
<<<<<
Ray segera menancapkan gas mobilnya, keluar dari halaman rumahnya, di ikuti oleh mobil Davin. Mereka pun langsung menuju ke Perusahaan CV.
••••••••••
Selama di perjalanan, Ray mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun pandangannya sesekali mengarah ke Zuy yg sedang duduk di sampingnya.
"Kak.." panggil Ray
Zuy menoleh dan bertanya, "Ada apa Tuan Muda?"
Lalu salah satu tangan Ray menggenggam erat tangan Zuy.
"Terimakasih sayang.." ucap Ray, lalu kemudian ia mencium tangan Zuy.
"Terimakasih? terimakasih untuk apa Tuan?" tanya Zuy yang keheranan.
Ray menyunggingkan senyuman, dan berucap, "Terimakasih karena sudah terlahir untukku, sayangku.."
Deeeg...
Seketika jantung Zuy langsung berdegup kencang seperti gendang yang sedang di tabuh, lalu ia menundukkan kepalanya, wajahnya pun merah semu bak tomat matang.
"Tuan Muda, anda selalu saja ya, berhentilah menggodaku dan fokus pada jalanan," pekik Zuy.
Ray pun terkekeh melihat Zuy seperti itu, "Hihihi, siap Tuan putriku yang cantik," ujar Ray.
Ia pun kembali fokus pada kemudinya, namun salah satu tangannya terus memegangi tangan Zuy.
Sementara itu di mobil lainnya..
Davin terus fokus pada kemudinya, sedangkan Airin sedari tadi hanya memainkan hpnya, lalu tiba-tiba..
Hatchuuuuu...
Suara bersin dari Davin terdengar keras, sehingga Airin langsung menoleh ke arah Davin yang tengah menggosok-gosok bagian bawah hidungnya.
"Kenapa Pak Davin, apa anda demam?" tanya Airin
"Entahlah Rin, dari tadi aku merasa ada hawa dingin yang menusukku," ujar Davin.
"Mungkin anda kelelahan Pak," kata Airin, "Atau mungkin anda sedang gugup karena berduaan denganku.. Hahaha.." sambungnya menggoda Davin.
Lalu Davin menoleh ke arah Airin, "Huuu.. Pede kamu Rin.." papar Davin.
Airin pun terkekeh, sedangkan Davin kembali fokus menyetir...
****************
Perusahaan CV
Beberapa saat kemudian, Ray pun sampai di Perusahaan CV, Lalu ia menghentikan mobilnya, tepat di pintu masuk tempat acara yang sudah terbentang karpet merah di bawahnya.
Lalu seorang pengawal langsung membukakan pintunya. Ray segera keluar dari mobilnya. Kemudian Pengawalnya kembali membukakan pintu sebelahnya di mana Zuy berada, setelah di buka Zuy pun keluar dari mobilnya.
"Kak, ayo..!!" ajak Ray sembari menyodorkan lengannya
Zuy pun menganggukkan kepalanya, dan memasukkan tangannya ke lengan Ray. Lalu mereka pun berjalan di atas karpet merah memasuki tempat acara, Davin dan Airin yang sudah sampai langsung mengikuti dari belakang.
Sesampainya, semua orang yang hadir langsung menyambut hangat kehadiran Ray dan Davin. Lalu para Karyawan langsung membungkukkan badannya.
"Selamat datang Tuan Ray, Pak Davin.." sambut para karyawan.
Ray kemudian menyunggingkan senyumannya, "Terimakasih.." ucapnya, begitu pula dengan Davin.
Lalu Ray, Zuy, Davin dan Airin berjalan menuju ke arah Pak Willy yang sedang mengobrol dengan yang tamu lainnya. Sesaat setelah mereka pergi, semua karyawan langsung membicarakan tentang Zuy dan Airin yang menjadi pendamping Ray dan Davin, terutama Karyawan wanita yang ngefans pada Ray dan Davin.
"Beruntung sekali mereka, bisa mendampingi Tuan Ray dan Pak Davin.."
"Padahal mereka hanya OB, lebih rendah dari kita.. huhuhu aku jadi iri.. apa aku harus jadi OB juga.."
"Walau OB, tapi keduanya memiliki paras wajah yang cantik, aku hampir tidak mengenali mereka.."
"Ah paling juga mereka memaksa Tuan Ray dan Pak Davin.."
Lontaran demi lontaran dari semua karyawan yang ada di sana, tidak terkecuali, bahkan Citra yang merasa sedikit kesal dan cemburu saat melihat Airin dan Davin.
"Pak Davin, kenapa harus Airin yang menjadi pendamping anda.. apa hebatnya dia di banding saya, " lontar Citra.
Sama halnya dengan Brian yang cemburu saat melihat Airin dan Davin bergandengan.
"Airin, kamu terlihat cantik memakai gaun seperti itu, tapi sayangnya bukan aku yang ada di sebelahmu," lirih Brian
"Kak Brian, Kakak kenapa?" tanya Salsa yang sejak tadi sudah berada di samping Brian
Lalu Brian menoleh ke Salsa, "Ah, tidak apa-apa Sa," jawabnya, kemudian ia kembali melihat ke arah Airin.
°°°°°
Setelah berada di dekat Pak Willy, Ray langsung menepuk pundak Pak Willy.
"Om Willy.." sapa Ray
Pak Willy pun menoleh, "Rayyan, Selamat datang.." Pak Willy langsung memeluk Ray.
"Terimakasih Om Willy..," balas Ray.
Kemudian Pak Willy melepaskan pelukannya dan beralih ke arah Zuy. Pak Willy pun mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
__ADS_1
"Zuy seperti biasa kamu terlihat cantik," puji Pak Willy.
"Terimakasih banyak Pak Willy.." balas Zuy, sedikit membungkukkan badannya ke arah Pak Willy.
Semua tamu pun langsung berjabat tangan dengan Ray sembari mengucapkan selamat pada Ray, karena merasa tidak nyaman, Zuy langsung menjauh beberapa jarak dari Ray. Lalu kemudian...
"Kak Zuy..." sapa seseorang
Lalu Zuy menoleh ke arah suara yang menyapanya itu, ia terkejut melihat seorang wanita cantik bersama pria tinggi berparas tampan dengan mata birunya, sudah berdiri di belakangnya. Lalu wanita itu tersenyum dan langsung memeluk Zuy.
"Kak Zuy, Apa kabar?" tanyanya.
"No-nona Ayasya, kabarku baik-baik saja Nona," jawab Zuy, dan ternyata dia adalah Ayasya.
"Lalu Nona Ayasya sendiri gimana kabarnya?" sambung tanya Zuy
"Kabarku juga ba ...," belum sempat menjawab, tiba-tiba..
"Oh jadi ini yang namanya Zuy, wanita yang sangat ingin kamu temui, Nyonya Stevano," sela Pria yang bersamanya, membuat Ayasya mendengus kesal,
Ayasya pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Pria tersebut
"Plankton, bisakah kau tidak menyela pembicaraan kami," pekiknya dengan nada lirih kepada Pria yang di sampingnya.
Pria itu hanya bisa menatap Ayasya tanpa berkata apa-apa. Lalu pandangan Ayasya beralih pada Zuy kembali. Kemudian Pria di sampingnya langsung menyodorkan tangannya ke arah Zuy.
"Perkenalkan nama saya Daffin Mayas Stevano Ceo dari DS CORP, suami dari Nyonya Stevano bukan maksudku Ayasya.." ucapnya yang ternyata Daffin suami dari Ayasya.
"Saya Zoey Lestari, anda bisa memanggil saya Zuy," balas Zuy sembari menjabat tangan Daffin. Lalu...
"Sayang, kenapa ada di sini?" tanya Ray yang berjalan menghampiri Zuy, kemudian ia menoleh ke arah Ayasya dan Daffin yang berada di samping Zuy.
"Tuan Stevano, Nyonya Stevano..!!"
"Tuan Rayyan," Ayasya pun mengangguk sambil tersenyum.
Lalu Ray mengulurkan tangannya pada Daffin, "Tuan Stevano, apa kabar?"
"Kabarku baik-baik saja, Tuan Rayyan, selamat atas kesuksesan anda," kata Daffin membalas uluran tangan Ray.
"Terimakasih banyak Tuan Stevano, dan terimakasih juga anda sudah datang di acara ulang tahun Perusahaan CV," ucap Ray.
"Sama-sama Tuan Rayyan, saat mengetahui bahwa saya mendapat undangan dari anda, istri saya sangat bersemangat sekali ingin menghadiri acara ini, katanya dia mengidam ingin bertemu dengan seseorang yang sudah di anggapnya sebagai ...," balas Daffin yang belum selesai, karena Davin dan Airin datang menghampiri mereka.
"Tuan Ray, maaf mengganggu kalian, tapi acaranya segera di mulai, anda di minta untuk bersiap-siap," jelas Davin, lalu kemudian ia melihat ke arah Ayasya dan Daffin.
"Nyonya Stevano, Tuan Stevano,"
Ayasya pun tersenyum saat melihat Davin, "Tuan Amoeba.."
Melihat Ayasya tersenyum pada Davin, membuat Daffin suaminya Ayasya merasa cemburu, lalu ia pun menatap ke arah Davin, membuat Davin terkejut melihat tatapan Daffin yang tidak biasa terhadapnya. Lalu ia menjauh beberapa jarak dan berdiri di belakang Airin.
"Tidak ada apa-apa Rin," jawabnya yang gemetaran.
Kemudian Zuy menoleh ke arah Davin dan berkata, "Oh iya Pak Davin, tadi kata Tuan Stevano, Nona Ayasya sedang mengidam, mungkin dia ingin bertemu dengan anda lagi."
"Oh matilah aku, kalau Nyonya Stevano, mengidam ingin mengelus wajahku lagi, bisa-bisa Tuan Stevano semakin menatap wajahku dengan tatapan tajam seperti Tuan Ray," batin Davin yang tengah ketakutan.
"Ah maaf Kak Zuy, sebenarnya saya mengidam bukan ingin melihat ataupun memegang wajah Tuan Davino, tapi saya ingin bertemu dengan Kakak," ujar Ayasya sembari memegang lengan Zuy.
"Dengan saya?" tanya Zuy yang terkejut.
Ayasya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Kakak, entah kenapa saya merasa nyaman dengan Kak Zuy," ujarnya.
Mendengar itu, Davin pun merasa lega, kemudian ia mengelus dadanya, "Uuh, selamat.. selamat," lirih Davin.
Airin yang di sampingnya pun merasa bingung dengan tingkah laku Davin. Lalu kemudian Ray mengajak yang lainnya berkumpul dengan tamu-tamu lainnya.
Sesaat kemudian, acara ulang tahun Perusahaan CV di mulai, semua para tamu yang hadir menikmati acaranya. Ray, Davin dan Daffin (suami Ayasya) ikut berkumpul dengan para tamu dari Perusahaan lain, sedangkan Zuy, Airin dan Ayasya duduk beberapa jarak dari mereka.
"Kak Zuy.." panggil Ayasya.
"Ada apa Nona Ayasya?" tanya Zuy
"Aku merasa mual," ujar Ayasya.
"Apa Nona Ayasya ingin duduk di luar?"
Ayasya pun menganggukkan kepalanya, lalu Zuy, Airin dan Ayasya langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju keluar. Setelah berada di luar, Zuy membawa Ayasya ke taman yang berada di Perusahaan, kemudian mereka langsung duduk di kursi panjang yang berada di sana.
"Aah, bisa bernafas lega.." seru Ayasya sembari menarik nafas dan menghembuskannya.
Zuy dan Airin yang melihatnya hanya tersenyum.
"Kak Zuy, Airin terimakasih.." ucap Ayasya
"Sama-sama Nona Ayasya," balas Zuy dan Airin bersama.
"Nah Zuy, kamu harus belajar dari Nona Ayasya saat kamu hamil nanti," tutur Airin pada Zuy.
"Apa sih Rin, selalu saja menggodaku.." gumam Zuy.
"Bukan menggoda, tapi apa salahnya belajar dari pengalaman, jadi kamu dan Tuan Bos gak kaget, jika nanti tiba-tiba mengidam yang aneh-aneh, iya gak Nona Ayasya.."
"Airin kamu ya, maaf kelakuan Airin, Nona Ayasya" ucap Zuy,
Ayasya pun terkekeh, "Hihihi, siap Kak Airin, nanti saya akan ajarin Kak Zuy," timpalnya
"Kalian berdua, senang banget ya godain orang," gerutu Zuy, namun wajahnya memerah.
__ADS_1
"Lihatlah wajah Nyonya Rayyan memerah," lagi-lagi Airin menggoda Zuy.
Ayasya semakin tertawa melihatnya, melihat Ayasya tertawa, Airin dan Zuy jadi ikutan tertawa.
Lalu saat mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba seseorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka.
"Bolehkah saya duduk di sini?" tanya Wanita paruh baya itu.
Zuy dan yang lainnya langsung menghentikan tawanya dan menoleh ke arah wanita paruh itu.
"Boleh, silahkan duduk Nyonya," ujar Zuy, lalu ia menggeserkan badannya, sedangkan Airin pindah duduk dekat Ayasya.
Lalu ia pun dengan hati-hati mendudukan dirinya di atas kursi tersebut. Wanita paruh baya itu langsung menghela nafasnya.
"Hah, akhirnya bisa bernafas lega," ujarnya.
Lalu Airin menatap ke arah wanita paruh baya itu dan bertanya, "Maaf, tapi sepertinya saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya, apakah benar Nyonya?"
Lalu ia tersenyum ke arah Airin, "Iya benar sekali, kita bertemu saat di tempat makan, dan aku tiba-tiba memeluk gadis ini," ujarnya sembari memegang pipi Zuy
"Oh anda Nyonya yang waktu itu ya, maaf kalau saya sedikit lupa dengan anda," ucap Zuy.
"Tidak apa-apa Nak, lalu bisakah kalian jangan memanggilku Nyonya, panggil saja aku Bunda Artiana ataupun Nenek," pintanya, yang ternyata adalah Bunda Artiana.
Zuy pun langsung tersenyum, Bunda Artiana tertegun melihat senyuman yang terukir di bibir Zuy.
"Memang benar-benar mirip Maria," batinnya, Sesaat kemudian Bunda Artiana mengejapkan matanya.
"Oh iya, Nyonya kesini dengan siapa?" tanya Zuy
"Bunda kesini dengan anak Bunda," jawab Bunda Artiana, "Ngomong-ngomong tadi Bunda dengar kalian tertawa, apa ada cerita lucu?" sambung tanyanya.
"Ini lho Bunda, tadi kami sedang menggodanya, kan dia katanya mau menikah, terus saya sarankan untuk belajar dari Nona Ayasya, tentang kehamilan, kan Nona Ayasya sedang hamil," ujar Airin
"Airin.." pekik Zuy.
"Oh, kamu sedang hamil ya?" tanya Bunda Artiana
Lalu Ayasya menganggukkan kepalanya, "Iya Bunda."
"Hah Bunda jadi ingat waktu hamil anak-anak Bunda dulu ...," Bunda Artiana lalu menceritakan kisahnya saat ia hamil itu. Membuat Ayasya, Zuy dan Airin tertegun mendengarnya. Tak lama kemudian...
"Memang paling tak bisa terlupakan masa-masa kehamilan itu, ya tak terasa anak-anak Bunda sudah besar bahkan mempunyai anak, walaupun salah satu anak Bunda pergi di bawa orang lain selama hampir 29 tahun, itu karena kesalahan kami sebagai orang tua," ujar Bunda Artiana. Tak terasa air mata mereka mengalir.
Zuy yang berada di dekat Bunda Artiana langsung memeluknya, dan menenangkan Bunda Artiana.
"Terimakasih banyak Nak, lalu kapan kamu akan menikah?" tanya Bunda Artiana
"Itu, sebenarnya ada janji yang pernah aku ucapkan di depan makam Papah. Sebelum aku menemukan ibuku, aku tidak akan menikah dulu," ucap Zuy dengan tiba-tiba
Deeeg..
Seketika jantung Bunda Artiana berdegup kencang mendengar ucapan dari Zuy, lalu ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Memangnya, Ibumu kemana Nak?"
"Dia, dia pergi meninggalkanku di saat usiaku dua bulan ...," lalu Zuy menceritakan semuanya pada Bunda Artiana dan lainnya. Entah dorongan apa yang membuat Zuy menceritakan kehidupannya pada Bunda Artiana dan Ayasya, sedangkan Airin sudah tahu kisah Zuy dari Bi Nana. Tak terasa air mata mereka kembali mengalir saat mendengar cerita Zuy.
"Kak Zuy, aku bisa merasakan apa yang Kakak rasakan," batin Ayasya.
Airin langsung menghampiri Zuy dan memeluknya dengan erat, "Zuy, sudah jangan buang air matamu yang berharga itu," tutur Airin. Begitu juga dengan Bunda Artiana yang mengelus bahu Zuy.
Sesaat kemudian, Daffin suami Ayasya datang menghampiri mereka..
"Ternyata kamu ada di sini Nyonya Stevano, dari tadi aku mencarimu, dan lagi kenapa kalian menangis?" tanya Daffin.
Ayasya pun langsung beranjak dari tempat duduknya, "Apa acaranya sudah selesai? aku ingin pulang," ajak Ayasya
"Belum selesai, tapi aku sudah pamit pada Rayyan untuk pulang duluan, makanya aku mencarimu dan ternyata kamu sedang menangis disini," papar Daffin.
"Yaudah, kalau gitu kita pulang, Kak Airin, Kak Zuy, Bunda, Ayasya duluan ya.."
"Iya hati-hati Nona Ayasya," ucap Zuy,
Lalu kemudian Ayasya memeluk Zuy, "Kak, terimakasih sudah menemaniku, Kakak sabar ya, aku mengerti apa yang Kakak rasakan saat ini." tutur Ayasya
Ayasya lalu melepaskan pelukannya, kemudian Ayasya dan Daffin pun pergi meninggalkan mereka.
"Nak, apa boleh Bunda bertemu dengan Bibimu?" tanya Bunda Artiana
Zuy pun menganggukkan kepalanya, "Tentu saja Bunda,"
"Lalu di mana alamat Bibimu?" tanya Bunda Artiana
"Alamat Bi Nana di ...," belum sempat menjawabnya, tiba-tiba..
"Bunda, apa yang Bunda lakukan di sini?" tanya seseorang.
Seketika Bunda Artiana menoleh ke arah suara tersebut.
"Dimas..!!"
***Bersambung...
Yupz Kakak2 Readers dan Kakak2 Author.. Ayasya main lagi kesini, dan dia membawa suaminya Daffin, penasaran sama mereka, bisa cek langsung ke rumahnya.. 👇👇
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author...♥🙏♥🙏
__ADS_1