
<<<<<
Di saat Daddy Michael sedang mengobrol dengan Ray dan Zuy beserta si kembar. Ternyata ada seseorang yang tengah berdiri di luar ruang kerjanya seraya mendengarkan obrolan Daddy Michael.
"Apa! Ja-jadi Daddy sudah punya cucu?"
Ujarnya yang terkejut dengan apa yang di dengarnya bahwa Daddy Michael sudah mempunyai cucu. Lalu kemudian ia menggeser posisi tubuhnya ke arah dinding seraya menyandarkannya.
"Tsk, ternyata dugaan ku selama ini benar, kalau Daddy benar-benar mempunyai cucu dari si anak sial itu!" gumamnya sembari meremas kuat tangannya dan nampak garis yang muncul di antara kedua alisnya itu.
Ternyata ia adalah Liora istri dari Daddy Michael dan ibu tiri dari Ray dan Lesya.
Sesaat Liora beralih kembali ke arah pintu seraya mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Akan tetapi....
"Ehemm...."
Suara seseorang yang berada di belakang Liora berhasil membuatnya terperanjat dan dengan cepat ia pun membalikkan badannya menghadap ke arah orang yang di belakangnya itu.
"Ca-Calvin!" lirih Liora pada seseorang tersebut yang ternyata adalah asisten pribadi dari Daddy Michael.
Calvin tersenyum sopan dan bertanya, "Apa yang sedang anda lakukan di sini, Mrs Liora?"
"A-aku .... Ehem, tentu saja aku ingin menemui suamiku," jawabnya terbata-bata. "Lalu kamu sendiri, kenapa tiba-tiba muncul di belakang ku? Bikin aku jantungan aja, dan lagi ada keperluan apa sehingga kamu datang kesini?" sambungnya.
"Keperluan saya sama seperti anda, Mrs Liora. Bertemu dengan Mr Michael karena saya ingin mengantar dokumen penting milik Mr Michael." jawab Calvin sambil menunjukkan sebuah map yang berada di tangannya pada Liora.
"Dokumen penting! Apa jangan-jangan ...." lirih Liora. "Berikan dokumen itu padaku! Biar aku saja yang mengantarkannya pada suamiku." lanjut titahnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Calvin.
Akan tetapi Calvin malah menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan map tersebut di balik badannya.
"Maaf Mrs Liora! Saya tidak bisa memberikan dokumen ini pada orang lain selain saya sendiri yang mengantarkannya pada Mr Michael," tegasnya menolak perintah Liora.
Seketika membuat Liora mengerutkan dahinya karena perkataan Calvin.
"Kamu bilang apa barusan! Orang lain? Heh, aku ini istri dari majikan mu, Michael bukan orang lain. Beraninya kamu berkata seperti itu, apa kamu tidak takut aku pecat, Hah!" sergah Liora.
"Maafkan saya Mrs Liora! Tapi saya hanya menjalankan perintah dari Mr Michael. Dan saya juga tidak takut di pecat oleh anda, Mrs Liora. Karena saya bekerja pada Mr Michael dan yang menggaji saya juga Mr Michael, jadi yang berhak memecat saya adalah Mr Michael bukan anda, Mrs Liora." lontar Calvin.
"Kamu!" Liora menunjuk ke arah Calvin.
Sementara itu....
Mendengar suara ribut dari luar ruangannya, Daddy Michael yang kala itu baru saja selesai mengobrol dengan Ray, Zuy dan cucunya lewat panggilan video pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Kenapa di luar berisik sekali sih! menganggu orang sedang istirahat saja." gerutu Daddy Michael.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Setibanya pintu, kening Daddy Michael langsung mengernyit karena melihat pintu ruangannya sedikit terbuka, kemudian ia menarik handle pintu tersebut hingga pintunya terbuka.
Lalu....
"Liora, Calvin!" pekik Daddy Michael.
Sontak membuat Liora dan Calvin langsung menolehkan kepalanya ke arah Daddy Michael.
"Daddy!"
"Mr Michael," Calvin membungkukkan badannya.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini Liora, Calvin? Kenapa kalian nampak tengah berdebat?" tanya Daddy Michael sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
Calvin lalu mengangkat kepalanya kembali, sedangkan Liora langsung mendekat ke arah Daddy Michael dan merangkulnya.
"Dad, sebenarnya aku kesini tuh mau mengajak Daddy untuk beristirahat di kamar, tapi sayangnya asisten Daddy ini melarang ku masuk ke dalam, jadi ya aku marah dan berdebat dengannya," kata Liora yang berbohong.
Daddy Michael menatap tajam ke arah Calvin.
"Benarkah yang di katakan oleh Liora itu, Calvin?" Daddy Michael pun bertanya pada Calvin.
"Dad! Kenapa kamu malah bertanya pada si Calvin? Apa kamu tidak tahu kalau si Calvin suka berbohong." pekik Liora.
Daddy Michael tidak memperdulikan Liora, ia terus saja melihat ke arah Calvin seakan meminta jawaban yang sebenarnya dari Calvin.
"Calvin!"
Calvin lalu menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Daddy Michael.
Sesaat....
"Maafkan saya Mr Michael! Apa yang di katakan oleh Mrs Liora itu tidak benar, saya hanya menolak perintah dari Mrs Liora untuk memberikan dokumen ini padanya, sesuai dengan apa yang anda perintahkan pada saya. Terus Mrs Liora marah dan malah bilang akan memecat saya, Mr Michael." jelas Calvin.
Mendengar penjelasan dari Calvin, Daddy Michael pun beralih menatap tajam Liora yang berada di sampingnya itu mengerenyitkan keningnya.
"Dad, kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa kamu benar-benar percaya dengan apa yang di katakan oleh asisten mu ini di bandingkan dengan aku yang jelas-jelas istri mu."
Daddy Michael mendesah. "Liora, bisakah kamu pergi dari sini dan kembali ke kamar mu!"
"Ka-kamu mengusir ku, Dad?"
"Liora! Jangan memaksa ku untuk mengatakannya lagi." cetus Daddy Michael.
"Ta-tapi Dad, aku ...."
"Liora!" sentak Daddy Michael.
Seketika membuat Liora tertunduk, lalu ia pun melepaskan rangkulannya pada Daddy Michael.
"Baiklah Dad, aku akan pergi dari sini," Liora akhirnya menuruti Daddy Michael.
"Baguslah kalau begitu, dan satu lagi jangan menunggu ku! Karena malam ini aku akan tidur di ruang kerja ku." lontar Daddy Michael.
Liora pun menganggukkan kepalanya, lalu sebelum melangkah pergi, Liora terlebih dahulu melihat ke arah Calvin yang berada di hadapannya itu seraya menatapnya dengan tajam.
"Awas kau Calvin!" umpat Liora dari dalam hatinya.
Sedangkan Calvin hanya menyunggingkan senyum sinisnya pada Liora. Kemudian Liora melenggang pergi meninggalkan Daddy Michael dan Calvin.
"Ayo kita masuk!" ajak Daddy Michael.
Calvin mengangguk patuh. "Baik Mr Michael."
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang kerja Daddy Michael. Setelah berada di dalam ruang kerjanya, Daddy Michael pun langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya itu.
"Silahkan duduk Calv!"
"Iya Mr Michael, terimakasih." Calvin pun duduk di kursi dekat meja kerja Daddy Michael dan berhadapan dengannya.
"Mana dokumen yang saya minta?" tanya Daddy Michael.
"Ini Mr Michael," balas Calvin sambil menyerahkan map yang di bawanya itu.
Daddy Michael pun mengambil map tersebut dan membukanya seraya mengeceknya.
Lalu....
"Eemmm, Mr Michael." lirih Calvin memanggil Daddy Michael.
Di lirikan matanya Daddy Michael ke arah Calvin.
"Iya Calv, ada apa?"
__ADS_1
"Maafkan saya karena berperilaku tidak sopan terhadap Mrs Liora, Mr Michael!" ucap Calvin menundukkan kepalanya.
Daddy Michael pun tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa Calv, justru aku malah senang karena dokumen ini tidak di sentuh olehnya."
Mendengar itu, Calvin langsung mengangkat kepalanya kembali dan di tatapnya Daddy Michael sembari menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Jadi anda tidak marah Mr Michael?"
"Tentu saja tidak, untuk apa aku marah hanya karena masalah kecil saja."
"Terimakasih Mr Michael." ucap Calvin.
"Iya Calv." balas Daddy Michael.
"Oh iya Mister, sebenarnya saat saya sedang menuju ke ruang kerja anda, saya melihat Mrs Liora sedang berdiri di luar ruangan anda sambil menyandar di dinding. Sekilas saya mendengar suaranya yang mengatakan cucu dari si anak sial itu." ujar Calvin.
"Apa kamu bilang!" Daddy Michael tersentak. "Jadi Liora dari tadi sudah ada di luar ruang kerja ku? Hmmm, apa jangan-jangan dia juga mendengar pembicaraan ku dengan Rayyan?" sambungnya.
"Sepertinya begitu Mister," balas Calvin.
"Tsk, bener-bener wanita licik ini," sungut Daddy Michael. "Calvin!"
"Iya Mr Michael."
"Suruh beberapa orang untuk mengawasi Liora! Jangan sampai dia melakukan sesuatu pada anak dan cucuku!" perintah Daddy Michael.
"Baik Mr Michael." Calvin mengangguk patuh
•••••
Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, Liora pun langsung mengambil hpnya yang berada di atas kasurnya, lalu ia pun mencari nomor yang berada di dalam kontaknya dan menghubungi nomor tersebut. Akan tetapi....
'Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif' suara operator.
Berkali-kali mencoba untuk menghubungi kontak orang tersebut sambil berjalan bolak-balik di kamarnya. Namun tetap saja yang menjawabnya hanya operator dari telponnya.
"Tsk, kemana sih Maria ini, kenapa aku telpon tidak pernah aktif?" Liora mengumpat. "Apa jangan-jangan hpnya hilang atau terjadi sesuatu padanya?" sambung lirihnya.
Lalu kemudian Liora mendaratkan pan-tatnya di atas kasur seraya meremas rambutnya.
"Benar-benar si tua Michael ini! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu padaku. Dan bodohnya aku kenapa aku tidak tahu kalau si anak sial itu sudah mempunyai anak, kapan dia menikah? Wanita mana yang ia nikahi itu? Apa jangan-jangan wanita yang waktu itu di ceritakan oleh Kimberly dan Maria, seorang wanita miskin yang kerjanya hanya menjadi OB di Perusahaan milik si anak sial? Ck, kalau memang benar, ini tidak boleh di biarkan, aku harus pergi ke Indonesia dan menyelidikinya sendiri." ujarnya.
**************************
INDONESIA
Di siang hari dengan cuaca yang panas karena ketinggian matahari sudah berada di atas kepala membuat semua orang menghabiskan waktunya untuk beristirahat meskipun hanya beberapa saat saja.
Begitu pula yang ada berada di dalam Villa Z&R yang nampak sedikit sunyi karena para penghuni dari Tuan maupun pelayan sedang menikmati waktu istirahat siangnya meskipun di hari libur.
krieet....
Suara pintu terbuka yang berasal dari salah satu kamar yang berada di Villa tersebut, lalu kemudian seseorang keluar dari dalam kamarnya yang ternyata adalah Davin.
"Ah, benar-benar hari yang sangat panas!" ucap Davin seraya melangkahkan kakinya menuju ke tangga.
Setelah selesai menuruni anak tangga satu-persatu, Davin pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.
Sebelum sampai di dapur, Davin tiba-tiba menghentikan langkahnya, seketika mata Davin langsung melebar karena melihat minuman segar yang berada di atas meja makan.
"Minuman siapa ini? Nampak menggiurkan sekali," ucap Davin sambil mendudukkan dirinya di kursi seraya mengamati gelas minum tersebut.
"Kalau di lihat dengan teliti, jelas ini bukan minuman pelancar haid, juga bukan susu asin ataupun susu hamil yang pernah aku minum dulu. Hmmmm, berarti kalau begitu ini minuman yang aman dong untuk aku minum," sambung katanya.
Ia pun mengambil gelas tersebut dari atas meja dan mengarahkannya ke mulutnya dan saat gelas tersebut sudah menempel di bibirnya, tiba-tiba....
Sontak membuat Davin tersentak kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah....
"Zuy!" lirih Davin.
Zuy pun berjalan mendekat ke arah Davin, kemudian ia langsung mengambil gelas yang berada di tangan Davin.
"Zuy, kenapa kamu mengambil minuman itu? Apa jangan-jangan itu minuman milik mu?" tanya Davin.
Zuy mengangguk. "Iya Pak, ini minuman ku dan Pak Davin tidak boleh meminumnya!"
"Lho kenapa tidak boleh meminumnya? Apa kamu tidak mau berbagi dengan ku? Atau mungkin itu minuman aneh lagi?" cecar Davin yang nampak keheranan.
Sesaat Zuy menghela nafasnya.
"Pak Davin, sebenarnya ini tuh .... Ah bagaimana cara ngomongnya ini," papar Zuy yang kebingungan.
"Zuy, bicara dengan jelas dong!"
"Pak Davin, anu sebenarnya ini tuh minuman pelancar ...."
"Apa! minuman pelancar? Maksudmu minuman pelancar haid yang pernah aku minum itu?" Davin menyela perkataan Zuy karena terkejut mendengar kata 'pelancar'
Zuy mengibaskan tangannya sambil menggeleng.
"Bu-bukan pelancar haid Pak Davin, tapi pelancar ASI." jelas Zuy.
"Hah! Kamu bilang apa barusan? Pelancar ASI? Ka-kamu serius Zuy?" Davin lagi-lagi terkejut sambil membulatkan matanya dengan sempurna karena penjelasan dari Zuy tentang minuman tersebut.
"Ya tentu saja serius Pak Davin."
Sontak membuat Davin langsung menutup mulutnya dan beranjak dari posisinya.
"Anda mau kemana Pak?" tanya Zuy.
"Tentu saja ke kamar mandi, mau memuntahkannya," jawab Davin.
Zuy mengerenyit. "Hmmm, memuntahkannya? Memangnya Pak Davin sudah meminumnya?"
Davin menggeleng. "Belum Zuy."
"Lantas kenapa Pak Davin ingin memuntahkannya?"
Seketika Davin langsung tersadar dan menepuk jidatnya sendiri.
"Oh iya ya, benar juga apa yang kamu katakan itu Zuy. Duh habisnya suka kebiasaan sih, kalau salah minum pasti ujung-ujungnya langsung di keluarkan sama seperti episode-episode sebelumnya," lontar Davin.
Zuy pun terkekeh. "Mengenang masa lalu ya Pak, segala minuman langsung di minum, hihihi...."
"Hummmpt, habisnya minuman di sini unik-unik sih jadinya aku penasaran, beda jauh sama yang di Amerika."
"Yaudah aku buatkan minuman segar untuk Pak Davin ya!"
"Oke Zuy tapi jangan minuman aneh lagi ya!" pinta Davin.
"Siiip."
Zuy memutar badannya dan berjalan ke arah dapur membuatkan minuman untuk Davin, sesaat kemudian ia kembali ke arah meja makan dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman segar beserta camilan.
"Ini minuman dan camilan anda, Pak Davin!" kata Zuy sambil memberikan minuman tersebut pada Davin.
"Terimakasih Zuy, lalu satu lagi untuk siapa?" ucap Davin sekaligus bertanya.
"Tentu saja untuk Ray, Pak." jawab Zuy sembari meletakkan minuman pelancar ASI miliknya di nampan.
__ADS_1
"Oh...." Davin manggut-manggut.
Zuy mengangkat nampan itu.
"Yaudah Pak, Zuy ke kamar dulu ya!" pamit Zuy.
"Oke...."
Zuy kembali menjejakkan kakinya menuju ke arah lift yang berada di Villanya itu.
"Hmmm, singa betina masih tidur kali ya? Makanya suara raungannya belum terdengar di telinga ku?" lirih Davin.
Sementara itu....
Sesaat setelah keluar dari lift, Zuy pun berjalan beberapa langkah ke arah kamarnya, setibanya di depan pintu, ia pun mendorong pintunya hingga terbuka dan masuk ke dalam kamarnya seraya menutup pintunya kembali.
Ia pun menghampiri Ray yang kala itu sedang duduk di sofa sambil memandangi lautan yang terlihat dari kaca jendela kamarnya.
Lalu....
"Ray...."
"Sayangku...." Ray beralih ke Zuy.
Sebelum mendudukkan dirinya di samping pria tampannya, Zuy terlebih dahulu meletakkan minuman segar beserta camilannya yang ia bawa itu di atas meja. Setelah itu, Zuy pun langsung mendaratkan pan-tatnya dan duduk di samping Ray.
"Kenapa lama sayangku?"
"Oh, tadi itu ada Pak Davin, Ray."
"Kak Davin?"
Zuy mengangguk. "Iya dan dia hampir saja meminum minuman pelancar ASI milikku ini."
"Apa! Lalu apa yang terjadi? Apa dia sudah meminumnya?" Ray penasaran sehingga bertanya.
"Belum Ray, karena aku langsung mengambil minuman ku dari tangan Pak Davin dan melarangnya untuk meminumnya," jawab Zuy.
"Haaa.... Sayang sekali Kak Davin tidak jadi meminumnya," lirih Ray di selingi desahannya.
"Kenapa kamu nampak kecewa karena Pak Davin tidak jadi minum pelancar ASI milikku, Ray?" tanya Zuy menyidik.
"Ya karena aku jadi tidak bisa melihat wajahnya yang menyesal karena sudah meminum minuman yang salah. Kalau dia berhasil minum kan pasti ujung-ujungnya bakal bilang seperti ini 'apa aku bakalan keluar Asi seperti Zuy?' Sama halnya seperti sebelumnya, sayangku." ujar Ray di susul tawanya.
Zuy yang mendengarnya pun ikut tertawa geli.
"Hihihi.... Kamu ini benar-benar ya, suka banget liat Pak Davin menderita karena minuman."
"Habisnya lucu sih sayangku, hahaha...."
"Hummmph, tapi benar juga sih ya."
Mereka berdua menyemburkan tawanya bersama, lalu sesaat....
"Sayangku...."
"Hmmmm...."
Ray lalu menempatkan tangannya di perut Zuy dan mengelusnya.
"Apa sudah ada tanda-tanda kamu akan hamil lagi sayangku?"
"Hah! Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Ray? Apa kamu menginginkan aku hamil lagi?" bukannya menjawab Zuy malah bertanya kembali karena terkejut dengan pertanyaan Ray.
"Sebenarnya sih iya, aku menginginkan kamu hamil lagi," jawab Ray.
"Alasannya?"
Ray menghirup nafasnya dan membuangnya.
"Ya karena aku ingin punya anak lagi, sayangku." ujar Ray.
"Huu.... Dasar kamu ini Ray, memangnya sepasang anak kembar lucu seperti Baby R dan Baby Z belum cukup apa?"
"Belum sayangku, masih kurang. Bila perlu yang banyak sekalian biar rame, hahaha...." lontar Ray dengan tawanya.
"Hummmph!"
Ray lalu menyandarkan kepalanya di dinding sofa.
"Tapi sebenarnya sih, aku ingin sayangku hamil lagi karena aku ingin selalu berada di dekat sayangku, apalagi ketika sayangku melahirkan anakku. Jujur sampai sekarang ini aku masih sangat menyesal karena tidak ada dan menemani sayangku saat melahirkan Baby R dan Baby Z. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kamu bertaruh nyawa demi melahirkan mereka berdua. Walaupun momen melahirkan mu itu di rekam lewat video, tapi rasanya masih belum cukup untukku sayangku, maka dari itu aku berharap kamu hamil lagi supaya aku bisa selalu ada untukmu dan menemani mu saat kamu lahiran lagi nanti," ungkap Ray dengan panjangnya.
Zuy pun tertegun mendengar ungkapan Ray, lalu di peluknya dengan erat tubuh kekar Daddy dari anak-anaknya itu.
"Oh jadi begitu ya, makanya kamu ingin aku hamil lagi. Ray dengarkan aku! Jujur aku juga sempat kecewa sama kamu karena tidak ada di samping ku dan menemani ku waktu aku melahirkan si kembar. Tapi waktu itu kan tidak ada yang tahu kalau aku bakalan melahirkan dengan cepat tidak seperti apa yang di jadwalkan sebelumnya. Itu sepenuhnya bukan kesalahan kamu karena tidak bisa menemani ku, Ray. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu karena hal itu ya Daddy tampannya anak-anakku!" tutur Zuy mengelus lembut pipi Ray.
Ray tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, terimakasih sayangku," ucapnya.
"Iya sama-sama tampan-ku."
Lalu Ray meraih tangan Zuy yang berada di pipinya dan menciumi telapak tangan Zuy kemudian beralih ke wajah serta leher Zuy membuat Zuy merasakan kegelian.
"Ray...."
"Ehmm...."
"Berhenti! Kamu membuat ku kegelian," pinta Zuy.
Akan tetapi Ray terus saja melakukan aksinya hingga sampai pada akhirnya Zuy menyerah dan mengikuti permainan Ray sampai selesai. (Misteri sofa bergeser.. hihihi...🤭)
****************************
Sementara itu di tempat Noel Gallagher, Desi nampak sedang menyiapkan makanan dan meletakkannya di nampan. Setelah selesai, ia pun melangkahkan kakinya sambil membawa nampan tersebut menuju ke arah kamar di mana Maria berada.
Sama halnya seperti hari-hari sebelumnya, tentunya atas perintah dari bos-nya itu. Karena tugas Desi sebenarnya adalah melayani Maria.
Sesampainya di depan kamar, Desi membuka pintunya dengan menggunakan sikunya dan saat pintu terbuka, ia pun bergegas masuk.
"Mrs Maria waktunya makan si...."
Praaaang....!!
***Bersambung.....
Author: "Hai Kakak2 kesayangan aku! Maafkan Author ya yang baru updet, karena kemaren Author habis jenguk rumah baru kekasih halal sekaligus tercinta Author yang berada di daerah pegunungan (Subang) di sana sinyalnya benar-benar minim banget dan lagi Author juga butuh ketenangan di sana sampai Author kembali lagi ke Ibu Kota. 😌😌
Terimakasih banyak karena sudah menunggu CUP (Pede Euy... 🤭🤭) mohon dukungannya ya Kakak2 karena CUP untuk kedua kalinya ikut lomba tim. Semoga saja menang tapi gak berharap banget sih... 🤣🤣
Oh iya terimakasih yang sudah memberikan hadiah dan Votenya atau tips untuk cerita Absurd dari CUP Ray, Zuy dkk. Semoga di ganti rezekinya yang lebih lagi. Sehat dan sukses selalu buat Kakak semuanya. Tetap semangat... semangat... semangat.... ♥️♥️😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1