
<<<<<
Sesaat Dokter Arga menghela nafasnya, kemudian ia melihat ke arah Dimas dengan tatapan sendu sambil menggelengkan kepalanya. Sontak membuat Dimas dan Eqitna tersentak.
"Ti-tidak mungkin!"
"Bunda!!" lirih Eqitna sambil menutup mulutnya, air matanya pun kembali mengalir.
Kemudian Dimas langsung mencengkeram kerah Dokter Arga.
"Dimas...." seru Eqitna.
"Dokter Arga! apa anda sedang membuat lelucon?" sentak Dimas.
Dokter Arga menggelengkan kepalanya.
"Maafkan saya, Dokter Dimas. Tapi ini kenyataan yang harus anda terima, kami sudah berusaha semampu kami untuk menyelamatkan beliau, namun takdir berkehendak lain, beliau ...." ucap Dokter Arga.
Seketika langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Dokter Arga dan berlari ke dalam ruangan ICCU, di susul Eqitna dan Dokter Arga. Sesampainya di dalam, Dimas tersentak melihat suster sedang melepaskan alat yang terpasang pada tubuh Bunda Artiana. Dengan cepat ia pun langsung mencengkeram tangan suster tersebut.
"Jangan di lepas!" pekik Dimas.
"Tapi Dok ...."
"Saya bilang jangan di lepas!" sentak Dimas.
Kemudian pandangan Suster beralih ke Dokter Arga.
"Dokter bagaimana ini?" tanya Suster.
Dokter Arga hanya menganggukkan kepalanya saja seraya memberikan isyarat pada Suster. Seketika Suster langsung mengerti arti dari anggukan Dokter Arga, ia pun beralih ke arah Dimas kembali.
"Baiklah Dokter Dimas, kami tidak akan melepaskannya dulu," ucap Suster itu.
Mendengar ucapan Suster, Dimas langsung melepaskan cengkeramannya itu. Kemudian ia beralih memandangi wajah Bunda Artiana, dan seketika ia langsung duduk berlutut di samping ranjang Bunda Artiana sambil memegang tangan Bunda Artiana.
"Bunda.... Kenapa Bunda pergi ninggalin Dimas? Apa Bunda sudah tidak sayang lagi pada Dimas. Maafin Dimas, kalau selama ini Dimas punya salah sama Bunda. Tapi Dimas mohon Bunda bangunlah! Dimas masih sangat membutuhkan Bunda, nasihat Bunda, kasih sayang dari Bunda. Dimas mohon Bunda!" ucap Dimas.
Semua yang ada di ruangan itu pun terharu melihatnya, begitu pula dengan Eqitna yang berdiri di belakang Dimas sambil menangis sesenggukan.
"Bunda...." tangis Eqitna.
Dokter Arga lalu mendekat ke arah Dimas dan memegang pundaknya.
"Dokter Dimas, ada yang ingin saya sampaikan pada anda," kata Dokter Arga
Dimas menolehkan kepalanya ke arah Dokter Arga.
"Apa itu? Jangan bilang kalau anda akan melepaskan alat-alat ini?" cetus Dimas.
"Bukan, tapi ini tentang perkataan terakhir dari beliau," ujar Dokter Arga
"Perkataan terakhir Bunda?"
"Iya, sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya, beliau sempat menyebut nama seseorang," lontar Dokter Arga.
"Nama seseorang?"
Dokter Arga mengangguk. "Iya, kalau tidak salah nama orang yang di sebut oleh beliau adalah cucuku Zuy."
Sontak membuat Dimas dan Eqitna tersentak kaget saat mendengarnya. Pandangan Dimas seketika beralih ke Bunda Artiana kembali, tangisnya pun kembali pecah.
"Bunda.... Maafin Dimas! Karena Dimas belum bisa menepati janji Dimas untuk membawa Zuy ke hadapan Bunda."
Dimas lalu meraih tangan Bunda Artiana dan menempatkannya di atas kepalanya sendiri.
"Bunda, jika keinginan terakhir Bunda seperti itu, maka detik ini juga Dimas akan mencari dan membawa Zuy ke hadapan Bunda. Dimas tidak akan kembali sebelum menemukan dan membawanya pada Bunda. Doain Dimas ya Bunda!" ucap Dimas bersungguh-sungguh.
Tiba-tiba terdengar suara dari layar monitor, sontak membuat pandangan Dokter Arga mengarah ke monitor tersebut.
"Dokter Dimas...."
Dimas kembali menoleh ke Dokter Arga.
"Ada apa Dok?" tanya Dimas sambil menurunkan tangan Bunda Artiana.
"Lihatlah! Bunda anda ...." kata Dokter Arga menunjuk ke arah monitor tersebut.
Dimas dan Eqitna pun langsung melihat ke arah monitor yang di tunjuk oleh Dokter Arga, sontak membuat keduanya tercengang melihat garis yang awalnya lurus sekarang kembali bergelombang. Dan itu menandakan bahwa jantung Bunda Artiana kembali berdetak.
"Bunda...."
Kemudian Dokter Arga kembali memeriksa Bunda Artiana.
"Bagaimana Dok?" tanya Dimas.
"Ini benar-benar keajaiban dari Tuhan, Dokter Dimas." ucap Dokter Arga.
Mendengar itu Dimas langsung mendekat kembali ke arah Bunda Artiana dan memeluknya. Tangisnya kembali pecah, akan tetapi tangisannya yang sekarang adalah tangisan bahagia. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Dokter Arga.
"Terimakasih Dokter dan maaf atas kelakuan saya tadi," ucap Dimas.
"Tidak apa-apa Dokter Dimas, saya mengerti perasaan anda," balas Dokter Arga.
Tak lama mereka pun melepaskan pelukannya, Dimas lalu mendekat ke arah Eqitna.
"Dimas...." Eqitna langsung memeluk Dimas.
"Eqi, kamu tunggu di sini ya!"
Eqitna mendongakkan kepalanya dan menatap Dimas.
"Memangnya kamu mau kemana, Dimas?" tanya Eqitna.
"Aku ingin menepati janjiku pada Bunda," jawab Dimas.
Eqitna pun langsung mengerti dengan jawaban dari Dimas, ia langsung melepaskan pelukannya dan beralih memegang tangan Dimas.
"Pergilah! Aku akan tetap di sini dan menunggu mu," kata Eqitna.
Lalu mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Saat sudah berada di luar, tiba-tiba ....
"Dimas, Eqitna..." seru seseorang menghampiri mereka.
Merasa ada yang memanggil, mereka berdua langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
"Kak Maria!!"
Ternyata yang memanggilnya adalah Maria yang datang bersama Archo. Lalu ....
"Dimas bagaimana keadaan Bunda?" tanya Maria.
"Bunda sudah tidak apa-apa, Kak." jawab Dimas.
"Syukurlah.... Kakak sempat khawatir kalau Bunda kenapa-napa," ucap Maria.
Dimas pun hanya tersenyum, kemudian ia melihat ke arah Archo.
"Tuan Archo...."
"Iya Dokter Dimas," sahut Archo.
"Bisakah saya meminta tolong pada anda?" lontar Dimas.
"Memangnya anda mau minta tolong apa?"
Dimas lalu mendekat ke arah Archo dan membisikkan sesuatu pada Archo. Sesaat setelahnya ....
"Baiklah Dok, saya akan temani anda."
Lalu kemudian Dimas dan Archo langsung berpamitan pada Maria dan Eqitna. Sesudah itu, mereka segera pergi meninggalkan Eqitna dan Maria.
**********************
Rumah Bi Nana
Hanya butuh waktu perjalanan kurang lebih 20 menit dari rumah sakit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu rumah Bi Nana. Archo lalu menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Bi Nana.
"Dokter, apa anda yakin kalau Bibinya Zuy tahu tentang keberadaan Zuy sekarang?" tanya Archo.
__ADS_1
"Saya sangat yakin, Tuan Archo." jawab Dimas. "Tunggu di sini sebentar!" imbuhnya.
Archo menganggukkan kepalanya, Dimas lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pagar rumah Bi Nana. Akan tetapi ....
Tiiiin....
Suara klakson mobil yang cukup nyaring, sehingga membuat pandangan Dimas mengarah ke mobil tersebut. Lalu kemudian seseorang turun dari mobil itu dan menghampiri Dimas.
Dan ternyata ia adalah Pak Randy yang baru pulang dari Resto miliknya.
"Lho Dokter Dimas!" lontar Pak Randy.
"Ternyata anda, Pak Randy. Selamat malam," ucap Dimas.
"Malam juga. Maaf sebelumnya, ada keperluan apa sehingga Dokter Dimas datang kemari?" tanya Pak Randy.
"Itu ...."
Pak Randy lalu menghela nafasnya. "Ayo kita bicara di dalam!" ajaknya.
"Terimakasih Pak." ucap Dimas.
Pak Randy langsung membuka pintu pagarnya, setelah itu ia kembali ke mobilnya, Lalu mobil Pak Randy masuk ke dalam dan di susul oleh mobil Dimas. Sesaat kemudian ....
"Papih pulang...." seru Pak Randy melangkah masuk ke dalam rumah.
Mendengar suara Pak Randy, Bi Nana yang kala itu berada di ruang tengah pun segera menghampiri Pak Randy.
"Selamat datang Pa.... Pih."
Seketika mata Bi Nana terbelalak saat melihat Archo dan Dimas tengah berdiri di belakang Pak Randy.
"Kalian!"
"Selamat malam Nyonya Nana," ucap Dimas.
Bi Nana hanya tersenyum tipis saja, lalu Bi Nana mendekat ke arah Pak Randy.
"Pih, kenapa mereka bisa bersama Papih?" tanya Bi Nana.
"Oh, tadi pas aku pulang, mereka ada di depan pintu pagar. Jadi ya sekalian aja aku ajak mereka masuk," ujar Pak Randy.
Bi Nana beralih memandangi dua pria berkacamata itu.
"Terus kalian berdua! Ada perlu apa kalian datang kesini?" tanya Bi Nana.
Dimas pun langsung menghampiri Bi Nana dan berlutut di hadapan Bi Nana, sehingga membuat Pak Randy dan lainnya tersentak melihatnya.
"Dokter Dimas apa yang anda lakukan?"
"Nyonya, saya mohon pada anda! Tolong beri tahu saya, dimana Zuy sekarang! Sebab ini permintaan Bunda dan mungkin permintaan terakhirnya," ucap Dimas.
"Apa! Permintaan terakhirnya?"
Dimas menganggukkan kepalanya, kemudian ia menceritakan tentang apa yang terjadi pada Bunda Artiana, dan lagi-lagi Bi Nana serta lainnya di buat terkejut oleh Dimas.
Dimas lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, nampak air matanya yang lolos membasahi pipinya.
"Nyonya, sebagai Pamannya Zuy. Saya mohon pada anda! Biarkan kami bertemu dengannya dan membawanya menemui Bunda," pinta Dimas.
Melihat itu, hati Bi Nana pun terenyuh. Kemudian ia melihat ke arah Pak Randy.
"Bagaimana Pih?" tanya Bi Nana.
"Kalau keinginan mereka seperti itu, maka biarkanlah mereka saling bertemu. Walau bagaimanapun mereka juga keluarga dari gadis kecil mu itu, Na." tutur Pak Randy.
Bi Nana lalu mengambil nafasnya dalam-dalam dan perlahan menghembuskannya.
"Baiklah, saya akan memberi tahu anda, dimana keberadaan Zuy sekarang," seloroh Bi Nana.
"Benarkah Nyonya?" tanya Dimas.
"Iya, tapi saya minta sama kalian! Jangan terlalu memaksanya, sebab ia masih sangat shock dengan kenyataan yang ia terima saat ini." tutur Bi Nana.
Dimas pun menyetujui permintaan Bi Nana, kemudian ia bangkit dari posisinya itu.
"Iya sama-sama...."
***********************
Villa Z&R
Sementara itu. Ray, Zuy, Davin dan Airin tengah berkumpul di ruang tengah sembari menonton televisi.
"Sayangku...."
"Hmmmm...."
Ray lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi kepalanya di atas paha Zuy.
"Elus-elus aku dong, sayangku!" pinta Ray dengan nada manja.
"Baiklah...."
Zuy menuruti permintaan Ray, ia pun langsung mengelus rambut Ray.
"Terimakasih sayangku, aku mencintaimu." ucap Ray.
Zuy hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya saja.
"Sayangku, kenapa kamu tidak membalas ucapan cintaku ini," rengek Ray.
Sehingga membuat Zuy dan lainnya terperangah mendengar rengekan dari Ray.
"Hihihi.... Tuan bos yang dingin, ternyata bisa merengek juga ya," seloroh Airin.
"Ya seperti itulah Rin, namanya juga bayi gede," celetuk Davin. Lalu tiba-tiba.....
Bugh!
Sebuah bantal kecil melayang dan mendarat tepat di wajah Davin, sontak membuat Davin tersentak.
"Tuan Ray, anda benar-benar deh." gerutu Davin.
"Apa! Orang bantalnya yang melayang sendiri dan lagi kenapa tidak menghindar?" cetus Ray.
"Bagaimana mau menghindar orang anda lemparnya di saat aku belum siap," gumam Davin.
Mereka berdua saling beradu mulut, lalu ....
"Sudah-sudah! Kalian berdua ini ya, kalau sudah beradu mulut gak ada yang mau ngalah," Zuy mengoceh.
Ray dan Davin seketika langsung tertunduk diam saat mendengar ocehan dari Zuy, sedangkan Airin malah ketawa terbahak-bahak.
"Haaaa...." desah Davin sambil menyandarkan kepalanya tepat di bahu Airin.
Airin pun terpaku dan melirik kan matanya ke arah Davin.
"Pak Davin, apa yang anda lakukan?" tanya Airin.
"Hanya menyandarkan kepalaku saja," jawab Davin dengan santainya.
"Kenapa mesti di bahu ku sih?" pekik Airin.
"Ya, aku pinjam sebentar bahunya, Rin. Nanti di balikin lagi," lontar Davin sambil memainkan hpnya.
Airin pun hanya bisa pasrah bahunya di jadikan tempat sandaran oleh Davin.
"Sayangku...."
"Ada apa Ray?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Ray.
"Oh iya? Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Zuy penasaran.
Sesaat Ray menghela nafasnya. "Haaaa.... Ini tentang Nyonya Artiana, beliau ...."
"Ray, kalau kamu ingin membicarakan tentang mereka, maaf aku tidak ingin mendengarnya sekarang!" sela Zuy
__ADS_1
"Tapi sayangku...."
"Ray.... Please!!!" pinta Zuy.
Mendengar itu, Ray langsung menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku sayangku dan aku janji tidak akan berbicara tentang mereka lagi," ucap Ray.
Zuy lalu mengelus pipi Ray. "Tidak apa-apa Ray, tapi jangan di ulangi lagi ya!"
"Iya sayangku."
Ray lalu mendorong pelan tengkuk leher Zuy, sehingga membuat wajah Zuy mendekat ke arah wajah Ray dan ....
Cup....
Satu ciuman mendarat di bibir Zuy, membuat mata Zuy membulat sempurna. Sesaat ia langsung menjauhkan wajahnya dari Ray.
"Ray, kamu bener-bener deh! Di sini kan masih ada Pak Davin sama Airin," gerutu Zuy.
"Jangan pedulikan kami! Kami hanya seekor kucing dan tikus yang tidak tahu apa-apa," gumam Davin.
"Tuh sayangku dengar sendiri kan, apa yang di katakan oleh si adonan moci itu," papar Ray.
Zuy pun langsung memutar bola matanya dengan malas.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai menonton televisi, mereka berempat pun langsung kembali ke kamarnya masing-masing.
Kamar Z&R
Zuy baru saja keluar dari walk in closetnya karena selesai mengganti pakaiannya dengan baju tidur, lalu ia melangkah ke arah tempat tidurnya.
"Sayangku, kenapa kamu pakai baju tidur ku?" tanya Ray yang melihat Zuy memakai baju tidurnya.
"Hihihi.... Maaf Ray, habisnya piyama ku sudah tidak muat lagi. Jadi aku terpaksa pakai baju tidur kamu," ucap Zuy.
"Oh, yaudah gak apa-apa, sini mendekat lah! Aku ingin memelukmu lagi," kata Ray.
Zuy pun naik ke atas ranjang dan mendekat ke arah Ray, lalu dengan sigapnya Ray memeluk erat tubuh pujaan hatinya itu.
"Ray, apa malam ini kamu akan begadang lagi?" tanya Zuy.
Ray menggeleng. "Tidak sayangku, aku ingin tidur memeluk sayangku sampai pagi."
"Benarkah?"
Ray mencubit hidung Zuy. "Tentu benar dong sayangku, masa bohong sih." ujarnya.
Seketika senyum Zuy mengembang dan ia pun langsung mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih tampan-ku," ucap Zuy menangkupkan wajahnya ke dada bidang Ray.
"Anything for you, my beloved wife." balas Ray dengan lirih.
Lalu saat mereka tengah asik berpelukan, tiba-tiba ....
Triiiiing.... Triiiiing....
Mendengar hpnya berdering, sontak membuat Ray langsung mengerenyitkan dahinya.
"Ck, siapa sih yang menelpon? Ganggu orang lagi bermesraan saja," umpat Ray. "Sayangku maaf, tolong ambilkan hpku!" sambung ucapnya.
Zuy lalu melepaskan pelukannya dan mengambil hp Ray yang berada di atas nakas, kemudian ia langsung memberikannya pada Ray.
"Ini Ray."
Ray mengambil hpnya dari tangan Zuy, ia langsung melihat ke arah layar hpnya itu.
"Kak Davin!"
Ia segera menjawab telponnya itu.
"Kak Davin, ada apa? Bukannya tidur malah menelpon, ganggu orang aja." sungut Ray.
"Maaf Tuan Ray, kalau saya mengganggu anda yang sedang melakukan Misteri. Habisnya di sini ada si mata empat dan Dokter Dimas," jelas Davin.
"Apa! Baiklah aku akan segera turun!"
Ray langsung memutuskan telponnya.
"Sayangku, tetaplah di sini!" titah Ray.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Zuy.
"Aku mau ke depan sebentar!" ujar Ray.
Saat Ray hendak beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba Zuy memegangi baju Ray.
"Sayangku, ada apa?" tanya Ray.
"Aku ikut!" pinta Zuy.
"Tapi sayangku ...."
"Pokoknya aku ikut!" desak Zuy.
Ray lalu menghela nafasnya. "Baiklah sayangku, kamu boleh ikut."
Zuy tersenyum, kemudian mereka berdua beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju ke ruang utama yang berada di lantai bawah.
Setibanya di sana, Zuy langsung menghentikan langkahnya karena terkejut melihat Archo dan Dimas tengah duduk di sofa.
"Sayangku...."
"Ray kenapa kamu gak bilang kalau ada mereka?" tanya Zuy sambil bersembunyi di belakang tubuh Ray.
"Kan tadi aku sudah bilang suruh tunggu! tapi kamu memaksa untuk ikut," ujar Ray.
"Ya aku kira wanita itu mengikuti kita sampai ke sini, jadi aku maksa untuk ikut, tapi ternyata malah ...." lirih Zuy sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sayangku, kamu benar-benar menggemaskan kalau sudah numpahin cuka gini," ucap Ray mencubit pipi Zuy.
"Awww.... Sakit Rayyan!" seru Zuy.
Mendengar suara Zuy, sontak membuat pandangan Dimas dan Archo mengarah ke arah Ray.
"Tuan Ray, Zuy...." ucap Dokter Dimas sembari bangkit dari posisinya.
"Dokter Dimas, Tuan Archo apa kabar?" tanya Ray ramah.
Kemudian Dimas perlahan melangkah menghampiri Ray dan Zuy.
"Zuy...." sapa Dimas.
Akan tetapi Zuy tidak membalas sapaan Dimas, ia terus saja bersembunyi di belakang Ray.
"Zuy, maafkan atas kesalahan Paman yang selama 29 tahun tidak mengetahui keberadaan mu. Paman benar-benar minta maaf Zuy! Dan setelah kita bertemu untuk pertama kalinya di tempat makan itu. Barulah Bunda menceritakan semuanya padaku tentang kamu, Zuy." ucap Dimas.
Zuy tetap tidak berkata hanya air matanya yang lolos membasahi pipinya.
"Zuy, kamu boleh membenci kami! Tapi Paman mohon padamu, Zuy. Tolong temui Bunda! Karena beliau sangat merindukanmu bahkan dia sekarang sedang terbaring di rumah sakit," lontar itu.
"Nyonya di rumah sakit?"
Zuy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
Dimas lalu mengangguk dan berkata, "Iya Zuy, beliau terkena serangan jantung dan sekarang keadaan beliau tengah kritis."
"Apa! Kritis?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1