Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Ketakutan Zuy....


__ADS_3

<<<<<


Pak Toto menganggukkan kepalanya, "Iya, barusan anaknya yang bernama Zoey datang," kata Pak Toto.


Sontak membuat Maria tersentak kaget. "Z-Zoey!! Anak?!"


Archo pun ikut terkejut. "Zoey? Berarti dia di sini, tapi di mana?" batin Archo sambil mengedarkan pandangannya.


"Pak, apa yang anda katakan itu benar? Kalau barusan anaknya datang kesini? Tapi nama anaknya itu Zoya bukan Zoey." papar Maria seakan tak percaya dengan perkataan Pak Toto.


"Tentu saja benar Nyonya, untuk apa saya berbohong, nama anaknya adalah Zoey bukan Zoya, dan dia suka datang kesini untuk mengunjungi makam Ayahnya, biasanya sih datang bersama Bibinya, namun sekarang dia datang di temani seorang Pria, mungkin suaminya. Dan lagi baru saja dia ...," ucap Pak Toto.


Namun terjeda karena Maria langsung berlari meninggalkan Archo dan Pak Toto.


"Maaaam...." Archo pun langsung mengejar Maria.


Sedangkan pandangan Pak Toto terus mengarah ke Maria yang sudah pergi menjauh.


"Wajah wanita tadi sangat mirip dengan Zoey, apa dia ibunya yang dulu meninggalkan Zoey dan Jordhan?" lirih Pak Toto.


Maria terus berlari menuju ke arah luar makam, tanpa peduli ia menginjak-injak makam lainnya.


"Zoya, semoga kau belum jauh, karena Mam sangat ingin melihat mu dan memeluk mu, Zoya." ucap Maria, namun ia belum mengetahui bahwa Zoey adalah Zuy.


Di sisi lain, Zuy terlihat tergesah-gesah, nampak dari raut wajahnya yang ketakutan, ia pun terus melangkah cepat menuju ke arah parkiran, di mana di sana sudah ada Ray yang menunggunya.


"Kenapa Mrs Maria berada di sini? Apa dia mengikuti ku? Aah.. pokoknya aku harus segera pergi dari sini, jangan sampai Mrs Maria menemukan ku. Aku takut bertemu dengannya lagi, aku takut ia menyiksa ku lagi," batin Zuy, dan ternyata ia sudah mengetahui ke beradaan Maria.


Sesaat setelah sampai di parkiran, Zuy langsung menghampiri Ray yang tengah berdiri di samping mobilnya.


"Ray, Ray..." panggil Zuy sambil terengah-engah


"Sayangku, kenapa kamu nampak ketakutan begitu, apa yang terjadi?"


"Ayo kita pergi dari sini!" pinta Zuy sambil mengguncang lengan Ray.


"Sebenarnya ada apa sayangku?" Ray mulai kebingungan.


Seketika pandangan Zuy mengarah ke pemakaman, ia pun melihat Maria sudah hampir keluar dari pemakaman itu. Sontak membuat Zuy semakin ketakutan dan mengeratkan pegangannya di lengan Ray. Sedangkan Ray semakin kebingungan melihat gelagat pujaan hatinya itu, sesaat ia pun menghela nafasnya.


"Baiklah sayangku, ayo kita pergi!" kata Ray.


Mendengar itu, Zuy langsung melepaskan pegangannya dari lengan Ray, kemudian Ray membuka pintu mobilnya, seketika Zuy bergegas masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Ray. Ia pun menyalakan mobilnya, sesaat setelahnya Ray menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan tempat pemakaman itu.


Setelah keluar dari pemakaman, Maria pun langsung mengedarkan pandangannya mencari keberadaan anaknya itu.


"Zoyaaa.. Kamu di mana? Ini Mamah sayang, Mamah ingin bertemu dan memeluk mu, Zoya." seru Maria dengan nada kencang membuat perhatian orang-orang yang berada di sana.


Maria terus mengedarkan pandangannya dan mencari, ia sangat berharap bahwa putrinya itu masih ada di sana. Lalu kemudian Archo menghampiri Maria dan memegang pundak Maria membuat Maria menoleh ke arahnya.


"Zo ..., ah ternyata kamu Archo," lirih Maria, nampak ada kekecewaan di dalam dirinya.


"Mam...."


"Maaf Archo, Mam kira kamu itu Zoya," kata Maria.


"Mam, ayo kita kembali ke makam Tuan Jordhan!" ajak Archo.


Akan tetapi Maria menggelengkan kepalanya. "Tidak Archo, Mam akan di sini mencari Zoya, siapa tau dia masih berada di sini."


"Mam, mungkin Zuy udah pergi dari sini!" ujar Archo.


Mendengar nama Zuy di ucap Archo, Maria pun mengerutkan dahinya dan menatap tajam Archo.


"Archo! Kenapa kau menyebut nama wanita sial itu?" pekik Maria.


"Maaf Mam, tadi Archo salah menyebut saja, maksud Archo Zoya, Mam." kata Archo.


"Pokoknya Mam gak suka wanita si*l itu di sebut lagi!" pinta Maria.


Archo pun menundukkan kepalanya, dalam hatinya berkata, "Sebegitu bencinya kah Mam terhadapnya? Bagaimana nanti jika Mam mengetahui bahwa dia anak Mam? Apa Mam akan bahagia atau sebaliknya?"


"Archo kamu kenapa?"


Archo pun mengangkat kepalanya, "Archo gak kenapa-napa Mam."


"Archo, ayo kita ke makam Papahnya Zoya!" ajak Maria.


Archo pun mengangguk pelan, lalu mereka melangkah kembali ke pemakaman.


...----------------...


Sementara itu....


Setelah berada di perjalanan, Zuy tak henti-hentinya menghela nafasnya, lalu kemudian Ray mengambil air mineral botol yang berada di sampingnya dan menyodorkannya ke arah Zuy.


"Minum dulu sayangku!"


"Terimakasih Ray," ucap Zuy sembari mengambil botol di tangan Ray, lalu ia membuka tutup botolnya dan meneguknya. Sesaat setelahnya ....


"Sayangku, apa sudah merasa tenang?" tanya Ray


Zuy menganggukkan kepalanya, "Sudah Ray, maaf membuat mu khawatir."


"Tidak apa-apa sayangku. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa sayangku terlihat ketakutan begitu?" tanya Ray.


"Tadi pas Zuy jalan keluar, Zuy melihat ular besar yang lewat di depan Zuy, makanya Zuy ketakutan," jawab Zuy, namun ia berbohong pada Ray.


Mendengar jawaban Zuy, Ray mendaratkan tangannya ke kepala Zuy dan mengelusnya.


"Kasihan sayangku," ucap Ray.


Zuy pun menundukkan kepalanya, "Maaf Ray, Zuy terpaksa berbohong."


******************


Panti Asuhan


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan, yaitu Panti Asuhan. Mobil Ray langsung memasuki halaman Panti, membuat perhatian anak-anak yang sedang bermain di halaman. Setelah memarkirkan mobilnya, Ray dan Zuy turun dari mobilnya. Zuy tertegun melihat bangunan Panti asuhan sudah di perbaiki.


"Sayangku, kenapa diam? Ayo kita masuk ke sana!" ajak Ray


Sontak membuat Zuy tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Ray, lalu ia pun menganggukkan kepalanya. Saat mereka hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba seorang wanita berusia sekitar lebih dari lima puluh tahun, berjalan menghampiri mereka.


"Selamat datang...." sambutnya.


Zuy pun tersenyum saat melihat wanita itu, kemudian ia langsung memeluknya.


"Ibu, apa kabar?"


"Kabar ibu baik, tapi maaf kamu siapa ya?" tanyanya.


Sesaat Zuy melepaskan pelukannya. "Ibu tidak ingat padaku?" tanya Zuy memasang ekspresi wajah imutnya.


"Zuy!! Kamu Zuy?!" tanya Ibu Panti.


Zuy pun mengangguk, "Iya ini Zuy, akhirnya Ibu ingat padaku," kata Zuy.


"Maaf Nak, Ibu kan sudah tua jadi sedikit pelupa. Tapi untungnya kamu memasang ekspresi wajah seperti itu, jadi Ibu langsung ingat," ucapnya. "Bagaimana kabarmu Zuy?"


"Kabar Zuy baik-baik saja Bu," ujar Zuy.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," Lalu pandangan Ibu panti mengarah ke Ray, "Lalu dia siapa Zuy?"


"Oh, ini Ray Bu, dia ...,"


"Saya suaminya Bu," sela Ray membuat Zuy memicingkan matanya ke arah Ray.


"Oh suaminya Zuy, euuum.... kalian pasti lelah, ayo masuk! kita ngobrol di dalam!" ajak Ibu Panti.


"Terimakasih Bu...." ucap Zuy


Mereka pun berjalan menuju ke dalam Panti Asuhan.


********************


Amerika....


°Rumah Michael


Sementara itu di rumah Daddy-nya Ray. Daddy Michael nampak tengah duduk di sofa sambil menonton acara sepak bola di televisinya. Daddy Michael sangat menyukai acara sepak bola, jadi mumpung besok weekend, ia manfaatin waktunya itu. Lalu kemudian Liora datang menghampiri Daddy Michael dan duduk di sampingnya sambil meletakkan kopi yang ia bawa untuk Daddy Michael.


"Belum mulai acara bolanya?" tanya Liora.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Kalau Momy mau tidur duluan saja," kata Daddy Michael.


Liora tiba-tiba menyandarkan kepalanya di dada Daddy Michael.


"Dad, apa Ray sudah menghubungi mu?" tanya Liora.


"Ya kemaren aku menelponnya," jawab Daddy Michael.


"Oh Syukurlah, apa dia bilang sesuatu? Misalnya tentang hubungannya dengan Kimberly." tanya Liora.


Daddy Michael pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, Ray tidak bilang apa-apa, hanya bertanya kabarku dan Lesya saja."


"Oh seperti itu ya," lirih Liora.


"Tsk, anak sial itu bahkan tidak menanyakan kabarku. Hmmmm... dia menyimpan dendam padaku, karena dulu aku sering menyiksanya, bahkan sampai mengambil uang sakunya. Ah tapi itu salah dia sendiri gak mau di atur, selalu membandingkan ku dengan Candika yang sudah meninggal," umpat Liora dalam hati. Lalu ....


"Momy tumben nanyain Rayyan, memangnya ada apa?" tanya Daddy Michael.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu saja, dan lagi aku juga penasaran sama hubungannya dengan Kimberly, apa mereka tambah mesra atau sebaliknya," papar Liora.


Mendengar itu, Daddy Michael langsung menghela nafasnya.


"Momy, kalau tentang hubungan Ray, lebih baik kita jangan ikut campur!" tutur Daddy Michael.


Liora pun mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Daddy Michael.


"Tapi Dad, aku bukannya ikut campur, tapi kan mereka akan bertunangan, jadi ya kita harus ...,"


"Jangan bicarakan masalah tunangan mereka dan jangan memaksa Ray! Biarkan Ray yang memilih apa yang membuatnya bahagia," pekik Daddy Michael.


"Tapi kenapa? Bukankah Kimberly membuat Ray bahagia? Perhatiannya, kasih sayangnya terhadap Ray, apa kurang cukup? Dan lagi apa Daddy tidak ingin mempunyai cucu?"


"Momy, please jangan ikut campur urusan Ray, Momy tahu kan sifat Ray seperti apa. Jadi aku mohon, berhentilah mencampuri kehidupannya!" tutur Daddy Michael.


"Maaf..."


Seketika Liora langsung tertunduk diam, namun berbeda dengan hatinya yang panas.


"Benar-benar anak sial, di kasih wanita cantik seperti Kimberly malah di abaikan dan lagi tumben Daddy berbicara seperti ini dengan ku, biasanya juga ia selalu lembut, makanya aku gampang memanfaatkannya," batin Liora.


"Momy, kamu kenapa?" tanya Daddy Michael.


"Aku tidak apa-apa, hanya mengantuk saja, kalau begitu aku ke kamar duluan, ingat jangan istirahat terlalu malam!" tutur Liora.


Daddy Michael hanya mengangguk pelan saja, Liora pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Setelah Liora pergi, Daddy Michael langsung menghela nafasnya.


"Huh... Liora sampai kapan kamu bersikap seperti itu terhadap Ray? Kalau bukan karena Lesya, mungkin aku sudah menceraikanmu. Dan lagi ada yang belum kamu ketahui tentang Rayyan, dia sudah menikahi wanita pilihannya dan untuk masalah cucu, aku merasa bahwa sebentar lagi cucuku akan hadir di dunia ini," ucap Daddy Michael sambil menyandarkan kepalanya.


**************************


Tak terasa waktu sudah menjelang sore hari, setelah beberapa saat berada di Panti. Mereka pun sekarang sudah berada di jalan. Lalu tiba-tiba ...


Deeeg...


Sesuatu menyerang di hati Ray, tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya, membuat Zuy yang berada di sampingnya terkejut saat melihat Ray menitihkan air matanya.


"Ray kenapa kamu menangis?" tanya Zuy.


"Entahlah sayangku, Ray juga bingung kenapa Ray menitihkan air mata," jawab Ray.


"Apa kamu kelelahan atau memang ada yang menyerang hatimu? Sehingga tanpa sadar kamu menitihkan air mata." lontar pertanyaan dari Zuy.


"Ya sepertinya sayangku benar, bahwa ada yang menyerang hatiku, sehingga membuatku menangis," kata Ray.


"Euum kita berhenti di depan ya Ray!" pinta Zuy.


Ray menganggukkan kepalanya, "Baiklah sayangku," patuhnya.


Setelah beberapa jarak, Ray menghentikan laju mobilnya.


"Nah kita sudah berhenti sayangku, memangnya ada apa sayangku?" tanya Ray sambil menoleh ke samping.


Namun Zuy tidak menjawabnya, ia malah membuka sealt beatnya dan beralih duduk di belakang, sehingga membuat Ray kebingungan.


"Kenapa duduk di belakang sayangku?" tanya Ray


"Ray kemarilah dan duduk di samping ku!" pinta Zuy sambil menepuk-nepuk jok sebelahnya.


Dengan perasaan senangnya, Ray mengangguk dan beralih duduk di samping Zuy, lalu tiba-tiba ia melepaskan jasnya dan saat hendak membuka pakaiannya tiba-tiba Zuy menahannya.


"Ray kamu mau apa?" tanya Zuy keheranan.


"Lha... Bukannya sayangku mengajakku duduk di belakang karena ingin mencoba bikin telinga di dalam mobil?" tanya Ray. Lalu ....


Paak...


Tiba-tiba Zuy memukul pundak Ray, karena pertanyaan Ray tadi, sehingga membuat Ray meringis.


"Sayangku kenapa memukul ku?" tanya Ray


"Habisnya pertanyaan mu itu sangat konyol, Zuy mengajak Ray duduk di sini, karena Zuy ingin menenangkanmu, Ray." ujar Zuy.


"Menenangkan ku?"


Zuy mengangguk, "Iya Ray, bukankah tadi kamu bilang ada yang menyerang hatimu, makanya Zuy ingin memeluk mu Ray," paparnya.


"Oh begitu, kirain mau coba bikin telinga di dalam mobil."


"Rayyan! mau di peluk tidak? Kalau tidak Zuy balik duduk di depan," pekik Zuy.


"Ya tentu Ray mau di peluk sayangku ini," kata Ray dengan manjanya.


"Yaudah sini!" Zuy pun merentangkan tangannya.


Lalu Ray mendekat ke Zuy dan langsung menyandarkan kepalanya di dada Zuy, kemudian Zuy mengelus kepala Ray dengan lembut. Sesaat kemudian, karena saking terasa nyamannya, Ray pun ketiduran di dekapan Zuy.


"Hmmmm, kenapa kamu malah ketiduran Ray?" Zuy lalu mengguncangkan tubuh Ray, "Ray bangun! Ayo kita pulang!"


Ray terbangun dan mengerjapkan matanya, akan tetapi ....

__ADS_1


"Sayangku, kepala ku tiba-tiba sakit, perutku juga enek, pengin muntah. Bisakah sayangku menghubungi Henri atau Kak Davin? supaya mereka datang dan mengemudikan mobilnya." pinta Ray.


"Yaudah kamu tiduran aja di sini, nanti Zuy telpon Henri atau Pak Davin," kata Zuy sambil menempatkan kepalanya Ray di atas bantal.


Setelah Ray tertidur, Zuy beralih duduk di jok depan kemudi.


"Aku tidak mungkin mengganggu liburan mereka, untung saja dulu Bi Nana mengajariku jadi aku bisa," ujar Zuy.


Lalu kemudian ia menyalakan mobilnya dan sesaat setelahnya ia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


************************


Rumah Ray


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, mereka akhirnya sampai, Zuy pun menghentikan laju mobilnya dan memarkirkannya di halaman depan rumah Ray.


"Haaa... Akhirnya sampai juga, tinggal bangunin Ray," kata Zuy.


Zuy pun menoleh ke belakang. Akan tetapi, ternyata Ray sudah terbangun dan duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Ray! Kamu sudah bangun? Kenapa gak bilang?" tanya Zuy.


"Sayangku, sejak kapan kamu bisa mengendarai mobil?" bukannya menjawab, Ray malah bertanya kembali.


"Ah itu, sebenarnya sudah lama Zuy bisa," jawab Zuy sembari menggaruk pipinya.


"Oh, lalu kenapa gak bilang kalau sayangku bisa mengendarai mobil?"


"Kalau itu nanti Zuy jawab, sekarang kita turun, terus masuk dan bebersih!"


Ray langsung menghela nafasnya, "Haaa... Baiklah sayangku, aku menuruti perkataan sayangku," ucapnya.


Zuy tersenyum, lalu mereka turun dari mobilnya dan berjalan masuk. Setelah berada di dalam rumah, Zuy dan Ray melangkah ke kamar masing-masing.


...----------------...


Malam panjang nan damai pun cepat berlalu, kini saatnya giliran pagi menyapa semua orang. Zuy nampak sudah terbangun dan hendak melangkah keluar dari kamarnya, namun sebelum itu ia menatap Ray yang tengah tertidur lelap, karena semalam Ray menyelinap ke kamar Zuy saat Zuy tengah tertidur lelap.


"Hmmmm... dasar kamu Ray," lirih Zuy sambil menarik selimutnya menutupi tubuh Ray.


Setelah itu, ia pun melangkah keluar dan bergegas menuju ke dapur. Sesampainya ....


"Pagi Bu Ima...."


"Pagi juga Nak Zuy," sahut Bu Ima.


"Oh iya Bu, hari ini Zuy ikut Ibu belanja ya!" pinta Zuy


Bu Ima pun menganggukkan kepalanya, "Oke Nak Zuy."


"Terimakasih Bu Ima," ucap Zuy,


Lalu tiba-tiba sesuatu menyerang Zuy, membuatnya serasa ingin muntah, ia pun bergegas ke kamar mandi.


Hoeeek...Hoeeek.....


Suara itu sangat menggema, membuat Bu Ima khawatir, lalu Bu Ima berdiri di depan kamar mandi sambil mengetuk pintunya.


"Nak Zuy, apa kamu baik-baik saja?"


"Zuy baik-baik saja Bu," seru Zuy dari kamar mandi.


Sesaat kemudian Zuy pun keluar.


"Haaaa.. enek banget perutku," pekik Zuy mengusap perutnya.


"Nak Zuy, minum air hangat dulu supaya perutnya enakan," tutur Bu Ima sambil memberikan mug berisi air hangat.


Zuy pun mengambil mug itu dari tangan Bu Ima. "Terimakasih Bu Ima," ucapnya, perlahan ia meneguknya.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai sarapan, Zuy tengah bersiap-siap untuk pergi berbelanja bersama Bu Ima. Namun sebelum itu, Zuy ke kamar Ray untuk berpamitan, karena setelah selesai sarapan, Ray langsung kembali ke kamarnya.


Kamar Ray


Setelah berada di kamar Ray, Zuy menghampiri Ray yang tengah duduk di sofa sambil menatap laptopnya.


"Ray, Zuy berangkat sekarang ya," pamit Zuy


"Iya sayangku, hati-hati! Kalau ada apa-apa telpon ya!" titah Ray.


Zuy mengangguk, lalu Ray mendaratkan bibirnya ke Pipi Zuy, sesaat setelahnya Zuy pun keluar dari kamar Ray.


********************


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di tempat berbelanja, Zuy dan Bu Ima segera memilih bahan makanan, saat pandangan Zuy mengarah ke pedagang buah, ia nampak tergiur dengan penampakan mangga yang terpajang di depan, ia pun melangkah menuju ke arah pedagang buah.


Di sisi lain, nampak Maria tengah berbelanja di tempat itu juga, karena permintaan Bunda Artiana, lalu tanpa sengaja pandangannya mengarah ke arah Zuy.


"Hmmm, perempuan itu ada di sini rupanya, aku harus melakukan sesuatu," kata Maria, lalu tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya, ia segera mencari seseorang. Sesaat kemudian ia berjalan menghampiri Zuy.


"Hei wanita j*lang!" sapa Maria membuat Zuy menoleh ke arahnya, lalu tiba-tiba ...,


Plaaak...


Dengan sengaja Maria menampar Zuy membuat perhatian para pengunjung di sana.


"Ada apa itu?"


"Kenapa dia memukul wanita itu?"


Lontaran dari para pengunjung itu, lalu mereka pun berkumpul untuk melihat.


"Hmmm bagus, ini saatnya aku berakting," batin Maria.


"Mrs Maria! Kenapa anda menamparku lagi?"


"Itu karena kamu merebut apa yang menjadi milik anakku, kamu wanita kejam, tak berperasaan, wanita j*lang!" ucap Maria tersedu-sedu.


"Mrs Maria apa maksud anda bicara seperti itu?" tanya Zuy. Lalu tiba-tiba...


Plook..


Seseorang melempari Zuy dengan telur dan tomat busuk, sehingga membuat Zuy terkejut, badan dan rambutnya pun menjadi kotor.


"J*lang pantas di gituin, kasihan itu si Ibu nangis-nangis seperti itu, dasar j*lang gak punya hati," pekik seseorang yang ternyata suruhan Maria.


Sehingga Zuy mulai terpancing amarah. "Aku bukan j*lang, aku tidak pernah merebut siapa pun," teriaknya.


Mendengar teriakan Zuy, Bu Ima langsung menghampiri, dan betapa terkejutnya Bu Ima melihat tubuh Zuy yang kotor.


"Ya ampun Nak Zuy.... Apa yang kalian lakukan? Jika kalian berani lawan saya!" Sergah Bu Ima memeluk Zuy.


Lagi-lagi orang suruhan Maria melempari telur dan tomat, sehingga Bu Ima pun terkena, sedangkan pengunjung yang di sana hanya bisa menonton saja.


Lalu kemudian Maria melayangkan tangannya dan akan menampar Zuy, akan tetapi ia menghentikan aksinya, karena ia terpaku saat melihat ke arah kalung yang di pakai Zuy.


"Ka-kalung dan cincin itu ...,"


***Bersambung


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2