Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Demi Dia....


__ADS_3

<<<<<


Saat sudah berada di dekat pintu, ia pun memutar handle pintu dan menariknya sehingga pintu terbuka.


"Kau!!"


Mulutnya menyentak menutup seraya matanya melebar karena terkejut dengan seorang yang datang berkunjung ke Apartemennya dan tak lain adalah Adriene.


"Morning Arc. Nampaknya kamu sangat terkejut dengan kedatangan ku kesini." Adriene memampang senyum di wajahnya.


Sesaat Archo mengerjapkan matanya.


"Maaf Drien! Bukannya aku terkejut hanya saja ...."


"Tidak perlu di jelasin Arc, aku mengerti kok." sela Adriene.


Archo lalu mengulurkan tangannya pada Adriene dan bertanya, "Bagaimana kabar kamu, Drien?


Sekilas Adriene melirik ke tangan pria berkacamata itu, kemudian membalas uluran tangannya seraya menatap wajahnya kembali.


"Kabar ku?" Adriene mengernyit heran. "Emm, Apa kamu lupa ya Arc? semalam kan waktu kita bertemu di rumah sakit, kamu nanyain kabar aku dan aku juga udah menjawabnya." lontar Adriene.


Semenjak kejadian itu, mereka berdua jarang bertemu dan baru semalam mereka bertemu saat menjenguk Eqitna, itu pun keduanya sama-sama canggung. Lalu kemudian Archo memberitahu pada Adriene kalau dia sudah pindah ke Apartemen bahkan memberikan alamatnya juga. Maka dari itu Adriene berkunjung ke Apartemennya Archo.


"Oh benarkah itu? Duh sepertinya aku lupa Drien. Maaf ya!" ucap Archo.


Adriene pun memutar bola matanya dengan malas sembari menghela nafasnya.


"Dasar kamu, Arc. Tapi baiklah karena kamu lupa maka aku akan menjawabnya lagi dan seperti yang kamu lihat sekarang, kalau aku baik-baik aja, Arc." balas Adriene yang di susul dengan senyumannya. "Ya walaupun di luar memang aku terlihat baik-baik saja, tapi tidak untuk di dalam hatiku yang masih sakit. Meskipun begitu, aku tidak akan menyerah dan aku pastikan kamu secepatnya akan jatuh ke dalam pelukanku, Arc." sambung batinnya.


"Oh Syukurlah kalau begitu," Archo melepaskan tangannya. "Ayo masuk!"


Adriene mengangguk pelan. "Terimakasih Arc."


Ia pun melangkah masuk dan saat sudah di dalam Adriene mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Silahkan duduk!"


Adriene kembali mengangguk, lalu ia mendaratkan bokongnya di atas sofa seraya meletakkan goodie bag yang ia bawa ke atas meja.


"Ternyata di dalamnya sangat luas ya Arc. Udah gitu kamu juga sangat pandai menatanya sehingga semuanya terlihat sangat cantik, rapi dan enak dipandang." puji Adriene.


Archo menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih untuk pujiannya," ucapnya.


"Sama-sama Arc."


Hening sejenak lalu kemudian....


"Oh iya, kamu mau minum apa Drien? Biar aku buatkan untuk kamu." tanya Archo.


Namun Adriene menggelengkan kepalanya.


"Nggak perlu repot-repot Arc. Nanti kalau aku haus juga aku akan bilang ke kamu atau langsung ke dapur untuk mengambil minuman ku sendiri," kata Adriene.


Archo manggut-manggut. "Baiklah...."


"Oh iya, apa kamu udah sarapan?" tanya Adriene.


Archo melihat ke arah meja makannya yang terletak di samping dapur atau beberapa meter dari ruang tamu lalu kembali lagi ke Adriene.


"Sebenarnya pas kamu datang, aku sedang menikmati sarapan ku, Drien." ujar Archo.


"Benarkah?"


Archo menganggukkan kepalanya.


Adriene mendesah. "Maaf ya Arc! Aku sudah mengganggu waktu sarapan mu."


"Tidak apa-apa Drien. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri?"


"Aku belum sarapan."


"Oh, mau sarapan bareng?" tawar Archo.


Adriene tersenyum bahagia mendengar tawaran Archo, lalu di angguk-anggukan kepalanya.


"Boleh, kebetulan aku juga membawakan makanan untuk sarapan kamu, Arc."


Adriene mengambil goodie bag-nya dan membukanya, lalu ia mengeluarkan apa yang ada di dalamnya yang tak lain adalah beberapa tempat makan berbentuk kotak, tentu saja di dalamnya


ada makanan yang di buat Adriene khusus lelaki yang di cintainya itu serta beberapa botol minuman.


Archo membuang nafasnya sejenak.


"Kamu ini, padahal kalau mau main tinggal main aja, gak usah repot bawa-bawaan segala, Drien." tutur Archo.


Adriene tersenyum lalu berkata, "Gak repot kok Arc, lagian yang aku bawa ini makanan bukan peralatan medis."


Archo pun terkekeh. "Bisa aja kamu, Drien. Tapi makasih ya udah bawain aku makanan."


"Sama-sama Arc."


"Yaudah kalau gitu aku kita ke meja makan yuk!" ajak Archo.


"Oke." balas Adriene mengangguk.


Ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia membawa makanannya, sedangkan Archo membawa botol minuman tersebut, mereka berdua pun menuju ke meja makan.


Adriene menempatkan makanan yang ia bawa ke piring kemudian memberikannya pada Archo. Sesaat setelah selesai, mereka berdua menyantap sarapannya itu.


"Oh iya Arc, siang nanti kamu sibuk gak?"


"Seperti nggak, memangnya ada apa?"


Adriene menggeleng. "Nggak ada apa-apa. Hanya saja aku ingin meminta kamu untuk menemani ku pergi ke Mall, tapi itu juga kalau kamu mau Arc."


"Oke, nanti siang aku akan menemani kamu pergi ke Mall." Archo menyetujui permintaan Adriene.


Sehingga membuat Adriene terperangah.


"Hah! Serius kamu, Arc?"


Archo mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya aku serius."


Mendengar itu, seketika membuat senyumnya mengembang sempurna.


"Terimakasih Arc." ucapnya yang di balas anggukan oleh Archo.


"Yes, akhirnya Archo mau menemaniku, dan ini untuk pertama kalinya Archo menyetujui permintaan ku tanpa rasa terpaksa seperti sebelum-sebelumnya." sambung batin Adriene yang kegirangan.


Mereka berdua pun melanjutkan aktivitas sarapannya. Lalu....


Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....


Benda pipih yang berada di kamarnya tiba-tiba berdering keras. Akan tetapi Archo tidak memperdulikannya dan malah terus menyantap sarapannya itu.


"Arc, sepertinya ada yang menelpon."


"Biarin aja, paling juga orang iseng," papar Archo sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Oh...."


Lalu sesaat terdengar kembali suara dering dari hpnya itu.


"Arc, lebih baik kamu jawab dulu telponnya siapa tau penting!" tutur Adriene.


Archo mendesah. "Baiklah...."


Kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya. Saat sudah di dalam kamar, Archo mengambil hpnya yang berada di atas nakas seraya melihat ke layarnya.


"Billy!!" lirih Archo.


Billy adalah nama seorang yang di utus oleh Archo secara langsung untuk mengawasi Melan dan kebetulan Billy mempunyai sahabat yang tinggal di desa bersebelahan dengan desa tempat tinggal Melan, hanya berbeda Rukun Warga (RW) saja.


Setelah tau siapa yang menelponnya, ia pun langsung menjawab panggilan tersebut dengan menggeser icon berwarna hijau pada layar hpnya.


"Halo Mr Archo. Huft akhirnya anda menjawab telepon saya." ucap seorang pria dari sebrang telponnya.


"Memangnya ada apa kamu tiba-tiba menghubungi ku? Jangan-jangan terjadi sesuatu?" cecar Archo menduga-duga.


"Iya dugaan anda benar Mister, di sini memang sedang terjadi sesuatu pada keluarganya Melan." ujar Billy.


"Katakan padaku!" titah Archo.


Billy menghela nafasnya sesaat.

__ADS_1


"Begini Mister, sepupunya Melan datang bersama bos pemilik rumah bordil itu dan mereka memfitnah Melan mencuri uang. Sekarang Melan sedang di Balai desa untuk di adili." jelasnya.


Sontak Archo sangat terkejut mendengarnya.


"Apa! Melan sedang sedang di adili?"


"Iya Mr Archo."


"Kalau begitu sekarang kamu datang kesana dan jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!" titah Archo.


"Mister, tanpa di suruh pun saya memang sudah berada di sini, saya juga sudah menjelaskan yang sebenarnya pada mereka tapi semuanya tidak ada yang percaya dengan omongan saya dan menganggap saya berbohong. Maka dari itu saya langsung menghubungi anda sesuai dengan permintaan anda. Selain itu anda ...." ujar Billy.


"Tidak perlu di jelaskan lagi! Karena aku sudah mengerti maksud dari perkataan mu itu dan sekarang aku akan segera berangkat menuju ke desa tempat Melan tinggal." kata Archo. "Oh iya, jangan lupa kirim lokasi kamu saat ini dan satu lagi, kamu tangani mereka dulu sampai aku tiba di sana!" sambung titahnya.


"Siap Mister."


Lalu Archo memutuskan telponnya sepihak dan meletakkannya kembali di atas nakas. Setelah itu, ia pun mulai bersiap-siap.


Akan tetapi Archo tidak menyadari bahwa Adriene menguping percakapan Archo dengan Billy.


Sesaat setelah selesai, Archo keluar dari kamarnya dan menghampiri Adriene yang masih berada di meja makan.


"Adriene...."


Adriene menoleh. "Iya Arc, lho kok kamu udah dandan rapih Arc? Kan aku minta di temeninnya nanti siang bukan sekarang."


Untuk sejenak Archo menarik nafas dan membuangnya.


"Maaf Drien! Aku dandan rapih bukan untuk mengajakmu pergi sekarang dan sepertinya aku tidak bisa menemani kamu pergi sesuai permintaan mu, Drien." kata Archo.


Seketika Adriene tersentak kaget.


"Hah! Tapi kenapa Arc? Bukannya tadi kamu bilang mau menemaniku?" cecar Adriene.


"Iya aku memang ingin sekali menemani mu pergi, Adriene. Hanya saja tiba-tiba ada urusan mendadak, jadi aku harus menyelesaikan urusan ku itu." ujar Archo.


"Oh begitu ya!" lirih Adriene seraya menundukkan kepalanya. Wajah sumringahnya itu perlahan berubah menjadi sendu.


"Adriene, apa kamu baik-baik aja?" tanya Archo.


Wanita di hadapannya itu pun kembali mendongakkan kepalanya menatap wajah Archo dengan menyunggingkan senyuman yang menutupi rasa kecewanya itu.


"Ah, maaf Arc! Barusan aku terbawa suasana dan aku juga baik-baik aja kok Arc." kata Adriene.


Akan tetapi tidak untuk luka hatinya yang kembali terbuka.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Yaudah aku berangkat dulu ya, jangan lupa kunci pintunya kalau kamu mau kembali Hotel!" tutur Archo.


"Oke Arc. Kamu hati-hati ya!"


"Iya." Archo manggut-manggut. "Bye Adriene!"


Archo bergegas keluar dari Apartemennya. Sesaat setelah Archo pergi meninggalkannya, Adriene pun menitihkan air matanya.


Hiks....


"Ternyata kamu lebih memilih gadis yang bernama Melan ketimbang aku ya Arc. Kamu sampai mengurungkan niat kamu untuk menemani ku demi dia, si gadis desa yang bernama Melan itu. Memangnya apa hebatnya dia di bandingkan dengan aku?"


Ia pun menangis sejadi-jadinya.


...----------------...


Perusahaan CV


Sementara itu, terlihat seorang wanita cantik berjalan masuk ke dalam kantor CV menuju ke bagian Resepsionis.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?" sapa Citra dengan sopan.


"Saya ingin bertemu dengan CEO dari Perusahaan ini." ujar si wanita tersebut.


"Apa sebelumnya Nona sudah punya janji dengan CEO kami?" tanya Citra.


Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kami tidak punya janji. Tapi sebelum kemari saya sudah menghubunginya melalui email dari Perusahaan ini."


Citra manggut-manggut.


"Oh, baiklah kalau begitu saya akan menghubungi Tuan Ray terlebih dahulu. Maaf Nona, bisa beritahu kami siapa nama anda serta nama Perusahaan anda!"


"Saya Anggelina dan saya dari Perusahaan GK Group."


"Oke." Anggelina menganggukkan kepalanya.


Citra pun langsung menghubungi Ray, setelah selesai menghubungi atasannya itu, ia beralih kembali ke arah Angelina.


"Tuan Ray setuju untuk bertemu dengan anda, Nona." kata Citra.


"Serius?"


"Iya Nona, mari saya antar!"


"Terimakasih...."


Mereka pun berjalan ke arah lift menuju ke lantai atas. Sesaat mereka berdua pun sudah berada di depan ruang CEO, Citra mengetuk pintunya.


Tok.... Tok.... Tok....


"Masuk!" suara Ray dari dalam ruangannya.


Citra mendorong pintunya hingga terbuka.


"Permisi Tuan Ray." ucap Citra sedikit membungkuk.


"Iya Citra...."


Citra kembali mengangkat kepalanya.


"Saya datang membawa tamu yang ingin bertemu dengan anda, Tuan Ray."


"Oh, suruh dia masuk!" titah Ray.


"Baik Tuan Ray," Citra beralih ke arah Anggelina. "Silahkan masuk Nona!"


"Terimakasih Nona karena sudah mengantar saya." ucap Anggelina.


"Sama-sama Nona."


Kemudian Anggelina masuk ke dalam ruangan Ray.


"Kamu boleh kembali Citra!"


"Baik Tuan Ray."


Citra pun melenggang pergi meninggalkan Ray dan Anggelina. Lalu kemudian Ray beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Anggelina. Saat saling berhadapan, Anggelina terpesona dengan ketampanan dari pria yang berada di hadapannya itu.


"Ternyata rumor dari semua orang benar, bahwa CEO Perusahaan CV ini memang sangat tampan bahkan memiliki postur tubuhnya yang bagus. Hmmm, kalau begitu aku harus berhasil membuat Perusahaan CV bekerja sama dengan Perusahaan GK Group seperti apa yang di perintahkan oleh Bos dan lagi kalau sudah bekerja sama dengannya, aku jadi sering melihatnya. Ya siapa tau aku bisa mengambil hatinya," batin Anggelina, pipinya pun nampak merona.


"Nona...." tegur Ray.


Seketika Anggelina tersadar seraya mengerjapkan matanya.


"Ah iya Tuan, maaf barusan saya kepikiran sesuatu makanya saya melamun," ujar Anggelina.


Ray hanya tersenyum tipis saja. "Hmmm, padahal aku tidak bertanya apa-apa." batinnya.


Anggelina pun mengulurkan tangannya ke arah Ray.


"Tuan, perkenalkan nama saya Anggelina sekretaris dari Perusahaan GK Group." Anggelina mengenalkan dirinya pada Ray.


"Iya saya tahu." ujar Ray namun ia tidak membalas uluran tangan Anggelina.


"Apa! Jadi Tuan Ray sudah tahu siapa saya?" tanya Anggelina dengan senyumnya yang merekah.


"Tentu saja saya tahu, karena karyawan saya yang sudah memberitahu saya terlebih dahulu tentang anda, Nona Anggelina."


"Begitu ya, saya kira Tuan sudah tau tentang saya." lirih Anggelina senyumnya perlahan memudar.


"Ayo silahkan duduk Nona!" tawar Ray.


"Terimakasih Tuan Ray."


Mereka berdua mendudukkan dirinya masing-masing di atas sofa. Ray lalu memberikan bantal sofa pada Anggelina membuat Anggelina mengernyit heran.


"Ini untuk apa Tuan?" tanya Anggelina.


"Pakaian anda terlalu pendek dan itu membuat saya sangat risih." ujar Ray memalingkan wajahnya ke arah lainnya.


"Oh, kalau begitu maafkan saya Tuan!" ucapnya sembari meletakkan bantal tersebut di pangkuannya.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa, tapi lain kali jangan di ulangi lagi!" tutur Ray.


Anggelina mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Tuan, sekali lagi maafkan saya!" balasnya. "Hmmm aku benar-benar bingung dengan pria ini, bukankah semua pria kalau melihat wanita berpakaian pendek langsung terpesona, makanya setiap bertemu dengan kolega lainnya aku selalu berpakaian seperti ini untuk menarik perhatian. Tapi kenapa pria ini justru malah risih melihatnya?" sambung kata hatinya.


"Lalu ada urusan apa anda datang kemari, Nona Anggelina?" tanya Ray.


"Begini Tuan Ray, kedatangan saya kemari mewakili atasan saya Tuan Bob dari Perusahaan GK ingin mengajukan permohonan kerjasama dengan Perusahaan CV, Tuan." jelas Anggelina.


Ray mengerenyit. "Kerjasama?"


"Iya Tuan Ray dan ini surat permohonan kerjasama beserta berkas lainnya dari Perusahaan kami." Anggelina memberikan sebuah map berwarna coklat pada Ray.


Seketika Ray langsung mengambil map tersebut dari tangan Anggelina dan membukanya. Setelah itu ia membaca surat permohonan kerjasama yang di ajukan oleh Perusahaan GK.


Sesaat....


"Hmmm, ternyata Perusahaan GK benar-benar ingin bekerjasama dengan Perusahaan kami ya?"


"Iya Tuan."


Ray menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Lalu keuntungan apa yang akan kami dapat setelah bekerjasama dengan Perusahaan kalian?" cecar Ray.


Anggelina tersenyum, lalu menggeser posisinya sedekat dengan Ray dan mencondongkan tubuhnya sehingga membuat belahan dadanya terlihat.


"Tentu saja banyak Tuan dan kami pastikan anda tidak akan menyesal setelah bekerjasama dengan Perusahaan kami." lontar Anggelina dengan nada menggoda.


Melihat itu membuat Ray mengernyitkan wajahnya, ia pun langsung beranjak dari duduknya.


"Nona, bisakah anda bersikap sopan! Jika anda masih tidak sopan, maka saya tidak akan pernah menyetujui permohonan kerjasama ini, bahkan saya juga akan langsung memblokir Perusahaan kalian supaya kalian tidak bisa berhubungan lagi dengan Perusahaan CV." tegas Ray.


"Maafkan saya Tuan! Saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi saya mohon jangan blokir Perusahaan kami, Tuan!" ucap Anggelina.


Ray bergeming sembari berjalan menuju ke arah meja kerjanya, kemudian ia menghubungi Friska melalui interkom yang berada di meja kerjanya. Lalu sesaat Friska pun datang mendekat ke arah Ray.


"Tuan Ray...."


Ray mengambil map yang berada di meja dan memberikannya pada Friska.


"Bu Friska, tolong periksa semua berkas-berkas yang berada di Map ini! Setelah itu Bu Friska tau kan apa yang harus Bu Friska lakukan." titah Ray.


Friska mengambil map tersebut dari tangan Ray di barengi anggukannya.


"Iya Tuan Ray." balas Friska.


Lalu pandangan Ray beralih ke Anggelina.


"Nah Nona Anggelina, semuanya sudah beres. Nanti kalau berkas-berkas dari Perusahaan kalian sudah selesai kami periksa, kami akan secepatnya memberi kabar pada Perusahaan GK!" lontar Ray.


Anggelina pun tersenyum sembari bangkit dari posisinya, lalu melangkah menghampiri Ray dan Friska yang tengah berdiri.


"Yaudah kalau begitu saya pamit dulu Tuan Ray."


Anggelina terlebih dahulu mengulurkan tangannya pada Friska dan di balas oleh Friska. Seusai itu, ia beralih ke arah Ray, namun Ray enggan membalasnya dan malah memasang poker face (Wajah tanpa ekspresi) melihat itu membuat Anggelina nampak kesal.


"Cih, benar-benar pria tanpa perasaan," umpat Anggelina dalam hatinya. Lalu tiba-tiba....


Bruuuk....


Anggelina dengan sengaja menjatuhkan dirinya hingga wajahnya membentur ke dada bidang Ray, sontak membuat Ray mengeraskan rahangnya. Sedangkan Friska yang di samping Ray pun sangat terkejut melihatnya.


"Nona, apa yang anda lakukan? Cepat menjauh dari saya!" sentak Ray.


Anggelina segera mengangkat kepalanya.


"Maafkan saya Tuan Ray! Saya benar-benar tidak sengaja. Tiba-tiba tubuh saya terasa lemas, jadi saya ...."


"Sudah tidak perlu anda jelaskan lagi, sekarang anda boleh keluar dari ruangan saya!"


Anggelina mengangguk pelan, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ray.


"Tuan Ray, anda beneran tidak apa-apa?" tanya Friska.


"Iya saya tidak apa-apa."


"Yaudah kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu Tuan," pamit Friska dan di balas anggukan Ray.


Friska pun berjalan keluar menuju ke arah ruangannya sendiri. Selang sesaat Davin datang dan menghampiri Ray.


"Tuan Ray...."


"Kebetulan Kak Davin sudah datang. Bagaimana, apa berjalan lancar?" tanya Ray


"Tentu saja Tuan Ray."


"Baguslah! Oh ya, mumpung Kak Davin sudah datang, jadi aku mau keluar sebentar." kata Ray.


Davin mengernyit heran. "Keluar? Memangnya Tuan Ray mau kemana?"


"Mau ke boutique-nya Kak Yi."


"Hah! Mau apa Tuan kesana?"


"Tentu saja mau ganti pakaian ku yang sudah kotor ini," cetus Ray membuat Davin semakin bingung.


Lalu sesaat Ray bergegas pergi meninggalkan Davin.


"Hmmm, aneh padahal pakaiannya masih bersih gitu di bilang kotor." lirih Davin sembari menggaruk-garuk kepalanya.


************************


Boutique Fashion CZV


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Ray akhirnya sampai di tempat tujuannya yaitu Boutique CZV milik Yiou.


Kenapa ia lebih memilih ke Butik Tantenya ketimbang pulang ke Villa, sebab letak butiknya tak jauh dari Perusahaan CV.


Saat mobilnya sudah terparkir, ia pun berjalan masuk ke dalam dan di sambut oleh pelayan butik tersebut.


"Tuan, selamat datang di butik kami."


"Terimakasih, oh ya apa Kak Yiou ada di dalam?" tanya Ray.


"Ada Tuan, dan beliau sedang bersama dengan adiknya." jawabnya.


"Adik?"


"Iya Tuan."


"Yaudah kalau gitu saya ke ruangannya dulu!"


"Silahkan Tuan."


Ray bergegas menuju ke arah ruang di mana Yiou berada. Setibanya di sana, Ray tercengang melihat Zuy dan kedua anaknya sedang berada di sana.


"Sayangku...."


Mendengar suara Ray, Zuy dan Yiou langsung menolehkan kepalanya ke arah Ray.


"Tuan dingin > Ray!" ucap Yiou dan Zuy serempak.


Zuy pun menyunggingkan senyumnya pada Ray, lalu ia beranjak dari posisinya dan menghampiri lelaki tampannya itu.


Saat mereka sudah saling berhadapan, tiba-tiba mata Zuy terbelalak karena melihat sesuatu yang menempel di kemeja yang di pakai oleh Ray.


"Ri-riasan, lipstik!!"


***Bersambung....


Author: "Nah lho!! Bakalan perang nih? Sediain popcorn ah."


Ray: "Thor, sepertinya kamu beneran minta di giling sama mobil ku ya! 😤😤😤"


Me: "Oh my!! 😨😨😨"


Kabuuuur!!!!!!!!


Ray: "Woy jangan kabur...."


See You Next Time.... 😁✌️✌️


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2