
°Masih Flashback Henri°
<<<<<
Akan tetapi, seseorang itu tidak memperdulikan Henri, ia malah melangkah pergi meninggalkan Henri dengan membawa uang Henri.
"Ber-henti! Jan-gan ambil u-ang Adnan!"
Teriak Henri meminta uangnya kembali, tapi sayangnya orang itu sudah pergi jauh dan lagi suara Henri tidak bisa di dengar oleh orang tersebut. Henri lalu menyandarkan tubuhnya di tembok sambil memeluk lututnya, suara isak tangisnya pun keluar dari mulutnya.
"Bu.... Maaf, Adnan tidak bisa jaga uang Ibu. Adnan lemah Bu, tidak bisa melawan orang yang sudah mengambil uang Ibu," batin Henri sambil menangis.
Sesaat kemudian, Henri mengangkat kepalanya sambil mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya, ia lalu meraih keranjang kue yang berada tak jauh darinya.
"Un-tung ku-enya gak sam-pai ja-tuh ke ta-nah. Ad-nan harus bisa ju-al sem-ua kue ini sam-pai ha-bis," ucap Henri.
Kemudian ia bangkit dari posisinya dan kembali melangkahkan kakinya untuk menjajakan kue yang tersisa itu.
Setelah berada di sisi jalan, Henri menawarkan kuenya pada orang-orang yang berada di sana. Akan tetapi semua orang malah enggan membeli kue tersebut, dengan alasan ....
"Kamu sangat kotor, jangan-jangan kue yang kamu jual tidak bersih."
"Tidak dek, saya tidak berselera membeli kue mu itu, pakaianmu kotor dan lihat siku mu juga berdarah gitu."
"Kalau mau jualan yang bersih dek! Jadi orang mau beli kue mu itu."
Bla... Bla... Bla....
Begitulah lontaran kata dari orang-orang yang di tawarin kue oleh Henri.
Padahal pakaian Henri kotor dan sikunya berdarah itu gara-gara ulah seseorang yang sudah mendorong dan mengambil uang Henri itu. Akan tetapi ia tidak merasakan sakit pada sikunya atau memikirkan bajunya yang kotor itu. Henri hanya memikirkan kue yang di jajakannya itu habis.
Dengan perasaannya yang sedih, Henri terus melangkah sambil membawa keranjang kuenya. Walau sesekali ia mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Tanpa terasa ia sudah berjalan cukup jauh, rasa lelahnya pun kembali menyerangnya sehingga membuat Henri menghentikan langkahnya, lalu ia segera mendudukkan dirinya di atas tanah tepi jalan tanpa beralaskan apapun.
"Sampai di tempat ini belum ada yang beli kue Ibu, apa aku harus pulang dan minta maaf sama Ibu," batin Henri sembari menundukkan kepalanya.
Lalu kemudian, nampak dua orang yang masih berseragam sekolah, yang satu berseragam SD dan satunya lagi perempuan berseragam SMP datang menghampiri Henri yang tengah duduk menunduk.
Dan mereka berdua adalah Ray dan Zuy yang kalah itu masih sekolah.
"Permisi dek!" sapa Zuy.
Mendengar suara seseorang menyapa, Henri langsung mendongakkan kepalanya memandang ke arah Ray dan Zuy.
"Apa kamu penjual kue ini?" tanya Zuy menunjuk ke arah keranjang kue.
"I-ya, sa-ya yang ju-al kue i-ni," jawab Henri. "A-pa Ka-kak mau beli?" sambung tanyanya.
Zuy pun terpaku mendengar suara Henri, sesaat ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, saya mau beli. Memangnya ada kue apa aja dek?" tanyanya.
Henri lalu membuka penutup keranjang kuenya. "A-da ma-cam-macam kue Kak," jawabnya.
Mata keduanya pun berbinar saat melihat makanan kesukaan mereka, yaitu kroket.
"Kak Zuy, Ray mau kroket!" pinta Ray
"Oke...." pandangan Zuy beralih ke Henri. "Dek, Kakak mau kroketnya ya!"
"I-ya Kak, ma-u be-rapa?" tanya Henri
"Beli sep ...,"
Zuy tiba-tiba menghentikan ucapannya saat melihat luka di siku Henri.
"Siku kamu kenapa dek?" tanya Zuy
"Ta-di ...."
Tanpa sadar Henri menceritakan kejadian yang menimpanya tadi, sontak membuat Ray dan Zuy tertegun.
"Kenapa kamu diam saja? Harusnya kamu pukul orangnya, itu kan uang kamu bukan uang dia," pekik Ray.
"Tuan Muda...."
"Maaf Kak, habisnya Ray ikut emosi mendengar ceritanya itu," ujar Ray.
Sesaat Zuy menghela nafasnya, kemudian ia membuka ranselnya untuk mengambil air minum, tisue dan plester luka. Zuy lalu mendekat ke arah Henri.
"Ka-k, ma-u apa?" tanya Henri
"Kamu diam sebentar!" titah Zuy sembari meraih tangan Henri.
Ray yang melihatnya langsung mengerutkan dahinya. Zuy lalu membersihkan luka Henri dengan air dan tisue, setelah selesai membersihkannya, Zuy langsung menempelkan plester pada luka Henri.
"Nah selesai...." kata Zuy
"Te-rima-kasih Kak," ucap Henri.
"Iya sama-sama, lain kali kamu hati-hati! Kalau ada seseorang yang mencurigakan, sebaiknya kamu menghindar jangan sampai bersinggungan lagi," tutur Zuy sembari mendaratkan tangannya ke kepala Henri.
Henri mengangguk pelan, senyumnya pun terukir di wajahnya itu.
"Kakak ini benar-benar baik," batin Henri.
Lalu saat pandangan Henri mengarah ke Ray, ia pun tercengang melihat Ray menatapnya dengan tatapan tajam, sontak membuat Henri langsung menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa dek?" tanya Zuy keheranan
Henri menggelengkan kepalanya. "Ti-dak ap-a-apa Kak."
"Oh, yaudah kalau begitu kamu bungkusin kroketnya ya!"
"Ba-ik Kak," balas Henri.
Henri langsung menempatkan kroket pesanan Zuy ke dalam kantong plastik. Setelah selesai, Henri memberikannya pada Zuy.
"Berapa?" tanya Zuy
"Semuanya ...." ujar Henri.
Saat Zuy hendak mengambil uang sakunya, tiba-tiba Ray menahan tangan Zuy.
"Kenapa Tuan Muda?" tanya Zuy
"Biar Ray yang bayar ya!" ujar Ray.
Ray lalu mengambil uang yang berada di sakunya dan memberikannya pada Henri.
"Ini uangnya!" ujar Ray
__ADS_1
"Ta-pi ini ke-banyakan, Adnan gak pu-nya kem-bali-annya," kata Henri, tangannya pun bergetar saat memegang uang dari Ray.
"Ambil saja! Toh kamu yang lebih membutuhkannya," papar Ray
Sontak membuat Henri dan Zuy terpukau mendengar perkataannya. Lalu tiba-tiba ....
Tiiiin...
Sebuah mobil berhenti di sisi jalan, kemudian seseorang turun dari mobilnya.
"Tuan Ray...." sapanya sambil sedikit membungkuk.
"Sepertinya jemputan sudah datang, Kakak ayo kita pulang!" ajak Ray.
Zuy pun mengangguk, lalu ia melihat ke arah Henri.
"Dek, apa kamu mau pulang bareng kita?" tawar Zuy.
Akan tetapi Henri menggelengkan kepalanya. "Ti-dak Kak, bi-ar sa-ya pu-lang sendiri," tolaknya.
"Oh, yaudah kalau begitu kita pulang duluan, kamu hati-hati ya! Jangan ceroboh lagi!" tutur Zuy.
"I-ya Kak...." balas Henri mengangguk. "Tu-an ter-imaka-sih," sambung ucap Henri pada Ray
Lalu mereka masuk ke dalam mobil, sesaat setelahnya, mobil mereka melaju dan meninggalkan Henri di sana.
"Syukurlah masih ada orang baik seperti kalian, semoga saja suatu saat nanti aku bisa membantu kalian," batin Henri.
"A-aku juga ha-rus pu-lang ke rumah, kasihan Bu," kata Henri
Henri pun bergegas pergi pulang ke rumah.
Rumah Henri
Beberapa saat kemudian, ia pun sampai di rumah dan segera masuk ke dalam untuk mencari Ibunya itu. Ia mencari di ruang tengah, dapur, kamar mandi, halaman belakang, tapi Ibunya tidak ada.
"Mana Ibu ya? Apa ada di kamar?" pikir Henri.
Henri langsung melangkah menuju kamar Ibunya dan ternyata benar Ibunya ada di kamar sedang duduk menyandar di atas ranjangnya. Kemudian ia masuk ke kamar Ibunya dan menghampiri.
"Bu...."
Ibunya menoleh. "Oh, ternyata kamu Adnan," sahutnya.
"Bu ma-sih sa-kit?"
"Tidak Nan, Ibu baik-baik saja, tadi Ibu hanya ketiduran saja," jawab Ibunya, namun ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Ibunya.
"Bagaimana jualannya apa udah habis?" sambung tanya Ibunya.
Henri menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan seraya menjawab pertanyaan Ibunya.
"Jangan sedih Adnan! Wajar namanya juga orang jualan, dan lagi ...." pandangan Ibunya mengarah ke siku Henri. "Adnan, apa yang terjadi pada siku kamu? Apa kamu jatuh?"
"I-ya Bu, ta-di Adnan ja-tuh," jawab Henri.
"Ya ampun, lain kali kamu hati-hati Nak! Untung gak apa-apa cuma siku saja yang lecet," tutur Ibunya sembari mengelus kepala Henri.
Lalu kemudian, Henri memberikan uang hasil jualannya pada Ibunya dan betapa terkejutnya ia saat menerima uang dari Henri itu.
"Nak, jawab dengan jujur? Kamu dapat uang ini dari mana? Selama Ibu jualan, Ibu hanya dapat segini kalau dagangan Ibu habis. Kamu tidak mencuri kan?" cecar Ibunya.
"Ti-dak Bu, itu uang da-ri Kakak, ta-di dia be-li kroket te-rus nga-sih uang ini, Adnan bi-lang gak ada kem-baliannya, ta-pi dia malah bil-langnya ini untuk Adnan, ka-rena Adnan le-bih mem-butuhkan daripada Ka-kak itu," jelas Henri.
"Nak maafin Ibu. Ternyata Ibu sudah salah paham sama kamu," ucap Ibunya.
"I-ya gak apa-apa Bu..."
Henri pun membalas pelukan Ibunya itu.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Tak terasa waktu berputar begitu cepat dari detik, menit, jam dan hari terus berganti. Di rumahnya Henri nampak tengah bersiap-siap untuk pergi menjajakan kuenya itu. Karena mulai dari waktu di mana hari pertama ia jualan, hari berikutnya tugas Ibunya ia yang ambil alih sampai sekarang dan pelanggan Henri pun tetap Ray dan Zuy. Ya walau kadang Henri sering menundukkan kepalanya saat Ray tengah menatapnya itu.
Lalu saat Henri hendak melangkahkan kakinya keluar dari rumah, tiba-tiba ....
Praang....
Henri mendengar suara bising dari kamar Ibunya, sontak membuatnya langsung berlari ke kamar Ibunya. Dan betapa terkejutnya Henri saat melihat Ibunya tergeletak di bawah tempat tidurnya dan tidak sadarkan diri.
"Bu...." teriak Henri menghampiri Ibunya itu.
"Bu, Bu ke-napa? Bu ba-ngun!" ucap Henri mengguncang Ibunya. Namun Ibunya tidak bangun juga.
Henri pun mulai panik, lalu ia berlari keluar dari rumahnya untuk mencari bantuan tetangganya.
"To-long..!" teriak Henri.
"Ada apa Adnan?" tanya salah satu tetangganya
"Bu ping-san, ce-pat tolongin I-bu!" pinta Adnan.
Tetangganya pun langsung bergegas menuju ke rumah Henri, namun tidak untuk Henri, ia terus berlari keluar hingga ke jalanan untuk mencari kendaraan agar bisa membawa Ibunya ke rumah sakit. Henri terus menghadang kendaran melintas,tapi tidak ada satu pun berhenti.
"Aku gak boleh nyerah, aku harus dapat kendaraan untuk membawa Ibu," batinnya.
Lalu Henri melihat sebuah mobil hitam melintas, sontak membuat Henri dengan sengaja berdiri di tengah jalan untuk menghadang mobil tersebut dan pada akhirnya ....
Ciiit...
Mobil itu berhenti secara mendadak.
"Ada apa? Kenapa berhenti mendadak?" tanya seseorang yang ada di mobil.
"Ada anak yang menghadang kita, Tuan. Biar saya turun dan menghampirinya," ujar salah satunya yang tak lain adalah seorang supir.
Lalu supir turun dari mobilnya dan mendekat ke arah Henri.
"Nak, apa yang kamu lakukan? Kenapa berdiri di tengah jalan?" tanya supir tersebut.
"Tu-an, tol-ong I-bu sa-ya!" pinta Henri sambil mendongakkan kepalanya ke arah supir tersebut.
"Hmmm.... Wajah anak ini kenapa mirip dengan Aldan?" batin supir itu.
Lalu seseorang yang berada di mobil ikut turun dan menghampiri.
"Arka? Apa yang terjadi? Apa anak itu baik-baik saja?" tanya seseorang yang merupakan Tuannya.
"Maaf Tuan Willy, sebenarnya anak ini meminta bantuan," ujarnya dan ternyata Tuannya itu adalah Pak Willy.
"Bantuan?" tanya Pak Willy.
__ADS_1
Lalu Henri bercerita tentang Ibunya, sontak membuat mereka tertegun, kemudian Pak Willy menyuruh supir untuk ke rumah Henri. Dan tak lama ia pun kembali sembari mengangkat tubuh Ibunya Henri dan memasukannya ke dalam mobil. Pak Willy pun duduk di depan bersama supirnya sedangkan Henri bagian belakang bersama Ibunya.
Rumah Sakit
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit, supir berteriak meminta pertolongan pada pegawai rumah sakit, lalu dua petugas itu datang sambil membawa brankar. Kemudian mereka mengangkat Ibunya Henri dan meletakkannya di atas brankar, setelah itu mereka membawanya ke ruang UGD, Henri dan lainnya hanya bisa menunggu di depan ruangan tersebut.
"Nak, apa kamu anak dari Aldan?" tanya supir itu.
"I-ya, ka-ta Ibu na-ma A-yah itu Aldan," jawab Henri.
"Aldan? Bukankah dia Pengawalku yang meninggal akibat kecelakan itu?" tanya Pak Willy.
Supir pun mengangguk. "Iya Tuan dan Ibunya anak ini, istri dari Kak Aldan."
"Selama ini kita mencari keberadaan istrinya, kalau tidak salah ia tengah hamil kan? Dan ternyata anaknya sudah besar, bahkan mereka ada dan tinggal di kota ini," kata Pak Willy.
Lalu kemudian Dokter yang bertugas di UGD keluar dari ruangannya, Henri pun langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Ba-gaimana dengan Bu?" tanya Henri.
"Maaf, kami sudah berusaha tapi Ibunya tidak bisa di selamatkan, beliau meninggal saat di bawa kesini," ujar Dokter.
Sontak membuat Henri terkejut dan masuk ke dalam ruangan tersebut, ia pun menghampiri Ibunya yang sudah tetutup rapat.
"Bu.... Ba-ngun! Ja-ngan per-gi! Adnan masih membu-tuhkan Bu.... Buka ma-tanya Bu, Adnan sa-yang Ibu," ucap Henri sambil mengguncangkan kuat tubuh Ibunya.
Lalu supir Pak Willy langsung meraih tubuh Henri dan menggendongnya, Henri pun memberontak, namun karena tenaganya lemah sehingga ia tidak bisa lepas dari gendongan supir tersebut.
°°°°°°°°°°°°°°
Setelah Ibunya meninggal, Henri di adopsi oleh supirnya Pak Willy, itu pun atas janjinya pada ayah Henri dan Pak Willy yang menyuruhnya juga.
Lalu setelah itu, Henri melakukan operasi pada pita suaranya dan alhasil Henri sembuh dari penyakitnya, suaranya pun normal seperti orang-orang lainnya, tidak serak ataupun terbata-bata. Dan selama ia di adopsi supirnya Pak Willy, Henri di ajari cara membela diri, menjadi hacker handal dan lainnya. Hingga akhirnya ia mengikuti jejak Ayahnya itu. Nama panggilannya pun berubah dari Adnan menjadi Henri.
Beberapa tahun kemudian....
"Henri...." seru Pak Willy
"Iya Tuan besar," sahut Henri membungkuk.
"Kamu ke Airport ya, jemput keponakan saya!" titah Pak Willy.
"Maaf keponakan Tuan namanya siapa? Supaya saya tidak salah orang." tanya Henri.
"Namanya Rayyan G Michael." jawab Pak Willy.
Seketika mata Henri langsung membulat sempurna saat mendengar nama Rayyan di sebut, lalu ia pun mematuhi perintah Pak Willy dan segera menuju Airport.
Sesampainya di Airport, Henri langsung mengedarkan pandangannya dan saat ia melihat seseorang mendekat ke arahnya yang tak lain adalah Rayyan, Henri langsung tersenyum bahagia.
"Ternyata benar dia orang yang selama ini aku cari," lirih Henri.
°°°°°°°°°°°°
Beberapa hari kemudian....
Setelah beberapa hari Ray menjadi Ceo dari Perusahaan CV. Henri pun meminta Pak Willy supaya ia mengizinkan Henri untuk menjadi Pengawal Ray dan Pak Willy langsung menyetujui permintaan Henri. Hingga saat ini Henri selalu mengabdi pada Ray dan ia juga sangat bahagia saat Ray menugaskannya untuk menjadi Pengawal Zuy.
Itulah kisah dari Henri, tapi sebenarnya sebelum ia bertemu dengan Ray, terlebih dahulu ia bertemu dengan Zuy, bahkan ia diam-diam membantu Zuy dari jauh, saat Zuy terkena fitnah oleh Anne.
Flashback End
......................
"Henri... Henri...." tegur Paman Arka.
Seketika Henri langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya Paman ada apa?" tanya Henri
"Hmmmm.... Harusnya Paman yang bertanya, kenapa kamu tiba-tiba melamun? Apa kamu memikirkan sesuatu?" Paman Arka bertanya kembali.
"Iya, Henri sedang mengingat masa lalu Henri, Paman."
"Oh, apa kamu ingat pada Ibumu?"
Henri tersenyum dan berkata, "Selalu Paman, karena Ibu yang melahirkan Henri."
"Hen...."
"Henri tidak apa-apa Paman, dan lagi sekarang Henri ada Paman Arka terus juga ada yang lain jadi sekarang hidup Henri udah berubah tidak seperti dulu lagi. Terimakasih banyak Paman Arka sudah mau merawat Henri," ucap Henri.
"Sama-sama Hen, yaudah kamu istirahat! Paman mau keluar sebentar." titah Paman Arka.
Henri pun mengangguk patuh, kemudian Paman Arka melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Henri.
*************************
Rumah Ray
Sementara itu, Zuy tengah duduk menyandar sambil menonton televisi, sedangkan Ray tentu saja berada di samping pujaan hatinya itu sambil menempatkan kepalanya di pangkuhan Zuy. Lalu ...
Ting Tong
Suara bel pintu terdengar nyaring, sontak membuat Zuy langsung membangunkan Ray yang tengah berada di pangkuhannya.
"Ray, bangun sebentar!"
"Ada apa sayangku? Ray lagi asik dengerin tendangan anakku," ucap Ray berbohong, padahal sebenarnya ia sedang tidur.
"Hmmm, iya dengerin tendangan sambil tertidur," gumam Zuy.
Ray pun terkekeh. "Hehehe, sayangku tau aja."
"Haaa.. Dasar kamu ya, yaudah sekarang bangun dulu! Soalnya Zuy mau bukain pintu," kata Zuy
"Memang Bu Ima kemana?" tanya Ray sembari membangunkan dirinya.
"Mungkin sedang di kamar mandi," ujar Zuy
Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu utama. Sesampainya Zuy langsung membukakan pintunya.
Setelah pintu terbuka, Zuy langsung membulatkan matanya karena ia terkejut melihat dua orang tengah berdiri di hadapannya sambil menatapnya.
"Ternyata kamu sedang ada di sini?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌