
<<<<<
"Bunda minta di hari ulang tahunnya itu kamu sama Kak Maria harus akur layaknya Ibu dan anak, Zuy."
"Apa?!"
Perkataan dari Dimas berhasil membuat Zuy terperangah hingga matanya membelalak.
"Ja-jadi permintaan Nenek, Zuy sama Mrs Maria harus akur, Paman?!" lanjut tanya Zuy.
Dimas pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Zuy, Bunda yang bilang seperti itu sama Paman. Ya mungkin karena Bunda shock dan takut kejadian yang waktu itu terulang lagi, makanya Beliau meminta kalian berdua harus akur di saat hari ulang tahunnya."
"Tunggu Paman! Barusan Paman bilang kejadian waktu itu? Maksud Paman kejadian yang waktu di kamar Mrs Maria ya?" cecar Zuy.
"Iya Zuy." singkat Dimas di barengi anggukannya.
Zuy membuang nafasnya sejenak.
"Em.... Tapi Paman, kejadian itu Zuy benar-benar tidak melakukannya dan waktu itu juga Zuy beneran gak tau kalau Mrs Maria habis menjalani operasi."
Dimas tersenyum kemudian berkata, "Paman tau itu Zuy dan Paman juga percaya kalau kamu tidak mungkin melakukan hal setega itu apalagi terhadap Ibu kamu sendiri."
"Syukurlah kalau Paman percaya sama Zuy, terimakasih ya Paman." ucap Zuy di susul senyumnya.
"Iya Zuy." balas Dimas. "Lalu bagaimana dengan permintaan Bunda, apa kamu mau mengabulkannya, Zuy?" lanjutnya.
Zuy seketika menundukkan kepalanya, matanya pun berkeliling seraya menggigit bibir bawahnya serta tangannya yang meremas kuat ujung bajunya. Dan itu menunjukkan bahwa Zuy tengah bingung menjawabnya.
"Zuy...." tegur Dimas.
Zuy mengangkat kepalanya melihat kembali ke Dimas.
"Iya Paman."
"Kenapa barusan diam dan menunduk seperti itu? Apa kamu bingung menjawabnya, Zuy?"
"Ah, itu..., Zuy—"
Lalu tiba-tiba....
"Tinggal jawab iya aja apa susahnya sih, dasar anak durhaka!!" seru seseorang dari arah sisi lainnya.
Sontak membuat Zuy dan Dimas langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah....
"Mrs Maria!"
"Kak Maria!"
Zuy lalu melihat Dimas kembali.
"Paman, kenapa Mrs Maria ada disini?!" tanya Zuy keheranan.
"Itu..., nanti Paman jelasin ke kamu. Kamu tunggu disini bentar ya! Paman mau ke Ibu kamu dulu."
"Iya Paman Dokter." balas Zuy di sertai anggukkan kepalanya.
Kemudian Dimas bangkit dari posisinya dan menghampiri Maria yang sedang bersama dengan Mira.
"Mir, kenapa kamu bawa Kak Maria keluar?" pekik Dimas.
"Maaf Tuan Dimas, tapi—"
"Jangan menyalahkan Mira! Aku yang memintanya untuk membawaku keluar." sela Maria.
"Tapi Kak Maria, bukankah tadi Dimas udah bilang ke Kakak untuk nunggu di dalam dulu sampai Dimas selesai bicara dengan Zuy."
Maria mendesah. "Iya Kakak tau, tapi harus nunggu sampai kapan Dimas?! Dan lagi Kakak juga ingin bicara dengan anak durhaka itu!"
"Kak Maria!"
"Dimas, Kakak hanya ingin bicara dengannya saja! Dan Kakak janji tidak akan membuat keributan di sini." kata Maria.
"Benarkah apa yang Kakak bilang barusan itu?!" tanya Dimas memastikan.
Maria mengangguk. "Iya tentu saja benar Dimas, masa kamu gak percaya sama Kakak sih!"
"Bukannya gak percaya Kak, hanya saja Dimas khawatir kalau Kakak akan buat keributan lagi." ujar Dimas.
"Ck, kamu ini Dimas. Kakak gak akan berbuat seperti itu. Udah cepat bawa Kakak ke anak durhaka itu!"
"Kak, namanya Zuy bukan anak durhaka!"
"Iya-iya Kakak tau nama dia Zuy, sudah buruan bawa aku padanya, Dim!"
"Iya Kak."
Dimas terlebih dahulu kemudian Mira menyusul dengan mendorong kursi roda Maria. Sedangkan Zuy sedari tadi hanya terus melihat ke arah Dimas dan Maria. Namun berbeda dengan jantungnya yang berdegup kencang dan tangannya yang bergetar.
"Bagaimana ini? Jujur aku belum siap bertemu dengannya." batin Zuy.
"Zuy...." Dimas menepuk pundak Zuy membuatnya tersadar dan mengerjapkan matanya.
"Eh, iya Paman." sahutnya seraya menatap Pamannya.
"Jangan takut! Ada Paman disini." tutur Dimas.
"I-iya Paman." singkat Zuy.
Sesaat Maria sudah berada di dekat mereka dan saling berhadapan dengan anaknya.
"Mrs Maria, a-apa kabar?" tanya Zuy seraya mengulurkan tangannya dan akan meraih tangan Maria.
Namun sayangnya Maria malah menepis tangan Zuy dengan menggunakan tangan kirinya membuat Zuy tersentak sekaligus kecewa.
"Kak Maria apa yang Kakak lakukan?!" pekik Dimas.
"Kakak tidak melakukan apa-apa, hanya saja Kakak tidak ingin berjabat tangan dengannya." ujar Maria seraya mengalihkan pandangannya ke arah lainnya.
Sehingga Dimas mengerutkan keningnya seraya mendengus karena ia kesal dengan sikap Maria.
"Maafkan saya atas sikap saya barusan, Mrs Maria!" ucap Zuy sembari menundukkan kepalanya.
"Zuy!" lirih Dimas.
Mendengar ucapan dari Zuy, Maria pun kembali melihat Zuy sembari menyunggingkan senyum smirk-nya.
"Heh, ternyata kamu masih punya rasa sopan santun juga terhadap ku." cebik Maria. "Sekarang kalian semua duduk! Aku tidak ingin bicara sambil melihat kalian berdiri seperti itu!" sambungnya.
Seketika Zuy dan Dimas langsung mendudukkan dirinya di atas kursinya masing-masing, begitu pula dengan Mira yang menjauh beberapa jarak dan duduk di kursi lainnya.
Lalu....
"Hei Anak durhaka! Kamu pasti tidak menyangka kan kalau aku juga ada disini?!"
Zuy membalas dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Biar ku beri tahu, sebenarnya pertemuan antara kamu dengan Dimas ini adalah atas permintaan ku. Aku membujuk Dimas supaya dia mau menghubungi mu dan meminta kamu untuk datang ke tempat makan ini. Untungnya adikku tercinta mau menuruti permintaan ku ini, ya meskipun aku sebenarnya malas bertemu dengan anak durhaka seperti mu ini." jelas Maria.
Sontak membuat Zuy tercengang dan mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.
"Paman...." lirih Zuy.
"Maafin Paman, Zuy! Paman juga sebenarnya ingin menolaknya akan tetapi ini demi Bunda, jadi Paman terpaksa melakukannya." ujar Dimas membuat Zuy memasang ekspresi wajah sendunya.
"Sudah kalian berdua jangan berbicara sendiri saja! Dan untuk kamu, anak durhaka!"
Zuy menengadah kembali menatap Maria.
"Aku tidak ingin basa-basi lagi! Tadi Dimas sudah memberitahu kamu kan tentang tujuannya mengajakmu ketemuan disini?!"
Zuy mengangguk. "Iya sudah, Mrs Maria."
"Nah sekarang aku minta sama kamu. Dalam satu hari di acara ulang tahun Bunda nanti, kita harus pura-pura akur layaknya Ibu sama anak! Apa kamu bisa melakukannya? Hm!" lontar Maria.
Zuy menghela nafasnya sejenak.
"Kalau itu Zuy bisa melakukannya. Tapi kenapa kita harus berpura-pura Mrs Maria? Kenapa tidak beneran saja akurnya, jadi kita bisa hidup bahagia seperti Ibu dan anaknya seperti lainnya. Jujur Zuy ingin sekali berdamai dan hidup akur serta rukun bersama dengan anda, Mrs Maria." kata Zuy.
Braak....
Maria tiba-tiba menggebrak meja di depannya, seketika berhasil membuat Zuy dan Dimas tersentak kaget.
"Kak Maria!"
"Hei anak durhaka! Kamu ini ya udah di kasih hati tapi mintanya jantung. Masih untung aku mau melakukan hal konyol ini demi Bunda. Kalau tidak, mana sudi aku melakukannya meskipun hanya berpura-pura saja. Dan lagi sampai kapanpun aku tetap tidak akan mau berdamai dengan kamu, karena kamu sudah melukai hati Kimberly." cerca Maria.
Nyut!
Seketika hati Zuy langsung terasa sakit saat mendengar cercaan dari Mamahnya itu.
__ADS_1
"Kak Maria, kenapa malah jadi seperti ini? Bukannya tadi Kakak bilang kalau Kakak tidak akan membuat keributan disini?!"
"Diam Dimas!" sentak Maria.
Lalu....
"Oh.... Ternyata karena Kimberly lagi makanya sampai sekarang anda sangat membenci Zuy dan bahkan menganggap Zuy sebagai anak durhaka. Iya seperti itu, Mrs Maria?!"
"Iya memang seperti itu, kamu memang anak durhaka yang tega menyakiti hati adiknya sendiri. Bukan hanya itu saja, kamu bahkan ingin membunuh ku dengan membuat luka operasi ku kembali terbuka dan itu yang membuat ku semakin benci terhadap mu."
Zuy pun menarik nafasnya dan mencoba untuk tetap tenang mendengar perkataan Maria.
"Terus di mata anda Kimberly itu seperti apa? Sampai-sampai anda begitu sangat menyayanginya di bandingkan dengan Zuy, Mrs Maria?!"
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan kamu punya maksud lain?!"
Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Zuy tidak ada maksud lain, Zuy hanya ingin tahu saja, Mrs Maria!"
"Zuy, sudah jangan di teruskan lagi! Lebih baik kamu pulang ya! Kasihan anak-anak kamu kalau terlalu lama di tinggal pergi." tutur Dimas.
"Nanti dulu ya Paman! Soalnya Zuy penasaran dan ingin tahu kenapa Kimberly bisa di sayang dan di manja banget sama Mrs Maria sedangkan Zuy malah di bedakan, seakan Zuy bukan anak kandungnya sendiri." lontar Zuy dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Melihatnya pun membuat Dimas tertegun.
"Zuy, kamu—"
"Jadi kamu benar-benar ingin tahu kenapa aku sangat menyayangi Kimberly?"
Zuy kembali membalasnya dengan anggukan kepala saja.
"Baiklah kalau begitu aku akan langsung memberitahu mu. Aku sangat menyayangi Kimberly karena Kimberly anak yang paling baik, cantik, model terkenal, pengertian, lemah lembut dan yang paling penting dia anak yang penurut serta patuh terhadap orang tuanya. Tidak seperti kamu, anak pembangkang, durhaka suka mengambil apa yang menjadi milik orang lain, kasar, bahkan seorang wanita j*lang. Maka dari itu aku lebih sangat menyayangi Kimberly di bandingkan dengan kamu, anak durhaka!" jelas Maria. "Apa kamu sudah puas dengan jawaban ku ini? Hah!"
Zuy manggut-manggut.
"Ya Zuy puas dan sangat puas. Ternyata memang seperti itu ya Zuy di mata anda, Mrs Maria." Zuy kembali menghela nafasnya. "Yaudah kalau begitu Zuy pamit pulang. Lalu untuk permintaan anda, Zuy pasti akan melakukannya dan ini hanya untuk Nenek bukan untuk anda, Mrs Maria."
"Baguslah kalau begitu!" balas Maria di susul seringainya.
Namun berbeda dengan hatinya yang tiba-tiba terasa nyeri serta tangan kirinya meremas kuat ujung bajunya itu. Zuy segera bangkit dari posisinya lalu meraih tangan Dimas seraya menciumnya.
"Paman, Zuy pulang dulu." pamit Zuy.
"Zuy, maafin Paman ya!" ucap Dimas.
"Tidak apa-apa Paman, terimakasih banyak ya Paman untuk traktirannya ya meskipun Zuy belum sempat makan juga. Hihihi...."
"Zuy...." lirih Dimas.
"Oh iya Paman, Zuy titip salam ya buat Kak Eqi sama Nenek juga."
"Iya nanti Paman sampaikan salam kamu, Paman juga titip salam buat semuanya ya!"
"Iya Paman."
Zuy lalu beralih ke arah Maria sembari membungkukkan badannya.
"Mrs Maria, Zuy pamit pulang. Terimakasih banyak!" ucap Zuy.
Maria tidak menjawab dan malah membuang wajahnya ke arah lainnya. Sesaat Zuy pun melenggang pergi meninggalkan keduanya.
"Kak, kenapa sih Kakak gak pernah baik terhadap Zuy? Dan sekarang Kakak malah menambah luka di hatinya lagi," cecar Dimas.
"Diamlah Dimas! Jangan bikin Kakak tambah pusing." pekik Maria seraya memijat kedua pelipisnya.
"Terserah Kakak aja lah! Dimas juga pusing dengan kelakuan Kak Maria yang gak pernah berubah." cebik Dimas.
Keduanya pun sama-sama terdiam.
Sementara itu....
Setelah berada di luar tempat makan, Zuy pun langsung berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat makan tersebut. Henri yang melihat Zuy pun segera keluar dari mobil.
"Nyonya...."
Zuy hanya membalas dengan anggukan seraya tersenyum tipis, kemudian Henri membukakan pintu mobilnya untuk Zuy.
"Silahkan Nyonya!"
"Terimakasih Hen."
Zuy pun langsung masuk ke dalam dan di susul oleh Henri.
"Oh, siap Nyonya."
Henri lalu menyalakan mobilnya dan sesaat kemudian ia melajukannya meninggalkan tempat makan tersebut.
Sepanjang perjalanan, Zuy hanya terdiam namun tidak untuk air matanya yang tak berhenti mengalir membasahi pipinya, Henri yang melihat dari pantulan kaca di depannya pun hanya bisa terdiam dan tidak berani bertanya. Lalu tiba-tiba....
"Hen, stop!" seru Zuy.
Henri pun langsung menghentikan laju mobilnya secara mendadak dan menolehkan kepalanya ke arah Zuy.
"Ada apa Nyonya? Kenapa anda meminta saya berhenti di sini?!"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin ke taman saja!" jawab Zuy.
Ia pun membuka pintunya dan keluar dari mobilnya, begitu pula dengan Henri.
"Nyonya...."
"Hen, kamu disini bentar ya! Aku ingin nenangin diri dulu!"
"Iya Nyonya." Henri mengangguk patuh.
Zuy pun berjalan ke arah taman dan duduk di tempat yang terbuat dari beton seraya menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya Nyonya kenapa ya?" lirih Henri. "Tunggu! Bukankah taman ini sangat dekat dengan Perusahaan? Kalau gitu aku harus menghubungi Tuan Ray siapa tau dia sedang tidak sibuk."
Henri lalu mengeluarkan hpnya untuk menghubungi seseorang.
-
•Perusahaan CV
Sementara itu di ruang CEO, Ray nampak sibuk menandatangani beberapa dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Namun tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang menyerang di hatinya sehingga membuatnya menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?" lirih Ray.
Lalu kemudian Davin datang seraya membuka pintunya.
"Tuan Ray." seru Davin berjalan menghampiri Ray.
Ray menengadah. "Hmm, ada apa Kak?"
Davin lalu menyodorkan hpnya pada Ray.
"Ini Tuan, ada telpon dari Henri katanya ada sesuatu penting yang harus ia sampaikan pada anda!"
Ray mengerenyit. "Sesuatu penting?! Apa jangan-jangan...."
Ia pun langsung menyambar hp Davin dari tangannya kemudian menempelkannya di telinganya.
"Halo Henri, ini aku Ray."
"Iya Tuan Ray."
"Tadi Kak Davin bilang kamu ingin bicara dengan ku karena sesuatu penting. Memangnya ada apa Hen?"
"Begini Tuan Ray, Nyonya sekarang ada di taman dekat dengan Perusahaan CV dan Nyonya terlihat sangat sedih bahkan waktu di perjalanan Nyonya terus saja menangis." jelas Henri.
"Apa!" Ray tersentak. "Memangnya apa yang terjadi? Kenapa Nyonya bisa menangis?"
"Maaf Tuan saya juga tidak tau dan saya juga tidak berani bertanya."
Ray menarik nafasnya.
"Yaudah kalau begitu aku akan ke taman sekarang, kamu awasi Nyonya dulu sampai aku tiba di sana!" titah Ray.
"Baik Tuan Ray."
Ray lalu memutuskan telponnya secara sepihak.
"Kak Davin!" ia memberikan hp milik Davin.
"Tuan Ray ada apa?!"
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Mamahnya si kembar. Kak Davin tolong nanti semua dokumen ini bawa pulang ya! Kalau Kak Davin mau pulang juga duluan aja, soalnya aku mau ke taman."
"Taman! Memangnya mau apa Tuan kesana?" tanya Davin.
__ADS_1
"Karena Zuy ada di sana!" jawab Ray.
"Oh, yaudah hati-hati Tuan Ray!"
"Hmmm," Ray mengangguk kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Semoga tidak terjadi sesuatu pada Zuy." lirih Davin.
Beberapa saat kemudian....
Ray akhirnya sampai di Taman, setelah memarkirkan mobilnya di sisi jalan, ia pun segera turun dan menghampiri Henri yang kala itu tengah berdiri menyandar di mobil.
"Henri!" tegur Ray seraya menepuk bahunya.
Henri pun langsung memalingkan wajahnya ke arah Ray.
"Tuan Ray." ia menundukkan kepalanya.
"Di mana Nyonya?!"
"Itu Nyonya, Tuan." Henri menunjuk ke arah Zuy.
Ray lalu mengalihkan pandangannya ke arah di mana Henri menunjuk, kemudian beralih kembali ke Henri.
"Yaudah sekarang kamu pulang dulu, biar nanti Nyonya pulang denganku saja, ya!" suruh Ray.
"Siap Tuan Ray."
Henri lalu masuk ke dalam mobilnya dan sesaat melajukannya. Sedangkan Ray berjalan menuju ke arah pujaan hatinya. Saat sudah di dekatnya....
"Sayangku...."
Mendengar suara Ray, Zuy pun langsung mengangkat kepalanya dan menoleh.
"Rayyan!"
Ray tersenyum kemudian mendudukkan dirinya di samping Zuy.
"Iya sayangku ini aku."
"Kenapa kamu bisa ada di sini, apa jangan-jangan Henri yang memberitahu mu?!" tanya Zuy.
"Tidak sayangku, aku kesini karena aku menduga kalau sayangku ada disini eh ternyata dugaan ku benar kalau kamu memang ada di sini."
"Hmm, jawaban macam apa itu Ray? Bilang aja kalau Henri yang memberitahu mu."
Ray terkekeh. "Iya sih sebenarnya Henri yang memberitahu ku kalau kamu ada disini, hehehe...."
"Humph!"
"Sayangku, ikut aku yuk!" ajak Ray.
"Ikut kemana?!"
Tanpa berkata, Ray langsung menggandeng tangan Zuy, keduanya pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah mobil. Lalu kemudian Ray dan Zuy masuk ke dalam mobilnya.
"Kita mau kemana Ray?"
"Ke suatu tempat!" jawab Ray sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Hah!"
Sesaat ia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
*******************
Hotel
Hanya butuh beberapa menit perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat yang tak lain adalah Hotel.
"Ray, kenapa kamu membawa ku ke hotel?!"
"Nanti kamu juga akan tahu, ayo turun!"
Mereka berdua pun turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu masuk dan menuju ke resepsionis hotel untuk memesan kamar. Setelah selesai, mereka berdua pun langsung menuju ke kamar yang di pesannya dengan type deluxe room.
Setelah berada di dalam kamar, keduanya pun duduk di atas tempat tidur.
Lalu....
"Sayangku...."
"Iya."
Ray tiba-tiba merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya dengan erat membuat Zuy keheranan dan mendongakkan kepalanya menatap pria tampannya itu.
"Jangan menatap ku! Kalau sayangku ingin menangis, maka menangis lah! Karena di sini hanya ada aku saja." kata Ray.
Dan benar saja saat mendengar perkataan Ray, Zuy pun langsung menangis sejadi-jadinya di pelukan pria tampannya sehingga membuat Ray terenyuh, lalu di elusnya punggung Zuy dengan lembut seraya mencium puncak kepalanya.
Sesaat kemudian, Zuy akhirnya tenang dan berhenti menangis. Ia pun melepaskan pelukannya dari pria tampannya itu.
"Apa sayangku sudah merasa lebih baik?!"
Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya sudah, terimakasih ya Ray." ucap Zuy.
"Sama-sama sayangku. Sekarang katakan padaku apa yang terjadi sampai kamu bisa menangis seperti ini?!" tanya Ray. "Tapi kalau sayangku gak mau cerita dulu juga gak apa-apa kok."
"Ray, sebenarnya tadi aku bertemu dengan Mrs Maria."
"Apa!"
Zuy lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Dimas dan Maria. Setelah selesai....
"Oh jadi begitu ya! Benar-benar Mrs Maria ini masih saja menyakiti sayangku, kali ini aku tidak akan memaafkannya lagi."
"Ray, tolong kamu jangan marah dulu!"
"Tapi sayangku, Mrs Maria itu su—"
Perkataan Ray tiba-tiba terhenti karena Zuy menyambar bibirnya dan menyesapnya dengan lembut membuat Ray teralihkan dan langsung membalas ciuman pujaan hatinya itu.
Dua menit kemudian, keduanya melepaskan tautan bibirnya.
"Sayangku, kamu pintar ya mengalihkan pembicaraan kita ini."
"Aku begini juga karena belajar dari kamu, Ray. Kalau begitu apa lagi yang kamu tunggu, bukankah kamu sengaja memesan kamar hotel ini supaya kita bisa bebas berduaan, iya kan?"
Ray tersenyum seraya merapikan anak rambut pujaan hatinya yang berantakan.
"Ternyata sayangku peka juga ya! Ya aku memang ingin berduaan sebentar dengan kamu, sayangku. Jadi siapkan dirimu ya! Karena beberapa jam aku akan memakan mu tanpa ampun."
Zuy menyunggingkan senyum manisnya kemudian duduk di pangkuan Ray seraya mengalungkan tangannya ke leher pria tampannya.
"Kalau begitu lakukan lah sepuas kamu, tampan-ku! Karena aku adalah milikmu seorang."
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, sayangku. Aku tidak akan menahan diriku lagi."
Ray langsung mengungkung tubuh Zuy dan memulai aksi buasnya bagaikan serigala buas. Suara misteri pun terdengar di kamar hotel tersebut.
"Aku sangat mencintaimu, Rayyan!"
"Aku juga sangat-sangat mencintaimu, sayangku."
(Yuk Travelling otak lagi! 😅)
...----------------...
Villa Z&R
—Pukul 02.30am
Malam semakin larut, para penghuni Villa pun masih terlelap dalam mimpinya begitu pula dengan Ray dan Zuy yang sedari tadi sudah berada Villa.
Namun berbeda Mamahnya Airin yang nampak berada di dapur dan tengah membuat sesuatu. Lalu kemudian seseorang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lagi apa Tante?" tanyanya.
"Ini, Tante lagi masak air buat bikin teh!"
Mamahnya Airin pun membalikkan badannya menghadap ke arah orang yang berdiri di belakangnya itu.
"Ju-jurig!"
"Hantu!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌