Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Masih Bersembunyi....


__ADS_3

<<<<<


"Iya, wanita yang anda anggap rendahan dan j*lang ini, dia lah istri saya, sedangkan anak yang di dalam perutnya itu adalah anak saya!" jelas Ray.


"Apa! Ja-jadi wanita rendahan ini ...."


Istri Pak Wildan terkejut dengan penjelasan Ray, begitu pula dengan Pak Wildan, ia tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya itu.


"Tuan Ray, ja-jadi dia benar-benar istri anda?" tanya Pak Wildan memastikan.


"Tentu saja. Dan lagi dia punya nama, namanya Zuy bukan wanita rendahan," tegas Ray.


Seketika raut wajah Pak Wildan berubah, ada rasa kecewa dalam dirinya itu. Impiannya yang menginginkan Ray menjadi menantunya hanyalah mimpi saja. Lalu ....


"Kenapa? Kenapa bisa wanita rendahan ini menjadi istri anda? Apa mata anda sudah di butakan oleh wanita rendahan ini? Jelas-jelas Erlin lebih baik di bandingkan wanita rendahan itu," sergah istri Pak Wildan.


Ray lagi-lagi menyunggingkan senyuman sinisnya.


"Lebih baik? Baik dari segi mananya?" tanya Ray menguji.


"Iya baik, dari sifatnya, kelakuannya, bahkan kehidupannya," kata istri Pak Wildan menyanjung anaknya itu. "Berbeda dengan wanita rendahan itu, udah miskin, wanita jahat dan j*lang," sambungnya menghina Zuy.


"Oh jadi begitu ya. Hmmm.... Biar saya ingat sifat baik dari anak anda itu. Pertama pada saat ulang tahun anak kalian, dia meracuni istriku, terus membuat kerusuhan pada saat ulang tahun Perusahaan, dan yang kemaren, dia membuat istri dan anakku hampir celaka, bukan hanya mendorong bahkan dia menodongkan pisau ke arah istriku. Ya untungnya saya menghalangi niatnya itu walau pada akhirnya tangan saya terkena pisaunya itu. Apa itu yang di maksud anak baik?" jelas Ray sembari menunjukkan tangannya yang terkena pisau.


Seketika istri Pak Wildan langsung membungkam mendengar penjelasan Ray, lalu Ray kembali mencodongkan badannya.


"Sebenarnya dari waktu itu saya sudah sangat ingin menjebloskan kalian berdua ke jeruji besi karena kalian sudah meracuni istri saya. Tapi sayangnya istri saya terlalu baik, jadi dia meminta saya agar tidak ikut campur dalam masalah ini," ujar Ray. "Harusnya kalian berdua berterimakasih dan meminta maaf padanya, bukan menambah masalah dan kesalahan lagi!" imbuhnya dengan nada tinggi.


"Tuan Ray, waktu itu memang benar istri dan anak saya melakukan kesalahan. Tapi sebenarnya anak saya hanya kesal karena Tuan Ray tidak memperhatikannya, padahal Erlin sudah mempersiapkan segalanya agar Tuan Ray memuji dan memberikan perhatian pada Erlin," kata Pak Wildan membela anak dan istrinya.


Ray menegakkan kembali tubuhnya. "Haaaa.... Memangnya dia siapa sampai saya harus memperhatikannya?"


"Memang anak saya bukan siapa-siapa. Tapi dia sangat mencintai anda, setiap hari dia selalu menyebut nama anda, dia sangat tergila-gila pada anda, Tuan." ungkap istri Pak Wildan.


"Kalau cinta bukan seperti itu, Nyonya." Zuy pun membuka suaranya.


Seketika pandangan istri Pak Wildan mengarah ke Zuy.


"Diam kamu! Dasar wanita rendahan. Gara-gara kamu, Erlin gagal mendapatkan Tuan Ray. Apa yang sebenarnya kamu gunakan, sehingga membuat Tuan Ray mau menikahi wanita rendahan seperti mu itu," cecarnya.


Lalu ....


"Diam!!" bentak Ray.


"Pak Wildan, bawa istri anda pergi dari sini! sebelum saya melakukan sesuatu pada istri anda itu. Dan untuk anda Pak Wildan, lebih baik anda siap-siap saja, saya tidak akan berbelas kasihan lagi jika terjadi sesuatu pada Perusahaan anda," sambung kata Ray.


"A-apa maksud anda Tuan Ray?" tanya Pak Wildan


Ray tersenyum smirk. "Nanti juga anda bakalan tahu, apa maksud saya ini, oh iya satu lagi, kita akan bertemu kembali di pengadilan. Pengawal bawa keluar kedua orang ini!" titahnya.


Pengawal pun mengangguk patuh, kemudian mereka menggiring Pak Wildan dan istrinya keluar dari rumah Ray. Sesaat setelah mereka pergi ....


"Tuan...." panggil penjual martabak itu.


Ray menoleh. "Oh iya maaf saya lupa, kamu boleh kembali ke rumah. Maaf kalau saya mengganggu dan terimakasih banyak sudah mau menjadi saksi untuk istriku."


"Sama-sama Tuan, kalau gitu saya permisi," pamit si penjual martabak itu.


Lalu ia pun melangkah pergi dari rumah Ray. Kemudian Ray melihat ke arah Zuy dan mengelus kepala.


"Sayangku, apa kepalamu masih sakit?" tanya Ray


"Sudah mendingan Ray," jawab Zuy.


Ray memasang raut wajah sendu seakan-akan ia merasa bersalah.


"Sayangku...."


"Ray jangan memasang wajah seperti itu, Zuy gak apa-apa kok," ujar Zuy.


"Tapi...."


Zuy memegang pipi Ray. "Ray, udah gak apa-apa. Lebih baik kita masuk yuk! Mamah, Rion." ajak Zuy.


Mereka langsung mengangguk barengan. Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


...----------------...


Tak terasa sore hari pun tiba. Sesuai dengan perkataannya, setelah pulang kerja, Airin langsung mampir ke rumah Ray.


"Permisi...." seru Airin di depan pintu rumah Ray, yang kala itu terbuka.


Bu Ima pun datang menghampiri. "Oh, Nak Airin. Ayo masuk! Mereka semua lagi sedang di ruang keluarga," kata Bu Ima.


Airin pun mengangguk. "Terimakasih Bu Ima," ucapnya.


Airin berjalan menuju ke arah ruang keluarga. Sesampainya ....


"Kalian sedang apa?" tanya Airin menghampiri.


Zuy dan lainnya langsung menoleh ke arah suara Airin.


"Airin...." lirih Zuy.


"Zuy...." Airin langsung memeluk erat Zuy, air matanya pun mengalir membasahi pipinya.


"Airin, kenapa kamu menangis?" tanya Zuy mengelus rambut Airin.


"Aku gak apa-apa Zuy, aku hanya kangen sama kamu, pantry benar-benar terasa sepi setelah gak ada kamu, Zuy." jawab Airin.


"Oh, kirain kenapa Rin. Ya aku juga kangen sama kamu, kangen bersih-bersih, nganter minuman dan semuanya. Tapi mau bagimana lagi, perutku sudah semakin besar dan lagi Ray menyuruhku harus banyak istirahat, Rin." kata Zuy. "Udah kamu jangan sedih lagi! Kalau kamu kangen sama Zuy, kamu tinggal datang kesini!" sambung tutur Zuy.


Sesaat Airin melepaskan pelukannya. "Iya kamu benar Zuy, Pak Davin juga tadi bilang seperti itu."


"Oh, jadi Pak Davin udah ngeduluin ya, eheemmm." goda Zuy sambil menyunggingkan senyumannya.


"Zuy, kebiasaan nih suka godain," pekik Airin membuat Zuy terkekeh.


"Pak Davin siapa Zuy?" tanya Mamahnya Airin yang belum tahu Davin.


Zuy tersenyum dan berkata, "Pak Davin yang barusan ngasih Mamah dan Rion hadiah."


"Oh yang wajahnya kinclong dan ganteng itu ya." ucap Mamahnya Airin.


Zuy mengangguk. "Iya Mah."


"Oh iya tadi katanya mereka mau ke rumah sakit ya? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Mamahnya Airin kembali.


"Pengawal Mah," singkat Zuy.


Mamahnya Airin memanggutkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ....


Krunyuuuuuk....


Bunyi nyaring suara perut Airin, sontak membuat Zuy dan lainnya menoleh ke Airin.


"Kamu lapar Rin?" tanya Mamahnya.


Airin pun terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya. "Ahahaha, iya Mah."


"Huuu.... Dasar wanita bar-bar," cetus Rion.


"Diam kau, dasar jangkung!" balas Airin


"Kalian ini ya, kalau udah kumpul pasti ribut," Mamahnya Airin menjewer telinga keduanya.


Seketika Airin dan Rion langsung menundukkan kepalanya "Maaf Mah...."


Zuy yang mendengarnya pun hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


••••••••••••••••••


–Pukul 08.30Pm


Zuy nampak sedang berada di balkon sambil menatap langit malam yang bertabur bintang-bintang. Setelah beberapa saat yang lalu Airin, Mamahnya dan Rion pulang ke Kosan Airin, tentu saja mereka di antar oleh Davin yang kala itu sudah pulang dari rumah sakit.


"Papah.... Andai saja Papah masih ada, pasti hidup Zuy akan lebih sangat bahagia. Pah, berapa bulan lagi anak Zuy akan lahir, tapi sayangnya anak Zuy gak bisa lihat Kakeknya. Pah, Zuy sangat berharap saat lahiran nanti Papah ada di samping Zuy, walau Zuy gak bisa lihat Papah," ucap Zuy sambil menitihkan air matanya.


Lalu kemudian Ray menghampiri Zuy dan melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy.

__ADS_1


"Sayangku...."


Zuy segera mengusap air matanya dan menoleh ke Ray.


"Iya Ray, euum udah mandinya?" tanya Zuy.


"Udah dong sayangku, apa kamu tidak mencium wangi dari tubuhku ini." ujar Ray memanyunkan bibirnya.


Zuy pun terkekeh. "Hihihi.... Maaf Ray, mungkin hidung Zuy bermasalah jadi gak kecium wanginya."


"Huumpt...." dengus Ray.


Zuy lalu memutar badannya menghadap ke arah Ray.


"Oh iya, bagaimana keadaan Henri?" tanya Zuy.


"Kenapa sayangku malah bertanya tentang Henri?" tanya balik Ray dengan raut wajah yang cemburu.


Seketika Zuy mengerutkan dahinya, lalu ia pun mengusap-usap rambut Ray sampai berantakan.


"Sayangku, kenapa rambutku di berantakin gini?"


"Habisnya kamu gemesin kalau udah numpahin cuka. Padahal Zuy hanya bertanya saja," papar Zuy.


"Iya maaf sayangku. Keadaan Henri baik-baik saja, yaitu cuma matanya saja yang masih di tutup perban," kata Ray.


"Oh, Syukurlah kalau begitu." lirih Zuy.


Kemudian Zuy menarik tangan Ray dan masuk ke dalam kamarnya Ray.


"Kenapa kamu membawaku ke kamar? Apa kamu sudah tidak tahan?" tanya Ray menggoda Zuy.


"Duduk!" titah Zuy.


Ray langsung menuruti perintah pujaan hatinya itu. Kemudian Zuy mengambil pengering rambut dan menyalakannya. Setelah itu ia pun mengarahkan pengering rambut itu pada rambutnya Ray.


"Hmmmm.... Kirain ngajak ke kamar mau melakukan aktivitas Misteri, gak taunya cuma ngeringin rambut saja," batin Ray yang kecewa. "Haaaa...." desah Ray.


"Kamu kenapa Ray?" tanya Zuy


"Ah, aku tidak apa-apa sayangku. Oh iya besok kamu check up kehamilan ya?"


"Iya Ray," singkat Zuy.


"Hmmmm.... Maaf ya sayangku, mungkin besok aku gak bisa nemenin kamu check up. Soalnya besok ada rapat lagi dan aku harus ada di rapat itu," ujar Ray


Zuy lalu meletakkan pengering rambut itu ke tempatnya semula.


"Oh, yaudah gak apa-apa Ray. Kan besok Zuy bisa berangkat sendiri, lagian sehabis check up, Zuy mau mampir ke rumah Bi Nana," balas Zuy. "Boleh ya Ray!" imbuhnya.


Ray memutar badannya menghadap Zuy. "Tentu boleh dong sayangku, tapi kamu harus hati-hati ya! Apa perlu aku minta Kak Yiou buat nemenin kamu."


"Tidak usah Ray. Biar aku berangkat sendiri aja." tolak Zuy sambil mengibas tangannya.


"Yaudah kalau begitu, tapi pas di periksa nanti, kamu harus mau di Usg ya sayangku!" tutur Ray.


Zuy pun mengangguk membuat Ray tersenyum bahagia. Lalu ....


"Sayangku, aku lapar lagi. Temani aku makan yuk!" pinta Ray.


"Baiklah Zuy temenin kamu makan," balas Zuy.


"Yeaaa.... Makasih sayangku," ucap Ray, ia pun mencium pipi Zuy.


Kemudian mereka bangkit dari posisinya dan melangkah keluar dari kamarnya menuju ke meja makan.


*************************


Amerika


°Rumah Maria....


Sementara itu, Archo dan Maria tengah berada di teras depan rumahnya. Archo tengah duduk dengan menikmati secangkir teh hangat, sedangkan Maria sedang berjemur di bawah sinar matahari, ya karena cuacanya cukup cerah dan mataharinya juga belum naik ke atas kepala.


"Archo...."


Archo menoleh. "Iya Mam," sahutnya.


"Mungkin masih sibuk Mam," jawab Archo.


Seketika Maria langsung menundukkan kepalanya, nampak raut wajahnya memancarkan kesedihan.


"Hmmm.... Oh iya Mam, semalam Dokter Dimas nelpon, Bunda nanyain Mam," seru Archo.


"Bagaimana keadaan Bunda?" tanya Maria.


Selama Maria di Amerika, Maria tidak pernah memegang hpnya itu. Karena Maria tidak ingin berhubungan dengan siapa pun, meskipun dengan sahabat atau kliennya itu. Maka dari itu, setiap Dimas telpon pasti melalui Archo, setelah itu Archo menyampaikannya pada Maria.


"Bunda baik-baik saja Mam, bahkan beliau sekarang sedang berbahagia," ujar Archo.


"Berbahagia? bahagia bagaimana maksudnya Archo?" Maria pun mulai penasaran.


Archo lalu bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Maria. Kemudian ia duduk berjongkok di samping Maria sambil memegang tangannya


"Iya bahagia Mam, sebab Bunda bakalan punya cicit kembar," jelas Archo.


Maria pun terkejut mendengar penjelasan Archo, lalu ia menatap lekat wajah pria berkacamata itu.


"Archo, apa maksudmu kembar?" tanya Maria.


"Mam, jika Archo menjawab pertanyaan Mam, apa Mam akan Marah dan melakukan sesuatu padanya?" Archo pun kembali bertanya pada Maria.


"Archo, kamu kan tahu Mam sekarang tidak bisa apa-apa. Jadi mana mungkin Mam melakukan sesuatu," ujar Maria.


Sesaat Archo menghela nafasnya. "Haaaa.... Ya Syukurlah kalau begitu."


"Sekarang jelaskan padaku, apa maksudmu Bunda akan mempunyai cicit kembar? Apa Eqitna tengah mengandung anak kembar?" Maria pun meminta penjelasan dari Archo.


"Bukan Dokter Eqi yang mengandung anak kembar, tapi anak pertama Mam yaitu Zuy," jawab Archo, walaupun ada rasa takut dalam dirinya.


"Apa! Jadi Zoya ah maksudku Zuy mengandung anak kembar?" tanya Maria yang terkejut.


Archo pun mengangguk pelan seraya menjawab pertanyaan Maria. Lalu tiba-tiba Maria menitihkan air matanya, entah karena bahagia atau sebaliknya.


"Mam...." tegur Archo.


Kemudian Maria mengusap air matanya dan memegang tangan Archo.


"Archo...."


"Iya Mam...."


"Bisakah kamu mengantar Mam kesana!" pinta Maria.


Archo pun langsung terperangah mendengar permintaan dari Maria.


"Mam mau apa kesana? Apa Mam mau melakukan sesuatu pada Zuy?" cecar pertanyaan Archo


Akan tetapi Maria malah menggelengkan kepalanya.


"Tidak Archo, Mam tidak akan melakukan apa-apa. Mam hanya ingin tinggal dengan Bunda saja dan Mam ingin melihatnya sampai dia melahirkan. Tapi kamu tenang saja, Mam tidak akan muncul di hadapannya lagi, Archo." ujar Maria.


"Bisakah kamu mengabulkan permintaan Mam, Archo?" sambung tanya Maria.


"Soal itu, biar nanti Archo pikirkan dulu," jawab Archo.


Membuat Maria kembali menundukkan kepalanya, lalu Archo berdiri dari posisinya.


"Mam, kita masuk yuk!" ajak Archo.


Maria hanya menjawab dengan anggukan kepala saja, kemudian Archo mendorong kursi roda Maria dan membawanya masuk ke dalam rumah.


*******************


Rumah Ray


—Pukul 10.00Am


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat berlalu. Di kamarnya Zuy nampak tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Sedangkan Ray sedari tadi sudah berangkat ke Perusahaan. Setelah selesai, Zuy pun keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Bu Ima yang kala itu habis memberi makan kucing-kucing peliharaannya Zuy.

__ADS_1


"Lho Nak Zuy, udah mau berangkat?"


Zuy mengangguk. "Iya Bu, soalnya Dokter Eqi sudah menunggu di sana."


"Oh, yaudah kalau gitu kamu hati-hati ya Nak," ucap Bu Ima.


"Iya Bu, terimakasih." balas Zuy.


Lalu Zuy melangkah keluar dan di depan rumah sudah ada seseorang yang di utus oleh Ray untuk mengantar pujaan hatinya itu. Zuy lalu masuk ke dalam mobil di susul oleh pengawal Ray yang mengambil alih kemudi. Sesaat setelah mobil menyala, pengawal pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


********************


Rumah Sakit


Sesaat setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Zuy pun sampai di rumah sakit, lalu ia pun segera turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam menuju ruang ibu dan anak. Sesampainya di tempat, Zuy langsung duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu namanya di panggil.


Beberapa saat kemudian....


"Nona Zoey Lestari," bunyi pengeras suara.


Mendengar namanya di panggil, Zuy langsung bangkit dari posisinya dan masuk ke dalam ruangan.


"Permisi Dok," ucap Zuy menghampiri Eqitna.


Eqitna pun tersenyum melihat kedatangan Zuy. "Maaf ya Zuy kalau kamu nungguin lama, soalnya hari ini banyak banget pasiennya."


"Iya tidak apa-apa Dok," balas Zuy.


"Yaudah kalau begitu kamu langsung berbaring ya!"


Zuy mengangguk. "Iya Dok. Oh iya Dok soal usg...."


"Oh jadi akhirnya kamu mau di usg?" tanya Eqitna.


"I-iya Dok." singkat Zuy.


"Yaudah kalau gitu, ayo berbaring!" titah Eqitna.


Zuy pun langsung berbaring di tempat yang sudah di sediakan. Kemudian Eqitna mulai memeriksa Zuy, setelah selesai ia langsung mengoleskan gel khusus di perut Zuy. Eqitna menempelkan transducer di atas perut Zuy dan menggerakannya, nampak dari layar monitor pergerakan dua bayinya.


"Lihatlah Zuy, semua anak kamu aktif," kata Eqitna.


"Hah! Semua anak-anak? Maksud Dokter?" tanya Zuy kebingungan.


Eqitna pun tersenyum sambil menghela nafasnya, kemudian ia menatap lekat wajah Zuy.


"Ya sesuai dugaan bahwa kamu mengandung anak kembar," ujar Eqitna.


"Apa! Ke-kembar Dok?" Zuy terkejut mendengarnya, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Iya, sebenarnya kamu mengandung anak kembar dan maaf ya Zuy kalau aku baru memberitahu mu," ucap Eqitna.


"Iya Dok tidak apa-apa? Terus jenis kelamin mereka?"


Eqitna kembali memandang ke arah layar monitor, ia pun dan nampak jenis kelamin dari salah satu anak yang di kandung Zuy.


"Waah, jenis kelamin salah satu anakmu laki-laki Zuy, tapi sayangnya yang satu malah masih bersembunyi, jadi aku gak bisa melihatnya," jelas Eqitna


"Mungkin yang satu ingin memberikan kejutan untuk orang tuanya," kata Zuy.


Eqitna kembali tersenyum. Tak lama kemudian Zuy akhirnya selesai di periksa, lalu Eqitna memberikan resep Vitamin beserta foto hasil usg tersebut.


"Jangan banyak pikiran dan ingat harus jaga pola makanmu!" tutur Eqitna.


"Baik Dok, terimakasih banyak," ucap Zuy. "Yaudah kalau gitu saya permisi dulu, oh iya titip salam buat Nyonya," imbuhnya.


"Iya akan saya sampaikan."


Zuy pun berjalan keluar dari ruangan tersebut, setelah itu Zuy kembali melangkah keluar dari rumah sakit. Sesaat setelah berada di luar, mobil pun sudah berada di sana, Zuy segera masuk dan bergegas menuju ke rumah Bi Nana.


********************


Rumah Bi Nana


Sesampainya di tempat, ia pun segera turun dari mobilnya dan menyuruh pengawal Ray untuk pulang terlebih dahulu, pengawalnya pun langsung menuruti perintah Zuy. Lalu Zuy bergegas masuk ke dalam rumah Bi Nana.


"Bi Nana, Zuy datang nih!" seru Zuy


"Kakak..." Nara pun langsung menghampiri Zuy.


"Nara sayang, kamu sedang apa?" tanya Zuy.


"Nara lagi nemenin Mamih dan dede Rana," jawab Nara sambil menggandeng tangan Zuy.


Zuy pun berjalan menuju ke ruang tengah di mana di sana ada Bi Nana sedang bersama dengan anak bayinya.


"Mamih... Kakak datang nih."


"Lho Zuy, kamu kesini dengan siapa?" tanya Bi Nana.


"Zuy sendiri Bi. Tadi Zuy habis check up terus Zuy langsung mampir ke sini."


"Bagaimana kandunganmu apa baik-baik saja?"


Zuy mengangguk. "Iya Bi, semuanya baik-baik saja."


"Oh Syukurlah kalau begitu, Bibi khawatir dari kemaren, saat mendengar kabar kalau kamu di celakai seseorang," kata Bi Nana.


"Pasti Kak Aries yang cerita ya. Bi Nana tenang saja, semua anak-anak Zuy baik-baik saja, tidak ada yang bermasalah," ujar Zuy.


"Anak-anak! Maksudmu Zuy?" tanya Bi Nana keheranan.


Zuy lalu mengambil foto usg dan memberikannya pada Bi Nana, Bi Nana pun tercengang melihatnya.


"Kembar Zuy?"


"Iya Bi Nana," singkat Zuy.


Seketika senyuman Bi Nana mengembang, ia pun memeluk Zuy.


"Selamat ya sayang, gak nyangka Bibi akan punya cucu sekaligus dua," ucap Bi Nana.


"Terimakasih Bi, Zuy juga gak nyangka Bi," balas Zuy.


Saat mereka tengah berpelukan, tiba-tiba ....


Drrrrt... Drrrrt.. Drrrrt...


Hp Zuy berdering, Zuy pun melepaskan pelukan Bi Nana dan langsung mengambil hpnya yang berada di saku.


"Ray!!"


Zuy pun langsung menjawab telponnya itu.


"Iya Ray...."


"Maaf, apa ini istri dari yang punya hp ini?" tanya seseorang dari seberang telponnya.


"Iya, memang ini siapa? terus kenapa hpnya ada di anda?"


"Saya dari petugas rumah sakit, ingin memberitahukan bahwa pemilik hp ini mengalami kecelakan, Nona." jelasnya.


Sontak membuat Zuy terkejut mendengar penjelasan dari seseorang tersebut.


"Apa! Ke-kecelakaan?!"


***Bersambung...


Author: Hai Kakak2 Semuanya... Maaf kalau kurang sreg sama episode ini, maklum kejar tayang, karena Author bakal sibuk banget menjelang lebaran 😁✌✌..


Maaf ya jika ada kesalahan Author yang di sengaja atau tidak di sengaja. 🙏🙏🙏


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya... Mohon maaf lahir dan bathin.. 🙏🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2