemudian ia melangkahkan kakinya. Sesampainya di depan pintu, Zuy langsung membukakan pintunya, betapa terkejutnya Zuy saat mengetahui bahwa yang datang itu adalah ....
"Bi Nana!!"
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ