Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Meminta Bantuan....


__ADS_3

<<<<<


Sesaat Pino membuang nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya keperluan ku itu adalah ...."


Sejenak Pino terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri seraya melihat ke sekeliling tempat tersebut.


"Pino cepat katakan padaku! Sebenarnya apa keperluan mu itu?" pekik Anne mengulang kembali pertanyaannya.


Perlahan Pino pun mendongakkan kepalanya dan di tatapnya dengan lekat wajah Anne yang sudah berubah itu.


"Ann, emmm maksudku Desi. Sebenarnya keperluan ku itu, aku ingin meminta bantuan dari kamu, Des." ujar Pino.


"Hmmm, bantuan!" Anne mengerenyit. "Memangnya kamu mau minta bantuan apa, Pin?" sambung tanyanya.


"Begini Ann, aku ...," memberi jeda bicara. "Duh aku bingung mau ngomongnya Ann," papar Pino.


"Kenapa harus bingung sih? Ayo cepat katakan Pino! Sebelum bos menghubungi ku dan meminta ku untuk segera pulang." cetus Anne sambil menuangkan wine ke dalam gelasnya dan meneguknya.


Sesaat Pino menghela nafasnya.


"An aku minta tolong padamu! Bisakah kamu memberi ku sejumlah uang?"


Buuuur....


Sontak membuat Anne terkejut sehingga bir yang sudah berada di dalam mulutnya pun langsung di semburkannya dan di susul dengan batuknya. Seketika Pino langsung bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Anne.


"Kamu tidak apa-apa Ann?" tanya Pino menepuk-nepuk punggung Anne.


Pandangan Desi pun langsung beralih ke arah Pino.


"Apanya yang tidak apa-apa, kamu tidak lihat aku tersedak seperti ini!" pekik Anne yang terus terbatuk-batuk.


"Ya itu salah mu sendiri, minumnya gak pelan-pelan jadi tersedak kan!" celetuk Pino membuat Desi mendengus kesal.


"Kenapa kamu malah menyalahkan ku sih? Justru gara-gara kamu tuh aku jadi tersedak seperti ini, Pino!" sungut Anne.


"Lho kenapa gara-gara aku?"


"Habisnya kamu tiba-tiba saja meminta uang padaku, gimana aku gak kaget dan tersedak coba." Anne menggerutu.


Pino manggut-manggut.


"Oh jadi karena itu. Ya maaf Ann bukan maksudku mengagetkan mu, hanya saja aku benar-benar membutuhkannya makanya aku langsung minta ke kamu, Ann." jelas Pino.


"Cih, memangnya untuk apa sih kamu tiba-tiba meminta uang padaku? Apa jangan-jangan kamu kalah taruhan ya, terus kamu di kejar oleh teman-teman kamu itu, iya kan?" cecar Anne yang menduga-duga.


Pino pun menggeleng. "Tidak Ann, aku tidak sedang kalah taruhan, dan bahkan sekarang aku sudah tidak pernah main begituan lagi." ujarnya.


"Lantas untuk apa kamu meminta uang padaku?" Desi kembali bertanya.


"Begini Ann, sebenarnya aku meminjam uang pada seorang rentenir ...."


"Apa! Kamu meminjam uang kepada rentenir?" Anne memotong perkataan Pino karena kembali terkejut.


Pino mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Ann dan lusa waktunya aku harus membayar hutang ku pada rentenir itu. Kalau aku tidak membaya dia akan menyuruh orang-orangnya untuk menangkap ku bahkan lebih parahnya lagi satu-satunya barang punyaku yang berharga akan mereka potong sebagai jaminannya. Aku gak mau kehilangan harta ku yang berharga dan aku juga gak mau jadi pria gak normal Ann. Maka dari itu aku meminta uang padamu!" jelas Pino.


"Lantas berapa uang yang kamu pinjam pada rentenir itu?" tanya Anne.


"Tidak banyak hanya tujuh juta saja," jawab Pino.


"Apa kamu bilang? Tujuh juta! Kamu sudah gila ya Pino." lagi-lagi Pino membuat Anne terkejut bahkan sampai membelalakkan matanya.


"Iya anggap saja aku seperti itu," balas Pino. "Eeem, tapi kamu mau kan menolong ku dan memberikan uang padaku?" sambungnya.


Sesaat Anne menghela nafasnya.


"Maaf Pin, aku tidak bisa memberikan uang ku ke kamu," ujar Anne dengan tegasnya.


"Apa!" Pino tersentak. "Ta-tapi kenapa Ann?"


"Ya karena aku tidak mau memberikannya, lagian tujuh juta itu bukan uang yang sedikit Pino." lontar Anne.


"Iya aku tahu Ann, tapi aku benar-benar membutuhkannya untuk membayar hutang ku itu. Kalau tidak segera di bayar, maka mereka akan membuat ku cacat Ann, apa kamu tidak kasihan pada sepupu mu ini?"


"Itu urusanmu bukan urusan ku Pino."


Lalu tiba-tiba Pino duduk bersimpuh di hadapan Anne sehingga membuat orang-orang yang berada di tempat tersebut langsung melihat ke arah mereka.


"Pino, apa yang kamu lakukan? Cepat bangun!"


Pino menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak akan bangun, sebelum kamu benar-benar menolong ku, Anne."


Anne bergeming, lalu Pino meraih tangan Anne dan menggenggamnya.


"Anne, aku mohon bantu aku! Kalau kamu tidak memberikan uang untuk ku, setidaknya kamu pinjamkan untuk ku. Aku janji akan membayarnya setelah aku punya uang nanti. Ann, cuma kamu satu-satunya sepupu ku dan siapa lagi yang bisa menolong ku selain kamu," ucap Pino tersedu-sedu seraya memohon pada Anne.


Sehingga membuat Anne terenyuh, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya.


"Huu.... Baiklah aku akan membantu mu Pin." kata Anne.


"Serius kamu mau membantu ku, Ann?" tanya Pino memastikan.


Anne mengangguk cepat. "Iya Pino."


Mendengar itu seketika membuat wajah Pino yang tadinya sendu kini menjadi sumringah, lalu di peluknya tubuh Anne dengan erat oleh Pino.


"Terimakasih Ann, kamu memang sepupu ku yang paling baik." ucap Pino.


"Iya, tapi lepaskan dulu pelukan mu ini Pino, kau membuatku tidak nyaman!" pekik Anne.


Pino pun langsung melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Ann! Tapi aku benar-benar senang kamu akhirnya mau membantu ku."


"Eiitz, tapi aku hanya meminjamkannya saja ya bukan memberikannya padamu," lontar Anne.


"Iya tidak apa-apa meminjam juga, yang penting kamu menolong ku." balas Pino.


"Dan ingat kamu harus segera membayarnya padaku jika aku membutuhkannya kembali!"


Pino menganggukkan kepalanya. "Pasti aku segera membayarnya Ann."


"Hmmm, baguslah kalau begitu. Sekarang kamu balik lagi ke tempat duduk mu!"


Pino pun menuruti perintah Anne dan langsung duduk kembali di tempat duduknya itu.


Lalu sesaat....

__ADS_1


"Ann, sebenarnya aku penasaran sama wajah kamu itu lho."


Anne mengerenyit. "Penasaran sama wajah ku?"


"Iya, soalnya kamu bisa mengubah sempurna wajahmu itu sampai hampir tidak bisa di kenali orang. Dan aku sangat yakin kalau operasi wajah yang kamu lakukan itu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit, benar kan?"


"Ya kamu benar Pin, biaya operasi wajah yang aku lakukan ini membutuhkan biaya yang sangat mahal sekali bahkan sampai bisa buat beli mobil. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini satu-satunya cara supaya aku bisa terbebas dari si b*jingan yang bernama Henri dan dengan ini juga aku bisa melakukan apa saja yang ingin aku lakukan, termasuk menghancurkan si wanita j*lang itu." papar Anne.


"Hmmm, kamu memang tidak pernah berubah dan menyerah ya Ann, selalu saja ingin membuat hidup Zuy hancur, padahal kalau menurut ku Zuy itu wanita yang baik lho Ann."


"Heh! Wanita baik apanya, baik juga di luarnya saja biar dapat pujian semua orang, sebenarnya dia itu wanita yang busuk dan licik Pin." cicitnya.


"Iya terserah kamu aja deh Ann. Oh iya ngomong-ngomong sekarang kamu tinggal dengan di mana? Dan dengan siapa?" lirih Pino sekaligus bertanya.


"Aku tinggal tak jauh dari sini Pin, dan aku tinggal dengan seseorang ya bisa di bilang dia adalah bos ku, orang yang telah memberi ku tempat nyaman selama ini," jelas Anne.


"Wah, jadi kamu sudah punya Bos ya? Keren nih, boleh dong aku juga ikut dengan Bos kamu itu Ann."


"Kalau itu aku harus bertanya dulu pada Bos, dan lagi ...."


Anne tiba-tiba menghentikan perkataannya sebab hpnya berdering, ia pun segera mengambil hpnya yang berada di dalam tasnya lalu Anne menjawab panggilan dari telponnya itu. Sesaat setelahnya....


"Pin, sepertinya aku harus kembali karena Bos ku sudah ada di rumah dan sedang menunggu ku." kata Anne.


"Oh yaudah kalau begitu Ann, tapi sebelum kamu pulang, boleh kan kita berfoto dulu! Biar aku tidak terlalu asing dan terbiasa dengan wajah baru mu itu," pinta Pino sambil mengambil hpnya dari saku Hoodie-nya.


Tanpa bertanya Anne pun langsung menuruti permintaan Pino, kemudian mereka berdua pun berfoto bersama.


Lalu....


"Oke, kalau gitu aku pergi dulu ya. Nanti setelah sampai di rumah aku langsung transfer uangnya."


"Oke, terimakasih banyak Ann, dan hati-hati di jalan!" ucap Pino.


Anne pun bergegas pergi meninggalkan Pino, sesaat setelah Anne pergi, Pino langsung membuka hpnya dan menghubungi seseorang.


Tuut....


"Halo...." suara seorang pria dari sebrang telponnya.


"Ini saya Pino, Tuan H." kata Pino.


"Iya, ada apa jam segini kamu menghubungi ku?" tanyanya.


"Aku ingin menyampaikan bahwa aku sudah mendapatkan informasi tentang sepupu ku itu." ujar Pino.


"Oh, baguslah kalau begitu! Besok siang kita ketemu di tempat biasa."


"Baiklah Tuan H."


Sesaat telpon pun terputus. Pino lalu menaruh kembali hpnya di saku hoodie-nya.


"Maafkan aku Ann, tapi aku tidak ada pilihan lain lagi." lirih Pino.


Setelah itu ia pun langsung pergi dari tempat tersebut.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, Desi (Anne) akhirnya tiba di rumah dan saat ia masuk ke dalam, ternyata di sana sudah ada Noel yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya dan berpangku tangan. Desi pun segera menghampiri Noel.


"Bos...." lirih Desi menundukkan kepalanya.


"Pergi kemana kamu Des?" tanya Noel dengan menatap tajam Desi


"Maaf Bos! Tadi saya pergi menemui sepupu saya," jawab Desi.


Desi mengangguk pelan. "I-iya Bos, sebenarnya saya punya sepupu dan tadi dia menghubungi saya untuk ketemuan di suatu tempat, katanya kangen sama saya, Bos." jawabnya.


"Lantas kenapa kamu tidak bilang dan meminta izin pada ku!"


"Maaf Bos kalau saya tidak meminta izin, habisnya tadi bos pergi dan lagi saya hubungi bos tapi hpnya tidak aktif, jadi ya saya hanya meninggalkan pesan untuk Yon." ujar Desi.


Noel manggut-manggut.


"Oh begitu ya. Ya memang sengaja hp ku tidak aku aktifkan supaya tidak ada yang menggangu dan melacak keberadaan ku." jelas Noel. "Kamu sini dan duduk di samping ku!"


Desi pun mematuhi perintah Noel, kemudian ia duduk di samping Noel.


"Bos...."


"Ada Apa?"


"Euum maaf sebelumnya, apa bos sudah bertanya tentang wanita itu pada teman bos?" tanya Desi.


"Sudah, aku sudah bertanya padanya." jawab Noel.


"Benarkah? Lalu bagaimana jawabannya, apa dia tahu keberadaan wanita itu?" karena penasaran, Desi pun bertanya kembali.


Noel menggeleng. "Dia tidak tahu keberadaan wanita itu, Des."


"Apa! Dia tidak tahu tempat tinggalnya? Apa dia tidak mengikuti atau mencari informasi tentang tempat tinggal wanita itu?" cecar Desi.


"Dia tidak berani mengikuti atau mencari informasi tentang keberadaannya itu."


"Hah! Kenapa dia tidak berani bos?"


"Sebab ada banyak pengawal yang menjaganya, Des."


Mendengar itu seketika Desi mengerutkan dahinya dan mengepal kuat tangannya.


"Tsk, kurang ajar! Ternyata si j*lang masih saja beruntung," umpatnya dalam hati.


Lalu....


"Sebenarnya ada apa Des? Kenapa kamu sangat ingin sekali aku menculik wanita itu? Apa jangan-jangan kamu mengenalnya?" Noel pun mulai mencurigai Desi.


Mendengar itu Desi langsung mengibaskan tangannya. "Tidak bos, aku tidak mengenalnya."


"Oh, aku pikir aku mengenalnya. Yaudah kamu sana bebersih dulu! Setelah itu ke kamar ku dan layani aku sampai puas!" titah Noel.


"Baik bos."


Desi pun segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, sedangkan Noel masih berada di posisinya sambil menyalakan rokoknya dan menuang champagne ke dalam gelasnya.


***************************


Villa Z&R


—Pukul 02.15am


Seperti malam-malam sebelumnya, suasana di Villa itu nampak sunyi karena semua penghuninya sedang menikmati mimpi mereka di balik selimutnya masing-masing dan yang ada hanya suara-suara angin dan deburan ombak yang saling bersahutan menemani berjalannya malam panjang.


Sementara itu di dalam kamarnya, sang pemilik Villa nampak masih tertidur pulas dengan posisi mereka yang berpelukan.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian, Zuy tiba-tiba membuka matanya karena ia mendengar suara nyaring yang berasal dari hpnya. Perlahan Zuy melepaskan tangan Ray yang melingkar di pinggangnya dan membangunkan tubuhnya menjadi duduk. Lalu di ambilnya hp miliknya yang berada di atas nakas sampingnya. Setelah itu Zuy memicingkan matanya ke arah layar hpnya, seketika matanya langsung terbelalak karena ternyata suara di hpnya itu adalah suara pesan pengingat.


"Ya ampun aku lupa!" lirih Zuy menepuk jidatnya.


Ia pun meletakkan kembali hpnya dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, ia terlebih dahulu menuju ke kamar anak-anak untuk melihat si kembar dan setelah di kamar anak-anak ternyata si kembar masih tertidur pulas, Zuy pun menghela nafas leganya dan berjalan keluar dari kamar si kembar menuju ke dapur.


Sesaat setibanya di dapur, Zuy pun langsung membuka lemari dapur dan lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan yang ia perlukan seperti telur, mentega, tepung, butter dan bahan lainnya.


Nampak jelas dari bahan-bahan tersebut bahwa Zuy akan membuat kue.


Lalu ia pun mulai melakukan aktivitas membuat kuenya. Beberapa saat setelah adonan yang di buatnya selesai, Zuy segera menempatkannya ke dalam wadah dan memasukkannya ke dalam oven. Seusai itu ia langsung membersihkan bekas yang telah di gunakannya itu.


Di saat ia tengah sibuk mencuci wadah bekas ia gunakan, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Zuy dan menepuk pundak Zuy.


"Sedang apa kamu Zuy?"


Seketika membuat Zuy tersentak dan langsung menoleh ke arahnya.


"Huuuft, ternyata anda Pak Davin, bikin kaget saja!" cetus Zuy di barengi dengan helaan nafas leganya.


"Hehehe, maaf kalau aku mengagetkan mu, Zuy." ucap Davin terkekeh. "Oh iya, ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan di dapur Zuy? Dan lagi aku mencium bau yang enak." sambungnya.


"Euum, ini aku sedang bikin kue Pak Davin," balas Zuy.


"Apa! Kue? Aku mau dong Zuy." kata Davin dengan mata berbinar.


"Eiitz tapi aku bikin kue ulang tahun Pak Davin," ujar Zuy.


Davin tercengang. "Hah! Kue ulang tahun? Memangnya siapa yang sedang ulang tahun, apa Tuan Ray?"


Zuy menghela nafasnya.


"Pak Davin, kalau Ray ulang tahun berarti aku juga ulang tahun dong Pak dan mana mungkin aku bikin kue ulang tahun untuk diri sendiri," jelas Zuy.


"Oh iya ya kamu benar juga, Zuy. Lantas kue itu untuk siapa? Yang pasti bukan untukku kan, karena ulang tahun ku masih satu setengah bulan lagi." Davin mulai penasaran.


Zuy tersenyum lalu mendekat ke arah Davin seraya membisikkan sesuatu, seketika membuat Davin terperangah dan membelalakkan matanya.


"Serius kamu, Zuy?"


Zuy mengangguk. "Ya serius Pak, masa aku bohong sih. Dan lagi kenapa Pak Davin gak tau kalau hari ini ulang tahunnya?"


"Bukan gak tau tapi aku benar-benar lupa."


"Huuu.... Yaudah Zuy mau lanjut beberes dulu, Pak. Sambil nunggu kue matang, baru nanti aku hias." lontar Zuy.


"Euuum, apa boleh aku membantu mu untuk menghias kuenya, Zuy?" Davin menawarkan dirinya untuk membantu Zuy.


Zuy pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu boleh dong Pak."


"Terimakasih Zuy," ucap Davin dengan bahagianya.


"Sama-sama Pak."


Beberapa saat kemudian....


Setelah menunggu lama, akhirnya kue yang di buatnya matang, Zuy pun segera mengeluarkannya dari dalam oven dan meletakkannya di meja.


"Wah aku gak nyangka ternyata kamu bisa bikin kue juga Zuy bahkan sampai mengembang sempurna seperti ini," ucap Davin.


"Terimakasih Pak, aku bisa bikin kue juga karena aku belajar dari Bi Nana." kata Zuy.


"Oh.... Lalu apa kita hias sekarang kuenya?" tanya Davin.


"Nanti Pak! Tunggu kuenya dingin dulu, baru kita bisa menghiasnya," jawab Zuy.


"Baiklah...."


Sesaat kemudian Zuy dan Davin langsung menghias kue tersebut sampai selesai.


Tak lama setelah selesai menghiasnya, mereka berdua pun melakukan high five (tos tangan) dan memandangi kue ulang tahun yang sudah mereka hias itu.


"Hmmm, apa kita langsung membawa kue ini ke orangnya sekarang?" tanya Davin.


"Eum, boleh juga Pak." jawab Zuy manggut-manggut.


"Yaudah kalau gitu aku yang bawa kuenya ya!"


"Oke Pak."


Davin pun mengangkat kue tersebut, kemudian mereka berdua berjalan keluar dari dapur menuju ke arah kamar yang tak lain adalah kamar Airin.


Sesampainya di depan pintu kamar Airin, Zuy pun langsung mengetuk pintunya.


Tok.... Tok.... Tok....


"Rin, Airin!" seru Zuy.


Sementara itu di dalam kamar Airin....


Airin terlihat masih tertidur dengan posisi tengkurap, nampak air liurnya yang terus menetes membasahi bantalnya.


Sesaat....


"Rin, Airin! Tolongin aku Rin!" seru Zuy dari luar kamarnya sambil terus mengetuk


Mendengar suara Zuy meminta tolong, sontak membuat Airin langsung terbangun dan membuka matanya.


"Zuy, apa itu kamu?" seru Airin.


"Iya Rin, cepat buka pintunya! Aku benar-benar tidak tahan!" balas Zuy yang berbohong.


"Tidak tahan? Apa jangan-jangan Zuy ...." lirih Airin.


Ia pun segera bangkit dari posisinya dan turun dari ranjangnya, lalu di langkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamarnya.


Setelah itu, Airin langsung membuka pintu kamarnya.


"Zuy, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu ...."


Airin tiba-tiba menghentikan perkataannya, karena tercengang seraya membulatkan matanya dengan sempurna melihat Zuy dan Davin berdiri sejajar sambil membawa kue ulang tahun yang telah mereka buat itu.


"I-ini!" lirih Airin.


Zuy dan Davin pun menyunggingkan senyumannya ke arah Airin, lalu kemudian ....


"Happy Birthday Airin...."


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2